Disclaimer: Semua orang tahu Harry Potter milik Joanne Katheleen Rowling. Saya hanya memberi skenario 'bagaimana-seandainya yang berkembang menjadi suatu cerita.
Rated: T menuju M
Warning: Typo[s], nggak jelas, bikin gereget (mungkin).
Hermione terbangun dengan mata membelalak lebar. Mengerjapkan mata mencoba mengingat kejadian kemarin... astaga naga. Semoga itu mimpi. Semoga itu hanya mimpi.
Namun tidak.
Ini kejadian nyata dan membuat Hermione mual.
Gadis itu keluar kamar dengan takut. Bagaimana kalau kedua-biang-gosip-yang-minta-dibekap itu telah menyebarkannya ke seantero Hogwarts? Harry dan Ron pasti akan membencinya! Tidak, mereka berdua akan membunuhnya dan Hermione terpaksa ikut dengan si Pangeran-Tanpa-Hidung menghadap Raja Neraka—mengingat Hermione merasa ia agak banyak berdosa. Lalu keluarga Weasley akan mengusirnya. Impiannya bekerja di Kementrian Sihir juga akan pupus, karena Hermione terpaksa menjadi muggle setelah ini—itupun kalau kedua orangtuanya masih menerimanya. Hermione menuang air dengan cara muggle untuk berkumur-kumur sebelum beranjak dari depan wastafel.
Ia duduk di sofa depan sambil memikirkan rencana melarikan dirinya. Bagaimana kalau ia belajar naik sapu dengan kilat hari ini sebelum besok terpaksa mengepak barangnya? Atau bagaimana kalau tidak usah kabur saja—tapi menyamar jadi anak kelas satu dengan ramuan polyjus setelah mentransfigurasi anak itu menjadi keran air di kamar mandi prefek dan mengembalikannya setiap kali memerlukan potongan kuku kaki? Hei! Yang ini lumayan! Bagaimana kalau Hermione mentransfigurasi Lavender dan Parvati menjadi burung hantu sekolah dan memodifikasi memori semua orang? Yah, ide itu lumayan bagus meski—
terdengar suara pintu terbuka. Tanpa menoleh, Hermione tahu siapa orangnya, karena jelas-jelas dia bukan anak yang sudah botak karena rambutnya dipakai sebagai bahan ramuan polyjus dan disembunyikan di lemari sapu.
Di pagi-pagi buta itu, Hermione langsung merasakan emosi negative yang tidak keruan saat melihat Draco keluar dari kamar mandi (yah, si menjijikan itu memang terkadang bangun lebih dulu) dengan pongah. Rambutnya acak-acakan dan setengah basah, sementara jubah mandinya belum terikat dengan benar. Hermione menahan diri untuk tidak memelototi dada bidang Draco.
Inikah yang dicari para wanita berotak tolol di Hogwarts?
Cukup sudah.
Sebidang apapun dada Draco dan sekeren apapun wajahnya (Hermione harus rasional dong. Ia juga mengakui kalau wajah Draco mendapat nilai sembilan dalam skal satu hingga sepuluh), Hermione sudah tak tahan dengan ulah Draco dari ia dilahirkan di muka bumi ini hingga kemarin. Reputasinya dipertaruhkan! Hermione—seorang Pahlawan Perang, sekaligus Penyihir Terpintar pada umurnya, gadis paling alim (masa sih? hermione juga tidak yakin), dan Ketua Murid—bermesraan dengan Malfoy—buaya darat paling menyedihkan seantero jagat, penghancur hati perempuan, Penyihir paling pintar kedua setelah Hermione, dan Ketua Murid—yang menyedihkan itu?
Tentu saja Hermione tak keberatan kalau Draco menggiring gadis-gadis sesuai tanggal lahir atau semacamnya, tapi kalau itu akan menjadi masalah besar yang menyangkut dirinya? Tidak akan! Bagaimana kalau Dracolah yang Hermione transfigurasi menjadi tadah liur Fang—anjing Hagrid yang merupakan produsen liur terbanyak itu?
