AS BITTERSWEET AS COCKTAIL

A GH FANFICTION BY LILPERVIEME

GINTAMA BELONGS TO SORACHI


CASE 2 :

It's Payday!

Gintoki merapikan kerah kemejanya dan menyisir rambut dengan sela-sela jemarinya sebelum akhirnya memasuki suatu VVIP Club di pinggir kota Tokyo. Seorang bodyguard dengan setelan jas dan dasi hitam lengkap dengan kacamatanya menyapa Gintoki dan memintanya menunjukkan ID Card.

Gintoki menunjukkan ID cardnya, langsung saja body guard itu mengangguk dan mempersilahkan dirinya masuk. Gintoki dengan langkahnya yang tenang dan santai memasuki lorong yang agak remang-remang. Terlihat banyak wanita dan pria di tiap bilik sofa menikmati minuman dan bercakap-cakap.

Ditengah ruangan besar itu terdapat dance floor tempat biasa pengunjung menikmati musik DJ untuk sekedar melepas penat. Tapi malam itu musik yang dimainkan ialah lagu classic.

Karena malam ini tidak ada DJ perform, dance floor kosong, stage pun kosong.

Di ujung ruangan, seorang waitress berambut hijau dikepang menunggunya.

"Otose-san ada?" sapa Gintoki pada waitress itu.

"Sakata-san, ada janji ya?"

"Jam 10 sih, masih ada setengah jam lagi. Aku duduk-duduk dulu aja kali ya?"

"Kebetulan Otose-san sedang handle bar." Waitress itu mengantarkan Gintoki ke meja bar yang di baliknya seorang wanita tua sedang meracik minuman untuk seorang pelanggan di hadapannya.

"Ah, Gintoki! Sudah datang rupanya. Mau pesan minum?" sapa wanita tua yang dikenal bernama Otose sekaligus sebagai pemilik VVIP club itu.

"Maaf aku datang lebih awal, habis lagi gada kerjaan juga." Gintoki pun duduk di sebelah pelanggan yang tadinya sedang dilayani oleh Otose itu.

"Tidak apa, lagi ga ramai juga. Tama tolong handle di sini dulu ya," kata Otose pada waitress yang mengantarkan Gintoki tadi. "Ohiya, kau mau minum apa?" kali ini ia bertanya pada Gintoki.

"Hmm... classic margarita," pintanya pada Tama yang kini sudah menggantikan Otose di balik meja bar.

"Kalau begitu aku juga sama." Kini Otose sudah berdiri di sebelah Gintoki. Ia memberi tanda pada pria itu agar mengikutinya ke ujung ruangan yang terdapat suatu bilik kosong.

Di sana, Gintoki dan Otose duduk berhadap-hadapan. Mereka menikmati alunan musik klasik yang melantun memenuhi ruangan.

"Malam minggu begini kamu tidak jalan?" Otose memulai percakapan.

"Haha... gada temannya."

"Loh si gadis pemilik dojo tempatmu bekerja?"

"Kami hanya rekan kerja, tidak ada hal spesial." Gintoki sangat tidak suka percakapan seperti ini, hanya karena dekat dengan seorang wanita bukan berarti ia tertarik pada wanita itu, apalagi untuk menjalin hubungan lebih jauh.

"Aku jarang sekali melihatmu bersama dengan wanita, kamu normal, kan?"

"Ntahlah, tapi aku masih menikmati tubuh wanita. Terkadang kalau sedang penat aku akan pick them up randomly dari suatu bar yang aku kunjungi."

"Tapi sama sekali tidak ada yang melekat di hati ya?"

"Aku hanya tidak minat menjalin hubungan lebih jauh. Aku mengunjungi bar yang berbeda tiap malam karena aku prefer one night stand. Wanita tua sepertimu tidak akan mengerti."

Baru saja menyelesaikan kalimatnya, Gintoki langsung menerima pukulan ringan di kepalanya.

"Oi-oi, ini maksudnya baik tau. Club ini satu-satunya tempat yang rutin aku kunjungi!" kata Gintoki kemudian sambil mengelus kepalanya yang kena jitak.

Tak lama kemudian Tama datang dengan dua gelas Classic Margarita yang ia letakkan di hadapan kedua orang yang sedang berseteru itu.

Otose pun mengaangkat gelas diikuti dengan Gintoki lalu mereka pun bersulang.

"Kesambet apa malam minggu play lagu klasik?" Gintoki langsung mengalihkan pembicaraan.

"Sesekali pelanggan juga butuh ketenangan bukan? Setelah banyak kasus terjadi di kota ini, semua merasa penat. Aku pun begitu."

Gintoki langsung teringat dengan kasus pembunuhan seorang gadis muda belia yang baru-baru ini terjadi. Tidak lupa dengan sesosok polisi yang ia temui di bar temannya.

"Gadis yang malang," gumam Gintoki.

"Dibunuh kemudian diperkosa. Keparat macam apa yang tega melakukan hal sekeji itu kepada seorang gadis? Aku tidak habis pikir." Otose menyeloteh sambil menyalakan rokoknya. Ini adalah kebiasaan wanita tua itu setiap kali ia mulai mengomel.

