Spotted!
Ketiga Pangeran akhirnya tiba di Manhattan.
Uh-oh Prince C, mengambil tindakan berani seperti itu sangat beresiko bukan?
Dan Prince D, oh jangan terus bertingkah seperti kutu buku.
Princess B tidak akan pernah melirikmu jika kau tetap seperti itu.
Berjuanglah Para Pangeran.
Merebut hati Princess B tidak semudah membalikkan telapak tangan.
You know you love me
XO XO
Gossip Girl
.
.
Who's My Prince?
© Sapphire D. Hapsire
Standard disclaimer applied
-1-
Cassanova, Prince Charming, and Nerdy-Boy
White Palace, Manhattan
Princess Blair sedang melakukan rutinitas pagi harinya bersama Serena, membicarakan fashion terbaru. Pembicaraan yang sangat dangkal sekali untuk seorang calon Ratu. Hampir setiap hari Serena datang berkunjung ke White Palace untuk bertemu dengan Princess Blair. Bisa dibilang mereka berdua adalah bukti nyata dari yang namanya 'Best Friend Forever'.
"Oh my effing God, gaun ini manis sekali! Serena, aku harus mendapatkannya." Pekik Blair sambil menunjukkan katalog terbaru Chanel.
Serena memutar matanya. "Kau memang selalu bisa mendapatkan segalanya, bukan?" Komentarnya singkat.
Blair mengibaskan tangannya. "Aku akan menyuruh Dorota untuk memesan gaun ini. Pasti akan sangat cocok untuk kupakai di jamuan makan siang para bangsawan nanti." Gumam Blair dengan mata masih memandang katalog itu penuh nafsu.
"Kau tahu B, sepertinya kau harus mulai berhenti hanya memikirkan pakaian saja." Ujar Serena.
Blair memandangnya sekilas. "Ohya, kurasa aku tidak Cuma memikirkan pakaian saja. Aku juga memikirkan model rambut, parfum, sepatu, tas, perhiasan. Oh aku jadi ingat, Dorota belum mengambil tas Prada yang kupesan minggu lalu." Blair menepuk keningnya.
Serena berdecak. "C'mon B. Kau tahu maksudku. Mulailah memikirkan kerajaan ini, cobalah sekali saja bertindak seperti Putri pada umumnya."
"Dan seperti apakah 'Putri pada umumnya' itu?" Balas Blair.
"Seorang Putri yang isi kepalanya tidak hanya dipenuhi oleh brand-brand ternama." Jawab Serena sambil menarik hidung Blair.
"Aww." Blair meringis seraya menepis tangan Serena. "Okay, aku akan berhenti membicarakan fashion. Tapi jangan pernah coba untuk menarik hidungku lagi, ingat itu." Seru Blair dengan nada mengancam.
Serena tertawa. "Yes, Your Majesty." Ujarnya membungkuk. Blair langsung melempar Serena dengan bantal sofa. Blair tidak pernah suka jika Serena menyebutnya seperti itu. Serena menagkis lemparan Blair. "Oh iya Blair, bagaimana dengan perjodohan yang direncanakan Ibumu? Sebentar lagi kau akan berulang tahun kan?"
Blair mendesah. "Masih setengah tahun lagi, S. Dan soal perjodohan itu, huufh aku menentangnya pun tidak akan bisa. So, yeah, kuterima saja apa adanya."
"Kau sudah melihat 3 orang 'calon'-mu itu?" Tanya Serena.
Blair menggeleng. "Belum. Nggak sempat. Nggak minat."
Serena menggelengkan kepalanya. Astaga, Tuan Putri satu ini bener-bener deh. "Blair, Putri macam apa kau itu? Bahkan Pangeran dari Kerajaan tetangga saja kau tidak tahu. Aku kehilangan kata-kata untuk mengomentarimu." Gumamnya. Bagi Serena, Blair itu 'Putri yang lain dari yang lain'.
