I do not own the story, original story belong to taedaebae (AFF)

"The S Name"

Chapter 1: I doubt that.


Siang yang cerah, ketika sebagian besar orang sibuk bekerja, Luhan malah memilih untuk berkeliling kota dan bersenang-senang. Bagi Luhan, bersenang-senang artinya pergi menemui seorang peramal di Gangnam

"Kau akan bertemu dengan belahan jiwamu."

"Kapan? Kapan? Omo!"

"Segera."

"Segera itu kapan?"

"Aku tidak tau! Yang jelas segera!"

"Aku tidak sabar menunggu kapan 'segera' ini akan terjadi~!"

"Ugh. Diamlah. Aku sedang berkonsentrasi."

"T-Tapi… Bolehkah aku melakukan victory dance dulu? Kau bilang aku 'akan menemuinya segera' jadi aku harus menunjukkan kebahagiaanku! Sekarang!"

"Tidak bisakah kau diam sebentar, tuan? Aku sedang bekerja sekarang! Kau ingin mengetahui keberuntunganmu atau tidak?"

"A-Aku ingin tau."

"Kalau begitu diam!" Dia kembali memegang tangan Luhan, yang sudah ia pegang selama tiga puluh menit.

Setelah beberapa waktu…

"Aku bisa merasakannya… Namanya diawali dengan huruf S, dan namanya mengisyaratkan kesenangan." Wanita tua itu berkata sambil menggosokkan telapak tangannya pada telapak tangan Luhan. Matanya tertutup sambil membisikkan mantra yang tak terdengar. Untuk beberapa alasan, Luhan sangat tertarik dengan peramal ini, teknik meramalnya sangat unik –menurut Luhan.

"Kesenangan? Maksudmu sex?"

Wanita tua itu melepaskan tangannya dan menatapnya dengan tatapan kosong, bibirnya membentuk garis tipis.

"Aku bilang namanya mengisyaratkan kesenangan."

"Mungkinkah itu… YEHET SEX?!"

Peramal itu menatapnya datar. "Itu… terdengar menarik. Aku hanya bilang namanya berkaitan dengan kesenangan, dan tolong… hilangkan bagian 'sex' nya tuan." Ia memegang tangan Luhan lagi.

"Tapi aku disini ingin tau tentang kehidupan sex ku di masa depan." Luhan mengerucutkan bibirnya dan mendongak melihat wanita tua itu sedang menyeringai menatapnya.

"OHHH SEX?!" Luhan berteriak. "Aku pasti benar kan? Kan?" Dengan beberapa petunjuk dari wanita itu, Luhan yakin 50% bahwa ia telah menebak dengan benar. Wanita tua itu menjitak kepala Luhan dengan keras. Luhan mengelus jidatnya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Bodoh! Ya Tuhan! Kenapa anak muda zaman sekarang sangat mesum?!" Dia berkata sambil memutar bola matanya. Ia menjatuhkan tangan Luhan dan mengetuk bola kristal besar di depannya.

"Well, tidak ada yang ingin mati dalam keadaan virgin, jadi sex itu penting." Luhan mengangkat bahu sambil mengawasi sang peramal yang sedang melakukan gerakan tangan yang aneh.

Sambil merapal mantra, matanya terbuka tiba-tiba, mengagetkan Luhan.

"F*ck, kau mengagetkanku!" Katanya dengan lebay, ia memegang dadanya dan tersengal seperti seorang idiot.

"Jaga kata-katamu, anak muda! Aish, bocah sekarang, sangat tidak sopan. Ah, aku dapat melihatnya… belahan jiwamu memiliki tahi lalat di lehernya dan-"

"DAN… itu artinya dia suka dicium di leher? Oh my god, aku suka memberikan kissmark-" Luhan memotong perkataan wanita tua itu dengan pertanyaan gilanya.

"Aku tidak peduli!" Ia meraung sambil memberi death glare pada Luhan dan mulai mengelus bola kristal untuk kedua kalinya.

Ia menutup matanya lagi. "Biarkan aku menyelesaikan ramalanku dulu, bocah!"

