12.34 AM...
Sepulang kuliah Raden mengajak Faiq, Williem, dan Kiku berbelanja keperluan akhir bulan di mini market. Seperti yang diketahui, akhir bulan merupakan KIAMAT bagi para mahasiswa yang merantau. Alasannya cukup logis, bahkan dapat dikatakan sesuai dengan kenyataan.
UANG SAKU MENIPIS!
DOMPET MENGERING!
Seperti itulah bentuk KIAMAT di akhir bulan bagi mereka. Sebagian besar bertahan hidup dengan menikmati makanan alternatif alias mie instan, bahkan semangkuk mie rasa soto dengan desert kerupuk pun dapat dikatakan makanan nikmat bagi mereka.
Sisanya—yang rajin menyisihkan uang sakunya dari awal hingga menjelang akhir bulan—dapat menikmati makanan nikmat, sekalipun hanya sebungkus nasi Padang atau makanan-makanan yang dijual di warteg terdekat atau mungkin PaHe di restoran cepat saji.
Maka dari itu, mempersiapkan keperluan akhir bulan sangat dianjurkan sebelum menderita di akhir bulan.
"Oi udahan yuk, gue udah selesai nih tinggal bayar." ajak Williem sambil berjalan menuju kasir.
"Gue juga, yuk langsung bayar." sahut Raden sambil berjalan ke kasir.
Setelah berbelanja, mereka langsung berjalan menuju kasir. Sambil menunggu giliran, sesekali mereka mengobrol dengan serunya.
"Ngomong-ngomong si Mayuyu gimana kabarnya tuh?" tanya Raden sambil melirik ke jam tangannya.
"Entah, belum cek internet sih.." jawab Kiku, "Ngomong-ngomong Faiq-san ke mana ya?"
"Tuh orangnya." sahut Williem cuek sambil menunjuk Faiq yang sampai sekarang masih berdiri di depan lemari es yang terbuka layaknya orang yang baru pertama kali mengenal lemari es, "Oi Faiq, masih lama gak?"
"Cepetan milihnya, kita bertiga udah kelar nih." kata Raden sambil menenteng kantong plastik berisi belanjaannya.
"Jangan lama-lama Faiq-san, kita mau pulang ke kost nih." ujar Kiku sambil menenteng kantong plastik belanjaannya.
"Eh, lu bertiga udah kelar?" sahut Faiq sambil menengok ke arah ketiga temannya, "Ya udah, gue juga udah kelar nih! Kulkasnya ternyata adem bro..!" lanjutnya polos sambil menutup pintu lemari es.
Hening.
"...MUKE GILEEE~!" celetuk Raden dan sang penjaga kasir berbarengan, Williem langsung melototi Faiq yang malah menyengir penuh kepolosan. Sedangkan Kiku...?
Dia keburu beranime fall duluan.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah—
—Faiq dihadiahi timpukan sandal dari Raden dan Williem sepulangnya dari sana.
Hagane Giita-pyoon present...
Our Lovely Kost-kostan
Chapter 2
Warning
AU, OC, dan OOC merajalela, mungkinunsur shounen-ai masuk, human name masuk, bahasa dan umpatan zaman sekarang masuk, cerita menjurus ke ajang curhat, dan lain-lain
Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya
Daku gak pernah mengharapkan hal-hal finansial dalam membuat fic ini dan hanya menyalurkan kesenangan belaka
Don't Like Don't Review
Ittadakimasu!
Sebetulnya kost itu dibagi menjadi empat jenis, tiga jenis kost itu dikategorikan mengenakkan, satu jenis lainnya—
—Maaf, kurang mengenakkan.
Jika dijabarkan, keempat kost tersebut adalah:
-Nyaman plus aseeeekkk
Kost tersebut dikatakan seperti itu karena letak kost tersebut berada jauh dari rumah sang pemilik kost—biasanya pemilik kost itu ibu-ibu—dan juga lokasinya bersebelahan dengan kost putri, jadi mereka bisa bercuci mata tanpa jauh-jauh pergi ke mall.
-Nyaman doang
Kost tersebut dikatakan seperti itu karena letak kost tak hanya jauh dari rumah pemilik kost, tapi juga jauh dari kost putri. Kalau sudah begitu, cara mereka bercuci mata adalah pergi ke mall dan itu membutuhkan biaya yang cukup banyak.
