Sinar matahari merambat masuk melalui jendela satu-satunya kamar di apartemen tersebut. Perlahan, Hibari terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap beberapa kali, menatap kosong pada langit-langit kamar yang dihias lampu gantung indah. Bagus, aku ketiduran sampai pagi, pikirnya. Baru saja Hibari berniat bangkit, ia menyadari sesuatu yang berbeda pagi itu; perutnya terasa berat. Ia menatap perutnya dengan heran, oh well, ada tangan melingkar disana. Didorong rasa bingung, ia menoleh ke kiri. Blank. Mengerjap selama beberapa detik. Ada wajah tampan dengan seringai jahil disana.

"Good morning, sunshine." Mukuro memberi tatapan iseng.

Hibari melotot.

Kemudian ditemukan seorang pria yang terkapar di lantai, dengan lebam di pipi kirinya.


The Marriage

Chapter Two : To Marry A Stranger

Disclaimer : belongs to Amano Akira-sensei

Pairing : 6918, slight DaeAla

Rating : T

Genre : (sepertinya) romance dan (kayaknya) humor

Warning : OOC, AU, shonen-ai, ada kemungkinan typo

Don't like don't read


Dua orang pria duduk berhadapan di meja makan. Yang satu berambut hitam, duduk dengan wajah masam dan tertekuk. Yang satu berambut biru, dengan wajah mesum dan pipi yang lebam. Pria berambut hitam, Hibari Kyoya, menatap tajam orang dihadapannya. Sudah seenaknya masuk apartemen orang, seenaknya tidur sambil memeluknya pula! Ini pelecehan namanya!

"Jadi." Hibari Kyoya memulai, dengan dingin dan datar, bernada interogasi.

"Hm?" Pemilik mata heterokrom indah itu menanggapi seadanya. Ia sedang mengompres cap tinju Hibari di pipinya.

"Siapa." Datar, tanpa emosi dan tampak terganggu dengan kehadiran orang tidak dikenal di apartemen barunya.

"Oya oya, baru kemarin aku mengenalkan diri, sekarang kau sudah lupa padaku, hm?" Seringai jahil hinggap di wajah tampannya.

"Tsk." Berdecak kesal, penuh niatan mengusir.

"Kufufu~ kau memang manis Hibari Kyoya." Pria tersebut tertawa pelan. Suara tawa yang indah, pikir Hibari. Sedetik kemudian ia berusaha agar tidak mempertemukan jidat mulusnya dengan permukaan meja makan, pikiran bodoh.

"Hm~ baiklah, kau pasti kaget karena aku muncul mendadak." Suara dalam dan rendah, disertai senyum tipis yang menambah kesan sempurna pada figur artistiknya. Hibari tidak menjawab. Hanya menatapnya datar dan bosan. Keheningan canggung memenuhi udara. "Ehm." Deheman ringan, Mukuro mencoba memecah rasa canggung.

Hibari menatapnya bosan. "Aku tidak peduli."

"Namaku Rokudo Mukuro." Ia melanjutkan, mengacuhkan total kata-kata Hibari. "Usia 23 tahun, tinggal di Inggris sejak kecil dan baru menamatkan kuliah tahun lalu. Ah, dan aku adalah suamimu." Mukuro menatap lurus, dengan senyum manis.

Hibari mengerjap bingung. Apa kata si kampret bermulut gombal ini? Apa yang baru saja dia katakan?

"Aku suamimu, ah bukan, calon suamimu." Ia tersenyum tipis sebelum menambahkan. "Kita ada jadwal ke kantor pencatatan sipil jam 2 siang nanti, kalau kau lupa."

"Baiklah." Diluar dugaan, Hibari langsung mengangguk singkat mengiyakan.

"…" Mukuro terheran-heran, aneh sekali dia. Kemarin dia berlaku anarkis, sekarang dia menurut begitu saja ?

"Apa?"

"Ah tidak, hanya saja, kupikir kau akan menolak."

"…" Hibari terdiam. "Aku mau mandi. Kita berangkat jam 1 siang nanti." Dengan itu, Hibari berdiri dari kursi makan, berlalu menuju kamar mandi di kamar mereka.


