[ .. Bintang Jatuh melepaskan genggamannya dari tangan Sang Kesatria..

.. Kesatria melesat menuju kehancuran, tanpa bisa menggapai Sang Putri..]

.

.

"Itu hanya dongeng," sang nenek berkata bijak pada Hangeng kecil.

Sambil terisak, Hangeng kecil membanting buku dongengnya dengan sangat keras,

"Aku benci Bintang Jatuh!"

.

.


Title :

SUPERNOVA

(Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh)

REMAKE.

.

Main Cast :

Hangeng

Kim Heechul

Kim Kibum

Choi Siwon

.

Pairing : I let you to guess! :)

.

Rated : T+ to M

.

Warning :

Genderswitch, Typo(s), OOC, AU, Adult Content, Confusing Plot, Over..

.

Disclaimer :

All the characters are belong to theirselves. I do not own the idea and the plot. But this fict is mine.. ^^

.

.

A/N:

FF ini 75% merupakan Remake dari Novel karya Dewi Lestari yang berjudul Supernova - Kesatria Putri dan Bintang Jatuh.

Adanya kesamaan plot, kutipan, monolog dan dialog merupakan unsur yang DISENGAJA..

Ingat, ini FF Remake, isn't plagiat.. Oke?

.

.

Don't Like? Don't Read!

.

~oOo~

.

.


Ia seperti boneka kayu yang hanya bisa tergolek lemas di bawah permainan Siwon. Tidak ada sedikitpun perlawanan darinya. Ia terlalu lemah. Bahkan untuk sekedar mengusir bayang-bayang namja China itu pun ia tak bisa.

"Aahh~", satu desahan panjang meluncur dari bibir suaminya.

Ketika tempo gerakan itu semakin kuat. Ketika mata Kibum tak kuasa lagi menampung sarinya. Wajah penuh gurat kesakitan itu hanya bisa meringis merasakan milik Siwon yang seolah mengoyak habis rahimnya. Kukunya siap merobek sprei yang dicengkramnya. Dan sejenak, kasur yang terus menghentak itu akhirnya diam.

Diam untuk sebuah puncak gelombang kenikmatan. Cairan Siwon memencar di dalam liang sang istri. Dan ketika permainan mereka selesai, pusaran waktu itu kembali menelan mereka. Meninggalkan Kibum dengan lelehan air mata yang tak kunjung mengering. Meninggalkan Siwon yang terkulai dengan sejuta tanda tanya di otaknya.

Sungguh sebuah seks yang menyedihkan.

'Hangeng..'

-bahkan di moment yang seharusnya romantis bagi pasangan yang usai bercinta, Kibum masih mengharapkan kehadirannya.

.

.

~oOo~

.

.

Saling menyesuaikan waktu bagi kedua pasangan ini merupakan hal yang amat sangat membelit. Ditengah kesibukan keduanya yang sama-sama padat gizi, mereka harus pintar-pintar mencuri kesempatan, walaupun hanya sekedar untuk bertemu dan makan siang bersama.

"Kibum, kau dimana sekarang? Aku jemput sekarang ya?

"15 menit lagi, aku janji. Oh ya Han, jangan jemput aku di tempat biasanya. Aku akan menunggumu di halte dekat kantorku. Oke?"

"Tapi aku sudah di jalan!"

Kibum tidak menyukai ini, mereka seperti sedang melakukan transaksi ganja.

"10 menit. Please, Han. Kau harus mengerti.", bisik Kibum di seberang sana.

Hangeng mendesah pelan. Mengapa mereka harus selalu terbirit-birit seperti ini? Mengapa mereka tidak membiarkan satu kesempatan lewat begitu saja dengan santai?

"Oke, see you, Princess.."

.

.

Segala ketegangan tadi langsung lumer ketika kedua insan itu saling bertemu.

"Aku tidak bisa lama-lama, Han. Tiga jam lagi aku ada wawancara.", bisik Kibum di pelukan Hangeng.

Kini mereka berdua sedang berada di villa milik Hangeng. Sebuah tempat ternyaman untuk memadu kasih seperti ini. Satu-satunya tempat dimana Kibum bisa leluasa untuk bermanja-manja di pelukan hangat Hangeng.

