Inilah chapter kedua dari seri perjalanan Nami mencari cinta sejati, atau bisa kubilang begitu….

Untuk kali ini akan kupanggil seseorang yang akan membacakan disclaimer. Tenang, bukan Luffy lagi. Tebak siapa. Apa? Zoro? Bukan! Nami? Bukan juga! Sanji? BUKAN! Tapi…….Ace!!!

Ace : Kau memanggilku?

Shoojo : Tentu saja. Sekarang ucapkan disclaimer untuk para pembaca sekalian.

Ace : Oke. Jadi, Shoojo ini tidak – groook……………

Shoojo : Hei hei hei! Kenapa kau malah tidur? Dasar sial! Baiklah, biar aku saja yang bilang.

Disclaimer : Aku tidak membuat OP, kau idiot!

Cerita sebelumnya :

Nami mulai mengakui bahwa dia ada perasaan suka dengan Sanji, dan Vivi serta Robin tahu akan hal itu. Mampukah Nami mengungkapkannya? Atau malah ada orang lain yang merebut hatinya secara total duluan sebelum Sanji bisa melakukannya?


xxxxxxxxxxxxx Pulau Baru xxxxxxxxxxxx

"Sudah berapa tangkapan yang kau dapat, Usopp?"

"Nih."

Sanji melirik ke ember tempat hasil tangkapan Usopp dan Chopper. Hasilnya? Cuma beberapa ikan kecil, itupun masih bisa dihitung dengan jari. Sanji menghela nafas. Memang susah mendapatkan ikan-ikan yang bisa dimakan di Grand Line. Jika ada yang bisa dimakan, itu adalah…

"Yohohoho. Halo Usopp, Chopper, Sanji. Kalian sedang apa?" tanya Brook tiba-tiba dari belakang, mengagetkan Usopp dan Chopper.

"GYAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!" *splash*

"Usopp, Chopper, kalian tidak apa-apa?" teriak Sanji, sementara itu Brook berteriak minta maaf kepada mereka berdua. Vivi dan Robin segera berlari ke arah Usopp dan Chopper jatuh. "Ada apa?" tanya mereka berdua.

"Usopp dan Chopper jatuh ke laut." jawab Sanji dengan nada kecemasan.

"Eehhh? Tapi Chopper 'kan tidak bisa berenang." Vivi berteriak dengan panik.

"Karena itu aku akan menyelamatkan mereka berdua." Sanji sudah bersiap untuk terjun ke laut ketika Brook menjerit.

"GYAAAA!!!! Li-li-lihat…"

Sanji melirik ke arah Brook menjerit. Seekor monster besar bertanduk muncul dari permukaan air. Monster ini memiliki muka seperti beruang namun dengan mata lebar, telinga panjang, serta mulut yang kecil. Di tanduk kanannya Usopp bergantungan, memegang Chopper di tangan kirinya.

"Sanji, toloooooonggg!" teriak Usopp.

Ya, di Grand Line kau hanya bisa memancing…

"Setidaknya mereka selamat." kata Robin, lega.

Luffy, yang habis memulihkan diri dari siksaan Sanji, bergegas menuju ke luar, mencari tahu apa yang terjadi. Namun begitu melihat monster laut, hanya ada satu pikiran yang ada di benaknya.

"Makanaaaaaaaaaaaannnnnn!!!"

Monster laut.

"Sanji! Cepat kita tangkap hewan itu–lho, mana Zoro? Bukankah dia seharusnya ikut membantu kita?" perintah Luffy, bingung dengan ketidakhadiran petarung miliknya.

"Dia sedang tidur." Sanji menunjuk arah tempat Zoro tidur. "Sudahlah, lupakan saja marimo sialan itu. Kita urus saja ini tanpa dia."

"Oke. Gomu-gomu no rocket!" Luffy terbang menuju tanduk kanan dari si monster. Dia berhasil mencapai tempat Usopp dan Chopper. Sayangnya, si monster merasa terganggu dengan kehadiran Luffy. Dia segera menggoyang-goyangkan kepalanya, beusaha agar menjatuhkan Luffy dari atas kepalanya.

"Aaaahhhhhhhh………" teriak Luffy dan Usopp bersamaan.

"Sialan, awas kau! Terima ini! GOMU-GOMU NO AXE!"

