Licorice

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by DarkChoffa™

Warning : Alternative Universe, Out Of Character, Typo, Membosankan, Banyak Percakapan, Penuh Adegan Drama, etc.

Rating : T

Pairing : Neji-Ino,Sasuke-Sakura

~Diwajibkan membaca Hang dulu,latar cerita berasal dari sana.~

~Terinspirasi drama favorit author : Full House, Shut Up Flower Boy Boyband dan Nana~

~Anggap saja tampilan Neji itu mirip Takumi Ichinose 'NANA'~

~Kalau sifat mesumnya mirip Neji di Naruto Road to Ninja~

DON'T LIKE? DON'T READ!

Yang nggak suka nggak usah baca -_-

No Copy Paste

Ceritanya gaje, jadi nggak perlu di copy paste. Nanti nyesel doang!

Enjoy Reading

Tekan tombol back kalau kalian merasa bosan

Part 2

Neji berjalan mondar-mandir di sepanjang lorong rumah sakit. Semalam suntuk dia terjaga. Dia belum tidur semenjak malam lalu. Dia menunggu perkembangan gadis itu—gadis yang ditabraknya semalam. Luka parah dialami gadis blonde itu. Ia belum sadar hingga siang hari ini. Operasi besar sudah dilakukan. Tinggal menunggu kondisi Ino pulih. Neji harus bersabar. Dia harus menunggu gadis itu bangun dari koma.

.

.

.

BRAAAK!

Kakashi menendang meja dan melemparkan majalah tepat di muka Neji. Semua anggota Aranch bergidik ngeri melirik manajer mereka, Kakashi Hatake. Emosi Kakashi meluap membaca berita tentang Neji. Berita yang memuat seorang gadis yang ditabrak Neji tadi malam.

"Aku sudah bangga dengan peluncuran album baru kalian. Tapi lihat! Leader kalian yang bodoh itu! Masalah apa lagi yang dia perbuat!" Kakashi memarahi semua anggota Aranch.

"Kita bisa menyelesaikan ma—" suara Sasuke terpotong.

"Diam kau Uchiha! Aku punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah ini. Kau Neji! Jika ingin selamat ikuti saranku!"

Baiklah. Neji terlalu malas untuk melawan manajernya kali ini. Pria itu membuat pikirannya semakin terbebani. Kasus tentang tabrakan yang dilakukannya sudah tersebar luas ke segala macam media massa Jepang. Bisa dipastikan kasus Neji sedang menjadi topik hangat saat ini. Neji menyalahkan dirinya sendiri atas kasus ini. Andai saja dia tak mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh malam itu. Andai saja dia tak pergi ke klub sore hari itu. Dan andai saja dia tak bertemu Temari.

.

.

.

Neji menengok gadis itu di ruang rawat VIP rumah sakit Tokyo. Setiap hari dia menyempatkan diri mengunjungi dan melihat perkembangan gadis itu. Tetap sama—kondisi gadis itu tetap sama seperti kejadian dua bulan lalu. Tubuhnya berbaring lemah dengan selang infus sebagai alat bantu. Ia belum terbangun dari koma semenjak kejadian malam itu.

Neji meletakkan bunga lily di ruang tempat gadis itu dirawat. Tak terhitung sudah berapa kali Neji mengganti bunga lily. Setiap hari dia berdoa dan berharap gadis itu segera bangun. Dia tak mengenal gadis itu. Dia hanya tau perempuan itu bernama Ino Yamanaka. Sasuke yang memberi tahunya. Pria itu sempat menghajarnya dua bulan lalu. Sasuke marah atas kecerobohan Neji. Gadis yang bernama Ino itu ternyata sahabat baik kekasih Sasuke. Gadis yang berjuang sendirian demi kelangsungan hidup dirinya sendiri dan keluarganya—Sakura bercerita pada Neji. Peristiwa tabrakan itu terjadi saat Ino baru saja pulang dari apartement Sasuke dan Sakura. Dia semakin bersalah mengetahui fakta tersebut. Dia merasa menjadi pria bejat dan ceroboh dalam waktu bersamaan.

.

.

.

