Rasa Ini
.
.
.
Bekasi, Juni 1945
Sakura menangis meratapi nasibnya. Seperti itulah Sakura, setelah dipaksa melayani kebiadapan para serdadu Nippon. Karena kecantikannyalah ia masih bisa di biarkan hidup. Tapi Sakura sebenarnya lebih berharap, ia langsung saja di bunuh sama seperti gadis malang lainnya setelah di perdaya.
Bercucuran air matanya. Ia seakan-akan berpijak di atas dunia yang tidak dikenalnya lagi. Hampa, kosong, serba kabur seperti di dalam mimpi.
Tak ada lagi orang, kepada siapa ia hendak memperlihatkan sesalnya yang begitu berat menekan jiwanya selama itu.
"Sakura" panggilan seorang gadis beriris aqua marine, berambut pirang. Namanya Ino, ia adalah gadis keturunan Belanda, sama seperti Sakura, karena ia juga di pandang cantik, sehingga ia masih hidup. Padahal, para nona-nona belanda lainnya, banyak yang berakhir di ujung katana para serdadu Nippon.
"Sakura" Ino memanggil lagi. Sakura hanya menoleh.
"Ini kesempatanmu untuk lari. Para manusia biadab itu, sedang rapat. Pergilah! Aku akan menunjukkan jalan"
"Tapi bagaimana dengannmu" suara Sakura masih serak.
Ino mengangguk menunjukkan kalau ia juga akan melarikan diri. Keduanya pun mulai menjalankan rencananya.
"Berhenti!" Sakura dan Ino yang sedang mengendap-endap disamping pagar, di kagetkan oleh suara bentakan. Keduanya menoleh seketika, orang yang membentak itu ternyata adalah penjaga.
Keduanya yang sudah berada di jalan keluar, sontak saja melarikan diri. Sementara penjaga, karena merasa yakin bisa menangkap yang kabur. Maka ia pun mengejar sendirian.
"Aduh!" Ino terantuk dan terjatuh.
"Ino" panggil Sakura berbalik dan hendak menolong Ino.
"Jangan Sakura. Larilah, selamatkan dirimu"
"Tapi…" Sakura menolak, ia tak ingin bebas sendirian tanpa sahabat yang selalu bersama dan selalu secara bergantian saling menghibur.
"Abaikan aku. Pergilah. Ingat! Kau masih mempunyai ayah. Ia pasti menunggumu" Ino mengingatkan Sakura. Ino pun terpaksa mengatasnamakan ayah Sakura, agar Sakura bisa meyakinkan diri mau pergi.
"AKan sia-sia jika kita berdua tertangkap. Lari!"
Sakura dengan berat hati memutar tubuh. Hatinya teriris meninggalkan sahabatnya itu.
"Selamatkan dirimu, saudaraku" gumam Ino sambil tersenyum. Ia tahu nasib yang akan menimpanya jika kembali tertangkap. Tapi ia bahagia, sahabatnya bisa selamat.
"Jangan sia-siakan hidupmu" Ino berteriak lagi. Entah di dengarkan Sakura atau tidak.
Sakura tanpa mengenal rasa lelah, ia terus berlari. Ia bahkan sudah bingung sejauh mana ia berlari. Yang pasti, selama kakinya masih bisa melangkah untuk berlari, maka ia lakukan.
Langkahnya kini malah ia seret-seret. Meski kelelahan, nampak keteguhan Sakura yang masih ingin berlari masih terasa. Kelamaan berlari memaksa Sakura kehabisan nafas. Dan pada berikutnya, ia terjatuh tak sadarkan diri.
Sakura bangun dengan tubuhnya yang terasa terguncang-guncang. Ternyata ia sudah di tolong oleh seseorang. Dan kini ia berada di dalam mobil.
"Di mana aku" tanyanya lirih.
"Kau sudah aman. Kau akan kami bawa ke tempat yang tepat" suara lembut seorang wanita terdengar. Sakura belum bisa memastikan rupa orang yang berbicara padanya karena ia masih setengah sadar.
September 1945
Usai menjadi pembawa bendera dalam baki ketika proklamasi di akan di kumandangkan. Sakura tidak larut dalam euforia kemerdekaan. Ia langsung meninggalkan halaman rumah sang proklamator. Kemerdekaan memberinya harapan baru. Ia teringat akan sahabatnya, dengan modal pengakuan kedaulatan Indonesia, ia akan meminta agar sahabatnya itu segera di bebaskan.
