Disclaimer: karakter bukan kepunyaan penulis, hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita.
Warning: BXB, yaoi, mpreg (disini male-pregnancy itu adalah hal yang lazim), implisit smut, possible OOC, dan humor gagal, TYPOS.
Pairing: sulay, with some other pairings.
please take a note, kalau tidak suka, boleh di close kok ^^
.
.
.
Children?
No, Thanks.
»»––««
.
CHAPTER DUA
.
Joonmyeon menggeliat di tidurnya.
Kesadaran perlahan demi perlahan mulai menyergap dirinya, hingga perlahan demi perlahan pula ia bisa merasakan kecupan-kecupan ringan mendarat di dada dan abdomen bagian bawahnya, semakin turun dan turun ke bawah sana.
Kecupan ringan itu berubah menjadi sapuan lidah yang menari di atas permukaan kulit, membuat Joonmyeon mengerang ekstasi menikmati sensasi geli yang menyenangkan itu.
Joonmyeon perlahan membuka mata, ia tidak tampak terkejut saat ia menemukan Yixing sudah berada di atas tubuhnya, mendudukan diri di daerah pinggul Joonmyeon. Joonmyeon bersumpah sesuatu di bawah sana sudah ikut terangsang.
Kedua tangan Yixing berpindah, ia meletakannya di atas dada Joonmyeon yang tak tertutup sehelai benang pun, posisinya meringkuk dengan kepala tertunduk untuk memberi gigitan gigitan kecil di kulit Joonmyeon. Joonmyeon mengerang saat Yixing menemukan titik sensitifnya pada akhirnya,
"Apa yang—ahh— kau lakukan—nghh?"
Yixing memberikan kecupan lama di pinggulnya, sebelum kemudian menegakan tubuh. Cengiran lebar terpatri di bibirnya yang merah delima.
"Aku sedang sarapan," jawabnya enteng, diikuti oleh bibir bawahnya yang digigit seduktif.
Joonmyeon mengerang untuk alasan yang berbeda. Melihat Yixing yang sedang menggigit bibir itu sudah cukup menjadi turn on baginya. Ia membawa tubuhnya ke posisi duduk, satu tangannya ia istirahatkan di sisi pinggang Yixing, lalu satu tangannya yang lain merangkak ke bawah dagu lelaki China itu untuk menawan bibirnya.
Joonmyeon menutup mata dan memastikan diri untuk meraup banyak-banyak bibir adiktif itu dan memberikannya sedikit lumatan-lumatan kecil. Yixing memberikan respon tak kalah antusias, ia memiringkan kepala untuk mendapat lebih banyak kontak dengan bibir suaminya, membiarkn kedua benda itu beradu dalam candu.
Mereka menarik diri sebentar untuk menarik oksigen yang sayangnya menjadi kebutuhan mutlak bagi mereka, sebelum kembali menyatukannya.
Tangan Joonmyeon yang tadi menyangga dagunya kini berpindah ke belakang kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka, melesakkan lidah diantara gape yang mereka tak sengaja ciptakan. Suara kecipak air mengisi kesunyian kamar . Yixing tak bisa menahan lenguhan saat tangan Joonmyeon merambat ke bawah dan memberikan remasan tegas.
Joonmyeon menyeringai dalam hati mendengar desah lirih Yixing. Ia kembali berniat melesakan lidahnya ke dalam sana saat tiba-tiba Yixing mendorong bahunya kasar dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Belum sempat Joonmyeon bertanya ada apa, Yixing sudah berlari terbirit-birit menuju kamar mandi dan membanting pintu.
Samar-samar Joonmyeon bisa menangkap suara Yixing yang muntah muntah dari dalam. Joonmyeon mengernyitkan dahi.
Kenapa Yixing muntah-muntah? Apa karena Joonmyeon punya nafas naga ya?
Joonmyeon menghembuskan nafasnya ke telapak tangannya dan mengernyitkan hidung.