Rasanya Hermione rela mati daripada berbiacara duluan dengan Draco, tapi kali ini Hermione merasa ia sudah kehilangan cukup banyak nyawa dalam melihat kelakuan Draco yang luar biasa urakan, sehingga ia memutuskan untuk kehilangan-nyawa-satu-lagi-juga-tidak-masalah-toh- aku-masih-punya-banyak dan menunjukannya dengan membuka mulut. "Kau," Hermione menarik napas panjang, "Laki-laki bajingan, brengsek—oh, kau jelas bukan lelaki karena tidak ada manusia yang sebrengsek itu—ciptaan tidak berguna, musang korslet, manusia tanpa otak—tunggu, kau bukan manusia, kau terlalu menjijikan bahkan untuk menjadi dementor!—pencuri kebahagiaan manusia lain, juga—"
Hermione menghentikan ucapannya dengan emosi yang nyaris membunuh Draco dengan kesabaran luar biasa saat melihat Draco yang hanya menatapnya dengan alis terangkat dan tangan di depan dada.
"Kenapa?" balas Draco dengan wajah polos. "Aku tidak salah apa-apa kan? Aku hanya luar biasa gembira, seorang Granger yang mengagumkan mengajakku bicara duluan!"
Hermione bisa merasakan emosi negative yang kian parah dengan kedatangan kupu-kupu di perutnya dan kembali menahan diri untuk tidak melempar Draco ke planet lain. Bagi Hermione, kupu-kupu bukan tanda jatuh cinta, karena jelas ia tidak mungkin jatuh cinta pada seorang Malfoy. Baik itu Draco maupun seluruh keturunannya nanti.
Dan karena ia selalu merasakan ion negative dengan kedatangan kupu-kupu iblis tersebut saat ada Malfoy, ia yakin kupu-kupu berarti kekesalan yang memuncak. Meskipun mereka tidak saling melempar kutukan kematian seperti dulu, tidak ada yang mau mencoba beramah tamah. Walaupun terkadang Draco menggodanya dan Hermione tertawa... masih belum ada hari dimana mereka tidak adu mulut atau bersilat lidah.
Hermione marah dan ingin menangkap basah Malfoy dengan Turpin untuk membuktikan bahwa Ginny tidak bersalah! "Seekor musang pirang di depanku merasa cukup baik untuk berdampingan dengan sahabat seorang Hermione Granger sebelum membuatnya hancur seperti serpihan, ya?"
"Dan seekor berang-berang menggelikan—" Draco bergerak santai ke arah Hermione sehingga gadis itu terpaksa mundur ke dinding. "—merasa dirinya cukup jenius untuk menjadi arktik dan berpura-pura marah saat sahabatnya disakiti oleh seorang casanova padahal senang luar biasa karena satu lagi saingannya berkurang?"
Di tengah badai kupu-kupu-kebencian yang berterbangan, Hermione masih cukup rasional untuk menjawabnya, "artis, ferret rambut pucat. Bukan arktik. Rasanya aku bisa mengerti perasaan para guru Telaah Muggle melihat murid-murid luar biasa bodoh sepertimu."
"Aku? Mempelajari Telaah Muggle? Mimpimu supaya bisa lebih dekat denganmu ya, Granger?" seringai Draco.
"Menurut arti denotatif, kata 'telaah' memang memiliki arti yang sama dengan mempelajari, Pirang. Jadi, biasakanlah untuk tidak mengatakan 'mempelajari telaah muggle' karena itu berarti mengulang dua kosakata berbeda meskipun berarti sama. benar-benar tidak efektif."
"Belajar untuk tidak mengalihkan pembicaraan, rambut semak! Kau pasti meginginkanku kan, dan memakai alibi kau-benci-Lisa-Turpin-disakiti agar semua orang tidak curiga?" Oh, Draco pasti bercanda. Pasti.
Hermione menjawab tenang sambil nyaris tertawa, "Dalam mimpi non-realistismu, musang albino! Tentu saja tidak. Tidak akan, karena aku—" ucapan Hermione terhenti karena ngeri. "Ap-apa yang kau lakukan?!"
"Kau harus belajar," dengan suara berbahaya Draco mendekat dan menahan Hermione dengan kedua tangan supaya terjepit antara Draco dan dinding, "untuk membedakan antara musang albino dan seorang casanova yang dapat membuat seorang gadis cantik di depannya meleleh karena ciumannya."
Draco menahan lengannya di sekitar kepala Herione, memerangkapnya. Dengan tangan kanannya Draco memegang ujung dagu Hermione, menengadahkannya.