Sayangnya, ternyata kurang lebih tiga minggu sebelumnya, karena suasana mulai tidak kondusif, tekanan terhadap kekalahan militer jepang di berbagai pertempuran di tambah dengan kabar jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Memaksa para militer jepang di indonesia berpindah kantor.
Sakura akhirnya berhasil mengetahui kemana kantor Kenpetai , tempat ia dan sahabatnya di jadikan bahan hinaan oleh serdadu Nippon di pindahkan. Dan ia masih menyimpan asa, sahabatnya, Ino, di bawa serta oleh perwira jepang.
Sakura berlari menuju kantor Ken Petai. Selenting kabar kalau kantor yang sudah berpindah markas itu di serang oleh orang-orang pribumi yang bangkit semangatnya setelah proklamasi kemerdekaan. Orang pribumi juga makin geram mengingat perlakuan serdadu jepang sebelum proklamasi di kumandangkan. Dengan modal itu, Sakura juga berani untuk ikut menyelamatkan sahabatnya yang ia yakini di bawah serta oleh Jepang yang berpindah markas.
"Tidak! Ino…" jerit Sakura histeris. Bagaimana tidak, di depannya, sebuah kepala di pancang di salah satu halaman belakang. Kepala yang sudah tanpa badan itu sudah mulai mengering. Sakura nyaris pingsan, kepala itu adalah kepala sahabatnya.
Sempoyongan Sakura meninggalkan kantor Ken Peitai. Matanya kabur terpancang dalam muka yang pucat. Selopnya terseret-seret di atas tanah gedung yang seram itu. Tangan kirinya berpegang lemah menopang pada dinding atau pada apa saja yang ia bisa jadikan pegangan agar tetap bisa berdiri
Perempuan itu amat lemah dan lesu nampaknya, seolah-olah hanya seonggok daging layaknya yang diseret-seret di atas lantai.
Serdadu-serdadu dan opsir-opsir Kenpei Jepang berkerumun-kerumun di gang-gang dan di ruangan-ruangan yang akan di lalui. Semuanya kelihatannya sangat lesu juga. Serupa onggokan-onggokan daging juga yang tak berdaya apa-apa pula. Ada juga yang masih tertawa-tawa, tapi kecut dan terlihat dipaksakan, seakan-akan tidak mau dipandang sebagai onggokan daging yang tak berdaya. Akan tetapi terdengar tertawanya itu dibikin-bikin.
Dua minggu yang lalu mereka itu masih merasa dirinya singa yang suka makan daging. Kini telah menjadi daging yang hendak dimakan singa.
Belum seminggu yang lalu pemerintahnya telah menyerah kalah kepada kekuatan kaum Sekutu dan Rusia.
Mereka telah hancur kekuasaannya oleh tentara Sekutu dan Rusia. Di susul dengan proklamasi dan pengakuan kedaulatan yang di lakukan Indonesia, membuat bangsa mata sipit ini makin tak berdaya di negeri yang bukan negerinya.
Sejak saat itu pula, gerakan melucuti senjata pun banyak di lakukan di daerah yang membuat mereka semakin pesakitan. Pertempuran, kelelahan dan rasa terpukul atas kekalahan jepang membuat mereka semakin terpuruk. Dan yang lebih parah lagi bagi mereka, di antara para pejuang yang hendak melucuti senjata itu, seakan membawa dendam pula. Sehingga ada para pejuang yang melakukan pembantaian. Melawan sedikit saja, mereka benar-benar akan di cincang. Sekan menunjukkan pada serdadu Jepang, bahwa inilah balasan atas kekejaman mereka selama tiga tahun di Indonesia
Tapi kini, di hadapan Sakura, mereka juga pesakitan, yang bahkan tak lebih hebat dari dirinya. Ya, sic transit glofia mundi. Di dunia tiada yang tetap, tiada yang kekal, tiada yang abadi. Setelah kemenangan jepang di tahun 1942 sampai medio 1944, mereka menjadi angkuh. Bahkan dengan sombongnya mereka mengumandangkan gerakan 3A. dan sekarang keangkuhan mereka sudah seperti tulisan di atas pasir yang di sapuh oleh ombak. Lenyap.
Hidung terbenam dalam saputangannya yang basah..
