Maaf terjadi kesalahan sebelumnya. saya masih belajar dalam dunia fanfic ini.
Karena saya author baru jadi tolong harap di maklumi.
saya mohon bimbingannya.
terima kasih yang sudah mau membaca dan memberi komentar pada fict ini.
bagi yang tidak berkenan, tidak perlu membacanya.
Disclaimer : JK Rowling
Plot and story : murni dari saya
MY LOVE IS MAGIC
.
.
Hermione Granger X Draco Malfoy
'
.
O
Chapter 2 : kesialan yang berubah jadi keberuntungan
Matanya terpejam. Pasokan udara mulai menipis di paru-parunya. Gelembung-gelembung udara muncul di permukaan air. Kepala-rambut-putihnya muncul ke permukaan. Ia tersenggal. Menarik nafas sekuatnya. Mengisi kembali paru-paru yang kosong. Draco menikmati setiap tetes air yang membasahi tubuhnya. Sudah setengah jam ia berendam. Tapi masih enggan untuk keluar dari bak mandi ini. Hanya saat-saat seperti inilah yang bisa membuat tubuh dan pikirannya rileks. Tenang. Itu yang ia sukai dari kamar mandi. Ia bebas mencurahkan semua ekspresi yang ia rasakan. Tidak ada kebohongan. Tidak ada kepalsuan. Yang ada hanya dirinya sendiri. Yang sebenarnya.
Draco keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan selembar handuk di pinggangnya. Rambut yang masih basah, beberpa menetes ke lantai. ia berjalan ke meja rias yang terletak di sudut kamar. Dilihatnya Blaise teman sekamarnya sedang menelpon seseorang. Merayu seorang gadis lebih tepatnya. Draco hanya menggelengkan kepala. Dimana dan kapan saja Blaise akan selalu merayu gadis-gadis yang ada didekatnya. Tanpa pandang bulu. Ia sudah hapal benar prinsip sahabatnya itu.
Memperhatikan wajahnya yang tampan Draco bercermin angkuh menatap pantulan tubuhnya di balik cermin. Ia menyeringai. Gadis mana yang bisa menolakku. Bahkan mungkin pria pun tak sanggup menolakku. Hahaha... Batin Draco bangga atas apa yang dimilikinya.
Warna kulit putih kepucatan. Struktur wajah yang sempurna. Mata abu-abu tajam. Tubuh proforsional. Terima kasih untuk latihan Quiddicth yang rutin dijalaninya. Dan terima kasih pula untuk latihan keras yang diberikan ayahnya. Rambut pirang keperakan, ciri khas yang hanya Malfoy miliki. Dan seringaian yang memabukkan.
Asyik menikmati pemandang tubuhnya. Mata Draco seketika melebar saat dilihatnya Blaise dari seberang cermin tertawa terbahak-bahak sambil mempermainkan seperti Bra di tangannya dan beberapa pakaian dalam wanita berhamburan di atas ranjang.
"Jadi. Kenapa siang tadi kau terlambat menemuiku Draco? Karna kau tersesat di kamar gaids eh!" blaise tergelak. Matanya sampai berair saking puasnya ia tertawa.
Draco menatap tak percaya pada tumpukan diatas ranjangnya. Kenapa bisa ada benda seperti ini. Batin Draco. Aku tak pernah membelinya.
"Berhentilah tertawa Blaise." Tegur Draco. "atau akan ku kutuk kau." Ancam Draco.
Blaise masih belum bisa meredam tawanya. Sesekali ia masih tertawa. Mereka berdua meneliti pakaian itu.
"Yakin ini bukan milikmu Draco." Goda Blaise.
Draco memberikan tatapan mematikan pada Blaise. "tentu saja itu bukan milikku Zabini." Draco menekankan setiap kata-katanya.
"Yahhh... siapa yang tau kalau ternyata seorang Draco Malfoy memiliki dua kepribadian. Siang menjadi seorang pria, dan malam akan mejadi_." Belum sempat Blaise menyelesaikan perkataannya Draco sudah lebih dulu melemparkan satu set Lingerie padanya. Blaise makin tergelak.
Ada dua set lingerie. Berwarna merah dan yang satu lagi berwarna hitam berenda.
"Yang ini sangat seksi mate." Blaise berkomentar. Sambil mengambil satu set bra dan celana dalamnya.
Ia tertawa saat dicobanya memasang bra pada dadanya. Dan bergaya didepan cermin. Draco pun ikut tertawa melihat kelakuan gila temannya itu.
"Kau cocok menggunakannya Blaisy." Olok Draco. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Sambil terus menghambur tumpukan pakaian dalam itu.
"oohhh... siapapun yang membeli benda seperti ini. Aku sangat ingin membelinya." Blaise menghayal dengan wajah mesum.
"kau yakin tidak ini milik siapa?" tanya Blaise lagi.
Draco hanya menggeleng.
Tedengar ketuklan dari arah pintu. Darco berjalan menghampiri. Pintu diketuk semakin membabi buta.
Siapa sih yang menyerang pintu orang ditengah malam begini. Batin Draco.
Saat pintu terbuka tampaklah rambut pirang megar dihadapan Draco. Draco mengernyit mendapati gadis aneh siang tadi membawa baju yang dikenali Draco. Itu baju yang ia beli siang tadi. Otak Draco bekerja dengan cepat. Ia mengingat-ingat kejadian siang tadi.
Mereka berdua tak sengaja bertabrakan menyebabkan tas belanjaan yang mereka bawa terjatuh berhamburan. Lalu terjadi adu mulut dan gadis itu pergi meninggalkannya sambil membawa tasnya kembali. Mungkin gadis itu salah mengambil tas saat memungutnya. Atau mungkin juga saat di lift barusan. Lampu mati dan mungkin saja tas belanjaan mereka tak sengaja tertukar. Berarti semua pakaian dalam itu milik gadis ini.
Draco menyeringai.
Hermione muak melihat seringaian pria di hadapanya ini. Ia menerobos masuk kedalam kamar Draco. Saat dilihanya pantulan bayangan seorang pria berkulit gelap memakai bra-nya dan bergaya didepan cermin yang letaknya sangat strategis. Bisa terlihat dari depan kamar. Draco kaget dengan kelancangan gadis ini.
"aku belum mempersilahkanmu masuk miss." Teriak Draco.
Hermione mengabaikannya. Matanya melotot mendapati semua pakaian dalam yang dibelinya siang tadi berserakan diatas ranjang. Hancur sudah harga dirinya. Rasanya ia ingin ditelan bumi saat itu juga.
