Aomine mengenalnya.
Dia si pemintal berwajah datar. Dengan surai biru muda dan sepasang iris yang sama. Setiap malam, ia akan berada di sana. Berjaga di loteng dengan lampu neon menemani suara gesekan roda berjalan, serat benang terpisah yang dipilin menjadi satu, dan senandung halus dari bibir tipisnya. Anjing kecil Siberian husky mendengkur manis di dekat kaki sang pemintal, menghayati setiap alunan lullaby mesin pemutar roda, hingga akhirnya menemui alam mimpi. Menunggu detik jam sampai selimut tebal yang dibuatnya selesai untuk dingin yang entah kapan akan datang.
Aomine menyukainya.
Sang pemintal di malam hari.
.
.
.
"Kisah"
Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Story by : Suki Pie
.
.
.
Story 2 of 5
"Sang Pemintal"
.
"Untuk sang pemintal di depan roda putarnya bersama anjing kecilnya."
.
.
.
"Maaf menunggu lama, Aomine-kun."
Ini sudah kali yang kelima Aomine Daiki mengunjungi rumah kecil kediaman Kuroko Tetsuya di atas lereng bukit jauh dari kantor tempatnya bekerja. Jam shift-nya memang pagi dan tengah malam, untuk itu mengapa sang polisi akan datang di sore hari. Mengunjungi pemuda yang pernah ditemuinya beberapa hari yang lalu, sehingga akhirnya menjadi rutinitas kecil yang dilakukannya ketika Aomine mendapatkan waktu senggang.
Mengunjungi sang pemintal dengan anjing kecilnya.
"Tak perlu repot-repot, Tetsu," balas Aomine sambil nyengir. Mengambil cangkir berisi teh yang disajikan Kuroko untuknya, lalu menyesapnya pelan.
Kuroko tak berkata lagi dan duduk di atas kursi depan Aomine. Membiarkan Nigou—si anjing kecil—tertidur di atas pahanya dengan dengkuran pelan.
"Seperti biasa, Tetsu," Aomine terkekeh sejenak, "rumahmu selalu sepi. Tidak ada yang berkunjung?"
"Tak ada," surai biru itu menggeleng, "kecuali Aomine-kun, tentunya."
Aomine tertawa renyah. Menanggapi sikap polos pemuda di depannya yang terlewat datar. Namun apa yang dikatakan surai biru muda itu memang benar. Orang tak akan mau repot-repot mendaki lereng bukit yang jauh dari perkotaan. Tempat di mana Kuroko Tetsuya tinggal.
Sebenarnya Aomine sendiri pun mungkin tidak akan pernah menemukan rumah kecil yang sering kali dikunjunginya ini. Jika bukan karena kesalahannya dalam mengambil jalan ketika mengendarai mobil patroli, Aomine tidak akan bertemu dengan Kuroko.
Pertemuan pertama mereka mungkin tidak berkesan. Ketika tanpa sadar Aomine menginjak rem mobilnya secara mendadak begitu Nigou melintas cepat di depannya. Suara klakson berisik saat itu membuat sang pemilik rumah keluar, hingga tanpa sadar mereka saling berbincang satu sama lain di dalam rumah. Bahkan sampai lupa waktu ketika malam menjelang, Aomine pamit undur diri karena Kuroko pun sibuk akan pekerjaannya.
Setelah itu pertemuan kedua mereka terjadi karena Aomine yang datang dengan sengaja. Kali ini dengan alasan waktu senggangnya, beralasan bahwa Aomine mati kebosanan di kantor dan memilih mengunjungi Kuroko. Dan berakhir hingga malam menjelang, ketika Kuroko meintanya untuk pulang. Berulang terus hingga pertemuan ketiga.
Berlanjut pertemuan keempat, saat itu Kuroko mulai terbuka pada dirinya. Ia bercerita akan kehidupannya yang sepi namun tenang. Pemuda itu bilang bahwa keluarganya terpisah jauh, begitu pula dengan teman-temannya. Entah alasan apa yang membuat Kuroko ingin hidup seorang diri ditemani dengan anjing kecilnya. Hingga pada hari itu, Kuroko bercerita tentang pekerjaan kecilnya menjadi seorang pemintal. Membuat selimut dengan jari-jari kecilnya.
"Sudah menjelang malam Aomine-kun,"
Perkataan Kuroko menarik Aomine ke alam sadar. Ia mendongak, mendapati sang surai biru muda sudah berdiri dari tempatnya, membawa Nigou di pangkuan.
"Ah, iya, benar." Aomine mengangguk, sedikit kecewa ketika waktu berlalu dengan cepat. Diliriknya sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya, setelah itu mendengus pelan.