-Cukup nyaman
Kost seperti itu biasanya digambarkan dengan sebuah kost yang letaknya bersebelahan dengan rumah pemilik kost. Yang membuat kost itu dikatakan nyaman adalah sang pemilik kost alias ibu kost yang amat baik—atau mungkin kelewat baik—dan masih muda. Dan biasanya, para penghuni kost akan saling memperebutkan ibu kost meskipun umur mereka berbeda jauh. Dapat disimpulkan bahwa cinta itu tak mengenal perbedaan usia, awww~
-Gak ada nyamannya sama sekali
Kost seperti itu... tak bisa dikatakan kost idaman para mahasiswa yang merantau. Mengapa demikian? Well, kostnya terletak jauh dari kost putri dan letaknya bersebelahan dengan rumah ibu kost yang sudah tua, galak binti judes pula. Intinya, kost semacam ini dapat disetarakan dengan NERAKA JAHANAM.
Dan mereka bersyukur karena jenis kost mereka berada di antara nyaman plus aseeeekkk dan cukup nyaman, alasannya kost mereka bersebelahan dengan kost putri dan rumah pemilik kost. Ibu kostnya sudah cantik, masih muda, baik, gaul pula. Yah, terkadang—
"...MATHIAAAAAS! BAYAR UANG KOSTNYAAAAA!"
—sedikit galak.
"Mathiasnya lagi seminar, Miss..." sahut Alfred datar sambil memasak mie instan di depan kamarnya dengan kompor portable.
"Tarohan, Miss Eliza lagi PMS..." bisik Antonio sambil menundukkan kepalanya.
"Kesesese~ Gue setuju, Miss Eliza lagi PMS.." bisik Gilbert sembari tertawa cekikikan.
"Eh iya, biasanya kan kalo Miss Eliza lagi PMS pasti bawa-bawa frying pan.." bisik Francis sambil menutup mulutnya demi menjaga tawanya tak meledak.
Di saat seorang Elizaveta Hedervary—yang kini—meraung-raung memanggil Feliks untuk membayar uang kost, ketiga mahasiswa nista bin madesu ini malah melakukan—
—taruhan yang sebetulnya tak penting.
BUUUUUGH!
Triple headshot, satu hantaman frying pan mencium tiga kepala sekaligus.
"GAK USAH NGOMONGIN DARI BELAKANG!" gerutu Elizaveta sambil terus menggenggam frying pan andalannya, sementara itu Matthew yang kini gemetaran di belakangnya tengah menggenggam seamplop cokelat muda yang belakangan diketahui bahwa amplop itu berisi segepok uang berwarna merah muda.
"M-M-Miss E-E-Eliza—" ujar Matthew pelan sambil menyentuh pundak Elizaveta yang larut dalam emosi.
"APA?! MAU NGOMONGIN—" hardik Elizaveta penuh emosi sambil menengok ke arah belakangnya dan melihat Matthew yang hampir jantungan—dan siap untuk dijemput malaikat pencabut nyawa—karena hardikannya barusan, "Lho Matthew? Kamu mau ngapain?"
"I-i-ini ma-mau ba-bayar u-uang k-k-kostku sa-sama B-B-Brother A-A-Al.." jawab Matthew setengah gemetaran sambil menyerahkan amplop cokelat muda itu kepada Elizaveta yang langsung tersenyum manis.
"Gak usah gemeteran gitu dong Matt, kamu kan gak salah apa-apa..."
—Dear Elizaveta Hedervary, seandainya dirimu tahu kalau engkau baru saja hampir membunuh seorang Matthew Williams dengan tatapan khas Berwald dan raungan mematikanmu itu..
"Ka-ka-kalau begitu aku balik lagi ke kamar ya..."
Masih gemetaran, Matthew berjalan menuju kamarnya dan melewati seonggok—bukan, tiga ekor—ralat, tiga orang yang kini sekarat di lantai terdekat akibat frying pan attack andalan Elizaveta.
Yah, sepertinya kata SADIS itu memang harus ditambahkan di atas tadi.
.
.
.
"Mon ami, intipin anak kost sebelah yuk!"
Serentak Gilbert dan Antonio mengarahkan pandangannya ke arah Francis yang baru saja menyampaikan usulnya.
—Meski tahu usulnya itu pasti berunsur if-you-know-what-i-mean.
"Serius lu? Ntar kalo yang lainnya tau gimana?" tanya Antonio sambil menghentikan sementara permainan gitarnya itu.