Pria berkulit gelap yang tadi mematung saat melihat Hermione memberinya tatapan ingin-ku-goreng-atau-ku-panggang-saja-orang-ini-mana-yang-lebih-menyakitkan.
Hermione membereskan semua miliknya diatas ranjang. Dengan mata yang sudah berair. Ia ingin menangis. Tapi sekuat tenaga menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah didepan dua manusia konyol ini.
Draco hanya diam melihat Hermione membereskan miliknya.
Blaise menganga. Tak sanggup berbicara. Ia syok. Baru saja membayangkan siapa pemilik semua pakaian ini. Tiba-tiba datang seorang gadis yang sangat cantik dan seksi mengambil semuanya. Berarti gadis cantik inilah pemiliknya. Ohh Merlin cepat sekali kau mengabulkan permintaan mesum ku ini. Batin Blaise mengulum senyum.
"Itu milikku. Lepaskan." Bentak Hermione pada Blaise.
Blaise melongo tak mengerti maksud Hermione.
Tangan Hermione menunjuk kearah dada Blaise. Ternyata Blaise masih memakai bra-nya. Tubuh Hermione bergetar menahan emosi.
Blaise segera melepaskannya.
"kau merusaknya bahkan sebelum aku memakainya." bisik Hermione marah.
Setelah mengambil miliknya yang terakhir Hermione bergegas meninggalkan kamar Draco.
Blaise cengar-cengir.
"Ada apa dengan wajahmu itu Zabini." Tanya Draco yang sekarang memakai pakaiannya yang ditinggalkan gadis tadi.
"Dia manis sekali. Tubuhnya seksi. Wajahnya cantik. Dia oohh.. sempurna." Cerocos Blaise.
"Dasar mesum." Draco melempar Blaise dengan bantal.
Yang dilempar hanya senyum-senyum saja.
Draco memandang langit-langit kamar. Berbeda sekali dengan langit-langit kamar dirumahnya.
Blaise sudah mengorok dari tadi. Dan ia masih belum bisa tidur.
Ia tersenyum geli mengingat kejadian tadi. Gadis itu manis kalau saja sikapnya tidak seperti itu. Draco mengingat kembali ekspresi-ekpresi lucu gadis aneh itu. Mata melototnya. Ocehannya. Tarikan nafasnya saat gadis itu berbicara panjang lebar. Wajahnya yang merah saat menahan emosi. Rambut megarnya. Menurut Draco hal itu sangat menggemaskan. Belum pernah ia bertemu dengan gadis yang seaneh itu. Biasa para gadis akan mejaga penampilan dirinya sebaik mungkin didepan orang lain, apalagi didepan pria.
Ia sudah terbiasa mendapatkan tatapan memuja dari para gadis. Dengan gaya semaksimal mungkin para gadis akan melakukan berbagai cara mendekati untuk mendapatkan perhatian darinya. Dan Draco tak pernah menanggapi semua itu. Itulah resiko seorang Casanova disekolah. Batin Draco narsis.
Tapi berbeda dengan gadis ini. Dengan apa adanya ia berhasil menarik perhatian Draco Malfoy. Dengan kecerobohannya berhasil membuat Draco penasaran.
Bukan gadis sembarangan. Bisik Draco dan ia tersenyum.
Draco punya standart yang tinggi dalam menilai seseorang terutama pada seorang gadis. Ia takkan tertarik bila gadis itu hanya gadis biasa.
Ayoo kita cari tahu. Draco menyeringai.
ooOOoo
Ditempat yang berbeda. Hermione sama tak bisa tidur. Ia terus memikirkan kesialan yang terjadi padanya hari ini. Putusnya hubungan asmara dengan pria yang paling diinginkannya menjadi pacar. Dari kecil ia sudah mengidolakan Ron. Karena hubungan baik kedua orang tua mereka membuat mereka sangat akrab sejak masih kecil. dari dulu siapa saja yang menanyakan siapa pria yang ingin ia nikahi saat besar nanti. Ia pasti akan menjawab . 'aku akan menikah dengan Ron saat besar nanti.' Kenang Hermione.
Susah payah ia berjuang untuk mendapatkan cinta Ron. di bantu dengan adik Ron. Ginny selalu setia menemaninya mencari ide agar Ron mau menerima cintanya. Ginny rela mengasut Ron agar kakaknya itu mau menerima cintanya. Saat cinta Ron telah didapat malah ia sendiri yang menghancurkannya. Ia tak bisa menahan godaan untuk terus bersenang-senang. Dikarenakan Ron adalah pria pekerja sedangkan ia gadis sekolahan. Tentu saja Ron tak harus selalu bisa menemaninya. Di tuntut dengan pekerjaan Ron yang membuatnya sering melakukan perjalanan menyeberang benua. Membuat intensitas hubungan mereka kurang. Dan disitulah godaan muncul. Akan selalu ada pria yang mengajak Hermione berkencan. Entah itu teman satu sekolanya. pria yang baru ditemuinya dijalan atau di cafe. Teman chattingnya. Tak jarang Hermione menolak ajakan mereka.
Ia gadis yang populer disekolah. Dengan peringkat nomor satu dari seluruh siswa. Tidak ada yang tidak tertarik dengannya. Di tambah wajah cantik. Kulit mulus. Body yang lumayan menurutnya. Para pria selalu menatapnya takjub. Hermione menikmati ketenarannya. Di tambah lagi Ginny selalu mendukungnya. 'Salahkan kakakku yang kurang memberi perhatian padamu. Jadi bukan salahmu ingin sedikit bersenang-senang. Kita gadis remaja yang teriakat oleh hormon kebebasan.' Itu yang selalu di ucapkan Ginny setiap Hermione meminta pendapat padanya.
"Sahabatku ini memang sinting." Hermione tersenyum melihat Ginny yang tidur disampingnya.
Kini hayalan tentang pernikahanya dan Ron musnah lah sudah. Hal itu disebabkan karena kenakalannya sendiri. Ia sering membohongi Ron. dan siapa yang tahu ternyata Ron mengetahi semua aksi bohongnya itu. Ia juga sering mengabaikan Ron sebagai bentuk dari aksi balas dendamnya karna jarangnya Ron mengunjunginya. Tapi ia salah perhitungan, bukan membuat Ron merasakan bagaimana rasanya di abaikan ia malah membuat Ron tak sabar menghadapinya. Dari awal Ron sudah berusaha keras untuk mengimbangi gaya kehidupan Hermione. Dan ia mengharapkan balasan yang sama. Ia ingin Hermione mengimbangi kehidupannya juga. Seperti mengerti kesibukan Ron yang sebagai pria pekerja. Tapi apa yang terjadi ia egois. Ia hanya mementingkan dirinya sendiri. Kini Ia harus menelan pahit akibat dari perbuatanya sendiri.
