Pierrot

Author: Nacchan Sakura

Pairing: RivaillexEren

I do not own Shingeki no Kyojin.

[Tolong baca A/N di akhir cerita. Dan siapkan snack, chapter ini sangat panjang!]

.

.

.

Aku hanyalah manusia dibalik layar.

Di saat semua orang terlihat senang berada di tengah cahaya,

Aku memilih bayangan untuk menjadi teman bermainku.

.

.

.

Pierrot

Chapter 2: Manusia di balik layar

.

.

.

'Eren bodoh~!'

'Hey, lihat, itu Eren- si pengecut itu!'

'Entah mengapa, ia terlihat menyebalkan, ya.'

'Lemah! Kau hanya bisa berlindung dibalik Mikasa!'

...Kenapa?

Aku sama seperti kalian—aku tak pernah merasa berbeda. Aku hanya datang ke sekolah, berusaha sebaik mungkin untuk belajar, mencoba untuk mengajak kalian berteman,

Dan kalian membalasku dengan lemparan batu dan buku tebal.

Apa?

Apa yang membuat kalian benci kepadaku?

Apa di dalam pandangan kalian...

Aku ini memang seorang badut bodoh belaka?

"H-hentikan—jangan pukuli aku—"

"Jaeger—"

"Aku tidak tahu apa salahku—hentikan—"

"Jaeger!—"

"-HENTIKAN!"

"EREN JAEGER, AKU BERSUMPAH AKU AKAN BENAR-BENAR MEMUKULMU DENGAN TERMOS JIKA KAU TIDAK BANGUN DALAM WAKTU 5 DETIK!"

Eren dengan cepat membuka matanya dan berada dalam posisi sigap. Matanya kini terbuka sepenuhnya dan ia sudah yakin bahwa ia terasadar dari alam mimpi. Ahh—ternyata yang dari tadi memanggilnya itu adalah..

"R-Rivaille-senpai...?"

"Apa, sekarang kau mau pura-pura amnesia seperti drama membosankan di TV?" Rivaille menatap Eren sinis, terlihat sekali bahwa ia kesal. "Kau pikir ini jam berapa, Jaeger?"

Eren melihat ke arah jam dinding yang tergantung di atas meja belajarnya—aah, jam 7 lewat 15 menit. Masih pagi sekali ternya—

"AKU TELAT BANGUN!"
"Oh, bagus kau cepat menyadari." Ucap Rivaille dengan santainya. "Aku akan pergi sekarang, karena murid nomor satu di sekolah ini tak boleh terlambat. Dan sekarang, uruslah dirimu sendiri, Jaeger."

"E-eeh—tunggu, senpai—"

Blam! Rivaille menutup pintu tanpa menjawab panggilan Eren.

"..Padahal kemarin, kau memanggilku 'Eren'."

Eren menghela nafas dan beranjak dari kasurnya yang nyaman—entah sudah berapa lama ia tidak merasakan nyamannya kasur untuk menjadi alas tidur. Harus ia akui, malam tadi adalah malam terbaik dalam hidupnya.

...Yah, walau mimpi buruk itu masih mengintai dirinya.

Eren membuka lemari bajunya—sekarang lemari itu terisi dengan beberapa baju bersih pemberian Pixis, dan satu seragam sekolah yang tergantung rapi. Eren melihat seragam barunya—kemeja putih plus dasi merah, dengan Blazer coklat dan celana kotak-kotak hijau. Benar-benar seragam yang mencerminkan sekolah 'elit'.

Dan sekali lagi perlu diingat—sekolah ini sebenarnya adalah sekolah khusus anak-anak yang memiliki masalah di rumahnya, atau gangguan mental ringan.

Eren untuk beberapa saat takjub kepada Pixis dan orang-orang yang mengelola sekolah ini—bisa menjadikan anak-anak yang 'tak beruntung' menjadi anak-anak yang setara dengan anak-anak 'beruntung' lainnya.

Bahkan, bisa menjadi lebih hebat daripada anak-anak yang memiliki hidup sempurna.

Eren memakai seragam barunya yang masih beraroma pewangi pakaian—aroma yang sudah lama tidak ia hirup. Ia melihat refleksi sosoknya di cermin—berbeda dengan kemarin, kini tubuhnya sudah bersih dan rambutnya rapi. Eren pun tersenyum.

"Hari yang baru, dan diriku yang baru."

.

.

.

"Kelas 2A... kelas 2A..."

Eren menyusuri lorong bangunan sekolah yang cukup—ralat—sangat luas milik Trost Academy. Walau sulit, Eren akhirnya menemukan letak dimana kelas untuk para angkatan 2 berada.

Kelas baru.

Eren tak bisa berhenti memikirkan akan seperti apa anak-anak di kelasnya nanti, akan seperti apa sikap mereka kepadanya nanti.

Apa mereka akan melihatnya dengan tatapan 'meremehkan'? Atau mereka justru akan bersikap dingin kepadanya dan menganggap seolah ia tidak ada?