"Ssht, bahkan di saat-saat berharga seperti ini kau masih memikirkan wawancaramu. Kau jahat sekali.", Hangeng membelai rambut legam halus milik Kibum dengan sayang. Sesekali menciumi puncak kepalanya sambil meresapi aroma shampo yang masih sangat melekat di surai Kibum.

"Aku ingin sekali bisa terus seperti ini tanpa harus bermain petak umpet lagi. Aku ingin bebas memilikimu, Hangeng."

Semilir angin membuat kelopak mata Kibum perlahan menutup. Teras villa Hangeng benar-benar sangat nyaman. Ah, tidak. Pelukan Hangeng-lah yang ternyaman. Ia ingin tidur.

Mendengar ucapan Kibum, rasa bersalah itu kembali merayapi batin Hangeng. Ia mengeratkan pelukannya terhadap tubuh mungil Kibum. Begitu ia ingin menjadikan Kibum sebagai satu-satunya yang ia miliki.

"Putri..", panggil Hangeng lirih.

"Hm.."

"Izinkan aku menjadikanmu milikku. Selamanya.."

Mata Kibum yang tadinya hendak menutup, sontak langsung melebar. Dilepasakannya pelukan Hangeng dengan cepat, hanya demi menatap langsung ke dalam iris kelam kekasihnya itu.

Hangeng tidak terkejut. Ia justru ikut menatap sama dalamnya ke bola mata Kibum. Begitu banyak hal yang tersirat di sana. Keduanya sama-sama ingin saling memiliki.

Seolah tatapan itu memiliki sebuah magnet, keduanya seakan tertarik satu sama lain. Perlahan, tenang, dan lembut, Hangeng dan Kibum memisahkan jarak di antara mereka. Mematahkan ruang kosong di hadapan mereka dan membiarkan kedua belah bibir itu saling bertumbukan halus untuk sebuah ciuman panjang yang sangat basah.

"Mmhh.."

Sungguh harmoni yang sangat indah. Bibir merah Kibum yang terus bergerak, lidah Hangeng yang berputar dan membelit, dan saliva keduanya yang meleleh di sudut bibir.

Tak akan dibiarkannya waktu membunuh moment langka ini. Selamanya Hangeng ingin terus menikmati candu seorang Kim Kibum, bukan Choi Kibum.

"Han~ Ja-jangan disitu hh..", lidah Hangeng sudah berpindah ke leher jenjang Kibum. Giginya mulai bekerja untuk menandai apa yang ingin ia miliki. Tak dihiraukannya protes Kibum. Baginya, semburat merah plus mata sayu yang menghiasi wajah cantik itu tak lebih dari sebuah permohonan untuk meminta sesuatu yang lebih.

"Kibum-ah.."

"Oh.. Hannie.."

Kibum tak tahan. Ia tak peduli lagi. Ia harus mendesah. Kenikmatan ini begitu luar biasa. Jari-jari rampingnya menjambak kuat surai Hangeng begitu jari-jari Hangeng mulai membelai lembut belahan daerah intimnya yang masih terbungkus celana dalam.

"I love you Kim Kibum.."

"I love you too.. Ooh..", desahan kenikmatan itu meluncur lagi tatkala telunjuk terampil Hangeng tiba-tiba menyelip masuk ke lipatan celana dalam bagian bawahnya, membelai langsung kewanitaanya.

"Pleasee.. hh.."

Sementara jari-jari Hangeng memanjakan bagian tersensitifnya. Tangan Kibum yang menganggur ia gunakan untuk melucuti satu demi satu kancing kemeja Hangeng. Sedikit kesusahan karena kepala Hangeng yang menunduk untuk membuka kancing kemejanya dengan menggunakan giginya.

Tidak sampai kancing terakhir, mata elang Hangeng sontak membulat. Belahan dada seksi milik Kibum menyembul dengan angkuhnya. Bra marun yang membingkainya bahkan tidak mampu untuk menutupi keindahannya.