Hermione mengusap wajahnya. Matanya nanar. Air mata jatuh lagi membasahi pipinya. Hermione terisak pelan. Kini satu hal yang ia pelajari dari hal ini. Ia harus memperbaiki sikapnya. Ia takkan pernah berhasil dalam suatu hubungan apabila terus seperti ini. Bila ia menemukan pria yang di cintainya lagi nanti. Ia takkan menyia-nyiakan seperti ini lagi.
"Aku janji." Hermione menghapus air matanya. Ia harus bangkit. Ia tersenyum.
Baru saja Hermione meyakinkan dirinya untuk bangkit dari keterpurukan ini. Ingatan tentang insiden di kamar sebelah menghapus senyumnya. Belum pernah ia semalu ini dalam hidupnya. Laki-laki melihat pakaian dalamnya itu benar-benar mengerikan. Oke! ia berlebihan. Saat berenang dipantai ia memakai bikin dan semua orang melihatnya. Menurutnya hal itu biasa saja. Entah kenapa kali ini ia benar-benar malu. Laki-laki melihat pakaian tidurnya. Menurutnya itu sangat keterlaluan. Hermione memang bebas tapi ia tahu batasan sampai mana laki-laki dan perempuan boleh berhubungan. Ia tidak pernah melakukan hal-hal terlarang. Orang tuanya memberinya kepercayaan. Dan sampai sekarang ia tidak penah melanggarnya.
Ia memang sering minum bersama teman-temannya. Bahkan terkadang sampai mabuk. Beruntunglah ia karena memiliki teman yang baik. Mereka tak pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bila Hermione mabuk mereka akan mengantarnya pulang ke apartement-nya. Ia tinggal terpisah dengan orang tuanya. Ia dan Ginny menyewa sebuah apartement di dekat sebuah perpustakaan.
Selain memiliki hoby bersenang-senang ia juga memiliki hoby lain yaitu membaca. Ia maniak buku. Tidak semua waktunya di habiskan hanya untuk bersenang-senang. Ia akan mengurung diri dikamar atau menghabiskan waktu seharian diperpustakaan saat ia ingin membaca. Dan ia akan meninggalkan rutinitas hura-huranya. Sampai ia ingin melakukannya lagi. Itulah sisi uniknya.
Dan untuk menjaga kepercayaan orang tuanya yang telah memperbolehkannya tinggal di apartement miliknya sendiri. Ia berjanji tidak akan melekukan hubungan sexs tanpa adanya ikatan pernikahan.
Dan Hermione memegang teguh prinsip itu.
Maka saat ada seorang laki-laki meliahat pakaian tidurnya. Menurutnya itu sudah mengarah pada hal-hal yang terlarang. Pemikiran yang aneh memang tapi itulah yang ia percayai.
Hermione membenamkan wajahnya ke bantal. Ia tak sanggup mengingat kejadian tadi lagi.
Ia berharap tak pernah bertemu kedua makhluk itu lagi. Sampai mati.
ooOOoo
Rambut Hermione berkibar alhasil rambutnya kini acak-acakan terkena angin. Ketidak beruntungan sepertinya masih menyertainya hari ini. Rok selutut yang dikenakannya terbang bergerak tak tentu arah mengikuti ritme angin. Susah payah ia menjaga roknya agar tak tersingkap terlalu tinggi hingga menampakkan paha mulusnya. Ia salah costum sepertinya.
Mengunakan atasan tanpa lengan dipadu padankan dengan rok selutut. Ditambah dengan sneakers. Dan beberapa aksesoris Ia keluar dari kamar pagi ini dengan semangat baru. Dan ternyata pakain ini menjadi boomerang untuknya. Ia tak terlalu fokus pada penjelasan profesor pembimbing mereka karena sibuk menjaga roknya agar tak kesana-kemari.
"Aku lebih suka melihat mu memakai yang warna merah. Terlihat seksi." Hermione terkejut mendengarnya. Ia menoleh dan mendapati Draco Malfoy berdiri tepat dibelakangnya dengan tatapan menggoda.
"Brengsek." Sahutnya. Dan ia berjalan meninggalkan Draco yang menyeringai.
Saat ini ia berada disalah satu kilang minyak di negara bagian Uni Emirat Arab yaitu Abu Dhabi. Kota terbesar kedua di Uni Emirat Arab ini adalah salah satu produsen terbesar di dunia minyak.
Terletak di lepas pantai Haql al Bunduq. Di atas anjungan lepas pantai Hermione bersama beberapa teman sekolanya. Sedang melakukan kunjungan penelitian untuk mempelajari lebih dalam tentang minyak bumi. Sebagai salah satu tugas akhir sebelum kenaikan kelas.
Bergabung dengan beberapa sekolah lain. Mereka di tugaskan meneliti bagaimana ekplorasi atau eksploitas bahan tambang tersebut. Mempelajari tentang proses pengeboran dan lain-lainnya.
Pertama kali menginjakkan kaki diatas anjungan Hermione terkejut samar-samar ia melihat rambut putih di kejauhan. Namanya Draco Malfoy dari salah satu sekolah Internasional di Inggris.
Nama yang aneh. Batin Hermione saat namanya pria itu disebut dalam daftar absen.
Mereka akan menghabiskan waktu seharian di atas anjungan ini untuk mempelajari apa yang mereka perlukan sebagai tugas sekolah.
Sebisa mungkin Hermione menjauhi Draco. Selalu menempel pada Ginny. Ia berkeliling melihat-melihat anjungan dan mendengarkan pembimbing mereka menjelaskan..
Hermione melihat jam tangannya. "Pukul 02:30." Bisiknya. Setelah makan siang ia bersantai dipinggiran anjungan. Menikmati pemandangan yang dilihatnya. Sesuatu yang baru berada disini baginya. Dari apa yang sudah dipelajarinya tadi bumi ini ternyata sangat menakjubkan.
Ginny menghampirinya. "Pukul berapa kita pulang nanti?" tanya Ginny.
"aku sudah lelah Berjalan dan terus mencatat sedari tadi." Tambahnya.