Eren merasa takut.

Namun Eren membuang pikiran itu jauh-jauh—tidak, ia sudah memutuskan akan memulai kehidupan baru. Ia harus berpikir positif.

Setelah berjalan beberapa menit, Eren melihat Mikasa yang sedang berdiri di hadapan pintu yang memiliki papan kecil bertuliskan '2-A'.

Ternyata Pixis menepati janjinya—ia benar-benar dibuat satu kelas dengan Mikasa.

"Mikasa!"

Mikasa menoleh, iris matanya bertemu dengan hijaunya mata lelaki yang paling ia sayangi itu. Eren melihat Mikasa yang nampak segar dengan seragam barunya—kemeja putih, pita merah, blazer coklat, dan rok merah. Dan—syal berwarna merah pemberian Eren untuk Mikasa saat natal kelas 6 SD.

"Mikasa—kau berniat memakai Syal itu bahkan saat dalam pelajaran sekalipun?" Tanya Eren dengan satu alis terangkat.

"Kenapa? Ini sudah dicuci kok."

"Bukan begitu—kenapa kau seperti tidak mau melepasnya sih?"

Mikasa memandang eren sesaat, kemudian ia menenggelamkan wajahnya ke dalam syal yang terlilit di lehernya.

"Karena Syal ini pemberian darimu," Gumam Mikasa dengan suara yang kecil

"Hah?"
"Tidak—bukan apa-apa. Aku hanya suka Syal ini. Itu saja." Jawab Mikasa. "Ah, sepertinya kita sudah disuruh masuk untuk memperkenalkan diri."

Tubuh Eren tiba-tiba terasa kaku. Lalu dari dalam—suara seorang lelaki yang sepertinya sudah cukup tua memanggil namanya dan Mikasa. Mikasa menoleh ke arah Eren, yang dibalas dengan anggukan kecil dari Eren.

Mereka berdua pun melangkah ke dalam ruangan kelas.

"Selamat bergabung di kelas 2-A," Lelaki dengan kepala tanpa rambut dan mata yang bulat nan tajam menyambut mereka dengan sedikit.. aneh. Namun dari nada bicaranya yang tegas itu, Eren dan Mikasa tahu bahwa ia bukanlah guru yang bisa diajak berkompromi. "Namaku Keith Shadis, wali kelas kalian. Harap diingat wajah dan namaku karena jika ada sesuatu, yang kalian harus hubungi adalah aku. Sekarang, silahkan perkenalkan diri kalian."

"Mikasa Ackerman." Itulah perkenalan singkat Mikasa. Eren melihat ke seluruh ruangan—semua ekspressi para murid tak ada yang berubah. Netral.

Netral—kecuali satu orang, seorang gadis dengam rambut kuncir kuda yang melambai-lambai antusias ke arah Mikasa.

"Sasha Braus, bisa kau berhenti melambai-lambai seperti anak TK?" ucap Keith dengan suara yang 'menekan', membuat gadis itu berhenti melambai dan menundukkan wajahnya. "Oh, dan jangan coba-coba memakan kentang di tengah jam pelajaran lagi, Braus."

Gadis bernama Sasha itu langsung memasang wajah kecewa.

"Eren, giliranmu memperkenalkan diri," Mikasa melirik ke arahku seraya berbisik. Eren menelan ludah dan maju beberapa langkah.

"N-namaku Eren Jaeger. Senang bertemu kalian semua." Eren membungkuk sedikit, sebagai tanda perkenalan.

"Jaeger, kau bisa berjalan ke bangkumu—letaknya ada di sebelah Armin Arlert. Arlert, acungkan tanganmu."

Seorang lelaki dengan rambut pendek berwarna Blonde mengangkat tangannya. Sekilas lelaki itu terlihat mirip perempuan, dengan tubuhnya yang bahkan lebih pendek dari Mikasa, dan wajahnya yang imut.

Eren pun berjalan ke arahnya.

"Dan Ackerman—kau duduk di belakang Braus, kau pasti sudah tahu dia bukan? Silahkan berjalan ke bangkumu karena pelajaran akan dimulai."

Kini, giliran Mikasa yang berjalan ke arah bangkunya—dan sudah pasti, ia disambut dengan Sasha yang tersenyum lebar ke arahnya. Walaupun tipis—Eren dapat melihat Mikasa membalas senyuman gadis kentang itu.

Mikasa bukanlah orang yang nyaman dan mudah untuk menunjukkan emosinya—maka dari itu, jika ada yang bisa membuatnya tersenyum—tipis sekalipun, berarti orang itu sudah mendapatkan tempat di dalam daftar 'orang yang membuat Mikasa nyaman'.

Dan yang ada dalam daftar itu hanyalah Eren, dan ditambah Sasha, untuk saat ini.

"A-anu..." Eren melepas pandangannya dari Mikasa dan menoleh ke sebelah kanan—oh, anak bernama Armin itu mengajaknya berbicara.