Pose orang yang akan berciuman. Pose yang seharusnya menjadi milik sepasang kekasih.
Eew.
Melihat gelagat mengerikan ini, Hermione membelalak ketakutan sekaligus jijik luar binasa.
Saat menutup mata menghadapi saat mengerikan, ia bisa merasakan bibir Malfoy-keparat-brengsek-dan-entah-apa-julukan-lain nya kian mendekat. Ia bisa merasakan aroma musk dan bunyi nafas Malfoy yang terasa amat sangat dekat. Sedetik sebelum semuanya terjadi, ia bisa merasakan bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Draco yang berhenti sesaat.
Berdoa meminta pertolongan, ia menyadari tak satupun yang terjadi.
Draco Malfoy melenggang masuk ke kamar lagi sebelum bibir mereka merasakan sensasi itu.
Hell.
Tunggu, tunggu. Kenapa ia malah mengatai hal ini? Bukankah bagus kalau Malfoy tidak menciumnya?
Sial.
Draco bisa merasakan bagaimana tubuhnya kecewa karena tidak sempat mencicipi sedikit dari sensasi menyenangkan bibir Sang Hermione Granger.
Menyenangkan?
Tentu saja. Hanya lelaki buta tak berperasaan yang tidak menganggap Hermione Granger gadis menarik—ralat, lelakin buta tak berperasaan pun akan tertarik karena gadis itu memiliki wangi luar biasa menarik.
Tapi, berhubung Draco tidak buta, berperasaan, dan memiliki penciuman yang bagus, jelas ia bisa menyebutkan semua kecantikkan fisik Granger-minta-digigit-buku-monster itu. Cantik, jenius, menggoda…
Matanya cemerlang dan jernih luar biasa meskipun telah menghabiskan nyaris semua buku perpustakaan. Hidungnya mancung, wajahnya menampakan rona kemerahan, dan wangi tubuhnya yang menarik. Tentu saja, bibirnya yang merah namun pedas dan selalu mengucapkan kata-kata cerdas yang membuat lawan debatnya kehabisan kata-kata.
Semenjak ia tahu kalau bibir-tempel-bibir memiliki sensasi menyenangkan, ia sudah amat-sangat-ingin-sekali mencicipi bibir itu. Mengecupnya pelan dan dalam. Merasakannya sepenuh hati.
Oke, sekarang Draco terdengar seperti cowok mesum yang memangsa gadis polos semacam Hermione Granger.
Masalahnya, gadis itu sama sekali tidak polos—malah ia memiliki kecerdikan ala Slytherin. Melihat permainan kata-kata yang diucapkannya dan keberaniannya menghadapi Draco dalam posisi 'membahayakan' seperti tadi—Hogwarts patut menyediakan asrama Slithffindor, yang berisi anak-anak pemberani dan licik. Tapi, rasanya lucu sekali melihat wajah ketakutan Granger sebelum bibir mereka bertemu, sehingga Draco malah lebih ingin tertawa alih-alih menciumnya.
Dan menyesali hal itu. Ia bisa merasakan gejolak aneh di perutnya, menandakan protes mungkin.
Sayangnya, gadis itu kelahiran Muggle. Dia Gryffindor, dia adalah pihak yang nyaris membunuh Draco.
Kasus yang aneh sekali dalam kehidupan casanova malang seperti dirinya. Casanova yang sebenarnya seharusnya merebut ciuman pertama seorang gadis hanya karena dia terlihat imut—tapi ia malah memikirkan bagaimana perangai gadis itu, bagaimana perasaan gadis ketakutan itu…
Jadi sepertinya, ia hanyalah Cassanova pemula yang membutuhkan banyak bantuan dari pendahulu para klan Malfoy yang berprofesi sebagai Cassanova sukses.
Granger. Cantik, jenius, menggoda, menyebalkan, keras kepala, kelahiran Muggle, Gryffindor, berjiwa penyelamat, menyenangi McGonagall, teman baik Potter dan Weasley (yang jelas-jelas barbar).
Kenapa sih segala sesuatu tidak dapat berjalan seperti yang seharusnya?
"Err... Gin?" panggil Hermione saat mereka berjalan keluar Aula Besar.
"Ya?"