"kita pulang jam enam sore nanti." Jawab Hermione.
Ginny menghela nafas malas. "Rasanya aku ingin terjun ke bawah." Ia menatap permukaan laut di bawah anjungan.
"Sepertinya airnya sangat segar." Ginny tersenyum membayangkan bagaimana rasanya berenang dilaut luas seperti ini.
"Heyy... kau gadis lingerie itu kan." Teriak seseorang dibelakang mereka.
Kontan Hermione dan Ginny berbalik. Dan tampaklah dua manusia konyol ini lagi. Batin Hermione.
Hermione menatap mereka tajam. Beraninya dia memanggilku seperti itu. Dasar pria mesum. Teriak Hermione dalam hati.
"Perkenalkan namaku Blaise Zabini dan teman ku ini Draco Malfoy." Blaise mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.
"Dan kau Hermione Granger kan." Tambah Blaise.
Hermione tidak menerima tangan Blaise. Ia tidak ingin mengenal mereka. Ia membuang muka.
Merasa di abaikan. Blaise beralih pada Ginny memperkenalkan diri. "Ginny Weasley." Ucap Ginny Dengan senang hati menerima ulutran tangan mereka.
Blaise asik melakukan percakapan dengan Ginny. Hermione tidak tertarik mengikuti percakapan mereka. Sesekali Draco ikut berkomentar apa yang dibicarakan Blaise. Tapi Draco lebih banyak diam. Ia lebih banyak menatap Hermione.
Merasa diperhatikan. Hermione meninggalkan mereka. Ia bergabung dengan kelompok lain.
Kegiatan hari ini berakhir. Mereka semua kembali ke hotel.
ooOOoo
ini hari ketiga Hermione di Abu Dhabi. Kegiatan ia bersama rombongan hari ini adalah adalah berjalan-jalan ke bukit Green Mubazarah di kota Al-Ain sekitar dua jam dari Abu Dhabi.
Saat ini di Al-Ain, di timur Abu Dhabi. para ilmuan sedang mencoba membuat hujan turun di gurun pasir. Daerah timur tengah terkenal dengan daerah panas dan tandus.
Pera ilmuan membuat teknologi mengontrol cuaca. Mereka menggunakan ioniser raksasa. Alat ini mendorong terbentuknya formasi awan yang diharapkan akan memicu turunnya hujan.
Dan mereka berhasil menciptakan hujan di langit yang cerah.
Green Mubazarah adalah area taman hijau di tengah gurun pasir di kaki bukit Jabel Hafeet.
Pemandangan disini sangat menyegarkan mata. Ternyata tak hanya oase yang ada di gurun pasir.
Di fasilitasi dengan vila-vila asri. Tempat ini menjadi kunjungan yang tak boleh dilewatka saat berlibur ke Abu Dhabi. Selain hamparan rumput hijau yang mempesona. Ada pula kolam renang air panas disini.
Kolam renang menjadi pilihan Hermione setelah seharian berjalan mengelilingi Green Mubazarah. Kolam renang ini terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di Arab laki-laki dan perempuan di larang berdekatan terlalu intim di muka umum. Mereka disini sangat menjaga kesopanannya. Hermione menyukai gaya hidup wanita disini yang mengharuskan mereka menutup seluruh tubuh mereka agar tak memicu hasrat laki-laki.
Di depan pintu masuk kolam renang Hermione berpapasan dengan Draco.
"kali ini kau pakai yang mana? Aku harap yang warna kuning." Goda Draco sambil menyeringai.
Hermione menatap Draco marah. Baru saja Hermione ingin mengeluarkan sumpah serapah Draco sudah pergi meninggalkannya sambil terus menyeringai.
Hermione benar-benar tak tahan jika harus berhadapan dengannya lagi untuk beberapa hari kedepan. Ingin rasanya segera berakhir study tour mereka ini agar ia tak melihat si albino itu lagi.
Di hari keempat mereka kembali ke anjungan kilang minyak untuk melanjutkan observasi pertama kemarin. Masih sekali lagi mereka harus kesini untuk menyelesaikan penelitian.
Hari ini hari bebas. Mereka diperbolehkan untuk berkeliling Abu Dhabi masing-masing tanpa rombongan.
Dari pagi-pagi sekali Hermione dan Ginny sudah bersemangat membuat jadwal wisata kunjungan mereka.
Baju kaos putih lengan panjang. Hot pants warna biru muda. Dan boots. Hermione siap memulai petualngannya. Di tambah dengan sunglases, topi dan tas selempang kecil. Mereka berdua berangkat. Tak lupa Map Abu dhabi dibawa.
Panas hari ini mencapai 37 derajat. Padahal ini masih pagi tapi sudah sepanas ini. Namun Tidak menyurutkan semangat mereka. Tujuan pertama mereka adalah keDubai. Sekitar 90 menit jaraknya Dari Abu Dhabi. Berfoto-foto disekitar Burj Khalifa dengan ketinggian 828 meter. Yang merupakan gedung tertinggi di dunia saat ini. Salah satu maha karya terhebat buatan manusia. Puas berfoto mereka kembali ke Abu Dhabi.
Berikutnya mereka menyambangi Ferrari World Abu Dhabi. Taman hiburan indoor terbesar di dunia, terletat di Yas Island. Mencoba wahana yang paling memacu adrenalin. Menaiki Formula Rossa Roaler Coaster tercepat didunia. Rasanya sungguh luar biasa.
Puas bermain. Mencoba berbagai wahana disana. Mereka menuju Masjid Agung Sheikh Zayed yang merupakan landmark kota Abu Dhabi. Dari kejauhan Masjid Agung Sheikh Zayed terlihat sangat sederhana seperti bangunan putih biasa yang muncul dari padang pasir. Terinspirasi dari arsitektur Mughal (India, Pakistan, Bangladesh) dan Mooris (Maroko). Dengan 82 kubah bergaya Maroko dan di susun dari batu pualam sewarna putih susu dengan emas di atas kubahnya. Kubah utama masjid berdiameter 32,8 meter dan tinggi 55 meter . mirip dengan Turkey Research Centre for islamic. Dengan luas setaralima kali lapangan sepak bola Masjid ini mampu menampung empat puluh ribu jemaah lebih.
Masjid Agung Sheikh Zayed memiliki lebih dari 1000 pilar. Dengan empat bangunan menara setinggi hampir 107 meter di penjuru masjid. Di kelilingi dengan kolam yang super lebar menggunakan bahan keramik lantai berwarna gelap. Kolam ini memantulkan bentuk arkade masjid, memberikan pemandangan spektakuler di bawah siraman cahaya lampu di malam hari.