Lisa Yamanaka terus berwajah muram. Dua putrinya sama-sama dirawat di rumah sakit. Lisa semakin bingung dengan kondisi mereka berdua. Sudah dua bulan lamanya Ino tak sadarkan diri. Pria yang menabrak Ino sudah puluhan kali datang padanya. Pria itu berkali-kali meminta maaf karena kecerobohannya menabrak Ino. Lisa bersyukur karena pria itu mau bertanggung jawab dan membiayai seluruh pengobatan Ino. Tetapi di lain sisi, ia juga mengkhawatirkan kondisi putri kandungnya, Konan. Semakin hari kondisi Konan semakin memburuk. Ino sudah memberi uang untuk biaya operasi padanya. Sebenarnya uang yang diberikan Ino tidak cukup untuk membiayai operasi. Ditambah lagi ayah Konan sebagai pendonor sum-sum tulang belakang meminta uang lebih untuk membantunya.

Lisa sudah putus asa melihat kondisi Ino. Ia yakin tak berselang lama Ino akan pergi meninggalkannya. Kondisi Ino tak kunjung membaik semenjak 2 bulan yang lalu. Peluang untuk bangun dari koma sangat sedikit. Lisa sudah ikhlas dan pasrah jika Tuhan memanggil Ino. Hanya keajaiban yang bisa membangunkan putri tirinya—Lisa yakin itu.

Hingga sekarang Lisa tak memberitahu Konan tentang kabar Ino. Termasuk kabar Ino yang berbaring koma. Ia menjauhkan segala hal yang berhubungan dengan Ino pada Konan. Konan sedang menjalani kemoterapi. Konan butuh ketenangan dan perhatian penuh sekarang. Sudah cukup jika Tuhan akan mengambil Ino dari hidupnya, Lisa tak mau jika Tuhan mengambil Konan juga. Ia akan melakukan segala hal untuk kesembuhan putrinya. Ia akan melakukan berbagai cara walaupun cara yang dilakukannya salah.

"Kaa-san menyayangimu Konan. Kaa-san janji kamu akan sembuh. Kaa-san lebih memilihmu daripada Ino. Kau putri kandungku, putri yang kaa-san cintai. Kaa-san yakin Ino pasti memahami situasi ini. Dia pasti akan melakukan segala hal untuk kebaikan kita" Lisa mengusap pelan rambut Konan yang tertidur di ranjang rumah sakit malam itu.

.

.

.

Neji menemui manajernya. Pria itu geram dengan kelakuan media pers terhadapnya. Sekarang media pers selalu mengganggu hidupnya. Mereka mengikuti kemanapun Neji pergi. Bahkan sebagian dari mereka menguntit hingga apartemennya. Padahal berita tentang tertabraknya seorang gadis oleh Neji sudah diselesaikan dengan baik oleh agensi tempatnya bernaung. Seorang wanita disewa untuk berakting sebagai korban. Wanita itu mengaku sedang mabuk dan berniat bunuh diri malam itu. Wanita itu berdiri di tengah di zebra cross dengan sengaja. Ia mengaku memang menabrakkan diri ke mobil Neji, tapi ia hanya mengalami patah tulang.

Neji ingin tertawa saat jumpa pers satu bulan yang lalu. Dia tahu dia membohongi publik dengan berita bohong yang sangat konyol. Namun Neji tak ingin reputasinya jatuh dan memburuk. Apalagi dia adalah seorang leader dari band Aranch. Dia tak ingin nama Aranch tercoreng atas perilakunya. Tetapi sekali wartawan tetaplah wartawan. Sebagian dari mereka masih mengulik informasi tentang Neji. Mereka tak sepenuhnya percaya pada jumpa pers itu.

.

.

.

"Carikan aku rumah yang bebas dari kebisingan kota dan wartawan! Ingat RUMAH! Bukan apartement" Neji berkata pada manajernya, Kakashi.

"Aku rasa tinggal di dorm lebih baik untukmu. Disana ada semua anggota Aranch."

"Jika kau terus mengaturku seperti itu, aku tak yakin akan tetap ada seorang manajer bernama Kakashi disini!" Neji menaikkan alisnya mengejek.

Kakashi berdecak kesal. Selalu saja Neji mengancamnya.

"Baiklah. Tapi aku rasa apartemenmu masih bisa dikatakan layak huni. Kau selalu saja menghamburkan uang!"

"Kau bisa gunakan apartement itu. Aku muak berada disana."