Dan rokok itu membuat Gintoki kembali terbayang sesosok pria.

"Polisi sedang menghusut kasus ini bukan? Serahkan saja pada mereka. Tidak lama lagi pasti pelakunya akan tertangkap."

"Kita tidak bisa mempercayakan hal ini begitu saja pada kepolisian. Mereka sering kali meremehkan hal-hal kecil bahkan sering menangkap pelaku yang salah. Aku sama sekali tidak percaya pada mereka."

Gintoki hanya terdiam mendengar ungkapan wanita tua di hadapannya ini. Ia tahu wanita itu sangat membenci polisi dan itu bukan karena tanpa alasan.

Suaminya, dulunya adalah seorang pengusaha muda ternama. Namun karena bisnisnya yang maju dan melesat cepat membuat banyak pesaingnya cemburu dan membencinya.

Hingga suatu ketika, suatu oknum menjebaknya dalam suatu kasus pembunuhan dan membuatnya harus dihukum mati di depan pengadilan.

Kenyataan atas kasus itu baru terbongkar beberapa bulan kemudian setelah eksekusi pada suaminya dilaksanakan. Pihak kepolisian merasa bersalah dan mengungkapkan permohonan maafnya pada Otose saat ia masih dalam masa-masa berkabungnya.

Permohonan maaf itu diterima oleh Otose, namun jauh di dalam lubuk hatinya ia tidak bisa memaafkan para polisi itu. Karena bagaimana pun juga suaminya sudah tiada, ia tidak bisa bersama dengannya lagi.

Ia ditinggal oleh suaminya saat masih muda. Mereka bahkan belum sempat memiliki seorang anak sekalipun. Yang tersisa dari suaminya hanyalah harta yang diwariskan padanya dan kenangan-kenangan indah saat masih bersama. Hanya itu.

Rasa sakit dan kecewa itu lah yang menyebabkan Otose tidak pernah mau mempercayai polisi lagi. Gintoki memahami betul hal itu maka ia hanya diam tak berkomentar.

"Pelanggan yang tadi aku layani adalah ayah dari gadis malang itu," kata Otose.

Kemudian Gintoki kaget dan bulu kuduknya merinding. Hal sama yang ia rasakan saat ia menerima misi pertamanya.

Melihat kegugupan di wajah Gintoki, Otose langsung tertawa.

"Pasti ini hal yang berat bagimu ya, maklum masih pertama," katanya sambil meneguk minuman bening kekuningan itu.

"Apa rencanamu?"

"Ada, dan sudah ada yang membereskannya. Jadi jangan khawatir."

Gintoki merasa agak lega. Setelah pembunuhan pertama itu, ia masih sering terbayang wajah pria tua itu saat ia meregang nyawanya. Wajah pucatnya setelah nyawanya direnggut pun masih terbayang, tubuh lemasnya... semua bayangan itu membuat Gintoki mual.

Jadi ia merasa dirinya masih belum siap untuk menerima misi apapun dekat-dekat ini. Ia masih perlu menenangkan diri.

"Serangan jantung. Itu hasil penyelidikan kepolisian. Mereka sangat bodoh bukan? Hanya karena tidak ada tanda-tanda penyiksaan maupun bekas luka, dalam tubuhnya pun bersih tak ada zat-zat yang berbahaya, mereka langsung menyimpulkannya demikian. Sungguh tidak bisa diandalkan!" Kembali, Otose mengumpat.

"Mungkin karena masih banyak kasus yang kentara mencurigakan untuk ditangani," Gintoki mencoba membela, ia sendiri tidak paham kenapa mulutnya melontarkan kalimat itu.

"Hmm? Jadi terlihat bukan antek-antek itu hanya tebang pilih, tidak profesional. Buang-buang kas negara saja."

Gintoki memilih untuk diam saja kali ini, karena ia merasa tidak ada gunanya berkata apa pun. Tidak, seharusnya sejak awal ia tidak perlu mengatakan apa pun, dan tidak boleh mengatakan apa pun.

"Otose-san," Tama muncul kembali. Sepertinya ada tamu penting yang datang ingin bertemu dengan Otose.

"Baik, suruh ia tunggu sebentar di lantai 2." Otose langsung meneguk habis minuman dan mematikan rokoknya. Ia pun berdiri dan sebelum meningalkan Gintoki ia berkata,

"maaf tidak bisa lama-lama, masih ada urusan. Jika sudah selesai pergilah menuju loker pegawai. Tepatnya di loker no 27, aku meletakkannya di sana. Aku harap itu cukup. Tama akan menyerahkan padamu kuncinya."

Setelah berkata demikian, Otose pergi meninggalkan Gintoki yang kini terduduk sendirian di sofa. Ia menikmati minuman itu sedikit demi sedikit sambil membayangkan hal-hal yang sudah ia lakukan selama seminggu ini.

Mendadak ia ingin sekali bertemu dengan pria itu. Hanya sekedar bertemu cukup, atau sekedar berpapasan di jalan. Ia ingin melihat wajahnya, matanya yang biru kelam, surai hitamnya yang terlihat begitu lembut... ah Gintoki segera meneguk habis minumannya.

