Chess and Domino
Chapter 2: Plank Chess
Disclaimer : KyuMin milik kalian. Selalu milik kalian yang mencintai mereka dan FF ini punya saya. Selamanya punya saya.
Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Kibum, Choi Minho, Shim Changmin, Kim Ryewook, Choi Soo Young, Kim Jaejoong, Yunho, Kim Jong Woon.
Rate : T
Summary : Takdir adalah sebuah tembok besar yang membuatmu bahagia sekaligus jatuh di saat yang bersamaan. Cinta adalah sebuah senjata penghancur tembok itu.
.
.
.
"Halmonii, aku berangkat sekarang."
"Apakah hari ini kau pulang malam?"
"Anniyeo Halmoni, Aku sudah berjanji akan menemani Halmoni malam ini"
"Geurae, yeosimae Minnie-ya"
Sungmin melambaikan tangannya ke arah Nenek Lee lalu dengan cepat berjalan ke arah halte bus. Sungmin tampak antusias jika mengingat akan hal yang akan dilakukannya bersama Halmoni nanti malam. Setiap seminggu sekali Sungmin membantu Halmoni membuat kimchi untuk persediaan, moment seperti itu hanya dia dapatkan seminggu sekali karena kesibukannya menyita banyak waktu.
Selama lebih dari dua puluh tahun ini dia hanya hidup bersama nenek Lee yang dia yakini adalah keluarga satu-satunya. Nenek Lee tidak pernah memberi tahu siapa Sungmin yang sebenarnya, hanya menceritakan kalau kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sewaktu dia masih kecil dan dia sempat terkena amnesia karena kecelakaan itu. Maka dari itu dia dirawat oleh Nenek Lee yang hanya seorang guru berpenghasilan rendah. Mereka berdua melewati banyak kesulitan hingga akhirnya Sungmin pindah dari Mokpo ke Seoul untuk mencari hidup yang lebih layak bersama neneknya. Sungmin mulai mencari pekerjaan saat dia melanjutkan sekolah SMA karena Nenek Lee Sudah tidak bekerja lagi, neneknya sering sakit-sakitan. Mungkin juga karena umurnya sudah lebih dari enam puluh tahun.
Sekarang Sungmin adalah seorang mahasiwa Universitas ternama di Seoul, dia bisa menjadi salah satu mahasisa arsitektur di sana karena mendapatkan beasiswa. Sungminlah yang bekerja keras setiap pulang kuliah bekerja menjadi pelayan di sebuah kafe bersama ke empat temannya Choi Minho, Shim Changmin, Kim Ryewook dan kim Jong Woon. Sungmin juga dikenal sebagai ketua klub 'Cherish and Confess' sesuai dengan namanya klub itu dibuat untuk membantu orang-orang yang ingin mengatakan cinta atau melakukan pengakuan apapun kepada orang yang spesial.
Sungmin menjalani hidupnya dengan ceria meskipun semua yang ada di hidupnya hanya kesulitan yang terus mengikuti, yang rasanya seperti tak pernah usai.
.
.
"Bagaimana kabar Klien kita kemarin?" tanya Minho
"Maksudmu Luhan? Dia sudah lebih baik sekarang. Setidaknya dia tidak harus memikirkan wanita itu sampai gila lagi" jawab Changmin
"Ah, tidak semudah itu bodoh! cinta bukan hal yang mudah dihapus dalam satu hari" Sungmin menambahkan
"Seperti kau sudah tahu cinta saja" sungut Minho. Sungmin melirik Minho dengan tatapan yang mematikan
"Aku memang tidak tahu, tapi setidaknya aku punya pikiran yang rasional tentang perasaan seseorang, tidak seperti kau berkali-kali bermain dengan wanita tapi hanya mengambil bagian yang menguntungkan untukmu saja" balas Sungmin sengit
Minho sudah siap-siap membuka mulut untuk membalas "Ya! kalian selalu saja ribut, aisshh membuat telingaku panas" teriak Changmin agak keras
"Kau yang memulainya Choi Minho" tambah Sungmin lagi
"Kau sangat sok tahu dengan hubungan percintaanku"
"Memang aku tahu, kau sengaja mengencani semua gadis agar kau bisa melupakan gadis itu tapi ternyata tidak kan?"
