My Wish

Summary : hidup dengan seseorang yang mirip dengan mu tapi sebenarnya bukan kembaran mu melainkan seseorang yang muncul dari permintaan mu atau lebih tepatnya 'dibuat' dengan reaksi ilmiah? (maaf tidak bisa bikin summary).

Warning : gaje, typo, aneh, OOC

Rated : T

Ganre : friendsip, famiy(?), action, supranatural

Boboiboy milik Animonsta studio saya hanya meminjam charanya saja

Jika berkenang silakan baca ^_^

o0o0o0o

"Hei jangan di pikirkan, kan masih ada kami" hibur Tanah dengan senyum ramahnya

"Benar kami sudah berjanjikan akan menemani mu" Petir pun ikut menghiburku

"Iya terimakasih" balasku dengan senyum, Tanah dan Petir sepertinya sudah tidak mencemaskan ku dan mereka pergi ke dapur mungkin akan mengambil cemilan dan minum, saat mereka pergi aku membayang-bayangkan saat dimana masih baik-baik saja walau ada kesedihan dan kesepian tapi tidak sesepi sekarang tapi aku berterimakasih karena mereka masih ada bersama ku, mereka adalah kenangan terakhirku bersama dengan orangtua ku sekaligus mereka peninggalan sekaligus kunci dari rahasia terdalam kehidupan ku ini.

o0o0o0o

"Ayah Ibu, kalian dimana?!" teriak ku saat mencari-cari sosok yang aku teriakkan, tak menemukan keberadaan mereka dalam lorong gelap dan dingin aku terus berlari untuk mencari mereka, saat aku melihat cahaya kecil aku mempercepat lariku dan saat aku hampir mendekat tiba-tiba tubuhku terasa tenggelam dan aku langsung melihat sekeliling dan langsung kudapati diriku berada dalam sebuah tabung dengan cairang berwarna merah yang aku tau ini bukan cairan darah, saat aku berusaha menerobos untuk memecahkan kaca tabung tersebut ku dapati sosok dengan menggunakan mantel laboratorium tersenyum ke arahku dan itu bukan senyuman bahagia atau senyuman yang lembut melainkan senyuman kejahatan

"Akhirnya kau ku temukan" kata orang tersebut dengan senyumannya yang jahat itu dan muncul sebuah suntikan yang besar memasuki tabung ini, arah suntukan ini tertuju padaku dan dalam waktu beberapa detik suntikan itu sudah menusuk kekulit ku, rasa sakit yang hebat berserta dingin bercampur menjadi satu, teriakan yang tak bisa kukeluarkan membuatku hanya bisa menahan sakit ini dengan menggigit bibirku dan memejamkan mataku

'kemana dia' batinku bertanya setelah kubukakan mataku lagi dan mendapati sosok tadi menghilang begitu saja beserta suntikan itu, diriku yang masih berada dalam tabung ini tak bisa melakukan apa-apa sampai sesosok lain datang menghampiriku, wujudnya tidak terlihat karena tertutup bayangan

"Mereka datang" serunya dengan nada datar

'siapa?' tanya batinku mungkin tidak akan terdengar olehnya

"Masa lalu mu" jawabnya kembali, aku terkejut saat mendengar jawaban itu

'masa laluku?' tanyaku dalam hati dengan banyak pertanyaan lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu-satu, tak ada jawaban dari sosok itu saat aku menunggu jawaban darinya tiba-tiba ada batu besar yang datang entah dari mana membuat tabung yang berisi diriku ini pecah, aku terjatuh dengan dikelilingi oleh pecahan kaca dan saat aku melihah ke depan aku melihat ada segerombolan yang wujudnya tertutup oleh bayangan yang tersenyum jahat kearah ku

'siapa mereka?' tanya ku dalam hati, sampai ada sebuah suara yang membangunkan ku

"Hei bangun sudah pagi" sebuah seruan terdengar dan saat ku membuka mata kulihat sosok yang mirip dengan ku, dia menggunakan topi dan jaket berwarna sama denganku hanya saja topinya dihadapkan ke depan

"Petir? Selamat pagi" seruku dengan wajah setengah sadar

"Pagi" balasnya dengan singkat "Cepat siap-siap dan langsung ke bawah" lanjutnya dengan wajah datar dan langsung keluar kamar ku, saat kulihat sosoknya sudah keluar kamar langsung saja kulihat ke sekeliling kamar ku