Kedua pipi Kibum memancarkan semburat merah itu lagi. Nafasnya memburu, membuat dadanya naik turun dengan erotis. Hangeng tidak sabar. Ia benar-benar sudah terbakar gairah. Tangannya sudah akan merayap menyentuh bongkahan padat itu, tapi dering handphone Kibum sukses membuyarkan segalanya.

Keduanya tertarik kembali ke permukaan.

"Tidak usah diangkat, please..", rajuk Hangeng begitu Kibum hendak beranjak dari posisi rebahannya.

"Mianhae, Hannie..", mata Kibum menyiratkan penyesalan. Tapi ia harus mengangkat telepon itu.

Dengan tanpa membenarkan kancing kemejanya, Kibum meraih handphonenya. Berjalan masuk ke ruang makan sambil membelakangi Hangeng.

"Yeobo? Ya, aku hari ini ada wawancara. Jangan lupa makan. Nde, mianhae tidak bisa memasakkanmu.."

Dengan gelisah, Hangeng mencoba mengalihkan pandangannya. Namun suara Kibum yang tertawa, suara Kibum yang menasihati, dan suara Kibum yang menyimak, masih dapat tertangkap jelas oleh indera pendengarannya. Rasanya Hangeng ingin memotong telinganya.

Satu lagi moment berharganya lewat sudah..

.

.

~oOo~

.

.

Siang hari, di sebuah restaurant outdoor hotel bintang lima ternama. Hangeng dan Kibum saling duduk berhadap-hadapan. Terfokus pada pasangan masing-masing tanpa mempedulikan lingkungan sekitar. Dalam segala kemungkinan akan rentannya resiko ketahuan, mereka justru terlihat paling menonjol.

Kedua mahluk Tuhan yang sedang di puncak kasmaran. Mereka saling mencintai, tergila-gila..

Lewat kaca mobilnya, Siwon memperhatikan mereka dalam diam. Memandang kosong ke satu titik, tapi pikirannya terpecah kemana-mana. Mencoba mencari sebuah kesimpulan, mencari sebuah solusi, mencari sebuah tindakan berarti yang mungkin bisa ia lakukan. Tapi ia tetap Siwon yang sama. Ia tidak bisa menggapai apapun.

'Namanya Hangeng. Managing Director muda berdarah China. Kibum memang pernah meliput profil tentang namja itu beberapa bulan yang lalu. Tapi beberapa hari kebelakang ini rekanku sering melihat mereka makan siang berdua.'

'Mungkin Kibum dan namja itu memang berteman akrab. Mana mungkin Kibum seperti itu?'

Obrolan singkatnya dengan Yesung, sahabatnya, kemarin siang masih sangat melekat di pikirannya.

Seberapa gigihnya Siwon untuk terus memasukkan ion-ion positif dalam otaknya, ia tetaplah seorang manusia biasa, seorang suami yang terlalu mencintai istrinya. Dan perubahan sikap Kibum akhir-akhir ini padanya sungguh mengusik firasat-firasat buruk untuk terus memberondongnya.

Kibum yang menjaga jarak, Kibum yang pendiam, Kibum yang perenung, bahkan Kibum yang sering terisak sendirian di kamarnya. Tangisan lirih yang bagaikan sayatan silet, terutama saat mereka usai bercinta.

Saat ini, Kibum sedang tertawa lepas di hadapan Hangeng. Tersenyum tulus dengan sinar mata yang berkilat penuh cinta. Manis wajah Kibum yang tengah berbunga-bunga, bagaikan insulin yang tertanam habis dalam darahnya. Siwon merasa akan terserang diabetes karenanya.

Ia..

Terlalu...

Bahagia..

Tidak ada yang ia sesali. Sama sekali ia tak membenci Hangeng maupun Kibum. Satu-satunya yang ia benci saat ini adalah dirinya sendiri. Dirinya yang hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa untuk dapat mempertahankan senyum itu.

'Aku benar-benar tidak pantas untukmu. Maafkan aku Kibummie. Maafkan aku karena selama ini hanya menjadi batu penghalang untuk kebahagiaanmu. Andai saja aku bisa melakukan sesuatu.. Mianhae Kibum.. Mianhae..'

.

.

~oOo~

.

.