.
Ew.
Yah, memang sedikit bau nafas naga, tapi tidak separah itu kok.
Sumpah.
.
Suara pintu kamar mandi yang berkeriet membuat Joonmyeon mendongakan kepala, mendapati Yixing yang akhirnya muncul dari kamar mandi dengan kedua tangan mengenggam handuk untuk mengusap dagunya yang basah.
"Kau baik baik saja?"
"Ya, entah kenapa tadi aku merasa mual sekali," Yixing membalas dengan nada lemas, Joonmyeon menangkap wajahnya yang tampak lebih pucat dari biasanya.
"Kau masuk angin?"
"Tidak tahu," Ia mengangkat bahu tak acuh, "Mungkin kena angin malam," Yixing mengusak rambutnya lalu menyampirkan handuknya ke gantungan di dekat pintu, "Kemarin aku memang pulang lebih larut dari biasanya kan?"
"Makanya, kesehatan itu dijaga," Joonmyeon mencibir. Di seberang Yixing hanya memutar mata bosan, "Ya, ya, terserah katamu. Aku mau buat sarapan dulu,"
Bola mata Joonmyeon membulat melihat Yixing yang hendak membawa tubuhnya keluar kamar, "E-eh mau kemana?"
Yixing mendecak, kedua tangan tersampir di pinggang, "Ya ke dapur lah, mau buat sarapan. Masak ke kolam renang?"
"Terus aku gimana?" Joonmyeon merengut dari tempat tidur, kepalanya tertunduk, dan ia menggidikan dagu ke daerah pinggulnya yang tertutup selimut,
"Udah terlanjur bangun, Xing." rengeknya, memasang tampang puppy face.
Dari tempatnya berdiri, Yixing memutar mata, sekaligus mencoba menahan tawa melihat ekpresi mengenaskan suaminya. "Urus saja sendiri. Sana, di kamar mandi ada sabun sama tisu," Yixing mengibaskan tangan tak peduli.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, ia membuka pintu dan membawa tubuhnya keluar kamar, mengabaikan rengekan Joonmyeon yang makin keras.
Batal sudah dapat jatah.
»»––««
Sudah berjalan kurang lebih sebulanan ini Yixing sering mengeluh pusing dan mual, bahkan terkadang Joonmyeon sering mendapatinya menunduk di depan washtafel dan muntah-muntah. Lebih seringnya sih di pagi hari.
Joonmyeon jadi tidak tega, meski Yixing bilang dia baik-baik saja, tapi hanya dengan sekali lirik, orang-orang tentu akan mengatakan Yixing sedang tidak prima.
Dilihat dari wajahnya yang sedikit memucat, peluh yang membasahi sekitar dahinya, dan bahunya yang melemas. Joonmyeon sudah berkali-kali mewejanginya untuk istirahat di rumah dan ambil cuti saja, tapi Yixing menolak, bahkan orang-orang agensi yang khawatir dengan keadaannya pun tidak digubrisnya.
Dia kekeuh tidak ingin ambil cuti, alasannya karena ia merasa tidak enak meninggalkan proyeknya yang padat dengan grup baru agensi begitu saja.
Joonmyeon sudah menyerah menasihati Yixing yang memang kepala batu, susah sekali dibilangi.
Apalagi akhir-akhir ini Yixing jadi agak moody, suasana hatinya berubah-rubah tak tentu.
Terkadang dia baik hati, tidak sombong, rajin beribadah dan rajin menabung, tapi kemudian dia akan marah-marah dan mengomel tanpa sebab yang jelas, bahkan Joonmyeon pernah ditendang dari kamar karena Yixing bilang dia bosan melihat wajahnya.
Dafuq sekali.
Joonmyeon sebagai suami yang baik hanya bisa mengurut dada dan menggumam 'sabar sabar' saja, membiarkan Yixing dengan segala kebahagiannya.
Alasan lain adalah karena dia takut kena bogem Yixing.