"Aku hanya memberi respon." Luhan menggumam.

"Aku mendengarmu!"

"Oh ayolah. Ahjumma, lakukan saja pekerjaanmu."

Sang peramal memutar bola matanya dan mendecakkan lidahnya. Ia menutup matanya lagi, setelah beberapa detik alisnya mengernyit. "Uhhhhh… Aku bisa melihat…sesuatu yang besar, panjang-"

"OHHH! AKU SUDAH MULAI SUKA PENISNYA! BESAR DAN PANJANG~" Ia bertepuk tangan seperti orang bodoh. Tentu saja, siapa yang tidak mau sesuatu seperti penis yang besar, panjang dan tebal? Tidak ada.

"ARGH! AKU MENYERAH! PERGI DARI SINI KAU BOCAH MESUM!" dengan marah sang peramal mendorong Luhan keluar dari stannya. Dorongannya membuat Luhan kehilangan keseimbangan dan terjatuh menabrak pejalan kaki yang lewat.

Luhan merintih kesakitan, mencoba berdiri. Ia menindih seseorang. Orang asing dibawahnya bergerak. Ia menatapnya, menelusuri lekuk wajahnya.

Dan ia terpesona.

Sepasang mata yang menatap bosan, hidung mancung yang sempurna, tulang pipinya, oh dan bibir pink nan tipis itu. Jangan lupa rahangnya yang tajam yang bahkan bisa mengalahkan tajamnya silet. (LOL)

Wajahnya adalah simbol kesempurnaan tapi…

Mata Luhan melotot melihat sesuatu di bawah rahangnya.

Sebuah tahi lalat.

Di lehernya yang jenjang.

Tepat seperti apa yang dikatakan peramal tadi.

Mungkinkah…

Dia belahan jiwanya?

GOD! Peramal itu hebat, benar-benar hebat! Ramalannya langsung terjadi tepat setelah ia keluar dari stannya. Luhan benar-benar kagum dengan kemampuannya. "Aku akan merekomendasikan peramal ini kepada Baekhyun."

Sebelum Luhan dapat melakukan sesuatu –seperti memeluk namja itu dan melakukan sesuatu yang dapat membuatnya mendesah, namja asing itu pergi tanpa menoleh pada Luhan. Menyedihkan. Bagaimana ia akan mengenali wajah cantik… uhm wajah tampan Luhan maksudku, jika mereka bertemu lagi?

Luhan berlari mengejarnya, menabrak pejalan kaki lain tanpa meminta maaf. Luhan menatap punggung seksi namja itu sampai ia menghilang di tengah kerumunan.

Bahkan punggungnya saja terlihat sangat- seksi!

Mereka akan bertemu lagi. Mereka harus bertemu lagi. Luhan akan memastikannya.

...

"Secepat itu?!" Baekhyun menyesap kopinya sebelum mengalihkan pandangannya ke namja bersurai brunette yang duduk di depannya.

"Yeah, itulah takdir, adikku. Seperti trailer film, kau tau? Momen berhargaku dengan kekasih masa depanku itu seperti film yang belum rilis, tapi aku bisa mengintip film itu sebelum tayang! Aaaah~ Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi!" Luhan menggengam tangannya, mendesah, bunga-bunga khayalan bermekaran di belakangnya.

"Trailer? Bodoh. Kau tau, aku berani bertaruh kau akan menunggu sampai rambutmu memutih dan kau tak akan bertemu dengannya lagi. Maksudku, kecil kemungkinan kau akan bertemu dengannya. Bagaimana kalau dia bukan orang yang tinggal di sekitar sini? Bagaimana kalau dia sudah menikah dan punya keluarga? Ayolah, jangan pikirkan masalah takdir sialan ini. Tidak ada gunanya." Baekhyun bersandar sambil memutar bola matanya.

"Jahat. Kau cuma tidak percaya akan kekuatan cinta, takdir dan nasib! Lagipula, dia terlalu muda untuk punya keluarga. Dan~ kalaupun dia punya pacar, ayolah Baekkieee! Siapa yang akan menyia-nyiakan aku yang tampan ini?" Luhan mengedipkan matanya, Baekhyun berpura-pura ingin muntah melihatnya.