"Aissshh Lee Sungmin, tutup mulutmu"
"Ya!" Changmin menggebrak meja kafe dan membuat beberapa pelanggan menoleh
"Josonghamnida" Changmin seketika membungkuk
"Lee Sungmin, kau kenapa hari ini? tumben sekali kau cepat marah" tanya changmin yang aneh melihat kelakuan Sungmin
"Aku sedang kesal, seseorang menabrakku hingga maket buatanku rusak. Dia seenaknya mengatai maketku jelek, akhirnya aku batal bertemu dengan Dosenku."
Minho tertawa lebar "Hahaha, ternyata itu yang membuatmu kesal."
"Kau puas? Namja itu congkak sekali. Baru pertama melihatnya saja aku tahu dia orang yang sangat menyebalkan, lebih menyebalkan darimu Choi Minho"
"Hahaha akhirnya aku mempunyai teman untuk mengerjaimu Lee Sungmin"
"Diam kau!"
"Sudahlah, jangan membuat malu. Kemana Wookie? Sejak tadi tidak kelihatan" tanya Changmin
Sungmin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe "Entahlah, sejak tadi aku tidak melihatnya."
"Semenjak Yeye Sunbae mengatakan dia akan pergi ke Paris, sejak itu pula dia sering murung. Kau tahu sesuatu antara mereka Minnie-ya?"
Sungmin kontan menggelengkan kepalanya "Mana aku tahu, aku tidak berbakat mengurusi urusan orang lain"
"Berarti memang ada sesuatu, Lee Sungmin mana mungkin tidak menyadari sesuatu yang terjadi di sekelilingnya apalagi Wookie"
"Ya! berhentilah memojokkan aku, kalaupun aku tahu aku tidak akan memberi tahu kalian!"
Sungmin pergi meninggalkan dua mahluk yang menurutnya sangat aneh lalu menghela nafas panjang jika mengingat betapa kerasnya tangisan Wookie waktu itu.
..
*Flashback*
"Aku mencintai Yeye Sunbae Minnie-ah.. selama ini aku berfikir aku rela terus-terusan menjadi pengagum rahasianya karena bisa dekat dengannya saja sudah menjadi kebahagiaanku, tapi sekarang dia akan pergi"
"Wookie-ya, jangan menangis lagi.."
"Aku harus bagaimana Minnie?" isak Wookie
"Kau harus kuat, atau kau mau mengungkapkan perasaanmu pada Sunbae?"
"Mana mungkin Minnie-ya, Yeye selama ini hanya menganggapku adiknya saja"
"Tapi setidaknya dia harus tahu perasaanmu yang sebenarnya, buatlah pengakuan perasaanmu lewat klub ini"
"Kau gila"
Sungmin tertawa lebar "Sudah, jangan menangis lagi"
"kau janji akan merahasiakan ini kan Minnie-ya?"
"Tentu saja, kau pikir aku teman macam apa?"
"Gomawo Minnie"
Wookie memeluk Sungmin dengan erat, Sungmin masih tertawa geli jika mengingat bagaiamana wajah Wookie yang sembab dan langsung berlari memeluknya begitu mendengar Yeye akan pergi ke Paris
*flashback end*
.
.
Sungmin melangkahkan kakinya dengan riang ke arah kelasnya yang akan di mulai beberapa saat lagi, hari ini kuliahnya dimulai siang hari. Jadi sejak tadi dia menghabiskan waktu paginya di Kafe, supaya dia bisa pulang cepat hari ini.
Sungmin melihat sosok yang baru di kelasnya dan begitu dia ingat siapa orang itu amarahnya langsung naik. Dia mendekati namja stoic yang sedang duduk santai sambil membaca sebuah novel.
"Ya! mau apa kau di sini?" Tanya Sungmin sambil sedikit menggebrak meja Kyuhyun
Kyuhyun menutup bukunya dengan pelan lalu menatap Sungmin tajam "Kau lagi! memang tak punya sopan santun sekali kau"
"Kau yang lebih dulu mencari masalah denganku hingga akhirnya aku tidak bisa menyelesaikan maketku"
Kyuhyun tersenyum licik "Cih, kau yang menabrakku. Sudah kubilang maketmu itu jelek"
"Kau.. lihat saja apa yang akan menimpamu anak baru"
Sungmin mendengus sebal lalu kembali ke tempat duduknya. Kyuhyun tersenyum geli melihat raut wajah Sungmin yang amat marah kepadanya.