'ternyata hanya mimpi' seruku dalam hati dan langsung saja aku turun dari kasur dan langsung bersiap-siap

o0o0o0o

Setelah diriku siap aku langsung menuju ke bawah tak lupa ku gunakan topi dan jaket kesayanganku, saat sudah sampai di bawah diriku disambut dengan teriakan yang sangat hebat

"PAGI BOBOIBOY!" teriakan penuh semangat terdengar dari Angin

"Pa-pagi Angin" jawabku sembari menutup telingaku dan tersenyum tipis

"Bagaimana tidurmu nyaman? Atau kau mimpi hantu? Atau mungkin kau mimpi Papa Zola?" tanya Angin bertubi-tubi

"Tenanglah Angin, kalau kau bertanya sebanyak itu Boboiboy jadi bingung harus jawab yang mana dulu" sebuah teguran terdengar dari sosok yang mirip dengan ku bahkan cara menggunakan topinya juga mirip dengan ku hanya saja warna jaket dan topinya berwarna merah

"Iya Tanah, aku hanya ingin bertanya saja" balas Angin pada Tanah dengan wajah cemberut dan Tanah hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil

"Hehehe tenanglah Angin, aku tidurnya nyaman hanya bermimpi aneh" balasku sambil menahan tawaku ini

"Mimpi aneh? Mimpi apa itu?" tanya Angin penasaran dan langsung dilihat oleh Tanah bahka Petir yang sendari tadi diam pun langsung melihat kearah ku

"Bukan hal yang penting, tenang saja" jawab ku tenang

"Kau mimpi Papa Zola?" tebak Angin asal

"Bukan, buat apa aku mimpi karakter game itu" jawabku dengan sedikit malas, Angin yang sepertinya masih ragu mulai melihat ku tajam seperti mencari-cari hal apa yang aku mimpikan tadi

"Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita makan dulu kasihan Tanah dan Petir menunggu" seruku agar Angin tak memikirkn mimpi konyol itu.

Saat kami makan suasana begitu tenang hingga sebuah suara memecahkan keheningan ini

"Hei kita pergi jalan-jalan yuk!" ajak Angin dengan wajah gembiranya

"Ide bagus itu, kita sudah lama tidak pergi bersama" Tanah menyetujui usul Angin, aku hanya bisa melihat tingkah mereka dengan diam

"Malas" seru Petir singkat, padat, dan jelas dengan wajah datarnya yang langsung dilihat oleh Tanah dan Angin sedangkan aku sebenarnya menyetujui jawaban dari Petir entah kenapa hari ini aku tidak mau keluar rumah, sedangkan Angin dan Tanah langsung berusaha mengajak Petir untuk ikut mereka

"Ayolah Petir kita pergi bersama, sudah lama tidak main diluar" bujuk Angin dengan wajah memohon

"Benar kata Angin jarang kita punya waktu luang seperti ini" seru Tanah membantu Angin diikuti tatapan memohon yang sepertinya tidak mempan pada Petir, aku hanya bisa berdiam diri melihat tingkah mereka ini tanpa ku sadari mulutku sudah mengeluarkan senyum tipis dan ku putuskan untuk mengakhiri keributan ini

"Sudahlah kalian ini" seruku dan langsung dilihat oleh mereka

"Baiklah kita pergi saja hari ini" lanjutku dengan senyum tipis di wajahku yang langsung dibalas wajah berseri dari Angin

"BENARKAH?!" teriak Angin tidak percaya yang dibalas anggukan kecil dari ku, ku lihat wajah Tanah menampilkan senyuman karena senang sedangkan Petir hanya menampilkan wajah datarnya

"HORE...!" teriak Angin "Terimakasih Boboiboy, kau memang terbaik" lanjutnya sambil tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya dan ku balas dengan senyum kecil

"Jadi kita mau kemana?" tanya Tanah dan langsung saja Angin memikirkan tempat-tempat yang asik

"Kebun binatang?" saran Angin dan langsung saja Petir menggeleng tidak setuju, sebenarnya aku juga tidak ingin ke sana terkesan seperti anak TK

