Disclaimer: Pandora Hearts © Jun Mochizuki.
.
.
.
Sepatu yang digunakan Alice beradu dengan keramik putih rumah sakit. Kepalanya menoleh kesana-sini. Seluruh tubuhnya berkeringat. Ia langsung berlari menuju lift dan menunggu.
1 detik…
3 detik…
5 detik…
"ARGH! Lama!" gerutunya dan langsung berlari menuju tangga. Melewati 2 anak tangga sekaligus dengan berlari, tentunya dengan insiden hampir mencium anak tangga. Alice langsung menuju ke tempat dimana kedua saudaranya─Alyss dan Reo sedang duduk menunggunya.
"Kau lama sekali… dan, ugh, Alice, kau bau keringat!" Alyss menutup hidungnya dan menjauh dari Alice.
Alice yang masih berusaha mengatur nafasnya langsung menjawab, "Ini… hah… salah… kalian… hah… KENAPA MENINGGALKANKU DI SANA! Aku berlari dari sana ke rumah sakit! Kau tau seberapa capeknya aku?" ah, alangkah bahagianya melihat seorang kakak yang rela berlari jauh-jauh untuk adiknya yang sekarat (?).
Alyss merogoh tasnya dan menemukan sebuah parfum, kemudian menyemprotkannya beberapa kali ke Alice. "Kami lebih mementingkan Lily daripada kau. Masa', kami harus menunggumu kembali sementara Lily pingsan. Lagipula, kau kan bisa naik taksi, bodoh! Kau ini gak punya otak, gak ada otak, atau gak pakai otak, hm?" balas Alyss sadis.
"Dompetku bersamamu, bodoh! Sekarang kau yang gak pakai otak!" balas Alice tak kalah sadis.
"Kenapa kau tidak naik taksi, lalu sampai sini kau minta uangmu pada Alyss baru membayar ongkos taksinya?" tanya Reo. Alice terdiam.
Good job, Reo.
"Berarti sekarang yang gak pakai otak itu kau." lanjut Reo.
"Argh! Lupakan masalah otak!" teriak Alice frustasi. "Mana Lily?"
"Di dalam… sedang diperiksa dengan dokter-rambut-merah… siapa sih namanya?" ujar Alyss.
"Rufus Barma…" sahut Reo.
Dokter Rufus Barma keluar dari ruangan Lily 2 menit setelah percakapan (atau perdebatan?) ke-3 saudara itu berakhir. "Kalian boleh masuk." ujarnya dan berlalu dari hadapan 3 saudara Baskerville itu.
Alice menatap Alyss beberapa saat. Alyss hanya tersenyum dan menjawab, "Kau saja yang masuk."
.
Alice terdiam melihat Lily yang terbaring lemah dengan mata terpejam. Selang bertebaran dimana-mana. Ia berjalan ke tempat Lily dan duduk di kursi sebelah kanan tempat tidur. Tangan Alice menggenggam tangan kecil Lily.
"Hey, manja… bangunlah. Atau aku tak akan mengabulkan permintaanmu lagi." ujar Alice.
Tak ada respon.
"Hey… adikku yang paling berisik, manja dan cerewet… Kau mendengarku, kan?"
Lagi, tak ada respon.
"…aku minta maaf ya. Aku tau, aku ini memang kakak terbodoh, dan kakak terburuk sepanjang masa."
Kembali, tak ada respon.
"Karena itu aku minta maaf ya… Aku janji gak akan memarahimu, membentakmu, atau mengacuhkanmu lagi…"
Untuk keempat kalinya, tak ada respon.
"Makanya bangun, manja…"
Lagi-lagi, tak ada respon.
Alice bangun dari tempat duduknya dan memandangi Lily sebentar. Ia tersenyum kemudian mengecup pelan kening Lily. Alice berbalik dan melangkah menuju pintu.
Ah, seandainya ia berbalik, ia pasti akan melihat senyuman kecil di wajah Lily.
.
.
"Bagaimana?" tanya Alyss ketika Alice keluar. Alice mendesah panjang kemudian menggeleng.
"Ia belum sadar…" Alice melirik jam yang meligkar di pergelangan tangan kanannya. "Bisa kalian jaga dia? Aku mau pergi sebentar…" Alice langsung melangkah pergi meninggalkan Alyss dan Reo.
"Hei! Kau mau kemana?" tanya Alyss setengah teriak.
Alice menoleh, "Membelikan si manja itu hadiah…" dan Alice langsung menuruni tangga.
.
.
.
.
