PINTU CAHAYA
Mereka berdiri berderet mengenakan pakaian hitam, mereka seperti sedang menghadiri pemakaman seseorang. Edmund menyadari bahwa ia tidak ada disana dan ia langsung gemetaran, ia menyadari sesuatu yang sangat menyakitkan dan menyedihkan.
Ia telah mati.
Peter dan yang lainnya kembali ke Cair Paravel kemudian Susan dan Lucy memilih untuk pergi ke taman bersama lalu duduk di kursi dengan air mata yang masih berlinang sementara Peter berjalan menyusuri lorong-lorong panjang di Cair Paravel sampai akhirnya ia menemukan Caspian berada di istal kuda sendirian. Peter mengambil langkah ke arah Caspian dengan cepat kemudian ia menghantam wajah Caspian hingga wajah Caspian tersentak ke samping.
"Kau membunuhnya!"seru Peter dengan suara keras sambil menatap Caspian yang memegangi rahangnya.
"Aku tidak membunuh Edmund!"balas Caspian.
"Oh, ya?"tanya Peter dengan marah"Jika saja kau tidak meminta Edmund untuk menyerang prajurit itu dari belakang maka Edmund pasti masih hidup sekarang!"
Edmund tidak memperhatikan ketika Aslan menyentuh kembali permukaan air yang membuat bayangan di permukaan air itu menghilang. Edmund menatap Aslan dengan mata yang berair, ia tidak tahu harus apa sekarang. Ia melihat saudara-saudaranya dalam guncangan jiwa yang berat, ia melihat Caspian yang dipersalahkan atas kematiannya. Walaupun ia tahu bahwa Narnia sudah aman dan para pemberontak sudah berhasil dienyahkan namun para Raja dan Ratu dalam kedukaan besar.
"Putra ku"kata Aslan pelan tanpa berpindah dari posisinya semula"Kau sudah melihat apa yang terjadi pada mu sekarang"
"Aku mati"sahut Edmund dengan suara parau. Ketika ia mengatakan kalimat itu tiba-tiba bayangan momen-momen ketika ia masih hidup menyeruak memasukan pikirannya.
"Di dunia itu kau meninggal, Edmund. Namun disini, kau baru saja lahir kembali"balas Aslan dengan bijak.
"Apa ini surga?"tanya Edmund.
Aslan menggeleng, "Ikuti aku, Edmund"
Edmund mengikuti Aslan yang berjalan menjauhi danau lalu menyusuri hutan lebat tadi dan muncul di padang rumput hijau. Mereka terus berjalan hingga tiba di pantai dengan pasir putih dan bebatuan raksasa yang berdiri kokoh di tepi pantai. Edmund mengikuti Aslan berjalan terus menyusuri pasir pantai dan mereka berakhir tidak jauh dari pantai tersebut.
Aslan mengangguk ke arah sebuah taman yang letaknya tepat di tengah laut. Edmund agak tidak percaya ketika melihat taman itu namun Aslan memecahkan lamunannya dengan suaranya.
"Disana lah kau akan berakhir jika kau sudah menyelesaikan masalah mu di bumi, Nak"kata Aslan.
"Maksud mu?"tanya Edmund.
"Kau lihat bagaimana keadaan saudara-saudara mu dan Caspian sekarang. Mereka belum bisa melupakan mu dan mereka sama sekali tidak merelakan kematian mu. Hal itu yang membuat mu tidak bisa melewati air ini, Nak"
"Jadi apa yang harus ku lakukan?"tanya Edmund"Apa aku harus kembali ke Narnia lalu menemui mereka?"
Aslan hanya mengangguk pelan.
"Bagaimana caranya?"tanya Edmund lagi.
Aslan memalingkan wajahnya ke sebelah kanan lalu menghembuskan nafasnya. Sesaat setelah itu sebuah pintu terbentuk, pintu yang bersinar dengan gagang pintu yang terbuka dan dari tempatnya berdiri, Edmund bisa melihat cahaya-cahaya yang amat menyilaukan ada di balik pintu itu.