Yixing itu walau tidak ahli material arts, tapi tonjokannya mantap jiwa.
Dan disinilah ia, berada di bawah lindungan atap rumahnya tercinta. Duduk menyandar di atas sofa dengan kedua kaki dalam posisi bersila, memangku sebuah mangkuk es krim cukup besar dan sebuah sendok metalic tergenggam di tangan kanan untuk menyiduk isinya. Tertawa terbahak-bahak dengan kedua mata terpatri pada tayangan televisi yang menampilkan drama komedi di depannya.
Karena terlalu keasyikan tertawa Joonmyeon sampai tak menyadari jika seseorang membuka pintu depan dan menyelipkan tubuhnya ke dalam di antara sela tawanya yang menggema. Joonmyeon baru menyadari kehadiran Yixing saat lelaki itu mendudukan diri di sampingnya dan meletakan tas duffel bag-nya asal ke atas karpet berbulu ruang tengah mereka.
Joonmyeon meletakan sendoknya yang sedari tadi ia gigit di sudut bibir ke dalam mangkuk es krim, kemudian menegakan tubuh. "Baru pulang?"
Kepala Yixing terangguk pelan. Ia lantas ikut menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk dan menghembuskan nafas panjang. "Maaf aku tidak mengabarimu kalau aku akan pulang telat." ujarnya dengan nada lemah, "Kau sudah makan malam?"
"Sudah kok," jawab Joonmyeon, sementara sepasang matanya masih terpaku pada layar kaca, "Aku tadi membuat ramyun untuk makan malam,"
Joonmyeon melirik Yixing lewat sudut matanya. "Bagaimana denganmu? Masih pusing?"
"Pusing sih tidak terlalu, hanya sedikit mual dan tubuhku terasa capek sekali," keluh Yixing, sedang Joonmyeon menjulurkan tangan untuk mengelus surai jelaga Yixing.
Ia menyapukan pandangan, menelurusuri Yixing dari atas ke bawah dengan ekspresi mengkritisi. Suaminya itu tampak lelah dengan kantung mata yang mulai nampak jelas menghiasi bawah matanya. Ia menarikan pandangan ke bawah, kening berkerut ketika matanya terjatuh pada sebuah objek asing yang tak pernah dilihatnya tergenggam di satu tangan Yixing,
"Yixing, itu ditanganmu apa?"
Yixing menunduk dan mengikuti arah pandang Joonmyeon, "Aku tidak tahu ini apa," jawab lelaki China itu. Ia membawa benda berbentuk stick ramping berwarna putih itu ke hadapan Joonmyeon dan menggoyang-goyangkannya, "Hyoyeon memberikanku benda ini saat aku bilang akhir-akhir ini aku sering muntah-muntah,"
Joonmyeon mengambil stick putih itu dari tangan Yixing, mengamatinya dengan seksama, "Apa benda ini bisa membuat mualmu hilang?"
"Aku tidak tahu, mungkin saja?" Yixing mengangkat bahu, "Tapi Hyoyeon bilang alat ini harus dipipisin dulu,"
Joonmyeon mengembalikan benda itu ke tangan Yixing cepat-cepat, bergidik.
"Ew."
»»––««
Mereka akhirnya tetap mengikuti instruksi Hyoyeon karena didorong oleh rasa penasaran. Siapa tahu benda itu memang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit aneh Yixing kan?
Kini Joonmyeon dan Yixing sama-sama berada di dalam kamar mandi, di depan cabinet beralas marmer.
Yixing menjulurkan tangan untuk menjumput benda berbentuk stick itu dari gelas sementara Joonmyeon memilih mengamati di sebelahnya. Yixing masih terdiam sembari membolak-balik stick di tangannya, Joonmyeon yang tak sabaran akhirnya bertanya, "Bagaimana?"
"Entahlah, disini hanya tertera dua garis merah,"
"Mungkin itu maksudnya kau sudah sembuh?"
