.

Tok-tok-tok..

Mata itu menatap lurus tanpa niat sedikitpun merespon ketukan pintu dari arah luar.

Tok-tok-tok

Lagi dan Sakura tetap tak bergeming. Seorang wanita yang berada di balik pintu mengambil inisiatif sendiri membuka pintu itu lalu menutupnya kembali dan berjalan menghampiri Sakura yang duduk di atas ranjang besarnya.

"Sakura..." lirih wanita paruh baya itu dengan raut wajah menyedihkan seraya menatap Sakura. Tangannya terangkat membelai pelan surai halus Sakura yang sudah dua minggu ini tak tersentuh sinar matahari.

'Ada apa denganmu, anakku…'

.


DEVILISH PRINCE

Disclaimer – Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Character, Lil Bit Hurt, Don't Like Don't Read, 17+


Jika Anda tidak menyukai jenis cerita ini atau alur yang Saya buat atau bahkan pairing yang Saya pilih, silahkan tinggalkan halaman ini sekarang juga. Saya tidak pernah memaksa Anda untuk membacanya lalu meninggalkan review yang tidak menyenangkan di akhir. Saya pikir Anda cukup pintar untuk memahami arti DLDR. Lalu, jangan langsung mengambil kesimpulan sendiri di setiap chapter. Ikuti saja jalan ceritanya.


Chapter 2: New High School.

.

"Sebenarnya ada apa? Apa yang ibu tak ketahui hingga kau seperti ini?" wanita paruh baya itu memeluk Sakura dan mulai menitikan air matanya.

Sakura masih membisu. Bayangan kejadian dua minggu yang lalu tiba-tiba saja kembali terlintas di benaknya. Ia tetap tak bergeming sama sekali. Bahkan gadis itu seperti tak mendengar isakan pilu wanita paruh baya yang tengah memeluknya.

"Anakku… kau mendengar ibu? Sayang, lihat ibu…" wanita itu merangkup kedua pipi Sakura, mengarahkan wajah gadis itu agar menatapnya. Namun sama saja, mata gadis itu tetap tak fokus pada objek pandangnya. Hanya ada kekosongan disana. Wanita paruh baya itu semakin terisak.

"Maafkan ibu, sayang… maafkan ibu…" wanita itu masih terisak. "Kau boleh melakukan apapun yang kamu mau. Ibu tidak akan melarang lagi, asal jangan seperti ini… ibu akan mengurangi les dan jam belajarmu. Ibu akan melakukan apapun yang kamu mau, Sakura." walau demikian tawaran yang Sakura inginkan selama ini, gadis itu masih tak bergeming. Wanita paruh baya itu menatap Sakura dengan raut wajah sendu dan diselingi oleh air mata.

"Ibu mohon jangan seperti ini. Kau seperti perlahan ingin membunuh ibumu, nak…"

Dan ajaibnya kata-kata itu membuat Sakura bergeming refleks menatap sang ibu dan memeluknya. Wanita paruh baya itu menghentikan isaknya dan tersenyum merasakan pelukan pertama sang putri setelah dua minggu terakhir.

"Maafkan aku, ibu. Sakura tak bermaksud membuat ibu menjadi sedih.." merasa wanita paruh baya itu tak lagi menangis, Sakura melepas pelukannya dan mengusap jejak air mata di pipi wanita itu.

"Ibu tau, anak ibu tidak akan membiarkan ibu mati." wanita paruh baya itu membelai pipi Sakura dan dibalas senyuman oleh si pemilik pipi. "Jadi, apa kau mau bercerita?"

Sakura terdiam. Ia kembali memikirkan kejadian pada malam itu. Ia tau, sikap tidak biasanya selama dua minggu ini mengundang tanya wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu. Bahkan, sikapnya telah menoreskan luka di ulu hati wanita itu tat kala melihat kondisinya yang hanya berdiam diri dan melamun dengan tatapan kosong.

Sakura ingin, ingin sekali menceritakan semuanya pada sang ibu. Tapi ia takut wanita itu mengalami shock hingga mengakibatkan hal fatal yang tak di inginkannya. Akhirnya, ia memilih sebuah gelengan sebagai jawaban.