Neji memang muak berada di apartementnya. Dia ingin menghapus segala kenangannya bersama Temari. Banyak waktu yang sudah dia habiskan bersama wanita jalang itu disana. Dia tak ingin mengingatnya lagi. Apalagi ada kesialan yang sedang dihadapinya. Dia hampir merenggut nyawa seorang gadis. Gadis yang sekarang berbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.

.

.

.

Setelah satu bulan menunggu, akhirnya Konan dapat menjalani operasinya. Lisa bahagia sekali. Ia berharap operasi Konan dapat berjalan lancar. Konan akan melakukan operasi di rumah sakit yang sama seperti tempat Ino dirawat.

Ibu-anak itu berangkulan sebelum operasi dimulai, "Kaa-san, doakan aku agar operasi ini berjalan lancar" ucap Konan pada sang ibu.

"Tentu Konan, Kaa-san akan tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Tuhan pasti akan selalu menyertaimu."

Setelah berjam-jam menunggu proses operasi. Dokter akhirnya keluar dari ruang operasi. Lisa harap-harap cemas mendengar penuturan dokter kali ini. Lisa menangis saat itu juga mendengar perkataan dokter. Bukan tangis kesedihan, tapi tangis kebahagiaan. Konan berhasil dalam operasinya. Konan tinggal menunggu masa pemulihan untuk bisa pulang secepatnya.

.

.

.

Neji duduk di antara bangku kosong gereja. Dia berdoa pada Tuhan. Pria berambut hitam itu memohon kesembuhan seorang gadis bernama Yamanaka Ino. Dia berharap gadis itu segera bangun dari tidur panjangnya selama tiga bulan ini. Neji berjanji jika gadis itu terbangun dia akan menjaga dan melindunginya. Dia akan menjadi daddy long legs untuk Ino.

Neji berjalan keluar gereja. Dia duduk di bangku taman di samping gereja. Dirasanya ponsel dalam sakunya berdering. Kakashi menelponnya.

"Ada apa?" Neji menjawab telepon dengan ketus.

"Aku sudah mendapatkan rumah yang kau cari. Aku sudah menata ruangannya sesuai dengan yang kau mau. Kau bisa menghuninya lusa mendatang. Akan kukirim alamatnya segera."

Neji lega sekarang. Rumah baru. Suasana baru.

.

.

.

Lisa menatap Ino lekat. Diusapnya wajah Ino yang berbaring lemah. Lisa sedikit tersenyum melihat Ino. Ino terlihat sangat cantik di matanya. Gadis itu sudah berjuang banyak untuk orang asing yang sudah dianggapnya keluarga. Lisa tersenyum miris melihatnya.

Sebenarnya Lisa masih memendam perasaan benci pada Ino. Setiap melihat Ino, ia seperti melihat kenangan pahit tentang almarhum suaminya Inoichi. Inoichi adalah satu-satunya pria yang membuatnya berdebar sekaligus terpesona dalam satu waktu. Tapi cinta mereka tak bertahan lama. Sampai sekarang Lisa masih menganggap Ino penyebabnya. Putri tirinya itu telah merenggut segala kebahagiaan untuknya. Hati kecilnya berharap Ino tak akan pernah membuka matanya lagi. Ia yakin mata Ino akan terpejam untuk selamanya. Ia harus berterima kasih pada pria itu, pria bernama Hyuuga Neji. Pria yang membuat putri kecilnya berbaring lemah.

.

.

.

"Kaa-san, aku tak pernah mendengar kabar Ino sekarang."

Mata Lisa melebar mendengar ucapan Konan. Kabar Ino? Yang benar saja?

"Konan, Ino sekarang sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis. Ino sering menjengukmu. Ia datang saat kau sedang istirahat."

"Apa Ino yang membiayai operasi ini, kaa-san?"

"Ya, dia mengumpulkan uang untuk biaya operasimu. Kaa-san kasihan padanya. Dia sudah berkorban banyak untukmu."

"Aku merasa bersalah padanya."

"Kaa-san harap kau mau mengikuti saran kaa-san. Setelah kau benar-benar pulih, kita pindah ke Kyoto. Kaa-san tak ingin kita terus menjadi beban Ino. Dengan kita pergi dari Ino, dia tak perlu lagi bersusah payah membiayai hidup kita."

