Annyeong~! Makasih banget yang udah review di chapter sebelumnya. *Terharu* Hehehe, mian yah, lanjutannya gaje begini, soalnya Thatha ini super-duper newbie author #alasan #dijitak… Tanpa banyak bacot, check it out!
Happy Reading!
.
.
.
Don't Like, Don't Read!
.
.
.
Mokythatha presents
Seven Years With You
.
.
.
Cast:
Jung Daehyun
Yoo Youngjae
Yoo Ara
Yoo Yeongjin (Alphabat)
Just find another cast by yourself
.
.
.
Enam bulan kemudian…
"Jung Daehyun!" Baekhyun memanggil Daehyun yang sedang berancang-ancang untuk mencetak gol. Jongin pun menghela napasnya lega.
"Ne, ada apa, hyung?"
"Ada yang mencarimu, seorang namja."
"Namja? Seperti apa rupanya?" Daehyun mengernyitkan keningnya sambil mengelap keringatnya yang bercucuran deras.
"Cantik. Kurasa ia lebih tinggi darimu,chubby, dan kulitnya terlihat sangat pucat. Awalnya kupikir dia penampakan di siang hari."
"Pasti Yoo Youngjae." batin Daehyun. "Biarkan saja, hyung."
"Jangan terlalu kejam pada orang lain, Dae." Tiba-tiba Chanyeol angkat bicara. "Kelihatannya ia sangat ingin menemuimu."
"Baiklah, aku akan segera menemuinya."
Chanyeol menepuk punggung temannya itu dan segera berlalu bersama Baekhyun menuju kantin.
"Yoo…"
"Kau lihat itu, Yeongjin? Pelangi itu terlihat indah." Kata Youngjae. Kelihatannya ia sedang berbicara kepada seseorang. "Walaupun samar, bagiku itu tetap indah."
Daehyun segera bersembunyi di balik dinding di dekatnya.
"Jangan membuatku tertawa, Yeongjin. Kau tahu kan, untuk tertawa saja sekarang aku butuh perjuangan keras."
"…"
"Kepalaku sakit, Jinnie. Apalagi hatiku. Akhir-akhir ini kelihatannya Daehyunnie membenciku. Wajar saja sebenarnya, apalagi aku sering menghilang dan bepergian tanpa sekalipun memberikan kabar padanya. Aku memang orang jahat."
Daehyun semakin semakin menempelkan telinganya ke dinding.
"Jinnie, kau harus tahu. Aku tidak mau menyakiti Daehyun sama sekali. Aku…"
"Sayangnya kau telah menyakitiku, Youngie."
"Daehyunnie?"
"Kau sering mengecewakanku juga akhir-akhir ini." Daehyun kemudian duduk di samping Youngjae. "Kau sering tidak memberikan kabar padaku."
"Aku…"
"Kau memotong rambutmu? Yah, sejujurnya kau memang lebih cocok seperti itu. Aku memang bodoh saat menyampaikan saran itu kau harus tahu, Krystal sangat terkejut saat kubilang orang berambut panjang itu adalah kau, Youngie."
Youngjae terdiam.
"Kau sudah berkenalan dengan orang lain, eh? Siapa namanya? Yeongjin?" Daehyun menolehkan kepalanya. "Dia dimana sekarang? Apa dia sedang bersembunyi di suatu tempat?"
"Dia tidak bersembunyi, Daehyunnie. Kau saja yang tidak melihatnya."
"Begitu rupanya." Sahut Daehyun pendek. "Ada urusan apa kau datang kemari?"
"Aku… Aku hanya ingin meminta maaf padamu."
"Minta maaf?" Daehyun menaikkan ujung bibir kirinya. "Mau berapa kali kau meminta maaf padaku, hah? Kau terus-terusan mengulangi kesalahan yang sama. Aku lelah, Jae."
"Aku tidak bermaksud sedikitpun untuk menyakitimu, Daehyunnie."
"Aku tahu, Youngie. Aku tahu kau tidak pernah bermaksud untuk seperti itu. Tapi aku benar-benar sudah sangat lelah terhadap sikapmu. Kau harus tahu itu."
Youngjae menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Mianhae, Dae."