"Ibu tau, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu hingga kau seperti ini…" wanita itu mengelus helaian merah muda milik Sakura. "Ceritalah. Ibu akan melakukan apapun untuk jalan keluar masalah anak ibu ini." wanita itu tersenyum. Sakura menggigit bibir bawahnya seraya menunduk ragu. Ia benar-benar ingin bercerita sekarang, tapi…

"Ibu, emmm.. bolehkah aku pindah sekolah?" wanita paruh baya itu memberi tatapan bertanya padanya. "A-aku… aku–"

"Baiklah, ibu akan mengurus surat pindahmu." jawab wanita itu karna melihat gelagat Sakura yang kebingungan mencari alasan. Sang ibu –Tsunade– mengambil pendapat sendiri kalau Sakura memiliki ketidak nyamanan dengan sekolahnya. Pasti ia memiliki masalah di sana dan Tsunade tidak akan membiarkan Sakura terbelut dalam masalah itu.

Sakura menatap Tsunade dengan tatapan terimakasih. Sebenarnya ia tak berniat untuk pindah sekolah. Hanya saja, setiap hari bertemu dengan orang-orang yang mengingatkannya tentang kejadian pada malam itu membuat dirinya ingin meringkuk di sudut ruang tanpa melakukan apapun. Ia merasa dirinya sangat bodoh.

Ia juga merasa dirinya tak butuh teman-teman seperti Ino, Sai atau Naruto. Ibunya benar, mereka pengaruh buruk dan siap menjebaknya dalam kegelapan. Ia yakin, ia punya masa depan yang cerah. Ia tak harus bergaul dan melakukan hal-hal liar seperti mereka.

Ia akan mencari teman baru di sekolah yang baru dan bergaul dengan orang-orang yang benar. Ia sudah memikirkan hal-hal apa saja yang akan di lakukan saat memasuki sekolah barunya.

Namun sebelum itu, ibunya bertanya padanya ingin pindah ke sekolah mana. Dan satu pemikiran tentang sekolah yang memiliki banyak murid unggulan dengan kapasitas otak yang luar biasa menjadi pilihan Sakura.

.

#KONOHA INTERNATIONAL HIGH SCHOOL

Sakura menapakkan kaki di depan sekolah setelah Tsunade pergi usai mengantarnya. Menengadah menatap gedung sekolah yang menjulang tinggi dibalik pagar besi yang terpajang indah dan berdiri kokoh di depan jalan kota Konoha.

Sakura mengeratkan ransel hijau yang bertengger di punggungnya dan merapikan penampilan. Seragam baru memang, tapi, ia tak merasa sekolah itu istimewa seperti yang dikatakan Tsunade sebelum ia benar-benar mengenal seluk beluk sekolah ini.

Ia mengedarkan pandangannya. Banyak siswa yang turun di depan gerbang dan membiarkan mobil tumpangan meninggalkan mereka disana. Sakura mengerti satu peraturan sekolah ini. Para siswa dilarang mengendarai mobil masuk ke dalam lingkungan sekolah. Menarik.

Dan Sakura akan segera tau peraturan lainnya karena sekarang ia berada di hadapan wali kelas yang menurutnya… workaholic? Mungkin?

Atau ia tidak harus tau saat itu juga, karna kelihatannya sang guru tidak menyadari keberadaan Sakura di sana. Yang Sakura tau, ia hanya masuk di antar salah satu penjaga sekolah ke suatu ruangan dan disuruh duduk disana.

Teng dong deng dong~

"First hours immediately in starting. Hope educative participant and teacher immediately enter room learn each. Thank you." Teng dong deng dong~

Brak!

Sakura melotot horor kepada guru itu yang tiba-tiba saja berdiri lalu membanting berkas yang terus di gelutinya sedari tadi dan mengacuhkan keberadaan Sakura. Guru itu lalu menatap Sakura yang hampir saja terjungkal karna terkejut.

Ia mengambil sebuah buku yang ada di sebuah rak belakang tempat duduknya dan memberikannya pada Sakura. Sakura yang bingung hanya mengambil buku itu dan segera berdiri saat sang guru mengisyaratkannya untuk mengikuti langkahnya.

