Naruto © Masashi Kishimoto
Cinema (Sasuke's Part) © Coretan Hikari
Based on True Story
Genre : Humor, Slice of Life, Romance, Family
Rate : Teen
Warn! Penggunaan kata tidak baku
DLDR
Musim semi.
Libur panjang. Liburan dengan segudang rencana menyenangkan.
Begitu pula dengan pemuda yang tengah sarapan santai di ruang makan keluarga. Sesosok pemuda berambut hitam sewarna dengan bola matanya itu tengah menyantap nasi goreng ekstra tomat buatan ibunda tercintanya.
Wajah datarnya menyembunyikan ekspresi bahagia karena menyantap menu favoritnya. Padahal dalam hati jerit-jerit tak karuan melihat sang pujaan hati pagi ini, tomat. Merah, licin, mengkilat, seksi dan tamat riwayatmu di perutku, deskripsi di otak Uchiha Sasuke tentang tomat.
Uchiha Sasuke, tampan dan berani. Kata orang sih. Kalau ibunya sudah dalam level waspada nyalinya ciut seperti buah yang kelamaan di dalam kulkas, berkerut-kerut gitu.
Si ganteng badai ini berusia 17 tahun. Bersekolah di daerah nun jauh dimato, eh di Miyabigaoka Highschool ding.
Otaknya encer seperti air. Enggak sih, dia ini pintar pake banget malah. Segala bentuk ujian pasti dia lalui dan lolos dengan nilai sempurna, kecuali uji nyali.
Uchiha bungsu ini anaknya tenang dan ya memang ganteng badai. Tapi, terkadang kelakuannya annoying banget. Contohnya, kalau dia lagi panik atau kehilangan sesuatu Sasuke akan bertingkah nista, entah itu berteriak histeris atau melakukan hal di luar kewajaran. Oh ya, satu lagi kalau Sasuke sedang senang to the max level ke-annoying-annya makin tinggi. Maklum lah Uchiha Sasuke ini kan perpaduan dari ayahnya yang jayus kalau bercanda dan ibu yang super heboh. Tapi, setidaknya masih bisa dikontrol kenistaannya, tidak seperti kakaknya yang bisa makan roti sosis sambil melompati lingkaran api.
Tampang kece badai juga belum tentu laku, ini yang dialami si bungsu ganteng. Dari lahir sampai sebesar tiang berjalan, Sasuke belum pernah mengecap asam manis berpacaran. Entah selera anak gadis jaman sekarang yang sudah berubah, atau Sasuke disangka 'belok' ?
Hanya Tuhan, Sasuke dan Naruto yang tahu.
Lah? Naruto?
Itu bocah berisik yang selalu ngintilin ke mana pun Sasuke pergi. Sahabat yang tak terpisahkan dari kecil sampai sekarang. Di mana ada Sasuke disitu ada Naruto, di mana ada Naruto ya belum tentu ada Sasuke sih, ya kali ke toilet juga bareng.
Bahkan mereka disangka kembar karena terlalu sering bersama. Kembar dibelah kapak.
Disangka kembar itu dulu, sekarang disangka pasangan. Sakitnya tuh disini! Sasuke berang, Naruto adem. Iya, Naruto santai saja karena dia sudah membuktikan dia jantan sejati, biar tampangnya cunihin (tukang gombal/goda) gitu-gitu juga sudah punya pacar.
Ngenesnya ya Sasuke, rumornya berubah kalau Sasuke bertepuk sebelah tangan. Kasihan, sini emak peluk dulu.
.
.
.
.
"Sasukeee~! Sasukeee~!" suara cempreng melengking terdengar dari arah ruang tamu. Suara najis menurut Sasuke. Mengganggu ketenangan sarapan si ganteng.
"Hei, teme! Kok gak dijawab panggilanku?" tahu-tahu si pemilik suara sakit ini sudah ada di sebelah Sasuke.
"Panggilan setan buat apa dijawab. Sesat tahu." balas Sasuke menyakitkan jiwa raga Naruto. Untung saja Naruto bukan tipe yang mudah tersinggung dan terima kasih juga dengan otaknya yang telmi.
"Hehehe~" si kumis kucing malah tertawa padahal sedang dihina dina sahabatnya.
"Eh eh, Mikoto-baasan mana?" tanya Naruto sok asik.
"Ada tuh di dapur." ucap Sasuke pelan melanjutkan sarapannya.