"Game center?" saran Angin berikutnya dan langsung Tanah menggeleng tidak setuju pasti karena tempat itu terlalu menghambur-hamburkan uang

"Perpustakaan?" saran berikutnya "Eh jangan terlalu hening" sekaligus di bantah oleh Angin sendiri

"Jadi mau kemana?" tanya Petir dengan datarnya

"Nonton film bagaimana?" saran Tanah dan semuanya langsung mengangguk setuju sudah di putuskan kami akan ke bioskop untuk menonton, semua langsung bersiap-siap dan dalam waktu beberapa menit kami semua sudah siap dan langsung berangkat.

o0o0o0o

Dijalan Angin tak henti-hentinya bicara mulai dari acara tv, music, game dan lain-lain aku dan Tanah mendengarkan perkataan Angin sedangkan Petir mulai terlihat lelah mendengar semua omongan Angin yang tidak berhenti itu

"Apa kau bisa diam?!" seru Petir dengan nada kesal

"Tidak, aku tidak bisa diam" jawab Angin dengan senyum jailnya dan langsung dilihat dengan tajam oleh Petir

"Cih menyebalkan" seru Petir dengan wajah kesal

"Kau lebih menyebalkan" seru Angin tiba-tiba dan langsung dilihat oleh Petir ok bagus perjalanan ini akan panjang, aku hanya bisa melihat perdebatan mereka berdua yang tidak pernah berhenti tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dan saat ku lihat ternyata Tanah yang menepuk pundak ku denga senyum yang terpasang di wajahnya 'sabar tapi menyenangkan bukan?' itu arti senyuman Tanah menurut ku dan langsung ku balas senyumannya

"Kalian ini seperti anak kecil saja" tegur Tanah pada dua orang yang belum selesai berdebat itu

"Kayak kamu bukan anak kecil saja" seru Petir dengan wajah jengkel

"Iya kita masih kelas 5 wajar saja tingkah kita seperti anak kecil" balas Angin dengan senyum jailnya

"Maaf saja tingkah ku tidak seperti anak kecil" seru Petir pada Angin

"Eh? Bukannya tadi kau bilang kita anak kecil?!" balas Angin dengan wajah bingung

"Memang tapi bukan berarti sifat ku seperti anak kecil" balas Petir dengan wajah malas

"Kau sok tua jadi kayak Tanah" seru Angin dengan wajah jail

"Hei kita bukan sok tua" balas Tanah dan Petir bersamaan ok bagus Tanah jadi ikut berdebat dengan mereka, aku hanya melihat mereka berdebat dengan tersenyum kecil terasa memiliki keluarga yang menyenangkan.

o0o0o0o

"Kalian ingin nonton film yang seperti apa?" tanya ku pada Tanah, Petir, dan Angin

"Comedy dan romance" saran Angin dengan senyum berharapnya

"Pembunuhan dan action" saran Petir dengan senyum yang mengerikan

"Adventur dan mystery" saran Tanah dengan senyum lembutnya dan langsung saja mereka berdebat lagi

"Aku maunya comedy dan romence" seru Angin pada Tanah dan Petir

"Romance itu hal yang menjijikan kau tau dan comedy itu menyebalkan" balas Petir dengan nada kesal

"Romance dan comedy itu hal yang hebat tidak seperti action dan pembunuhan yang bikin merinding sedangkan Adventur dan mystery itu membuat bosan" balas Angin tak mau kalah

"Pembunuhan dan action itu hebat" balas Petir dengan nada makin kesal

"Sedangkan adventur dan mystery itu keren" balas Tanah juga, mereka pun makin berdebat hebat dan beberapa orang kelihatan kebingungan dengan tingkah mereka sedang kan aku hanya bisa berdiam diri dan beberapa kali bersikap tidak kenal mereka

"Kalo Boboiboy mau nonton film seperti apa?" seseorang bertanya pada ku dan kulihat dia adalah Tanah diikuti oleh Angin dan Petir

"Eh?! A-aku..." jawabku sembari berpikir "Kalo ada film yang seperti yang kalian inginkan saja" lanjutku dengan wajah ragu karena tidak mungkin ada film seperti itu

"Maksudnya?" tanya Angin bingung terkadang Angin itu termasuk lamban dalam pemikiran

"Maksudku kalo ada aku ingin nonton film bergenre comedy, romance, pembunuhan, action, adventur, dan mystery" jawabku dengan wajah kurang yakin