Guru yang aneh, pikir Sakura.

Mereka sampai di depan pintu kelas yang Sakura yakini adalah kelas barunya. Ia sedikit melihat ke dalam kelas melalui jendela kaca yang berjejer di koridor. Kesan pertama yang di dapatinya adalah disiplin. Sangat disiplin. Semua murid duduk dengan rapi dan sopan. Sangat-sangat melebihi sekolahnya dulu.

Klek…

Pintu kelas di buka dan sang guru segera melangkah, diikuti Sakura yang mengekor di belakangnya. Sakura mendongak untuk melihat rupa teman-teman barunya, namun ia segera menunduk saat mendapati tatapan menyelidik dari seisi kelas.

"Hari ini kalian memiliki teman baru. Harap membantunya dan kau, perkenalkan dirimu."

Sakura merasa guru itu tidak menyukainya. Cara bicara dan menyuruhnya memperkenalkan diri itu benar-benar sinis. Sakura harap, semoga saja ia akan menyukai sekolah ini.

Kemudian Sakura mendongak dan menatap teman-teman barunya dengan canggung.

"O-ohayou minna, watashi wa Haruno Sakura desu. Salam kenal.." Sakura berucap dengan nada lembut dan sesopan mungkin sebelum membungkuk. Tatapan setiap orang disana membuatnya ciut. Apa ini sambutan untuk murid baru?

"Baiklah, kalau begitu kita mulai pelajarannya." Guru itu berbalik menghadap papan setelah mengambil buku cetak yang ia letakan di atas meja tanpa niat menyuruh Sakura untuk duduk.

"S-sensei–"

"Carilah tempat duduk yang kosong." Belum sempat Sakura meneruskan ucapannya, guru itu sudah lebih dulu memotong tanpa melihat Sakura sedikit pun. Sebenarnya sekolah macam apa yang disarankan ibunya ini?

Sakura mengedarkan pandangannya dan mendapati dua bangku kosong. Satu terletak di sudut ruangan paling belakang dan satu lagi terletak di tengah, sejajar dengan tempat ia berdiri sekarang. Tepatnya lagi, urutan ketiga dari depan.

Sakura pikir, untuk memulai beradaptasi, ia harus memilih bangku yang terletak di tengah agar ia bisa mengenal teman-teman barunya dan tak terpojok. Ia pun berjalan ke bangku itu. Namun, entah perasaanya saja atau bukan, semua yang ada di kelas mulai berbisik-bisik sembari meliriknya. Tapi, saat ia menoleh, semua diam dan fokus ke papan tulis.

Sakura pikir ada yang salah dengan penampilannya hingga ia melihat dirinya, mencari di mana letak kesalahan itu. Tetapi ia tak menemukan sesuatu yang aneh pada dirinya.

Huft… mungkin teman-teman barunya saja yang aneh. Sakura mengedikan bahu tak peduli dan mulai memfokuskan pikirannya pada pelajaran guru kejam tersebut.

.

Jam istirahat tengah berlangsung dan Sakura tak memiliki niat sedikitpun untuk beranjak dari tempat duduknya. Sejujurnya ia bukan tak berniat, hanya saja ia tak tau letak-letak tempat yang ingin ia kunjungi di sekolah itu. Melihat peta? Eum, mungkin lebih tepatnya ia tak punya nyali keluar dari kelas karna ia tak mengenali siapapun di lingkungan baru ini guna membantunya. Tidak seperti sekolah sebelumnya yang entah bagaimana ia bisa dengan mudahnya berkenalan dan akrab dengan Naruto, lalu Ino dan terakhir Sai.

"Eum, ka..kau mau?"

Sakura menoleh. Ia mendapati pemuda berambut coklat dan panjang diikat satu berbentuk ekor kuda dengan kacamata besar duduk di sebelahnya menyodorkannya sebuah kotak bekal. Sakura menggeleng dan tersenyum.