Selop Sakura terseret-seret terus di atas lantai. Ia kini di apit oleh tiga orang berbadan jangkung berambut pirang, tidak berkata apa-apa.
Satu jam yang lalu,...tidak! Bahkan lima menit yang lalu masih ada api harapan bernyala dalam hati Sakura, sekalipun hanya berkedip-kedip kecil seperti lilin tengah malam yang sedang tercekik lambat-lambat oleh gelita. Ia masih berharap, Ino, Sahabat keturunan belandanya masih hidup. Sahabat, rekan senasib. Inolah yang selama ini memberinya kekuatan. Inolah yang sellalu menghiburnya jika ia merasakan sakit akibat penghinaan orang-orang Jepang.
Tapi harapan tinggallah harapan, sahabatnya itu, tewas dengan cara mengenaskan akibat kebiadaban serdadu Jepang. Ia tewas setelah di perdaya rame-rame, dan setelah puas, ia di penggal dan kepalanya di pancang, sebagai contoh bagi para pembangkang Jepang.
-SELAMAT HARI PAHLAWAN-
Tempat tinggal Sasuke memang berada tidak jauh dari perkebunan karet, ini di karenakan ia bekerja sebagai mandor di sana.
Sudah menjadi rutinitas Sasuke, setiap pagi-pagi sekali, ia harus berangkat ke perkebunan. Namun kali ini, karena lain dan satu hal ia harus masuk siang hari.
Sasuke menautkan alis, ia mendengar suara tawa keras. Bukan suara tawanya yang membuat ia penasaran. Tapi suara bentakan seperti penolakan dari seorang wanita di sela-sela derai tawa.
Sasuke berbelok arah menuju sumber suara tawa tadi.
Mata Sasuke membulat, ia malah makin menggeram. Di saat sekarang, di mana-mana Negara yang baru berdaulat dan sedang membangun, malah terdapat lagi orang-orang berkelakuan kasar dan seperti memanfaatkan keadaan yang masih pelik seperti sekarang ini.
Tidak jauh di depannya, seorang gadis di tarik-tarik dengan paksa. Dan yang membuat Sasuke terkesima. Gadis canti bersurai merah muda, gadis yang selama ini telah mengganggu hari-harinya.
"Lepaskan! Kurang ajar" teriak gadis itu.
"Hey.. ayolah… bukankah kau sudah biasa melakukan ini… kami juga ingin mencici…"
Phwak!
Belum selesai ucapan pria itu, sebuah tamparan keras telah mendarat di pipinya. Gadis itu menatap tajam pada pria yang baru saja di tamparnya.
"Kurang ajar!" geram pria itu. Ia sudah mulai mengangkat tangannya hendak membalas menampar.
"Jadi kalian adalah mucikari-mucikari rendah. Kalian ini menjilat pada siapa lagi" sebelum tamparan itu melayang dan mendarat di pipi Sakura, suara seorang pria dengan tenang menyela, sehingga tamparan itu tidak jadi mendarat.
Sontak orang-orang itu menoleh. Ternyata suara tadi adalah milik Sasuke.
Mata gadis cantik itu membulat. Pria yang pernah di jumpai itu, ternyata kembali berjumpa di sini.
Sasuke mendengus dengan tawa meremehkan.
"Tidak ku sangka. Ternyata perusak bangsa bukanlah para bangsa asing itu. Melainkan orang kita sendiri. Sungguh ironi memang" suara Sasuke mendesah.
"Jadi kau ingin jadi pahlawan" jawab salah seorang di antaranya sengit. Wajahnya kasar dengan wajah yang di hiasi cambang lebat. Ia juga tak kalah sengit dalam menanggapi ucapan Sasuke.
"Kalau menjadi pahlawan adalah menendang anjing buduk seperti kalian, maka tentu saja aku ingin"
"Kurang ajar!" pria yang di samping pria bercambang sangat kesal pada hinaan yang di lontarkan Sasuke.
Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun. Ia langsung bergerak mendahului si cambang dan menyerang Saske.
Wutt!
Pukulan tiba-tiba yang mengarah ke pelipis Sasuke, tidak lantas membuat Sasuke panik. Ia hanya memiringkan tubuhnya kebelakang sehingga pukulan pria berkumis jarang-jaran itu lewat. Tidak hanya itu, di saat bersamaan menarik kepalanya ke belakang, kakinya juga melayang ke perut lawan.
Duk!
"Ukh!"
