Disaat yang sama dengan Sunagakure. Di Konoha bintang yang menghiasi langit begitu indah dengan angin malam yang berhembus. Saat semua orang tertidur ia justru berkeliaran dimalam hari tentunya masih dengan tampilan nerd.
Insomnia, ia tak bisa tidur malam ini karena suara familiar yang memanggilnya. 'Siapa yang memanggilku ketika disekolah?' ia benar-benar penasaran akan pemilik suara yang ada dipikirannya.
Masih dengan pertanyaan dibenaknya. Naruto memilih duduk di kursi kayu dengan tiang lampu yang berada disamping kursi itu. Matanya terpejam, berusaha untuk tenang ditengah pertanyaan yang begitu banyak. Tanpa sadar Naruto hanyut dalam lamunannya. Berusaha mencari pemilik suara familiar itu diotaknya.
Naruto merupakan pemuda yang tidak mau memikirkan banyak hal, entah kenapa untuk masalah kali ini ia merasa harus mencari siapa yang memanggil namanya. Benar-benar ambisius.
Tapi...
Disudut hatinya ia merasa bahwa suara itu begitu menenangkan dan begitu dekat. Entah dekat dalam artian apa tapi itulah yang dirasakannya. Menghela nafas pasrah perlahan ia bangkit meninggalkan kursi kayu itu dan berjalan ke rumah kecil miliknya yang dibeli dengan uang hasil kerja keras sendiri. Dan letaknya tak jauh dari tempat itu.
.
Cklek
Hening...
"Haah~ apa yang kuharapkan dari kepulanganku? Bodoh." sesaat Naruto berharap ada yang menyambutnya ketika pintu apartemen terbuka. Tapi hal itu 'mustahil' bagi dirinya. Memangnya, siapa yang mau menyambutnya? Kiba? Jangan bercanda. Ia tak mau terlalu merepotkan pemuda baik hati itu.
Melangkahkan kaki pelan masuk kedalam rumah dengan tatapan sendu menuju salah satu pintu yang merupakan kamarnya. Tanpa sadar ia menguap lebar dengan setitik air di ujung pelipis. Dengan mata setengah mengantuk Naruto menatap jam dinding berbentuk rubah disamping pintu kamar, "Hmmm? Eh!? Sudah tengah malam? Kurasa aku terlalu lama diluar." menggelengkan kepalanya pelan, ia masuk kedalam kamar dan langsung terjun ke ranjang tanpa menggunakan selimut. Baru saja ia ingin memejamkan mata, tapi diurungkan saat melihat secarik kertas disampingnya. "Apa ini?" diambilnya kertas itu lalu dibuka,
[Berhati-hatilah pada temanmu, Naruto. Bayangan tidak selalu ada disampingmu.]
'A-apa ini...? Siapa...yang mengirimnya?' tanyanya kalut. Siapa yang dimaksud bayangan?
Tak mau pusing memikirkan suatu hal lagi, ia menaruh kertas itu di nakas kemudian kembali untuk tidur.
[PetaPetiPetuPetePeto]
Unkown Place
"Apa semua yang kuperintahkan sudah siap?"
"Ha'i, Yami-sama. Semua sudah siap. Sesuai yang diinginkan." sahut suara lain. Membalas perkataan sang tuan.
"Heh! Akan kudapatkan kau Dewa pelindung, Kyubi." Yami tertawa kecil kemudian tertawa psikopat. Ia benar-benar tidak sabar untuk mendapatkan Kyubi.
.
[KiminoUchiMade]Sedangkan disudut hutan yang tersembunyi. Didalam goa sesosok manusia yang telah lama tertidur di batu berbentuk balok berwarna abu-abu membuka matanya perlahan. Menampilkan iris mata yang indah sekaligus menakutkan.
Perlahan ia mencoba menggerakan tubuh yang telah lama tak beraktifitas itu. Dengan sedikit kesusahan, ia berhasil duduk dengan kedua tangan yang menyangga tubuhnya. Kepalanya mendongak keatas, "Huh, ternyata keturunan darah dewa terkuat telah bangkit. Omoshiroi." ujarnya dengan seringai.