Beberapa saat kemudian Park Seongsangnim masuk ke dalam kelas lalu memberikan sebuah bentuk kontruksi yang di tempelkan di papan tulis. Semua memperhatikan baik-baik, Dosen yang satu ini akan mengamuk kalau ada salah satu mahasiwa yang tidak bisa menjawab pertanyaannya apalagi ketahuan mengobrol dan tidak memperhatikan di dalam kelas.
"Apa yang membuat konstruksi ini gagal dibangun?"
Sungmin memperhatikan gambar itu lekat-lekat serta penjelasannya, apa yang menyebabkan sebuah konstruksi yang dilihat dari depan tampak biasa namun gagal dibangun dan runtuh kurang dari setahun
"Lee Sungmin?" tanya Dosen Park. Sungmin tersenyum tawar
"Eemm, mungkin pondasi dan bahan bangunan yang dipilih"
"Kau salah, yang lain?"
Sungmin merasa kecewa jawabannya salah karena baru kali ini jawabannya salah. Biasanya dia selalu benar di mata dosennya.
"Hei, anak muda yang di belakang! Beraninya kau membaca buku filsafat di mata kuliahku!"
Sungmin yang masih sedikit kesal menoleh ke belakang begitu tahu siapa yang di maksud oleh dosennya dia tersenyum girang 'rasakan kau!' katanya dalam hati
"Sekarang jawab pertanyaanku, kalau kau salah jangan pernah masuk ke dalam kelasku lagi"
Kyuhyun menutup bukunya dengan malas lalu melihat ke arah gambar yang ada di papan tulis "Bagaimana tidak gagal, semua yang ada di bangunan itu hanya tempelan saja. Konstruksi yang gagal bukan hanya karena bahan dan pondasinya tapi bisa juga karena dinding dan benda lainnya hanya di tempel sedemikian rupa sehingga membentuk suatu bangunan. Jika dilihat lagi, bentuk bangunan itu juga tidak memenuhi syarat, lihat saja mana mungkin ada eskalator yang menghubungkan lantai satu sampai lantai empat, kalaupun ada sebaiknya tidak dengan eskalator. Satu hal lagi yang paling mencolok adalah konstruksi bisa gagal bukan hanya dari bangunannya yang rapuh tapi juga karena pihak kontraktor dan perusahaan tidak memenuhi perjanjian masing-masing pihak, bukan begitu maksudmu Park Seongsangnim?"
Dosen tua itu hanya tertegun "Siapa namamu?"
"Cho Kyuhyun"
"Jawabanmu benar"
"Lalu kalau jawabanku benar apa aku harus memintamu untuk tidak masuk ke kelasku lagi?"
Sungmin menatap tidak percaya atas apa yang baru saja dia dengar 'ternyata dia lumayan juga, tapi tetap saja anak itu tidak punya sopan sekali'
"Baiklah, kau bisa membaca sesukamu mulai sekarang" kata Dosen tua itu lagi
Lagi-lagi Sungmin menatap tidak percaya dan ketika mata mereka saling bertemu Sungmin bisa melihat Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. Amarah yeoja kelinci itu kembali naik.
.
.
Sungmin menuruni tangga dengan kesal, masih teringat jelas bagaimana namja bernama Kyuhyun itu tertawa mengejeknya seakan berkata 'ternyata kemampuanmu hanya sebesar itu' tepat di wajahnya. Sungmin menggerutu sepanjang jalan dari kelasnya sampai dia akhirnya menabrak seseorang.
"Josonghamnida.."
"Minnie-ya, kebetulan sekali aku sedang mencarimu"
"Yeye Sunbae?" Sungmin tersenyum lalu memeluk Yeye dengan erat "Uwaa aku sangat merindukanmu, sudah seminggu kita tidak bertemu"
"Aku juga"
Sungmin melepaskan pelukannya lalu mengajak seniornya itu mengobrol di taman dekat gedung jurusannya "Apa yang membawamu?" tanya Sungmin
"Ah, sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu"
"Bantuan?"