Apa ia akan mengejekku, ya? Pikir Eren.

"Namaku Armin, salam kenal... semoga kita bisa berteman baik, ya, Eren."

Eren terdiam. ..Anak ini, ia baru saja mengajaknya berteman dan memanggilnya dengan nama kecil... bukan?

"E-eh? Kau serius?"

"..Eh?" Armin mengeluarkan wajah penuh tanya. "Maksudmu..?"
"Kau mengajakku berteman..?"
"Ya.. kita sekelas dan sebangku mulai saat ini, bukankah seharusnya kita berteman?" Jawab Armin dengan polosnya

'Disini, yang menjadi badut bukanlah aku seorang.

Semua orang disini juga mungkin sama sepertiku—mereka semua badut yang menjadi ejekan banyak orang.

Aku tidak sendirian, bukan?'

"I-iya! Aku mau berteman denganmu!" Eren menjawab pertanyaan Armin dengan suara yang keras—membuat Keith berhenti menulis di papan tulis dan mengeluarkan Death Glare nya yang mematikan.

"Jaeger, duduk kembali dan perhatikan pelajaran—atau aku akan menyuruhmu melakukan lari pagi bersama buaya peliharaanku mulai besok."

"M-maaf, sensei."

Semua anak kini mengarahkan pandangannya ke arah Eren—membuat Eren sedikit tidak nyaman.

Tapi pandangan mereka semua begitu hangat—tidak, tidak ada pandangan yang seolah memandangnya sebagai anak tak berguna,

Tak ada yang seolah memandangnya sebagai seorang 'badut'.

'Mungkin karena mereka sama sepertiku—seorang badut,' pikir Eren.

Dan dengan satu pemikiran itu—Eren memutuskan untuk memperhatikan pelajaran Keith dengan teliti.

.

.

.

Waktu berjalan—perlahan, namun pasti.

Rasanya baru tadi ia memasuki ruangan kelas—dan kini, jam istirahat siang sudah berbunyi. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena duduk dan memperhatikan papan tulis selama beberapa jam—pelajaran-pelajaran ini tak begitu ia mengerti. Yah, mau bagaimana lagi, dulu ia dan Mikasa hanya belajar dari buku bekas saja—tanpa ada seorangpun yang mengajari mereka. Dan waktu belajar mereka pun lebih banyak terpakai untuk bekerja.

Kehidupan yang begitu miris, jika dipikir kembali.

"Uhm... Eren, ya?"

Eren menangkat wajahnya dan menemukan seorang gadis dengan rambut berwarna kuning cerah menyapanya seraya tersenyum—di sebelahnya ada gadis jangkung yang memiliki rambut warna hitam yang diikat ke belakang.

"I-iya?" jawab Eren, gugup. Gadis yang menyapanya memang cukup manis—tapi alasan ia gugup bukan karena disapa oleh gadis cantik,

Tapi karena ada orang asing yang tiba-tiba menyapanya dengan lembut.

"Namaku Christa. Dan ini Ymir, salam kenal." Gadis bernama Christa itu tersenyum—walau teman di sebelahnya hanya mengeluarkan kata 'Yo'. Eren mengangguk dan menjawab salam mereka. "Aku hanya ingin mengajakmu makan siang—anak-anak kelas ini biasanya membawa makanan dari kantin, lalu makan di kelas bersama-sama. Dan kami menyusun meja menjadi bentuk lingkaran agar mudah untuk mengobrol satu sama lain. Kau mau bergabung?"

Tentu saja Eren tidak menolak tawaran itu—selama ini, ia hanya makan berdua saja dengan Mikasa, dan kini ia akan makan bersama banyak orang. Eren tak lupa bertanya pada Christa jika ia bisa mengajak Mikasa atau tidak—dan Christa hanya bilang bahwa Mikasa sudah setuju sedari tadi.

'Ritual makan siang kelas 2-A' pun dimulai—semua bangku dan meja disusun berbentuk lingkaran, dan semua murid duduk seraya menyimpan makanan yang mereka ambil dari kantin. Eren duduk di antara Mikasa dan Armin, dan di sebelah kiri Mikasa—sudah pasti ada Sasha yang sepertinya tidak mau jauh dari Mikasa.

Dan semuanya pun mulai memakan makanan mereka, dipimpin oleh Christa yang menjadi 'juru bicara'.

"Teman-teman—seperti yang kalian ketahui, hari ini, di kelas kita ada dua orang murid baru." Christa menoleh ke arah Eren dan Mikasa seraya tersenyum. "Dan seperti yang kalian ketahui juga—ada suatu peraturan sekolah yang tertera dan harus kita lakukan, jika ada murid baru yang datang."

Deg. Seketika Eren merasa gugup dan takut—peraturan? Apa akan ada semacam ospek disini? Apa dia dan Mikasa akan disiksa oleh semua anak dikelas agar 'diakui'?

