9 I warn you, if you bore me, I shall take my revenge.
"Belgium! Kubilang aku sibuk tetapi kenapa kau datang juga!"

"Tapi kita sudah janji!"

Arthur hanya bisa memegang kepalanya. Menyuruh Emma pulang akan menjadi tantangan selanjutnya.

"Kau sudah janji! Tapi kau malah mengutamakan pekerjaanmu!" Emma menyilangkan tangannya.

Mereka berdua berada di dalam sebuah ruangan di gedung Parlemen. Ruangan itu adalah ruangan di mana Arthur bekerja dan dapat dengan mudah untuk dipanggil rapat juga tugas dengan Perdana Menteri. Emma datang menagih janji yang mereka sudah sepakati berminggu-minggu yang lalu.

"Oke maaf! Maaf sayang! Biarkan aku selesaikan ini terlebih dahulu! Barulah kita jalan-jalan!"

"Jangan berlama-lama kalau begitu!" seru Emma, tangannya masih disilangkan.

"Baiklah! Pukul lima! Aku pasti selesai dan menemuimu untuk minum teh!" Arthur lalu merekomendasikan Emma untuk menghabiskan waktunya sendirian sepanjang siang, lalu bila saatnya tiba dia harus menunggunya di sebuah kedai teh di distrik perbelanjaan.

"Baiklah kalau begitu!" Emma berjalan menuju pintu ruangan. "Jangan terlambat dan jangan lupa! Atau aku tidak akan memaafkanmu!"

Arthur menatap kekasihnya keluar sebelum melanjutkan pekerjaannya. Emma memang bukan wanita yang suka menagih dan marah-marah, tetapi sepertinya kali ini dia harus serius untuk tidak lupa dan terlambat.

Pukul 5.15 Arthur baru keluar dari gedung. Itu juga Perdana Menteri masih bersamanya. Dia tidak akan melepaskan Arthur sampai dia akhirnya tiba di mobilnya.

"Ingat Arthur! Kau harus mempertimbangkan ini! Atau kita akan dipermalukan dunia!"

Baru limabelas menit kemudian dia membawa mobilnya keluar dari lingkungan itu.

Dengan kemampuannya menyetir, Arthur sampai di kedai yang letaknya di daerah padat itu dalam waktu lima menit. Sebelum memasuki kedai dia menyempatkan membeli segenggam bunga Lili, dan juga merapihkan dirinya plus menambah wewangian.

Dia melihat Emma duduk di salah satu meja. Terlihat asyik membaca buku, sebuah kue montblanc juga sedang dinikmatinya.

Arthur berdo'a agar keadaan itu membuat Emma cukup santai sehingga tidak memarahinya. Dia pun mendekati meja yang letaknya agak di tengah-tengah ruangan itu.

Saat dia sampai, Emma seperti tidak menyadari kehadirannya. Maka dari itu dia mendehem.

Perhatian Emma teralihkan dari buku. Dia tersenyum, "Arthur!"

Arthur tersenyum kembali. Sepertinya Emma tidak keberatan akan keterlambatannya, maka dari itu dia tidak meminta maaf. "Aku bawakan kamu Lili!" dia menyodorkan bunganya.

"Terimakasih!" Emma menutup bukunya.

Arthur menaruh bunga itu di vas bunga di tengah meja.

"Lihat Arthur! Montblanc ini enak loh!"

Arthur melihat montblanc yang hampir habis itu. Dia sadar kalau itu mengindikasikan Emma sudah lama di situ.

"Aku tadi memesan teh! Ohh dan juga jus jeruk ini!"

Arthur menaikkan alisnya. Buat apa memesan dua kalau sudah punya teh yang sudah sangat cocok sekali dengan montblanc.

"Ja! Jus jeruk ini spesial untukmu!" Emma beranjak dari kursinya, lalu mengambil gelas berisi jus itu.

Arthur tak akan pernah menyangka apa yang terjadi berikutnya. Makanya di tampak tenang sekali. Sebelum akhirnya, dia disirami Emma dengan jus jeruk yang ohh masih sangat dingin.

Emma tersenyum, "Bagaimana? Enak tidak?" dia baru saja menyiram Arthur dengan jus jeruk dari atas kepalanya. Kini Arthur basah dengan jus, dari kepala hingga bajunya, ohh tidak, jas buatan Italia yang mahal itu.

Senyum Emma adalah senyum yang sangat puas. Pertama, dia sangat menanti-nanti berbuat itu pada seorang laki-laki -seperti yang biasa tonton di telenovela, kedua, rencananya berhasil untuk membuat Arthur malu tak keruan. Bagaimana tidak? Kedai itu dipenuhi orang yang ingin menghabiskan waktu minum teh mereka, dan dia sangat dengan sengaja memilih meja yang agak ditengah. Semua orang melihat adegan dramatis ini. Arthur sebagai pria malang yang disiram jus, malu bukan?

"Iya, sangat enak. Sangat dingin!" seru Arthur, dia sangat terlihat sedang menahan harga dirinya.

"Begitu juga menurutku!" Emma lalu menunjuk satu-satunya kursi yang kosong di meja itu.

Seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka melanjutkan acara minum teh mereka.