"Mana ada film seperti itu" balas Angin setelah paham

"Itu mustahil" seru Petir juga dengan wajah datar, sebenarnya aku juga kurang yakin ada film seperti itu dalam beberapa menit suasana menjadi hening hingga sebuah suara memecahkan keheningan itu

"Hei ternyata ada film seperti yang kita semua inginkan" seru Tanah tidak jauh dari tempat kami berada, aku, Petur dan Angin terkejut akan pernyataan Tanah dan dengan segera kami menghampirinya dan ternyata benar kata Tanah ternyata ada film bergenre campuran romance, comedy, pembunuhan, action, adventur, dan mystery

"Ternyata benar ada" seru Angin dengan wajah kaget dan bingung

"Jadi mau nonton ini saja?" tanya Petir pada yang lain dan otomatis kami semua mengangguk setuju.

Saat Tanah membeli tiket aku masih melihat gambar akan sampul film yang akan kita tonton saat kulihat gambarnya entah kenapa aku merasakan perasaan yang tidak enak mungkin karna ada ganre pembunuhannya atau ada hal lainnya.

o0o0o0o

Saat kami memasuki teater film kami beruntung mendapatkan posisi duduk di barisan tengah, saat kami sudah duduk dengan tenang kecuali Angin karena dia masih bergerak-gerak dengan semangat tidak jarang dia di pukul oleh Petir dan tidak jarang juga di tegur Tanah, beberapa menit kemudian lampu dalam teater mati dan film yang kami tonton sudah mulai film yang lumayan seru walau aku tidak bisa menikmati filmnya dengan tenang karena

"Aku tau kau bukan manusia tapi aku ingin menolongmu walau aku tidak bisa apa-apa" dialog sang pemeran perempuan dalam film dengan air mata yang keluar

"Aku tak mau mebahayakan mu untuk masalah ku ini" jawab sang tokoh laki-laki dengan menahan tangisan

"Huaaaa... kenapa harus berpisah, kalian itu cocok huaa..." sebuah tangisan terdengar dari bangku sebelah kananku dan kulihat Angin yang sedang menagis karna adegan tadi

"Cengeng" sebuah komentar yang ketus keluar dari Petir tapi Angin tidak mempedulikannya dia masih fokus pada film itu, saat adegan romancenya selesai ku pikir bisa menonton dengan tenang ternya

"Cih ternyata kau kuat juga" kata sang tokoh jahat pada lawan bicaranya

"Jangan remehkan aku" jawab sang lawan bicaranya, dan dimulailah adegan saling bertarung dan membunuh dengan gesit dan cepat

"Bagus tusuk dia, awas, iya tendang, lempar pedangnya bagus" seruan penuh semangat keluar dari Petir dengan senyum penuh kemenangan

"Tenanglah Petir" seru Tanah pada Petir tapi tidak di pedulikan oleh Petir yang masih terus melihat adengan penuh darah itu, saat adegan yang berbahaya itu selesai dan dimenangkan oleh sang tokoh jahat kulihat Petir yang hampir marah untung disana ada Tanah jadi dia bisa menenangkan Petir dan filmnya masih terus memulai dan suasana begitu tenang sampai adegan

"Kau yakin dia hilang disini?" dialog sang tokoh laki-laki lainnya pada seorang penjahat

"Benar orang itu menghilang begitu saja bagaikan bayangan, dia menghajarku dan tiba-tiba menghilang" jawab sang penjahat dengan badan gemetaran karena mengalami kejadian yang tidak normal

"Menurtku orang yang dia maksud bukan manusia tapi apa?" seru Tanah dengan pose berpikir dia seperti detectif yang sedang mendapatkan kasus dia terkadang mencatat peristiwa-peristiwa sebelumnya benar-benar detectif

"Bosannya" sebuah seruan keluar dari mulut Angin dan sama seperti mereka tadi Tanah juga tidak mempedulikannya dan masih fokus pada pikirannya sendiri

Sedangkan aku hanya menonton film itu dengan tenang walau terkadang ada adegan comedy nya aku masih bisa menahan tawa ku tidak seperti Angin yang tertawa sangat keras sampai harus di sumpal dengan kertas oleh Petir, semua adegan ku lalui dengan tenang sampai ada adegan yang membuat ku, Tanah, Petir dan Angin terkejut