Tapi—Pixis bilang tidak akan ada yang menyakiti mereka, bukan?

"Aturan apa itu, jika aku boleh bertanya?" Mikasa berbicara dengan suara lantang dan 'menekan'—seperti siap untuk menyerang mereka terlebih dahulu sebelum dia dan Eren yang 'diserang'.

"Aturan itu adalah; untuk memperlakukan murid baru sebaik mungkin, seperti keluarga. Dan dimulai dengan; pengakuan." Christa menjawab pertanyaan Mikasa dengan lembut.

"..Pengakuan?" Eren memiringkan kepalanya ke samping—ia tidak mengerti. Sama sekali.

"Pengakuan. Kami semua akan mengatakan kepada kalian kenapa kami ada disini—yang berarti, kami akan mengatakan masa lalu kami dan 'masalah' kami. Dan kalian juga akan memberitahu 'masalah' kalian. Semua murid di seluruh sekolah melakukan ini, kok. Jadi kami semua sudah tahu 'masalah' kami satu sama lain."

Seluruh murid melakukannya? Eren tak bisa menghentikan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul dalam dirinya—apa itu berarti, mereka tahu apa yang menyebabkan Rivaille ada di sekolah ini?

"Yah—semua murid, kecuali senior bernama Rivaille itu, bukan?"

Eren langsung melihat ke arah sang pembicara—oh, lelaki dengan tubuh kekar dan rambut kuning itu—Reiner, kalau tidak salah, namanya. Mendengar ucapan Reiner itu—jelas, rasa penasaran Eren semakin besar. Tapi ia juga sedikit kecewa karena ternyata tak ada yang tahu alasan Rivaille berada di sekolah ini.

"Begitulah. Uhm, jadi, siapa yang mau mulai pengakuan terlebih dahulu?"

...

...

...Hening.

"..Baiklah, aku akan melakukannya duluan!" Christa menggembungkan pipinya seperti anak kecil. "Aku, Christa Lenz—berada disini karena ibuku sering melakukan kekerasan terhadapku."

Mendengar hal ini—Mikasa langsung terdiam.

"Aku pernah ikut ke dalam sebuah agensi model—dan ibuku menyuruhku untuk jadi yang terbaik. Namun karena sainganku banyak, aku gagal. Dan ibuku jadi sering memukuliku." Christa menundukkan wajahnya. "Ia juga selalu memaksaku untuk memuntahkan makanan yang baru aku makan. Katanya, agar aku tidak gemuk. Jadi, untuk tambahan—aku penderita anorexia. Sekarang sudah tidak parah, sih.."

Eren dan Mikasa hanya bisa mendengar sambil tak bisa berkata apapun—hebat, ia memiliki masalah seperti itu, tapi ia sama sekali tak menunjukkan masalahnya itu di dalam raut wajah dan kata-katanya.

"Aku, Ymir." Ymir melanjutkan Christa yang sudah selesai dengan pengakuannya. "Adalah korban penjualan anak di bawah umur. Aku dijual dan dijadikan budak di suatu rumah, namun aku berhasil kabur dari rumah itu. Disana menyeramkan—kau disiksa, disuruh untuk bekerja, dengan makanan dan waktu tidur yang sedikit. Kau juga akan dilecehkan secara seksual, jika kau sial."

Mikasa dan Eren menelan ludah—ternyata, ada yang memiliki masalah lebih, lebih buruk dari mereka.

"Aku Berthold," Seorang pemuda jangkung dengan rambut hitam memperkenalkan dirinya seraya tersenyum. "Aku hanya anak remaja biasa yang tak memiliki kehidupan bagus. Ibuku sering membawa lelaki asing ke rumah,dan setiap hari berganti pasangan. Namun rasa depresiku itu membuatku sering melukai pergelangan tanganku.. dengan sebuah pisau. Ah, tapi, aku sudah tidak melakukannya lagi, kok."

Berthold menunjukkan pergelangan tangannya yang penuh bekas luka. Mulut Eren terbuka—namun, tak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya.

"Reiner." Reiner hanya menyebutkan namanya, singkat. "Anak buangan yang dibuang karena tidak dibutuhkan oleh orang tua. Sekian."

"Wow, cerita yang menarik. Aku pesan popcorn, satu." Ucap Ymir dengan nada Sarkastik. Reiner memberinya tatapan tajam.

"Jean Kirschtein. Anak yang dipaksa orang tuanya untuk mencuri uang agar mereka bisa tetap hidup. Tak membawa uang saat pulang, maka aku akan dibanting ke tembok, sebanyak 10 kali. Atau..20 kali? Aku lupa." Ucap Jean seraya memotong roti dagingnya—terlihat tidak tertarik untuk berbicara banyak.

"Connie," lelaki dengan rambut nyaris botak dan tubuh pendek melihat langsung ke arah Eren. "Orang tuaku tak akur—dan mereka bercerai. Aku memutuskan untuk ikut ayahku, namun ternyata disana aku hanya dijadikan budak."

