Halooo halooo reader-sama saya kembali lagi melanjutkan fanfic gaje ini. Maaf telah membuat reader semua menunggu lama, saya sempat sakit makanya tidak bisa melanjutkan fanfic. Tapi sekarang sasya sudah fit lagi dan siap membuat cerita lagi. Oke sebelum kita lanjut saya balas review dulu ya.
Lucia Michaelis : Arigatou ya reviewnya Vivii-san. Nama kita sama haha. Haha baiklah slight sebasciel akan hadir seiring berjalannya cerita, mohon tunggu ya.
Lolexis : Yo! Lolexis-kun ini udah di lanjut haha. Makasih di bilang ceritanya lucu. Kamu juga lanjut ficmu dong.
Chernaya Shapochka: haha iya karena aku juga suka Claude Alois, oke oke akan berusaha aku perbaiki typonya ya hehe. Makasih reviewnya.
Baiklah ayo kita lanjutkan cerita ini…..
Kuroshitsuji by Yana Toboso
My bos, My boyfriend
Warning: OOC, Typo, Alur kecepetan, Bahasa kurang bagus, Romance kurang berasa dan berbagai ke kurangan lainnya.
Enjoy this story, don't like don't read
.
.
Chapter 2
Di sebuah ruangan yang tidak bisa di bilang kecil terlihat seorang lelaki bersurai hitam dan mempunyai iris mata berwarna emas juga memakai kacamata, sedang duduk di sebuah sofa berwarna ungu dengan di temani secangkir teh. Terlihat sekali kalau lelaki ini tengah beristirahat karena dia baru saja pulang dari Rusia untuk pekerjaan, tetapi sangat di sayangkan baru sebentar dia menikmati waktu beristirahatnya dia sudah diganggu dengan ketukan pintu yang berasal dari luar.
"Masuk," kata lelaki itu dengan nada datar khasnya.
"Sedang bersantai rupanya kau Claude," kata si pengetuk pintu ketika dia masuk dan melihat pria bernama Claude itu sedang duduk santai di sofa ungunya.
"Kau rupanya Sebastian. Kupikir siapa," Kata Claude tetap datar.
"Ya tentu saja. Jadi kau tidak mempersilahkan aku duduk?" Tanya Sebastian sambil tersenyum maklum menghadapi kelakuan teman seperjuangannya ini.
"Ya. Silahkan duduk," Kata Claude mempersilahkan Sebastian duduk. "Kau ada perlu apa mau repot-repot datang kemari?" Tanya Claude to the point.
"Hmm? Haha santailah sedikit Claude. Aku bahkan baru datang dan duduk tapi kau langsung bertanya seperti itu, seperti ingin aku cepat pergi saja dari sini," Kata Sebastian yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Claude.
"Hm" Jawab Claude dengan wajah datar. "Kau mau minum apa?" Tawar Claude pada Sebastian.
"Black coffee," Jawab Sebastian singkat.
Setelah beberapa menit mengobrol akhirnya Sebastian mulai membicarakan soal café dan percakapan yang dia dengar di café tersebut, Sebastian sengaja membuat obrolan santai seperti ini supaya tidak terlalu terbawa suasana serius dan tertular kekakuan Claude. Niat lainnya agar lebih mudah menggoda dan melihat ekspresi temannya ini ketika mendengar hal yang akan dia ceritakan. Sebastian memang senang sekali mengganggu temannya yang pelit ekspresi dan pelit kata ini Poor Claude.
"Oia Claude tidak kusangka ternyata kau terkenal juga ya." Kata Sebastian dengan senyum menawan yang terpasang di wajah tampannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Claude yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Sebastian.
"Yaaa.. tadi aku mampir sebentar ke cafemu sebelum ke sini dan tidak sengaja aku mendengar pembicaraan karyawanmu." Kata Sebastian dengan senyum penuh arti.
"Hmm?" Gumam Claude yang tidak begitu mengerti maksud Sebastian menceritakan hal seperti ini padanya.
Melihat ekspresi Claude yang tetap datar namun terpancar dari matanya kalau dia sangat kebingungan karena Sebastian menceritakan sesuatu yang mungkin menurut Claude tidak penting membuat Sebastian tidak tahan untuk tertawa. Tapi Sebastian tidak akan melakukan hal itu karena dia belum puas menjahili Claude.