"Santai aja kali, anak-anak kan otaknya bejat semua kayak kita!" jawab Gilbert spontan, "Yah, walaupun beberapa otaknya gak bejat.."
"Oh iya ya.." gumam Antonio sambil menganggukkan kepalanya, "Terus kita ngintipnya di kamar siapa?"
"Gimana kalo di kamar gue? Kan kamar gue awesome abis, jendela anak-anak kost sebelah keliatan semua!" sahut Gilbert penuh percaya diri—atau mungkin kelewat pede.
"Bener juga sih Gil, kalo misalnya di kamarnya si mayuge itu entar kita malah diceramahin abis-abisan." ujar Francis sambil menganggukkan kepalanya.
—Sementara itu, Arthur yang sedang membaca sambil tidur tengkurap di kamarnya tiba-tiba bersin—
"Apalagi di kamarnya Vash, yang ada kita ditembakin satu-satu sama dia. Hiiy~ Gue gak mau bayangin deh!" timpal Antonio sambil bergelidik ketakutan.
—Sementara itu, Vash yang sedang menabung untuk masa depan di kamar mandi tiba-tiba bersin—
"Ya udah, sekarang aja! Gue gak sabaran liat anak kost sebelah, katanya sih di sono ceweknya bening-bening semua~" ajak Francis sambil nyelonong pergi ke kamar Gilbert yang membulatkan kedua mata bak rubynya itu.
"Demi apa?! Beningnya kayak gimana?!" tanya Gilbert setengah berseru sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar sampai tak menyadari bahwa wajah Antonio dicium daun pintu kamarnya dengan keras.
"Gil, gue tau elu kepengen liat anak kost sebelah.." ucap Antonio lirih, "...TAPI GAK PAKE JEDOTIN PINTU KE MUKA GUE SEGALAAA~!" lanjutnya sedikit kesal sambil mengusap wajahnya yang dicium daun pintu kamar Gilbert barusan.
"Sori bro, gue gak tau kalo elu ada di belakang pintu kamar gue, ehehe.." sahut Gilbert sambil menunjukkan cengirannya di depan Antonio yang memajukan bibirnya.
"Udah, udah.. Jangan berantem, mending langsung ngintip aja sekarang~" tukas Francis santai sambil duduk di belakang daun jendela yang kebetulan menghadap ke jendela-jendela penghuni kost yang merupakan tetangga mereka.
"Oki doki!" seru Gilbert dan Antonio bersemangat sambil masuk ke kamar, naasnya mereka lupa mengunci pintu kamar sehingga kegiatan mereka rawan diketahui penghuni kost lainnya.
"...Eh cuy, ada yang bening tuh..." bisik Gilbert sambil meneropongi salah satu penghuni kost tetangga mereka.
"Mana, mana? Yang dadanya gede itu ya?" tanya Antonio setengah berbisik sambil menunjuk salah satu penghuni kost tetangga yang—
—maaf, itunya kelewat besar.
"Eh iya tuh! Aduh Tuhan, seksi sekali dia~" komentar Francis sambil mengambil sehelai tissue untuk mengelap hidungnya yang memproduksi darah—baca : mimisan.
"Gil, bagi tisu dong~ Gue mimisan nih~" pinta Antonio sambil mengadahkan telapak tangannya dengan tujuan meminta tissue kepada Gilbert yang langsung memberikan barang yang dimaksud.
"Cuy, suara itunya kedengeran sampe sini.." bisik Gilbert sambil menyumpal kedua lubang hidungnya yang baru saja memproduksi darah dengan tissue.
"Tisu lagi dong, mon ami~" pinta Francis sambil mengadahkan telapak tangannya ke arah Gilbert.
"Ah elah, minta tisunya sama gue semua! Gak awesome lu pada minta tisu ke gue!" gerutu Gilbert sambil memberikan sehelai tissue kepada Francis.
"Ya abis, gue lupa bawa tisu. Ketinggalan di kantong jeans gue.." ujar Antonio sambil meneropong sang gadis yang sedang ketiban sial karena diintipi oleh ketiga mahasiswa nista bin madesu itu.
"Ya elah mending ketinggalan, lah gue.. Hilang entah ke mana pas di kampus.." sahut Francis setengah berbisik sambil menyumpal kedua lubang hidungnya dengan tissue.
"Itu sih bad luck, Ncis... Bawa tisu, pas di kampus ilang ditelen bumi~" ledek Antonio sambil tertawa cekikikan tanpa memedulikan Francis yang memajukan bibirnya. Kebetulan, Ivan yang baru saja pulang kuliah melihat kegiatan mereka yang patut dicurigai.