Alis Yixing berkerut dalam, "Tapi aku masih merasa mual, tambah malah."
Joonmyeon menyandarkan punggung ke dinding kamar mandi, "Kenapa kau tidak googling saja?"
"Ah, tumben kamu ada gunanya, Joon," ujar Yixing sembari ia menepuk-nepuk bahu Joonmyeon dan berlari ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya.
Joonmyeon sweatdrop.
»»––««
"Jadi? Apa artinya?" tanya Joonmyeon begitu ia melangkah keluar dari kamar mandi dan mendekat ke arah Yixing yang hanya berdiri tak bergerak di depan sofa, ponsel di satu tangan sementara matanya tertuju penuh pada layar ponsel.
Joonmyeon mengangkat alis, ia beranjak mendekati Yixing dan menyentuh bahu lelaki itu, "Yixing kau tidak apa-apa?"
Kepala Yixing bergerak patah-patah ke arahnya, memandangnya tepat di mata. Namun ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak biasa memancar dari bola mata Yixing. Sinar matanya tampak kosong. Mau tidak mau, Joonmyeon jadi ikutan panik juga. Ia mengenggam kedua bahu Yixing dan menggoyang-goyangkan tubuh lemas itu,
"Xing? Ada apa? Apa dua garis itu tanda kalau sakitmu parah sekali? KALAU KAU SUDAH MENCAPAI STADIUM EMPAT DAN SUDAH TIDAK BISA DIOBATI LAGI? KALAU KAU CUMAN PUNYA WAKTU SEBENTAR LAGI SEBELUM KAU—MAFTYIFHHGH."
"Aku tidak sedang otewe mati, bodoh," ujar Yixing sementara telapak tangannya masih membekap mulut Joonmyeon, dan mendesahkan nafas berat, "Aku baru tahu kalau benda ini namanya test pack dan dua garis itu artinya positif."
"Povitfihhfuhng?"
Yixing melepas telapak tangannya dari aksinya membungkam mulut Joonmyeon, sehingga lelaki itu bisa bertanya dengan jelas, "Apa artinya positif?" tanyanya heran.
"Kata google, positif itu artinya aku hamil,"
Hening.
Hening.
Hening—
Kemudian Joonmyeon terbahak.
Sayangnya tidak seperti scene di cafe dua bulan yang lalu dimana Yixing juga ikut tebahak bersamanya. Yixing justru hanya menatap datar, dengan Joonmyeon yang masih tergelak di depannya, bahkan ia sudah membungkuk-bungkuk dengan satu tangan melingkari perut.
"Hahaha—astaga Xing, kurasa pendengaranku sudah mulai terganggu karena baru saja aku mendengarmu mengatakan kalau kau hamil—"
"Aku memang berkata begitu-"
"Lucu sekali-"
"Aku memang bilang aku hamil-"
"Jangan melawak hnghh—"
"Aku tidak sedang melawak, Joonmyeon."
Joonmyeon akhirnya berhenti tertawa, ia menegakan tubuh dan menatap Yixing lekat-lekat, yang balas menatapnya dengan ekspresi tenang.
"Tunggu, apa maksudmu kau hamil?"
"Maksudnya ada bayi di dalam perutku ini,"
"Yang itu aku juga tahu," Joonmyeon memutar bola matanya, "Maksudku, bagaimana bisa kau hamil?"
Yixing mendengus keras, "Tentu saja karena kau memasukan peni—"
"Maksudku bukan bagaimana caranya!" Joonmyeon menggerutu, "tapi bagaimana kau—bayi—i-itu—"
Semua kata-kata yang hendak ia utarakan seolah tertahan di tenggorokan. Joonmyeon menegak ludah,
"Ini serius? Ini bukan aprilmop kan?"
Yixing menghembuskan nafas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa, "Tentu saja, kau pikir aku bercanda?" Ia memijat pelipisnya dengan dua jari, "Dan lagipula ini bulan November, bukan April, Junmen."