Setiap pagi, Kim Heechul punya sebuah ritual khusus yang sedikit aneh. Dimulai dari pergi ke pasar, pasar tradisional. Dilanjutkan dengan mengunjungi taman kanak-kanak, hanya untuk memandangi mereka keluar dari kelas dan bermain. Melihat keceriaan mereka dari luar pagar dan tersenyum sendirian.

Terakhir, ia akan pergi ke sebuah kios bunga di dekat rumahnya. Terkadang pulang dengan membawa sebuket bunga dan sekantong pupuk. Namun tak jarang juga ia tidak membawa apa-apa. Karena ia hanya ingin memandangi. Menikmati bunga-bunga di sana, sendirian.

Pagi ini, Heechul siap untuk melakukan rangkaian ritual wajibnya. Sambil meneguk susu vanilanya, ia memandang ke luar jendela. Menikmati pagi tenangnya yang jauh dari kegaduhan ibu kota.

Tak lama setelahnya, muncul seorang namja yang keluar dari rumah di seberang. Penampilannya sangat rapi dan mahal. Dengan handphone yang menempel di telinganya, ia menuju sedan hitam yang telah siap menantinya. Dasinya belum tersimpul sempurna. Dan mulutnya berkomat-kamit tak jelas seperti membaca mantra.

Heechul melengos. Tipe-tipe namja kantoran sok sibuk yang hanya tahu prinsip hedonisme. Heechul menemui orang-orang seperti itu hampir setiap malam. Ia muak. Pemandangan yang merusak pagi tenangnya.

Namun sejenak, semuanya tampak berbeda. Namja itu tiba-tiba menghentikan segala aktifitas serba sibuknya. Wajah kusutnya berubah drastis menjadi secerah matahari. Sangat drastis. Terlalu drastis.

Bibirnya bergerak perlahan dengan indah. Seolah tiap kata yang keluar memiliki nyawa. Pandangan matanya seakan kosong, tapi tidak. Ia sedang memandang cinta.

Heechul tersenyum. Namja itu sedang jatuh cinta. Benar-benar di mabuk cinta. Sampai seolah-olah ia berubah menjadi asmara itu sendiri. Setiap gerak tubuhnya, senyum yang terlukis di wajahnya, sinar matanya.. Heechul seakan memandang sesuatu yang sangat agung. Dalam dimensi pikirannya, waktu bergerak bagaikan embun. Semuanya melambat dalam sebuah gerakan slow motion..

Inilah saat dimana Heechul ingin memanjatkan doa. Berdoa agar setiap orang dapat melihat apa yang sekarang sedang ia lihat. Dapat menikmati tiap detik yang terasa begitu khidmat dan penuh makna.

'Jangan pergi, tetaplah di sana, wahai kau yang sedang jatuh cinta..'

Namun keangkuhan sang waktu kembali menunjukkan kuasanya. Setelah pembicaraan itu berakhir, wajah namja itu kembali tertekuk. Secepat waktu itu sendiri, ia bergegas masuk ke dalam mobilnya, lalu menghilang dari pandangan.

Sejenak, Heechul merasa sangat kesepian..

.

.

~oOo~

.

.

Malam ini lain dari biasanya. Kim Heechul sedang mengalami apa yang dinamakan badai kegalauan. Wajah cantik itu dihiasi oleh kemuraman yang cukup ganjil. Ia duduk menghadap jendela. Memeluk bantal dan menangis. Tak ada isak. Hanya air mata yang turun tanpa henti. Ia ingin membiarkan semuanya lepas. Ia ingin membunuh kepenatan itu. Menangis merupakan signal bagi tubuhnya, bahwa ia tak kuasa menanggung semua beban hidupnya.

Namun ia harus membiarkan semua ini berakhir. Ia harus kembali kuat. Kim Heechul yang selalu tegar.

.

.

Di kamarnya, Hangeng tidak pernah berhenti untuk merenung. Memikirkan semua tentang dirinya dan Kibum. Masa depan mereka. Dan rasa cintanya untuk yeoja manis itu. Jika saja ia memiliki kuasa atas waktu. Ia ingin sekali menghancurkan dinding sialan yang bernama komitmen. Mendobrak seluruh norma sosial yang ada, dan bebas mencintai Kibum tanpa ada yang harus tersakiti.