"Lewat sini, Edmund"kata Aslan pelan sambil tersenyum"Lewat sini dan setelah itu kau akan tiba di Cair Paravel"
Edmund diam sesaat, ia menatap Aslan dan Aslan mengangguk padanya dan memberi isyarat agar Edmund masuk ke pintu menggunakan kepalanya. Edmund menarik nafas kemudian mengambil langkah pertama memasuki pintu ketika ia berada di dalam pintu tiba-tiba pintu itu tertutup dengan halus.
Edmund merasa tubuhnya ditarik oleh kekuatan yang besar. Ia tidak dapat kesempatan untuk menarik nafas sedikit pun, ia melihat angkasa berwarna biru gelap dengan sinar-sinar bintang yang menghiasi lalu ia melihat cahaya bergerak cepat di sekelilingnya sama seperti yang ia lihat beberapa waktu lalu. Dari kejauhan ia melihat sosok seorang pria sedang berdiri membelakangi dirinya lalu Edmund menujulurkan tangannya bermaksud untuk menyentuh pria itu karena ia mengira pria itu adalah Peter namun ketika tangan Edmund menjangkau tubuh pria tersebut tiba-tiba cahaya yang amat terang muncul dan membuatnya tidak bisa melihat apapun.
Edmund membuka kedua matanya setelah merasa cahaya di sekitarnya cukup normal. Ia terhenyak ketika melihat wajah salah satu pelayan di Cair Paravel menatap dirinya dengan tatapan khawatir. Ia ingat benar wanita yang menatapnya bernama Ashilinn, Ashilinn bukan pelayan namun kepala pelayan di Cair Paravel.
"Syukurlah kau siuman, Xavier "kata Ashilinn girang.
"Xavier, aku Xavier? Astaga, tidak!"Edmund menjerit dalam hati kemudian ia melompat dari ranjang dan berjalan ke arah cermin.
Ia tercengang ketika melihat bayangannya di cermin. Ia masuk ke tubuh Xavier begitu keluar dari pintu itu. Ia memandangi bayangannya dengan syok, ia menyentuh pipinya kemudian menatap Ashilinn yang masih duduk di tepi ranjang.
"Kenapa aku bisa disini?"tanya Edmund dengan tegang.
"Kau pingsan tadi, kau pingsan ketika kau mengawasi Yang Mulia Lucy. Semua orang panic begitu kau jatuh bahkan Yang Mulia Lucy pun menjerit ketika melihat kau tergeletak di taman"
Edmund menatap dirinya di cermin. Ia agak bersyukur karena ia masuk ke tubuh Xavier yang merupakan pelayan pribadi Lucy jadi ia bisa lebih mudah dekat dengan Lucy.
Tiba-tiba pintu kamar terketuk. Ashilinn berdiri lalu membuka pintu dan Edmund melihat Lucy berdiri di depan pintu kemudian Lucy melangkah masuk ke kamar. Edmund menahan diri untuk berlari ke arah Lucy lalu memeluk adik bungsunya itu karena jika ia lakukan itu maka kiamat akan menghantam dirinya.
"Yang Mulia"kata Ashilinn sambil membungkuk memberi hormat.
Lucy mengangguk kemudian menatap Xavier yang sebenarnya adalah Edmund, "Bagaimana keadaan mu Xavier?"
"Sudah membaik, Lucy"jawab Edmund.
Ashilinn memelototi dirinya.
"Eh, maaf! Maksud saya Yang Mulia Lucy!"Edmund segera memperbaiki kesalahannya sebelum Ashilinn mengambil tindakan.
"Rasanya kau belum membaik"Lucy menggelengkan kepala"Beristirahat lah, aku bisa berjalan-jalan sendiri"Lucy berbalik menuju pintu.
"Oh, tidak, Yang Mulia! Saya sudah sehat, saya bisa menemani anda jalan-jalan"Edmund melangkah mendekati Lucy.
"Oh, baiklah kalau begitu. Mari kita keluar"Lucy tersenyum dan mendahului Edmund berjalan.
Edmund menghela nafas kemudian ia mengikuti adiknya berjalan dan menatap punggung adiknya. Ia menebar pandang ke seluruh sudut Cair Paravel. Ia melihat sosok Peter menuruni tangga dari lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Edmund melihat ada yang berubah dalam diri Peter.