"Iya, kali ini bisakah aku menjadi klien yang ingin mengatakan cinta?"
Sungmin menatap tidak percaya sekaligus khawatir "Siapa wanita yang beruntung itu?"
Yeye tersenyum lebar "Sahabatmu, Kim Ryewook"
Sungmin tersenyum lebar "Benarkah?"
"Sebelumnya aku ingin tahu perasaannya padaku Minnie-ya"
"Mianhae Sunbae, kau sudah tahu peraturannya kan? Aku tidak bisa memberi tahu perasaan seseorang yang bercerita kepadaku"
"Baiklah, semoga saja semua berpihak padaku"
"Tentu saja kau harus optimis, jadi kau sudah membuat rencana seperti apa?"
Yesung tersenyum lalu memberi tahu semua kelanjutan rencananya kepada Sungmin.
.
.
.
Choi Siwon menatap jauh ke arah hamparan kota Seoul di tengah cuaca yang cerah lewat jendela ruangan kerjanya. Entah pikirannya melayang ke arah mana saat ini, yang kelas setiap dia melihat betapa cerahnya hari tiba-tiba ingatannya kembali ke dua puluh tiga tahun silam saat dia pertama kali bertemu dengan Kibum di kampusnya dan mulai mengenal satu sama lain.
"Tuan, Tuan Muda datang.."
"Appa"
"Henry-ah, kau sudah datang?" Siwon tersenyum ke arah anak semata wayangnya
"Aku sudah bicara dengan Kim Seongsangnim, aku akan berangkat ke London minggu depan"
"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Siwon ragu
"Tentu saja, ini juga pesan Haraboji sebelum meninggal, aku harus meneruskan kuliah sampai tinggi di London"
Siwon tertawa lebar "Baiklah, kejar cita-citamu"
"Seminggu ini Eomma akan menemaniku ke London"
Siwon hanya mengangguk pelan "Ajaklah dia, ku rasa dia butuh refreshing"
"Kalau begitu aku pergi dulu"
Siwon menatap anaknya yang kemudian menghilang di balik pintu. Henry baru saja lulus dari sekolah SMA-nya, dia anak yang begitu cerdas dan selalu semangat belajar. Siwon sangat menyayanginya meskipun Henry lahir dari rahim seseorang yang tidak dia cintai dan Henry lahir ke dunia ini karena sudah direncanakan sebelumnya oleh Soo Young dan ayahnya dulu.
'Kau boleh membenciku sampai mati tapi tolong jangan benci anak ini, dia darah dagingmu sendiri. Dia yang akan meneruskan semua yang kau punya. Kau boleh tidak menganggap kehadiranku tapi bisakan kau menyayanginya seperti kau memang menginginkan anak ini?'
Siwon hanya terdiam dan dia memilih untuk mulai membuka hatinya, perlahan mereka terlihat seperti keluarga bahagia di depan Henry selama hampir dua puluh tahun ini, tapi tetap saja dia masih jarang sekali bicara kepada Soo Young yang begitu mencintainya.
"Ahjussi, apa kau masih juga belum mendapatkan kabar Kibum?"
"Belum Tuan, seperti yang anda tahu dia menghilang selama dua puluh tahun ini"
.
.
Sungmin dengan rajin memotong semua sawi putih yang akan dijadikan kimchi, sambil sesekali mencicip hasil buatannya yang tidak terlalu buruk. Nenek Lee memperhatikan Sungmin yang kini sudah semakin dewasa, rambutnya yang panjang tergerai indah ke belakang, wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih seperti susu dan mulus sekali.
"Mengapa menatapku seperti itu Halmoni?" tanya Sungmin heran sambil terus mengaduk-aduk kimchi buatannya
"Kau semakin cantik saja"
Sungmin tersipu "Halmoni, jangan menggodaku"
"Ani, kau memang cantik. Pasti ibumu juga cantik"
"Halmoni bicara apa? Ibuku kan anak Halmoni"
"Minnie-ya sudah saatnya kau mencari kekasih" kata Nenek Lee lagi mengalihkan topik
"Mana mungkin aku mencari, aku kan wanita. Aku akan menunggu sampai dia datang sendiri"
"Kadang wanita juga wajar menyatakan perasaan"
"Itu aneh Halmoni, mana ada wanita yang harus mengemis perasaan demi seseorang"
"Kau ini.. pikiranmu sangat kolot"
Sungmin tertawa renyah "Tidak, hanya saja aku kurang begitu suka melihat wanita yang mengejar laki-laki"
"Bagaiamana maketmu?"