Orang tua yang tak akur—orang ini sama sepertiku, pikir Eren. Namun Eren beruntung—kedua orang tuanya setidaknya tidak memperlakukannya dengan buruk—mereka hanya menganggap Eren sebagai anak yang tak pernah ada. Mereka mengabaikan eksistensi Eren. Tapi setidaknya, itu lebih baik daripada dipukuli setiap hari.

"Annie Leonhardt. Aku sama seperti Ymir—korban penjualan anak dibawah umur. Hanya saja, aku dijadikan pekerja sek—"

"Oke, iya, aku mengerti," Eren memotong kata-kata Annie—dirinya masih terlalu polos, ia tak mau mendengar hal seperti itu.

"A-aku Armin," Armin menundukkan wajahnya. "Kakekku meninggal, dan aku tak punya rumah.. aku tinggal di jalanan, dan selalu ditindas oleh anak-anak lainnya yang lebih kuat. Terkadang uang hasil kerjaku diambil mereka."

Mikasa dan Eren mengerti betul perasaan Armin—mereka juga sama. Namun tak ada satupun preman yang berani mendekati mereka, terima kasih kepada Mikasa dan kekuatan bela dirinya.

"Dan yang terakhir..." Christa melihat ke arah Sasha, yang kini pandangannya menjadi kosong dan hanya mengunyah kentang rebusnya tanpa memperhatikan sekeliling. "Um.. Sasha?"

Tak ada jawaban.

"Hey, Christa, kau tahu 'kan.. Sasha pasti tidak mau bercerita, ceritanya yang paling menyedihkan diantara kita," bisik Reiner

"Aku tahu...tapi—"

"Tidak apa-apa jika dia tak mau bercerita," Mikasa memotong kata-kata Christa. "Bagaimana kalau dilanjutkan kepadaku dan Eren saja? A—"

"—Saat umurku lima tahun, kakak lelaki ku membawaku ke kamarnya.."

Seisi ruangan kelas menjadi hening ketika Sasha berbicara—ia masih berbicara dengan tatapan kosongnya, dan tangan yang masih memegang kentang rebus.

"Aku tak ingat apa-apa, yang aku ingat hanya, ia menyentuhku disini dan disana, ia membuka pakaianku, dan aku merasa sakit. Aku menangis dan berteriak.. tapi tak ada yang menolong.."

Mikasa dan Eren seketika mengubah raut wajah mereka—terkejut, mungkin itu kata yang tepat. Gadis yang sedari tadi antusias melambai ke arah Mikasa, dan selalu makan kentang seraya tersenyum lebar itu,

Adalah seorang gadis korban pelecehan seksual.

Eren menelan ludah. Sementara Mikasa menepuk pundah Sasha. "Jangan dilanjutkan. Biar aku saja yang bercerita sekarang," Ucap Mikasa.

"Mikasa Ackerman. Di umurku yang ke 6.. aku melihat orang tuaku dibunuh di depan mataku, secara langsung."

Seisi ruangan kembali menjadi sunyi. Namun kesunyian ini entah kenapa—terasa menakutkan, dan terlalu sepi.

"I-itu menyedihkan sekali.." Christa menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya. Dan Sasha—ia kini melihat ke arah Mikasa dengan mata yang membulat.

"Aku berhasil selamat, karena aku bersembunyi di dalam lemari. Tapi setelah itu—aku mengalami gangguan mental ringan, karena shock. Lalu, aku diadopsi oleh sepasang suami istri, yang pada akhirnya sering meyuruhku bekerja dan memukuliku dengan sebuah tongkat baseball."

Eren terdiam—pasti berat bagi Mikasa untuk mengingat kembali semua kenangan pahit itu, dan menceritakannya lagi pada mereka.

"Eren, kau selanjutnya."

Eren mengangguk, kemudian ia berdiri dari kursinya. Seluruh murid menatapnya.

"Orang tuaku tak pernah akur dan hendak bercerai."

...

...

...Hening, lagi.

"...Itu saja?" Tanya Jean dengan nada 'Apa kau serius? Cuma itu masalahmu?'

"Mereka tak pernah menganggap aku ada. Mereka bahkan selalu bilang bahwa mereka tidak punya anak." Eren mengepalkan tangannya. "Dan di sekolahku yang dulu—semua anak entah mengapa membenciku. Setiap hari aku dikatai, dihina. Dan mereka menambah ejekan itu dengan lemparan batu besar, dan juga buku tebal."

Jean yang tadinya hendak berkata bahwa masalah Eren itu hanyalah masalah sepele, kini terdiam.

"Aku terkadang berpikir—apa seluruh orang di dunia ini benar-benar menganggapku seperti badut? Badut yang selalu berusaha membuat semua orang tersenyum, namun malah ditertawakan dan dilempari tomat."

Eren masih mengingat semuanya—badut sirkus yang ia temui saat kecil, badut yang membuatnya teringat akan dirinya sendiri.

