Chapter 2 : Salah Perhitungan
"...Uchiha Itachi..."
"Uchiha Itachi!? Gawat, Shika! Ayo cepat!" Ino menarik tangan Shikamaru.
"'Cepat'?" ulang Shikamaru, tidak mengacuhkan Ino, "cepat ngapain?"
"Mengejar Temari-san, bodoh!! Apalagi!?" kata Ino tidak sabar.
"Kenapa?" Shikamaru masih tampak tidak peduli.
"'Kenapa?' katamu!?" Ino berteriak, wajahnya tanpak tidak percaya, "kamu itu bego atau idiot sih!? Cowok yang lagi jalan dengan Temari-san itu Itachi! Uchiha Itachi!!"
"Lalu?"
'Tas!' bunyi putusnya tali kesabaran Ino. Dan kata-kata makian meluncur mulus dari mulut Ino.
Lima menit kemudian...
Ino sedang mengatur nafas setelah memaki-maki lima menit non-stop, sementara Shikamaru masih tampak secuek biasanya. Melihat ekspresi itu, membuat Ino ingin mencekik, atau paling tidak menampar Shikamaru.
"Bisa-bisanya dia cuek begitu, sementara ceweknya," Ino terdiam, "cewek-belum-resminya sedang jalan dengan Uchiha Itachi! Uchiha Itachi!! Salah satu Most-Wantednya Konoha! Eh, tunggu sebantar, jangan-jangan Shika tidak tahu kalau Itachi itu salah satu Most-Wanted..." Ino tampak berpikir, "mengingat sifat Shika, kemungkinan besar memang begitu..."
Dan Ino pun memutuskan untuk memberitahukan fakta sakral tersebut pada temannya itu.
"Kamu tahu,Uchiha Itachi itu salah satu cowok Most-Wanted di Konoha lho," Ino menginformasikan, tangan terlipat di depan dada, berusaha terlihat secuek Shikamaru. Dan gagal ketika dengan entengnya, Shikamaru berkata,
"Terus? Apa hubungannya dengan aku?"
Ino menahan diri untuk tidak mencekik Shikamaru. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
"Sekarang," Ino memulai, sudah tidak terlihat ingin membunuh, walau masih tampak marah, "cewekmu," Ino berhenti, "walau belum resmi," tambah Ino. Sekarang, giliran Shikamaru yang ingin mencekik Ino, "sedang jalan dengan Uchiha Itahi! I-ta-chi!" Ino mengeja setiap suku kata untuk menegaskan seberapa penting keadaan ini.
"Lalu?"
"Kamu! Kamu nggak takut Temari-san akan... akan..." Ino mencoba untuk mencari kata yang tepat.
"Selingkuh?" Shikamaru mencoba membantu.
"Bukan, bukan," Ino menggeleng cepat, "'selingkuh bukan kata yang tepat. Temari-san bukan cewekmu," dan ketika Ino melohat pandangan membunuh yang ditujukan Shikamaru padanya, Ino cepat mengganti kata-katanya, "belum resmi jadi cewekmu," Shikamaru masih cemberut, walau sudah tidak tampak semarah tadi, "jadi Temari-san tidak bisa disebut selingkuh,"
Shikamaru menghela nafas.
"Tergoda?"
"Ya! Itu dia! Kamu nggak takut Temari-san akan tergoda? Atau Itachi akan menggoda Temari?"
"Pertama, aku tidak takut Itachi akan menggoda Temari. Kurasa dia bukan tipe yang seperti itu," Shikamaru terdiam sebentar, "dan kalau pun dia menggoda Temari, kurasa dia sekarang sudah berada di rumah sakit. Aku, kita semua tahu betapa berbahayanya menggoda seorang Temari,"
Ingatan Shikamaru dan Ino kembali ke beberapa waktu lalu, ketika seorang berandalan 'menggoda' Temari. Berandal tersebut berakhir di rawat secara intensif di rumah sakit dan mimpi buruk tentang rakun dan kalajengking selama tiga bulan. Keduanya merinding.
"Lebih baik tidak diingat,"
"Setuju," Ino mengangguk, "lalu, atas dasar apa kamu bisa begitu yakin Temari-san tidak akan tergoda, huh?"
Shikamaru menyeringai.
"Karena aku tahu, tidak, aku yakin kalau Temari itu kebal terhadap cowok keren," seringai Shikamaru melebar. Ino mengerutkan kening.
"'Kebal'?"
"Yup!"
"Kamu yakin?" Ino memicingkan mata, curiga.
"Seratus persen!" Shikamaru mengangguk mantap.
"Tapi..." Ino masih tampak tidak yakin.
"Kamu lupa? Mungkin Itachi adalah salah satu Most-Wantednya Konoha, tapi Temari kan tinggal dengan dua Most-Wantednya Suna,"
Ino bengong.