"Tak apa. A-aku tau kau lapar, ambil saja.." ucapnya lagi masih dengan menyodorkan kotak bekal berisi dua buah potong sandwich. Sakura pikir, baik sekali pemuda itu mau berbagi dengannya. Dari semua orang yang ia temui hari ini di sekolah, hanya pemuda dengan kacamata besar dan penampilan nerd itu yang bersapa baik dengannya.

Tidak enak menolak, Sakura pun mengambil salah satu potongan sandwich si pemuda dan melahapnya setelah berterimakasih. Mereka berbicara cukup banyak sambil menghabiskan potongan sandwich itu.

Mereka berkenalan dan Sakura tau harus memanggilnya apa. Kata, Karugi Kata.

.

"Sakura-san, kau ingin keluar bersama?" tanya Kata saat Sakura memasukan beberapa buku dan alat tulisnya ke dalam tas.

"Tidak, terimakasih. Kau duluan saja." Sakura tersenyum. Ia mengucapkan hati-hati sebelum Kata pergi.

Semua siswa berangsur-angsur keluar kelas. Sakura memang menunggu lingkungan sekolah kosong dan ia akan pergi dari sana. Ia tidak mau bertemu banyak orang dan mendapat masalah. Melihat cara bergaul orang orang disini, ia sudah bisa memutuskan sikap seperti apa yang harus di ambilnya.

Setelah memastikan tak ada lagi murid berkeliaran di lingkungan sekolah, Sakura mengambil langkah dengan mengikuti petunjuk struktur bangunan yang ada dalam buku pemberian guru kejam tadi.

.

"Bagaimana sekolah barumu?"

"Sangat disiplin."

Tsunade tersenyum dan menyodorkan segelas air pada Sakura yang tengah mengunyah makan malamnya. "Jadi, apa kau menyukainya?"

"Aku tidak bisa memutuskan setelah mencoba satu hari."

"Apa kau dapat teman baru?"

"Ya."

"Bagaimana dia?" Tsunade mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura dengan satu alis yang terangkat.

"Dia.. seorang laki-laki."

"Nani? Laki-laki?!"

"La-lalu dia memakai kacamata besar, berambut panjang dan yang kulihat dia cukup pintar."

Tsunade mengangguk dan tersenyum. Walaupun seorang laki-laki, ia cukup puas dengan ciri yang disebutkan sang anak. Ia memang menginginkan Sakura bergaul dengan orang pintar, bukan urak-urakan layaknya Naruto, Ino dan Sai.

"Bersabarlah. Seiring waktu, kau akan memiliki teman yang lebih banyak dan berotak cerdas disana."

Sakura tak merespon dan terus mengunyah makanannya.

.

Sakura turun dari mobil yang di kendarai Tsunade. Ia hendak melangkah memasuki gerbang sekolah sebelum suara Tsunade menginterupsinya.

"Ibu akan meminta Shizune-san menjemputmu nanti sore. Ibu ada rapat hari ini, dan mungkin ibu juga akan pulang sedikit larut." Sakura mengangguk patuh, namun Tsunade belum juga pergi membuat Sakura bertanya-tanya.

"Mana teman barumu itu? Apa dia sudah datang"

Mulai lagi..

Sakura mengedarkan pandangannya. Menurutnya orang seperti Kata itu pasti datang sangat pagi. Jadi, mana mungkin ia masih berkeliaran di luar lingkup sekolah saat jam menunjukan hampir jam setengah tujuh.

Hanya saja, ia masih percaya dengan ketajaman matanya. Ia melihat Kata berjalan dengan kepala terdorong ke depan dan belakang beberapa kali. Seperti orang mengantuk.

"Kata!" Sakura berteriak membuat beberapa orang menatapnya. Ia langsung membungkuk dan minta maaf atas tindakan itu.

Kata yang merasa di panggil mencari sumber suara dan tersenyum seraya melambaikan tangan saat melihat Sakura. Ia berlari dan menghampiri Sakura.

"Kau baru datang?" tanya Kata dan mendapat jawaban berupa anggukan dari Sakura. Lalu, pemuda itu menatap wanita paruh baya yang sedari tadi terus memperhatikannya.

Ya, Tsunade menatap Kata dengan tatapan menyelidik dari ujung kaki sampai ujung rambut licinnya yang diikat.