Suara keluhan dari pria berkumis jarang-jarang. Tubuhnya malah membungkuk.
Sementara Sasuke, begitu berhasil mendaratkan tendangan kaki kanannya. Ia kembali menarik kakinya ke belakang dan menjejak.
Tapi aksi Sasuke tidak cukup sampai di situ. Ia memutar tubuh sambil melayangkan tendangannya tepat mengenai pipi si kumis jarang-jarang.
Buak!
Tubuh lawan Sasuke kali ini berputar dan akhirnya jatuh terjerembab.
Melihat rekannya sudah di jatuhkan dalam tempo yang begitu singkat, malah tida membuat si cambang belajar. Ia malah menerjang Sasuke, melompat sambil melayangkan pukulannya.
Sasuke memutar tubuh sedikit. Tidak hanya begitu. Tangan kirinya bergerak sangat cepat dan langsung menangkap sikut si cambang. Dan secara bersamaan pula. Lututnya di angkat, dan…
Buk!
"Ukh" si cambang juga mengeluh sama seperti rekannya.
Kali ini Sasuke berniat memberi pelajaran lebih pada si cambang, yang tidak mau belajar dari rekannya.
Duk! Dess! Duk!
Kaki kanan Sasuke menendang kedua paha bagian dalam si cambang secara beruntun dan bergantian. Hal inilah yang membuat lawan Sasuke tersebut berlutut. Namun Sasuke belum melepaskan pegangannya, Sasuke membetot lawannya sambil memutar tubuh. Dan saat itulah, Sasuke kembali melayangkan tendangan kerasnya mengenai punggung lawan.
Thoom!
Suara hantaman membuat lawan Sasuke juga kali ini tersungkur sama sepeerti lawan yang pertama.
Kedua pria kasar itu langsung ciut seketika. Mereka nampaknya sudah jera dan menunjukkan kalau mereka tidak ingin melawan.
"Ampuni kami!" teriak si kumis jarang. Ia masih merasakan sakit di punggung akibat hantaman Sasuke. Ia pun mennujukkan wajah meminta di ampuni.
"Pergi!" bentak Sasuke menunjukkan wajah yang begitu marah. Matanya menatap tajam pada pria yang sudah di jatuhkan.
Melihat amarah Sasuke, kedua pria itu bangkit. Dengan susah payah keduanya berdiri. Mereka sudah menunjukkkan tidak ingin melakukan perlawanan lagi.
Buak!
"Aduh!"
Sasuke yang masih kesal masih sempat melayangkan tendangan keras pada salah satunya. Tentu saja ia yang baru saja berdiri, kembali jatuh tersungkur dengan wajah yang terlebih dahulu mencium tanah.
Si cambang yang di tendang Sasuke, dengan cepat bangkit. Tidak di pedulikan rasa sakit akibat tendangan Sasuke barusan. Ia malah melanjutkan larinya dengan keadaan tertatih-tatih.
Sasuke menarik sudut bibir sambil memandang kepergian kedua pria berwajah kasar itu. Selanjutnya Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura.
Beradu tatap dengan Sakura, malah menimbulkan sesuatu yang beda. Iris mata emerald dan tatapan mata yang teduh dari gadis itu, memberikan ketenangan tersendiri bagi Sasuke.
"Te… terima kasih, Kang!" Sakura sontak menunjukkan wajahnya. Tatapan mata bak mata elang yang menunjukkan keteguhan itu, mengalahkan Sakura. Selain itu, tatapan mata itu seperti menembus jantungnya dan membuat jantungnya berdetak. Dan Sakura sendiri tidak tahu kenapa.
"Kang?" Sasuke menautkan alis mengulang sapaan dari gadis cantik yang menunduk malu-malu di depannya. "Kau dari tanah Pasundan?"
"I… iya, Kang" Sakura masih dengan suara terbata-bata, begitu juga dengan kepala yang masih di tundukkan.
Kepala yang tertunduk itu tidak bisa menyembunyikan semburat rona merah yang tampak di kedua belah pipi Sakura. Sasuke makin tersenyum, ia sangat terkesan dengan gadis yang tampak sopan di depannya ini.
"Gadis-gadis dari tanah Pasundan memang rata-rata cantik" Sasuke malah menggoda gadis di depannya dengan senyum di kulum.
"Eh!" makin meronalah Sakura mengetahui kalau pria di depannya itu menggodanya.