"Kalian lagi ngapain, da?" tanya Ivan sambil memasuki kamar Gilbert yang kini sedang menempelkan telunjuknya di depan mulutnya—baca : memberi isyarat supaya diam.
"...Ngintip anak kost sebelah, da?" tanya Ivan lagi sambil menghampiri ketiga mahasiswa mesum itu.
"Iya, menurut lu seksi gak orang yang itu?" tanya Francis sambil menunjuk seorang gadis berdada kelewat besar itu.
"Dia...?" gumam Ivan sambil memperhatikan gadis yang diberitahu Francis barusan, "Oh itu—"
"—Elu kenal sama dia?" tanya Antonio heboh sambil menengok ke arah Ivan.
"Itu kan kakakku, da..." jawab Ivan polos, "Suka ya sama dia..?"
"E-e-e-enggak k-k-k-koook..."
—Dan Francis, Antonio, dan Gilbert bersumpah mereka merasakan aura neraka menggeliat di belakang mereka, tepatnya dari belakang tubuh Ivan yang kini tersenyum mengerikan..
.
.
.
"Udah ah, cari target lagi aja!" ujar Antonio sambil meneropong kembali, "Eh, eh! Gue nemu cewek bening lagi nih!"
"Mana, mana?!" tanya Francis heboh sambil menghampiri Antonio yang kini kembali bernosebleed sambil tersenyum mesum, "Muke gile, tampangnya unyu cuy!"
"Mein gott, mukanya unyu bangeeeet~" puji Gilbert yang memproduksi air terjun darah sambil terus menatap seorang gadis berwajah super unyu yang sedang menikmati sebuah tomat.
"Yang suka sama dia gue tampol satu-satu!" seru Antonio bersemangat sambil mengepalkan telapak tangannya.
"Weitss.. Suka sama tuh cewek ceritanya...?" tanya Francis setengah menyindir.
"Iya dund, udah cinta malah iya!" jawab Antonio tanpa menyadari kalau pertanyaan Francis barusan sedikit menyindirnya.
Pemberitahuan.
Kepada Francis Bonnefoy, Antonio Fernandez Carriedo, dan Gilbert Beilschmidt diharap untuk bersiaga karena—
PAAAAAAAAAAAK!
PAAAAAAAAAAAAKKK!
PAAAAAAAAAAAAAKKKK!
—Ups, terlambat.
"Beraninya elu ngintipin adek gue! Dasar cowok mesum luh!" gerutu Williem sambil memegangi sandalnya yang digunakan untuk menghukum ketiga mahasiswa mesum bin madesu yang kini tepar di tempat.
Kasihan...
"E-e-elu se-se-sendiri pe-pe-pedo..." komentar Antonio terbata-bata sambil mengangkat tangannya dalam rangka hendak mengambil teropong binokular yang berada di dekatnya.
"Elu juga pedo, begok—" tukas Williem yang masih dirundung emosi sambil menepuk kepala Antonio dengan sandalnya lalu pergi meninggalkan mereka.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa gadis yang mereka intipi adalah adik dari Williem.
.
.
.
"...Gila, masih sakit aja kepala gue..." gumam Francis sambil mengusapi kepalanya yang baru saja digeplak sendal oleh Williem.
"Kayaknya cinta gue bertepuk sebelah tangan, hiks.." gumam Antonio sambil beremo corner.
"Heh, terus Lovino lu bawa ke mana, hah?" tanya Gilbert setengah meledek sambil menyikut Antonio.
—Sementara itu, Lovino yang sedang bersiesta di kamarnya tiba-tiba bersin—
"Oh iya ya.." gumam Antonio yang langsung menyelesaikan sesi emo cornernya sambil mengangguk lalu kembali duduk di depan jendela, "Kira-kira cewek yang bening mana lagi nih?" tanyanya sambil meneropongi kost tetangga mereka.
"Yang pake pita merah kali tuh, bening banget~" jawab Francis sambil menunjuk seorang gadis bertwintail dan mengenakan pita merah yang sedang berganti baju.
Weleh, mereka tak kapok-kapoknya ternyata—
—Tunggu, berganti baju...?!
BAHAYAAAAAA!
SIAGA EMPAAAAAAAAAAT!
BLETAAAAAAAKKKKKKK!
TRIPLE HEADSHOT!
"Kalian semua mau cari gara-gara lagi, hah?!"