Masjid Agung Sheikh Zayed merupakan salah satu masjid yang memperbolehkan non muslim berkunjung kesini.
Saat memasuki masjid pengunjung wanita di haruskan memakai abaya tradisional (jubah hitam longgar yang menutupi tubuh dan rambut). Hermione membeli abaya tersebut sebagai kenang-kenagan pernah berkunjung kesini.
Penat setelah hampir seharian barjalan-jalan hilang seketika setelah menjelajahi setiap inci Masjid Agung Sheikh Zayed. Mereka duduk bersantai di pelataran masjid dekat kolam. Menunngu terbenamnya matahari dan menyaksikan semburat warna jingga kemerahan itu dari kolam di hadapan mereka. Menyajikan pemandangan yang luar biasa dengan latar belakang Masjid yang megah.
Terdengar kumandang Adzan. Panggilan umat muslim untuk memenuhi kewajiban mereka.
Dari Masjid Agung Sheikh Zayed perjalanan mereka dilanjutkan ke Abu Dhabi Mall. Yang Terletak di pusat kota. Mereka berbelanja sepuasnya. Membeliakan oleh-oleh untuk kerabat. Apalagi Ginny yang mempunyai tujuh saudara. Bayangkan saja sebanyak apa ia berbelanja. Banyak diskon disini. Shopaholic akan benar-benar kalap bila berada disini.
Perjalanan mereka berakhir. Kembali ke hotel. Hermione berjalan gontai kelelahan. Ginny meninggalkannya tadi. Harry kekasih Ginny mengajaknya makan malam bersama. Hermione tidak ingin menggangu Love Bird itu memadu kasih. Ia memilih kembali ke kamar sendiri. Dan sekarang sudah tengah malam.
"Puas berjalan-jalan seharian eh." Tegur seseorang di belakang Hermione. Ia menoleh.
Draco mensejajari langkahnya dengan langkah Hermione. Hermione tak menanggapi pertanyaan Draco. Pandangannya lurus kedepan.
"Berendam lah pakai air dingin. Akan sangat menyegarkan setelah berkeliling kota seharian." Draco pun berlalu mendahului Hermione.
Hermione melongo, kenapa dia jadi perhatian padaku. Pikirnya.
ooOOoo
Draco memasuki kamar. Tidak ada siapa-siapa disana. Blaise belum kembali berarti.
Siang tadi tak sengaja ia melihat Hermione di taman hiburan Ferrari World Abu Dhabi. Sekedar penasaran ingin mencoba yang katanya Roller Coaster tercepat sedunia.
'Benda macam apa itu.' Pikir Draco.
Ternyata rasanya sama saja dengan menaiki sapu terbang.
Karena melihat Hermione entah mengapa ia jadi ingin mengikutinya. Ada perasaan aneh. Setelah kejadian di lift waktu itu. Draco tak bisa berhenti memikirkannya. Ada sesuatu dari gadis itu yang menarik perhatiannya. Seperti Magnet. Rasanya matanya tak ingin lepas memandang Hermione Granger.
Apa ia menyukai gadis itu. Pikir Draco.
Tidak mungkin. Ia bukanlah orang yang mudah jatuh cinta.
Berpisah dengan Blaise di Ferrari World tadi. Ia memilih mengikuti acara jalan-jalan Hermione diam-diam.
Fenomena matahari terbenam di belahan bumi lain ini kalah indah saat melihat Hermione duduk di pelataran dekat kolam Masjid Agung Sheikh Zayed dengan latar belakang itu Hermione tampak sangat indah. Untuk pertama kalinya Draco terpesona.
Draco tersenyum. "Kurasa kesialan ini berakhir dengan keberuntungan baby." Bisik Draco.
"Sayang liburan ini sebentar lagi berakhir." Tambah Draco berbicara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Draco, bagaimana cara menarik perhatian Hermione Granger.
Dan Draco pun terlelap dengan seringaian menghiasi wajahnya.
Pagi ini di hari kelima masa hukumannya. Draco bersama rombongan di jadwalkan berjalan-jalan ke gurun pasir.
Hermione terlihat berjalan sendiri tidak ada teman kepala rambut merah yang selalu ada disisinya kapan saja. Adrenalin Draco terpicu dengan Off Road (Draco tidak mengerti istilah apa yang mereka pakai) di gurun pasir menggunakan Mobil Jeep. Lalu menonton atraksi di tengah padang pasir, terlihat beberapa wanita menggoyangkan pinggulnya menari perut dengan pakaian khas Arab. Mencoba beberapa kuliner disini. Terakhir Draco mencoba menaiki onta. Beberapa gadis di rombongan terlihat mencoba Henna Painting.
Menjelang sore para rombongan memilih berjalan kembali menuju Bus yang mereka tumpangi.
Hermione berjalan di barisan paling belakang rombongan. Terlihat asyik memandangi sekitar. Draco menghampirinya.
"Dimana teman mu yang Manis itu." Tanya Draco.
Hermione memutar bola bola mata menaggapi pertanyaan Draco.
"kau tidak boleh mendekatinya. Dia sudah memiliki kekasih."
Draco memonyongkan bibirnya menyebut oohh...
"Baiklah. Kalau begita aku mendekati mu saja." Goda Draco. "Kau pasti tidak memiliki kekasih kan?" tambahnya lagi.
Hermione berhenti seketika. "Maaf aku sudah memiliki kekasih." Balas Hermione dengan penekanan di setiap suku katanya.
Draco menyeringai. "kalau begitu, aku akan tetap melakukannya."
"Enyahlah kau Malfoy." Teriak Hermione frustasi.
"Tidak." Balas Draco.
Hermione menatapnya tajam. Orang lain biasanya kalau di tatap Hermione seperti ini akan merasa terintimidasi. Dan mereka pu akan kalah di bawah tatapannya. Bagaimana dengan Draco Malfoy?.
"Beritahu, apa yang harus aku lakukan agar kau tak marah-marah terus padaku." Tanya Draco.
Hermione melongok. Jurusnya tidak mempan pada Draco. Besar juga nyali pria ini. batin Hermione.
"Yang harus kau lakukan adalah pergi dari hadapan ku." Bentak Hermione.
"Tidak akan. Kau tau aku sangat ingin melihatmu memakai Lingerie yang kemarin." Goda Draco sambil mengedipkan mata. Ia menyeringai menang.
