Hallo. Terimakasih atas komentarnya. Aku baru kali ini publish FF di FFN biasanya jadi reader. Maafkan atas ke typo an yang HQQ karena autocorrect, mabok skripsi, dan tuntutan pekerjaan.
Happy reading.
2/3
"Aku ingin hadiah"
Kyungsoo melongo. Jongin itu lebih kaya darinya, untuk apa ia memberikan Jongin hadiah.
"Aku tidak punya uang Jon—"
"Aku ingin kencan dengan mu seharian, hari ini seperti layaknya sepasang kekasih."
.
APA?
.
.
.
Kyungsoo kira yang dimaksudkan hadiah versi Jongin adalah 'tuuut' dan 'biiip' ternyata maksud hadiah kencan menurut Jongin benar – benar kencan sungguhan. Ke taman bermain, jalan – jalan sambil berpegangan tangan – sebenarnya hanya Jongin yang menggenggam tangan Kyungsoo.
"Aku senang hari ini, kau bagaimana?"
"Aku? Aku senang saja, makan gratis, masuk taman hiburan gratis juga aku bisa menghemat uang makan dan obat sakit magh ku. Semua orang senang bukan?" Jongin terkekeh kecil mendengar penuturan polos Kyungsoo. Jongin meletakan kedua tangannya pada pipi gembil Kyungsoo.
"Ini pertama kalinya aku kencan ala anak SMA, biasanya aku kencan di ranjang"
Kyungsoo mendengus tidak suka. Lelaki dan otak kotornya.
"Aku antar pulang, dan aku tidak terima penolakan."
.
Jongin menatap ngeri melihat tampilan apartemen Kyungsoo tampak luar, maksudnya hey yang benar saja, manusia seperti apa yang mampu bertahan ditempat seperti ini? Ekspresi Jongin tidak luput dari pandangan Kyungsoo. kyungsoo mendecih sebal. Orang kaya kan fobia orang miskin.
"Kalau kau tidak sanggup untuk masuk, sudah sampai sini saja" Jongin menggeleng keras. Tidak. Dia sudah sejauh ini, mana mungkin mundur.
"Yang benar saja" Jongin menarik tangan Kyungsoo dengan segera – ingin segera keluar dari tempat ini. Ketika Kyungsoo mencoba membuka pintu apartemen nya seorang pria paruh baya menghampiri Kyungsoo. tercium bau alkohol di tubuhnya. Pria itu mencoba menggapai Kyungsoo, dengan sigap Jongin memberikan bogeman keras di wajah nya.
"Hei apa yang kau lakukan? Kau bisa berurusan dengan polisi."
"Kau pernah dengar uang melakukan segalanya?" Kyungsoo menatap Jongin malas.
.
"Tua Bangka tadi selalu melakukan hal seperti itu?"
"Biasa nya hanya menggedor pintu sambal berteriak saja"
Jongin tidak percaya, bagaimana Kyungsoo bisa sesantai itu menanggapi nya.
"Kau bisa pindah, kau tau bagaimana buruknya tempat ini bukan?"
"Kau tau, aku tidak terlahir kaya seperti mu." Kyungsoo membalas dengan sinis. Ia tidak suka dengan orang kaya yang selalu seenaknya. Selama ini teman dekatnya orang miskin semua. Dan mereka setuju dengan pemikiran Kyungsoo.
.
.
.
Ada dua hal yang membuat hari Kyungsoo menjadi buruk. Satu kuis dadakan professor Kang, yang kedua Kim Jongin. Kyungsoo tidak tahu apa isi otak Jongin, tadi pagi Jongin meneleponnya dan mengatakan ia membelikan Kyungsoo satu unit apartemen mewah. Baiklah ia suka apartemennya. Tapi ia bukan orang yang memanfaatkan seseorang, ia merasa sangat buruk. Ia bahkan tidak cinta Jongin.
Ponsel nya bergetar. Kim Jongin, untuk kesekian kali nya. Layar handphone nya dipenuhi Kim Jongin.
"Soo kenapa kau tidak mau menerima pemberianku?"
Apa? Apa tadi dia tidak salah dengar? Soo? Dia bahkan 3 tahun lebih tua dari Jongin.
"Jongin, berhentilah melakukan hal gila."
"Aku tidak gila, aku melakukannya untuk kekasihku."
