warning : gaje, typho, fem!uruha, fem!ruki, fem!hizaki, fem!hyde, diksi dan kalimat mungkin membingungkan.
No copy paste! No bash cast
Semua cast bukan milik saya, saya hanya meminjam nama mereka.
Main pair : Aoi-Uruha, Reita-Ruki, etc
DIRECTION
Kulihat kedua sahabatku itu terdiam beberapa saat. Entah kaget atau saking semangatnya mendengar ideku ini, aku tidak tahu.
"Hei ... kenapa diam saja? Apa kalian tidak mendengar kata-kataku?" tanyaku sedikit kesal.
"Ano Uru chan ... aku ... aku tidak tahu bagaimana cara bermain selo. Lagi pula, apakah kau yakin, selo dan gitar klasik dapat menghasilkan musik yang harmoni?" Reita terlihat menggaruk rambut acak mirip jambul kakak tuanya yang kurasa sebenarnya pasti tidak gatal itu.
"Benar Uru ... kurasa akan terlalu berat kalau kita harus melakukan pertunjukkan musik. Lagi pula ... kau tahu kan aku hanya penyanyi kamar mandi, jadi mana mungkin bisa bernyanyi di acara sebesar itu, bahkan di depan King Aoi juga ..." kali ini Ruki yang berbicara sambil menatapku ragu.
Aku menghela napas panjang. Kusunggingkan sebuah senyum manis kebanggaanku. Kudekati kedua sahabat terbaikku ini dan kutepuk punggung keduanya bersamaan.
"Serahkan saja kepadaku. Kalian lupa, aku ini siapa? Aku adalah putri sang Diva Panggung, Hizaki sang Minerva. Jadi, lupakan pikiran-pikiran konyol itu. Mulai hari ini kita akan berlatih bersama. Kalian tahu, waktu pertunjukkan masih sekitar sepuluh hari lagi. Dan aku yakin dengan waktu yang tersisa, kita akan bisa membuat sebuah pertunjukkan yang mengagumkan." aku memandang keduanya bergantian dan berusaha mengalirkan energi positif untuk menguatkan hati kedua sahabatku ini. Saat kulihat keduanya mengangguk bersamaan, kulepas rangkulanku dan aku berjalan di depan, mendahului keduanya.
"Yoshhh ... setelah aku mengembalikan sapi-sapi ini ke kandang, kita mulai latihan perdana kita." ucapku penuh semangat.
AOIHA
Malam ini, kami bertiga, aku, Ruki, dan Reita sudah membuat janji untuk berlatih bersama di rumahku. Kebetulan Kaasan ku yang seorang mantan diva pertunjukkan, masih menyimpan beberapa koleksi alat musik favoritnya. Ada dua sebuah gitar akustik, sebuah gitar spanyol, sebuah selo, satu set perkusi, beberapa flute, dua buah saxophone, sebuah biola, dan sebuah harpa. Aku tidak tahu, apa alasan Kaasan menyimpan berbagai jenis alat musik, padahal setahuku Kaasan hanya bisa bermain gitar saja. Selebihnya, biasanya digunakan oleh para pengiringnya untuk menunjang pertunjukkan yang sempurna. Tapi semenjak Tousan terpilih menjadi Kepala Distrik 2, sejak itu pula Kaasan memutuskan untuk berhenti dari profesi yang sudah membesarkan namanya di dunia hiburan negeri kami.
Setelah jam makan malam, Ruki dan Reita baru datang ke rumahku. Ruki, seperti biasa, langsung minta untuk bertemu Kaasan. Ya, Ruki sangat mencintai Kaasanku seperti ia mencintai Kaasannya sendiri. Sedangkan Reita, huh, kebiasaan buruknya ini kadang membuatku kesal. Entah apa alasannya, setiap datang ke rumahku, pria bernoseband itu langsung menghambur ke toilet untuk waktu yang lama. Aku juga tidak tahu, apa yang ia lakukan di sana.