Luffy melakukan salah satu jurus terbaiknya, serangannya berhasil menghentikan gerakan monster untuk sementara waktu. Sayangnya, daya serangnya terlalu kecil untuk kepala monster yang besar. Dia menjadi tambah kesal. Amukannya tambah parah, kali ini dia tampaknya berusaha untuk melihat wajah penyerangnya, ingin membalas dendam. Amukannya membuat laut di sekitar bergejolak.

Thousand Sunny ikut bergoyang akibat ombak.

"KYAAAAA!!!" jerit Vivi, dia terjatuh ke lantai.

"BOCAH IDIOT, KENAPA KAU MALAH MEMBUATNYA TAMBAH MARAH?" teriak Sanji, berusaha memastikan Vivi dan Robin tidak apa-apa.

Zoro, sementara itu, masih tetap tertidur, atau tampaknya begitu. Dia tidak merasa terganggu dengan segala kejadian yang ada.

"Gomen. Sial, apa aku harus memakai Gear 3rd? Oh ya," dia melilitkan tangannya di sekeliling Usopp dan Chopper.

"Tunggu, Luffy, kau mau ap–" Usopp bertanya, namun terpotong setelah Luffy mejulurkan mereka berdua kembali ke kapal. "AAAAAAAAHHHHHHHHH….." teriak Usopp ketakutan.

---------- di kamar perempuan ----------

Nami terbangun karena ada suara ribut-ribut di luar. Dia membuka matanya, melihat kamarnya sedang kosong. 'Kemana Vivi? Ada apa di luar sana?' tanya Nami dalam hati. Dia bangkit berdiri dari tempat tidurnya. Dia melihat sarapan miliknya di atas meja, belum dimakan sama sekali. Sontak muka Nami memerah sedikit melihat hal itu. Ingatan apa yang terjadi tadi sebelum dia tidur membuatnya merasa seperti jelly yang kenyal.

"Kurasa aku lebih baik keluar dulu melihat apa yang terjadi. Aku khawatir kita kehilangan arah dan terjebak di perairan aneh lagi." gumam Nami kepada dirinya sendiri. Dia membuak pintu kamar dan keluar menuju halaman.

------------ di arena pertarungan ------------

"Oke, mereka sudah selamat. Baiklah, Gear 3rd!". "Hone fusen!" Luffy mengembungkan tulang di lengan kirinya, lalu memindahkan udaranya ke kaki kanannya, membuat kaki kanannya membesar beberapa kali lipat. Dia melancarkan serangan berikutnya. "Gomu-gomu no gigant axe!"

Serangan berikut berhasil melumpuhkan si monster. Badannya menjadi lemas, dia terjatuh menuju Thousand Sunny. Luffy, sementara itu, menjulurkan tangannya ke tiang utama kapal, berusaha agar tidak jatuh ke dalam air.

Sanji, yang melihat monster itu terjatuh ke arah mereka, lantas mengambil posisi menyerang.

"Diable jump!" Sanji berputar di tempat, membuat kaki kanannya membara. Dia berlari menghampiri monster laut. Sementara itu, Luffy bersiap melakukan serangan lagi dari belakang monster.

"Diable jump premier hache!"."Gomu-gomu no gigant pistol!" Monster tersebut langsung tewas seketika menerima dua serangan dashyat secara bersamaan di kepalanya. Sayangnya, salah satu tanduknya patah akibat serangan Luffy dari belakang. Tanduk itu melayang menuju ke arah kapal. Mereka semua berputar menuju arah tanduk tersebut, dan terkejut apa yang ada di sana.

"Nami-swan!!" teriak Sanji.

Nami menoleh ke asal suara. "San..ji?" dia terdiam ketika melihat sebuah tanduk besar sedang menuju arahnya. Dia tidak bisa bergerak, kakinya membeku. Sanji dan Vivi berusaha berlari ke arahnya, Robin mencoba menggunakan tangannya untuk menyingkirkan Nami. Namun terlambat. Benda itu sudah sangat dekat dengan Nami. Nami hanya bisa menjerit ketakutan. Dia menutup matanya, menunggu benda itu datang menimpanya dalam ketakutan…

"SLAB!"