Konan menatap ibunya dengan nanar. Konan membenarkan perkataan ibunya. Ia dan Ibunya selalu merepotkan Ino. Adiknya itu berjuang mati-matian untuknya. Ino sudah mengorbankan banyak hal untuknya. Dengan perginya Ia dan Ibunya dari hidup Ino, ia berharap Ino dapat hidup normal tanpa beban. Ia percaya itu. Lisa tersenyum mendengar perkataan Konan. Namun sebenarnya Konan sendiri tak paham tentang makna senyuman ibunya. Senyuman misterius yang penuh makna di baliknya.

.

.

.

Neji merasa bahagia menghuni rumah barunya. Rumah yang dibeli melalui perantara Kakashi. Rumah besar minimalis yang terletak di kawasan Tokyo Barat ini begitu memukaunya. Bangunannya sederhana dengan tembok warna putih yang mendominasi. Rumah ini tak jauh dari pusat kota namun bebas dari gangguan luar. Tak ada wartawan yang bisa masuk ke kawasan ini. Pepohonan juga banyak tumbuh di daerah ini. Benar-benar asri. Menengok kearah barat dapat dilihatnya pantai dan laut yang terbentang luas. Neji merasa sedang berada di drama Full House sekarang. Dia yakin dengan tinggal di rumah ini, beban pikirannya akan berkurang. Dia bisa sejenak beristirahat dan melupakan pekerjaannya di dunia hiburan. Dia juga bisa menormalkan kembali pikirannya sebelum menghadapi masalah lama yang belum diselesaikannya.

Neji berkeliling ke segala penjuru rumah. Dia kagum pada Kakashi yang diamanatinya untuk menata segala ruang di rumah ini. Seleranya bagus juga—dapur bergaya minimalis modern, ruang tamu dengan sofa putih empuknya, kamar tidur dengan nuansa serba putih. Dan jangan lupakan tempat favoritenya, sebuah ruang yang dijadikan studio musik untuknya. Menengok keluar, bisa dilihatnya taman dengan rumput hijau dan tanaman hias yang tertata indah. Terdapat juga ayunan kayu sebagai tempat beristirahat. Di sudut belakang rumahnya terdapat kolam renang. Dia bisa berenang kapan saja sekarang. Neji harus berterima kasih pada Kakashi. Pria itu hebat juga. Rumah ini benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkannya.

.

.

.

Sakura duduk di depan ranjang tempat Ino berbaring. Pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit tempat Ino dirawat membuatnya mudah mengunjungi Ino. Sudah empat bulan sahabat baiknya ini dirawat. Sakura yakin Ino pasti akan bangun dari komanya. Sakura terlalu menyayangi Ino. Ia tak ingin sahabatnya itu pergi meninggalkannya. Sakura awalnya sempat marah pada Neji, pria yang dianggapnya urakan, playboy dan jauh dari kata 'pria baik-baik'. Tapi semuanya sudah terjadi. Walaupun Neji urakan, nyatanya dia masih mau bertanggung jawab atas Ino.

"Kau tau Ino, Sasuke-kun melamarku…. hiks..hiks… harusnya aku bahagia. Tapi melihatmu berbaring disini, rasanya tak pantas jika hanya aku yang berbahagia" Sakura menangis di depan ranjang Ino. Ia terbiasa bercerita banyak hal pada Ino disini. Ia tau Ino tak akan mendengarnya. Tapi setidaknya dengan bercerita beban pikirannya dapat berkurang.

"Aku berjanji tidak akan bertunangan dengan Sasuke-kun sebelum kau bangun Ino. Aku ingin kau melihatku bertunangan dengan Sasuke-kun" Sakura menangis kembali.

Tanpa sadar pintu ruang rawat dibuka oleh seseorang.

"Ehem.. apa aku mengganggu?" suara bass seorang pria menyadarkan Sakura dari tangisnya. Neji berdiri di belakang Sakura.

Sakura menghapus airmatanya, "Tidak, kau tidak menggangguku."

"Aku membawakan Ino bunga lily. Bagaimana keadaannya?" Neji mengajak Sakura berbicara.

"Masih sama seperti empat bulan yang lalu."

Pandangan Neji beralih menatap Ino. Masih sama seperti empat bulan yang lalu? Berapa lama lagi ia harus menunggu gadis itu bangun?

.

.

.

Ino Pov.