"Gaara, Sasori," Shikamaru memutar bola matanya. Butuh beberapa saat bagi Ino untuk menerima dan mencerna informasi ini.
"Tapi mereka kan keluarga!!" bantah Ino.
"Tenang saja, Temari tidak melihat cowok dari tampangnya kok," Shikamaru melambaikan tangannya dengan cuek. Ino terdiam.
"... Benar juga. Kalau tidak, tentu Temari-san tidak akan mempertimbangkan kamu," Ino menggumam.
"Hey! Apa maksudnya itu!?" Shikamaru cemberut. Ino nyengir. "Lagipula, Temari suka cowok yang lebih kuat. Itachi sekarang hanya guru akademi kan,"
Ino diam.
"Tapi, sebenarnya Itachi adalah seorang Jounin kan? ANBU malah. Dia jadi guru akademi hanya karena Sasuke meminta, ah memaksa para Dewan untuk menempatkan Itachi sebagai guru,"
Kini Shikamaru yang terdiam.
"Temari suka cowok pintar daripada cowok kuat,"
"Kamu tahu julukan Itachi? Prodigy amongst prodigies, jenius diantara para jenius. Kamu tahu artinya? Temari akan suka Itachi,"
"Temari suka cowok yang lebih tua,"
"Dan Itachi memang lebih tua kan?" Ino mengangkat alis, "kamu yang lebih muda,"
Ino dapat melihat Shikamaru memucat.
"Ah, mulai panik rupanya," Ino menyeringai, "satu atau dua 'dorongan' lagi akan cukup kurasa," seringai Ino melebar. Seringai iblis. "Let's see..."
"Tadi, ketika aku melihat Temari-san dan Itachi, kau tahu Itachi memanggil Temari-san apa?"
Perhatian Shikamaru langsung tertuju sepenuhnya pada Ino.
"'Temari-chan'," bisik Ino, nyengir nakal, "dan kita semua tahu betapa Temari-san benci dipanggil 'chan',"
Wajah Shikamaru langsung berubah putih pucat, sebelum dia melompat bangun dan berlari. Ino tertawa, lalu memutuskan untuk mengejar Shikamaru, yang dalam kepanikannya tidak menyadari bahwa dia tidak tahu dimana Temari berada dan tidak bertanya pada Ino.
Ino menggelengkan kepala, tersenyum kecil.
"Dasar, Shika!"
--
Temari, beberapa saat sebelum Shikamaru bertemu dengan Ino.
"Masalah ujian Chuunin sudah selesai. Sekarang mau ngapai?" Temari menyilangkan tangannya di belakang kepala, terdiam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dia lakukan. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan.
Temari terus berjalan tanpa tujuan, sampai dia sampai di depan gedung sederhana bercat putih. Akademi ninja. Temari tertegun.
"Akademi ya..." Temari menutup matanya, tersenyum sedih. Dan ingatannya kembali ke dua belas tahun lalu, ketika umurnya masih sembilan tahun. Sebagai anak Kazekage, mereka bertiga --Temari, Kankuro, dan Gaara-- tidak pernah masuk akademi, sebagai gantinya, Baki mengajari mereka secara pribadi.
"Ironis..." pikir Temari, "padahal sejak kecil kami selalu bertiga, hanya bertiga, kami tidak pernah punya teman lain. Tapi... Tapi, tetap saja kami tidak bisa akrab," Temari terdiam, "seandainya... ketika itu kami masuk akademi... apa kehidupan kami akan berubah...?" Temari terdiam lagi, wajahnya tampak lebih sedih dari sebelumnya. Dia menggelengkan kepalanya perlahan, menyadari, bahwa walaupun mereka masuk akademi, tidak akan ada yang berubah dalam hidup mereka. Hidup mereka akan berubah seandainya...
"Seanadainya ketika itu aku dan Kankuro mau menerima Gaara... Hidup kami, hidup Gaara, mungkin akan jauh lebih baik... mungkin Gaara... akan lebih bahagia... mungkin dia..." Temari memejamkan mata, menggigit bibir bawahnyam berusaha untuk tidak menangis, tapi air matanya tetap mengalir turun, "...Seandainya..." bisiknya lirih.
"Anda baik-baik saja, Nona?"
Suara itu menyadarkan Temari dari lamunannya.
"Ah, i-iya. Saya tidak apa-apa, hanya... sedang mengingat masa lalu..." jawab Temari, segera menghapus air matanya. Temari dapat merasakan pipinya memanas, malu karena terlihat sedang menangis, oleh orang tidak dikenal pula. Pasti orang itu kini berpikir bahwa dia hanya cewek cengeng. Padahal sebenarnya, seorang Temari paling anti untuk menangis. Tapi adik-adiknya adalah pengecualian. "...Ma-maaf..." Temari menunduk.