Nami terkejut, karena apa yang ditunggunya tidak datang juga. Sebaliknya, justru ada seseorang yang berdiri di sampingnya, tangannya merangkul pinggangnya agar mereka lebih dekat. Nami membuka matanya, melihat siapa penyelamatnya. Sebuah pedang beralur lurus berkilau, terayun ke yang tadinya siap menyerang Nami tergeletak di samping, terbelah dua. Orang yang disampingnya, berambut hijau pendek, dengan pakaian T-shirt berkerah putih, haramaki hijau meliliti pinggangnya. Penyelamatnya itu berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan, dasar bodoh."

Zoro melepaskan genggamannya dari Nami, lalu berjalan kembali ke tempat semula untuk tidur. Nami masih tetap diam terpaku di tempatnya. Sanji berlari menghampiri Nami. "Daijoubu?" tanyanya dengan khawatir. Sementara itu Usopp dan Vivi sibuk menyelamatkan Luffy, yang sayangnya, jatuh ke laut.

"A…aku.." kondisi Nami yang masih sakit, ditambah fakta bahwa dia belum sarapan dan masih shock dengan kejadian barusan membuat pandangannya kabur. Dia langsung jatuh ke lantai, kepalanya pening sebelum dia benar-benar pingsan…


Nami membuka matanya perlahan, kepalanya masih pusing. Dia langsung menyadari bahwa dia berada di tempat tidurnya, selimut hangat menutupi badannya. Di sekelilingnya seluruh kru Mugiwara berkumpul, dan bersorak begitu mengetahui Nami telah sadar.

"Nami-swan!! Syu-syukurlah, kau baik-baik saja…" Sanji menangis dengan terharu, berputar-putar dengan gembira.

"Nami! Kau baik-baik saja?" tanya Luffy, nada kecemasan atas kondisi navigatornya tampak jelas.

"Tentu saja. Dia 'kan Nami." kata Usopp dengan ceria.

"Istirahatlah sejenak, Nami." pinta Chopper dengan nada penuh perhatian.

Nami hanya bisa menurut perkataan Chopper. Dia melihat sekeliling lagi. Hampir semuanya berkumpul, kecuali Zoro. 'Dimana dia?' tanya Nami keheranan.

"Oh, Zoro sedang latihan, seperti biasa." kata Robin seolah menjawab pertanyaan tak terkatakan di wajah Nami.

Nami hanya bisa menghela nafas dan menganggukan kepala. Rasa kecewa mendadak muncul di dalam dirinya.

"Yah, si marimo bodoh itu memang seorang pecundang." ejek Sanji. "Tunggulah Nami-swan. Akan kubuatkan makanan enak dan sehat untukmu."

"Nomong-ngomong soal makanan," Vivi mendekat ke Nami dan berpicara dengan pelan ketika Sanji keluar kamar, "kenapa kau tidak memakan sarapanmu? Tony bilang itulah yang membuatmu jatuh pingsan." katanya sambil mengarahkan sarapan Nami di atas meja yang sudah dingain.

"Er…" Nami bingung mau bilang apa ketika Brook memotong, "Yang penting dia baik-baik saja. Mau kumainkan musik penghibur jiwa?"

Chopper melirik ke arah Brook dan berkata, "Tidak, tidak. Nami lebih butuh ketenangan daripada musik saat ini. Lebih baik kita tinggalkan dia. Oh ya, itu obatmu, minum tiga kali sehari setelah makan. Harus dihabiskan." Chopper menunjuk bungkusan obat di atas lemari kecil di samping tempat tidur Nami bersama segelas air penuh. Mereka semua lalu keluar.

"Usopp, tolong bantu aku memperbaiki kerusakan di dek." gumam Franky ketika mereka di depan pintu. Usopp hanya bisa mendesah keberatan.

Semenit kemudian Sanji membawakan makanan untuk Nami. Setelah menghabiskan makanannya dan meminum obat, Nami akan mulai untuk tidur lagi ketika ada seseorang yang mengetuk pintu. "Masuk" teriak Nami.

Pintu terbuka, dan Zoro berjalan masuk.

"Hai." katanya pendek. Dia berjalan menghampiri Nami. Nami bertanya kepadanya, "Apa maumu datang ke sini?" Dia mencoba mengeluarkan ciri suara khasnya, namun dia tetap saja merasa senang karena kehadiran Zoro.

"Aku cuma datang menjengukmu. Tidak boleh, ya?" Zoro terlihat sangat tersinggung dengan tanggapan Nami. "Kalau kau memang tidak mengharapkan kehadiranku, lebih baik aku keluar saja." dia mulai berjalan menuju pintu.