To: Eida 'Maniak Occult' Vessalius, Sharon 'Hobi Ngeteh' Rainsworth, Lotti 'Seksi' Baskerville, Echo 'Pendiam' Nightray.
Hei, menurut kalian apa hadiah yang cocok untuk anak kecil?
Alice memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku roknya. Kemudian ia melihat sekeliling. Orang-orang baerlalu-lalang, beberapa toko pakaian sedang dipenuhi wanita. Toko roti yang aromanya mengundang selera. Toko daging yang sedari tadi Alice pandangi.
Daging…
Alice menggeleng cepat. 'Gak! Aku ke sini mau beli hadiah untuk Lily! Bukan beli daging!' batinnya.
Ponsel Alice bergetar. Ia merogoh sakunya, dan di layar hp flip-nya terdapat 4 pesan masuk.
From: Lotti 'Seksi' Baskerville
Kurang tau sih… Buat Lily, ya? Kalo menurut aku… kasih aja rok mini, warna soft pink yang ada tali pinggang warna putih kalo bisa…
Alice menggeleng-gelengkan kepalanya. Asal tanya pendapat Lotti, pasti jawabannya selalu tentang fashion. Itu PASTI, bukan sekali-kali.
From: Echo 'Pendiam' Nightray
Kalau menurut Echo, kasih boneka beruang aja. Buat Lily, kan?
'Hei, Echo… semua boneka beruang Lily, dari yang pink, hijau, merah, coklat, sampai hitam itu semua masukan darimu! Tidak ada yang lain selain boneka beruang, apa?' gerutu Alice dalam hati.
From: Eida 'Maniak Occult' Vessalius
Ngg, apa ya? Buat Lily? Kalau menurut Eida… kasih pita aja! Warnanya kasih warna kesukaan Lily…
Maaf Eida. Pita sudah menggunung di kamar Lily Baskerville. Oh, ayolah! Semuanya hampir Lily punyai. Apa Alice harus memberinya sebuah boneka beruang berwarna putih yang menggunakan rok mini soft pink plus tali pinggang putih dan pita pink di kepalanya?
Tidak, terima kasih. Itu gila.
Apa tidak ada masukan lain? Ah, sms dari Sharon belum dibukanya…
From: Sharon 'Hobi Ngeteh' Rainsworth
Pasti buat Lily, kan? Aku kurang tau… Kau sebagai kakaknya harusnya tau sendiri, dong… Coba kau cari tau, apa yang belum dimilikinya?
Alice berusaha mengingat-ingat terakhir kali ia memasuki kamar Lily. Boneka, ia sudah punya. Mulai dari boneka beruang, kodok, jerapah, panda, kelinci, anjing, sampai kucing.
Aksesoris, juga banyak. Jepitan rambut, bando, pita, gelang.
Sepatu juga sudah. Baju, jangan ditanya.
Ia nyaris memiliki segalanya! Apa yang belum ia punya, sih?
To: Sharon 'Hobi Ngeteh' Rainsworth
Ng, entahlah Sharon. Terakhir kali aku memasuki kamarnya yang penuh itu, kurasa semua yang digemari anak-anak ia sudah punya.
Alice berusaha keras mencari tau apa yang disukai Lily. Apa ia harus memberikannya pudding coklat dengan vla berhiaskan strawberry dan jeruk? Tidak, ia baru saja membuatnya kemarin.
Hp Alice bergetar lagi.
From: Sharon 'Hobi Ngeteh' Rainsworth
Hmm… sepertinya aku tau apa yang belum dimilikinya…
Alice menaikkan alisnya dan membalas pesan itu dengan cepat.
To: Sharon 'Hobi Ngeteh' Rainsworth
Apa? Jangan yang macam-macam seperti Echo, Lotti, dan Eida, kalau bisa.
BRUK!
Alice mengusap kepalanya karena baru saja menabrak seseorang.
"Ah, maaf! Aku tak melihat!" ujar Alice seraya menaikkan kepalanya―menatap orang yang baru saja ditabraknya. Eh, rambut pirang itu…
"Vincent?" panggil Alice setelah melihat orang yang ditabraknya.
"Ah, Alice? Kau sedang apa disini?" tanya Vincent.
"Aku hanya jalan-jalan sebentar… Sekalian mencari hadiah untuk Lily…" jawab Alice. Vincent mengangguk tanda mengerti.
"Mau kutraktir ke kafe?" tawar Vincent. "Sudah lama tidak mengobrol denganmu…"
Alice tampak menimbang sejenak kemudian menyetujui tawaran Vincent. Ia berjalan di belakang lelaki berambut pirang itu menuju ke salah satu kafe terdekat.