"Tidak apa-apa," orang itu tersenyum. Bukan senyum meremehkan, tapi senyum tulus. Tersenyum, seakan dia mengerti apa yang dipikirkan Temari. Temari menatap orang itu.
"Rasanya... orang ini mirip seseorang... tapi siapa?" pikir Temari, berusaha mengingat, dan gagal, "ah, sudahlah..."
"Sedang... mengingat masa lalu ya...?" laki-laki itu masih tersenyum, tapi wajahnya tampak sedih, "dan berharap, masa lalu akan berubah...?" lanjutnya dalam bisikan, tapi Temari mendengarnya, jelas. Temari menatap pria itu, curiga. Tapi ketika melihat senyum pria itu, dan matanya... mata hitam itu... sama sepertinya.
"Anda juga...??" Temari balik bertanya, spontan, "Anda juga, pernah berharap masa lalu akan berubah...?"
Pria itu tersenyum, getir.
"Tidak pernah, sehari pun terlewat, tanpa saya berharap agar masa lalu bisa berubah," pria itu menengadahkan kepalanya, menatap langit, "berharap... agar saya bisa menemani adik saya... melihatnya tumbuh... menemaninya..."
"Orang ini... sama sepertiku..." pikir Temari, lalau tanpa menyadari apa yang sedang dilakukannya, dia mengulurkan tangannya.
"Temari. Sabaku no Temari,"
Pria itu tampak terkejut, tapi dia lalu tersenyum.
"Uchiha... Uchiha Itachi," pria itu menjabat tangan Temari.
Kali ini Temari yang terkejut.
"Uchiha... pantas. Dia memang mirip teman Naruto yang Uchiha itu..." pikir Temari.
"Suatu kehormatan bagi saya, bisa bertemu dengan Anda, Temari-san. Duta Suna dan The Wind Mistress," pria itu, Itachi, membungkuk sopan.
"Tidak. Sayalah yang mendapat kehormatan bisa bertemu dengan Anda di sini. Sharingan Master, sang jenius bahkan diantara para Uchiha," Temari balas membungkuk.
Keduanya terdiam, lalu...
"Tidak usah terlalu sopan, Temari-san,"
"Tidak usah terlalu sopan, Itachi-san,"
Mereka berkata berbarengan. Keduanya terdiam, saling melihat dengan tatapan tidak percaya. Lalu senyum mengembang di mulut keduanya, sebelum mereka berdua tertawa berbarengan.
"'Itachi-kun' kalau begitu?" Temari mengankat alis, tersenyum jahil.
"'Temari-chan'?" Itachi balas tersenyum.
Temari berpikir sebentar, lalu...
"Deal," mereka saling berjabat tangan lagi.
"Sebentar lagi jam makan siang, mau makan bersamaku?" tawar Itachi. Temari diam, memikirkan pilihannya. "Kita bisa berbicara tentang... adik kita mungkin?" Itachi mengangkat alis. Temari menatap Itachi seakan berkata 'bagaimana kau tahu?'. "Entahlah," Itachi mengangkat bahu, "sharingan mungkin?" dia tersenyum misterius, "jadi...?"
"Oke!"
--
Note :
- Akhirnya kelar juga chapter 2! Maaf soal lamanya nge-update. Tapi harusnya chapter ini bisa keluar 2 hr lalu, tapi ada sedikit masalah... TEPAT saya selesai ketik, tiba2 komp nya tewas. Hahaha *ketawa stres*
- ItaTema bagus juga kan? Hohoho... btw, ada yang benar nebak ' topik yang menghubungkan Temari dan Itachi'? Itu adik mereka ^^ sama2 bermasalah. hahaha.
-Untuk masalah pengetikan, saya benar2 minta maaf. Ke depannya saya usahain lebih rapi. Makanya kalau ada kritik/saran, jangan segan buat kasih tahu ^^ itu sangat membantu.
Review Reply :
-silia shasitsuki, Dani D'mile, Vongola-aI - tanpa kalian, cerita ini nggak akan lanjut. Kenapa? Karena setelah nge post chapter 1, saya baru sadar ada banyak salah tulis, DAN saya kira saya lupa kasih line break, mau gantung diri rasanya... (di pohon tomat di kebun ^^) tapi karena review dari kalian, saya batalkan niat itu. Thank u!!
-kakkoii-chan - suka part 'belum resmi' itu ya? Saya juga!
-ambudaff - review paling panjang... bahagia banget...
-uchiha ayashi - emang ItaTema nggak disangka banget ya? Bagus deh. XP
- Angel's Leben Zeit - selamat! Anda ngebunuh Writer's Block saya! Kalau nggak ada Anda, mungkin saya baru update bulan depan... atau tahun depan...? Whoa! Jangan timpuk saya!
Thanks buat semua yang udah ngebaca n alert juga ^^