"Ya tidak penting sih apa yang mereka bicarakan, tapi..." Kata Sebastian yang sengaja menggantung kalimatnya, terlihat sekali kalau Sebastian benar-benar berusaha membuat temannya ini penasaran.
"Tapi apa?" Kata Claude dengan nada penasaran dan sukses membuat Sebastian tersenyum geli karenanya. Melihat Sebastian seperti itu sukses membuat Claude kesal, "Berhenti bermain-main Sebastian." Kata Claude dengan nada datar dan aura membunuh di sekitarnya. Tapi bukan Sebastian namanya kalau takut dengan aura yang di keluarkan Claude.
"Hahahahaha." Bukannya menjawab Sebastian justru tertawa melihat Claude saat ini. "Baiklah baiklah. Tapi siapa orang yang mereka bicarakan…" Lanjut Sebastian dengan tetap tersenyum.
"Berhenti berbicara tidak jelas dan katakan saja intinya." Kata Claude dengan nada kesal yang sudah tidak bisa lagi di tahan karena kelakuan Sebastian.
"Dasar kau ini tidak bisa santai sedikit apa?" Kata Sebastian dan meminum coffee-nya dengan santai. Membuat Claude semakin kesal dan menunjukan ekspresi mengerikan.
"SE-BAS-TI-AN!" Kata Claude mengeja nama Sebastian dengan nada mengerikan.
"Ap.." Melihat ekspresi Claude yang mengerikan bukannya takut Sebastian justru bertepuk tangan dan sempat-sempatnya memfoto Claude yang berwajah layaknya shinigami. "Wajar saja ya ada gosip tentang kau di café mu itu. Kenyataannya juga kau seperti iblis sih hahahahaha…" Kata Sebastian dan dilanjutkan dengan tawa geli yang mampu membuat kaum wanita ataupun pria terpesona.
"Gosip apa? Kenapa kau tertawa?! Sebastian jawab pertanyaanku dengan benar!" Teriak Claude yang mulai terpancing ke isengan Sebastian.
"Gosip yang mengatakan bahwa pemilik Latte Café mempunyai matanya tajam, wajahya seram dan senyumnya seperti pembunuh." Jawab Sebastian dengan santainya setelah berhasil mengendalikan tawanya.
"Siapa yang menyebarkan gosip seperti itu?" Kata Claude dengan nada mengerikan.
"Ntah. Aku hanya mendengar ini dari percakapan dua orang karyawanmu di café itu." Kata Sebastian lalu menyeruput coffee-nya yang tinggal setengah. Tidak memperdulikan wajah Claude yang sudah kembali ke mode datar.
SKIP TIME
"Hmm.. mmh.. aakh! Ciel pelan-pelan" Terdengar ringisan Alois dari kamar miliknya.
"Diamlah Alois. Kalau kau melawan terus ini tidak akan selesai dengan cepat." Kata Ciel.
"Ah.. ah.. Ciel pelan-pelan!" Teriak Alois pada Ciel.
"Kau ini berisik sekali! Jangan berteriak seolah aku melakukan hal buruk padamu!" Kata Ciel kesal.
"Tapi ini sakit sekali Ciel. Kau tidak merasakannya, coba kalau kau di posisiku kau juga pasti berteriak tau!" Kata Alois tidak kalah kesalnya dengan Ciel.
"Inikan salahmu sendiri." Kata Ciel dengan cuek sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.
Oke, aku tau reader-sama pasti bingung apa yang terjadi sampai-sampai terdengar suara nista yang membuat para reader-sama berpikir kearah Rate M. Tenang saja saya tidak akan melakukan hal seperti itu pada dua bocah manis ini dan merubah pairnya menjadi CielAlois haha. Baiklah mari kita lihat saja apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai bisa terdengar suara nista itu dari Alois.
Flashback On
Minggu pagi di kediaman Phantomhive terlihat Ciel sedang berada di dapur membantu ibunya yang sedang membereskan piring setelah sarapan tadi.
"Ciel tolong cuci piringnya ya, ibu mau ke supermarket dulu membeli bahan makanan." Kata Rachel ke pada anak semata wayangnya itu.