Sambil menunggu kedua sahabatku itu, aku memutuskan untuk mempersiapkan alat yang kami perlukan. Kulangkahkan kakiku menuju kamar penyimpanan yang terletak di samping kamarku. Aku tadi sudah meminta ijin kepada Kaasan dan Kaasan dengan senang hati mengijinkannya. Tentu saja karena aku tidak mengatakan rencanaku sebenarnya kepada Kaasan. Kalau aku jujur kepada beliau, sudah dapat dipastikan Kaasan akan melarangku dengan berbagai cara.
Aku membuka kamar yang seingatku hampir setahun tidak pernah dibuka itu. Bau lembab dan debu langsung menyergap indera penciumanku. Sempat sedikit terbersin, tapi aku tidak peduli. Kunyalakan sebuah lilin untuk membantu mataku melihat keadaan kamar itu. Ruangan yang sebenarnya cukup rapi, hanya sedikit kotor.
Mataku menyapu ke semua sudut ruangan itu. Ke arah alat-alat musik yang tertutup rapi dengan kain-kain linen warna putih yang sudah mulai berubah menjadi abu-abu. Kubuka sebuah gundukan kain linen yang menutupi sutu benda dengan besar sedang yang kuyakini adalah sebuah gitar itu. Ya, memang benar, ini adalah sebuah gitar akustik yang sangat indah. Kusentuh gitar itu dan mengamatinya perlahan. Gitar ini adalah gitar pertama yang kumainkan saat Kaasan mengajariku bermain sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat itu usiaku genap 15 tahun. Dan hingga setahun yang lalu, gitar itu tetap menjadi favoritku untuk kumainkan di waktu senggang. Masih dengan gitar di tanganku, aku membuka gundukan yang lebih besar. Saat kain itu terbuka, nampaklah sebuah selo dengan ukiran yang tak kalah indah. Entah aku yang terlalu berbakat atau bagaimana, sekitar lima tahun yang lalu, secara otodidak aku bisa memainkan alat itu dan masih mengingatnya dengan baik hingga saat ini.
Aku tersenyum penuh percaya diri. Sesaat kemudian, kedua sahabatku sudah selesai dengan kegiatannya dan menemukanku tengah berdiri dengan dua alat musik di tangan.
Dan sejak saat ini hingga sepuluh hari ke depan, tugas ku adalah membimbing kedua sahabatku ini hingga bisa menampilkan sesuatu yang luar biasa di depan raja sialan itu. Demi hari itu aku tidak boleh bersantai. Aku akan mengerahkan semua kemampuanku dan mencapai apa yang menjadi targetku.
AOIHA
Tak terasa sudah sembilan hari kami berkutat dengan latihan kami. Dan selama itu juga kulihat perkembangan kemampuan kedua sahabatku sudah begitu pesat. Artinya, ini semua pasti tak akan sia-sia.
"Ngomong-omong kita mau pakai kostum apa Uru chan?" tanya Reita di sela-sela laihan kami yang terakhir sebelum tampil esok hari.
"Bagaimana kalau kostum bangsawan, kita bisa memakai kostum milik Kaasan mu Uru chan!" seru Ruki yang mungkin merasa idenya begitu brilian.
"Terlalu mainstream Ruki chan. Aku ingin sesuatu yang berbeda." ucapku dengan wajah berpikir.
"Lalu?" tanya Reita dan Ruki sambil mengernyitkan kening.
" Kostum penyihir." ucapku berbisik. Seketika kedua sahabatku melotot ke arahku.
"Aku sendiri akan menjadi penyihir seksi." seringaiku, kedua sahabatku tambah melotot dengan wajah tak percaya.
TBC
Jiahhhhh ... saya apdet chap 2... meskipun ga ada yang repyu ... saya tetep semangat ...entah lah , ga tau lah ...
makasih yang udah baca, syukur kalo ada yang repyu
oke deh, see u next chap *lambai-lambai nosben abang Rei
Sangkyu