Kyungsoo mendecih sebal. Satu – satunya hal yang membuatnya stress adalah menjadi kekasih Kim Jongin. Kyungsoo tidak suka Jongin – setidaknya belum.
"Dengarkan aku Kim Jongin. Aku wanita dewasa yang bahkan lebih tua 3 tahun darimu panggil aku dengan benar. Satu lagi, kau bukan tipeku. Aku tidak suka pria manja yang memanfaatkan kedudukan keluarganya. Aku tau aku miskin, tapi jangan kasihani aku. Kau tau, tipeku itu seorang dokter. Seseorang yang pintar dan tampan" Kyungsoo memutuskan panggilan secara sepihak.
Hidupnya dulu susah, namun bahagia tanpa bayang – bayang Kim Jongin. Sekarang Kyungsoo tinggal memikirkan, bagaimana caranya agar Jongin lulus dalam ujiannya. Ia bisa pergi dan menjalankan kehidupan normalnya, dan ia dapat bonus dari lembaga kursus maupun ibu Jongin. Dia bisa membayar sewa apartemen, lulus dengan baik, mendapat pekerjaan, adik – adiknya bisa sekolah, keluarga nya bisa hidup dengan layak.
.
.
.
Ini adalah minggu kedua setelah percakapan mereka ditelefon. Kyungsoo merasa canggung, Jongin jadi lebih banyak diam dan menerap pelajaran dengan cepat. Jongin tidak pernah menggodanya, tidak pernah mengirimi nya pesan cinta – alay, tidak pernah muncul tiba – tiba di kampusnya. Jongin menjadi lebih tenang dan… dingin? Iya. Dia bahkan tidak pernah menatap Kyungsoo lagi. Kyungsoo merasa ada yang salah dengan ini. Kyungsoo merasa sangat tidak konsisten, bukan kah ini yang kau inginkan?
"Mmm, Jongin minggu depan kau sudah mulai ujian. Bersemangat dan kerjakanlah dengan serius." Tidak ada jawaban dari Jongin
"Kau sudah latihan dengan baik, kau bisa melakukannya. Aku akan memberikan mu hadiah apapun" Kyungsoo merutuki mulut doraemonnya. Seperti dia bisa melakukan apapun saja seperti kantong doraemon.
Rupanya hal itu cukup berhasil menarik perhatian Jongin. Jongin menatap Kyungsoo dengan tajam "Apapun? Kau yakin apapun? Kau kan orang miskin. Bagaimana kalau aku minta Iphone X?"
Kyungsoo membatu. Benar dia miskin. Untuk uang sewa apartemen saja dia harus banting tulang.
"Kau benar aku memang miskin, mungkin ada permintaan terakhir mu yang bisa ku penuhi sebelum kita berpisah dengan kesibukan masing – masing."
"Kalau aku minta tidur denganku, bagaimana?"
Hancur sudah, harga diri Kyungsoo. kyungsoo bimbang. Ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Tidak apa, teman – temannya semua sudah melakukannya. Tidak apa – apa ini akan segera berakhir. Ia tidak harus bertemu dengan Jongin lagi.
"Baiklah" Jongin tersenyum sinis.
"Bukan kah ini artinya kau sama saja dengan wanita lainnya?" Kyungsoo tidak ambil pusing atas ucapan Jongin, yang ia pikirkan bagaimana hidup nya kembali damai dan tentram.
.
.
.
Tempat Laundry.
Pengantar koran.
Day care.
Kyungsoo tidak bisa menjernihkan pikirannya, ia memutuskan untuk keluar dari lembaga kursus setelah kontraknya dengan siswa bernama Kim Jongin selesai. Kyungsoo memiliki 3 panggilan bekerja untuk minggu depan. Pagi harinya Kyungsoo mengantarkan koran, selepasnya Kyungsoo bekerja di day care, Kyungsoo suka anak – anak. Ketiga adiknya Kyungsoo yang urus, sejak ayah dan ibu nya sibuk bekerja sebagai pedagang kue beras, malam harinya ayahnya bekerja sebagai pencuci mobil tugas mengurus adik – adiknya menjadi tugas Kyungsoo. kemudian malam hari nya Kyungsoo bekerja di tempat laundry. Dengan ini Kyungsoo mampu menghasilkan uang cukup banyak. Ia sudah tidak banyak mengambil SKS kuliah, untungnya.
Sejujurnya Kyungsoo takut menghadapi Jongin nanti tapi ini adalah akhir dari semuanya.
.
.
.