Sadar situasi, Sakura segera mengenalkan Kata dan Tsunade. "Oh, perkenalkan, ini ibuku."

Kata membungkuk hormat dan tersenyum. "Nama saya Kata. Senang bisa berkenalan dengan anda."

Tsunade membalas perkenalan Kata dengan tersenyum, kemudian ia kembali menatap Sakura. "Ibu harus pergi, Sakura. Jangan nakal ya?" lalu Tsunade mengecup pipi Sakura membuat yang bersangkutan menatap horor kearahnya.

Ada apa gerangan Tsunade tiba-tiba berbuat seperti itu?

Sakura juga tidak tau. Tetapi, itu memalukan melihat kini para siswa yang berlalu lalang menatapnya sambil tertawa. Tak terkecuali Kata. Aish, benar-benar seperti anak TK yang baru pertama kali sekolah.

.

"Hari ini cukup sampai disini. Dan persiapkan diri kalian untuk tes besok." ujar Iruka-sensei selaku guru bahasa mengakhiri pelajarannya. Ia lalu merapikan buku-bukunya di atas meja saat Ibiki-sensei yang Sakura patokan sebagai guru paling kejam seantero sekolah tiba-tiba saja masuk dan menggagalkan rencana keluar kelas para murid.

"Ini sudah satu bulan. Apa tidak seorangpun yang tau keberadaan anak berandalan itu diantara kalian?"

Sakura tau jika para murid takut dengan guru yang satu ini hingga semuanya terdiam saat guru Ibiki bertanya dengan nada tinggi ciri khasnya. Tapi apa maksud dari pertanyaan guru itu?

Berandal?

Siapa?

Ibiki-sensei mengedarkan pandang ke isi kelas sebelum menghela nafas melihat para murid yang mengacuhkannya.

"Karugi Kata!"

Sakura refleks menoleh ke samping tepat di mana Kata duduk. Kata berdiri dan mengikuti Ibiki-sensei yang keluar kelas lalu disusul oleh murid-murid lainnya.

.

"Apa yang membuat Ibiki-sensei memintamu ikut ke ruangannya?"

Sebenarnya Sakura bukan tipe orang yang serba ingin tahu. Tapi, ia cukup penasaran dengan hal ini. Ia hanya tidak mau terus memikirkannya dan memilih bertanya pada Kata saat mereka berjalan bersisian ke gerbang sekolah.

"Hanya urusan yang tidak terlalu penting." Jawab Kata seraya tersenyum padanya. Sakura mengangguk, tau pemuda itu tak ingin menceritakannya. Semua orang butuh privasi bukan?

"Kau sudah di jemput."

Sakura mengikuti arah pandang Kata yang melihat sebuah mobil terparkir di gerbang sekolah. Ia bingung bagaimana Kata bisa tau rupa mobilnya, padahal dia belum pernah melihat semua koleksi mobil atau wajah asisten-asisten ibunya itu.

"Bagaimana kau tau?"

"Kau selalu pulang saat sekolah sudah benar-benar kosong kan."

Cukup masuk akal pikir Sakura. Kata memang pintar.

Akhirnya, mereka sampai di depan mobil berwarna silver tersebut. Kemudian Shizune, selaku asisten Tsunade membukakan pintu untuk Sakura. Gadis itu masuk setelah memastikan Kata pergi dari sana. Ia sempat menawarkan tumpangan untuk pemuda itu, namun Kata menolak dan segera pergi sebelum Sakura menawarkan tumpangan untuk kedua kalinya.

.

Keesokan harinya..

Sakura tiba dengan sedikit terlambat dari jam kedatangan biasanya. Ia berlari di sepanjang koridor dan mengacuhkan orang-orang yang menatapnya aneh, lebih tepatnya sinis. Tiga menit lagi pelajaran pada jam pertama akan di mulai dan ia harus mempelajari kembali materi yang diberikan guru Iruka kemarin karna hari ini akan ada tes.

Ia memang sudah belajar di rumah. Tapi bagaimanapun, ia tetap harus membaca-baca lagi agar tidak lupa atau blank saat tes nanti.