Mendadak Sungmin ingat wajah namja sialan yang selalu merusak harinya yang bernama Cho Kyuhyun, dengan geram dia mengandu-aduk adonan Kimchinya dengan emosi
"Minnie-ya, nanti bisa hancur kalau kau seperti itu"
"Ah, mianhae Halmoni. Maketku sedang dalam perbaikan, mungkin beberapa hari lagi baru aku berikan kepada Park Seongsangnim" jawab Sungmin asal. Apdahal maketnya benar-benar harus dibuat ulang. Sangat menyedihkan.
"Kau harus mencari seseorang yang bisa membantumu membuatnya Minnie-ya, kulihat kau tampak tersiksa dengan maket itu"
'Kau benar Halmoni, ditambah lagi namja Cho itu telah menghancurkan semuanya' batin Sungmin menderita
"Aku pasti bisa melakukannya Halmoni"
"Kalau begitu selamat berjuang untukmu"
Sungmin tersenyum lagi, meskipun dia harus bersusah payah menjalani kehidupan ini tapi dia senang karena orang-orang yang menyayanginya selalu mengelilinginya dimanapun dia berada. Sungmin bahagia karena dia mempunyai Wookie, Changmin, Minho, juga Yesung Sunbae yang juga sangat menyayanginya.
.
.
.
"Bagaimana di Seoul? Kau senang?"
Kyuhyun mengangguk dengan malas. "Sesekali cobalah berkerja di kafe sepupumu jangan hanya menghabiskan waktu dengan membaca"
"Kau juga hanya menghabiskan waktumu di kantor, jangan bersikap seolah kau mengerti aku" Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar
"Cho Kyuhyun, Appa-mu belum selesai bicara" kata Heechul setengah berteriak
Hankyung hanya menarik nafas berat "Sudahlah Yeobo, mungkin dia masih marah padaku"
"sudah lebih dari dua puluh tahun tetap saja kekanakan, aku tidak percaya dia marah hanya karena kita menyuruhnya pindah ke sini"
"Bagaimanapun juga dia sudah lima tahun di Jepang , wajar saja kalau dia merasa kehilangan"
Heechul hanya menggelengkan kepalanya heran lalu bangkit menyusul Kyuhyun ke kamarnya, membuka pintunya sedikit lalu terlihat Kyuhyun yang sedang tidur di kasur King sizenya, menutupi sebagian wajahnya dengan bantal.
"Ya! imma! Ireona~" Heechul duduk di ujung ranjang Kyuhyun
"Apalagi Eomma?"
"Kau yakin akan terus marah kepada Eomma-mu ini?"
Kyuhyun segera bangun, kalau tidak bisa saja Heechul langsung menghancurkan PSP-nya sekarang juga. "Begitu baru benar, bagaimana kuliahmu?"
"Tidak begitu menarik" jawab Kyuhyun asal
"Lalu? Kau ingin pindah lagi?"
"Eomma, sudahlah~ kalaupun aku ingin pindah apa aku setuju aku pindah lagi ke Jepang?"
"Maka itu nikmatilah, cari teman yang baru. Di sini pasti akan ada banyak yeoja yang menyukaimu. Kau kan tampan dan pintar"
Kyuhyun menatap ibunya dengan malas, sungguh sangat tipe AB sekali "Eomma, jangan mencoba menjodohkanku dengan siapapun"
"Tentu tidak kalau kau tidak menyukai seseorang dari marga Choi seperti sepupumu itu, ayahmu bisa membunuhmu di tempat"
"Kalian yang berperang, bukan aku."
"Kau juga akan ikut ambil bagian Kyuhyun-ah, sebentar lagi" Heechul mengelus kepala Kyuhyun dengan lembut
"Aku akan bekerja bukan karena dendam, tapi karena aku ingin bekerja."
