UPDATE SETIAP HARI SABTU/MINGGU
5/5/18 & 18.21
All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto
This story does not make any profit.
OOC dan sedikit BL
"TERIKAT"
By Kohan44
Chapter I: Pesta dan Kutukan
Sakura bangun dengan sakit kepala luar biasa setengah jam sebelum alarmnya berdering. Persendiannya terasa linu, dan tulang-tulangnya terasa berderit seperti engsel roda kasur rumah sakit yang berkarat, rasanya nyeri. Tangannya merayap-rayap ke meja kecil di sebelah ranjang, mencari saklar lampu, tapi dijelajahi kemanapun, anehnya saklar itu seperti melarikan diri. Tidak pernah tergapai. Sakura mengerang, dan bermaksud merebahkan diri lebih lama, sampai alarmnya berdering, siapa tahu keadaan akan membaik, tapi belum lima menit berlalu, rasa sakit itu menyerang berubah menjadi panas, yang memaksanya turun ke dapur untuk segelas air putih.
"Ngghh…" erangannya lolos, terdengar serak selagi tubuhnya dihujam rangsangan sakit. Tulang punggungnya terasa ditusuk-tusuk, dan Sakura merutuk karena ini terasa seseorang tengah menghujamnya dengan jarum lewat boneka voodoo.
Tenang. Tenang. Bantinnya berbisik, sementara otaknya mengingat daftar hal yang perlu dikerjakan hari ini; kuliah, proyek presentasi, dan kelas tambahan karena Sakura ingin lebih maju dari teman-teman sekelasnya. Ada kuliah jam 10 nanti, dan Sakura harus sudah keluar rumah jam 9 supaya santai di jalan dan datang lebih awal. Jarak rumah Sakura dengan kampus hanya 10 menit jalan kaki, tapi siapa tahu apa yang mungkin terjadi dan menghambat perjalanan. Sakura juga ingin mampir ke perpustakan sebentar, sekedar mengecek apakah buku yang ingin dipinjamnya sejak seminggu lalu sekarang bisa dipinjam atau belum.
Tapi, pada hari itu, Sakura berangkat jam 7 pagi. Terburu-buru Sakura mengunci pintu rumah dan hanya sekali mengecek apakah pintu benar-benar terkunci. Biasanya, Sakura bakal mengunci ulang sampai tiga kali, sampai dia benar-benar yakin pintu tersebut terkunci. Sakura melangkah cepat entah mau kemana. Tubuhnya bergerak mengikuti insting yang mengalir. Sakura tak yakin betul apa riasan wajahnya rapi, atau apakah pakaian yang dikenakannya enak dipandang, karena Sakura putus asa dengan rasa sakit yang merengut.
Sakura menaiki bus. Badannya berkeringat, dan itu terlihat jelas dari keningnya yang basah. Nafasnya tersengal panas, dan kepalanya terasa amat berat. Mungkin Sakura demam, perlu ke dokter. Dia tak sadar beberapa pasang mata tengah memperhatikannya. Oh, Sakura mendesah dalam hati. Gara-gara buru-buru, Sakura lupa bawa sarung tangan, tapi persetan soal sarung tangan. Tubuhnya bergerak seolah seseorang mengendalikannya. Sakura memejamkan mata, mengatur nafas dan memusatkan pikiran. Barangkali rasa sakit ini hanya ilusi.
Hey.
Sakura tercekat oleh kejutan listrik. Kepalanya berputar ke kiri lalu ke kanan. Tidak ada orang di dekatnya. Seorang nenek duduk empat bangku dari Sakura, dekat pintu keluar, seorang pelajar berdiri di bagian belakang dua bangku dari Sakura dan sibuk dengan ponsel dan headset, lalu beberapa penumpang duduk acuh tak acuh di bagian belakang. Padahal baru saja terdengar seseorang memanggil, tapi tak seorang pun di dalam bus nampak sedang mencari perhatian Sakura. Sakura kembali membenarkan posisi duduknya, lalu menyembunyikan kedua tangan di dalam saku.