"Oh, numpang makan ya." tanpa tedeng aling Naruto langsung mengambil piring dan menyendokkan nasi goreng.
"Tumben ijin, biasanya langsung nyerobot." celetuk Sasuke nyinyir .
"Hehehe..." yang disindir cuma bisa cengengesan. Memang biasa bagi Naruto untuk numpang makan di rumah sahabatnya dan biasanya juga tidak tahu malu asal ambil apa saja yang tersaji. Sahabat yang baik bukan?
"Eh teme, antar aku yuk?" tanya Naruto disela kegiatannya mengunyah makanan.
"Ke mana?" tanya Sasuke dengan alis naik sebelah, kepo ceritanya.
"Ke makam." jawab Naruto kalem. "Hah?!" Sasuke kaget.
"Baka, nggak mungkin lah. Antar aku ke bioskop. Aku sedang ingin menonton yang romantis." ujar Naruto kemudian.
"Hn." balas Sasuke santai.
"Asal kau yang bayar." tambah Sasuke kemudian. "Sialan!" umpat Naruto merasa tak adil.
"Traktir atau tidak sama sekali." ujar Sasuke sedikit mengancam.
"Iya iya!" gerutu Naruto.
'Lumayan~ gratis~ tahu saja dompet lagi seret.' batin Sasuke gembira.
.
.
.
.
Dan mereka pun sampai di bioskop. Naruto tengah sibuk mencari film romantis yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan.
Sasuke di mana? Dia sibuk membeli camilan tentu saja menggunakan uang Naruto.
"Hei Sasuke! Ayo masuk!" Naruto menarik lengan Sasuke yang tengah membawa popcorn ukuran besar dan minuman soda ukuran besar pula untuk perbekalan selama nonton roman picisan.
Sesuai dugaan, film yang Naruto pilih sukses membuat si tampan dan berani ini badmood total. Alur ceritanya terlalu mainstream dan mudah ditebak.
'Cih, awalnya musuhan terus jatuh cinta terus happy-end. Gak ada apa ya yang beda seperti heroine-nya ditikung atau hero-nya ditusuk sama heroine-nya biar gak ada yang mengklaim si hero? ' cukup Sasuke, cukup. Batin Sasuke menggila.
Hening melanda, Sasuke masih menggerutu dan makin jengkel karena tak disangka-sangka ada tangan asing yang seenak jidat mencomot camilan milik Sasuke.
"Ehem." Sasuke berdehem lembut.
"Sstt." dan hanya dijawab seperti itu. Sekali, Sasuke sabar. Mungkin si pemilik tangan sedang khilaf.
"Ehem!" Dua kali.
"Sstt!" hidung Sasuke mulai kembang kempis menahan amarah jiwa.
"EHEM!" Tiga kali, tangan Sasuke mulai gatal ingin memelintir tangan asing tak tahu diri itu.
Sungguh, selain tangan yang tak tahu diri, suaranya kunyahan si pemilik tangan sungguh biadab membuat Sasuke jengah.
"Mas, bisa diem gak?! Naksir sama saya gak usah segitunya mas!" Sumpah baru kali ini Sasuke diteriaki macam om-om genit. Sasuke mulai memendam sumpah serapah dan menyusun rencana balas dendam setelah keluar dari ruang bioskop ini.
"Lihat saja nanti! Akan kubuat kau mati kutu baka onna!" Batin Sasuke geram.
.
.
.
.
.
Akhirnya film romantis yang sukses membuat Sasuke jengkel selesai. Sasuke menyesal menuruti keinginan Naruto, walaupun gratis tapi ada saja yang membuat Sasuke kesal. Mungkin Naruto tidak ikhlas.
Disaat Naruto sibuk mengoceh mengulas kembali film yang baru saja ditonton, Sasuke sedang sibuk memikirkan cara untuk membalas perlakuan gadis kurang ajar saat di dalam tadi.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Memang rejeki anak sholeh." Batin Sasuke ketika mendengar suara yang dikenal sebagai pencuri camilannya tengah berbincang heboh dengan gadis berkacamata.
"Rambut pink? Menggelikan." Batin Sasuke mengejek. Dengan langkah pasti Sasuke berjalan mendekati gadis berambut merah jambu yang tengah membelakanginya. Sasuke hanya ingin menampakkan diri agar gadis itu malu luar biasa, tindakan selanjutnya biar nanti dipikirkan.