.
.
"Jadi… bagaimana keadaan, Lily?" Vincent membuka pembicaraan setelah mereka memesa. Alice menatapnya sejenak kemudian mendesah.
"Kau tau? Umurnya tinggal… 5 hari lagi." ujar Alice lirih. Vincent tersentak.
"Ah, maaf…"
"Tak apa… kau sendiri? Bagaimana keadaanmu dengan si nona berisik itu?"
"Zwei? Haha, kami baik-baik saja kok… Kau tetap memanggilnya nona berisik, ya…" kata Vincent menahan tawa.
"Dia memang berisik, kan? Masa' aku harus memanggilnya nona pendiam sementara ia berisiknya minta ampun…" Alice menumpu dagunya dengan kedua tangannya di atas meja.
Vincent terkikik. "Jadi… kau mau membeli hadiah terakhir untuk Lily?"
Alice terdiam. "Kurasa." jawabnya singkat. Lagi, hp Alice bergetar. "Sebentar, Vince…"
From: Sharon 'Hobi Ngeteh' Rainsworth
Ya, kasih sayang… Apalagi coba?
Alice membulatkan matanya. Kasih sayang?
To: Sharon 'Hobi Ngeteh' Rainsworth
Udah kok… Hampir setiap hari malah.
"Dari siapa?" tanya Vincent setelah meminum cappuchino nya yang baru sampai.
"Sharon…" jawab Alice singkat sambil mengaduk jus jeruk dinginnya kemudian menyesapnya sedikit.
"Memangnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, kok… aku hanya meminta bantuannya mencarikan hadiah untuk Lily…" jawab Alice lagi. Untuk kesekian kalinya, hp Alice bergetar.
From: Sharon 'hobi Ngeteh' Rainsworth
Memang, dia sudah dapat. Dari Reo dan Alyss… kalau darimu? Pernah? Alice, aku tau kau selalu membentaknya, dan itu SELALU. Coba kau beri ia kasih sayang di saat-saat terakhirnya.
Lagi, Alice terdiam. Apa pernah ia memberi Lily kasih sayang? Sepertinya tidak.
"Ngomong-ngomong… tumben kau baik pada Lily, hm?" sindir Vincent.
Alice menatapnya tajam. "Vince, sumpah, kau kejam padaku… Aku tidak seburuk yang kau kira…"
Vincent terkekeh. "Nah, itu baru Alice yang kukenal…"
"Memangnya aku-yang-kau-kenal itu seperti apa?"
"Sifatmu suka mendadak berubah dengan drastisnya…"
"Oh…" Alice kembali menyesap jus jeruknya. Begitu ia mau menutup hp flip-nya yang masih tergeletak di samping gelasnya, ada pesan masuk dari Alyss.
From: Nek Alyss Cerewet
Hei, Lily sudah sadar. Cepat kembali ya, Alice-yang-gak-pakai-otak :p
Ingin rasanya ia bisa berteleportasi ke rumah sakit, menemui Alyss dan membanting saudara kembarnya itu.
"Em, Vince… thanks ya udah traktir. Aku mau balik dulu, Lily udah sadar… Bye!" Alice langsung bangun dari kursinya dan melambai pada Vincent.
"Oke, sampaikan salamku untuk Lily ya…" ujar Vincent sambil balas melambai pada Alice.
"Oke!"
.
.
.
Alice yang baru keluar dari toko roti menoleh kesana-sini. Sudah mulai gelap. Kalau ia naik taksi, takutnya supir taksinya itu malah culik dia. Kalau jalan kaki, jauh. Apalagi tadi dia udah jalan kaki sekali. Jauh pula. Ia juga takut nanti dia bakal dirampok, atau dibunuh, mungkin diperkosa dan dibuang entah kemana. Ya, Alice akhir-akhir ini jadi paranoid.
"Apa minta jemput Reo saja, ya?" gumamnya sambil mengeluarkan hp flip-nya. Mencari nama Reo Baskerville di kontaknya. Setelah menemukannya, ia langsung menekan tombol hijau dan menempelkan hp-nya di telinga kanannya.
TUUUT
TUUUT
[Alice? Ada apa?]
"Reo! Jemput aku di toko roti tempat biasa!" seru Alice
[Naik taksi saja kenapa?]
"Aku takut. Nanti kalau aku diculik, bagaimana? Kau mau tanggung jawab jika harga tebusanku 500.000.000?"
[Uh, kau paranoid sekali, Alice. Baiklah kujemput.]
TREK
Alice duduk di bangku panjang depan toko roti dan mulai mengkhayal…
∞TBC∞