Badut yang malang, tak ada yang menolongnya.

Badut yang malang, ia ditertawakan.

Benar-benar gambaran sosoknya di masa depan.

"..Tapi—walau dilempari tomat, dan tak ada yang menolong saat terjatuh, badut selalu kembali berdiri dan melakukan yang terbaik, bukan?"

Eren terkejut—dan ketika ia mengangkat wajahnya, Ymir melanjutkan kalimatnya tadi. "Kami semua seperti itu. Kami diinjak, dibuang, tak ada yang menolong. Dan kami bangkit lalu kembali berjalan. Eren—bukan kau saja yang seorang badut, kami semua disini juga sama. Jika kau selalu berpikir bahwa kau adalah badut yang seorang diri, maka kami semua juga sama. Kami semua adalah seorang badut."

Eren melepaskan kepalan tangannya—mulutnya terbuka kecil, tak mengeluarkan kata-kata apapun, dan harus diakui—ia kini menahan air mata untuk tidak berkumpul di bola matanya.

"Kau tidak sendirian, Eren." Christa tersenyum ke arah Eren. "Kau bahkan beruntung memiliki Mikasa yang selalu bersamamu di saat kau sendirian—kau tidak pernah sendirian,"

"Kami semua juga sama sepertimu."

.

.

.

Hari yang panjang. Setelah ritual pengakuan di jam makan siang tadi—Eren harus mengakui bahwa dirinya merasa sedikit lega, dan beban yang ada di bahunya seperti lenyap begitu saja.

Pixis memegang janjinya—disini, ia akan merasa nyaman. Ia tak 'berbeda' dari yang lainnya—mereka semua sama seperti dirinya.

Eren tidak sendirian.

Eren menyusuri jalan menuju ruang asramanya dengan hati senang—ia bahkan bernyanyi tak jelas saking bahagianya. Langkahnya pun berubah menjadi Skip yang biasanya dilakukan oleh anak kecil saja. Oh, dan tak lupa—sebuah senyum terpasang di wajahnya.

"Kau tak ada bedanya dengan anak berumur 5 tahun, Jaeger."

"KYAAAA!" Eren berteriak kaget—dan tidak mengabaikan fakta bahwa teriakkan miliknya itu terdengar seperti perempuan. "R-Ri-Ri-Rivaille-senpai!?"

"Kau berteriak seperti tokoh utama wanita di komik Shoujo." Rivaille menatap Eren dengan matanya yang terlihat sayu dan ekspressi kebosanan itu.
"Oi! itu 'kan karena senpai membuat aku terkejut!" Eren membantah, dengan wajah yang sudah berubah menjadi merah.

"Kau melemparkan kesalahan kepada orang lain? Dan kau menyebut dirimu laki-laki? Heh."

Wajah Eren kini semakin merah—senpainya yang satu ini benar-benar menjengkelkan, kata-katanya selalu tak tersaring dan menusuk begitu saja.

Tapi—justru itu yang membuat Eren semakin tertarik pada senior yang satu ini.

UHUK! Eren menggelengkan kepalanya, membuang pikiran anehnya yang datang sesaat tadi.

"Ukh—" Rivaille tiba-tiba berhenti berjalan dan tangannya memijit dahinya perlahan—membuat Eren juga berhenti berjalan dan menoleh ke arahnya.

"S-senpai? Kau tidak apa-apa?"

"—Tidak, aku tidak apa-apa. Kembali berjalan, aku mau cepat-cepat sampai kamar dan mandi."

Eren sedikit menari di dalam hati—hum, senpainya ini tadi secara tidak langsung mengajaknya untuk pulang ke asrama bersama-sama, bukan?

"Baiklah!" Eren pun kembali berjalan di belakang Rivaille—persis seperti anak anjing yang mengikuti tuannya.

.

.

.

"Mikasa!"

Mikasa menoleh dan melihat Pixis berlari ke arahnya—dengan wajah yang panik dan nafas yang terengah-engah. Mikasa menarik satu alisnya ke atas.

"Pixis-san? Ada apa?"

"Apa—Apa kau melihat Rivaille?"

Rivaille? Oh, orang yang berada satu kamar dengan Eren, pikir Mikasa. Ia memang melihat seniornya itu di lorong, tadi, dengan wajah yang sedikit pucat dan sesekali memijat dahinya. Namun karena hanya selewat saja—ia tak menyapa ataupun bericara pada Rivaille.

"Aku melihatnya sebentar, tadi. Karena latihan bela diri campuran bersama senior ditiadakan, jadi aku tak lama bertemu dengannya. Kenapa?" Tanya Mikasa

"Gawat—ini gawat!"

Pixis mengeluarkan telepon selularnya dan mengetik pesan secara cepat—sebelum ia mengalihkan perhatiannya kepada Mikasa lagi. "Mikasa, bantu aku mencari Rivaille, cepat! Dan jika kau menemukannya," Pixis menyerahkan satu buah sapu tangan kepada Mikasa. "Tutup mulutnya menggunakan ini agar ia pingsan."