Heechul mengangkat bahu "Kalau boleh jujur, aku tidak membenci keluarga dari marga Choi, hanya saja kita di tuntut untuk membencinya Kyuhyun-ah, bedakan itu"
"Hanya saja aku tidak perduli Eomma, aku tidak tertarik dengan sejarah keluarga ini yang sungguh konyol"
"Suatu saat kau pasti mengerti dan jangan bicara seperti itu di depan ayahmu, dia bisa marah"
"Terserah kau saja"
Heechul mengambil PSP Kyuhyun dari atas meja belajarnya "Eomma, apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin meminjamnya sebentar sambil menunggu anak Eomma yang manis kembali menjadi dirinya sendiri"
"Eommaaa" teriak Kyuhyun geram
.
.
.
Sungmin tengah berkumpul dengan teman-temannya untuk membahas sebuah rencana yang dibicarakan kemarin dengan Yeye sunbae, semua orang kecuali Wookie telah datang di kantin sewaktu selesai kuliah. Tidak lama kemudian Wookie datang dan betapa kagetnya dia melihat Yeye Sunbae ada di antara sahabatnya.
"Wookie-ah, duduklah" Sungmin menarik lengan Wookie yang mendadak kaku, Wookie tersenyum lalu mengikuti Sungmin
"Wookie-ah, ada yang akan melakukan pengakuan hari ini, kau harus membantuku ya? dia sahabatnya Yeye sunbae" kata Sungmin
"Ah, benarkah?" Wookie berpura-pura tersenyum
"Yasudah, kajja kita bersiap-siap" Changmin bangkit dari tempat duduknya diikuti Minho dan sungmin. Yeye Sunbae menatap Wookie dengan dalam, Wookie hanya mengangguk sekilas lalu ikut pergi bersama yang lain.
Sungmin sedikit menata sebuah ruangan kuliah yang akan dipakai saat sesi pengakuan oleh Yeye, Wookie menyusulnya ke dalam dengan lesu.
"Wookie-ah, kau teruskan pekerjaanku yaa, nanti aku akan kesini lagi. ada yang tertinggal"
Sungmin berjalan membelakangi Wookie sambil tersenyum geli, tiga hari lagi Yeye sunbae berangkat ke Paris pantas saja Wookie menjadi lebih lesu dari sebelumnya.
"Minnie-ya, apa kau.. eh Sunbae.." Wajah Wookie mendadak memerah saat dia menoleh, dia kira itu adalah Sungmin yang sudah kembali tapi ternyata Yeye sunbae yang perlahan masuk ke dalam kelas
"Kau masih di sini?" tanya Yeye
"Ah, iya Minnie memintaku untuk membuat beberapa hiasan bunga" jawab Wookie sambil meneruskan kegiatannya
"Apa kabarmu? Kau tampak tidak sehat? Kau sakit?"
Wookie menoleh ke arah Yeye "Aku baik-baik saja Sunbae"
"Seharusnya kalaupun tugasmu menumpuk sempatkanlah sedikit waktu untuk menyegarkan pikiranmu, jangan hanya belajar sepanjang waktu"
"Aku tidak belajar terus, hanya saja memang aku sedang ingin di rumah" jawab Wookie tanpa menatap Yeye takut ketahuan kalau dia sedang berbohong
"Entah mengapa aku merasa kau marah padaku"
"Aku tidak marah"
"Kalau begitu mengapa terus menghindariku? Kau juga tidak datang saat pesta farewell-ku kemarin, dongsaeng macam apa kau?"
DEG! 'Kau benar, aku hanya dongsaeng bagimu' batin Wookie sedih
"Kalau kau tidak suka dengan dongsaeng sepertiku cari saja yang lain" tukas Wookie "Aku datang atau tidak kau juga akan tetap pergi bukan?"
Wookie beranjak pergi dan Yeye menarik lengannya lembut "Mengapa tidak pernah jujur padaku? kalau kau tak ingin aku pergi katakan saja yang sejujurnya"
"Lalu apa kau akan bertahan? Demi seorang dongsaeng sepertiku?"