"Omong kosong." Ia memutar matanya. "Dan please, aku tidak butuh cinta. Aku tidak mau pacaran. Aku punya kau, perusahaan dan keluarga kita. Hal itu sudah cukup untukku."

"Kau akan memakan kata-katamu segera, Baek."

"Aku tidak takut." Baekhyun terkekeh.

"Kau akan menyesal mengatakannya! Lihat saja nanti!"

Baekhyun mengangkat bahu. "Coba saja."

"Hmp. Ngomong-ngomong, aku berharap akan bertemu namja itu segera –aku ingin menjilat lehernya, memberikan blowjob paling hot, memuaskannya –OUCH!" Baekhyun menjitak kepala Luhan; oh my god, hyungnya benar-benar mesum.

"Bodoh! Hentikan. Untung saja Kyungsoo tidak disini, kalau tidak dia bisa membunuhmu." Baekhyun berkata sambil berharap Luhan akan mendengarkannya. Ia tau, Luhan takut pada Kyungsoo.

"Duh, dia sedang sibuk di rumah sakit."

"Kau beruntung." Baekhyun berkata pada Luhan yang sedang mengerucutkan bibirnya.

"Aku tidak bisa menahannya! Namja itu punya bokong yang seksi, rambut blonde berantakan yang seksi, dan wajah datar yang seksi." Luhan berkata sambil membayangkan wajah namja itu.

"Yeah, yeah, aku sudah mendengarkan hal itu berkali-kali."

"TAPI! Lihat saja nanti! Sekali kau melihatnya secara langsung, kau akan ngiler." Luhan menggembungkan pipinya.

"Kau membicarakan dirimu sendiri, hyung."

Luhan adalah kakak Baekhyun. Umurnya 23 tahun, tapi kepribadiannya seperti berumur 3 tahun dengan tubuh seperti remaja berumur 16 tahun. Luhan merupakan senior di Universitas terkenal di Seoul. Dengan otak yang jenius, Luhan menyelesaikan kuliahnya dua tahun lebih awal dan sekarang sedang mengambil double degree dengan jurusan sepakbola, olahraga favoritnya.

Byun Baekhyun di adopsi dari panti asuhan oleh keluarga Lu pada umur 4 tahun. Ia dirawat dengan penuh cinta dan kasih sayang, seperti keluarga yang sebenarnya. Baekhyun selalu bersifat protective terhadap hyungnya. Luhan sering di bully oleh anak lain, dan itu membuat Baekhyun sakit hati. Ia tak suka melihat hyungnya tersakiti. Ketika umurnya 8 tahun, Luhan di diagnosa menderita asma kronis, membuat Baekhyun menjadi semakin protective dan peduli pada Luhan.

Baekhyun bekerja keras dan tak pernah menyesal mengabdikan diri pada hyungnya. Ia tau Luhan tak bisa mengambil peran sebagai pewaris tahta perusahaan ayahnya, jadi ia mengambil alih. Yeah, Luhan terlalu kekanakan untuk menjadi pimpinan perusahaan.

"Bagaimana flat yang aku belikan untukmu, hyung?"

"Ohhhh~ yang itu? Aku menyukainya!"

"Benarkah?"

"Yeah! Ranjang yang empuk dan boneka yang besar. Benar-benar hebat, Baekhyuniee~"

Baekhyun tersenyum. Ia bahagia melihat senyum hyungnya. Ia ingin membuat hyungnya selalu tersenyum.

"Kapan kau akan pindah? Aku sudah membersihkan dan mengaturnya untukmu. Kau hanya perlu membawa barang pribadimu kesana."

"Nanti. Aku sudah mengepak barangku. Apakah kau tidak apa sendirian di rumah ini?" Luhan berdiri dan memeluk Baekhyun. Ia memeluknya dengan erat, menghirup aroma manly yang menguar dari tubuhnya. Luhan merasa damai di pelukan Baekhyun. Baekhyun menyisir rambut lembut Luhan dengan jari-jari lentiknya, ia terbiasa melakukannya ketika Luhan- ah, dia tak mau mengingat kenangan buruk itu lagi.