"Oh ya. Namaku Sasuke" Sasuke tak ingin menggoda gadis di depannya itu lama-lama. Meski ia ingin.
"Sa… Sakura" jawab Sakura menyambut uluran tangan Sasuke.
Dan kali ini bukan hanya jantung Sakura yang berdebar. Tapi tangannya juga sedikit gemetar.
"Ah!" mulut Sasuke terbuka, tangan gadis itu begitu halus. Bahkan sampai memberikan sensasi tersendiri bagi Sasuke. Sedikit kecewa Sasuke, karena gadis itu terlebih dahulu menarik tangannya perlahan, padahal ia masih ingin berlama-lama menggenggam tagan mulus yang di hiasi jemari lentik itu.
"Uhm… mari, kuantar pulang" Sasuke menawarkan jasa. Karena ia taka tahu harus memulai dari mana. Selain itu, ada sedikit rasa masih ingin bersama gadis itu.
"Tidak perlu, Kang Sasu. Rumahku tidak jauh. Tadi hanya ingin pulang tapi di cegat oleh orang jahat itu"
Nampak kalau Sasuke sedikit kecewa dengan penolakan Sakura.
"Tidak apa-apa, Sakura. Bisa saja mereka atau mungkin rekan mereka datang lagi. Mereka nampak tertarik padamu"
Sakura diam sesaat dan nampak mempertimbangkan.
Sakura mengangguk perlahan, "Terima kasih, Kang"
Betapa senang Sasuke. Setidaknya ia masih bisa memiliki waktu sedikit lebih lama dengan gadis itu.
"Silakan" Sasuke mempersilakan Sasuke agar Sakura melangkah duluan.
Selama dalam perjalanan. Meski suasana agak kikuk, keduanya tetap berusaha mengobrol dengan santai. Meski hati dalam, siapa yang tahu.
"Sudah sampai, Kang. Ini rumahku"
Sasuke menatap rumah yang tergolong sederhana. Meski ia tidak sering lewat di sekitar sini. Namun ia sudah beberapa kali lewat, tapi ia tak pernah menjumpai gadis itu jika lewat. Entahlah! Pikir Sasuke, toh mungkin gadis ini juga memiliki pekerjaan.
"Terima kasih, Kang"
"Oh… iya… sama-sama"
-SELAMAT HARI PAHLAWAN-
Jakarta, 15 September 1945
Sunda Kelapa yang biasanya selalu ramai dengan kesibukan, kini nampak sunyi. Para pedagang telah menutup kedainya sejak siang tadi. Sementara pedagang lain yang tinggal pun, sudah berkemas pula hendak pulang. Jalan-jalan terlihat lengang dan sunyi. Kalaupun ada yang lewat, hanya satu atau dua orang saja. Itu pun terlihat tergesa-gesa, seakan-akan dibayangi hantu. Menjelang senja, penduduk telah menutup pintu dan Jendela rapat-rapat, lalu menyuruh anak dan istrinya agar lekas-lekas masuk rumah. Padahal malam belum lagi datang. Namun sebuah desa di dekat Sunda Kelapa sudah seperti sebuah pekuburan, sunyi dan mencekam. Rasanya seperti desa mati! Kesunyian yang mencekam itu tiba-tiba saja dipecahkan oleh Jeep. Suaranya seolah-olah bergema ke seluruh penjuru. Bukan hanya itu. Suara sepatu boot prajurit pun tak mau ketinggalan. Langkah si pemakai seolah-olah sengaja di hentakkan agar ikut mengimbangi suara Jeep.
Keadaan ini malah memancing para penduduk untuk keluar dan melihat-lihat, ada apa gerangan. Namun semua seperti terpaku begitu saja di pinggir jalan, bahkan ada yang tegang dan nampak ketakutan. Bahkan sampai menahan napas, ketika rombongan tersebut lewat di depan mereka. Seakan-akan takut suara napasnya terdengar rombongan itu. Rombongan yang berjalan berjumlah ratusan orang itu, rata-rata bertubuh tinggi, berkulit putih dengan hidung mancung dengan kepala yang di hiasi rambut pirang.
Bagaimana penduduk tidak tegang, mereka adalah orang-orang asing. Trauma atas penjajahan, jelas masih berbekas dalam sanubari semua orang. Dalam hati, semua bertanya-tanya, apakah orang-orang asing ini akan kembali menduduki bumi pertiwi?