Ditengah pikirannya yang terus berkecamuk, sesuatu tiba-tiba menggerakkan pandangannya. Tepat di jendela seberang rumahnya..

Ada seseorang di sana. Seorang yeoja, duduk menekuk, memeluk lutut, setengah menunduk.

Cantik..

Di tengah bingkai malam yang penuh bintang, sosok itu bagai lukisan terindah yang pernah terekam oleh kedua iris mata Hangeng.

Sangat indah..

Menguncinya..

Membelenggunya..

Menit demi menit berlalu dan Hangeng masih belum mau memutuskan pandangannya pada objek indah itu. Namun di detik berikutnya, lukisan tersebut tiba-tiba mendongak. Menatap langit yang terbentang luas di atasnya. Sinar lampu jalan yang menyorotnya membuat sosoknya jauh lebih sempurna. Dengan air mata yang mengalir rapi di pipi porselennya, ia menatap sesuatu di luar sana.

Hangeng yang melihatnya, reflek ikut tergiring menatap langit. Menyusuri arah pandang yeoja itu, dan tiba-tiba ia terkejut bukan main. Nyaris tak percaya dengan apa yang tersuguhkan di depan matanya. Melesat cepat dalam hitungan detik. Namun indahnya tak terkira.

Bintang jatuh..

Meluncur dengan sejuta keindahan yang mencengangkan..

Hangeng begitu terpesona..

Ia tak pernah menyangka, bahwa musuh yang dicarinya selama ini ternyata begitu indah dan menakjubkan.

.

.

~oOo~

.

.

"Bagaimana, ge? Sekarang lebih enakan bukan, setelah kau menceritakan masalahmu dan berkata jujur padaku kalau kau sedang jatuh cinta? Haah~ Dasar pabo! Menyiksa diri sendiri!", ucap Zhoumi setengah memaki.

Pletak!

"Dasar Koala tidak sopan!", Hangeng menjitak pelan kepala Zhoumi, sahabatnya dari kecil yang sama-sama berdarah China.

"Kalau saja aku boleh memberikan julukan untukmu, kau itu pantasnya berganti nama menjadi 'Hangeng si China idiot'! Bwahaha..", Zhoumi masih betah mengolok sahabat yang setahun lebih tua darinya itu.

Pletak!

"Adaw~"

"Ya! Kau benar-benar minta di goreng, hah?", sungut Hangeng sebal. Mulut Zhoumi memang ember, seperti yeoja, tapi mungkin hanya dia satu-satunya orang yang tidak akan menjauhi dirinya hanya karena semata-mata ia mencintai istri orang.

Sambil mengosok kepalanya yang tadi dijitak Hangeng, iseng Zhoumi menyingkap selambu di samping tempat duduknya.

"Ge, aku akui, Kibum-mu itu sangat manis. Tapi kenapa kau harus susah-susah mengejarnya, sementara pabrik gula ada di pelupuk mata?", ucapnya sembari memandang ke luar jendela.

Nampak seorang yeoja hendak bersiap-siap untuk pergi dengan peugeot merahnya. Kaca mata gucci coklatnya bertengger manis di perpotongan hidungnya. Rambut berwarna eboni yang sedikit curly itu berayun indah diterpa sinar mentari. Dan jangan lupakan kulit seputih pualam yang begitu mulus tanpa cacat. Di mata Hangeng, ia sungguh bagaikan lukisan berjalan.

"Kau benar juga, Mi..", lirihnya. "Kenapa aku tidak sadar ya?", Hangeng tertawa pelan.

Zhoumi melirik Hangeng, setengah mencibir. "Dasar kuper! Berapa tahun kau tinggal disini, eoh?"

Zhoumi benar, rumah sebesar ini, tapi dirinya seolah tak benar-benar meninggalinya.

Terdengar sahabatnya menghela nafas. "Hh, andai saja aku belum punya mochi-ku, dan punya berlembar-lembar dollar yang menganggur.."

"Mworago? Apa maksudmu?", Hangeng memicing tak paham.