Wajah Hermione benar-benar merah sekarang. Mengepalkan tangannya.
"kau. Dasar pria mesum brengsek."
Hermione menyerang Draco. Ia mencoba meninju wajah Draco. Tapi dengan gesit Draco bisa menangkap tinju Hermione. Hermione semakin marah, ia mengarahkan tangan yang satunya lagi ke arah wajah Draco. Dan lagi tangannya kali ini tertangkap kembali.
Melirik kebelakang. Mereka sudah jauh tertinggal dari rombongan. Hanya ujung kepala teman-temanya yang terlihat di gunung-gunung pasir ini. Jika ia berteriak percuma saja, tidak ada yang akan mendengar.
Draco tersenyum licik melihat kekalahan Hermione. Tapi Hermione tak habis akal. Ia menginjakkan kakinya ke kaki Draco. Tapi Draco seperti bisa membaca pergerakannya. Dan lagi-lagi Draco berhasil menghindar.
"Ternyata kau liar sekali." Draco kembali menggodanya.
Draco menarik tubuh Hermione. Tubuh Hermione merepat ke tubuh Draco. Efek dari tarikan Draco. Draco memeluknya. Membaui tubuhnya. Merasakan tanganya menyentuh kulit Hermione sekali lagi. 'Rambutnya wangi stobery.' Batin Draco. Ia merasakan kedamaian. Menenggelamkan wajahnya di rambut Hermione. Draco menikmati setiap detik yang terjadi.
Herminone meronta dalam pelukan Draco.
Tiba-tiba Hermione merasa pijakannya hilang. Isi perutnya terasa jatuh ke bawah. Ia jatuh. Tidak. Mereka berdua terjatuh. Bagaimana bisa. Apa yang terjadi. Ia mencengkram erat tubuh Draco.
Terdengar teriakan membahana memenuhi udara.
Hermione melihat dasarnya. Dia akan menghantamnya.
Sampai di sini sajakah hidupku. Pikir Hermione. "I Love You Mom and Dad." Bisiknya. Hermione memejamkan mata.
"Aresto Momentum." Draco mengucapkan mantra.
Hermione membuka mendengar Draco mengucapkan kata-kata aneh.
Kekuatan Gravitasi tiba-tiba berhenti. Hermione merasa tubuhnya mengambang sesaat beberapa centi di atas permukaan tanah sebelum akhirnya benar-benar menyentuh tanah.
Mereka berhasil tidak menghancurkan tubuh mereka.
Draco bangkit berdiri, melihat sekekeling. Sepertinya mereka masuk ke dalam tanah. Pasir yang mereka injak tadi tiba-tiba merosot jatuh. Dan sekarang mereka seperti berada di dalam gua di bawah gurun pasir. Di sekeling benar-benar gelap. Tanah yang ia injak batu-batu besar berlubang bukan pasir. Seperti ada dunia lain saja di bawah gunung-gunung pasir ini. Penerangan hanya dari sinar matahari sore dari lubang mereka jatuh tadi. Tingginya sekitar 100 meter. Cukup dalam. Untung ia sempat merapalkan mantra, jika tidak mugkin mereka sudah mati, jatuh dari ketinggian seperti ini. Ia melanggar peraturan lagi. Akan banyak detensi yang ia dapat saat kembali ke Hogwarts nanti.
Draco melihat Hermione yang masih terbaring syok. Draco membantunya berdiri. Hermione tergagap ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa. Ia syok berat.
Draco memeluknya. Hermione tak menolak, ia tak bisa berfikir sekarang.
Hermione balas memeluk Draco. Ia Perlu seseorang menenangkannya sekarang.
Draco mengusap-usap Rambut Hermione. "Tenanglah."
Draco menenangkannya lagi seperti di lift waktu itu. Kenapa ia harus selalu terperangkap dalam situasi seperti ini. Di saat Hermione membenci pria yang memeluknya ini. Justru pria inilah yang mampu menenangkannya.
"kau harus menjelaskan ini padaku." Hanya itu yang di ucapkan Hermione. Selanjutnya ia kembali diam.
Draco melepaskan pelukannya. "Tidak ada yang pelu di jelaskan. Kita selamat. Itu saja." Ujarnya.
Hermione mengerutkan kening, bingung dengan perkataan Draco. Bagaimana mungkin mereka bisa selamat setelah jatuh dari ketinggian. Hermione melihat ke atas, ia bergidik ngeri. Seberapa dalam mereka terjatuh. Pasti ada penjelasan di balik ini semua. 'Ada yang aneh dari mu Draco Malfoy.' Batin Hermione.
"Ayo kita cari jalan keluar dari sini." Ajak Draco sambil meraih tangan Hermione mencoba menggandengnya.
Hermione menepis tangan Draco. "Aku bisa berjalan sendiri." Ujarnya.
Draco memutar bola matanya gemas. Mulai lagi sikap menjengkelkannya. Tak bisa kah ia bersikap manis sebentar saja bahkan dalam keadaan kritis seperti ini.
Draco menghela nafas. Ia berjalan di depan dan hermione mengikutinya.
Penerangan semakin berkurang. Hari di atas mulai memasuki malam, semakin masuk kedalam maka semakin gelap pula di dalam.
Hermione berhenti. "Aku tidak ingin melanjutkannya."
Draco menoleh kebelakang. "Kenapa.?" Tanya Draco.
"Di sana gelap. Aku tidak bisa ketempat gelap."
"Lalu kau akan tetap disana berdiam diri saja."
Hermione membongkar-bongkar tas nya, mencari sesuatu yang bisa di gunakannya.
Handphone nya mati, lalu Camera nya juga mati. Ia terlalu banyak berfoto tadi menghabiskan semua daya gadget-nya.
"Aku akan tetap di sini sampai mereka menemukannku." Ujar Hermione frustasi.
Draco menggelengkan kepala. "Tidak ada yang sadar kalau kita tidak ada di rombongan."
Ginny akan sadar kalau ia tidak ada. Tapi Ginny tidak ikut bersamAnya hari ini. Ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Hermione tertunduk lemas. "Pasti ada yang menolong kita." Ternyata selamat setelah jatuh dari ketinggian bukan pilihan yang baik. Terjebak di sini lebih buruk.
"Kalau kau ingin tinggal di sini. Baiklah. Aku jalan sendirian." Ucap Draco sambil kembali berjalan.
Hermione ingin mencegah Draco. Tapi ia gengsi memohon pada Draco.