Wajah Peter jadi terlihat lebih tua dan lelah, tubuhnya makin kurus dan matanya berkantung seperti kurang tidur. Jika Edmund masih hidup hal yang akan ia lakukan pada Peter adalah menariknya keluar dari ruang kerja lalu mengajaknya berkuda keluar Cair Paravel untuk istirahat namun yang terjadi sekarang adalah ia masih bisa melihat Peter namun sebagai Xavier bukan Edmund.
Peter merasa amat lelah setelah peperangan melawan pemberontak Miraz. Ia mengurusi daerah-daerah Narnia yang hancur karena ulah pemberontak, memberikan keputusan akan diberi hukuman apa pengikut Miraz namun ada satu hal yang membuatnya benar-benar lelah, sedih, marah dan kecewa.
Kematian Edmund.
Kematian Edmund adalah penyebab utama dari semua ini. Jika Edmund tidak mati saat pertempuran maka Peter yakin ia tidak akan jadi selelah dan merasa sangat tua seperti sekarang. Terkadang Peter suka berdiam diri lama-lama di kamar Edmund, ia membayangkan sosok adiknya yang duduk di ranjang sambil mengomel karena stress mengurusi politik atau ia membaca jurnal Edmund yang Edmund sembunyikan di balik lantai kayu kamarnya.
Dulu ketika Edmund masih hidup, Peter sama sekali tak punya nyali untuk mengambil jurnal itu sekalipun ia tahu dimana letaknya namun ketika Edmund telah tiada, ia mengambil jurnal itu sambil meminta maaf dalam hati dan mulai membacanya. Ada saat-saat ketika Peter tertawa membaca jurnal itu namun ada pula saat ketika ia menangis membaca tulisan-tulisan Edmund di jurnalnya.
Bagi Peter hanya ada satu orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian Edmund, satu-satunya orang yang jika bisa mempertahankan dirinya sendiri maka ia tidak akan menyebabkan kematian adiknya.
Caspian.
Peter menghajar Caspian di istal kuda beberapa saat setelah pemakaman Edmund. Ia menghantam wajah Caspian hingga wajah Raja itu berdarah namun ia sama sekali tidak peduli karena yang ada di pikirannya hanya satu, yaitu pertanggung jawaban Caspian atas kematian adiknya.
Peter tidak berbicara dengan Caspian setelah insiden pemukulan itu. Ia bahkan tidak sudi bertemu dengan Caspian, ia akan meminta Mr. Tumnus –si faun –untuk menemui Caspian kalau ada urusan yang mengharuskan Peter bertemu dengan Caspian. Untungnya Mr. Tumnus mengerti akan perasaan Peter dan bersedia menggantikan Peter sampai Peter siap bertemu dengan Caspian lagi.
Peter sedang menuruni tangga menuju aula utama Cair Paravel ketika ia melihat Lucy berjalan diikuti Xavier –pelayan pribadinya –menuju pintu keluar. Peter mempercepat langkahnya ke arah Lucy.
"Lucy!"seru Peter.
Lucy berbalik kemudian langsung menghambur ke pelukannya, "Peter!"
"Mau kemana, sayang?"tanya Peter sambil melepas pelukan adiknya kemudian menatap Lucy.
"Mau jalan-jalan sebentar bersama Xavier"
Peter baru menyadari bahwa Xavier menatapnya dengan tatapan yang amat berbeda dari biasanya ketika ia menatap Xavier.
"Pagi, Yang Mulia"sapa Xavier lebih dulu sambil membungkuk.
"Pagi, Xavier"balas Peter singkat sambil tersenyum.
Lucy mendekati Peter kemudian masuk lagi ke pelukan namun tanpa sengaja pengan Peter menyenggol mahkota Ratu adiknya hingga jatuh ke lantai.
Xavier lebih dulu berjongkok kemudian meraih mahkota yang tergeletak tak jauh darinya kemudian memegangnya dengan kedua tangan, "Yang Mulia Lucy, silahkan" Xavier menyerahkan mahkota itu ke Lucy tanpa berdiri namun berjongkok dengan bertopang pada lutut kanannya.