Di perhentian selanjutnya, Sakura turun untuk berganti angkutan, yang menuju kampus, arah sebaliknya dari bus yang baru saja ditumpanginya. Jangan tanya kenapa Sakura menaiki bus tadi. Kepalanya tidak bisa berpikir dengan baik. Kali ini pun, Sakura berdoa semoga dirinya cukup sadar untuk turun di halte yang benar. Untuk menghindari kesalahan, Sakura berpesan kepada Pak Sopir supaya diturunkan di halte kampus. Sakura hendak ke klinik kampus ketika tiba-tiba kakinya berjalan dari halte ke arah lain, berbelok menyusuri trotoar. Kepalanya tak menggambarkan hal yang jelas kemana tujuan akhir, tapi begitu tersadar, yaitu ketika kakinya berhenti, Sakura berada di hadapan seorang pemuda berjaket tebal yang terengah-engah menatap ke arahnya. Ini bulan Agustus, musim panas, buat apa pakai jaket tebal?
"Hai," sapanya kesusahan. Nampak peluh menetes di sudut dagu, seolah dia baru saja berlari berkilo-kilo meter mengenakan jaket musim dingin. Kacamatanya berembun dan membuat Sakura kesulitan mengenali wajahnya, tapi Sakura yakin wajah orang itu pucat.
"Hai," Sakura membalas dengan enteng. Suhu tubuhnya menurun drastis, dadanya terasa lega, nafasnya teratur, dan kepalanya kembali berfungsi seperti semula. Bahkan Sakura menyadari hari ini langit terlihat cerah. Tubuhnya terasa ringan. Aneh, pikirnya.
"Oh!" pemuda di hadapannya berseru. "Astaga, jadi kamu?! Kamu yang semalam kan?"
Sakura mengerut. "Aku?"
"Ya ampun, panasnya," kata pemuda itu sembari melepas jaket dan memperlihatkan kaos hitam basah oleh keringat. Kaos itu bertuliskan "I'M NOT HUMAN" dan bergambar kepala alien. Embun di kacamata pemuda itu menghilang, dan begitu pun pucatnya. Berangsur-angsur warna kulitnya berubah kuning kecoklatan.
Pemuda itu bergerak-gerak tak menentu dengan raut hendak menyampaikan sesuatu, tapi berakhir terbata karena kebingungan.
"Sasuke." Katanya akhirnya menyodorkan jabatan tangan.
"Ya?" Sakura menjejalkan kedua tangannya ke saku jaket, dan membuat pemuda di hadapannya tersenyum lucu sembari mengibas-ngibaskan tangan yang disapu angin.
"Kita terikat."
Sakura mengernyit. Tak mengulur waktu, Sakura langsung berbalik dan meninggalkan pemuda yang mencoba menggombalinya dengan trik murahan. Sekarang dia berkata kita terikat, mungkin beberapa jam kemudian dia akan berkata takdir memilih kita. Rayuan-rayuan receh mengatasnamakan ikatan hanya jatuh pada perempuan bodoh yang menderita karena kesepian. Sakura heran, kenapa masih ada perempuan yang terpikat oleh rayuan yang hanya mengandalkan insting, bagai hewan saja, dan membuat para lelaki itu makin buas mengumbar-umbar kalimat sampah. Paling-paling laki-laki itu hanya mau numpang menebar benih. Setelah berhasil, dia akan berkata, oh, sepertinya aku keliru. Kamu bisa merasakannya sendiri, kan? Pheromone kita tidak cocok.
Sakura memasuki gedung klinik, dan hari itu klinik sepi. Jadi, setelah mendaftar tanpa antri Sakura langsung masuk ke ruang dokter.
"Pagi," sapa dokter itu riang. Senyuman merekah dan matanya terbuka lebar. "Ada yang bisa kubantu?"