Dengan keegoisannya Hermione terduduk memeluk lututnya. Sambil menangis. Samar-samar punggung Draco hilang di telan kegelapan. Tinggal ia sendiri.
Draco tak tega meninggalkan Hermione sendiri di sana. Ia teringat kejadian di lift waktu itu. Hermione tiba-tiba menjerit saat lampu mati, dan ia sesak nafas. Jadi itu alasan kenapa ia tidak mau masuk semakin dalam. Ia takut gelap. Draco tertawa kecil. "Dia takut gelap. Lucu sekali."
Draco kembali mendatangi Hermione. Hermione mendongak, air matanya sudah kering. Kenapa kau kembali? Kau sudah menemukan jalan keluarnya?" tanya Hermione.
Draco menggeleng. "Ayo kita cari bersama." Sambil membantu Hermione berdiri.
Draco mengeluarkan tongkat dari dalam kantung celananya. "Lumos" seketika muncul cahaya terang dari ujung tongkat.
Hermione menganga melihatnya. "Ba-ba-bagaimana kau melakukannya." Tanya Hermione.
Draco menarik tangan Hermione, menggandengnya. "Jangan banyak tanya. Cepat jalan."
"Boleh aku memegangnya." Hermione mencoba meraih tongkat Draco.
"Tidak boleh." Draco terus memimpin jalan sambil mengarahkan tongkatnya kesana-kemari menerangi sekitar.
"Apa itu senter buatan terbaru." Hermione meneliti. Sikap Draco jadi dingin.
"Mungkin saja."
"Siapa kau sebenarnya." Bentak Hermione berhenti berjalan. Langkah Draco ikut terhenti.
"Bukan saat yang tepat kau bertanya itu sekarang. Kita harus segera keluar dari sini." Draco menarik Hermione berjalan lagi.
"Apa kau Alien?."
"Atau hantu."
"Monster."
"Manusia jadi-jadian."
"Malaikat. Ohh itu tidak mungkin." Hermione meremehkan.
"Perhatikan saja jalanmu Granger." Draco tak sabar menghadapi hermione.
Aauuuuwww... hermione berteriak.
'Tuh kan.' Batin Draco.
Kaki Hermione terperosok di antara bebatuan. Darah keluar dari kaki mulusnya. Terlihat luka robek disana. Hermione mengaduh melihat kakinya berlumuran darah. Ia menggunakan Hot Pants. Alhasil kulitnya yang langsung bersentuhan dengan batu tidak ada penghalang lain.
Draco meluruskan kaki Hermione. Cukup parah.
"Lukanya harus di jahit. Jika tidak bisa infeksi nanti." Hermione cukup tahu tentang medis. Karna ayahnya adalah seorang Dokter Gigi.
Draco memejamkan mata. Apa ia harus memakukannya lagi. Batinnya.
Draco mengarahkan tongkatnya ke tulang kering Hermione.
"Episkey." Rapal Draco.
Luka robek Hermione menutup sendiri. Hermione terheran-terheran melihatnya.
"Ka-kau..." Hermione menunjuk Draco. "Siapa kau sebenarnya."
"Apa yang kaulakukan?."
"Bagaimana."
"Apa kau bisa mengajari aku."
"Lalu apakah teman hitam mu kemarin sama seperti mu."
"Apa lagi yang bisa kau lakukan selain ini."
"Apakah di tongkat mu itu sumber kekuatanmu."
"kau Vampire."
Draco memutar bola mata.
"Penganut ilmu hitam."
Draco menghela nafas.
"Atau jangan –jangan Penyihir."
Draco memejamkan matanya.
Hermione memborbardir Draco dengan banyak pertanyaan.
"Stupefy." Draco mengarahkan tongkanya ke Hermione.
Hermione seketika jatuh ke tanah.
"Sudahkah ada yang mengatakan padamu kalau kau itu sangat cerewet."
Draco menggendong Hermione yang pingsan dan mereka ber-Apparate.
ooOOoo
Draco ber-Apparate langsung ke kamar Hermione. Ia merebahkan Hermione di ranjangnya. melirik jam pukul 9 malam.
Wajah Hermione tertidur sangat tenang. Mengusap wajah mulus Hermione. Merapikan anak rambut yang jatuh ke wajahnya. Ia mengecup dahi Hermione. Ia mencuri ciuman Hermione. Mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Hasratnya tak puas jika hanya mengecup dahi Hermione. Bibir Draco bergerak turun menyusuri lekuk wajah Hermione. Bibirnya berhenti di bibir Hermione. Mengecupnya pelan. Lembut. Bibirnya kenyal. Batin Draco. Bibir Draco mulai turun ke leher jenjang Hermione. Tiba-tiba ia berdiri. Menghentikan aktifitasnya. Draco meninggalkan Hermione.
"Aku harus menahan diri." Bisiknya.
Draco Berjalan mendekati pintu. "Alohomora." Draco mengacungkan tonkatnya ke pintu. Pintu pun terbuka. Ia berjalan ke kamarnya. Terdengar langkah kaki berlari dari arah lain.
"Malfoy." Teriak seseorang. Draco menoleh dan melihat Neville Longbotom-kalau ia tidak salah ingat-menghampirinya.
"Sukurlah ternyata kau sudah disini. Kami tidak melihatmu di bus tadi, kami pikir kau tertinggalan di gurun." Ucapnya sambil ngos-ngosan.
"Aku pulang duluan tadi naik taksi." Sahut Draco.
"Apakah kau melihat Hermione. Di juga tidak ada di Bus tadi."
"Dia sedang tidur di kamarnya. Dia pulang bersama ku.
Neville mengerutkan kening.
"Baiklah. Aku akan memberitahu yang lain kalau kau sudah kembali ke kamar."neville pergi meninggalkan Draco.
Draco memasuki kamar. Ia langsung menuju kamar mandi. Merendamkan tubuhnya. Draco memikirkan kembali kejadian tadi. Ada apa dengannya. Hampir saja tadi. Kenapa Hermione begitu menggoda. Baru kali ini ia merasakan perasan tidak karuan seperti ini hanya karna seorang gadis. Pada gadis yang baru di temuinya.
Draco mengusap kasar wajahnya.
Dan ia melanggar peraturan. Lagi. Entah hukuman apa yang ia dapat nanti karna ber-Apparate tadi.
Blaise belum kembali. Tentu saja sedang bermain-main dengan gadis-gadis. Dan pasti Blaise tidak sadar tadi jika Draco sempat hilang.