"Baik bu." Kata Ciel patuh.
Rachel pun meninggalkan rumah dan pergi ke supermarket. Sedangkan ayahnya telah pergi setelah sarapan karena ada janji dengan temannya.
"Cieeeeeeeel.. Cieeeeeeeeeeel" Terdengar suara cempreng dan suara gerabak gerubuk seperti orang yang baru turun dari tangga dengan terburu-buru.
"Apa? Kau tidak perlu berteriak-teriak seperti ada kebakaran begitukan Alois?" Kata Ciel heran dan langsung menampakan dirinya dari dapur.
"Ini penting Ciel! Kau harus… aaaaaaaaaah!" Kata-kata Alois harus terpotong dengan teriakan darinya karena dia tersandung yang membuat dia harus terjatuh dan mencium lantai.
"Alois!" Teriak Ciel panik dan langsung mendatangi Alois. "Alois kau tidak apa-apa? Dasar bodoh! Makanya jangan lari-lari seperti itu lihat sekarang kau terjatuhkan!" Kata Ciel pada Alois yang sedang meringis kesakitan karena terjatuh.
"Ciel aku jatuh bukannya ditolong malah di marahi." Kata Alois dengan mengerucutkan bibirnya yang membuatnya terlihat imut tapi tidak untuk Ciel.
"Berhenti merajuk seperti itu padaku Alois." Kata Ciel sambil memutar bola matanya bosan melihat kelakuan Alois.
"Iya iya. Sekarang tolong aku, kakiku terkilir Ciel." Kata Alois yang sedang menahan sakit di kakinya.
"Tch. Kau ini merepotkan sekali sih!" Gerutu Ciel sambil memapah Alois ke kamar.
Flashback off
Dan di sinilah mereka di kamar Alois. Terlihat Ciel yang sedang sibuk memijat kaki Alois dan Alois yang sibuk meringis ke sakitan karena pijatan Ciel. Jadi jelaskan kenapa ada suara-suara aneh seperti itu di kamar itu.
"Haaah kalau begini bagaimana aku bisa bekerja?" Kata Alois dengan nada frustasi, lalu tiba-tiba muncul ide cemerlang di kepalanya. Alois terus melihat Ciel dengan pandangan penuh arti.
Merasa di perhatikan dengan intens Ciel pun mengangkat kepala melihat Alois yang terus memperhatikannya dengan pandangan yang sulit di artikan Ciel.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Kata Ciel dengan wajah horror yang terus di perhatikan oleh Alois.
"Ciel kau mau ya menggantikanku bekerja di café sementara, kau tau kan dengan kaki begini aku tidak akan bisa bekerja dengan baik." Kata Alois dengan suara dan wajah yang sok di melas-melaskan.
"Tidak!" Tolak Ciel tanpa basa-basi.
"Oh ayolah Ciel, bantulah sahabatmu yang sedang kesusahan ini." Kata Alois yang semakin mendramatisir keadaannya.
"Alois kakimu hanya terkilir bukannya patah." Kata Ciel sedikit kesal dengan sahabatnya yang satu ini.
"Oh ayolah Cieeeel.. kali iniiii sajaaaa.."Kata Alois tetap keras kepala.
"Sekali tidak tetap tidak." Kata Ciel cuek dan berniat meninggalkan Alois di kamar.
"Kau jahat Ciel. Aku selalu menuruti apapun kemauanmu dan selalu meladeni keegoisanmu, bahkan kalau kau memarahiku aku tidak pernah melawan. Tapi sekarang aku hanya ingin meminta bantuan padamu saja kau menolak dan tidak mau menolongku. Sebenarnya kau anggap aku ini apa Ciel? Jangan-jangan aku memang tidak ada artinya untukmu, jangan-jangan aku hanya beban saja untukmu, atau kau memang tidak pernah menyukaiku dan hanya terpaksa bersahabat denganku?" Kata Alois sambil menundukkan kepalanya dengan nada suara orang yang akan menangis.