Aku tak tau apa yang terjadi padaku. Aku tak bisa membedakan apakah ini mimpi atau tidak. Aku melihat siluet banyak orang. Ada ayah, Ibu, Konan-neechan, Deidara Niisan dan Sakura. Mereka semua seperti mengkhawatirkanku. Aku berlari mengejar mereka—semakin aku mengejar mereka semakin mereka menjauh dariku. Mereka sangat sulit aku raih. Samar-samar kulihat memori lamaku. Peristiwa kecelakaan ayahku, bertemu Sakura, Ibu yang hampir gila, pembullyan saat SMA, kakakku terkena leukemia….Sampai datangnya laki-laki bernama Sai. Ia menarik dan membawaku dengan paksa. Aku tak bisa menolak dan meronta. Tubuhku terlalu kaku. Aku mengikutinya.

Sampai seseorang datang menolongku. Laki-laki yang menjadi cinta pertamaku. Ia melepaskanku dari cengkraman Sai. Ia menggenggam tanganku dengan erat. Hangat dan nyaman. Aku dibawanya pergi melewati padang ilalang yang luas. Sampai di ujung perjalanan, kami berdua melihat secercah cahaya dari sebuah pintu besar. Ia tetap menggandeng tanganku. Aku berjalan dengannya menuju cahaya itu.

.

.

.

.

.

.

Kurasakan cahaya menerobos penglihatanku. Mataku sangat sulit dibuka. Kucoba perlahan-lahan membuka mataku. Hal pertama yang kulihat adalah wajah seorang pria. Pria tampan bermata lavender yang menatapku. Apa aku sudah mati? Apa dia malaikat kematian yang sengaja datang untuk menjemputku? Aku mencoba bangkit dari tempatku berbaring. Aku menatap sekelilingku. Ruangan ini bernuansa serba putih. Aku masih hidup? Apa ini rumah sakit?

Pria itu menatapku, "Kau sudah bangun Nona? Tunggu! Aku panggilkan dokter segera."

Pria itu lalu menelpon seseorang yang dipanggil 'dokter' dengan panik. Aku menatapnya bingung. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Semuanya terasa berputar dan berdenyut.

Arrgggggg! Aku berteriak kencang tanpa sebab.

Normal Pov.

Neji sedang panik sekarang. Gadis itu berteriak. Dia memanggil dokter untuk segera datang keruang 303, ruang dirawatnya Ino. Gadis itu terbangun dari tidur panjangnya. Neji sangat bahagia saat tahu gadis itu perlahan membuka matanya. Mata aquamarine yang menatapnya bingung. Neji tak tau keajaiban apa yang Tuhan berikan. Dia hanya menunggu gadis itu sejak tadi malam. Dia tidur disisi ranjang sambil menggenggam erat tangan Ino.

Sakura sebagai dokter menangani secara langsung keadaan Ino. Ino hanya mengalami syok sesaat. Keadaannya sudah stabil sekarang. Sakura menangis haru melihat Ino sadar dari koma. Sahabatnya sudah kembali.

"Aku belum mati Sakura?"

"Belum Ino… hiks.. kau disini… bersamaku…hiks..hiks"

"Kau menangis.. apa aku berbuat salah padamu jidat?"

"Tidak... aku hanya bahagia dapat melihatmu kembali.. hiks.. hiks" Sakura memeluk erat Ino.

"Berapa lama aku disini?"

"Empat bulan lebih sedikit"

Ino menatap nanar keluar jendela rumah sakit. Pohon-pohon mulai meranggas. Daunnya berguguran. Musim gugur?

"Apa aku sudah berumur 22 tahun?"

"Ya. Kau melewati hari ulangmu. Lima hari lagi sudah masuk bulan Oktober."

Ino menunjuk pria dibelakang Ino, "Siapa dia?"

.

.

.

Ino menatap pria bernama Huuga Neji dengan tatapan tajam. Pria yang sering dilihatnya di acara infotaiment. Pria yang dikatakan dingin dan terkenal badboy. Pria yang menabraknya malam itu—malam empat bulan yang lalu. Neji minta maaf pada Ino berkali-kali. Pria itu merasa bersalah. Ino sampai tak enak hati pada Neji. Pria itu ternyata tak seburuk dengan apa yang dipikirkannya dulu.

"Aku minta maaf padamu nona. Malam itu aku diluar kendali dan mengemudi mobil dengan kecepatan penuh tanpa melihat sekitar."