"Aku baik-baik saja, hyung. Jangan khawatir. Kau mau aku mengantarmu ke apartemenmu?" Ia bertanya. Luhan mendongak dan tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya.

"Aniya, aku bisa naik taksi. Aku sudah cukup dewasa untuk bepergian seorang diri!" Ia memeluk Baekhyun dengan erat, meyakinkannya kalau ia bisa. Baekhyun menyerah. Ia tidak bisa berkata tidak pada Luhan, tidak ketika Luhan menggunakan aegyonya yang mematikan.

...

Luhan meninggalkan Baekhyun sendiri di ruangannya, dengan tumpukan kertas yang menunggu untuk ditandatangani. Baekhyun meletakkan dagunya diatas lengannya, berpikir dan mengkhawatirkan hyungnya. Berdebat dengan dirinya sendiri, apakah membelikan hyungnya apartemen adalah keputusan yang tepat atau keputusan paling buruk sepanjang masa.

Teleponnya berdering, mengalihkannya dari lamunannya. Ia menggerutu sebelum menjawab. "Hello."

"Hai, cantik." Suara berat dan mengerikan menyapa telinganya; Baekhyun dapat membayangkan namja itu sedang tersenyum lebar, menunjukkan giginya, menambah kesan menyeramkan.

"F*CK YOU! APA YANG KAU INGINKAN?!" Baekhyun meraung.

Namja ini penguntitnya. Benar, dan ini membuatnya sangat jengkel.

"No, I'll f*ck you, baby. Aku hanya ingin mendengar suara-"

Baekhyun tidak membiarkannya menyelesaikan omongannya. Ia membanting telponnya, memutuskan hubungan telpon. Ia memijat keningnya. Stress tentang pekerjaan, khawatir pada hyungnya yang tinggal sendiri dan sekarang ia harus memikirkan cara untuk menghentikan penguntit gilanya.

...

Setelah memeriksa tasnya dua kali, Luhan memanggil taksi untuk membawanya ke kompleks apartemen. Ketika mereka sampai di tempat tujuan, ia memberi drivernya seratus dollar sebelum pergi. Ia tidak menunggu driver itu memberikannya kembalian, ia menganggap itu adalah hadiah untuk lelaki tua itu, karena telah membawa Luhan sampai tempat tujuan dengan selamat.

Ia memasuki kompleks dan disapa oleh resepsionis di area penerima tamu. Ia menjatuhkan tasnya di lantai lift dan memijat lengannya. Ia telah membawa tiga tas besar ini sejak ia memasuki kompleks. Ia menekan nomor lantainya, menunggu bunyi 'ding' yang menandakan bahwa ia telah sampai di tempat tujuan.

'Ding'

Ia menyeret tasnya keluar dari lift. Benar-benar berat. Kau tau, ia sangat kurus seperti tongkat dan sepertinya tulangnya akan patah kalau ia memaksakan diri mengangkat barang bawaannya.

Tanpa melihat sekelilingnya ia terus menyeret barang bawaannya sampai ia menyadari bahwa ada seseorang yang melangkah ke dalam lift. Ia melirik orang tersebut. Terpaku, berdiri dengan mata lebar menatap pintu lift yang menutup pelan.

Rambut blonde, rahang tajam, tubuh tinggi dan kulit pucat. Ia menatap Luhan dengan tatapan bosan sambil memasukkan tangannya ke dalam sakunya. Ia mengangkat alisnya melihat Luhan.

Ah- dan jangan lupakan tahi lalat di dekat jakunnya, Luhan langsung mengenali namja di dalam lift itu. Ia meneguk ludahnya.

Belahan jiwanya…


TBC


Ah, semoga readers mengerti apa yang saya tulis di atas ;;
Kalau belum paham tunggu saya update chapter 2 besok(?)

Btw, Pasti udah pada tau semua kan, siapa belahan jiwanya luhan? :3
Luhan mesum ya, konyol XD
Ah, sekian.
Thanks for review, follow and fav.
Tunggu chapter 2 nya ya~