Sakura tak lekas menjawab. Dia sedikit terkejut kampusnya memiliki pekerja orang asing, terutama orang asing yang nampaknya berusia lebih dari 30 tahun dan mengepang rambutnya. Bahasa Jepangnya pun terdengar fasih. Sakura tak tahu soal ini, karena Sakura tidak pernah sakit yang sampai membuatnya merasa butuh menemui dokter. Ini pengalaman pertamanya.
"Ya." Sakura duduk di kursi di depan meja dokter.
"Jadi, kalian ikatan baru?"
Sakura merengut, "Maaf?" khawatir kalau ini hanya salah pendengarannya.
"Kalian baru saja membuat ikatan kan?"
"Tidak. Ini ketidaksengajaan."
Sakura terkesiap mendengar suara dari belakang punggungnya. Entah bagaimana dan sejak kapan pemuda yang ditemuinya tadi berdiri di belakangnya.
"Kamu?!" Sakura mendesis.
"Oh, ambil kursi di sebelah sana. Silakan duduk," kata dokter.
Kaki Sakura bergerak-gerak cemas. Dia menggigit kuku jempol sembari melirik pemuda yang kini duduk di sampingnya.
"Tenang. Tidak perlu gugup. Setiap orang memang begini di awal ikatan." Kata dokter.
"Nggak. Aku nggak membuat ikatan apapun." Kata Sakura menyela cepat. Dokter itu mengangkat sebelah alis seolah menyindir fakta yang sudah jelas adanya, oh begitu?
Dokter itu geleng-geleng. "Ada kecocokan pheromone, ada keinginan, ada maksud, ada ikatan."
Mendengar itu, Sakura merasa mulutnya disumpal oleh kata-katanya sendiri. Tentu, Sakura yang gemar membaca ini tahu banyak soal ikatan, termasuk fakta-fakta pheromone, dan diberitahu hal semacam itu membuatnya tidak senang. Itu terdengar seolah Sakura tak tahu-tahu apa, dan Sakura mengaum dalam hati begitu pikirannya melompat ke kejadian semalam. Dia telah merutuk orang-orang berpakaian lengan pendek, tapi malah dirinya yang terikat secara tidak sengaja dengan seseorang yang dari cara berdirinya saja terlalu asing buat Sakura. Sakura menduga kuat semua ini gara-gara sebelah tangannya yang tanpa sarung waktu itu. Bagus. Hebat. Benar-benar bodoh.
"Apa ada cara untuk membatalkan ikatan?" tanya Sakura langsung ke inti, meskipun lagi-lagi, Sakura tahu betul dokter itu akan menjawab apa. Sakura hanya benar-benar kesal atas kecerobohannya sendiri, dan merasa menjadi orang terbodoh setelah melontarkan pertanyaan ini.
"Hey, kamu nggak akan membicarakannya dahulu denganku?" sahut Sasuke cepat, dan Sakura tak menggubrisnya, tak pula meliriknya.
"Dia benar," Dokter Abbey mengangguk-angguk setuju. "Aku banyak menerima pasien seperti kalian, dan aku sangat tidak merekomendasikan kalian saling berjauhan di putaran pertama, kecuali kalian mampu mengendalikan ikatan dan hubungan spiritual satu sama lain, biasanya pasienku—"
Suara Dokter Abbey mengabur, hilang ditelan keheningan ketika ikatan mereka bergerak meniadakan kata, membangunkan rasa hangat, dan Sakura bisa mendengar suara-suara yang menggema di dalam kepala. Sakura memutar kepalanya, menonton Sasuke yang sedang serius mendengarkan penjelasan Dokter. Oh, Sakura mendesah dalam hati. Sakura pun bisa mendengar suara Dokter Abbey, tapi anehnya suara itu seperti gema yang memantul di dinding, dan ada suara lain yang saling bersahut-sahutan. Sakura tak yakin apa yang dikatakan suara itu, jumlahnya terlalu banyak. Suara itu berputar menyedotnya kemudian memuntahkannya di suatu tempat dimana Sasuke mengenakan seragam olahraga. Di kakinya menggelinding sebuah bola sepak. Dia tidak mengenakan kacamata, kurus, pendek, dan