Blair mengedikkan bahunya. "Hidupku kan tidak hanya untuk mengurusi urusan kerajaan. Lagipula dari awal juga aku tidak berminat dengan perjodohan ini." Jelasnya. "Kau sendiri apa sudah pernah melihat Pangeran-Pangeran itu?"
Serena mengangguk. "Yeah, salah satu dari mereka. Itu lho, Pangerannya Plaza. Chuck Bass."
Blair mengangkat alisnya. "Hm, seperti apa dia?"
Serena kembali mengingat pertemuannya dengan sang Pangeran ketika dia dan Eric—adiknya—sedang berlibur ke Kerajaan Plaza. Dan baru pertama kali Serena bertemu dengan pria yang sangat merendahkan derajat wanita seperti dia. Kejar, dapat, tinggalkan; itulah moto dari putra mahkota Plaza itu. Dia menganggap wanita seperti minuman kaleng, setelah habis, dibuang begitu saja dan beli yang baru.
"Huufh, bagaimana menjelaskannya ya? Singkatnya sih, dia tampan. Senyumnya juga menawan. Tipe-mu banget lah." Jawab Serena.
"Tahu darimana kau dia itu tipe-ku atau bukan?" Tanya Blair.
Serena tertawa. "Blair Waldorf, aku sudah berteman denganmu seumur hidup. Apa sih yang tidak kuketahui tentangmu?"
Blair menghela nafas. "Okay, lalu apalagi yang kau ketahui tentang dia?"
"Oh, Princess B sudah mulai tertarik ya dengan Prince Chuck Bass?" Goda Serena.
Blair mengerang. "Serena!" Serunya sebal.
Serena terkekeh. "Baik, baik. Chuck memang tampan tapi, euw kelakuannya itu minus banget. Dia menganggap wanita seperti tidak ada harganya, setelah ditiduri, cari lagi yang baru. Seorang Casanova lebih tepatnya." Jawab Serena acuh.
Blair diam. Dia berpikir sesaat. Hm, bad boy ya? Cowok bandel selalu terlihat menarik di mataku. Batinnya. "Terus, apa kau juga tahu tentang Pangeran yang lainnya?"
Serena menggeleng. "Sorry B, aku tidak punya info lengkap tentang mereka. Yang kutahu hanya Pangeran Nate dari Upper East Side itu adalah tipe pekerja keras dan calon Raja yang benar-benar perfect. Lalu soal Pangeran Dan dari Brooklyn, hm aku Cuma tahu kalau dia itu Panglima perang. Sisanya, aku tidak tahu sama sekali."
"Semoga semuanya tampan." Gumam Blair.
Serena tergelak. "Oh ayolah Blair, semua Pangeran itu tampan. Kau tahu itu."
Blair merenggut. "Nggak juga tuh. Kau sudah pernah lihat Pangeran dari Kerajaan Barat sana belum? Euw, wajahnya penuh jerawat."
"Jangan suka menghina orang seperti itu, Blair." Serena mengingatkan. Dan ditanggapi dengan cuek oleh Blair.
CKREEK
Pintu kamar Blair terbuka. Tampak wanita setengah baya dengan rambut digulung keatas dan Gaun biru panjang masuk. Dialah Queen Eleanor. "Oh Blair, kau harus segera bersiap, sayang." Suaranya terdengar buru-buru.
"Ada apa Mom?" Tanya Blair acuh.
"Ketiga Pangeran yang akan kujodohkan denganmu tiba siang ini."
"WHAT??!!"
.
.
Blair sama sekali tidak percaya. Ulang tahunnya masih setengah tahun lagi, tapi Pangeran-Pangeran itu sudah pada muncul duluan. Kata sang Ratu, selama setengah tahun inilah mereka bertiga akan bersaing untuk memenangkan hati Blair. Blair mendesah, selama setengah tahun kedepan akan ada 3 Pangeran yang pasti akan merecoki hidupnya.
Dan sekarang, Blair dan Queen Eleanor duduk di singgasana sambil menunggu kehadiran para Pangeran. Serena ikut menemani sambil duduk di kursi sebelah singgasana Blair.