Joonmyeon ikut mendudukan diri di samping Yixing, kepalanya diletakan di sandaran sofa, terdongak dengan leher tersangga oleh sandaran sofa
Mereka membiarkan keheningan melingkupi mereka selama beberapa saat, sampai kemudian Yixing memecahnya, bergumam diantara kesunyian ruang tengah.
"Ini semua salahmu yang tidak memakai kondom,"
Kepala Joonmyeon tertoleh cepat, ekspresi tidak terima. "Hei, jangan menyalahkanku. Kau juga tidak sabaran. Kau yang mengusulkan kita untuk melakukan sex di dalam mobil karena kau horny, ingat?"
"Eum..."
"Ingat?"
"...Tidak," Yixing menjawab tanpa rasa bersalah sama sekali.
Joonmyeon mendengus keras.
Pria korea itu lalu mengubah posisi duduknya, ia menjulurkan tangan perlahan-lahan untuk kemudian meletakannya dengan lembut di atas permukaan perut Yixing. "Benar ada bayi disini?" tanyanya penasaran, "Aku tidak merasakan apa-apa."
Kini gantian Yixing yang mendengus, "Itu karena bayinya masih sangat kecil, dasar bodoh."
"Tapi bisa saja testpack itu tidak valid kan?" Joonmyeon mencoba optimis, "Kita harus pergi ke dokter untuk memastikannya."
Yixing mengangguk pelan. "Kau benar, aku akan buat janji dengan dokter Choi—"
"Jangan dokter Choi,"
Yixing menekuk kening, "Kenapa jangan?"
Joonmyeon mengerucutkan bibir,
"Soalnya dokter Choi ganteng, nanti kau suka."
Yixing memutar mata, dan menggampar Joonmyeon dengan bantal sofa.
»»––««
Esoknya kedua laki-laki yang sama-sama lahir di tahun 1991 itu menemukan diri mereka duduk bersandingan di depan kursi tunggu di koridor bangsal maternitas Rumah Sakit Internasional Seoul.
Mereka sengaja mengambil cuti hari ini, dan sekarang mereka tengah menunggu antrian untuk dipanggil ke ruangan setelah membuat janji dengan seorang genealogist, Dr. Choi Siwon, kemarin malam.
Yixing benar-benar mengabaikan Joonmyeon yang merengek untuk tidak memilih Dokter Choi sebagai dokter mereka untuk memeriksa Yixing.
Bangsal maternitas memang relatif menjadi bangsal yang ramai di rumah sakit karena khusus menangani ibu hamil dan anak-anak. Dan hal itu menjadi kesempatan bagi Jonmyeon dan Yixing untuk menyapukan pandangan ke sekitar koridor, sesekali mengernyit tidak suka ketika mereka melihat beberapa anak menangis keras, sementara kedua orangtua mereka kelimpungan menenangkan anak-anak yang rewel dan tidak mau mau menurut.
Telinga mereka seakan ikut berdenging dengan suara melengking anak-anak dan bayi-bayi yang menangis. Mereka juga mengamati interaksi beberapa pasangan yang hendak check-up kehamilan di sebelah kanan dan kiri mereka berdua, tampak begitu bahagia.
Yixing dan Joonmyeon tak habis pikir, kenapa orang-orang bisa terlihat begitu bahagia karena akan memiliki anak? Padahal memiliki anak itu kan merepotkan, melelahkan, dan mengurangi waktumu untuk bersenang-senang.
Memiliki anak itu sama saja seperti berada di neraka.
Joonmyeon dan Yixing terlalu terlarut dengan kegiatan observasi mereka hingga tak menyadari dua wajah familiar mendekati tempat mereka duduk.
"Yixing? Joonmyeon?"
Kedua lelaki itu mendongak bersamaan, ekspresi terkejut terpancar dari air muka Yixing dan Joonmyeon.
"Hai Hunnie dan Lulu!"