Entah mendapat kekuatan darimana. Ia berdiri dan langsung berjalan keluar. Lalu...
Futts
...Menghilang dengan meninggalkan tanah yang dipijaki retak.
Entah apa yang menarik Naruto menuju tempat dimana kardus-kardus peninggalan yang tersisa dari orangtuanya di kamar. Ia hanya merasa ditarik untuk membuka kardus yang bertuliskan Uzumaki. "Hei, untuk apa aku membuka kardus itu?" tanyanya pada diri sendiri. Nyatanya Naruto membuka kardus itu dan mengambil isi dari kardus itu
"Uzumaki... Kushina?"
Tanpa basa-basi Naruto segera membuka buku itu dan membaca isi yang tertera didalamnya. Dan saat tahu apa isi dari buku itu, iris saphire itu membola tak percaya.
Uzumaki Kushina adalah ibunya dan merupakan wanita terkuat di Uzushiogakure, desa tersembunyi yang mempunyai kemampuan hebat. Sedangkan ayahnya adalah Namikaze Minato yang merupakan orang terkuat, bahkan ia juga merupakan keturunan darah dewa.
Ia menelan rasa bencinya saat mengingat ketika umurnya sebelas tahun. Waktu itu ia masih sangat kecil dan polos untuk mengetahui kejamnya dunia ini. Ditengah kebahagiaan mereka, sosok berjubah hitam dengan mata merah menyala membunuh kedua orangtuanya dan seluruh warga Uzushiogakure. Menyisakan dirinya seorang dalam kesepian dan kesendirian.
Dan dirinya. Uzumaki Naruto, merupakan anak dari dua sosok tersebut. Sempat terbesit rasa marah pada dirinya karena tak pernah membuka kardus itu. Naruto hanya takut. Takut akan kenyataan yang ia ketahui nantinya.
Dan kecewa saat sadar jika mereka berdua tak ada disampingnya saat ini. Menjaga dan memberikan kasih sayang mereka.
Perlahan iris saphire indah itu menyendu dan mengeluarkan air mata. Segala perasaan kini ia rasakan. Marah, sedih, benci, kecewa dan... Putus asa. Dengan cepat ia menyeka air matanya dengan punggung tangan tak mau terlarut dalam kesedihan yang mendalam.
Dia mengambil selembar foto yang menyempil dalam buku. Di foto itu menampilkan Minato dan Kushina yang mensejajarkan dengan tinggi Naruto kecil dan memeluknya. Semua terlihat begitu bahagia. Dengan cepat, Naruto memasukan buku itu pada tempatnya dan membawa foto tersebut ke kamarnya.
.
.
Kazekage, seorang pemimpin Suna sekaligus ayah dari Sabaku Gaara tengah bingung dan marah saat mendengar laporan dari Anbu yang ia tugaskan untuk mengawasi Gaara. "Kenapa ini bisa terjadi!? Tak puaskah para Uchiha itu mengganggu keluargaku? Dan sekarang, mereka mengincar keturunan darah dewa." ujarnya pada diri sendiri. Kazekage tak tahu kenapa semua hal buruk menimpa keluarganya. Tak cukupkah Karura mati dan Gaara menjadi setengah vampire? Sekarang apa? Mereka mengincar darah dewa.
Matanya terpejam. Berusaha untuk mencari jalan keluar atas semua masalah yang telah terjadi.
Tok tok tok
"Ah!? Si-silahkan masuk." Kazekaga berucap dengan terbata. Dan berusaha untuk bersikap seperti biasa.
Cklek
"Gomennasai, Kazekage-sama. Gaara-sama memanggil anda untuk keruang bawah tanah." ucap perempuan bernama Matsuri yang mengetuk pintu tadi seraya membungkuk hormat. "Sampaikan padanya aku akan datang, Matsuri. Kau boleh pergi sekarang." "Ha'i"
'Mungkin Gaara punya solusi untuk masalah ini.' kemudian, Kazekage berdiri dari kursinya dan berjalan keluar untuk menemui putranya.