Kini ketiga mahasiswa nista itu babak belur—lagi—karena terkena serangan frying pan dari Elizaveta yang ternyata mengetahui kegiatan tak terpuji mereka.
Sayang seribu sayang, padahal sedikit lagi mereka akan memproduksi air terjun darah yang derasnya setara dengan Niagara Falls dan mungkin juga dapat membentuk sebuah danau besar bernama DANAU NOSEBLEED.
—Cukup, yang terakhir itu sangat impossibru jika terjadi...
"A-a-ampun~" gumam Gilbert terbata-bata sambil merayap menuju pintu kamarnya. Pemuda berkebangsaan Jerman—Timur—itu tahu dirinya dan Antonio lupa mengunci pintu kamar sehingga mereka ketahuan mengintipi penghuni kost putri sana, tetapi bagaimanapun juga ia penasaran siapa pelaku yang seenak jidatnya memberitahu Elizaveta perihal kegiatan laknatnya itu—
—berhubung masih adanya penampakan penghuni kost yang agak waras, yah sekitar 1 persen dari keseluruhan.
Tragis memang...
"Vee~ Bener kan Miss Eliza? Pada ngintip ya...?"
Kedua telinga pemuda albino itu langsung berdiri mendengar suara yang amat ia kenali, segera ia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan seorang pemuda berkebangsaan Italia—Utara—yang terus menyenandungkan vee dengan polosnya di samping Elizaveta dengan pandangan horor.
Hening.
"...FELICIANOOOOOOOO~!"
.
.
.
.
.
.
.
05.32 PM...
"Bro, yuk balik! Futsalnya udah kelar kan?" ajak Antonio sambil menenteng sport bag merah-kuningnya.
"Ayo lah, badan gue keringetan semua nih!" sahut Faiq sambil mengelap lehernya dengan sehelai handuk kecil yang mengalungi lehernya.
Ya, mereka—para penghuni kost itu—baru saja selesai bermain futsal. Berterima kasihlah kepada Ludwig yang mengajak bermain futsal di sport club dekat kost, jadilah mereka bermain futsal dengan serunya dan memutuskan untuk pulang pada petang hari.
"Pengen mandi gue, lengket banget nih badan~" ujar Alfred sambil mengipasi badannya dengan bagian bawah jersey berwarna navy bluenya itu, membuat beberapa perempuan yang kebetulan berada di lapangan itu bercipika-cipiki dengan hebohnya begitu melihat tubuh hampir polos Alfred yang terlihat EKHEMseksiEKHEM.
Biasa, fangirls...
"Oi Den, elu masih lama gak beres-beresnya? Kita pengen balik nih!" tanya Lovino sambil menengok ke arah Raden yang berjongkok di depan sport bag merah-putihnya—yang bagaikan bendera negaranya dan siap dikerek—dalam rangka membereskan barang-barangnya.
"Bentar lagi, bro! Tanggung—" jawab Raden sambil sibuk membereskan barang-barangnya sebelum ia mematung, "—bentar deh, ini..." lanjutnya pelan sambil mengaduk-aduk isi tasnya, terlihat jelas wajahnya yang pucat serta aura ungu di sekeliling tubuhnya.
Pasti ada masalah...
"Elu kenapa, Den?" tanya Arthur yang sepertinya penasaran dengan raut wajah Raden yang mendadak memucat.
"Guys...pada liat handphone gue gak...?" tanya Raden sambil menunjukkan wajah pucatnya, "Handphone gue gak ada di tas nih..."
Tuh kan..
"Lho, bukannya tadi handphonenya dipegang Raden-san sendiri?" tanya Kiku yang mulai terbawa suasana, mulai panik.
"Demi Allah, handphone gue gak ada di tas!" jawab Raden yang mulai kebakaran jenggot gara-gara handphonenya yang raib tanpa penyebab.
Serentak, mereka tertular kebakaran jenggot.
Paniklah mereka semua, wahai saudara-saudara tercinta...
"Mein gott, Den... Sini gue cariin!" seru Gilbert sambil ikut berjongkok dekat tas Raden yang sibuk mencari handphonenya.
"Tuh kan, gue bilang juga apa, handphone jangan ditaruh sembarangan..." ujar Ludwig sambil berjongkok di dekat kakaknya.
"Selow, Den.. Selow aja nyarinya, jangan pake mulut!" ujar Williem sambil berjongkok di dekat Raden yang kini makin panik saja.