Suasana keheningan yang mencekam mendadak hadir diantara mereka.
"Sebaiknya kau pergi dari sini." Kata Daehyun.
"Mwo?"
"Sebaiknya kau pergi dari tempat ini, dan jangan pernah mencoba untuk menemuiku lagi, karena aku sudah lelah dengan semua perilaku dan kata-katamu, Jae. Aku sudah sangat lelah! Aku mencoba bersabar selama ini, menunggumu untuk berubah menjadi seorang Yoo Youngjae yang seperti dulu. Tapi ternyata?" Daehyun menatap lekat-lekat mata Youngjae. "Blarrr! Semua itu hanyalah mimpi belaka."
Setelah itu Daehyun meninggalkan Youngjae yang masih terpaku sendirian. Sebenarnya Daehyun tidak sanggup melakukan hal itu, namun apa daya, rasa sakit hati dan kecewanya sudah benar-benar tidak bisa ditolerir lagi.
"Hyung?", panggil sebuah suara.
"Ne? Ada apa?" sahut Daehyun ketus.
"Ada yang ingin kami bicarakan." Tambah Yongguk yang tiba-tiba muncul bersama Himchan dan Junhong. "Ini tentang Youngjae."
"Untuk apa kalian membahasnya lagi? Aku sudah lelah."
"Daehyun-ah, tenanglah sedikit." Himchan menepuk punggung Daehyun pelan.
"Tapi dia…"
"Kalian semua! Kalian harus membantuku. Sekarang juga." kata Chanyeol terengah-engah.
"Ada apa memangnya?" tanya Jongup sambil mengerutkan keningnya.
"Namja yang baru kau temui tadi…" Chanyeol menunjuk ke arah Daehyun. "Ia tidak sadarkan diri dan napasnya memburu."
"Astaga Youngjae." Himchan mengatupkan kedua tangannya.
"K… Kalian tahu darimana itu Youngjae?"
"Kami yang mengantarnya kemari Jung pabbo. Saat kau menyuruhnya untuk pergi, ia menyuruh kami untuk pergi juga." Yongguk segera berlari ke tempat Youngjae yang terbujur lemah. Wajahnya yang pucat terlihat semakin pucat.
Daehyun berlari mengikuti Yongguk dan membantunya menaikkannya ke mobil milik Yongguk yang terparkir tidak terlalu jauh dari lokasi.
"Kumohon, bertahanlah Youngie… Maafkan aku.", bisik Daehyun lemah ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kurasa sudah saatnya, kami menceritakan semuanya padamu, Daehyun-ah." Himchan menghela napas panjang. "Youngjae terkena penyakit Creutzfeldt-Jakob."
"Apa? Penyakit macam apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya." kata Daehyun dengan nada tenang yang dibuat-buat. "Kau pasti bercanda, hyung. Hahaha."
"Himchan hyung tidak bercanda, hyung. Youngjae hyung terserang penyakit yang hanya diderita 1 orang dari 1.000.000 orang yang ada di dunia." tambah Junhong.
Daehyun menggeleng pelan. "Itu tidak mungkin."
"Kau harus tahu, penyakit ini tidak dapat disembuhkan, Daehyun-ah. Biasanya penderitanya akan meninggal satu tahun setelah terkena penyakit ini, tapi entah keajaiban apa yang membuat Youngjae mampu bertahan hingga hampir dua tahun." kali ini Yongguk yang berbicara.
"Youngie…" Daehyun menundukkan kepalanya, menatap wajah pucat namja manis yang telah bersamanya selama ini. "Mengapa kau tidak menceritakannya padaku, pabbo?"
"Dia tidak ingin kau khawatir berlebihan padanya, Daehyun-ah." Jelas Himchan. "Sebenarnya kami juga sudah mengetahui keadannya sejak lama. Hanya saja ia melarang kami untuk menceritakannya padamu."