"Apakah... umm.. ka-kau mendapatkan, eh... kabar burukku—maksudku... aduh!—kabar buruk ten-tentang, err... aku?" tanya Hermione gugup. Siapa tahu Lavender belum menyebarkannya pada siapa-siapa, jadi sebelum gadis Weasley yang cerdas ini curiga, ia akan menutupinya sebisa mungkin.
"Kabar buruk, katamu?" tanya Ginny. "Tidak. Atau, eh.. iya!"
Oh, sialan. SIALAN. Ginny sudah tahu, Ginny sudah tahu... atau belum? Kalau Ginny sudah tahu ia tidak mungkin mau bicara dengan Hermione, kan? "Maksudmu?"
"Tentang kau secara langsung sih tidak, tapi tentang partner kerjamu, ya."
Hermione belum bisa bernapas lega. Bagaimanapun yang dicurigai ia dan psikopat-berdarah-dingin itu kan? Ginny menjawab lagi, "Ia belum dihukum oleh McGonagall. Padahal seharusnya hukuman yang setimpal adalah pengurungan di sarang Thestral dengan tubuh sudah dikuliti."
Hermione bernapas lega. Baru kali ini ia senang kalau Malfoy tidak dihukum.
"Kok kau malah nyengir sih, Mione?"
"Oh, setidaknya malam ini aku punya pasangan patroli karena rencananya kami akan berpatroli ke Kamar Rahasia malam ini!" seru Hermione senang.
"Kamar Rahasia? Berdua?" mata Ginny membelalak. "Oh, tunggu, ada maksud lain. Kamar rahasia... tempat gelap... berdua... kalian memakai alibi berpatroli sebagai alasan, kan?"
"Hah?"
"Kamar Rahasia pasti akan meledak saking panasnya aktivitas kalian di lantai dingin itu!"
Aduh, salah ngomong lagi, deh."Tentu tidak, Gin!"
Hermione terbangun dan dapat merasakan ion negative memancar ke seluruh perpustakaan. Sial, ia tertidur di perpustakaan saat membaca Menyingkap Imajinasi Atas Ilusi berdasarkan Halusinasi.
Dan tiba-tiba benaknya terisi kembali oleh kejadian semalam dan tadi pagi.
Bagaimana ia dituduh sehabis bercinta dengan Draco Malfoy. Bagaimana tubuh Draco yang tegap dan kekar menghimpitnya, dan bibir mereka yang nyaris bersentuhan. Meskipun Hermione sudah tahu bahwa Parvati dan Lavender tidak menyebarkannya, tetap saja kesal. Siapa sih yang suka dituduh bermesraan dengan sembarang orang?
Ugh. Rasanya Hermione rela menghadapi Azkaban dan para Dementornya setelah membunuh Draco Lucius Malfoy!
Crap. Sejak kapan Hermione tahu nama lengkap psikopat-albino tersebut?
Hermione melihat jam—pukul 4.35.
Astaga, Hogsmeade! Hari ini ada kunjungan ke Hogsmeade untuk menemani anak kelas tiga sampai lima! Dan Prefek kelas enam serta Ketua Murid harus menemaninya meskiput pasukan Pangean-Kuku-jelek itu telah binasa semua! Bagaimana bisa lupa, sih? Padahal ia Ketua Murid kan?
Hermione segera berlari pergi setelah mengucapkan salam terburu-burunya pada Madam Pomfrey yang sedang dirayu oleh Argus Filch. Entah darimana didapatnya kata-kata sok manis dari buku roman picisan muggle tersebut.
Ditinggal oleh Harry, Ron dan Ginny, Hermione terpaksa berjalan di belakang murid-murid kelas lima Slytherin di Hogsmeade sebelum kerumunan mereda karena para siswa-siswi memasuki tempat yang berbeda-beda. Mau tak mau ia jadi mendengar pembiacraan tidak-bermoral-apalagi-beretika ala mereka.
"Ya, dia memang luar biasa," kata gadis berambut pirang ikal. "Ciumannya dahsyat sekali."
Astaga, tolong jangan membicarakan hal sensitif ini. Tidak mengertikah mereka kalau seseorang di belakang mereka baru mengalami sindrom-ciuman-tidak-jadi yang dilakukan oleh buaya darat berlidah berduri tersebut? Oh, julukan entah keberapa milik oknum tak berperasaan ini membuat hermione ingat pada Lidah Buaya, salah satu bahan terpenting dalam farmasi ortodentis milik ayahnya.