"Kau cloning?!" dialog sang teman tokoh utama

"Benar, maaf aku tak memberitahu kau sebenarnya aku hanya cloning saja sedangkan tubuh asli ini sudah meninggal dari 1 bulan yang lalu, aku hanya ingin meneruskan kehidupan dia" jawab sang tokoh utama yang ternya seorang cloning

"Kau...apa yang menyebabkan dia meninggal?" tanya sang temannya dengan nada berusaha tenang

"Saat pembuata diriku saat dia berusia 15 tahun dia meninggal karena ke gagalan yang disengaja oleh orang tuanya" jawab sang tokoh utama

"Benarkah? Kenapa orangtuanya ingin membunuh anaknya sendiri?! Apa Kira sudah tau?" tanya sang teman bertubi-tubi

"Aku pun tidak yakin apa yang menyebabkan mereka ingin membunuh anaknya sendiri, sedangkan Kira sudah tau dia awalnya tidak terima tapi akhirnya dia menerima kenyataan ini" jawab sang tokoh utama menahan perasaan bersalahnya

Aku, Tanah, Petir, dan Angin kaget akan adegan yang baru saja tadi kami lihat, aku menatap layar bioskop dengan kaget yang memberitahu bahwa sang tokoh utama adalah 'cloning' dan yang membuat ku makin terkejut adalah sang orang aslinya sudah meninggal dan pelakunya adalah orangtuanya?!, Tanah, Angin, dan Petir langsung melihatku dengan wajah khawatir mungkin takut terjadi hal yang sama pada ku tapi ayolah ini film saja mana mungkin sama seperti di dunia nyata, aku pun langsung melihat ke arah mereka dengan wajah tenang

"Ada apa?" tanyaku pura-pura polos

"Jangan mati" seru Angin langsung pada intinya

"Ma-mana mungkin bisa tidak mati" jawabku bingung akan pernyataan Angin

"Benar juga, pokoknya jangan mati cepat-cepat" seru Angin dengan wajah makin khawatir

"Aku tidak jamin" balasku dengan nada malas karena pasti semua manusia di dunia ini meninggal tapi kita tidak tau waktunya

Akupun langsung melihat ke layar bioskop lagi diikuti Tanah, Angin, dan Petir tapi diriku tidak bisa fokus untuk menonton filmnya karena memikirkan banyak hal dan beberapa yang aku pikirkan ternyata ada dalam film ini oh ayolah jangan bilang kehidupan ku mirip dengan film ini.

Dan saat adegan sang tokoh utama masuk dalam sebuah ruangan yang isinya tabung-tabung berisi cariran merah diriku langsung membeku di tempat melihat tabung-tabung itu dengan wajah kaget dan tanpa ku sadari aku sudah mengeluarkan keringat dingin, dan tempat itu... mengingatkan ku pada suatu tempat di masa aku kecil dimana semuanya masih normal saja

Flash Back

Saat itu aku masih lima tahun, aku hanya seorang anak yang sulit untuk mengutarakan isi hatiku malah terkada aku diledek 'bisu' oleh murid-murid dikelasku malah diriku dijadikan bahan kekerasan mereka dan karena banyak yang takut pada anak-anak yang suka menyiksaku tak ada yang mau menolongku bahkan membelaku saja tidak ada, dunia yang kejam.

Saat murid-murid nakal memukul ku aku hanya bisa diam dan menerima pukulan mereka padahal itu di depan kelas, murid-murid lain hanya melihatku dengan wajah kasihan oh ayolah aku hanya ingin bebas dari ini bukannya ingin mendapatkan tatapan kasihan

"Tak ada yang mau berteman dengan anak bisu" seru salah satu anak nakal itu

"Benar, tak ada yang mau menolong anak sepertimu" seru temannya

"..." aku hanya bisa berdiam diri mendengar ledekan mereka, aku tak punya teman saudara pun tidak pantas diriku ini lemah dan menyedihkan tak ada yang bermain dengan ku tentu saja setiap orang mengajak ku bermain pasti aku akan menjawabnya terlalu lama karena terlalu senang saat orang lain bermain di rumahku pasti keesokan harinya mereka akan membicarakan aku karena rumahku yang aneh dan sedikit seram padahal itu bukan rumah hantu, pantas saja mereka tidak ingin bermain dengan ku.