Zhoumi kembali mencibir Hangeng. "Kau itu keterlaluan, ge! Kau tidak tahu siapa tetanggamu sendiri?"

"Memangnya kau tahu?"

Si Koala itu menepuk dahinya pelan. "Oh Bapa di surga! Kau sungguh kampungan-sekali-udik-dan-payah, Direktur Hangeng!", ratapnya.

"Namanya Kim Heechul. Seorang top model! Peragawati kelas atas! Dan yeoja itu ready stock, man! Asal kau mau melepas, yah.. dua sampai tiga ribu dollar lah, atau mungkin lebih."

"Kau serius?", mata Hangeng membulat sempurna.

"Tergantung kurs kurasa," Zhoumi nyengir. "Aku tidak tahu detailnya. Entah itu tarif short time, long time, per ronde, 24 jam, yang jelas dari dulu noona itu selalu memasang tarif dollar."

"Bagaimana kau bisa tahu yang seperti itu sih?"

"Oh my~ aku tidak se-kuper dirimu, gege! Yang hanya tahu kerja dan kerja", Zhoumi memutar bola matanya jengah. "Lalu sekalinya jatuh cinta, eh, malah istri orang!"

"Tutup mulutmu!", Hangeng siap memukul Zhoumi lagi. Tapi..

"Dengar ge," Zhoumi mendadak serius. "Untuk yang satu itu, jangan harap aku akan menyetujuimu. Tapi sampai kapan pun, percayalah kalau aku akan selalu mendukungmu, apa pun keputusanmu, segila apa pun itu. Jadi jangan ragu untuk berbagi cerita denganku lagi, arra?"

Mendengar kata-kata bijak dari Zhoumi membuat mata Hangeng sontak berkaca-kaca. Bukankah yang seperti ini yang seharusnya dinamakan cinta? Kesetiaan tanpa batas meskipun tak terikat oleh komitmen dan syarat apapun.

Mendadak, ucapan itu meluncur begitu saja,

"Mi.."

"Hm..?"

"Aku ingin melamarmu."

"Mwo?"

Zhoumi merinding. Secepat kilat ia terbirit-birit menghilang sejauh mungkin dari rumah Hangeng.

"Kau gila, ge! Akut! Huwaa.. Mochi-ku~~! T^T"

.

.

~oOo~

.

.

Di sisi ranjang tempat istrinya berbaring, Siwon duduk tafakur. Masih terbayang ketika ia memandangi dua mahluk Tuhan itu berjalan berdampingan. Langkah-langkah yang begitu ringan tanpa beban, tangan yang saling terpaut, dan pandangan yang seolah saling mengunci. Siwon mengerti betul susahnya mencabut sebuah jangkar yang telah terpaut dalam. Mereka sepertinya tak terpisahkan.

Kim Kibum telah menjangkarkan hatinya untuk namja itu. Siwon tahu itu. Tatapan sang istri kepada Hangeng yang begitu penuh makna. Tak ada lagi seseorang yang lebih berarti dibanding sosoknya. Dan dirinya adalah debu yang paling ingin cepat dikibas.

Malam itu begitu sunyi. Deru nafas istrinya yang teratur bagaikan lullaby penenang untuk kebisingan otaknya. Kamar mereka begitu gelap. Begitu sepi. Persis seperti isi hatinya.

Mata Siwon menerawang ke arah langit-langit. Namun ia kembali menemui kegelapan. Perlahan, ditutupnya kedua kelopak matanya. Ia mencoba berlari dalam alam pikirannya. Dan akhirnya ia pun menemukan seberkas cahaya. Cahaya itu semakin terang dan terang.. Siwon bahkan bisa buta karenanya.

Dan saat cahaya itu membias tubuhnya, Siwon terperangah. Di hadapannya, berdiri seorang Putri cantik bergaun pengantin sutera yang sangat mewah. Hati Siwon bergetar, ia jatuh cinta dengannya..

Perlahan Siwon menghampiri sosok bidadari itu. Namun saat langkahnya semakin dekat, dada Siwon ganti berdenyut perih. Putri itu menangis. Bola mata jernihnya dihiasi buliran kristal bening. Sungguh Siwon ingin menghapus tangisnya. Ia kembali mendekat. Dan saat keduanya saling berhadapan, namja tampan ini seketika mematung. Bidadari di hadapannya itu tak lain adalah dia.. Istrinya sendiri.. Choi Kibum..