"Padaku juga," kata gadis lain bermata biru indigo. "Ia menciumku dengan—astaga, ia menginginkanku. Aku yakin itu."
Gadis dengan muka panjang mencibir dengan keras. "Menginginkanmu? Mimpi. Ia mencintaiku. Ia berkata sendiri."
"Ia berkata sendiri padamu sehari sebelum meninggalkanmu!" cemooh gadis bermata biru indigo.
"Jadi?!"
Hermione nyaris meledak dalam tawa. Itu pasti Draco. Bukan cuma dia yang korban—bukan cuma dia yang nyaris menjadi korban! Kedua gadis yang memperebutkan cinta yang entah-ada-atau-tidak itu mulai bertengkar.
"Terserah kalian," tukas gadis pirang tadi. "Pokoknya ciumannya ekstra memabukkan. Dan dia melakukannya pada setiap gadis, jadi tutup mulut kalian."
"Setiap gadis?" pekik gadis bermuka panjang. "Astaga, aku tidak yakin ia berhasil mencium si Granger itu. Gadis itu bahkan belum pernah berciuman!"
Merlin, sudah pernah berciuman, tentu saja! Hermione memang menyerahkan ciuman pertamanya pada Viktor krum—dan kemudian sering sekali berciuman dengan Ron.
"Jangan tertipu," sergah gadis-pirang-provokator. "Ia memang terlihat alim, tapi siapa yang tau apa yang mereka lakukan di asramanya? Mereka memiliki banyak kesempatan!"
Mood ingin-tertawa-tanpa-henti-sampai-mati berubah jadi marah besar. Oke, setelah mendapat konfirmasi oleh Ginny, Hermione yakin berita itu masih aman terkunci di mulut biang gosip itu. Tapi, Hermione—penyihir paling pintar pada zamannya, Pahlawan Perang, dan salah satu gadis yang cukup alim untuk selalu tidur si kamarnya sendiri—dirusah reputasinya oleh seorang Malfoy—buaya darat kelas kakap, penyihir terpintar kedua setelah hermione, dan salah satu murid paling 'bandel' di kastil? Tidak usah deh. Hermione menyingkir sebelum meledak seperti sepasukan Skrewt-Ujung-Meletup.
Hermione berjalan di bagian kiri menjauhi gadis-tukang-gosip, sambil mengguman. "Bercinta dengan Malfoy? Demi seluruh jari yang ada di tangan Kappa! Itu tidak mungkin! Dan ciuman memabukkan musang? Aku bahkan yakin ia tidak bisa mencium!"
Aroma musk yang bercampur dengan aroma khas lelaki menjadi sanget kental. Hermione merinding dan merasakan seseorang di belakangnya…"Mau bukti, Granger?" seringai Draco sambil memandang Hermione dari atas sampai bawah berulang kali dengan menggoda, seakan mengajak Hermione untuk benar-benar melakukannya.
Meskipun dulu si Malfoy ini sering menggodanya, hal itu hanya sebatas kata-kata ("Mau meraakan sendiri kokohnya tubuhku, Granger?" "Kau bisa 'tidur' di kamarku, tentu saja!") dan bukan kerlingan nakal serta peristiwa nyaris-dicium.
"Kau selalu datang seperti hantu." Hermione melotot jengah pada Draco (yang menyeringai) dengan pelototan tajamnya yang tersohor—sebelum datanglah kombinasi paling mematikan sedunia.
Lavender dan Parvati berkata bersamaan. "Tertangkap basah."
"Astaga, itu tidak benar!" seru Hermione saat mereka berkeliaran di jalan-jalan Hogsmeade.
"Tapi kami tidak bodoh Hermione!" balas Parvati. "Ia menatapmu dari atas ke bawah dengan lapar—"
"… dengan pandangan seperti mari-kita-lakukan-lagi-malam-ini."
Hermione menatap mereka dengan horror.
"Lagi? Sekalipun belum pernah!"
"Kami punya bukti—"
"—dan akan menyimpannya baik-baik."
Hermione berterimakasih, namun tetap ngotot meluruskan berita sebenarnya.
Dan semua bantahan Hermione selalu berhasil dipatahkan oleh kedua biang gossip Hogwarts itu.