Sakura tiba di kelasnya tepat waktu. Ia juga tak menemukan Iruka-sensei disana. Ia bersyukur, menghela nafas panjang kemudian berjalan ke bangkunya. Ia melihat Kata sudah duduk di sebelah bangkunya berkutat dengan buku pelajaran. Saat melihat Sakura, pemuda nerd itu mendongakan kepala dan tersenyum pada Sakura seraya mengucapkan selamat pagi.

Sakura duduk segera membuka buku pelajaran dan mempelajari materi yang kemarin. Ia berharap Iruka-sensei tiba saat ia selesai membaca kembali semua materinya. Namun ia harus menelan harapan karna Iruka-sensei memasuki kelas tak lama setelah ia membuka buku.

.

Kertas soal sudah di bagikan beberapa menit yang lalu. Kini para murid menuangkan semua usaha belajar mereka tadi malam ke dalam lembar kertas jawaban.

Sakura menggaruk kepala saat menemukan soal yang cukup sulit. Ia lalu mengadah memikirkan jawaban dari soal itu. Alisnya berkerut saat ia hampir menemukan jawaban dan berusaha menyusun kalimat yang tepat sebelum menuliskan itu di kertas jawaban.

'Chourei wa gozen shichi-ji kara gozen hachi-ji made–'

BRAK!

Demi dewa Jashin yang sering diucapkan paman Hidan, Sakura mengutuk siapa saja yang menimbulkan bunyi itu karna hampir membuatnya kehilangan konsentrasi. Namun, untunglah otaknya masih bisa fokus dengan soal-soal dan rangkaian jawabannya hingga ia tak perlu mengorek lagi atau kehilangan jawaban yang sudah ia susun.

Sakura sibuk mengoreskan untaian kata di atas kertas essai menggunakan pena miliknya. Namun, kegiatannya terhenti saat ekor matanya menemukan sepasang sepatu di sebelah mejanya. Tidak, itu bukan hanya sepasang sepatu. Tapi, ia juga melihat kaki yang dibalut celana yang sama dengan seragam siswa laki-laki di sekolahnya.

Sakura menatap kaki itu dan perlahan naik ke atas. Benar, kan? Seragam. Tapi ia berbeda. Kemeja putihnya tak dimasukkan ke dalam celana seperti siswa lainnya dan ia tak memakai blazer. Sakura tak tahu kalau itu di perbolehkan di sekolah ini.

Sakura semakin menatap ke atas dan tiba-tiba saja membatu saat bertemu dengan wajah si pemilik sepatu itu. Ia bersumpah, ia kenal dengan tatapan itu! Bahkan, wajah itu, ia kembali bersumpah bahwa ia mengenal –bukan, maksudnya ia pernah melihatnya dan… pernah menyentuhnya!

Mata dan ingatannya tak akan salah karna ia mengingat semua hal yang dilihatnya dengan baik. Pemuda itu, pemuda iblis itu, pemuda yang terkutuk itu, pemuda yang sudah membuatnya tampak bodoh selama dua minggu itu, kini berdiri dihadapannya seolah akan kembali merusak hidupnya.

Tetapi berbeda dengan Sakura, pemuda itu sama sekali tak terkejut dan malah menatap Sakura dengan tatapan intimidasi.

Salah satu alisnya terangkat, matanya menelusuri Sakura sebelum sudut bibir kirinya naik ketika alisnya turun dan bibir itu menampakan seringaian jahat.

Seisi kelas yang tadinya sibuk dengan essai mereka mereka kini memperhatikan kedua orang itu. Mereka jelas melakukannya karna Iruka-sensei keluar beberapa menit yang lalu sebelum pemuda itu datang dengan dobrakan pintu di kelas.

Sakura ingin berkata sesuatu, namun tenggorokannya tercekat. Ia ingin berdiri, marah, membentak, memukul atau menampar pemuda itu. Pemuda yang seenaknya mengambil keperawanannya dan pergi begitu saja. Ia ingin, tapi, entah kenapa dirinya seakan seperti sebuah robot yang baru saja di matikan dengan tombol off.

Tap!