Mikasa semakin kebingungan. Rivaille, dibuat pingsan? "Tapi Pixis-san, ini ap—"

"Rivaille yang belum menjalani terapi pagi dan belum memakan obatnya adalah kombinasi yang buruk, Mikasa. Percayalah padaku." Pixis memotong kata-kata Mikasa.

"Tapi aku tidak mengerti. Memangnya Rivaille-senpai... dia mengidap penyakit apa?"
"Rivaille..." Pixis menarik nafas. "Dia—"

.

.

.

Eren dan Rivaille sampai di dalam kamar mereka—kamar yang tak begitu luas, namun nyaman. Eren membuat tubuhnya nyaman di atas kasur—ia sangat lelah di hari pertamanya masuk sekolah. Sementara Rivaille kini bersandar di tembok dekat kasur Eren—masih memijat dahinya perlahan. Wajahnya memang terlihat sedikit pucat.

"..Senpai, kau yakin kau baik-baik saja? Apa perlu aku memanggil Pixis-san?" Eren bangun dari kasurnya dan berjalan ke arah Rivaille. Ia melihat sosok Senpainya yang memang terlihat sedikit aneh—dan lemah.

Dan tak ada jawaban dari senpainya itu.

"Senpai?" Eren kembali mencoba mengambil perhatian Rivaille. Namun masih tak ada respon—dan Eren pun menyerah. Mungkin lebih baik membiarkan Rivaille sendirian, dan nanti ia akan mengurus semuanya sendirian. Padahal, Eren sebenarnya sedikit khawatir akan keadaan Senpainya itu.

Dan Eren melihat sosok Rivaille yang sudah berhenti memijit dahinya.

'Oh, apa dia sudah merasa lebih baik? Apa aku coba bertanya sekali lagi saja?' pikir Eren. "Senpa—"

Rivaille menarik satu tangan Eren dan membantingnya ke atas kasur yang baru saja Eren jadikan tempat berbaring—kedua tangan Eren digenggam erat oleh Rivaille, membuatnya tak bisa bergerak. Dan Rivaille menatap Eren dari posisinya yang kini berada di atas lelaki dengan iris mata hijau tersebut.

"S-senpai...?"

Bukan—Tatapan ini bukan tatapan milik Rivaille. Tatapan ini dingin—namun berbeda dengan 'dingin' yang biasanya Rivaille tunjukkan.

Apa jangan-jangan—Eren membuatnya marah, karena banyak bertanya tadi? Sial, baru saja sehari ia ada di sekolah ini dan berada dalam satu kamar dengan Rivaille, dia sudah membuat masalah.

"M-maaf kalau aku membuatmu kesal tadi—aku hanya khawatir—"

"Eren.."

Eren menghentikan kalimatnya—Rivaille memanggil nama Eren, namun—suara itu, terdengar seperti bukan suara Rivaille.

"Namamu Eren, ya? Pfft, lelaki yang naif, menurut 'diriku' yang satu lagi."

'Diriku yang satu lagi'? Eren menatap Rivaille penuh tanya. "Eh—uhm—sen-senpai?"

Rivaille memperkecil jarak wajahnya dan Eren—membuat wajahnya kini sampai di dekat telinga Eren yang masih kebingungan.

"Aku tertarik padamu," Bisik Rivaille dengan suara yang rendah—tepat di telinga Eren. Membuat lelaki itu tak bisa menghentikan rona merah yang muncul di wajahnya.

Apa—apa—APA?! Eren komat-kamit di dalam hatinya. Apa senpainya ini sedang mengerjainya saat ini? Apa ia serius? Atau—atau—

"Aku tahu kau tertarik pada Rivaille." Rivaille melanjutkan kalimatnya. "Pada Rivaille yang satunya, pada diriku yang seorang lagi. Diriku yang kau kenal pertama kali."

Dan di saat itulah—Eren sadar bahwa yang kini berbicara kepadanya,

Bukanlah Rivaille yang ia kenal.

"..Kau—siapa?" Eren mengubah tatapannya menjadi tatapan yang tajam—ia ingin Rivaille yang sebenarnya untuk kembali.

"Aku juga Rivaille. Tapi, Rivaille yang lainnya." 'Rivaille' menyeringai seraya menurunkan wajahnya, dekat dengan leher Eren. "Kau mau tahu apa yang membuatku tertarik padamu?"

Dan dengan selesainya satu pertanyaan itu—

Eren merasakan 'Rivaille' mencium lehernya.

"Se—Senpai?!" Eren tak tahu harus memanggilnya apa—dia juga Rivaille, bukan? Tapi—tidak, yang seharusnya Eren pikirkan saat ini adalah, kenapa bisa 'Rivaille' mencium lehernya seperti ini. Ia ingin menghentikan Rivaille—namun wajahnya yang kini menjadi merah mengkhianati niatnya.