Beberapa hari belakangan, Hermione selalu terbangun dengan mimpi buruk. Melihat jam di samping tempat tidur, Hermione menguap dan merutuki cermin cerewet yang menyuruhnya tidur lagi.
Cukup pagi untuk berjalan-jalan di hari Sabtu—tapi mungkin ia akan pergi ke pondok Hagrid bersama sepasang-kasih-yang-bersatu-kembali dan Ronald Weasley.
Merasa terlalu malu untuk bertemu dengan Draco Malfoy, Hermione segera berpakaian dan berdoa agar tidak perlu bertemu dengan Draco seharian ini.
Gadis itu memakai V-neck perak dan blazer putih, serta skinny jeans. Cukup. Mereka hanya ke Pondok Hagrid, jadi busana itu santai kan? Tentunya itu cukup hanya untuk ke rumah Hagrid kan?
Kembali ke dunia nyata, Hermione, siapa juga yang memerhatikan ini?
Kamar Draco masih tertutup. Bagus. Sepertinya lelaki brengsek itu mati waktu tidur.
Jadi, Hermione keluar untuk sarapan, sebelum sempat terpergok Draco Malfoy.
Draco tidak tahu siapa yang meng-imperius-nya sehingga ia rela datang ke Aula Besar pagi-pagi buta.
Buka pagi-pagi buta juga sebenarnya, karena sekarang pukul 7.15.
Draco memandang asrama lain dengan pandang meremehkan—mulai dari Hufflepuff yang goblok, Ravenclaw yang sok pintar, serta Gryffindor kebanggaan para guru—semua asrama pengidola Harry si-kepala-codet Potter.
Yeah, Draco sudah sempat mencium Ginny Weasley sebagai tanda kebenciannya pada Potter. Sekarang, kebencian itu bukan karena pihak Pelahap Maut dan Order of Phoenix lagi. Lebih karena dendam lama. Ya, meskipun Potter sudah menyelamatkannya, ia melakukannya sebagai kewajiban. Seperti untuk semakin mengangkat nama baiknya begitu. Dan, si Santo itu juga tidak menunjukkan sikap berteman pada Draco.
Oke, Draco akui. Gadis Weasley itu memang tidak buruk-buruk amat, tapi tetap saja terlalu miskin dan mirip Weasel untuk bersanding dengan Malfoy. Lagipula itu bekas si codet Potter itu kan?
Tapi ini lain. Ini Granger, gadis yang nyaris tidak pernah dipengaruhi emosinya oleh cowok. Meskipun Draco yakin Hermione cewek normal yang menyukai lelaki karena sudah membuktikannya (dengan kata-kata seperti "Kau menyuruh aku banyak makan...pasti karena ingin 'stamina'-ku bertambah, kan?" yang disambut muka memerah ala kepiting rebus diberi saus tomat Hermione), gadis itu tidak pernah tersedu-sedu karena cowok.
Selama inipun, mereka bisa bekerja sama menjadi rekan (bukan teman, bukan rival, apalagi pasangan) sebelum beberapa hari belakangan. Hermione tidak pernah peduli aktivitas Draco dengan gadis-gadis, sebelum ini. Sebelum ia kembali mengeluarkan tatapan benci (bukan kesal atau jengkel seperti biasanya). Sebelum Draco nyaris menyentuh bibir Hermione.
Draco duduk di meja Slytherin—bersama Theodore Nott dan Blaise Zabini—salah satu manusia brengsek lain yang sudah pernah ada. Mereka sedang membicarakan tentang cewek-cewek cantuik yang sayangnya merupakan darah lumpur.
Soal itu, Draco tidak heran. Kenapa sih mereka diciptakan sebagai kelahiran Muggle? Manusia bermutu namun kelahiran seperti Hermione Granger, tentu saja lebih diinginkan orang-orang dibandingkan Pansy Parkinson yang sok cantik namun darah murni kan?
Draco mengakui Hermione bermutu, bukan berarti menyukainya.
Piring-piring terisi secara misterius. Draco mengambilnya dengan ogah-ogahan, dan makan dengan tidak berselera. Sebenarnya, tujuannya datang ke sini lebih awal untuk menghundarinya.
"Gila, aku tidak mengerti kenapa Hogwarts menyediakan makanan seperti ini," gerutu Theo.