Matanya membulat sempurna ketika pemuda yang diketahuinya sebagai DJ Odult itu maju satu langkah ke arahnya. Di wajah pemuda itu masih bertahan sebuah seringaian yang membuat Sakura merinding. Dan yang lebih membuat Sakura merinding, tiba-tiba saja tangan pemuda itu terangkat menyentuh pipinya. Dalam sekejap pula sesuatu seperti sengatan listrik menjalar ke seluruh bagian di tubuhnya.

Suasana sangat hening. Sakura bahkan dapat melihat dari ekor matanya, semua orang dikelasnya tengah menatap mereka dengan kaku.

Dan apalagi sekarang? Sakura spontan menahan nafasnya saat pemuda raven itu mencondongkan tubuhnya ke arahnya, lalu…

"Omae.."

Siapapun itu, Sakura berterimakasih karna mengingatkannya kembali cara bernafas.

Sakura menoleh ke arah sumber suara. Disana, di depan pintu, Iruka-sensei berdiri seraya menatap ke arahnya dengan raut wajah penuh beban.

"Kau di panggil ke ruangan Ibiki-sensei."

Sakura melebarkan kedua emeraldnya. Ia terkejut, sebenarnya ada apa? Kenapa dirinya tiba-tiba di panggil ke ruangan guru kejam itu sementara dirinya merasa tak melakukan kesalahan?

Dengan helaan nafas panjang dan alis yang melengkung ke bawah, Sakura berdiri. Perlahan ia berjalan menuju pintu kelas dengan kepala yang tertunduk. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, Iruka-sensei bertanya padanya.

"Kau mau kemana?"

"Bukankah aku harus ke ruangan Ibiki-sensei?"

Sakura merasa dirinya tampak aneh setelah mengucapkan itu karena gelak tawa tiba-tiba membludak dalam kelas. Teman-temannya menertawainya entah karna apa, ia tak tau…

"Bukan kau, tapi dia." jawab Iruka-sensei seraya menunjuk ke arah pemuda raven yang masih berdiri di sebelah bangkunya menggunakan dagunya.

Sakura mengingat tinggi badannya seratus enam puluh sentimeter, tapi entah kenapa ia merasa tubuhnya makin mengecil saat mendengar gelak tawa seisi kelas kembali memasuki gendang telinganya. Ia hanya bisa menunduk dengan wajah memerah malu dan kembali ke tempat duduknya.

Double sial!

"Uchiha Sasuke."

Iruka-sensei menyuarakan nama pemuda yang masih berdiri di dekat tempat duduk Sakura. Kelas seketika menjadi sepi, hampa tanpa gelak tawa sebelumnya.

Sasuke tak bergeming. Ia masih pada tempatnya menatap Sakura yang terus menunduk di bangkunya. Ia lalu melepas tas punggungnya dan menaruh dengan kasar di atas meja Sakura, membuat gadis bermata emerald itu tersentak kaget. Begitu pula seisi kelas dan Iruka-sensei yang langsung berteriak memperingati Sasuke.

Karna kejadian itu, Sakura tak lagi menunduk dan kini matanya beradu dengan tatapan tajam pemuda yang bernama Sasuke itu.

Dengan susah payah, Sakura menelan ludahnya. Lagi-lagi tatapan itu. Tatapan yang memikatnya pada malam itu. Dan Sakura bersumpah, ini adalah hari di mana dirinya menjadi yang terbodoh untuk kedua kalinya, karna dengan mudahnya ia terpesona kembali akan sosok sang DJ. Sial, sial, sial!

Sasuke berjalan menuju pintu kelas, meninggalkan tas hitamnya di atas meja Sakura. Dan Sakura yakin, sebelum pergi, pemuda yang berprofesi sebagai DJ itu sempat menunjukan seringaian iblis ke arahnya.

.

To be continued.


A.N: Karugi Kata itu OC... Tapi bukan OC. Ya begitulah, apa ada yang bisa menebak siapa itu Karugi Kata? ⁄(⁄ ⁄•⁄ω⁄•⁄ ⁄)⁄


Published, 10/04/2015 – Queen Bae. [Thanks to Li Ell]