Diantara penduduk yang tegang itu, berdiri seorang pria tampan sedang menatap tajam pada seradu-serdadu barat itu.
"Perhatian!" tampak di mobil Jeep terdepan seorang pria berdiri meminta perhatian.
"Perkenalkan Kami adalah gabungan dari tentara inggeris dan Belanda"
Makin teganglah orang-orang yang berdiri dan berkerumun di sekitar jalanan itu. Nama Belanda makin meyakinkan hati penduduk bahwa Belanda akan kembali menduduki negara Indonesia.
"Kami datang kesini, karena tugas. Kami atas nama Sekutu yang bergabung dalam AFNEI atau Allied Forces Netherlands East Indies, datang kesini ingin membebaskan orang-orang kami yang di tawan oleh orang-orang Nippon. Melucuti senjata mereka dan memulangkan ke negeri mereka" ujar pria yang kini mulai berdiri. Di samping pria itu nampak seorang lagi, ia menunjukkan wibawanya sambil mengangguk-angguk.
Dilihat dari bahasa indonesianya yang fasih, dia adalah translator dan juru bicara.
Sasuke menautkan alis menatap para serdadu barat itu. Ia yakin, pasti akan ada lagi maksud di balik kedatangan pihak asing itu. Ia yakin para bangsa asing itu, tidak hanya datang untuk melucuti senjata dan membebaskan tawanan Jepang.
Sementara itu, sang juru bicara tadi, masih terus berbicara tentang tujuan kedatangan AFNEI. Dan masih banyak lagi maksud-maksud 'baik' di ucapkan oleh sang juru bicara.
SSS
Sejak pertemuan keduanya dengan Sakura, membuat Sasuke makin uring-uringan. Hari-harinya makin terganggu. Dan ia tahu kalau ia memang telah jatuh hati pada gadis itu. Jatuh hati yang tak terbendung lagi. Maka Sasuke memutuskan. Jika ia selesai dengan pekerjaannya, ia akan menjumpai gadis itu.
Tidak peduli, jika ia di tertawakan, karena ia mengutarakan perasaannya, pada hal, mereka baru bertemu dua kali. Itu pun pertemuan singkat.
Setiap kali ia berangkat atau pulang kerja, ia sengaja lewat di depan rumah tempat di mana ia pernah mengantar Sakura, berharap ia menjumpai gadis itu. Padahal, jalur itu membuat jarak ke kebun karet tempat Sasuke bekerja menjadi jauh, namun Sasuke tidak ambil pusing. Dan yang membuat bingung,setiap kali lewat, sosok pujaannya itu tidak ada.
Tapi satu lagi yang muncul di benak Sasuke, bagaimana jika gadis itu sudah ada yang memiliki. Sasuke menggeleng keras, ia hanya ingin mengutarakan maksud hatinya. Dan andai Sakura sudah ada yang memiliki, setidaknya ia sudah mencoba. Dan Sasuke sudah siap menanggung rasa kecewa.
Sasuke menautkan alis, saat ia juga sudah memberanikan diri mendatangi rumah, diamana ia pernah mengantar Sakura.
"Maaf tuan. Saya tidak memiliki anak gadis, apa lagi yang bernama Sakura. Bahkan mendengar namanya pun baru kali ini" begitulah ucapan sang pemilik rumah.
Sasuke melangkah dengan gontai, ternyata gadis itu, tidak tinggal di rumah itu. Sasuke merasa di bohongi. Namun hal itulah yang membuat Sasuke makin penasaran, kenapa gadis yang mengaku bernama Sakura itu berbohong.
-SELAMAT HARI PAHLAWAN-
Berbagai alasan Sasuke kemukakan pada Tuan Tanah agar mendapat Izin tidak masuk kerja. Ini di lakukan Sasuke karena ia benar-benar ingin menyampaikan perasaannya yang sudah tak tertahankan pada Sakura. Ia meminta izin dengan berbagai alasan, karena sebenarnya ia mencari Sakura. Ia yakin Sakura tidaklah berada jauh di sekitar itu. Namun meski begitu, kemana hendak ia mencari. Tempatnya itu tidaklah seluas pekarangan rumah, mudah menemukan orang yang di cari.
Sasuke masih menunduk lesuh sambil berjalan. Ia sudah kelelahan, sudah beberapa hari ia mencari gadis pujaannya namun tiada hasil.
Bruk!