wajahnya terlihat kekanak-kanakan sekali. Kelihatannya dia masih SMP. Dia berteriak, menendang bola ke arah Sakura, lalu… bug! Hidung Sakura terasa tersengat. Matanya terpejam erat sampai nampak semut warna-warni. Di antara ribuan semut itu, yang sekarang lebih terlihat seperti layar tv kehilangan sinyal, perlahan sebuah foto keluarga muncul di sudut meja hias. Seorang bayi dalam pangkuan, dan seorang anak laki-laki duduk tak nyaman. Foto itu nampak dingin kendati membingkai tiga raut senyuman. Mungkin itu gara-gara es yang merayap membekukan kacanya dan menutup salah satu muka yang berdiri di belakang anak laki-laki, sang ayah. Sebuah teriakkan memekakkan telinga, dan satu gambar melesat menghentikannya, mengganti gambar dengan mainan bebek karet di tangan anak kecil dalam bak mandi, suara tawa anak-anak menggema lalu menghilang cepat tergantikan gambar Sasuke menginjak pedal mesin pembuat permen kapas. Sebuah gunting membagi dua gambar itu, dan Sakura meringis ketika kedua bilah pisaunya saling bertemu seakan merasakan tajam mata pisaunya di kulit. Tampak dari cela guntingan itu setumpuk gambar; balon udara warna warni di hari mendung, wajah-wajah riang para pemuda pendaki gunung, dan sebuah kamera usang yang tergeletak di kursi. Lalu sesuatu menghantam Sakura, mendorongnya keluar, melayang ke ruangan abu dan kosong. Hening sebelum sebuah detak terdengar jelas berirama, mengejutkan Sakura dan membuatnya mengerjap kembali menatap Dokter Abbey. Degdeg, irama itu masih terdengar. Kepalanya berputar menemukan Sasuke mengerut mendengarkan nasihat Dokter dengan seksama.
Ada sesuatu yang salah. Barangkali sekarang Sakura masih berbaring di kasur, demam, banjir keringat, dan… entahlah. Karena penglihatannya terasa aneh, bagai mikroskop yang mampu memperbesar sebuah objek, mengupasnya ke bagian dasar, hal paling kecil, seperti pori-pori di muka Sasuke. Ketika dada Sasuke membusung lalu menghembuskan nafas, bulu kuduk Sakura merinding, darahnya mendesir merasakan udara hangat menyapu kulitnya. Mustahil, pikir Sakura. Mereka duduk tidak berjauhan, tapi tentu nafas sependek itu tak akan sampai di kulit Sakura. Degdeg, dan detak itu, yang sekarang Sakura tahu itu adalah detak jantung, menghentak seakan bersarang di dada Sakura.
"Sebaiknya kalian isi formulir konsultasi ikatan," kata Dokter yang dengan satu hentakan cepat dan keras membangunkan Sakura, membuatnya terkesiap lalu tertegun merenung merasakan sensasi yang masih berbekas di hati. Matanya berlarian dari Sasuke ke Dokter Abbey dan sebaliknya. Kakinya bergerak-gerak menendang satu sama lain, memastikan kali ini dia berada di dunia nyata.
Aku kembali, batinnya berkata. Gila, kemudian merutuk. Yang barusan itu… mimpi atau fantasi di siang bolong? Ada perasaan gembira menari-nari di dada, bukan miliknya, dan bahkan perutnya bergerumul ketika melihat kenangan Sasuke tertawa. Sakura tak mengerti dengan bayangan yang bermunculan dan serangan perasaan yang bertubi-tubi. Apakah ini benar-benar dirasakannya atau… hanya imajinasi? Atau… ini yang mereka sebut… terkoneksi dalam ikatan.
"Kita… mendaftar kan?" kata Sasuke, menggubris lamunan Sakura, dan sekali lagi mereka bertukar tatap. Tak ada yang dipikirkan Sakura waktu itu, kecuali: "apa sekarang kami masih terkoneksi?"
Terkutuklah ikatan!
Hai!
Jangan lupa klik follow dan isi kotak review ya! ^^
