aaaa... gak punya alasan. Saya nulis sebisanya. Lebih tepat sebagai Intro. Belum memasuki Alur canon. Setengah tahun lebih ya?..hm.

A/N :Setelah berpikir cukup keras, akhirnya saya memutuskan akan menulis ulang/ memperbaiki chapter 1. Karena pas saya lihat...aw banget. Dan saya akan perbaiki kesalahan yg berada di chapter 1. Jadi jangan terkejut, jika melihat chapter 1 nantinya sedikit..sedikit berbeda dari yang awalnya.( Beteluan mau gw jedokkan kepala gw pas liat ch 1)

Disclaimer: Not own Anything. Except my fingers and laptop to do this kind.


Tatapan itu membuat Naruto terkadang sedih. Senyuman yang tulus muncul dari wajahnya terhadap wanita itu. Saat itu telah berlalu, dirinya dengan segera membawa wanita berambut cokelat itu ke Hotel yang ia tempati. Meskipun dengan pakaian yang bersimbah darah.. yang tentunya miliknya sendiri. Melihat luka-luka tersebut membuat hati Naruto terasa remuk. Dirinya tidak perlu memandang beberapa kali, ia tahu. Bahwa wanita ini sudah mengalami eksperimen-eksperimen. Sesuatu yang pahit dilidahnya.

Akitsu hanya menatap Naruto dengan tatapan kosong itu. Melihat Pria yang mendekatinya dan tersenyum sedih kepadanya. Ia tidak tahu harus membalas seperti apa.

"Kau akan baik-baik saja." Suara tersebut penuh akan kecemasan namun juga...menghangatkan. Pupilnya membesar sedikit ketika melihat tangan Pria berambut kuning itu diselimuti aura aneh yang berwarna hijau. Ia hanya menatap dengan diam ketika tangan tersebut menyembuhkan luka-luka yang dia terima sesaat sebelum melarikan diri dari Lab.

"ah.."

Tatapan itu tidak pernah lepas dari pandangannya. Mata yang terlihat tanpa jiwa itu seperti memperhatikannya, mengharapkan sesuatu, terlihat seperti biji yang baru ditanam. Berharap tumbuh meskipun sinar matahari tidak menyinari. Naruto tahu tatapan itu, tatapan yang ia sangat mengerti.. takut, cemas, dan penuh harap akan hidup baru.

"apa kau lapar, Akitsu?" Naruto bertanya dengan nada lembut. Memberikan senyuman setulus yang ia bisa. Setelah memberikan satu pasang pakaian yang bersih dan juga hangat, Naruto membawa Akitsu ke ruangannya.

"ah.. tidak, Naruto-sama." Suara itu bagaikan ragu-ragu. Serasa takut untuk memberikan jawaban yang sama.

Namun ketika mendengar suara aneh yang tercipta oleh perut Akitsu. Naruto pun tertawa halus. Sedangkan Akitsu tidak tahu berbuat apa...

"Maafkan aku Naruto-sama, itu tidak akan terulang lagi."

"hahaha, tidak apa-apa. Itu wajar jika kau lapar." Naruto kemudian menekan tombol telepon resepsionis. Memesan makanan yang cukup dan sehat untuk Akitsu. Tidak kurang dari lima belas menit, seorang pelayan kamar membawakan meja dengan penuh jenis makanan. Saat keluar, sang pelayan menatap Akitsu dengan wajah memerah.

"Nah.. sekarang makanlah, Kau terlihat mau pingsan saat kita bertemu tadi" Naruto berkata dengan nada humor.

Akitsu hanya terdiam sebentar. Menatap sajian yang berada didepannya. Matanya melirik ke Naruto, "apakah ini.."

"Yap. Itu untukmu. Aku tidak bisa membiarkan kamu kelaparan, bukan?"

"tapi.."

"tidak ada tapi-tapian. Sekarang makan, Akitsu. Kau memerlukan nutrisi yang banyak pada saat ini. Tubuhmu mulai menunjukkan gejala-gejala yang tidak bagus. Dan jika tidak segera ditangani, maka hal itu akan menjadi semakin parah. Namun, yang pertama kau lakukan adalah membuat dirimu kembali kekondisi yang normal."

Meskipun terlihat ragu-ragu akan apa yang dikatakan Naruto. Akitsu akhirnya menyerah, dan melakukan apa yang 'diperintahkan' tuannya. Ia tidak ingin terlihat buruk didepan orang yang mau memungutnya.

Naruto tidak pernah melepaskan pandangannya dari wanita itu. Cantik dari segala sisi. Namun...diperlakukan dengan keburukan yang membuat semuanya hancur satu persatu.

Sekirei. Suatu nama yang tidak asing bagi dirinya. Informasi yang ia dapatkan bukanlah sesuatu yang duduk baik dengan Naruto. Alien.. sekumpulan Alien yang mendarat di Bumi. Memiliki tugas untuk mencari pendampingnya dan kemudian bertarung sampai ke akhir, agar bisa bersama dengan Ashikabi mereka.