"Tuan tak perlu terus meminta maaf. Seharusnya aku juga harus lebih berhati-hati saat menyeberang jalan. Aku melamun saat itu. Tak sepenuhnya kecelakaan itu salah tuan."

"Tapi—"

"Tuan tenang saja. Aku tak akan menuntut macam-macam pada tuan. Aku tak akan menyebarkan berita tentangku ke media massa. Aku sangat berterima kasih tuan mau bertanggung jawab atasku selama ini. Itu saja sudah lebih dari cukup untukku."

"Bukan itu maksudku, tapi—"

"Setelah keluar dari rumah sakit, aku anggap masalah kita selesai tuan. Aku tak akan menuntut macam-macam pada tuan."

Neji seharusnya lega mendengar perkataan Ino. Tapi di lubuk hati terkecilnya dia masih menyimpan perasaan bersalah pada gadis itu. Perlahan dia pergi menjauh dari ruang rawat Ino. Dirasanya tugasnya sudah selesai sekarang. Gadis itu menolak bantuannya. Neji berdoa semoga gadis itu mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah ini.

.

.

.

Dua minggu berlalu. Ino diperbolehkan pulang ke rumah. Ia sudah benar-benar dikatakan sembuh. Besok ia akan meninggalkan rumah sakit ini. Ino mengingat kembali pria yang menyebabkan dirinya berbaring di rumah sakit. Pria yang sekarang ditatapnya melalui layar televisi rumah sakit. Ino sedang melihat acara live musik sekarang. Band Aranch tampil saat itu juga. Pria bernama Neji terlihat keren memainkan gitar sekaligus merangkap sebagai vokalis kedua. Mata Ino tak pernah lepas menatap Neji. Pria itu menghilang setelah percakapan mereka dua minggu lalu. Pria itu pasti sangat sibuk. Lagi pula urusan Ino dengannya sudah selesai—pikirnya.

Ino mencari keberadaan Ibu dan kakaknya sebelum kembali ke rumah. Nomor ponsel mereka berdua tidak bisa dihubungi. Sudah ratusan kali ia menghubungi mereka. Nihil. Dari informasi yang dikatakan Sakura, Ibu dan kakaknya menghilang tanpa jejak sejak dua bulan yang lalu. Kakaknya telah melakukan operasi sum-sum tulang belakang dan operasinya berjalan sukses. Ino sangat kaget dan bahagia secara bersamaan. Kakaknya sudah dioperasi? Ino mencoba berpikir positif. Ia akan menemui mereka berdua. Yokohama, Ino akan mencari mereka di Yokohama. Tempat mereka tinggal. Ino yakin mereka pasti ada disana.

Bersambung….

Hua! Hua! selesai juga chapter ini… Otak author udah mulai down. Tiba-tiba kepikiran ide, tiba-tiba ilang itu ide. Kadang Ide ceritanya cuma numpang nongkrong doang di otak author. Semoga chapter ini nggak mengecewakan. Berpikirlah positif. Kalau cerita ini menurut kalian drama banget, Ya sudah! terima aja. Lanjut baca! #author dipukul reader

Untuk rumah yang dibeli Neji anggep aja itu rumah sama kaya rumah di drama korea Full House. Author suka banget sama drama itu. Walaupun kalau sekarang author nonton drama itu lagi, author ngerasa gigu(?) banget. Itu loh, fashionnya udah kerasa jadul banget. Pakaian yang mereka pakai ngebuat author ngerasa gimana gitu. Tapi author dulu ngefans banget sama Han Ji Eun. Author suka banget niruin gaya rambutnya. Author yang jaman itu masih SD ngerasa keren banget bisa punya rambut kaya gitu. # ternyata author saat SD udah alay.

Untuk beberapa hari kedepan mungkin author gak bisa update. Tapi author akan coba nyuri-nyuri waktu. Author sekarang sedang sibuk mengurusi keperluan masa depan. Author mau daftar ulang kuliah tanggal 17 nanti. Dilanjut lagi tanggal 23 Juni. Alhamdulillah, Author udah diterima di universitas yang ada patung pahlawan naik kuda? (nggak ada yang tanya!)

Terima kasih juga untuk review kalian sebelumnya

Author merasa lebih bersemangat untuk melanjutkan cerita ini.

Yang berniat, silahkan REVIEW.

Author butuh saran dan kritik untuk kelancaran dan keberhasilan cerita ini.