"Youngie…"
"Selama ia menghilang tanpa kabar, sebenarnya ia pergi keluar negeri untuk mengobati penyakitnya. Tapi tidak ada satupun dokter yang sanggup menanganinya, Tidak ada sama sekali, Dae. Penyakitnya terlalu langka dan terlalu parah hingga tidak dapat disembuhkan. Hari ini, ia baru saja tiba dari Inggris, dan kau tahu? Dia langsung merengek memaksa untuk menemuimu, padahal kondisi badannya sedang benar-benar lemah. Kami semua berusaha untuk melarangnya pergi, dan mencoba untuk membuatmu yang mendatanginya. Namun, kau tidak mau menjawab panggilan kami, Dae. Itu yang menyebabkan ia memaksakan diri untuk datang menemuimu." Himchan bercerita dengan air mata yang mengalir dan diiringi isakan lembut.
"Hyung, uljima." Jongup mencoba menenangkan Himchan yang terus terisak.
"Ia sangat menyayangimu, Daehyun-ah. Sangat." tambah Himchan.
"Cukup hyung." Potong Daehyun yang terisak. Buliran bening air matanya mengalir dengan amat sangat deras, membasahi kausnya yang berwarna abu-abu. Ia menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak terdengar terlalu keras. "Mianhae, Youngie. Mianhae. Maafkan Jung Daehyun pabbo ini."
Flashback off
.
.
.
"Hahaha… Kau memang pandai menyembunyikan segalanya dariku, ya. Dasar Yoo Youngjae nakal!" Daehyun berucap pada sosok yang masih setia menutup kedua kelopak matanya rapat-rapat, terlelap dalam tidurnya yang panjang. "Kau ingat hari ini hari apa, putri tidur? Hari ini tepat tujuh tahun semenjak kita pertama kali bertemu dahulu. Happy anniversary, Yoo Youngjae. Kau harus tahu, semenjak kau tidur lelap seperti ini, Himchan hyung tidak pernah lagi memelototiku saat mendekati Yongguk hyung. Hahaha. Sebuah kemajuan, bukan? Jongup dan Junhong? Mereka berdua menjadi sepasang kekasih sekarang, mengikuti jejak Yongguk hyung dan Himchan hyung. Aku sungguh tidak menyangka." Daehyun mempererat genggaman tangannya pada tangan Youngjae yang dingin dan kurus. "Aku merindukanmu, Yoo Youngjae. Cepatlah bangun dan tersenyumlah untukku. Aku bosan tidak ada kau yang cerewet."
Ia kemudian meletakkan tangan Youngjae ke pipinya yang hangat. "Aku mengantuk sekarang. Aku tidur, ne? Jalja." Daehyun merebahkan kepalanya di atas kasur, di samping tubuh Youngjae.
"Dae…hyunnie?" Kesadaran Daehyun kembali tekumpul. Suara lembut itu… Suara milik Youngjae.
"Ne, Youngie? Kau sudah bangun rupanya." Respon Daehyun. "Akan kupanggilkan dokter untukmu."
"Tidak perlu, Dae."
"Kau yakin?"
Ia mengangguk lemah.
"Bagaimana dengan Yoo ahjumma dan Yoo ahjussi?"
Youngjae hanya menggeleng lemah. "Aku tidak mau membuat mereka kerepotan lagi, Dae. Cukup kau saja."
"Dasar Yoo Youngjae."
Ia hanya terkikik pelan.
"Sepuluh bulan kau menghilang tanpa kabar, dan dua bulan kau habiskan dengan tidur? Kau menyebalkan Youngie."
"Dua bulan? Rasanya seperti baru kemarin aku tidur."
"Youngie pemalas."
Lagi-lagi ia hanya terkikik dan tersnyum manis. Senyumnya yang menghilang selama dua bulan terakhir ini. Senyum yang sangat Daehyun rindukan.
"Apa itu suara hujan?" tanyanya tiba-tiba.
"Kurasa, ya."
"Ah, tentu akan sangat indah dan menyenangkan kalau aku pergi diiringi nyanyian merdu dan rintik hujan."
"Aish. Kau ini bicara apa." tepis Daehyun.
"Aku ingin makan vanilla ice cream, Daehyunnie."
"Vanilla ice cream? Apa itu tidak apa-apa? Akan aku belikan di kantin, ne?"
"Shireo. Aku ingin vanilla ice cream yang dijual di dekat taman sana. Dan aku juga ingin ikut."
"Kau bercanda, Youngie. Ini hujan, dan di luar sana dingin. Aku tidak ingin ada hal buruk terjadi padamu."