—wahai Williem Van Heutsz, seandainya dikau tahu betapa downnya Raden saat mengetahui handphonenya raib...
"Slebor banget sih lu!" gerutu Faiq yang mulai kesal karena niatnya untuk pulang tertunda, padahal dalam hatinya sudah berkoar-koar memekikkan "GUEE PENGEN MANDEEEEE~!"
"Mon ami, mendingnya kita misscall handphonenya Raden aja. Siapa tau aja ketemu.." ujar Francis tenang sambil bertolak pinggang.
"Oh iya tuh, ya udah Ncis! Gue pinjem handphone lu!" seru Vash sambil mengadahkan tangannya kepada Francis.
"Tapi gue gak bawa handphone..." jawab Francis polos, "Pake handphone lu aja, Vash.."
"Ogah! Ntar pulsa gue abis!" sahut Vash setengah berseru, "Noh, Williem aja tuh!"
"Handphone gue lowbatt, pe'a!" sahut Williem.
"Ah, gak awesome luh! Gue bisa aja misscall tapi handphone gue lagi lowbatt begini." timpal Gilbert sambil terus membantu Raden mencari handphonenya.
"Sama aja, dudul!" celetuk Alfred, "Eh coba pake handphonenya Feli!" serunya sembari berjongkok.
"Vee~ Aku gak bawa handphone..." timpal Feliciano polos.
"Sama, gue juga gak bawa handphone." lanjut Lovino.
"Aish, semprul lu berdua!" gerutu Arthur.
"Emang elu bawa handphone, apa?!" tanya Francis setengah berseru.
"Kagak." jawab Arthur datar.
Plok...
High heels mana high heels?!
"Elu yang lebih semprul!" pekik Francis dan Alfred berbarengan di depan Arthur.
"Coba pakai handphonenya Alfred-san..." usul Kiku.
"B**ch please, gue juga gak bawa handphone, dipegang sama Mattie..." timpal Alfred sambil memasang ekspresi a la Yao Ming.
"Harapan kita cuma Antonio, Ludwig, sama Kiku..." ujar Faiq sambil menghela napas.
"Bagus banget lu Iq, ceritanya lagi gak mau jadi sukarelawan, hah?" tanya Raden setengah menyindir.
"Diem luh!"
"Gue sih bawa handphone, gak lowbatt sih emang cuma..." ujar Antonio sambil memperhatikan layar handphonenya.
"Cuma apa, idiota spagna?!" tanya Lovino sedikit ketus.
"Pulsanya tinggal lima ratus perak.." jawab Antonio bernada sedikit frustasi.
—mohon ditambahkan aura suram keunguan di sekitar tubuhnya—
"Ya elah, lima ratus perak ini. Bisa lah misscall doang..." timpal Faiq santai.
"Heh dongo, lima ratus perak mana bisa buat nelpon! Buat SMSan baru bisa!" celetuk Williem setengah mengejek, "Lud, coba pake handphone lu.."
"Nih handphonenya!" kata Ludwig sambil menyerahkan handphonenya kepada Williem yang langsung menghubungi handphone Raden. Bukannya mendapat konfirmasi dari handphone Raden, tapi malah...
"Maaf, sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan pangg—"
Tut.
"Anjrit, pulsanya abis!" seru Williem sedikit menggerutu sambil menyerahkan handphone Ludwig ke si empunya.
Oh tidak...
"Mein gott! Gue baru inget, pulsanya tadi tinggal dua ratus perak!" seru Ludwig sambil menepuk keningnya.
Ternyata keadaannya lebih ngenes dari Antonio...
"Satu-satunya harapan kita cuma Kiku..." kata Vash, serentak beberapa tatapan mata tertuju ke arah Kiku yang memasang ekspresi pokerface.
Bingung dia rupanya...
"Kiku, pinjem handphone lu dong.."
Seakan dihipnotis, Kiku pun menyerahkan handphonenya kepada Vash yang langsung menghubungi handphone Raden.
"Vash, percuma elu misscall handphone gue... Handphonenya gue silent mode..." ujar Raden bernada frustasi.
Jiiiiiiiii...
Serentak Raden pun dihujani tatapan mematikan dari teman-temannya dan secara tak langsung membentuk sebuah kilat kecil antara Raden dan teman-temannya.
"KENAPA GAK BILANG DARI TADIIII~?!" teriak teman-temannya kompak—layaknya paduan suara dengan suara sember.