Pukul enam sore.
Ah, Aomine ingat. Malam adalah ketika Kuroko membenamkan diri dengan beribu-ribu benang dan roda berputarnya.
"Tidak bisakah aku tinggal di sini dulu sampai malam nanti?" iris biru itu berharap, mencari jawaban yang diinginkannya lewat refleksi Kuroko di matanya.
Kuroko tersenyum, lalu menggeleng.
.
.
"Ya, karena sang pemintal bekerja dalam bayang-bayang malam."
.
.
Hari berikutnya tak pernah berubah.
Sore ketika Aomine datang dan berbincang lama bersama Kuroko, hingga malam ketika Aomine pulang dan Kuroko kembali bekerja.
Pemuda surai biru muda itu tak pernah memberikannya izin untuk tinggal lebih lama. Bukannya tak sopan, hanya saja, terkadang Aomine bisa merasakan bahwa Kuroko sering memgusirnya ketika malam menjelang. Meski dengan cara sesopan apapun, rasanya Aomine tetap tak ingin meninggalkannya. Dan alasannya pun tetap sama, karena selimut yang dibuatnya belum selesai. Memang, sebanyak juga sebesar apa selimut yang dibuatnya?
Pernah suatu hari Aomine bertanya, tentang mengapa ia tak boleh berdiam lebih lama lagi hingga malam menjelang. Bahkan ia berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Jangankan melakukannya, memikirkannya pun Aomine tak pernah.
Dan jawaban Kuroko saat itu membuat irisnya membola.
"Pergi dan jangan pernah kembali lagi!"
Siapa yang tak terkejut ketika mendengarnya?
Kuroko marah. Telihat jelas dari gurat-gurat di sekitar leher dan lengannya. Mata bulat yang sebelumnya selalu terlihat datar berubah menjadi tajam kala itu. Aomine mengaku salah, meminta maaf, setelah itu pergi secepat mungkin.
Tapi ia tak benar-benar pergi.
Sebelum Aomine menatap rumah lereng bukit itu menjadi gelap karena semua lampu dimatikan tepat ketika malam semakin larut. Namun satu hal yang pasti—
—lampu lotengnya tetap menyala.
Menandakan Kuroko masih terjaga, baru setelah itu Aomine pergi dari tempatnya.
Ibunya pernah bercerita, dulu. Ketika Aomine kecil berumur delapan tahun dan penuh dengan rasa penasaran. Ketika ia terus bertanya tentang loteng rumahnya, tentang wanita yang bersembunyi di sana, juga tentang pemintal sebagai temannya, hingga akhirnya cerita itu menjadi dongeng pengantar tidur baginya.
Wanita itu bercerita tentang seorang gadis yang ditinggal mati kekasihnya, memendam kesedihan, dan berakhir meratapi semuanya di loteng rumahnya—rumah yang saat itu ditempati oleh Aomine dan Ibunya. Menghabiskan waktunya dengan memintal, berpikir bahwa kekasihnya di alam sana mungkin kedinginan, sakit, tak mendapat kehangatan, hingga gadis itu membuatkannya selimut.
Sayangnya selimut itu tak pernah selesai. Tak pernah ada. Karena si gadis tak memintal menggunakan benang, melainkan kesedihan dan putus asa yang digunakannya. Oleh air matanya, hingga merembet dari rambut, setiap tetes darahnya, dan habis oleh serat-serat kulitnya.
Gadis itu pemintal kegelapan.
Sebutan yang diucapkan Ibunya dulu sebagai akhir dari cerita.
Terkadang Aomine bergidik ngeri mendengarnya, namun di saat yang bersamaan terdengar konyol begitu ia beranjak dewasa. Aomine sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diterima secara teori dan logis di dunia ini.
Maka dari itu Aomine membulatkan niat. Ia akan mendatanginya. Ia akan mengucap maaf di depan Kuroko Tetsuya, dan berkata bahwa ia tak akan melakukannya sekali lagi. Namun anehnya, semuanya berjalan tanpa perkiraan Aomine.
Kali ini Kuroko membiarkan Aomine hingga malam menjelang. Bahkan pemuda kesepian itu sama sekali tidak merasa marah dan berkata sebaliknya bahwa ia menyesal saat itu. Tidak apa-apa, Aomine bisa memakluminya. Ia juga pihak bersalah di sini.
Kuroko mengajaknya ke loteng. Berkata ingin menunjukan hasil kerjanya selama ini. Selimut itu sudah selesai, katanya. Aomine bisa melihat binar kelegaan di sepasang biru langitnya.