"Aku tidak peduli. Ayolah, Dae." Youngjae merajuk sambil menunjukkan puppy eyes andalannya.
"Baiklah, baiklah, tapi kita tunggu sampai hujannya reda, ne."
Mereka berdua pun terhanyut dalam keheningan malam yang tercipta. Masing-masing saling berkutat pada pikirannya masing-masing. Hujan malam itu tidak berhenti membasahi bumi, bahkan semakin lama terdengar suara hujan yang semakin deras.
"Kurasa kita batal makan vanilla ice cream, Dae."
"Tidak apa-apa." Daehyun tersenyum manis. "Astaga. Aku baru ingat, Himchan hyung membawakan kita cheesecake." Ia kemudian mengaduk-aduk isi tasnya dan menemukan kotak cheesecake yang sudah tidak berbentuk kotak lagi.
"Seperti dulu, eh?" Youngjae tersenyum melihat kotak itu.
"Ne, seperti dulu. Kau mau?"
"Aaaa…"
"Ayolah, gunakan tanganmu, Jae."
"Aku… tidak bisa, Dae." Lirih Youngjae. "Kau tahu."
Daehyun menepuk keningnya. "Mian, Youngie." Ia kemudian menyuapi Youngjae sepotong demi sepotong cheesecake itu hingga habis tak bersisa.
"Aaah… Aku kenyang."
"Pantas saja perutmu buncit seperti itu." goda Daehyun.
"Jangan menggodaku, food monster."
Mereka berdua pun tertawa renyah. Menikmati sisa waktu yang mereka miliki. Saling bertukar cerita walau sebenarnya lebih banyak Daehyun yang bercerita, sedangkan Youngjae hanya mengangguk-angguk.
Tiba- tiba Youngjae menggenggam erat tangan Daehyun.
"Daehyunnie?"
"Ne, Youngie… Ada apa?"
"Aku merasa sesak. Disini." Youngjae menekan dadanya keras. "Bisakah kau membantuku? Komohon."
"Apapun, Youngie. Apapun."
"Nyanyikanlah sebuah lagu untukku."
Daehyun mengerutkan keningnya. "Lagu apa?"
"Apapun yang terlintas di pikiranmu, Dae. Lagu yang bisa membuatku tenang."
"…" Daehyun kemudian menggenggam erat balik jemari Youngjae yang semakin terasa dingin.
"Do you know how my heart tightens because you might hate me?
To me, there's no one else but you. You're the only one that makes me smile
I can see that you're different even among a group of many people
Your shining eyes, lips
My heart feels at peace when you're next to me
I thank God for bringing the beautiful you down here
Please stay like this forever, inside me
Because you're here, I'm happy."
Ia kemudian mengecup pelan kening Youngjae. Youngjae yang sudah tertidur pulas dalam negeri keabadian dengan senyum manis yang masih terpatri di wajahnya. Daehyun menatapi wajah manis namja kesayangannya itu lekat-lekat, berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin ingatannya tentang sosok namja bernama Yoo Youngjae itu.
"Nado saranghae, Yoo Youngjae."
Ketika semua orang justru merangsek masuk ketika mendengar suara melengking elektrokardiogram dari dalam ruangan Youngjae, ia malah meninggalkan ruangan itu dengan senyuman lebar meski ditemani air mata yang belum berhenti mengalir.
Ya, Youngjae akhirnya harus mengalah pada penyakitnya setelah dua tahun ia berjuang keras.
.
.
.
Dear Jung Daehyun pabbo…
Saat aku pergi nanti,berjanjilah padaku kau tidak akan menangis kencang-kencang, ne? Bisa-bisa aku malu karena suara tangismu yang aneh itu. Sejujurnya aku lebih berharap kalau kau bisa tetap tersenyum. Kalau kau tidak bisa melakukannya untuk dirimu, lakukanlah itu untukku, arra? Rasanya aneh melihat namja pervert sepertimu menangis…
Kau harus tahu Daehyunnie, aku benci padamu.
Aku benci karena aku tidak pernah bisa membencimu. Aku mencintaimu, Daehyunnie. Saranghae, Jet'aime, Aishiteru, Ich lieben dich, I love you.
