Chouchou mengeram. Sial! ini tak bisa dibiarkan! Gebetanya Mitsuki, yang diakuinya secara sepihak, didepannya sedang dirangkul manja oleh seorang wanita genit dengan bedak berlebih.

Dasar Bitch!

"Mau apa kau?"

"Kau tidak lihat itu? Dasar kecentilan! mau jadi pelakor ya? raba-raba lapak orang!"

Sarada yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala,

"Lapak orang? Mitsuki punya siapa? Punyamu?"

"Calon"

Matanya kembali melirik ke arah prianya, Makin melotot! Sang wanita bergelayut manja dengan wajah tanpa dosa, sedang sang pria hanya tersenyum seperti biasa.

Dasar! Jadi cowok kok gapeka! Pelajaran boleh sempurna, tapi sosialnya nol besar.

"MITSUKI!!!"

saking gemesnya liat gebetan di grepe orang, tanpa sadar chouchou berteriak.

Sarada makin geleng kepala.

"Oh, Chouchou ada apa?"

Chouchou menghampiri mereka berdua, si gebetan dan pelakor,

"Mitsuki sedang apa? siapa dia?"

Si pelakor menatap sinis kedatangan Chouchou.

"Oh ini teman osisku, dia-"

Belum selesai perkataannya dipotong,

"Mitsuki aku pergi dulu, istirahatnya sudah hampir selesai, masalah anggaran dana kita bicarakan lewat chat saja, jaa ne"

Pengucapannya dilakukan dengan ekspresi semanis mungkin, sok manis kata Chouchou, berbanding terbalik ketika melewatinya,

"Dasar gendut tidak tahu diri,"

Chouchou menggigit bibirnya.

"Apa masalahmu jalang!"

Tidak, bukan dari Chouchou, melainkan sarada, ia tidak terima sahabatnya dihina.

"Sudahlah Sarada tidak apa, dia hanya iri karena dada kecilnya,"

Lihatlah Chouchou, siapa yang bitch disini :v

Sudah terlalu sering. Ya, sangat sering malah dirinya dihina karena berat badannya, sehingga sudah cukup tebal mukanya.

"Cih, memuakkan,"

Dua kata, dan si pelakor yang tidak diketahui namanya melenggang pergi dari hadapan mereka.

"Jadi ada apa?"

Atensinya kembali kepada pria yang menjadi akar permasalahan.

"Mitsuki nanti pulang bareng ya! sudah lama kita tidak pulang bersama."

Ekspresi sang pria tidak mudah ditebak, chouchou yang dasarnya tidak peka biasa-biasa saja, tapi beda dengan sarada, terlalu peka sampai sadar, meskipun senyuman masih tetap bersarang di wajahnya, namun sorot matanya menggambarkan suatu rasa risih dan jengkel.

"Mungkin lain kali, hari ini aku ada rapat osis"

Raut kekecewaan jelas terlihat di wajah chouchou, tidak dibuat-buat, juga tidak berusaha untuk ditutupi.

Chouchou dan Mitsuki sudah berteman dari kecil, mereka masuk TK yang sama sampai SMA yang sama, dulu Mitsuki sangat perhatian dengan Chouchou, namun semua terasa berbeda sejak mereka mulai masuk SMA, apakah Mitsuki malu punya sahabat sepertinya? atau ia merasa risih karena ia sadar bahwa Chouchou ternyata menyimpan rasa padanya.

"Baiklah tidak apa, aku akan pulang dengan Sarada saja, benar kan?"

"Ehm"

Sarada tersenyum, ia tahu kisah mereka berdua karena ia sudah menjadi teman Chouchou sejak sekolah dasar.

Chouchou wanita kuat, itu yang selalu ada dipikirannya, meskipun memiliki berat berlebih, tidak membuat dirinya merasa minder, dia malahan bangga dan menganggap bahwa itu adalah suatu kelebihan

"Aku bukan gendut, tapi sexy!"

itu katanya.

Bel berbunyi, mewajibkan mereka untuk berpisah, ya karena mereka berbeda kelas.

"Baiklah aku mau ke kelas dulu, sampai jumpa"

"Sampai jumpa Mitsu-chan!"

~~~

Mitsuki merupakan pemuda populer disekolahnya, banyak wanita yang tergila-gila padanya, selain tampan dia juga termasuk golongan pintar karena berhasil masuk ke dalam 10 peringkat teratas dalam satu sekolahnya.

Dulu dia bersahabat baik, sangat baik malah dengan Chouchou, namun semua berubah sejak ia mulai masuk bangku sekolah menengah atas. Karena terlalu dekat dengan Chouchou, semua orang sempat beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

"Pangeran Bulan yang jatuh kepada putri gajah"

Itu julukan mereka kepada mereka berdua, karena itulah, dengan alasan apa? malu? entahlah, yang pasti Mitsuki mulai menjauhi Chouchou, sedikit demi sedikit.

"Kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan namamu."

Sang guru memecah lamunan Mitsuki,

"Perkenalkan namaku Shinki, pindahan dari desa Suna, salam kenal."

Intonasinya kelewat datar, yang pasti Mitsuki tidak peduli, berbanding terbalik dengan kaum hawa yang menatapnya penuh damba.

Persiapkan dirimu untuk menyambut sang rival, Mitsu-chan.