Alaude kesal, tidak, ia sangat sangat kesal. Alaude menatap tajam pada sosok semangka-separo-nanas dihadapannya. Ia sudah hendak pergi ke kantor pencatatan sipil untuk memastikan adiknya akan baik-baik saja. Saat hendak membuka pintu tadi, pintunya sudah terbuka duluan, menampilkan sesosok pria tinggi tampan dengan iris violet yang indah. Siluman semangka itu terus-menerus menganggunya daritadi, membarikade pintu keluar apartemen dengan tubuhnya. Padahal, Alaude sedang sangat terburu-buru sekali sekarang. Menghela napas panjang, menahan semua keinginan untuk meninju wajah usil dihadapannya. "Katakan apa maumu Spade." Alaude menatap dingin semangka kampret yang tetap tidak mau bergeser dari posisinya menghalangi pintu.

"Nufufu~" Daemon Spade menyeringai sambil melangkah maju. Alaude, dengan segala kewaspadaan yang terlatih, mundur perlahan untuk menghindari semangka berjalan di depannya. Spade terus melangkah maju, membuat Alaude mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Daemon Spade tersenyum iseng, sambil terus menghimpit tubuh pacarnya ke dinding (ya pacar, sejak beberapa bulan lalu).

Alaude tampak risih dengan posisinya sekarang. Ia terus berusaha mendorong pundak Spade agar menjauh darinya. Wajahnya terlihat kesal karena Spade tidak bergeming sedikitpun, malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Alaude.

"Daemon….." sekarang Alaude terlihat merajuk. "Kyoya butuh wali untuk pernikahannya. Biarkan aku pergi."

Daemon menatap serius Alaude. Ia melepaskan pelukannya perlahan. Menghela napas berat saat melihat Alaude hampir berlari menuju pintu keluar. "Alaude." Panggilnya, terdengar serius. "Kau harus melepaskannya."

Alaude berhenti, berbalik dan menatap balik Spade, terlihat serius. "Tidak." Tolaknya tegas. "Tidak sampai ia menemukan orang lain yang akan melindunginya."


Mari kita sorot dua tokoh utama kita, yang satu sedang menatap pasangannya yang lebih mungil dengan wajah bingung, sedang yang ditatap hanya menampakkan ekspresi masam. "Tak bisakah aku tetap menggunakan nama Hibari Kyoya?" Hibari bertanya untuk kesekian kalinya. Ia tampak tidak suka dengan ide mengubah namanya. Di sebelahnya, Mukuro tampak sabar sekali. "Tapi kita akan menikah Kyoya." Mukuro mencoba memberi pengertian untuk kesekian kalinya, Hibari melirik sekilas karna dipanggil menggunakan nama kecilnya tanpa ijin. "Memang kenapa dengan Rokudo Kyoya? Kupikir itu tidak buruk loh."

Hibari menghela napas pelan, kenapa ia jadi terus-terusan menghela napas daritadi? Seperti berhadapan dengan ayah saja, pikirnya. Terdiam sebentar, tampak berpikir sedikit. "…Kita hanya menikah diatas kertas. Aku tidak mau repot-repot ganti nama lagi saat kita.. Kau tahu itu." Sahutnya dingin. Benar, ini hanya kontrak, kontrak buatan ayahnya.

Mukuro tampak shock. Kertas katanya? Maksudnya seperti kontrak begitu? Padahal dia tidak merasa seperti itu. Mukuro tahu apa yang ia rasakan saat melihat Hibari. Tapi kalau begini, entahlah. Ia merasa sesak, seperti ada ribuan jarum menancap dalam jantungnya. "Baiklah kalau itu maumu." Dengan nada dingin, ada rasa kecewa menggantung disana. "Kau boleh tetap menggunakan nama Hibari."