Kaki jenjang sang Kazekage berjalan ke tangga yang menuju keruang bawah tanah keluarga Sabaku. Langkahnya menggema, membuat suara diantara keheningan. Dengan cangkir beserta lilin didalamnya, ia mengarahkan lilin itu kedepan agar tidak salah langkah.
Tanpa sadar, kini dihadapannya ada sebuah pintu kayu dengan ukiran indah. Diambilnya kunci dalam saku celana, kemudian membuka pintunya.
Kriieet
"Gaara."
Tep
"Ikuti aku, Tou-san." dari sisi lain muncul Gaara dengan kemeja putih lengan panjang dan jeans berwarna hitam. Kazekage hanya diam dan mengikuti langkahnya. Lilin dicangkir telah mati.
Lagipula diruang bawah tanah tidak gelap. Hanya didalam ruang bawah tanah saja yang diterangi lampu disetiap dinding.
Saat sampai pada sebuah pintu dengan santai Gaara masuk bersama ayahnya. Kazekage duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sedangkan Gaara menyusuri rak buku dan mengambil salah satu buku setebal tiga centimeter kemudian duduk berhadapan dengan ayahnya. "Aku yakin, Tou-san sudah tau apa yang akan kita bahas disini." tukasnya. Kazekage mengangguk pelan.
"Hhh~ baiklah. Aku hanya ingin meminta izin pada Tou-san untuk melindungi pemilik darah dewa yang diincar oleh Uchiha." ucapnya tegas tanpa keraguan.
"Kau yakin, Gaara?" Kazekage khawatir bila anaknya itu terluka dan semacamnya. Ia hanya berharap Gaara tidak serius dengan ucapannya. Dan hal itu tak terjadi. "Aku yakin, Tou-san."
Iris mata Kazekage kini memancarkan kemarahan akan keputusan Gaara.
"Kau tidak tau Gaara! Nyawamulah yang kini menjadi taruhannya! Aku tidak akan me-"
"Bahkan jika para Uchiha ingin menghancurkan kita!?" teriak Gaara lantang. Ia tahu ia egois dengan membuat ayahnya khawatir. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak mungkin membiarkan para Uchiha itu mendapatkan darah dewa.
Kazekage menundukkan kepala hingga raut wajahnya tertutup rambut depan. "Aku... Hanya khawatir padamu, Gaara. Kau adalah peninggalan Karura. Kau adalah anakku. Ayah mana yang tega membiarkan nyawa anaknya dalam bahaya..." diam. Gaara terdiam mendengar gumaman ayahnya.
Ia tahu ayahnya begitu sayang padanya. Tapi, bolehkah kali ini ia egois?
"Tou-san, kumohon izinkan aku pergi. Onegai..." iris hazel Kazekage melebar. Baru kali ini ia melihat anaknya yang berharga diri tinggi itu memohon, ia mengambil nafas panjang untuk berusaha tenang dan memberikan keputusan tepat.
"Jika... Jika itu keinginanmu. Tou-san tak bisa menolak." jeda Kazekage.
Mendengar itu Gaara tersenyum.
"Tapi, kau harus memberikan penjelasan kenapa kau begitu ingin melindungi keturunan darah dewa itu." Gaara mengambil buku yang sejak tadi ia pegang dan menyerahkan buku itu pada ayahnya, "Disitu semua pertanyaan Tou-san akan terjawab." tanpa banyak bicara Gaara melenggang pergi meninggalkan ayahnya yang masih menatap buku ditangannya.
o0o0o0o0o0o0o0o
Pagi ini Konoha High School begitu ramai dengan teriakan para gadis. Dua pemuda tampan yang begitu mempesona, tak salah jika mereka berteriak histeris seperti itu bukan? Dua pemuda tampan itu adalah Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke, lengkap dengan seragan KHS yang membuat mereka begitu sempurna dimata perempuan manapun.