"Mooom, apa aku benar-benar harus memilih salah satu dari mereka?" Tanya Blair manja.
"Tentu sayang." Jawab sang Ratu singkat.
"Kalau aku tidak suka semuanya?"
"Harus pilih salah satu."
"Kalau aku tetap tidak mau?"
"Tetap harus pilih salah satu."
Blair cemberut di tempat. Serena hanya tertawa. "Ayolah Blair, Pangeran itu tampan semua kok. Kau pasti akan suka. Bukan begitu, yang mulia?" Ujar Serena sambil memandang Queen Eleanor.
Ratu mengangguk. "Benar kata Serena, dear. 3 orang Pangeran itu adalah Pangeran yang sudak kuseleksi dengan amat sangat ketat. Mereka terbaik dari yang terbaik." Promosi Ratu.
Blair mencibir. Terbaik bagi siapa? Batinnya.
Lalu seorang Pria muda berambut pirang memasuki ruangan. Dialah Clifford Amethyts, sang penasihat kerajaan. "Yang mulia, ketiga Pangeran itu sudah datang. Izinkan saya memanggil mereka satu persatu kesini." Ujarnya sambil membungkuk hormat.
"Baik, segera panggil mereka." Perintah Queen Eleanor penuh wibawa.
Clifford mengangguk. "Pertama, Prince Charles Bartholomew Bass dari Kerajaan Plaza. Silakan memasuki ruangan, Yang Mulia."
Blair tidak bisa tidak gugup. Sekarang, salah satu dari orang yang kelak akan menjadi suaminya, akhirnya muncul. Seperti apa orang itu? Gumamnya dalam hati.
Bunyi langkah kaki yang berat mengiringi kehadiran Prince Chuck. Blair memandang pria itu lekat-lekat. Seperti yang dikatakan Serena, dia tampan. Wajahnya walau terkesan dingin, tapi memancarkan pesona tersendiri. Dengan penuh kharisma, Chuck berjalan mendekati tempat duduk Blair. Lalu ketika sudah berada di hadapannya, Chuck meraih tangannya dan mengecupnya.
"Salam dari saya, Yang Mulia Princess Blair." Suaranya terdengar berat, dan ketika dia mengucapkannya Chuck menyunggingkan senyuman. Jantung Blair berdetak lebih cepat. Chuck menggenggam tangannya erat dan penuh kehangatan. Dan ketika genggaman itu dilepas, Blair sedikit merasa kecewa.
Chuck kemudian berjalan menjauh dan berdiri di sebelah Clifford.
"Bagaimana menurutmu Blair? Lumayan juga kan." Bisik Serena.
Blair mengangkat bahu. "Entahlah, tapi aku tidak suka dengan pria yang langsung curi-curi kesempatan seperti tadi."
"Ah, tapi kau senang kan dengan kecupannya di tanganmu itu?" Goda Serena. Blair hanya diam saja, walau hatinya membenarkan.
Clifford berdehem. "Okay, berikutnya. Prince Nathaniel Archibald dari Kerajaan Upper East Side. Silakan memasuki ruangan, yang mulia."
Ruangan kembali dimasuki seseorang. Kali ini seorang pria berambut coklat berantakan dengan pedang tersimpan di pinggangya. Pangeran itu membungkuk di depan Blair. "Perkenalkan diri saya Yang Mulia, Nate Archibald dari Upper East Side. Saya menyampaikan seluruh hormat mewakili Upper East Side untuk anda Tuan Putri Blair." Ujarnya penuh wibawa.
Blair tersenyum. "Salam hormat saya juga untukmu Pangeran Nate."
Nate mengangkat kepalanya, mata mereka bertatapan sesaat. Ada percikan diantara keduanya ketika mata mereka saling bertemu. Tapi lalu Nate segera mengalihkan pandangannya dan berjalan ke samping Clifford.
"Uh-oh, charming sekali!! Bagaimana Blair? Bagaimana? Dia oke, kan?" Serena menyenggol Blair penuh semangat.