"Tch. Baiklah-baiklah akan kubantu kau! Jadi berhenti membuat dirimu seolah telah kusiksa seperti itu!" Kata Ciel akhirnya, bukannya termakan dengan akting Alois hanya saja Ciel paling benci kalau Alois sudah membawa-bawa soal persahabatannya dan membuat Alois merasa kalau Ciel tidak menyukai Alois. Jujur saja dalam hatinya Ciel sangat menyayangi Alois dan sudah menganggap Alois itu saudaranya sendiri.
"AH! Benarkah?!" Kata Alois dengan nada ceria dan melihat Ciel dengan mata yang berbinar senang.
"Ya." Kata Ciel singkat yang mampu membuat Alois melompat kearahnya dan menghadiahinya pelukan maut.
"Terima kasih Ciel! Kau yang terbaik! Aku menyayangimu!" Kata Alois senang sambil terus memeluk Ciel.
"Hey hey! Alois lepaskan aku!" Kata Ciel yang berusaha berontak dari pelukan mematikan Alois.
"Hahahaha…ini bukti kalau aku menyayangimu Ciel." Ujar Alois sambil sedikit melonggarkan pelukannya.
"Ya, aku tau." Kata Ciel yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena perkataan Alois.
My Bos, My Boyfriend –
Sorenya Ciel pun langsung pergi menuju café tempat Alois bekerja. Sebenarnya Ciel malas harus melakukan pekerjaan seperti ini, tapi dia sudah berjanji pada Alois. Lagi pula dia tidak tega membiarkan Alois yang terkilir harus bolak-balik melayani orang. Bisa-bisa pekerjaannya tidak beres dan alhasil dia akan dimarahi. Sesampainya di café Ciel langsung menuju ruang ganti dan mengganti bajunya dengan seragam yang biasa Alois pakai. Agak sedikit kebesaran memang mengingat badan Alois yang lebih tinggi darinya, tapi toh itu tidak akan menghambat Ciel karena ukuran baju mereka yang sama. Cielpun keluar dari ruang ganti dan langsung di sambut Finnian.
"Waaah manisnya, kau pegawai baru ya? Perkenalkan aku Finnian panggil saja Fini." Kata Finnian bersemangat.
"Maaf aku bukan pegawai baru, aku hanya menggantikan Alois saja." Kata Ciel dengan nada datar.
"Eh? Menggantikan Alois? Ada apa dengan dia? Apa dia sakit? Sakit apa dia? Lalu apa hubunganmu dengan Alois sehingga Alois mempercayakanmu untuk menggantikannya di sini?" Tanya Finnian bertubi-tubi pada Ciel.
"Iya. Kakinya terkilir dan menyebabkan dia tidak bisa berjalan. Aku sahabatnya." Jawab Ciel singkat.
"Oooh begitu. Oia kau belum memperkenalkan dirimu, siapa namamu?" Kata Finnian tetap dengan nada cerianya.
"Ciel Phantomhive. Kau bisa memanggilku Ciel." Kata Ciel.
"Oke Ciel. Kau terlihat manis ya seperti Alois tapi sayang kau terlihat dingin berbeda dengan Alois yang selalu terlihat ramah, jangan berwajah seperti itu pada pelanggan ya. Nanti mereka tidak senang dan akan memarahimu." Kata Finnian dengan cerewetnya. Membuat Ciel sebal karena di bandingkan dengan Alois.
"Ya." Kata Ciel singkat dengan nada sebal yang tidak berhasil dia sembunyikan.
"Ah! Maaf Ciel apa ada perkataanku yang membuatmu sebal?" Kata Finnian yang mengetahui Ciel seperti tersinggung dengan kata-katanya.
"Tidak. Aku hanya tidak suka di banding-bandingkan dengan Alois itu saja." Kata Ciel yang cukup takjub pada kepekaan orang di depannya ini.
"Maaf aku tidak sengaja." Kata Finnian dengan nada menyesal dan kepala yang tertunduk kebawah.
"Sudahlah tidak usah merasa seperti itu. Aku sudah tidak apa-apa kok." Kata Ciel sambil menepuk pundak Finnian.
"Ah iya, Baiklah ayo kita bekerja. Ah ada pelanggan!" Kata Finnian yang langsung ceria dan menyambut tamu dengan senyum riang yang sukses membuat Ciel terheran-heran di buatnya.