"Tunggu!" teriak Nami dengan suara sekeras yang dia bisa. Zoro berhenti di depan pintu, tidak memalingkan muka dan berkata, "Apa lagi yang kau mau katakan?"

"Aku cuma ingin bertanya," Nami berkata dengan suara pelan, berharap Zoro masih bisa mendengarnya, "kenapa kau selalu menolongku? Kenapa kau selalu ada kalau aku dalam bahaya?"

Nami mendadak bingung dan malu dengan perkataan yang tidak sengaja keluar dari mulutnya. Zoro memalingkan mukanya ke Nami, tampak bingung dengan kelakuan Nami.

"Memangnya kenapa? Itu cuma kebetulan saja, kurasa…"

"Cuma kebetulan? CUMA KEBETULAN?" Nami tidak bisa menahan perkataan dan perasaannya kali ini, untuk alasan yang dia tidak ketahui. "Kau pertama datang menyelamatkanku ketika kita melawan Buggy, dari serangan Nyaaban bersaudara di Syrup Village, ketika kita bertemu pasangan Mr. 1, dan sebagainya, tapi kau menganggapnya hanya kebetulan?"

Zoro tambah merasa gelisah sekarang. 'Ada apa dengannya?' tanyanya dalam hati. Sementara itu muka Nami sekarang dipenuhi rasa sakit dan kekecewaan. Dia merasakan perasaan, yang entah kenapa, sama dengan saat dia bersama Sanji. 'Tidak, tidak,' Nami menggelengkan kepala, 'aku tidak mungkin….dengan dia….apa iya?'

"Gomen," bisik Nami kemudian, "aku hanya ingin tahu, sebab kau sering menyelamatkanku." Kesunyian muncul sesaat, sebelum Nami berkata lagi, "Apa kau menyelamatkanku…karena aku ini lemah?"

"Kira-kira begitu." Nami mendadak merasakan isi perutnya berputar tidak nyaman mendengar jawaban Zoro, "tapi sebenarnya karena kau adalah bagian dari kita. Teman. Nakama. Itu saja."

"Kau yakin hanya karena itu?" kata Nami. Mukanya tertunduk ke bawah, poninya menutupi sebagian wajahnya. Dia merasakan mukanya menjadi hangat dan memerah. "Kau yakin bukan karena uhm… lebih daripada sekedar teman?"

Muka Zoro mendadak sedikit memerah, dia memalingkan wajah ke samping, berharap Nami tidak melihatnya. "A-apa maksudmu dengan lebih?" katanya dengan terbata-bata.

Nami merasa tidak ada jalan mundur lagi. Apa dia harus melanjutkan? "Maksudku ehm..umm…yah, Zoro, apa kau – maksudku kita ini….sebenarnya…a..a-"

"Teman-teman! ADA PULAU BARU!!" teriak Luffy dari luar.

Zoro, yang lega ada yang bisa dijadikan pengalih perhatian, bergegas keluar dan berkata, "Yah, setidaknya kau baik-baik saja, itu sudah cukup. Semoga kau cepat sembuh." Lalu dia bergegas keluar menuju halaman.

Nami, sementara itu, sibuk bergulat dengan pikirannya. 'Ada apa dengan aku ini?' tanyanya. 'Kenapa aku merasa gugup sekali di depan dia?Kenapa aku serasa bukan seperti aku yang biasa? Dan yang paling penting, perasaan apa ini? Kenapa aku merasa dia sama seperti Sanji? Apa aku memang – ah, tidak, dia cuma pendekar pedang bodoh yang tidak tahu apa-apa soal perasaan. Dia tidak istimewa. Tidak…istimewa? Benarkah itu?Masa 'sih aku ini..terhadap dia…'

Suka?

"ARGH! Damn it!" teriak Nami, menutupi mukanya dengan selimut, mencoba tidur lagi.

xxxxxxxxxxx bersambung xxxxxxxxxxx


Wohoo…!!! Sampai sini, cerita sesungguhnya akan dimulai. Please review ya!

Dictionary :

gomen : maaf

daijoubu : kau baik-baik saja?

Cerita selanjutnya :

Di pulau baru, Luffy dan kawan-kawan bertemu dengan musuh yang kuat, yang menantang mereka untuk bertarung. Apakah Luffy dan yang lain mampu mengatasi mereka? Peristiwa besar akan menimpa Zoro. Apa itu? Yang jelas bukanlah hal yang baik…