"Salah sendiri kenapa gak nanya duluan sama gue..." sahut Raden datar.
"PE'A! GUE KIRAIN HANDPHONE LU GAK ELU SILENT MODE, GOBLOK!" pekik Gilbert sembari menoyor kening Raden berkali-kali.
"Terpaksa kita cari secara manual deh..." ujar Antonio yang berkacak pinggang sembari menghela napas, sedangkan Raden hanya menganggukkan kepalanya sembari mengaduk-aduk sport bagnya, tiba-tiba ia membulatkan kedua mata hitam jatinya begitu melihat—
—sebuah handphone Android yang terbaring dengan tenangnya di sela-sela handuk dan tumbler hitamnya.
"Eh ketemu deng! Ternyata handphone gue nyelip, ehehehehe..." seru Raden senang sambil mengeluarkan Androidnya dari dalam tasnya—
—tanpa memedulikan serangan tatapan mematikan yang kembali menghujaninya.
"...Guys, kenapa elu natap gue kayak gitu...? Ada yang aneh dari gue?" tanya Raden polos yang tak menyadari bahwa—
TIGA...
DUA...
SATU...
HENING...
Raden... Run for your life...
"...FINISH HIIIIM~!"
"GYAAAAAAAAAAAAA~!"
—serbuan handuk kecil menghujaninya.
.
.
.
.
.
Yosh, To Be Continue!
I'M THE HERO~!
~Author Note~
...ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA CHAPTER 2 SERIAL—uhuk, serial—OUR LOVELY KOST-KOSTAN KELAR JUGA SODARA-SODARAAA~! *planking di jalan* /SeemsMauCariMati
Udah berapa lama daku telantarin nih fic?! Apakah anda-anda semua masih bisa bersabar sedikit menunggu fic ini? Maafkan daku kalo anda tak bisa bersabar, silakan serbu daku dengan doujin, asalkan doujinnya doujin USUK ya... /plak /maunya
Gak nyangka daku pas tau chapter perdana OLK2—singkatan "Our Lovely Kost-kostan"—banjir review. Rata-rata reviewnya menjurus ke bagian Anak Kost dan Kecoa lho—dan sukses bikin daku ngakak, makasih yak! Apakah anda merasa miris melihat se-batalyon kecoa nan HUWEKimutHUWEK disiksa belasan penghuni kost NISTA ini? /SalahPertanyaan
Sekalian mau ngasih info, daku gak bakalan bisa update fic ini—dan fic-fic daku yang lainnya—cepet-cepet. Welp, berhubung daku udah SMA—dan apesnya daku justru masuk ke kelas X jurusan IPA!—dan gak bisa nyantai lagi, daku bakalan gak ada waktu buat nulis, tapi insya Allah fic-fic daku bakal diupdate sebisa mungkin, okay?
Oke, saatnya sesi BALAS REVIEW~!
Aline Azure : Walah, itu daku malah nggak nyadar bule-bule NISTA itu jago bahasa Betawi. Beneran, daku gak nyadar! *headwall* Iya lho, daku juga mikirinnya gitu! Malah daku mikir ada yang cuma pake celana pendek lho! Atau mungkin juga Vash ngambil jurusan Fisika Dasar makanya suka stress pas tau ada kuis, ehehe...
Silan Haye : Alhamdulillah, daku seneng baca reaksi anda, itu seriusan sampe keselek lidah sendiri? Daku gak jampi-jampi fic ini lho, seriusan.. /dor Makasih buat koreksinya, oh iya kalo misalnya ada kesalahan di chapter ini bisa bantu daku koreksi lagi? /TaratakDungCess
Victoria Harrow : Syukurlah anda gak ngakak sengakak-ngakaknya di saat terjepit itu. Beneran tuh, apa ada adegan nyanyi-nyanyi lagu Gangnam Style sama Syukur sambil bisik-bisik? /no Makasih buat koreksinya dan selamat, request anda telah dipenuhi di chapter ini. Hati-hati ya, jangan mikirin yang enggak-enggak pas baca cerita itu...