Lima tahun kujalani hidupku dengan kesepian tanpa teman tanpa saudara tapi untung saja orangtua ku berkerja di rumah walau sibuk mereka tetap memperhatikan diriku, mereka cemas pada ku, mereka sayang padaku jika ada mereka diriku sudah cukup puas walau aku sedikit merasa kesepian, hingga suatu hari

"Boboiboy kau akan punya kakak yang akan menemani mu" kata Ibu pada ku saat aku sedang menonton tv

"Kakak?" tanyaku bingung akan pernyataan Ibuku

"Benar, kau akan punya Kakak yang akan melindungimu" jawab Ayah

"Kenapa tiba-tiba aku punya Kakak?" tanyaku masih bingung akan pernyataan Ayah dan Ibuku

"Karena kami tau kau selalu mendapatkan siksaan dari murid- murid di kelasmu dan kau selalu berdoa ingin mempunyai saudara bukan?" jawab Ibuku dengan senyum hamgatmya dan ku balas anggukan kecil

"Tapi untuk membuat Kakakmu itu kami harus memiliki darah mu Boboiboy" seru Ayahku

"Darah? Kenapa?" tanyaku dengan kebingungan

"Iya darahmu, Ayah dan Ibu memerlukannya agar bisa membuatkan Kakakmu yang sangat mirip dengan mu" jawab Ayah

"Mirip? Maksudnya?" tanyaku semakin bingung dengan pernyataan Ayahku

"Begini Ibumu sudah tidak bisa melahirkan lagi karena Ibumu sudah kelelahan jadi Ayah ingin membuat Kakak yang sempurna untuk kau Boboiboy dan untuk membuat Kakakmu kami memerlukan darah kau Boboiboy, kau bisa menyebutnya 'Cloning' bukannya kau ingin punya saudara?" jawab Ayahku sekaligus bertanya padaku

Aku hanya bisa mengangguk sedikit paham akan penjelasan Ayah ku ini dan mereka langsung membawa ku keruangan aneh yang tidak pernah aku tau kalo ruangan ini ada, Ayah ku menyuruhku duduk di atas tempat duduk yang lumayan nyaman dan besar dan dia membawa sebuah suntikan awalnya aku takut

"Tahan ya, ini tidak akan menyakitkan" kata Ayahku menenangkan diriku

Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak merasakan sakitnya suntikan itu dengan menutup mataku kuat-kuat dan saat aku membuka mataku kulihat Ayahku sudah selesai menyuntikku dan tersenyum kearah ku dan dia beranjak dari tempatnya tadi dan langsung menuju tempat ibuku, kulihat mereka sedang sibuk dan kulihat bekas suntikan itu ternyata sudah di tutup oleh kapas dan plaster, ku kembali melihat kedua orangtuaku itu yang tengah sibuk dengan urusannya dan kulihat ke sekeliling ruangan itu tampak sedikit gelap dan dingin tapi menghangatkan juga tempat yang benar-benar aneh

Saat kulihat kedua orangtuaku mereka sedang memindahkan sebuah tabung entah gunanya untuk apa, Ayah dan Ibuku seorang ilmuan yang cukup handal jadi aku percaya pada merek dan saat kulihat Ibuku dia sedang meracik sesuatu aku pun langsung turun dari tempat ku duduk dan berjalan menuju Ibuku

"Ibu sedang membuat apa?" tanyaku pada Ibu

"Ini? Ibu sedang membuat cairan pelengkap" jawab Ibu sambil tersenyum ramah

"Cairan pelengkap?" tanyaku bingung pada Ibu

"Nanti kau akan tau" jawab Ibu ku dan langsung saja dia ketempat Ayah yang sedang menyiapkan tabung-tabung tadi

Kulihat mereka berdua sedang membicarakan sesuatu entah itu apa saat kulihat kedalam salah satu tabung yang sudah terisi cairan merah mungkin itu dikarenakan darahku tampak sebuah gelembung-gelembung aku pun berjalan mendekati tabung itu aku mencoba menyentuh tabung itu dan kurasakan tabung yang dingin aku pun berdiam diri cukup lama dan saat kusadari ada sesuatu didalam tabung itu yang menyentuh kaca tabung dengan tempat yang sama sepertiku dan langsung saja kulihat dia aku hampir teriak karena kaget saat melihat makhluk yang ada dalam tabung itu yang mirip sepertiku hanya saja dia tidak sempurna.