Kyungsoo tidak pernah menyangka, bekerja di tiga tempat sekaligus benar – benar menguras tenaga nya. Diluar sedang musim dingin, penghangat apartemen Kyungsoo sudah lama rusak. Daripada memperbaikinya Kyungsoo lebih suka membakar sesuatu yang hangat dikompornya. Jangan katakana pemilik apartemen. Kyungsoo bisa saja menjadi penyebab kebakaran masal akibat ulahnya ini. Persetan, Kyungsoo butuh kehangatan. Kyungsoo harus bersyukur, malam ini laundry tempatnya bekerja agak sepi. Kyungsoo bisa menyusun tugas akhir nya da sedikit bersantai. Sampai kemudian seorang pemuda dengan jaket tebal datang dengan angkuhnya. Kim Jongin.
"Kyungsoo-ssi, ibuku mencoba menghubungi mu lewat telepon, tapi ibu bilang kau menggangti nomor ponsel mu. Kau tidak mencoba untuk melarikan diri bukan?"
Kyungsoo tidak boleh terintimidasi, biarpun dia miskin, dia punya harga diri. Setidaknya masih punya harga diri, tidak tau nanti.
"Aku tidak mengganti nomor ponselku. Aku menjual ponsel ku. Kau tau harus kemana kalau kau mencariku." Benar mencari Kyungsoo tidak begitu sulit, jika di kampus Kyungsoo selalu menempel erat dengan Baekhyun di kantin, perpustakaan atau taman fakultas. Jongin tidak bergeming, ia menatap Kyungsoo dari atas hingga bawah.
"Kau benar. Orang miskin selalu mencari cara dengan keras untuk bertahan hidup" Kyungsoo tidak memasukan ucapan Jongin dalam hati. Ia sudah biasa menerima ini semua. Diam – diam Kyungsoo bercita – cita untuk menikah dengan anak konglomerat dan membalas hinaan orang – orang model Kim Jongin nantinya. Mimpi saja.
"Ibuku menyuruhku membawamu ke rumah. Ibu bilang sebagai ucapan terimakasih denganmu makan malam di rumah ku. Detik ini juga. Jangan khawatir, aku suka mengatakannya pada atasanmu."
Jongin bahkan tidak mengizinkan Kyungsoo berbicara. Kadang Kyungsoo ingin tau, bagaimana Jongin bisa tau perkembangan hidup kyungsoo. apa semesta berpihak pada Jongin?
.
Ini bukan kali pertama Kyungsoo mampir ke rumah Jongin, tapi dia tetap terkagum – kagum pada interior rumah Jongin. Dominasi putih memberikan kesan mewah dan elegan. Setidaknya disini hangat, dan Kyungsoo tidak perlu membakar kayu dikompor agar mendapatkan kehangatan. Kyungsoo bersanding dengan Jongin bagai pembantu dan majikan. Jongin dengan pakaian sederhana namun berkelas, dengan Kyungsoo yang hanya memakai sepatu butut, sweater ungu usang dan jeans tua nya. Dia mendapatkan pakaiannya dari pelelangan barang bekas murah dan berkualitas.
"Kyungsoo-ya itu kah kau? Ah syukurlah"
Kyungsoo merasa sedikit canggung dengan nyonya Kim. Nyonya kim sangat cantik dan ramah, Kyungsoo meragukan kalau seorang Kim Jongin adalah anak biologisnya.
"Kemarilah kita mulai makan malam nya, sebagai perayaan kelulusan Jongin sebagai lulusan terbaik dengan nilai sempurna pada tiap mata pelajaran"
UHUK
Jangkrik.
Kyungsoo tidak bisa berkata apapun. Nilai sempurna pada semua pelajaran? Yang benar saja! Jongin yang duduk di sebelah Kyungsoo memberikan gelas airnya pada Kyungsoo yang tersedak.
"Jongin bilang ia ingin masuk fakultas kedokteran di universitas yang sama dengan mu. Awalnya kami menentangnya, karena kami ingin Jongin meneruskan perusahaan kami mengingat hanya Jongin anak kami. Tapi Jongin bilang ia ingin mengejar cita – cita cintanya."
BYUUR
Kyungsoo menyemburkan air yang ia minum seketika.
What the. Jongin hanya memakan makanan nya dengan santai tanpa rasa bersalah apapun. Sialan. Kim Jongin sialan.
.
TBC
Sampai berjumpa besok!