Yixing menyapa hangat setelah ia dan Joonmyeon berdiri untuk menghambur kedua sahabat mereka, memberi pelukan erat setelahnya.
"Kalian kenapa bisa ada di bangsal maternitas?" Sehun akhirnya bertanya setelah pertanyaan basa-basi terlempar diantara mereka berempat.
"Kalian sendiri ngapain ada disini?" Yixing malah balik bertanya.
"Kami tadi baru saja bertemu dengan dokter kandungan," Luhan meluruhi.
"Luhan hamil lagi?" Joonmyeon menyahut, bola matanya tampak sedikit membulat. Yang benar saja, Sehun dan Luhan sudah memiliki tiga balita di rumah, dan sekarang mereka mau tambah lagi?
"Sayangnya tidak," Sehun dan Luhan berbarengan menjawab.
Luhan terdengar bahagia dunia akhirat, sedang Sehun diliputi oleh nada masam,
"Luhan sempat muntah-muntah soalnya, jadi aku pikir dia hamil lagi, ternyata cuma keracunan bubble tea."
Joonmyeon serta Yixing menyorot pasangan beda usia 4 tahun itu dengan tatapan 'dafuq'. Apapula itu, keracunan bubble tea?
Kedua lelaki di depannya tak ambil pusing, Luhan kembali mengambil alih, "Kalian belum menjawab pertanyaan kami," tuturnya sedikit tak terima, nadanya mendesak, "Kalian ngapain disini?"
Luhan melempar pasangan di depannya itu dengan tatapan menelisik, sampai kemudian matanya terfokus pada Yixing yang menarikan matanya kesana kemari, menolak bertukar tatap. "Jangan jangan kamu hamil ya Xing?"
"Tidak kok," Yixing menjawab dengan nada mantap, harap-harap cemas Luhan akan percaya.
Karena kalau sampai sahabat-sahabatnya tahu dia akhirnya hamil, dia bisa jadi bahan bully-an seumur hidup oleh mereka. Dia dan Joonmyeon yang selama ini mendeklarisikan diri membenci anak-anak, pada akhirnya bobol juga. Shit.
"Kalau bukan Yixing yang hamil, berarti..." Sehun melanjutkan, beralih memandang Joonmyeon.
Joonmyeon yang dipandangi begitu merasa tersinggung, "Aku bisa menonjokmu sekarang juga, Oh Sehun."
Sehun kicep.
"Ya sudah deh, kalau tidak mau bilang," Luhan mendecak dan menyisir poninya yang jatuh menutupi mata, "By the way Xing..."
"Ya?"
Luhan mengamati Yixing dari atas ke bawah,
"Kau...gendutan ya?"
Bukannya membela Yixing, Joonmyeon malah ikut-ikutan nyeletuk,
"Iya ya, Xing. Kau gendut ya, kok aku tidak sadar?"
»»––««
"Tuan Kim, apa matamu masih sakit?
"Tidak apa apa kok dok, tidak sesakit tadi. Hanya perih sedikit."
Joonmyeon mendesis lirih, sembari ia menempelkan kasa ke bagian mata kirinya yang mulai membiru. Tadi setelah berkata kalau suaminya itu gendutan, Yixing langsung menonjoknya detik itu juga. Menghasilkan memar yang lumayan besar di mata kiri Joonmyeon, hasil karya seni Yixing.
Tolong ingatkan Joonmyeon kalau Yixing itu masih laki-laki. Dan Yixing yang moody sangatlah berbahaya.
Yixing sendiri? Lelaki Tiongkok itu tampak tidak merasa bersalah sekali, ia justru duduk manis di samping Joonmyeon, memainkan smartphone-nya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Baiklah kalau begitu kita mulai saja USG-nya untuk melihat apakah ada janin di dalam," dokter itu menepuk kedua tangannya dan bangkit dari kursinya, dengan senyum hangat terpatri di wajahnya yang rupawan, Dokter Choi Siwon mempersilahkan pasangan di depannya dengan tangannya, "Tuan Zhang, silahkan Anda berbaring di atas bed."