Lalu Aomine melihatnya. Loteng itu tidak besar, bahkan bisa dibilang kecil. Dan alat pemintal itu ada di sana, tersimpan rapi di tengah-tengah loteng. Sendirian. Nyaris berdebu. Membuat langkah kakinya terus mendekat.
Ini pertama kalinya Aomine melihat alat pemintal tua seperti itu. Ada kisah dibaliknya ketika Aomine memandangnya. Ada kesedihan yang dirasakannya. Ada tragis yang dilihatnya.
"Disinilah aku bekerja, Aomine-kun."
Lantas Kuroko mengambil posisi duduk di atas kursi depan alat pemintal. Menggerakan satu tangan dan kakinya, juga Nigou yang tertidur pulas tak jauh dari sana. Namun begitu sadar dengan pemandangan di depannya, kening Aomine mengerut.
Tak ada sehelai benang pun di sana.
Aomine mengambil satu langkah ke belakang, ngeri. Roda alat pemintal itu terus beputar. Berputar. Dan berputar tiada henti. Ia berteriak, memohon untuk berhenti. Terlebih ketika alat pilin dan roda putarnya terus bergerak, melaju, dan menguarkan bau anyir. Pekat. Juga tembaga ditambah dengan semilir hangus, daging yang terbakar, dan gurih pahit di lidahnya.
Panas.
Aomine merasakan panas membakar seluruh tubuhnya.
Seiring dengan alat pemintal itu yang terus berputar.
Dan seringai lebar sang pemintal.
.
.
.
.
"Aomine-san! Aomine-san!"
Tubuhnya bergerak refleks hingga terbangun secara spontan. Posisi duduk tiba-tiba, tangan yang terjulur ke depan, napas terengah-engah, dan mata membelalak sempurna. Aomine merasakan tubuhnya basah karena keringat. Dan detak jantungnya sama sekali tak terkendali.
"Aomine-san, apa Anda baik-baik saja?"
Ia menoleh ke samping kanannya. Mendapati rekan kerja kepolisiannya berdiri tepat di sampingnya, menatapnya dengan pandangan cemas. Entah apa yang merasukinya, Aomine sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Ia tak bisa bersuara.
Lalu pandangannya mulai beralih, menatap keadaan sekitarnya. Aneh. Ada yang aneh dari tempatnya saat ini, bukankah seharusnya ia berada di rumah kecil itu? Di rumah sang pemintal dengan anjing kecilnya? Di rumah seseorang yang dipanggilnya Tetsu?
"Aomine-san, kenapa Anda bisa berada di sini? Bahkan sampai tertidur." pertanyaan sang rekan tidak dijawabnya. Aomine linglung. Aomine tidak mengerti.
"Rumahnya—"
"Rumah?" tanyanya sekali lagi, dengan kening berkerut. Menatap Aomine tak mengerti. Namun begitu matanya diedarkan pada sekelilingnya, ia mengerti. "Maksudmu rumah di atas lereng bukit ini?"
Aomine menatapnya tajam.
"Bukankah pernah terjadi kebakaran di rumah ini? Lima tahun yang lalu. Bahkan penghuni rumahnya pun tak ada yang terselamatkan dan ikut terbakar."
Lalu di sana, Aomine melihatnya.
Di antara puing-puing rumah yang sudah tak terbentuk. Di antara abu yang menyatu dengan tanah. Di antara rasa panas nyata yang dirasakannya. Di antara tragis dan tangis untuk lima tahun yang lalu.
Ia ada di sana.
Duduk di depan alat roda putarnya. Dengan anjing kecil meringkuk di dekat kakinya.
Hitam. Tak berbentuk. Abu.
—ia sang pemintal kegelapan.
Kisah 2, Sang Pemintal : Selesai
A/N : Special Thank's for : Nozomi Rizuki 1414, setmefreeeeeee, kacang metal, opitopi, hidayati rochmah 5, Ryouta Kyou, BlueBubbleBoom, Alenta93, Yuzuru Nao, dan Ukkychan. Terima kasih atas reviewnya~~
Halo, selamat malam. Sekarang kamis, malam jum'at, jadi Suki update menggantikan Urban Legend. Well, satu yang Suki tekankan, kayaknya cerita di sini gak akan sama konsepnya seperti urban legend (entah apa konsepnya itu). Entah apa konsepnya ini, Suki juga gak tau :'D /dilindes/ Mungkin gara-gara novelnya Edgar Allan Poe (lagi) /apasih/ Terima kasih bagi yang sudah membaca chapter sebelumnya, untuk review fave dan follow-nya juga.
Sankyuu udah baca chapter ini~
Akhir kata,
Review please? *makan pie*