Ia pun berjalan menuju meja bar dan menemukan sosok yang ia cari. Wanita itu sedang mengobrol dengan pelanggan, yang kata Otose tadi, adalah ayah dari gadis malang itu.

Karena tidak mau ambil pusing lagi, Gintoki menyapa Tama dan Tama pun menyapa balik.

"Sudah selesai? Tidak mau nambah lagi? Sebentar lagi akan ada DJ perform."

"Tidak, malam ini aku mau istirahat saja di rumah."

"Pasti melelahkan ya."

"Tidak juga, aku rasa pria tua itu lebih lelah," yang Gintoki maksud adalah ayah dari gadis korban pembunuhan.

Tama pun mengangguk kemudian berkata pada pria tua itu kalau dia harus pergi sebentar untuk mengantar Gintoki.

Didepan ruang pegawai, Tama menyerahkan sebuah kunci pada Gintoki, "setelah selesai letakkan kunci ini pada pot di sebelah pintu keluar pegawai yang langsung menuju ke jalan belakang.

"Oke, thanks," Gintoki mengambil kunci itu kemudian memasuki ruangan.

Ruangan pegawai itu terlihat kosong, karena semua pegawai sedang sibuk bekerja. jam pergantian shift berikutnya masih 1 jam lagi jadi tidak ada pegawai yang memasuki ruangan.

Gintoki langsung mencari loker bernomor 27, yang terletak di pojok ruangan, loker nomor 2 dari atas.

Ia membukanya dan mendapati sebuah amplop coklat yang terlihat terisi penuh, sangat tebal.

"Nenek itu banyak uang banget, sampai sempat-sempatnya beramal ke pegawainya ya," pikir Gintoki sambil mengunci kembali loker itu setelah mengambil amplop yang ia masukkan ke kantong dalam jasnya.

Ia pun pergi meninggalkan ruangan dan menuju ke rumahnya.

Saat di perjalanan kembali ke rumahnya, diam-diam Gintoki menebarkan pandangan ke sekelilingnya. Berusaha menangkap sosok yang menghantuinya seharian ini.

Setengah berharap, Gintoki mencari-cari sosok yang biasanya menggunakan kemeja hitam di antara kerumunan orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Jalanan tetap ramai walau pun hari sudah malam tidak mengusik pikiran Gintoki yang tertuju pada satu orang.

DOR! DOR!

Beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan yang tak jelas darimana asalnya. Gintoki melihat ke sekeliling untuk memastikan sumber suara, namun yang ada hanya keriuhan orang yang panik mendengar suara tembakan tersebut.

"Hei, tembakan itu berasal dari ujung sana!" kata seseorang pria yang posisinya berada di belakang Gintoki, sehingga Gintoki pun berbalik ke arah orang tersebut.

Pria tersebut menunjuk ke arah jalan yang tadi dilewati Gintoki.

Polisi? Atau kriminal?

Gintoki pun terdorong untuk mencari tahu, karena alasan yang sudah jelas.

Pertama, untuk memastikan siapa korbannya. Kedua, ada kemungkinan ia bisa bertemu dengan sosok yang ia rindukan.

"Jangan mendekat! Beri jalan!" seorang polisi yang kebetulan bertugas patroli saat itu mengamankan pria tua yang sudah tergeletak di pinggir jalan.

"Seorang laki-laki tertembak, usianya mungkin sudah tua,"

"Malang sekali,"

"Kita harus hati-hati, Tokyo sudah tidak aman lagi!"

Keluhan warga yang kebetulan melihat seorang pria tersungkur di jalan dengan bekas tembakan di tubuhnya tersebut terus terdengar. Gintoki pun kehilangan minat untuk melihat korbannya, karena itu membuatnya teringat pada kasus pembunuhan yang sudah ia lakukan.

Daripada melihat korban penembakan, Gintoki memilih untuk menyebarkan pandangannya.

Tidak ada orang mencurigakan di sekitar sini. Kemungkinan ia ditembak dari jauh, batinnya.

Karena tidak menemukan sosok yang ia cari, Gintoki memutuskan untuk pulang kembali ke apartemennya.

Aku tidak mau terlibat. Tidak, lebih tepatnya aku tidak boleh terlibat.

Saat Gintoki berbalik, sebuah mobil polisi melintasi jalan menuju ke tempat ditemukannya pria tua yang tertembak itu. Dan di dalam mobil itu terlihat sosok pria bersurai hitam lurus dengan raut wajahnya yang sangat serius.

TBC.


Auth's Note :

Hai semua! Balik lagi sama Lil hahaha. Gimana, gimana ceritanya? Pada suka ga? Gregetan ga? Kalo ada kurang monggo dikomen yah! Aku juga masih belajar nih.

BTW, aku bakal usahain sebisaku buat update tiap minggu ya, khususnya weekend.

Semoga bisa menghibur jiwa-jiwa yang kekurangan asupan GinHiji di ujung sana (aku salah satunya lho, so lemme know I'm not the only one).

Salam sayang,

Lil.