"Lepaskan—Senpai! Lepaskan—"

.

.

.

"...Kepribadian ganda?"

Pixis mengangguk, menjawab pertanyaan Mikasa yang kini sudah mencerna sedikit keadaan.

"Rivaille adalah putra dari keluarga kebanggaan, keluarga yang memiliki harta dan kekuasaan. Dan fakta bahwa ia adalah anak satu-satunya keluarga itu—membuat Rivaille tak lepas dari bahaya." Pixis menundukkan wajahnya. "Banyak orang berusaha menyelakai Rivaille—beberapa gagal, beberapa berhasil. Entah sudah berapa kali Rivaille diculik oleh orang tak dikenal, yang kemudian berujung pada tebusan harta yang tak sedikit. Orang tuanya sudah pasti akan memberikan uang sebanyak apapun demi Rivaille, tapi—diculik beberapa kali seperti itu, membuat Rivaille depresi berat."

Mikasa mengepalkan tangannya—ternyata benar, jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Semua orang disini terlihat seperti anak-anak biasa, namun mereka semua—

Memiliki cerita yang ditulis oleh tinta berwarna merah pekat.

"Dengan depresi itu, Rivaille jadi membatasi dirinya. Dan entah sejak kapan—ia berubah. Ia berubah menjadi anak yang kasar, tak sungkan untuk menyakiti orang, dan egois—dan tidak lupa, kepribadiannya yang satu lagi juga berbeda jauh dengan Rivaille yang biasanya."

"Berarti...?"
"Kepribadian Rivaille yang biasanya adalah anak yang terlalu cinta kebersihan, teratur, sopan, dan selalu menyembunyikan perasaanya. Dan kebalikannya berarti—anak yang sembarangan, tak bisa diatur, tak memiliki mulut yang sopan, dan—selalu bertindak agresif."

Mikasa langsung mengangkat wajahnya—Itu berarti, Rivaille yang sedang berubah menjadi kepribadiannya yang lain, akan menjadi orang yang akan mudah menyerang siapapun yang berada di dekatnya—entah menyerang dalam artian apa.

Dan Mikasa baru menyadari satu hal—hari sudah sore, kebanyakan siswa dan siswi memilih untuk memasuki kamar mereka di asrama masing-masing. Mungkin begitu juga dengan Rivaille, bukan?

Dan—yang berada dekat dengan Rivaille saat ini—adalah tidak lain, teman kamarnya sendiri.

"..EREN DALAM BAHAYA!"

.

.

.

~To be continued~

.

.

.

A/N:

Um—hello everyone! :'D *waves* umm—perkenalkan, saya Nacchan. Biasanya saya cuma author yang suka nongol di fandom vocaloid, durarara! Dan cardcaptor Sakura. Tapi saya mencoba masuk ke fandom ini karena kecintaan saya pada pairing RivaillexEren.

Dan ternyata—fanfic pertama saya di fandom ini dapat sambutan hangat. Wow. Terima kasih banyak! Sepertinya saya ga cukup bilang terima kasih saja, karena saya sangat senang dengan sambutan hangat ini x'D

Jadi—untuk yang sudah membaca, me-review, meng-fave atau follow cerita ini, silahkan ambil half-naked Rivaille secara gratis! *throws half naked Rivaille at you*

Dan saya juga ingin mengucapkan terima kasih pada:

Rosecchin, Sushicat, Hikari Chrysant, katak, Unknownwers, SedotanHijau, Rikkagii Fujiyama,Kyo Kyoya, IsyPerolla, Zane Zavira, Luffy niar, Ichigo Kenji, Endou, Belgium Waffle, ayaklein24, dan AisuRuhi! (adakah yang ga kesebut? Kalau ada, maaf ya ;A;)

Terima kasih, review kalian sangat berarti. Biarkan author laknat ini memeluk kalian semua ;w;)

Oh, and here, some tease for chapter 3:

Eren tak bisa melawan—genggaman tangan 'Rivaille' semakin kuat. Dan perlu ia akui—ia berada di posisi antara 'ingin' dan 'tidak ingin' senpainya itu untuk berhenti menciumi lehernya yang entah sejak kapan sudah menjadi mainan senpainya itu.

"S-senpai—" Ucap Eren dengan nafas yang terpotong. "K-kenapa—"

Dan kalimat itu tak terlanjutkan—seiring dengan 'Rivaille' yang mencium bibirnya di saat Eren masih berbicara.

"..Eren! Eren!" Mikasa berteriak di depan kamar Eren—mendengar suara Eren yang hanya berupa kata 'Ugh—' atau 'Hmn—' saja. Mikasa semakin cemas—karena ia tahu Eren bukan 'diserang' dalam arti kekerasan.

Tapi, arti yang lainnya.

.

.

.

END OF TEASER!

Semoga suka dengan chapter ini, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!

With love,

Nacchan.