Informasi yang ia dapat langsung dari Pria gila bernama Minaka. Direktur utama MBI. Meskipun cukup gelap dengan penemuan yang ditemukan Pria itu sampai sekarang. Namun, pengunguman beberapa minggu yang lalu membuat dirinya khawatir. Tidak hanya karena Turnamen gila yang direncanakan Minaka, namun juga akan kekuatan yang dibawa oleh alien-alien tersebut. Bahkan dirinya yang sekarang bukanlah lawan yang berarti untuk seorang single digit.

Menghela nafasnya, Naruto membuka laptopnya dan mulai bekerja. Menjadi Pria pebisnis merupakan sesuatu yang sangat sulit. Ditambah menyeimbangkan semua hal yang ada dalam hidupnya.

XXXKristoperXXX

Dirinya hanyalah nomor yang rusak. Itulah yang selalu diulangi dibatin Akitsu. Semua kemewahan yang diberikan oleh Pria ini membuat sesuatu yang berada didalam dadanya aneh. Rasa aneh yang tidak pernah mau hilang. Rasa yang muncul ketika pertama kali melihat wajah Pria tersebut. Dirinya tahu, melihat wajah itu. Melihat ketulusan yang terpancar dari wajah tampan itu. Semakin ia ingat semakin wajahnya memerah. Namun rasa sakit itu tidak pernah hilang. Jika ia sekirei biasa... Akitsu akan menawarkan dirinya menjadi Sekirei Pria baik tersebut. Namun...mustahil itulah kata yang tepat. Mengingat kembali masa menyedihkan yang telah berlalu.. yang menyebabkan dirinya seperti ini.

Namun, sejuta pertanyaan masih berada didalam hatinya. Tetapi, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Takut, jika satu kesalahan saja terjadi. Takut, jika semua akan hancur menjadi debu ketika kesalahan yang ia perbuat. Dan dirinya hanya diam. Tanpa menunjukkan raut wajah.. memilih menunggu apa yang ingin dilakukan Tuan barunya.

Naruto menguap. Menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Melihat kembali ke jam tangannya dan kemudian Akitsu. "hei, sekarang sudah larut malam. Sebaiknya kau tidur memulihkan tenagamu. Karena besok akan sibuk.."

"sibuk? Apa kita akan melawan Sekirei lain, tuan?" Akitsu bertanya tanpa emosi. Serasa akan melakukan apapun yang akan diperintahkan Naruto.

Naruto menggelengkan kepalanya. Meskipun sedih ketika mendengar apa yang dikatakan Akitsu. "Tidak. Hal itu tidak akan pernah kita lakukan. Titik. Tapi... kita akan berbelanja sebanyaknya untukmu besok!" Naruto berkata dengan mata berbinar-binar dan senyum lebar.

"..aah. Ini sudah cukup."

"tidak. Aku tidak akan pernah membiarkan pakaian seperti itu. Tidak hanya terlalu menunjukkan kulitmu. Namun juga akan mengundang para mesum. Dan aku tidak suka orang melihatmu begitu."

...

"baiklah."

Akitsu kemudian melihat Naruto berbaring di Kasur yang tidak lama kemudian tertidur. Senyum, meskipun tipis. Ia tidak pernah merasa sesuatu seperti ini. Mendengar betapa perhatiannya orang ini kepadanya membuatnya bahagia. Meskipun tidak bisa mengekspresikannya, namun ia akan melakukan hal yang terbaik untuk Pria yang tertidur pulas tersebut.

Meskipun tidak bisa membuat hubungan layaknya Ashikabi-Sekirei... namun, ia ingin, atau bertingkah layaknya seperti itu. Karena itulah tujuan hidup jenis sepertinya. Meskipun tidak merasakan reaksi yang seperti dibisikkan dokter-dokternya, namun...ia ingin bermimpi, bahwa itulah yang kenyataan.

Dan malam itu berlalu. Meskipun lelah masih ada dalam tubuhnya, Namun...Akitsu menghabiskan malam itu melihat wajah Pria yang menyelamatkannya. Melindunginya dari bahaya yang akan mengancam..

Meskipun kemungkinannya...sangat tipis.


Mirip drable sih, namun saya Cuma mikirnya sampe sini aja. Masih bingung...

Pemasangan dengan Akitsu, karena menurut saya...bagus. Ini karakter merupakan salah satu tokoh yang saya sangat sukai, setelah Karasuba. Gak tahu kenapa begitu.. bukan karena body-nya sih... namun karena pengkarakterannya. Harem? Gak terlalu harem banget sih, namun dua Sekirei atau lebih dikit. Romance... ya ini cerita kebanyakan Plot romance yang cukup panjang. Bukan..."jantungku berdetak, kau Ashikabiku... dan blalalalaa" basi amat.

Review gak review tergantung kalian. Yang penting aku sudah melakukan yang terbaik. Lebih baik lewat kalau mau ngeflame..