Tidak mau berlama-lama keheranan karena melihat kelakuan Fini, Ciel pun ikut bekerja dan melayani para pelanggan yang datang. Awalnya semua berjalan lancar sebelum seorang pelanggan sukses membuat Ciel kesal karena bertindak kurang ajar padanya.
"Ini silahkan tuan." Kata Ciel yang berusaha ramah pada orang yang menjadi pelanggannya.
"Wah wah kau manis juga bocah, setelah ini mau menemani paman keluar tidak?" Kata orang itu dengan seriang mesum yang terukir jelas di wajahnya yang sudah tua, yang sukses membuat Ciel harus menyembunyikan kejijikannya.
"Maaf, saya masih banyak pekerjaan. Permisi." Kata Ciel yang berusaha tetap mempertahankan keramahannya.
"Hei mau ke mana? Sombong sekali kau ya!" Kata lelaki tua itu langsung menggengam tangan Ciel dengan erat.
"Tolong lepaskan tangan saya!" Kata Ciel yang sebentar lagi akan mengamuk.
"Ayolah tidak perlu malu-malu begitu. Aku akan membayarmu dengan bayaran yang besar nanti, kau mau berapa tinggal minta saja padaku." Kata lelaki tua itu sambil dengan kurang ajarnya menyentuh bokong Ciel.
"BRENGSEK!" Kata Ciel yang reflek mendorong lelaki itu sampai jatuh duduk di kursinya, tidak puas hanya dengan mendorong Ciel pun menyiram lelaki tua itu dengan minuman yang barusan dia ambil dari meja.
"Kurang ajar kau bocah!" Kata lelaki itu naik pitam dan hendak memukul Ciel.
Reflek Ciel menutup matanya dan memposisikan tangannya menyilang didepan wajahnya sebagai bentuk perlindungan jika dia dipukul, beberapa detik Ciel menutup matanya dia tidak merasa tanda-tanda sakit telah di pukul. Bingung dengan hal itu Ciel pun membuka matanya perlahan dan melihat seseorang tengah berdiri tegap membelakanginya. Karena orang itu lebih tinggi dari Ciel jadi Ciel tidak bisa melihat kedepan dengan jelas dan hanya bisa menatap punggung orang itu saja. Sebuah pertanyaan menyadarkan Ciel dari rasa terkejutnya.
"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya orang yang menolong Ciel.
"Iya, aku tidak apa-apa." Jawab Ciel datar.
"Maaf tuan sebelumnya atas ke tidak nyamanan ini, tapi yang pegawai kami lakukan adalah bentuk perlindungan diri karena kekurang ajaran Anda memperlakukannya." Kata orang itu sambil melihat sekilas kearah Ciel.
"Aku tidak melakukan apapun. Pegawaimu yang menggodaku tadi." Kata lelaki itu menyalahkan Ciel.
"Apakah itu benar?" Tanya orang sambil menolehkan kepalanya melihat Ciel.
"Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak menggodanya, justru dia yang seenaknya memaksaku untuk pergi dengannya dan dengan kurang ajar menyentuh bokongku!" Kata Ciel yang kini sudah berada disamping orang yang membelanya dan menunjuk orang tua itu dengan tidak sopan.
"Tidak sopan sekali kau!" Kata orang itu yang kesal karena tingkah Ciel yang menunjuk-nunjuk dirinya dengan kurang ajar.
"Percayalah padaku, tuan!" Kata Ciel membela dirinya.
"Baiklah aku percaya padamu. Maaf tuan, Anda bisa pergi dari café ini dan tolong tidak usah kembali lagi. Kami tidak akan merasa rugi kehilangan pelanggan seperti Anda." Kata lelaki itu dengan senyum mengerikan.
"Cih! Brengsek!" Kata lelaki tua itu dan langsung pergi meninggalkan café itu.
"Terima kasih sudah menolongku, tuan." Kata Ciel.
"Tidak apa-apa itu sudah menjadi kewajibanku." Kata lelaki itu sambil membungkukan badannya. "Perkenalkan namaku Sebastian Michaelis." Kata lelaki itu yang ternyata adalah Sebastian.
"Aku Ciel. Ciel Phantomhive." Kata Ciel sopan.