~~~

Bel pulang telah berbunyi, helaan nafas terdengar dari beberapa siswa, yang lainnya bersorak, tidak peduli walau masih ada guru di depannya.

Chouchou membereskan buku serta alat tulisnya untuk bersiap pulang,

"Ayo Sarada sudah siap?"

Ia melirik sahabatnya yang sedang memainkan ponselnya, berbalas pesan dengan seseorang.

"Maaf Chouchou, sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu, aku baru saja mendapat kabar kalau klub sastra ada kumpul mendadak untuk membahas pengajuan proposal."

Sarada sangat merasa bersalah, ya tentu saja ia merasa bersalah.

"Okey! tidak apa, aku akan pulang sendiri, pastikan untuk tidak pulang terlalu malam, kau tau sarada, akhir-akhir ini sedang banyak terjadi tindak kriminal, jaga bokongmu tetap baik dan utuh!"

"Sialan kau!"

Meskipun begitu ia tersenyum lega,

"Anyway, aku pergi dulu, mata ashita"

Dengan begitu Chouchou pergi, menuju gerbang sambil sesekali bersenandung ria.

Sepanjang perjalanan di lorong sekolah, ia mendengarkan banyak wanita yang sedang berbincang tentang murid baru, istilah kerennya gosip yamg haqiqi.

Chouchou tidak ambil pusing dan terus melangkah, sampai di belokan menuju koridor tidak sengaja bahunya menyenggol bahu seseorang, tidak keras memang, tapi bukan Chouchou kalau cuma diam saja,

Setelah meneliti wajahnya, Chouchou merasa asing dengan pria tampan di depannya, karena Chouchou hafal semua pria tampan di sma nya.

"Mas murid baru disini ya? Masnya ini tampan juga, tapi maaf ya mas kalau mau modus jangan pake cara senggol senggol, terlalu kuno, kalau mau tau nama, tanya langsung aja, gaperlu malu-malu, kenalin aku Chouchou, wanita paling cantik dan sexy satu sma konoha" ucapnya sambil menyodorkan tangan.

Shinki, pria yang menjadi korban senggol wanita yang mengaku bernama Chouchou di depannya ini, memandang aneh, bingung mau menjawab apa,

Seketika ia ingat bahwa dirinya dipanggil ke Tata Usaha dan tidak tau dimana letaknya.

'Dibanding para wanita genit yang suka raba-raba di depan, lebih baik aku bertanya pada wanita aneh ini,' Ia menimang-nimang apa yang harus dilakulan.

"Apakah kau tau letak ruang Tata Usaha?"

Uluran tangannya diabaikan, membuat Chouchou merengut tidak suka,

"Mas, kalau ada orang ngajak kenalan, dibales dulu, baru tanya yang lain,"

Shinki memandang gadis didepannya keki, benar-benar gadis aneh!

"Namaku Shinki, dan apakah kau tau letak-?"

"Ya aku tau, ayo ikuti aku"

Chouchou memimpin langkah, sang pria hanya mengikuti, semakin keki karena ucapannya di potong,

Sepanjang perjalanan dari lobby ke tata usaha, mereka berbincang banyak hal,

Sebenarnya, Chouchou yang berperan sebagai pihak aktif, dan Shinki hanya menjadi pendengar pasif,

"Lihatlah putri gajah tidak tahu malu, menggoda semua pria tampan."

Terdengar bisik-bisik yang masih bisa terasa jelas, Chouchou sadar, tapi berusaha bersikap masa bodo, sedangkan Shinki ternyata juga cukup memperhatikan sekelilingnya.

"Kurasa mereka benci denganmu,"

Blak-blakan memang, tapi entah mengapa Chouchou tidak merasa tersinggung.

"Mereka hanya iri, karena dada mereka kalah besar."

Si pria semakin bingung dengan sikap manusia di depannya, benar-benar gadis aneh.

Tanpa sadar mereka telah sampai di depan ruang tata usaha.

"Yosha telah sampai," ucapnya sambil tersenyum,

Satu hal yang Shinki sadari, bahwa eskpresi gadis didepannya ini tidak pernah di buat-buat, murni apa adanya, senyumnya sangat lebar hingga kedua matanya menyipit.

"Terima Kasih sudah mau mengantarku,"

Tanpa sadar sang pria juga tersenyum.

"Hanya itu? tidak ada yang lain?"

Senyuman sang pria mendadak hilang dan mulai was-was.

"Kau mau bayaran apa? maaf saja aku tidak me-"

"Tidak-tidak aku hanya bercanda. Kau pikir aku wanita murahan yang suka dibayar? maaf saja ya"

Gadis di depannya memang bikin pusing.

Tidak ada respon dari Shinki, Chouchou hendak melangkah pergi,

Namun tiba-tiba tangannya dicekal,

"Terima Kasih sekali lagi,"

Tidak lebih hanya ingin mengatakan itu, sampai sebuah kebetulan kotoran jatuh ke rambut Chouchou,

Shinki hanya reflek membersihkan,

Tidak lebih,

Tapi sepertinya memberikan efek besar, baik bagi Shinki maupun Chouchou.

Serta sepasang mata yang tidak melepaslan atensinya dari dua orang sejak tadi mereka saling senggol di depan koridor,

Dan kurasa kalian sudah cukup tau, siapa pemilik sepasang mata tersebut,

Memangnya cerita ini akan menarik dari mananya?