"Aduh" suara seorang gadis mengeluh. Sasuke berjalan dengan sedikit pikiran kosong. Sampai tidak sadar kalau ia sudah menabrak seseorang.
"Maaf!" mata Sasuke membulat. Wanita yang ia tabrak dan kini sudah jatuh terduduk.
"Sakura"
"Kang Sasuke"
Keduanya malah tidak bergeming. Sasuke menatap sekeliling, ia menautkan alis. Ini adalah daerah pecinaan. Dan yang paling membuat Sasuke heran, ia bertabrakan dengan Sakura tepat di depan gerbang rumah bordil.
Sakura buru-buru bangkit dari tempatnya.
"Apa yang kau lakukan disini. Kenapa kau berbohong tentang tempatmu" ujar Sasuke beralih pada Sakura.
"Sakura. Kau masih disini" sebelum Sakura menjawab suara seorang wanita menyela. Sasuke pun menoleh. Wanita dengan rambut yang di gelung keatas dan bercepol.
"Sakura pelanggan sudah menunggumu"
"Pelanggan" desis Sasuke. Sedetik berikut ia menatap Sakura. Ada rasa seperti teriris. Jadi ternyata Sakura adalah wanita penjaja kenikmatan.
"Maaf tuan. Kalau tuan menginginkan Sakura. Tuan harus bersabar setelah melayani tamunya" berikut wanita bercepol itu menatap Sakura, "Cepatlah berangkat melayani komandan. Atau kau tahu akibatnya"
"I..iya… Nyonya Tenten" Sakura menundukkan kepala.
Sasuke bisa melihat tatapan sendu penuh luka. Kali ini perasaan Sasuke malah berganti kasihan.
"Tunggu Sakura"
"Maaf. Tuan harus bersabar. Sudah ada yang terlebih dahulu memesannya"
Hati Sasuke makin teriris. Segitu hinanyakah gadis pujaannya ini. Ia sudah menjadi laksana barang yang dengan mudah di pindah tangankan.
"Bukan seperti itu. Aku hanya meminta waktu sedikit. Ada yang ingin ku bicarakan"
Tenten menatap pada Sasuke. "Baiklah. tapi hanya sebentar. Setelah itu, ia harus bekerja" berikut tenten menatap pada Sakura, "Ingat, Sakura!" terdengar seperti nada mengancam.
Sasuke mengangguk. Melihat anggukan Sasuke, Tenten bergegas meninggalkan keduanya yang masih berdiri mematung.
Keduanya kembali saling tatap.
"Sakura.. kau.." suara Sasuke tertahan.
"Iya Kang!" suara Sakura meninggi. "Aku memang pelacur! Puas!"
Setitik cairan bening mengalir dari pelupuk mata Sakura. Ia berbalik hendak meninggalkan Sasuke.
"Kenapa?"
"Pergi!" Sakura sedikit membentak. Sasuke tahu di balik nadanya, Sakura begitu sakit bahkan hanya menyebut dirinya sebagai pelacur.
"Sakura" langkah Sasuke terhenti, "Sudah beberapa hari aku mencarimu"
"Untuk apa?" nada Sakura malah menurun bahkan terdengar serak. Ia berbalik dan menatap Sasuke.
Deg!
Jantung Sasuke serasa akan lepas. Sakura menangis.
"Aku sudah tidak tahan, aku ingin mengatakan ini padamu. Aku mencintaimu. Siapa pun kau"
Ucapan yang di rasa Sakura begitu tulus itu seperti makin menghempaskan perasaan Sakura. Rasa yang membuat ia makin rendah diri, karena ia merasa tidak pantas untuk seorang Sasuke.
"Maaf Kang. aku tidak bisa. Aku harus bekerja" Sakura berlari meninggalkan Sasuke dengan derai air mata. Ia sangat bahagia. Masih ada yang memiliki ketulusan seperti Sasuke. Selama ini para pria memandangnya sebagai mainan atas nafsu mereka. Tapi Sasuke tidak. Tapi disisi lain, Sakura makin merasa tidak pantas untuk pria, yang tidak ia bisa nafikkan kalau ia juga telah tertarik atau jatuh hati pada Sasuke.
Sasuke diam di tempat menatap Sakura yang tengah berlari. 'Tidak bisa' adalah kata penolakan.
Sasuke membantah kata 'Tidak bisa' adalah penolakan dari Sakura. Seharusnya Sakura berkata 'Tidak mau' kan?