Mukuro melirik jam tangannya. Dia dan Hibari baru saja menyelesaikan segala proses melelahkan tersebut. Hari sudah begitu sore, dan ia mulai merasa lapar. Melirik ke arah Hibari yang tampak memainkan ponsel hitamnya dengan wajah bosan. Pria beriris heterokrom tersebut terdiam, mengingat-ingat kejadian tadi siang. Well, dia memang memiliki ehmperasaanehm terhadap Hibari sejak ayahnya muncul beberapa bulan lalu dan memperlihatkan fotonya, ah ya, waktu itu ia masih di Inggris. Luar biasa, pikir Mukuro, aku jatuh cinta hanya karena selembar foto. Bukankah sebelumnya ia malas berurusan dengan orang lain seperti ini? Kenapa hanya dengan Hibari ia merasa begitu berbeda? Kenapa harus dia? Ah benar juga, ayahnya yang meminta, tapi biasanya ia selalu menolak jika diminta melakukan hal yang merepotkan, kenapa ia jadi langsung setuju setelah melihat foto Hibari? Mukuro mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke dagu. Berpikir atas permintaan aneh seorang ayah dingin yang sebenarnya-

"Aku mau pulang." Seruan lambat Hibari menyadarkan lamunannya.

Mukuro menatap dengan pandangan kosong. "Ah ya, silahkan saja."

Hibari terdiam. Menatap tajam Mukuro dengan pandangan apa-kau-bodoh miliknya. Mukuro yang merasa risih dipandangi begitu hendak protes, sebelum dia menyadari sesuatu; kunci mobil ada padanya. Pantas Hibari tampak kesal, tadi kan mereka kemari pakai mobilnya.


Sebuah mobil sport hitam melaju stabil di jalanan. Diisi dua orang pria yang telah berganti status menjadi suami-suami. Suami pertama , Rokudo Mukuro, duduk di kursi kemudi, tampak tersenyum misterius sembari terus mencoba mengajak ngobrol orang disebelahnya. Suami kedua, Hibari Kyoya, tampak berwajah datar dan menahan keinginan untuk menonjok orang disampingya karena pertanyaan-pertanyaan yang dia anggap aneh.

"Kau lapar kan? Bagaimana kalau kita pergi ke restoran pasta disana? Makanannya enak."

"Tidak." Tolaknya dingin.

"Kalau yang disana? Itu restoran Jepang dengan suasana romantis." Mukuro tersenyum manis, ia tidak akan menyerah semudah itu. Tidak akan.

Hibari mengacuhkannya secara total. Ia mengalihkan pandangan keluar jendela.

"Kalau yang itu? Sepertinya suasananya bagus." Mukuro pantang menyerah. Dia masih ngotot memberikan ajakan halus untuk mengajak Hibari makan malam.

Hibari melirik sekilas, kemudian terdiam. Ia mengalihkan pandangannya lagi. "..Itu salon hewan." Hibari mendengus, agak geli .


Karena Mukuro kelamaan di jalan, akhirnya mereka sampai rumah saat larut malam. Bahkan, rasa lapar Hibari sudah menguap, digantikan rasa kantuk karena kelelahan. Berjalan perlahan menuju kamar mereka, Mukuro mengekor dibelakangnya. Hibari sudah bersiap akan serangan mendadak Mukuro jika dia memaksa tidur bersama, seperti semua 'mantan kontrak'nya yang sialan. Ternyata apa yang Mukuro lakukan diluar dugaan, ia malah berjalan ke arah lemari pakaian. Mukuro menoleh perlahan. "Kyoya, dimana kau taruh selimut tambahan?"

Bingung sesaat, Hibari memutuskan bertanya. "Untuk apa?"

"Untuk aku tidur, aku akan tidur di sofa."

Hibari mengerjap.

"Aku tahu kau tidak nyaman tidur seranjang dengan orang yang tidak dikenal. Karena itu aku akan tidur di sofa untuk sementara, sampai aku membeli ranjang baru atau sampai kau terbiasa denganku." Mukuro tersenyum manis, gentleman sekali. Setelah menemukan selimut yang ia cari, Mukuro berlalu keluar kamar dengan bantal dan selembar selimut.

"Selamat malam." Ia tersenyum sebelum menutup pintu.