Peter memperhatikan gaya Xavier yang berbeda dari hari biasanya. Biasanya ia berjongkok lalu menyerahkan mahkota itu ke Lucy sambil setengah berjongkok dan menundukkan kepala namun sekarang ia merubah gayanya.
Mirip dengan gaya Edmund.
Hanya Edmund yang membungkuk seperti itu setiap kali memasangkan Lucy mahkotanya dan tidak ada yang bisa meniru itu dan sekalipun ada tidak akan sama persis.
Peter menyadari bahwa Lucy juga terpana seperti dirinya ketika memperhatikan Xavier berjongkok. Matanya membesar dan bibirnya setengah terbuka dan dengan tatapan yang tak teralihkan dari Xavier, Lucy menerima mahkota itu dan memasangnya di kepala.
"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa nanti sore, Peter"Lucy melambaikan tangan kemudian berjalan pergi.
Peter berjalan keluar aula dan tiba di halaman. Ia bertemu dengan Susan yang sedang membaca buku di atas bangku taman disaat yang bersamaan Peter melihat Caspian berjalan ke dekat Susan. Peter mempercepat langkahnya untuk mendahului Caspian mendekati Susan.
"Susan"Peter memanggil Susan bersamaan dengan Caspian yang berdiri di sebelah kanan Susan dan Peter di sebelah kiri Susan yang masih duduk.
Peter menatap Caspian. Ia menatap Caspian dengan marah. Susan menoleh ke arahnya dan Caspian bergantian. Caspian menunduk kemudian berjalan mundur setelah Peter menatapnya dengan sarkatis dan terlihat tidak ingin ia ada di dekat Susan atau Lucy.
"Peter"kata Susan pelan sambil beranjak dari kursi "Sampai kapan kau akan terus begitu pada Caspian?"
"Sampai dia membayar kematian Edmund"jawab Peter dingin.
Susan menarik nafas panjang, "Kau masih berpikir dia yang menyebabkan kematian Ed?"
"Kalau ia tidak meminta Ed menyerang prajurit itu dari belakang maka Ed pasti masih bisa bersama kita sekarang"
"Kau mau terus-terus memusuhi Caspian seperti itu?"tanya Susan lagi"Kau mau melakukan itu seumur hidup mu? Caspian belum tentu orang yang menyebabkan Edmund meninggal, ia bahkan tidak menyangka bahwa prajurit itu akan berbalik lalu menusuk Edmund. Kau mau memusuhi Caspian sampai kapan?"
"Susan!"seru Peter marah"Kau membela dia? Kenapa? Kau cinta padanya!"
Susan tercengang. Peter tersenyum masam, ia tahu persis bagaimana perasaan Susan pada Caspian.
"Ya, kau membelanya karena kau mencintainya, aku tahu itu. Kau akan terus membelanya, aku tahu"Peter mengangguk.
"Aku membelanya bukan karena itu!"seru Susan marah sambil mengambil langkah mendekati Peter"Pernah kah kau berpikir bahwa kematian Edmund disebabkan oleh takdir! Takdir sudah menghendaki umur Edmund hanya sampai 19 tahun! Edmund meninggal karena Tuhan sudah menyurati seperti itu! Tidak ada yang bisa dan harus disalahkan atas kematiannya! Pernah kau berpikir seperti itu, Peter?"
Peter tercengang, ia tidak bisa berbicara, lehernya terasa seperti dicekik.
"Tidak pernah, kan?"jerit Susan lagi"Kau menyalahkan Caspian atas kejadian ini! Caspian tidak pernah bermaksud membunuh Edmund!"
"Tidak! Ini memang salah Caspian! Seandainya ia bisa mempertahan diri sendiri, Edmund tidak akan turun membantunya dan terbunuh! Ia yang harus bertanggung atas kematian Ed! Kita bisa mencegah hal yang buruk terjadi! Dan yang seharusnya Caspian lakukan adalah berusaha sendiri bukannya meminta Edmund membunuh prajurit itu untuknya!"
Susan tidak menjawab lagi. Ia mengambil buku yang ia baca dari kursi lalu berlari meninggalkan Peter. Peter memandangi adiknya dengan perasaan yang terguncang berat.