Flamer Sopan : Maaf, daku gak bisa update cepet-cepet berhubung kesibukan real life daku. Tapi gak pa-pa kan kalo baru update sekarang? Daku rekomendasikan jangan baca fic ini sambil ngakak di depan adik anda, daku juga sempet dicurigai kewarasan daku sama adik-adik daku waktu ngerjain fic ini. /kasihan
Strawberry'lawllipop : Dan sekarang daku jadi anak SMA, tinggal nunggu 3 tahun lagi jadi mahasiswa padahal badan kuntet begini... /KenapaEnteMalahCurhat Dan daku kasian plus respect sama pemilik kostnya—baca : Elizaveta—yang rela ngurusin penghuni kostnya yang super nista. Aslinya Faiq terpaksa itu, saking berisiknya sohib-sohibnya itu ia terpaksa beliin lotion anti nyamuk buat mereka.
Yuakani : Mau daku beliin T*y P*n S*n, neng? /jangan Dan inget, daku gak nambahin obat pusing ke fic ini lho! /plak Ini daku not sure nih nambahin shounen-ai—shounen-ai sama yaoi beda lho neng—di fic ini berhubung fic ini full of humor and parody, tapi daku usahain masukin shounen-ai ya!
Wortel Hitam : Tenang aja gan, udah daku sampaikan ke keluarganya, dan akibatnya daku diserbu kecoa sehari setelah publishnya fic ini! Ya Allah, kena karma apa daku ini...? *headwall* Oke sip, ficnya udah daku update ya! Silakan dibaca~
Futaku4ever : Daku bukan wancaker gan, daku cuma pengunjung setianya 1Cak. Aslinya sih ada rencana buat bikin akun di sana, semoga bisa kewujud deh! Makasih atas belasungkawanya, daku jadi kasian sama keluarga kecoanya. Nanti kita datang ke tahlilannya ya! /gak
I am Kampret : APA SALAH DAKU~?! DAKU GAK MENGHAMILIMU NAAAK~! /HellNo Katanya Abang Alfie, Muchi gak boleh dibawa pulang, nanti dia bisa galau sambil nyanyi lagu Satu Jam Saja lho~ /ApaIni Syukurlah anda ngakak sengakak-ngakaknya, untungnya kita gak diPHPin lagi seputar UN. Iya nih, kayaknya daku korban DKNN. Itu gak keren nak, tapi nyeremin ngeliat ratusan kecoa berkeliaran di jalan... *gloomy aura*
Kiroyin9 : Yoo, ketemu lagi kita! Seawesome Abang Gilbo kah bahasanya? /LaluKissbyeAbangGilboBertebaran Dan kalo anda bener-bener berada di sana mungkin anda bakal ngakak melulu melihat kegilaan mereka semua. Ini udah lanjut kok, tenang aja!
Fly21 : Oke, salahkan mereka yang nyangka kalo musang sama dengan kuntilanak. Konon, suaranya musang itu kayak orang nangis, makanya mereka ketakutan begitu pas denger suaranya. Daku sempet curiga mereka itu aslinya mau bunuh kecoa apa mau Perang Dunia 3 saking tingginya tingkat kesiagaan mereka. /salah
Bima-chan : Gile muke, anda ternyata suka sama fic ini! Cara-cara mereka bisa dipraktekin di rumah lho, gan! /JanganDiikuti Oke, fic ini udah terupdate dengan gokilnya, gan!
Noir-alvarez : Kyaaa~ Makasih banyaaaak~ Jangan-jangan anda penggemar DanKoNichi ya? Ini udah update neng, jadi otomatis gak bakal lumutan deh!
Shinku Tsuu-ki : Selamat, anda menjadi orang kedua yang meminta pertanggungjawaban daku. DAKU GAK JAMPI-JAMPI FIC INI, SERIUUUUSS~! Oke sip, makasih banyak atas fave dan follownyaa~!
D.N.A. Girlz : Eh, typo? Masa sih? /weleh Ini udah lanjut, qaqa~ /EwwAlay Oke sip, daku usahain penuhin promptnya ya. Daku kebanjiran deadline lho masalahnya~ /KayakOrangKantoranAjaLuh
Ngomong-ngomong, fic ini mulai garing gak nih? Kalo garing, maaf ya. Inilah contoh fic yang dikerjakan bukan pada waktunya... /SeemsGakNiat /dorr
Seperti di chapter sebelumnya, daku bakal jelasin asal muasal cerita-cerita nista ini. Cerita pertama itu adalah hasil request dari Victoria Harrow plus ide-ide nista daku, makanya keliatan banget pernistaannya ini. Dan cerita kedua, daku ambil idenya dari sebuah meme di 1Cak yang daku tambahin dengan ide-ide nista daku—lagi.
Akhir kata, silakan layangkan komentar/saran/kritik anda semua melalui review dan selamat menunggu chapter 3~