Draco memutar bola mata. "Apa sih hal yang disediakan Hogwarts dengan cukup baik? Bahkan guru-gurunya berpakaian seperti peri rumah!"
"Apakah dia tertular, mate?" tanya Blaise pada Theo.
"Kelihatannya iya," sahut Theo. "Tapi mungkin tidak. Gadis itu pembela peri rumah kan?"
"Tapi ia terlihat seperti tertular!" Blaise ngotot.
"Para peri rumahku? Jelas tidak," dengus Draco.
"Bukan, mate, jangan tolol dong," seringai Theo. "Kau pasti tertular gadis itu kan?" Pansy Parkinson duduk di sebelah Theo setelah memberi kecupan singkat pada Draco yang membuat Draco mengernyit jijik.
"Pansy Parkinson?" tanya Draco sarkastik. "Memang. Aku membawa peralatan make-up kemanapun aku pergi di dalam tasku! Dia menulariku dari ciuman, tahu?"
"OH!" Blaise terlonjak. "Kau sudah menciumnya, mate? Apa rasanya, bibairnya yang menarik itu? Pasti kau yang meleleh, ya kan Drake?"
"Kau melihat sendiri aku mencium Pansy Parkinson di ruang rekreasi Slytherin kan?" balas Draco. "Itu sama sekali tidak luar biasa!"
"Tentu saja bukan, mate!" Theo mengacak rambut frustasi. "Gadis itu. Dia menularimu kan? Kalian telah berciuman kan? Di asramamu? Atau malah lebih?"
"Jangan ngomong penuh teka-teki," sahut Draco. Berpura-pura tidak tahu adalah salah satu hal terbaik meskipun ia sudah tahu. Begitu cara main Slytherin. "Tidak ada gadis yang bisa masuk ke asramaku kecuali si kelahiran-Muggle itu!"
"Oh, rumah yang ideal buat pasangan baru seperti kalian," gurau Blaise.
"Salah satu perubahanmu tuh. Kau tidak menggunakan kata darah-lumpur. Pasti karena kau telah mencium Granger itu kan?" lanjut Theo. "Malah aku curiga kalian melakukan lebih, mate!"
Pikiran Draco melayang ke kejadian pagi itu. "Aku menghindari mendekati kelahiran Muggle, dan aku tidak memanggilnya sebagai darah lumpur karena status darah telah dihapus, kau tahu."
"Yeah, dan kau akan mulai membela peri rumah seperti dia, begitu?" tanya Blaise, kepalanya menoleh ke arah Gryffindor. Draco ikut menoleh. Gadis itu datang. Ia terlihat menoleh ke sekeliling meja Slytherin sebelum matanya bertabrakan dengan tatapn Draco.
Pipinya merona. Alih-alih tersenyum kecil seperti yang dilakukan gadis-gadis lain yang Draco perlakukan seenak jidat, ia malah membuang muka. Arogan yang menyamai The Slytherins.
"Kau benar-benar menciumnya kan?" tuntut Blaise sambil nyengir. "Wajahnya merona saat melihatmu!"
"Tidak," gerutu Draco. "Sekarang bicara dengan benar, siapa yang kau maksud dengan gadis-yang-menulariku."
"Oke, tapi jawab dulu pertanyaan kami," seringai Theo. "Dia cantik kan? Kau mengakui kalau ia cantik?"
"Siapa?"
"Gadis yang melihat ke sini beberapa detik yang lalu dan merona begitu bertemu pandang denganmu." lanjut Blaise.
"Granger? Ya, dia cantik namun dia Gryffindor, dan nyaris membunuhku." Dan membuatku panas-dingin, pikir Draco.
"Tak masalah," sela Blaise. "Kau mencium gadis Weasley itu. Kau tidak keberatan mencium Gryffindor, mate. Kau keberatan mencium Granger karena ia anggota Golden Trio? Kau malah jadi tidak seperti Draco yang kukenal. Bahkan aku yakin kau akan mencium Harry Potter kalau ia perempuan, untuk merebut ciuman pertama setiap gadis kan?"
"Jangan ikut-ikutan menjadi menjijikan." Hanya itu komentar Draco. Kenapa ya? Kenapa draco tidak mencium Granger dan memperlakukannya sesuka hati seperti gads lain?