"Yeah." Gumam Blair. Tipikal Pangeran, penuh kharisma, dan juga menhormatiku sebagai seorang putri. Blair memberi nilai plus pada Pangeran satu ini.
Clifford kembali berdehem. "Dan terakhir, Prince Daniel Jonah Humphrey dari Kerajaan Brooklyn. Silakan memasuki ruangan, Yang Mulia."
Suara tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu. Tampak pemuda berambut hitam dengan wajah polos. Dia celingak-celinguk, lalu dengan gugup dia berjalan. "Ehm, ha-halo. Saya Prince Dan dari Brooklyn. Salam kenal yang mulia, semoga kita bisa menjalin hubungan baik. Ya, sekian dari saya. Permisi." Dan buru-buru kabur ke sisi Clifford.
Blair tidak yakin dengan yang dilihatnya. Yang tadi itu Pangeran??? Serius nih????
"Oh Blair, dia cute banget." Puji Serena.
"Euw, culun banget lebih tepatnya." Koreksi Blair. "Masa yang kayak begitu Pangeran sih? Panglima perang lagi. Itu sih lebih tepatnya cowok kutu buku."
"Tapi lihat dong, wajahnya terlihat penuh kejujuran dan ketulusan." Tambah Serena.
Blair mengamati Dan. Mengamati rambut hitamnya, wajah putihnya, matanya yang terlihat gugup, dan bahasa tubuhnya yang mengisyaratkan kalau dia tidak nyaman berada disini. Blair tersenyum. Benar juga, dia cukup manis. Tapi—euw culun abis.
Ratu mengambil alih keadaan. "Terima kasih banyak atas kesediaan Pangeran sekalian yang sudah bersedia datang ke kerajaan ini. Untuk setengah tahun ini, kalian akan tinggal di kerajaan Manhattan. Mohon agar menganggap seperti rumah sendiri saja."
"Yes, Your Majesty," Jawab Ketiga pangeran seraya membungkuk.
"Selama setengah tahun ini, saya persilakan para Pangeran untuk merebut hati putriku dengan cara apapun. Bersainglah dengan sehat, Pangeran sekalian." Pesan Ratu.
Chuck mengangkat alisnya. "Dengan cara apapun?" Ulangnya.
Queen Eleanor mengangguk yakin. "Dengan cara apapun."
Chuck menyeringai sambil melirik Blair. Tunggu kejutan cintaku, sayang. Gumamnya tanpa suara pada Blair.
Blair semakin yakin hidupnya akan berubah total sejak hari ini.
.
.
TBC
Author: maaf telat apdet ya (_ _) haduh, udah lama kelar tapi baru kesampaian buat ngapdet sekarang ==' kalo abal, maklumi aja ya, saya lagi ngaco nih -_- oh iya, jadi setting fic ini itu di jaman-jaman kerajaan yang jadul-jadul gitu deh, tapi brand-brand macam Chanel anggap aja udah ada ya ^^'
oke, sekarang balesan ripyu ;D
Ruchan ini udah diapdet :)
Archime 'hyosoka' uehara hoho iya, fandom GG Indo emang sepi banget :( mau ikut nulis di fandom ini ;D *kedipkedip* SereNate ya? Hmm akhir-akhir ini juga aku suka sama pairing itu ^^ okelah, ditampung dulu rikuesannya. Salam kenal, btw :)
Anonymous hehe makasih ^^ Chair ya, oke. saya juga lagi ngefens berat sm Chair XDD
Lubna Lahm yoo sista *peluk-peluk* Chair juga?? wokeh =)) ahaha, iya iya, Chuck ga alay ya? ini udap diapdet
Rasputin ga login hehe iya, kingdom stuff gitu deh. Kenapa Serena ga jadi putri juga? Karena ga mungkin kan ada dua orang Putri di satu kerajaan? =))
Makasih buat semua yang ripyu ya, bikin saya semangat ^^ mengingat ini fandom yang sepi, ada yang ngereview cerita ini bikin saya seneeeeng banget *lebay* review lagi ya ^^ *plak*