Itachi menebar senyum menawannya dan Sasuke hanya diam tak mempedulikan teriakan disekitarnya. Kakak beradik Uchiha itu berjalan ke pintu dengan tulisan "Headmaster Room's" dan masuk kedalam, tentunya setelah mendapatkan izin.
"Baiklah, Uchiha Sasuke akan menempati kelas XI-C sedangkan Uchiha Itachi dikelas XII-A." jelas Hiruzen, kepala sekolah KHS.
Itachi mengangguk tanda mengerti. Selang beberapa detik kemudian pintu terbuka menampilkan dua sosok berbeda gender. "Nah, mereka adalah wali kelas kalian. Hatake Kakashi, antarkan Sasuke-kun ke kelasnya. Mitarashi Anko, antarkan Itachi-kun ke kelasnya." jelas Hiruzen dengan senyum. Dan dibalas anggukan dari keduanya.
.
Sasuke berjalan dibelakang Kakashi tanpa bicara sedikitpun. Well, itu memang sudah trademark Uchiha mungkin?
"Nah, Uchiha-san kau tunggu diluar. Jika sudah Sensei suruh masuk, kau baru masuk dan kenalkan dirimu." diam. Kakashi menghela nafas, 'Kurasa masa mengajarku akan sulit dengan adanya seorang Uchiha.' batin Kakashi menderita.
Setelah Kakashi memasuki ruang kelas, semua murid sontak terdiam.
Hening...
Hening...
"GYAAAA KAKASHI-SENSEI TIDAK TELAT!? INI PASTI BENCANA! BENCANAAA!"
Pletak. "Inuzuka-san, kenapa kau begitu perhatian padaku sampai tahu aku sering telat?" dengan eye smile Kakashi yang 'ganjil' sudah membuat pemuda yang bernama Inuzuka Kiba terdiam dengan keringat dingin diwajahnya.
'Satu sekolah juga sadar bahwa Kakashi-sensei adalah si telat nomor satu!' batin seluruh murid XI-C. "Lupakan masalah itu. Sensei datang tepat waktu karena ada murid baru dikelas ini, sensei harap kalian dapat berteman dengannya.", "Uchiha-san, silahkan masuk."
Sregg
"Hajimemashite. Uchiha Sasuke desu."
"Kyaaaa tampaaann~"
"Sasuke-kun jadilah pacarkuuu~"
"KYAAAAAA~"
Kakashi menghela nafas. Ia makin berfikir jika kedepannya akan semakin sulit dengan adanya Uchiha Sasuke sebagai gula dalam kelasnya, dan para gadis sebagai semutnya. Owh, apa ia mulai berfikir yang aneh? Lupakan. "Baiklah Sasuke, silahkan duduk disamping Kiba." dan setelah itu kegiatan belajar tetap berlangsung walaupun para gadis lebih fokus pada Sasuke.
Ckckck, baru masuk sudah dapat fansgirl. Hebat kau Uchiha.
[NUMPANG LEWAT]
Naruto berlari dengan cepat, menembus sekumpulan manusia bergender perempuan yang tengah berteriak. Ia terus mengumpat dalam hatinya.
'Kenapa ramai sekali!? Aku lewat mana kalau begini!?' padahal rencananya ia akan kekelas Kiba dan mengajaknya untuk ke kantin seperti biasa tanpa hambatan. Tapi, untuk kali ini ia harus berjuang keras untuk mencapai niatnya itu.
Ketika menemukan celah, Naruto lekas menerobos mereka tanpa memperhatikan kedepan dan membuat ia terjatuh saat bertabrakan dengan seseoran. Cepat-cepat ia menunduk dan mengucapkan maaf. Dan berlalu pergi begitu saja.
Meninggalkan orang yang ditabrak. Uchiha Sasuke, pemuda yang ditabrak Naruto. Padahal jika saja Naruto menatap mata Sasuke, maka ia akan melihat mata onix itu berubah semerah darah. Walau hanya sekejap.
'Darah anak itu...
Terasa memabukkan.'
TBC
Mind to review?