Wookie melepaskan tangannya tapi Yeye menariknya lagi kali ini sambil mendaratkan ciuman manis di bibir Wookie. Tentu saja Wookie terkejut, wajahnya memerah. Dia hanya tertunduk. Sambil tersenyum Yeye mengangkat dagunya agar Wookie menatap ke arahnya "Kau tahu kenapa aku selalu bilang kau adalah dongsaengku? Agar kau tidak pernah jauh dariku. Kau tahu kenapa aku selalu berkata pada yang lain kalau ada yang menyukaimu harus meminta izin padaku? karena aku tidak ingin kau dimiliki siapapun selain aku. saranghae Wookie-ah. Jongmal saranghae"
Sungmin yang memperhatikan dari jauh hanya tersenyum bahagia ke arah semua sahabatnya yang juga terlihat senang. akhirnya masalah Wookie yang uring-uringan sudah selesai. Namun kesenangan itu hilang sewaktu namja yang dikenalnya masuk begitu saja ke dalam kelas dimana Wookie dan Yeye sedang berciuman, kontan Sungmin mengejar namja itu sebelum kedua orang yang di dalam menyadarinya
"Ya! ikut aku" dengan setengah berbisik Sungmin menarik tangan Kyuhyun yang masih terkejut dengan apa yang terjadi di dalam. Kyuhyun mengikuti dengan malas, setelah sampai di luar Kyuhyun melepaskan tangannya dengan kasar
"AH, WAE?" tanya Kyuhyun kesal
"YA! Pabbo aniya? Kau tidak lihat tulisan reserved di sana? Artinya kau tidak bisa masuk kelas itu"
"Kau pikir aku perduli?"
"Kau memang sangat menyebalkan!"
"Kau pikir kau tidak? kerjamu hanya membuat hariku menjadi buruk saja"
"Benarkah? Kalau begitu aku akan terus menghantui harimu"
"Yeoja aneh"
"Kau yang aneh, selalu saja menggangguku"
"Kau dan kelas itu tidak ada hubungannya"
"Ada! Kau hampir saja mengganggu acara sahabatku?"
"Acara apa? Acara ciuman sahabatmu? Kau tukang mengintip yaaa?" Kyuhyun tertawa mengejek. Sungmin menginjak kaki Kyuhyun dengan keras
"Arrgh! Kau! awas saja! Urusan kita belum berakhir" Kyuhyun mengangkat kakinya yang tengah berdenyut sakit
"Siapa yang berkata semua sudah berakhir? Tentu saja belum!"
"Kau akan menyesal Lee Sungmin"
"Kau yang akan menyesal Cho Kyuhyun"
Kyuhyun pergi meninggalkan Sungmin yang masih mengatur nafasnya karena terlalu emosi, hampir saja Kyuhyun menghancurkan semuanya. ketika Sungmin berbalik ketiga ke empat sahabatnya tengah menahan tawa.
.
.
.
"Hahaha jadi dia namja yang selalu mengganggumu Minnie-ya?" tanya Changmin geli
"Iya, sangat menyebalkan bukan?"
"Kulihat dia lumayan tampan, eh bukankah dia Cho Kyuhyun yang sedang populer dikalangan banyak mahasiswa. Dia tampan, cerdas dan kaya raya." Tambah Minho
"Lalu? Kau pikir aku akan perduli dengan setan itu?"
"Minnie-ya, kau tidak boleh terlalu membenci seseorang, nanti kau bisa menyukainya" kata Wookie yang sedang duduk di sebelah Yeye
"Tenang saja Wookie-ah, kalaupun di dunia ini sudah tidak ada namja lagi dan hanya dia, lebih baik aku tidak usah menikah"
"Hei, kau tidak bisa begitu Minnie-ya" tambah Yeye
"Sudahlah, kita di sini untuk merayakan hari bahagia untuk kalian, Yeye Sunbae kau jadi mentraktir kita kan?" Sungmin mendadak ceria lagi
"Tentu saja, pesan sesukamu Minnie-ya"
"Baik, aku akan membuatkan Waffle untuk kalian" kata Changmin. Di kafe ini dia memang bagian pengurus waffle dan sejenis kudapan penutup. Sedangkan Sungmin bagian minuman. Minho menu utama, Wookie dan Yeye yang biasanya menangani para pelanggan. Kebetulan sore ini kafe sedang sepi.