Langkah Sasuke semakin dekat dan ia bisa mendengar jelas apa yang tengah diperbincangkan si merah jambu dan si kacamata.
"Cih, sedang memikirkan dosa ya?" Sasuke mendecih dalam hati.
Kedua gadis berbeda warna rambut tidak sadar ada sesosok tampan dan berani menghampiri mereka. Dengan keberanian dan dendam kesumat level Hades, Sasuke menepuk bahu si rambut merah jambu.
Satu tepukan. Tidak sadar.
Dua tepukan. Mungkin tidak terasa.
Tiga tepukan plus bumbu tenaga ekstra. Si empunya bahu meringis.
"ADA APA SIH?! SAKIT TAHU!" Sasuke kaget disewotin lagi, apalagi si merah jambu ternyata cantik pake banget. Raut wajah Sasuke langsung cemberut, antara bingung mau membentak atau langsung kasih nomor telepon, asem banget lah!
Sasuke masih sibuk berpikir, si cantik pake banget langsung pasang tampang manis aduhai. "Ya? Ada apa, mas?" Tuhkan, suaranya saja jadi merdu gitu. Matanya berkedip-kedip, entah kelilipan atau syaraf matanya memang sudah bawaan lahir?
Sasuke yang selalu jadi kebanggaan para guru di sekolah karena kepintarannya mendadak seperti menjadi anak paling idiot dan lebih idiot dari si idiot Naruto, hanya karena berhadapan dengan gadis pencuri camilannya yang ternyata cantik pake banget.
"Hn, terima kasih sudah menghabiskan camilan saya." merasa sudah cukup keren, Sasuke segera berlalu meninggalkan sang gadis yang tengah berdiri kaku saking kagetnya.
.
.
.
Sasuke memacu langkahnya cepat. Dia merasa malu luar biasa, wajahnya merona merah. "Sial! Cantik banget!"
Sasuke merasa gagal menjadi pendendam, Sasuke merasa harus mandi kembang tujuh rupa dengan satu tekad yaitu mendapatkan sang gadis merah jambu.
"Hei teme! Kenapa?" tanya sahabat kuningnya.
"Hn, tidak." Sasuke menjawab dengan kerennya. Padahal wajahnya merah banget.
"Aku harus cari tahu namanya! Mama! Papa! Sasuke mau sungkeman!" Sasuke yang ajaib pun keluar.
END
A/N :
Halooooo~~~ ini bagian Sasuke di cinema yaaa. Maaf kalau banyak typo, aneh, alur gak jelas, saya ngerjain dalam berbagai mood.
Sebenernya saya ada niatan berhenti menulis, kerjaan saya menyita banyak waktu. Ngetik pun disela waktu senggang yang sempit. Semua konsep untuk fiksi fiksi sudah saya rancang tapi ya itulah waktunyaaaa.
Kadang ketika saya mengetik beberapa halaman terus say simpan, ketika mau dilanjutkan saya seperti kehilangan feel di fiksi yang tengah saya kerjakan orz
Ya udah deh, tunggu aja update terbaru fiksi saya, entah kapan. Orz
Terima kasih yang masih mendukung saya! Terima kasih yang sudah baca dan review fiksi-fiksi saya, maaf gak saya balas, tapi selalu saya baca review dan pm dari reader-tachi dan jadi penyemangat saya :3 terima kasih, u rock guys!
Sign with love,
Coretan Hikari
Omake
"Papa~! Papa!" suara nyaring khas anak kecil itu menggema di telinga pria yang tengah merapikan bonsai kesayangannya.
"Hn, ada apa Sarada?" tanya sang ayah seraya membalikkan tubuh dan mensejajarkan tingginya dengan tubuh mungil putrinya.
"Bagaimana awal pertemuan papa dan mama?" Sarada bertanya dengan wajah berbinar, lain hal dengan wajah dewasa Sasuke.
"Fufufu~" Sasuke tertawa licik, wajahnya tersenyum dengan tidak wajar, jauh dari kesan papa keren.
Sarada merasa salah bertanya, ia menjadi jijik sendiri melihat wajah ayahnya yang abnormal.
Sarada, kau belum tahu sisi nista papa kerenmu.
Malu bertanya sesat di jalan. Salah bertanya, muka orang jadi sesat.
THE END
Thanks for reading and review!