Tidak berapa lama datanglah Claude yang bingung melihat kekacauan di cafénya.
"Ada apa ini Sebastian? Kenapa caféku kacau begini?" Kata Claude yang langsung menginterogasi Sebastian.
"Tenang dulu, Claude. Tadi ada pelanggan yang mau melakukan pelecehan pada pegawaimu. Dia membela diri dan menyiram lelaki tua itu dengan air, setelah itu aku mengusirnya." Kata Sebastian menjelaskan apa yang tadi sudah terjadi.
"Oh begitu, jadi kau pegawai yang diganggu itu?" Kata Claude yang langsung menengok kearah Ciel.
"Iya, tuan. Ah, sebelumnya aku minta maaf sudah membuat ke kacauan seperti ini, tuan." Kata Ciel sambil melihat kekacauan yang telah dia buat.
"Iya tidak apa-apa." Kata Claude dengan nada datar.
"Oia baru kali ini aku melihatmu. Apa kau pegawai baru?" Tanya Sebastian yang heran karena baru pertama kali melihat Ciel.
"Ah bukan, aku bukan pegawai, aku hanya menggantikan temanku yang bernama Alois untuk bekerja di sini. Apa Anda pemilik café ini?" Jawab Ciel yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Bukan bukan. Pemilik café ini adalah dia." Kata Sebastian sambil menunjuk Claude.
"Jadi sakit apa temanmu? Sampai kau harus menggantikannya segala." Kata Claude meminta penjelasan pada Ciel.
"Kaki temanku terkilir sehingga dia sulit untuk berjalan, dia memintaku untuk mengizikannya dan meminta tolong padaku untuk menggantikannya dulu." Jelas Ciel pada Claude.
"Siapa nama temanmu?" Tanya Claude.
"Alois Trancy." Jawab Ciel singkat.
"Baiklah, lain kali jangan membuat kekacauan seperti ini. Kau cukup berteriak saja dan akan ada security yang mengusir penganggu keluar." Kata Claude pada Ciel.
"Baik tuan, sekali lagi maafkan aku." Kata Ciel sekali lagi.
"Hm…" Setelah menjawab Ciel, Claude pun kembali keruang kerjanya.
"Maafkan dia ya, dia memang orangnya seperti itu tapi sebenarnya dia bos yang baik kok. Buktinya dia tidak memarahimu kan?" Kata Sebastian sambil tersenyum pada Ciel.
"Iya, baiklah tuan aku permisi aku harus membersihkan kekacuan yang sudah kubuat ini. Permisi." Kata Ciel dan langsung pamit menuju dapur.
Sepeninggaln Ciel Sebastian terus memperhatikan Ciel, terlihat sekali kalau Sebastian tertarik pada Ciel.
Sementara itu di ruang kerjanya Claude terlihat tengah sibuk dengan dokumen data diri para pegawai. Sepertinya Claude sedang mencoba untuk menghafal seluruh pegawai yang bekerja di cafénya ini, sebagai bos yang baik tentu dia harus hafal wajah dan nama setiap pegawainya bukan?
"Ah, laki-laki ini." Kata Claude sambil memperhatikan satu data diri yang namanya baru saja dia dengar.
"Jadi anak ini yang bernama Alois Trancy, anak yang menarik dan sepertinya dia tipe periang." Kata Claude tanpa sadar kalau dia tengah tersenyum-senyum sendiri karena melihat foto pegawainya yang bernama Alois.
TBC
Maaf bersambungnya gaje banget ya*Reader: Iyaaa*pundung di pojokan. Maaf juga fanfic ini updatenya lama banget, karena saya sempat sakit dan ide yang macet. Tapi saya dengan amat sangat memohon reviewnya dan kritik yang membangun dari reader sama sekalian. Agar saya bisa lebih semangat lagi mengerjakan lanjutan fanfic gaje ini. Kalau pun tidak ada yang review saya bakalan tetep ngelanjutin fanfic ini*dibacok*. Oke sekali lagi terimakasih untuk reader dan silent reader yang udah mau baca fanfic gaje ini. Dan sekali lagi saya tekankan MOHON REVIEWNYA YAAAAAAAAAAAAA#maksa*digergaji grell*.