Yixing menurut, ia membawa tubuhnya mendekati bed yang berada di sudut ruangan kemudian membaringkan dirinya, sedang Joonmyeon mengikuti dengan patuh di belakangnya, kemudian mendudukan diri di kursi tinggi sebelah ranjang. Satu tangannya masih memegangi kassa untuk menutupi matanya yang bengkak.
Dokter Choi dibuat sibuk mempersiapkan alat untuk ultrasound. Seorang suster dengan setia membantu dokter Choi jika dokter tampan itu membutuhkan bantuan. Suster perempuan itu juga yang meminta ijin kepada Yixing untuk membuka kemejanya sampai ke atas dada dan mengekspos bagian perutnya.
Setelah semua siap dan komputer telah tertancap, dokter Choi mendekat ke sisi ranjang, kedua tangannya yang sudah terbalut sarung tangan memegang sebuah botol berwarna putih. "Baiklah, Tuan Zhang sekarang saya akan mengoleskan gel ke atas perut Anda," kata sang dokter dengan nada ramah, "Memang nanti rasanya sedikit dingin, tapi tidak apa apa kan?"
Yixing menganggukan kepala tanpa suara. Dokter Choi menekan botol di tangannya dan mengarahkannya ke atas kulit perut Yixing. Begitu cairan gel itu menyentuh kulitnya, Yixing mengernyit dalam. Memang rasanya dingin sekali.
Dokter Choi meratakannya ke beberapa sisi, kemudian ia kembali meletakan botol itu di meja dan meraih transducter dari tempatnya. Pria itu lalu menempelkan transducter ke permukaan perut Yixing dengan pelan. Alat itu berfungsi memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi sehingga jika memang ada objek di dalam perut pasien, maka objek itu akan tampak di layar komputer.
Dokter Choi menarikan transducter di tangannya ke sekitar perut Yixing dengan menekannya sedikit. Tangannya yang bebas sibuk menekan-nekan tombol-tombol di komputer yang Joonmyeon dan Yixing tidak tahu apa namanya. Sampai kemudian layar komputer menampilkan gambar berwarna hitam putih.
"Nah, Tuan Kim dan Tuan Zhang, kau lihat gumpalan samar berwarna putih di tengah itu?" Dokter Choi melempar senyum hangat pada kedua lelaki di depannya yang ikut mengamati layar dengan seksama. Dokter itu melanjutkan, nada bahagia terdengar dari suaranya,
"Gumpalan disana itu adalah bayi kalian, selamat ya."
Joonmyeon yang duduk di samping ranjang Yixing bertanya spontan, "Apa kau yakin itu bukan tumor, dokter?"
Dokter Choi menyorot Joonmyeon dengan pandangan aneh.
Yixing menghela nafas berat, "Tolong abaikan saja dia."
»»––««
Sesampainya di rumah, Yixing beranjak menuju ke kamar mereka dan langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Joonmyeon turut berbaring di sampingnya.
Bersama-sama mereka memandangi langit-langit kamar, membiarkan gelap dan sunyi menyelimuti mereka, selain denting ponsel yang tak kunjung berhenti.
Kedua ponsel mereka silih berganti berdenting memenuhi ruang dengar. Akun aplikasi chatting Yixing dan Joonmyeon sudah dipenuhi chat ucapan selamat dari teman-teman mereka, terutama Minseok yang nge-spam sticker ngakak.
Ada waktunya untuk memikirkan itu nanti.
Saat ini kepala mereka masih dikepung oleh berbagai kemungkinan dan pikiran yang berseliweran kesana kemari. Kata-kata dokter Choi tadi membuat mereka teremenung. Kata-katanya yang sederhana, namun benar-benar akan merubah hidup mereka berdua.