Draco memilih tidur lebih awal. Ia lelah sekali hari ini.
ooOOoo
hermione terkejut mendapati dirinya terbaring di atas ranjang kamar hotelnya. Memori terakhirnya, ia sedang berada di dalam tanah bersama Draco Malfoy. Ia terjatuh, lalu terluka, dan Draco menyembuhkan lukanya. Di singkapnya selimut yang menutupi tubuhnya. Kakinya mulus seperti sedia kala, tidak ada gores luka. Yang kemarin bukan mimpi. Dan bagaimana ia bisa ada di sini?. Bagaimana mereka berdua bisa keluar?. Siapa Draco sebenarnya?. Pertanyaan itu berputar terus sepagian ini.
Ginny bilang ia mendapati Hermione sudah tertidur pulas saat ia datang tadi malam.
Hari ini hari terakhir kegiatan mereka.
Sepanjang perjalanan ke ajungan ia melamun. Ia tidak melihat Draco Malfoy disini. Mungkin ia di bus yang kedua pikirnya.
Selama di anjungan Hermione coba mendekati Draco. Tapi Draco selalu menghindar. Kenpa dia. Pikir Hermione. Kemarin-kemarin dia yang selalu coba mendekatiku. Sekarang giliran aku yang mendekati, dia malah menjauh. Pikir Hermione.
Banyak yang ingin ia pertanyakan pada Draco. Otaknya sudah hampir meledak.
Ia harus menanyakannya.
Ia mendatangi Draco. Menarik tangan Draco. Membawa Draco ke barisan paling belakang rombongan.
"Jangan mengindari ku Malfoy."
"Kau mulai menyukai ku sekarang eh.." goda Draco.
"jangan mengalihkan pembicaraan." Sembur Hermione.
Draco menjauhkan pandangannya dari tatapan Hermione.
"Jelaskan bagaimana aku bisa ada di kamar ku sendiri malam tadi."
"Aku tidak tau." Jawab Draco dingin. Draco meninggalkan Hermione dan menyusul rombongan.
Hermione melongok. Kenapa sikapnya berubah. Ada yang di tutupi nya. Batin Hermione.
"Ada apa ini." Blaise muncul di samping Hermione membuyarkan lamunannya.
Hermione hanya melirik Blaise sekilas. Malas menanggapi.
"Aku mendengar tentang kamar tadi. Terjadi sesuatu pada kalian di kamar." Blaise tertawa menggoda.
"Enyah kau Zabini." Sembur Hermione marah. Ia meninggalkan Blaise.
Blaise terus tertawa.
Ia tidak bisa mendekati Draco lagi sampai malam ini. Acara perpisahan, hanya makan-makan biasa di cafe pinggir pantai. Hanya ucapan-ucapan terima kasih dari tiap sekolah yang bergabung dalam Study Tour ini. Setiap sekolah mempersilahkan perwakilannya menyampaikan pidato perpisahan dan bla bla bla. Hermione bosan mendengarnya.
Blaise maju ke depan sebagai perwakilan dari sekolahnya. Hanya ia dan Draco yang mengikuti Study Tour dari sekolah mereka.
Hermione malas mendengar ceramah Blaise. Sungguh ceramah asal-asalan yang di bacakan Blaise. Bukannya mengucapkan terima kasih ia malah mengucapkan gadis di sini cantik-cantik dan gombalan-gombalan lainnya. Membuat para penonton tertawa.
Besok mereka semua akan ken kembali ke negaranya masing-masing. Ada yang dari Canada, Brazil, Perancis dan Inggris.
Setelah acara sambutan-sambutan acara di lanjukan dengan pesta. Ginny berhasil menyeludupkan Harry dalam rombongan. Dan dia sedang asik bermesraan dengan Harry di meja paling ujung.
Hermione memperhatikan Draco. Draco mendatangi Blaise yang sedang berjoget di tengah cafe. Membisikkan Blaise sesuatu lalu mereka berdua pergi meninggalkan pesta.
Sebelum pergi Blaise masih sempat-sempatnya mencium gadis pasangan jogetnya tadi.
Hermione mengikuti mereka diam-diam. Mereka menuju belakang cafe. Hermione mengirim pesan pada Ginny lewat telepon selulernya untuk jangan menunggunya malam ini. Kemungkinan ia akan pulang telat.
Mereka berdua di depan bak sampah di belakang cafe. Hermione mengintip di balik tembok.
Penerangan disini sangat minim. Hanya ada satu bola lampu kuning yang menyala. Menguntungkan Hermione yang sedang bersembunyi.
Blaise terlihat mengambil sesuatu dari dalam bak sampah.
Euuyyy.. menjijikan. Hermione mengeryit melihat Blaise mengorek sampah.
Samar-samar Hermione mendengar Blaise berkata ia pergi duluan keda Draco.
Draco mengganguk. Blaise terlihat menginjak sesuatu dan tiba-tiba ia menghilang seperti di telan bumi dengan sinar keperakan yang menyertai hilangnya.
Hermione menganga. Kemana perginya si hitam itu. Batin Hermione. Siapa mereka sebenarnya.
Draco terlihat melakukan hal yang sama dengan Blaise. Mencari sesuatu di dalam bak sampah.
Ia mengambil kulit pisang. Lalu meletakkan kulit pisang itu ke lantai.
Draco terlihat menoleh-nolehkan kepala. Meneliti sekitar.
Hermione keluar dari persembunyiannya. Berjalan perlahan mendekati Draco. Ia melepas sepatunya agar Draco tak mendengar langkahnya.
Ia berdiri tepat di belakang Draco.
Draco masih tak melihatnya.
Hermione siap.
Draco mengangkat kakinya dan menginjak kulit pisang tadi.
"Hogwarts." Ucap Draco.
Bersamaan dengan itu hermione manangkap pinggang Draco. Memeluk Draco erat.
Cahaya keperakan menyelimuti mereka. Hermione menutup rapat-rapat matanya.
Draco terkesiap.
Hermione merasa perutnya mual. Ia seperti di putar-putar dalam badai angin topan .Di sedot dalam dimensi lain. Hermione berteriak sekencang-kencangnya. Kepalanya pusing. Ia ingin muntah.
ooOOoo
T BC
TERIMA KASIH
Maaf jika terlalu OOC.
Silahkan tinggalkan jejak anda lagi.
komentar anda penyemangat saya.
saya senang sekali ternyata ada yang menyukai fict saya :)