Rumah bordil? Ia menatap rumah bordil yang di pimpin oleh Nyonya yang di panggil Tenten. Sekelumit pertanyaan di benak Sasuke. Wanita mana yang mau menyerahkan diri bekerja menjadi pelacur kalau bukan karena terpaksa. Sasuke seakan terdorong oleh keinginannya, ia tahu Sakura terpaksa. Ia ingin menyelamatkan Sakura. Tapi dengan cara apa? Apakah ia langsung saja masuk dan meminta Sakura.
Sasuke kembali melangkah penuh kecewa. Apakah ia harus menyerah karena Sakura adalah pelacur? Sasuke lagi-lagi menggeleng keras, ia mencintai gadis itu, siapapun dia.
Sekarang yang menjadi keinginan Sasuke adalah membawa Sakura dari rumah terkutuk itu. Apapun caranya.
SSS
Rumah mewah itu masih ramai dengan tawa membahana.
Sakura melangkah nampak ragu-ragu. Perjumpaannya kembali dengan Sasuke malah mengganggu pikirannya juga. Belum lagi kata cinta Sasuke.
"Wow! You look so beautiful. Siapa kamu punya nama" tanya seorang pria barat, matanya seperti menjilati sekujur tubuh Sakura. Bahasa indonesianya pun terbata-bata.
"Nama saya Sakura, Tuan!"
"Nama yang indah, like you"
"Nama saya Steven" suara seseorang datang menyelah. Jelas sekali kalau orang ini sudah lama tinggal di indonesia. Karena ia memiliki bahasa Indonesia yang cukup fasih. Atau ia memang telah mempelajari bahasa indonesia sebelum ke indonesia.
"Saya, David. Saya juru bicara sekaligus translator" pria sekitar 50 tahun itu ikut-ikutan memperkenalkan diri.
"Dan yang itu Daniel. Dia juara tinju. Dia siap-siap menuju kejuaraan tinju dunia. Sudah banyak tawaran dari promotor" Pria yang kelihatan masih muda yang di panggil Daniel itu cuma tersenyum.
Daniel berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju Sakura. Ia meraih tangan Sakura dan menciuminya. Sakura tentu saja merasa risih dengan perlakuan pria itu. Namun ia pun tidak bisa menolak.
"Come on, Follow me" pria bernama Daniel itu langsung menarik tangan Sakura menuju kamar.
Yang lain cuma cengo dengan perbuatan daniel.
Daniel dan Sakura keluar dari kamar. Sakura kini tampil rapi, beda dengan Daniel, ia muncul dalam keadaan masih bertelanjang dada.
"Oh my God. Her services… wooo… really satisfying. I never found the girl like her" ujar daniel sumringah sambil merangkul Sakura. Di wajahnya nampak kepuasan atas pelayanan Sakura.
Sakura hanya berusaha memberikan senyum manis pada para pria asing yang sepertinya menunggu giliran. Memikirkan itu, hati Sakura menjerit.
"Hey cuttie, would you mind to service to me next time?" ujar Daniel lagi.
"Wait" suara steven menyela, "Now, my turn"
"Don't" Daniel mengangkat tangannya, mengisyaratkan Steven agar tetap di tempat.
"Hey, Girl, please go home" imbuh sdaniel dan meraih tangan Sakura kemudian menciumnya.
Sakura malah kebingungan dengan ucapan Daniel. Ia menatap pada David yang mengaku sebagai translator.
"Dia ingin kau melayaninya lagi. Tapi untuk kali ini, ia ingin kau pulang" wajah Sakura terlihat lega. Dengan cepat ia mengangguk. Bahkan tak mau berlama-lama lagi, ia segera meninggalkan pria asing itu.
"Wait a moment, Sakura" Sakura berhenti saat Daniel memanggil namanya.
Daniel menarik kepala Sakura langsung saja melumat bibir mungil milik Sakura. Agak lama, sehingga Sakura seperti sudah kehabisan nafas.
Wajah Sakura kontan memerah, ia sangat malu, karena tiba-tiba saja ia di ciumi di depan orang lain.
Merasa tidak ada lagi, Sakura pergi meninggalkan pria asing itu dengan langkah cepat.
…
…
…
TO BE CONTINUED
.
.
.
Segini dulu sob! Sampai ketemu besok, Insya Allah di jam yang sama.