"Apa kau percaya kita akan segera punya anak?" Joonmyeon menggumam, suaranya setenang air, "Aku tidak percaya jika perkataan Minseok akan menjadi kenyataan,"
"Minseok pasti dukun," Yixing menimpali.
"Aku berdoa untuk keselamatan Jongdae,"
"Sama,"
"Jadi..." Joonmyeon menggumam, nadanya mengambang, "bagaimana perasaanmu sekarang?
"Mengenai bayi ini?"
"Ya,"
"Aku tidak tahu. Kau?"
"Sama."
"Apa kau bahagia?"
"Tidak juga?"
"Apa kau sedih?"
"Tidak juga...?"
"Ini akan sangat... merepotkan."
"Ya,"
"Apa kita tetap akan mempertahankan bayi ini? "
Yixing menoleh ke kiri, menatap Joonmyeon lekat-lekat. Disebelahnya Joonmyeon turut menoleh, mengunci pandangan Yixing di tempat. "Yeah, meskipun kita bilang kita tidak menginginkan anak, tapi jika sudah terlanjur mau bagaimana lagi? Semua tidak bisa diubah. Kita tidak bisa membuang bayi itu begitu saja kan?"
"Kau tidak ingin aku menggugurkan bayi ini?"
Pupil mata Joonmyeon sedikit melebar, terkejut dengan pertanyaan Yixing.
"Xing... " panggilnya dengan nada keraguan yang sarat, "..kau tahu... itu namanya pembunuhan."
Yixing menghela nafas, menganggukan kepala membenarkan ucapan suaminya dengan kepala yang kembali menengadah ke langit-langit, "Iya aku tahu, aku hanya penasaran saja."
Joonmyeon meraih tangan Yixing yang tergeletak di sisinya dan mengenggamnya, kepalanya kembali tertoreh ke atas.
"Kita akan melewatinya bersama, oke?"
Kepala Yixing terangguk-angguk, ia meremas tangan Joonmyeon yang bertautan dengan tangannya erat-erat, seolah mengunci janji mereka disana.
"Oke,"
tbc.
.
Hai hai, maaf ya updatenya lama, tugas tidak membiarkanku hidup tenang gaes :")
Terima kasih buat apreasiasinya lewat kolom review, maafkan kalo saya belum sempat membalas satu-satu yang jelas saya baca semuanya dan saya berterima kasih banyak.
Oh, dan saat membaca kolom review, saya gak sengaja nemu satu review yang membuat saya tergelitik, pingin ngakak aja gitu. Untuk Guest tercinta yang ngatain saya delu, maksudnya delu apa ya? Karena mpregnya atau karena Sulaynya? Kalau karena mpregnya saya masih bisa terima, memang jelas nggak masuk akal sih, saya akui.
tapi kalau Sulaynya... :") maaf jiwa shipper saya langsung berkobar /eaaak. Memang salah ya saya suka sama otp ini? Apanya yang delu sih? Saya nggak memaksa mereka real kok, sampe beneran pacaran atau pingin mereka nikah atau apa.
saya memilih Sulay jadi otp saya karena saya suka sama interaksi mereka, makanya saya bikin ff nya untuk mengapresiasi couple ini. Kenapa harus delu? Ff kan emang butuh imajinasi kan? Terus kenapa? Anda nggak suka sulay? Kalo nggak suka kan tinggal di click close atuh, neng/agan :""") Saya terima kalau Anda nggak suka sama ff ini tapi jangan dihina dong otp saya. Saya udah sering nemu haters sulay, sebenernya udah kebal sih, tapi yaaa... namanya shipper sih ya wkwk.
Ah udah ah, nanti AN nya bisa ngalahin panjang isi ff nya wkwkw. Terima kasih yaa buat semuanya, saya terima segala kritik dan saran kok. Dan terima kasih juga kepada Guest yang udah ngebelain saya /Eaaa aku kegeeran wkwk/
Mind to review untuk chapter kedua ini? :3 maap ya kalau aneh atau garing atau apa :")