"Kemana Yunho Sunbae?" tanya Sungmin "Sejak tadi aku tidak melihatnya"
"Dia bilang sebentar lagi sampai"
Sungmin kembali membuat beberapa gelas milk shake juga cappucino untuk teman-temannya. Berjongkok untuk mengambil beberapa cangkir dan gelas yang ada di rak bawah.
"Yetdera.."
"Yunho Sunbae.." sambut yang lain
"Wah, ku dengar kalian baru saja menjadi sepasang kekasih ya? aku turut senang Wookie-ah, Jong Woon-ah"
"Ah, Gomawo Sunbae" jawab Wookie dan Yeye hampir berbarengan.
Seseorang yang lain masuk ke dalam kafe dan berdiri di samping Yunho "Cha, kenalkan ini sepupuku yang akan bergabung di sini, namanya Cho Kyuhyun."
PRANG!
"Minnie-ya? Gwaenchana?" Wookie menghampiri Sungmin yang masih berjongkok membereskan beberapa pecahan gelas
"Gwenchana Wookie-ah, aku akan mengambil sapu"
Sungmin berdiri dan tepat saat itu mata foxy-nya menangkap sosok yang tidak asing lagi. Minho dan Changmin sudah siap-siap tertawa
"Kau.." kata Sungmin tidak percaya
"Minnie-ya, kau mungkin tidak dengar. Ini sepupuku Cho Kyuhyun , kalau senggang dia akan membantu kalian bekerja di sini, kalian sudah saling mengenal?"
"Kau gila Hyung, mana mungkin aku mengenal yeojha aneh seperti dia"
"Ya! jangan menyebutku aneh, kau lebih aneh dariku. "
"Cih, setiap hari hanya mengangguku apa itu tidak aneh?"
Sungmin mengangkat sapunya dan hampir saja memukul Kyuhyun dengan sapu kalau tidak di halangi oleh Minho
"Minnie-ya sudahlah, kalian bisa berteman kan?" kata Minho
"Berteman? Terima kasih" kata Kyuhyun dan Sungmin berbarengan
Selain Sungmin dan Kyuhyun yang lainnya tengah tertawa dengan keras "setidaknya mereka cukup kompak" tambah Changmin
"Ya! kau! aku sudah muak denganmu, selesaikan sekarang juga! Kau harus melawanku bertanding taekwondo"
"Sekarang?"
"Kenapa? Kau takut?" Sungmin tertawa mengejek
"Tentu saja tidak, kalau aku menang kau harus menjadi pelayanku selama sebulan, bagaimana?"
Sungmin agak kaget mendengar hukuman kekalahannya tapi dia sudah terlanjur mengajak "Baiklah, kalau kau kalah kau harus mengerjakan maketku dan bergabung di dalam klub ini sebagai pembantu"
"Cih, permintaan konyol. Baiklah, kau tidak akan menang"
"Kau pikir kau akan menang? Bodoh!"
Lima orang yang lain hanya bisa menggelengkan kepala mereka dengan heran. Kyuhyun dan Sungmin saling melempar tatapan benci. Minho kembali menahan tawanya, senang melihat wajah Sungmin yang begitu emosi.
'Kau? ingin melawanku? Kau pikir kau siapa? Hanya wanita aneh yang tidak sopan'
'Ya! Cho Kyuhyun terimalah pembalasanku, kau pasti akan menyesal'
TBC-
Huaaa~ Sungmin sama Kyuhyun berantem terus ya? benci sama suka itu beda tipis loohh Minnie kekkee #plaakkk
Mianhae, jongmal mianhae ff yang ini baru diterusin lagi huhuhu aku baru aja kelar ujian semester (baca: baru lolos rencana pembunuhan ) kekeke
Maaf juga banyak typo dan ceritanya gak sesuai dengan yang kalian mau
Tetep komenlah ya? RCL
Makasih yang udah nugguin, baca, komen, like, dan lain sebagainya
Komen kalian sangat berarti untuk akuu #lebay
Yasudahlah ya~ gak mau banyak ngemeng, happy reading all :3
Aku sayang kaliaaannn~
See ya next chapter :B