Jangan bersedih, ne. Aku tidak ingin melihatmu bersedih, salah-salah aku yang tersiksa di sini karena melihat usah mengelak, waktu itu saja kau sampai mengigau dan menyebut namaku, kan?
Ah, hampir lupa.
Camkan baik-baik, Daehyunnie. Awas saja kalau kau tidak mencamkannya.
Aku selalu ada di sekitarmu. (Itu kalau kau membutuhkanku, kalau kau tidak membutuhkanku, aku bisa pergi. Kau boleh mengusirku.)
Dan tentang Yeongjin, kau bisa menanyakannya pada eomma, appa, atau Ara noona. Aku yakin mereka bertiga mengetahui siapa Yeongjin sebenarnya.
Aku pergi dulu, ne. Sampai jumpa, suatu saat nanti. Annyeong~!
Note : Aigoo.. Surat macam apa yang sebenarnya kubuat ini? Ah, sudahlah. Hahaha…
-Yoo Youngjae-
.
.
.
"… Yeongjin adalah saudara kembar Youngjae yang meninggal saat mereka berumur tiga tahun. Youngjae sangat menyayangi Yeongjin, dan begitu pula sebaliknya." Jelas Ara ketika Daehyun menanyakan hal tersebut kepada noona Youngjae itu.
"Jadi begitu rupanya." Daehyun mengangguk tanda mengerti.
Mereka berdua sedang berdiri sambil menaburkan bunga di makam yang bernisan Yoo Youngjae dan Yoo Yeongjin.
"Ada satu hal yang harus kau tahu tentang Youngjae, Daehyun-ah. Walau ia mengidap penyakit Creutzfeldt-Jakob, ia tidak pernah kehilangan ingatan tentangmu. Padahal ia telah melupakan teman-teman dan keluarganya. Kau istimewa baginya, Dae. Kau sangat berarti untuknya."
Daehyun menghela napasnya berat. Rasanya ia ingin menangis kalau saja ia tidak ingat janjinya dengan Youngjae.
"Kita belum sempat makan vanilla ice cream sesuai keinginanmu, Jae." gumam Daehyun tiba-tiba. "Aku pulang duluan, noona. Youngie, aku ingatkan kau untuk tidak menggoda malaikat-malaikat yang ada disana, ne? Awas saja saat aku datang nanti kau malah melupakanku dan sudah berpindah hati. Tak akan kumaafkan."
Dan Daehyun pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Noona?"
"Yeongjin? Youngjae?"
"Kajja, kita pergi. Tugas noona sudah selesai." Lirih Yeongjin.
Ketiga sosok itu pun mengepakkan sayapnya masing-masing dan menghilang dalam indahnya nuansa langit sore, menampakkan sebuah nisan lagi yang bertuliskan…
Yoo Ara.
.
.
.
Hahaha…
FF nista macam apa ini?
Akhirannya gaje, fix. Harusnya sih akhirannya nggak begini, tapi apa daya, otak serasa berhenti berjalan gara-gara kebanyakan tugas *curcol*.
Answer for Review!
angelHimes : Ada jawabannya kan di chapter ini? Makasih udah baca dan juga reviewnya!
Okta1004 : Iyaaa? Makasihhhh… Menurut kamu aja, lebih sedih yang mana hehehe Thatha nggak pandai menilai soalnya .-. Ini udah diapdet kan? Makasih udah mampir dan review!
tiggercino98 : Iyaaa… itu isinya kebanyakan emang flashback, cuma berapa persen yang terjadi di masa sekarang. Ini udah lanjut kok, makasih udah review!
jjbny : Hohoho, yang kenapa Youngjae nggak ngerespon,ada jawabannya di chapter ini! Sebenernya ini friendship, tapi entah kenapa malah jadi lebih mirip pacar hehehe, dan akhirannya pun… yang Youngjae rambut panjang itu soalnya ceritanya dia udah empat bulan nggak potong rambut. *alasan macam apa ini* Jangankan kamu, Thatha aja nggak bisa bayangin kalo rambut Youngjae panjang kayak apa jadinya. Mungkin, sama kayak pas mereka pake wig itu? Anyway, makasih reviewnya!
Anyway,
Mind to review? :3