Karena Draco ingin hal yang ia lakukan juga diinginkan oleh Hermione kah?
"Tapi kau tertarik padanya kan?" tuntut Theo.
"Jelas tidak," Draco berusaha mengacuhkan pikirannya yang kemana-mana. "Dan siapa yang menulariku, mate?"
"Partner Ketua Muridmu. Kau mengadaptasi kebiasaanya atau memang itulah yang harus dilakukan para ketua murid?"
"Apa maksudmu?" Draco berdiri dengan tiba-tiba.
"Tenang, Drake, tenang!" Blaise agak panik. Draco kembali duduk. "Kau semakin mirip dengan Hermione Granger, tahu?" Blaise memandang meja Gryffindor, matanya bersinar-sinar. "Kau ketularan, mate! Kami tinggal menunggu kau membela peri rumah dan menginap ke perpustakaan tiap malam."
"Kau memutar bola mata, cepat marah, dan sering melamun," sambung Theo dengan nada mengejek. "Oh, aku mengerti mengapa gadis-gadis menyukai para Malfoy."
"Oh, diam kalian," gerutu Draco. "Aku tidak melakukannya, oke? Kalian berkata seakan-akan aku baru mengungumkan di depan muka Rita Sketeer kalau aku akan melakukan Operasi Ganti Kelamin."
"Kau pasti akan jelek banget," Theo memukul lengan Draco main-main. "Tapi kami juga Slytherin, Drake. Kalau kau pikir kau bisa menipu kami, nol besar. Salah."
"Drake, kami bisa melihatnya," kata Blaise pelan. "Kau memandang ke meja Gryffindor dan ke pintu. Kau tidak nafsu makan, sering melamun. Kau tidak menggiring gadis-gadis untuk diciumi lagi. Kau selalu pulang cepat ke asramamu. Apa yang dilakukan Granger kepadamu, mate? Atau… kau yang melakukan sesuatu kepadanya?"
Tidak. tentu tidak. Kalau sesuatu kulakukan s=kepadanya, itu berarti memperlakukannya sama seperti gadis lain.
"Kau terlibat secara emosional dengan Granger." Draco melongo dengan pandangan yang sangat-bukan-Malfoy. Theo mengguncang bahu Draco. "Mate, bangun dong. Pernah tidak sih, kau memikirkan kemungkinan kau jatuh cinta kepadanya?"
Draco tersedak jus labu kuning.
TBC
A/N: Edisi Hermione jalan-jalan di Hogsmeade setelah bangun pagi yang tadi di chap selanjutnya, ya? Berhubung ideku dan mood untuk berduaan dengan laptop antara ada dan tiada, jadwal update chapter amat sangat ngaco. Banyak ide pun bakalan susah karena aku nggak bisa memproduksi satu chapter dengan kecepatan menyamai protozoa membelah diri.
Curhat bentar; aku sama sekali nggak nyangka kalau ada yang mau review! Makasih banyak semuanya! Yang punya account di sudah kubalas reviewnya (aku nggak begitu ngerti tentang jangka waktu pengiriman PM, jadi maaf sungguh sangat kalau ada yang nggak nyampe! m(_ _)m ), sementara yang bukan akan kubales di bawah secara menyeluruh di bawah, karena aku agak bingung dengan membalas satu satu.
Review corner: Makasih banyak buat yang udah review! Aku tersanjung banget lho. Apalagi adayang suka gaya nulisku... itu vitamin banget buat aku. Untuk yang minta update cepet, aku usahain ya, karena tanganku masih belum bisa ngetik dengan kecepatan cahaya'-' Maaf kalo chap ini kependekan (ideku selalu muncul dan aku nggak tau cara nulisinnya-_-) dan penuh typo atau malah susah dimengerti ya, guys! Ada lanjutannya kok, tenang... Review terus ya^^
Seperti biasa (padahal baru satu chapter) untuk kutukan, kemarahan terpendam, kritik, saran dan (kalo ada) pujian, bisa dialurkan dengan mengklik tombol 'Review' dibawah ini. Berhubung kita hidup di zaman demokrasi yang memperbolehkan kita mengemukakan pendapat seperti yang tersurat pada Undang Undang Dasar 1924 pasal 28 E... #halah #dibanting... pokoknya intinya, review aja supaya unek-unek nggak dipendem jadi jerawat.
Selena^^