Kulihat dia tidak memiliki dua tangan dan hanya memiliki satu saja, matanyapun berwarna hitam gelap, rambutnyapun berwarna putih tipis dan dia terlihat kurang gizi tapi dia berusaha tersenyum padaku dan aku hanya bisa membalas senyumannya itu dan dalam beberapa menit makhluk itu hancur didalam tabung tersebut dan otomatis aku langsung memanggil kedua orangtuaku

"Ayah Ibu, tolong kesini sembentar" teriak ku pada mereka dan mereka pun langsung berlari ke tempatku berada

"Ada apa Boboiboy?" tanya Ayahku dengan wajah cemas

"Ta-tadi a-ada makhluk yang hampir mirip denganku dan dia baru saja tadi hancur" jawabku dengan panik sambil menunjuk ke tabung yang berada di sebelahku ini

"Benarkah?" tanya Ayahku dengan wajah kaget dan ku balas dengan anggukan, Ayah ku langsung melihat ke dalam tabung itu dan mencatat sesuatu dan dia langsung melihat ke arah Ibuku dan mereka langsung tersenyum

"Ayah kita hampir berhasil, kita harus mencobanya lagi" kata Ibuku dengan wajah yang senang dan Ayahku langsung mengangguk untuk menjawab pernyataan Ibuku dan Ayahku melihat ke arahku yang masih berwajah kaget dan bingung

"Tenang Boboiboy kejadian ini sudah biasa, kau harus bersabar agar mendapatkan kakak yang sempurna" seru Ayahku sambil memegang kepalaku dan otomatis aku mengangguk, Ayah dan Ibuku langsung pergi ke tempat tadi mereka berada dan mulai bekerja lagi aku hanya bisa melihat mereka dan melihat ke tabung yang tadi hatiku sedikit takut tapi aku berusaha untuk tetap percaya pada kedua orangtuaku

Hari berganti hari, minggu berganti minggu tidak terasa sudah sebulan sejak kejadian itu, Ayah dan Ibu pun masih melanjutkan pekerjaannya dan sudah ada ratusan makhluk seperti diriku yang hancur dengan tubuh yang tidak sempurna seperti tidak memiliki kaki yang sempurna atau tidak memiliki tangan yang sempurna dan lain-lainnya, Ayah dan Ibuku sudah hampir pasrah pada eksperimen ini tapi setiap mereka melihat ke arahku mereka langsung terlihat sedih dan kembali bersemangat lagi entah apa yang mereka pikirkan.

Akupun memasuki ruangan itu lagi dan kulihat ada tiga buah tabung yang didalamnya terdapat makhluk yang sama seperti kemarin, akupun mendeka ke kedua orang tuaku yang tengah sibuk itu

"Boboiboy kenapa tubuhmu kotor sekali" tanya Ibuku setelah melihat penampilanku

"Hehehe maaf bu, tadi Boboiboy baru main sepakbola di lapangan dan beberapa kali jatuh ke tanah" jawabku dengan wajah malu dan Ibuku hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil

"Sana cepat mandi" perintah Ibuku dan langsung saja aku mengangguk, saat aku mau keluar dari ruangan itu aku melihat kedalam tiga tabung itu yang didalamnya memiliki makhluk yang sama seperti diriku dan aku langsung melihat mereka dan tiba-tiba mereka bertiga membuka matanya dan salah satunya tersenyum ramah padaku, yang satunya tersenyum lebar, dan yang satunya tidak menunjukkan ekspresi apapun aku hanya bisa melihat mereka dalam diam saja dan tiba-tiba terjadi sesuatu, sesuatu yang mengubah semuanya ini...

TBC(?)

A/N : hai minna ^^/ maaf baru bisa update, kemarin-kemarin banyak hal dan harus menghadapi ujian nasional -" jadi baru bisa update sekarang, maaf kalo kurang memuaskan saya lagi mentok ide hehehe tapi saya usahakan agar chapter kedepan lebih bagus sekali lagi maaf ya, akhir kata terimakasih dan tolong review