Wajah muram itu mendongak, sehingga iris mata mereka kini saling terhubung. Ditelusurinya tiap jengkal dari lekuk wajah Kibum. Dalam hati Siwon terus memuja. Tak henti berucap syukur atas kesempurnaan pahatan Tuhan yang begitu indah.

Detik berikutnya, Kibum menutup matanya. Dan entah karena naluri apa, namun Siwon ikut menutup matanya. Membiarkan hatinya menuntun inderanya. Alhasil, kedua belah bibir itu bertemu. Menempel. Bagai kepingan enzim yang bersifat lock and key. Sepasang insan itu berpagut dalam.

Cukup lama hingga akhirnya mereka terpisah. Siwon membuka matanya perlahan. Namun kini yang tersuguhkan di depan matanya bukanlah sosok indah Kibum..

Ada seorang namja. Mengenakan tuxedo hitam. Tampan luar biasa. Senyumnya hangat dan sorot matanya teduh. Dan ia tengah menggandeng bidadarinya menuju sebuah altar pelaminan. Meninggalkan sosoknya dalam ruang hampa yang tak bertepi. Namun di kala kegelapan mulai menyambutnya kembali, ia masih bisa melihatnya. Melihat bagaimana bulir kristal itu menghilang bagai angin, dan tergantikan oleh secercah senyum yang luar biasa indah..

Siwon tersenyum..

Ia lega..

Ia bahagia..

Dan ia terbang..

Siwon membuka matanya. Dan kegelapan kamar mereka kembali menyambutnya. Ia menghela nafas berat. Hatinya mulai tenang walau pikirannya masih bagaikan gelombang konvergen.

Diamatinya wajah damai istrinya. Pelan-pelan ia merangkak mendekati tubuh itu hingga kini jarak wajahnya dengan Kibum tak lebih dari sepuluh senti.

Hangat nafas yeoja itu menerpanya. Siwon kembali menyusuri keindahan wajah sang istri. Seorang bidadari yang telah mengisi hidupnya sejak tiga tahun yang lalu. Mulanya ia berpikir bahwa perjodohan mereka suatu hari kelak akan membuahkan cinta dari seorang Kim Kibum. Tapi ternyata ia salah. Selama tiga tahun ini cintanya tetap bertepuk sebelah tangan. Dan Kibum adalah aktris profesional. Yang sanggup memainkan perannya sebagai seorang istri yang baik untuknya.

Siwon merasa berdosa..

'Aku berjanji, Kibum. Begitu kau bangun nanti, aku akan menjadikanmu seorang yeoja paling bahagia di dunia. Mungkin itulah satu-satunya kesempatanku. Aku janji..'

.

.

~oOo~

.

.

Seseorang berkata bahwa menangis itu menunjukkan kekuatan. Tapi kenapa yang ia rasakan justru sebaliknya, ia merasa amat lemah.

Hangeng meringis getir. Ia menangis. Entah kapan terakhir kali ada air yang keluar dari matanya.

.

Jam makan siang tadi mereka bertemu.

"Kibum, aku tidak bisa terus begini."

Kibum tahu saat ini akan tiba. Persimpangan hatinya.

"Apa yang kau inginkan, Hangeng?", tanya Kibum dengan mata bak kaca yang merapuh. Siap pecah.

Bagi Hangeng, itu adalah pertanyaan tersulit dalam hidupnya. Ironis. Dikala keinginannya yang begitu kuat, ia justru tidak bisa menemukan kata yang tepat.

'Aku ingin kau bercerai.'

Tidak! Itu terlalu kasar. Terlalu frontal.

"Aku ingin memilikimu..", akhirnya kata itu terucap juga.

"Kau ingin aku berpisah dengan Siwon, begitu?"

Hangeng tertampar keras. Ia sungguh muak.

"Kenapa kau selalu bertanya apa yang aku inginkan, dan bukannya menyatakan apa yang KAU inginkan, Kibum!", Hangeng membentak.

"Kita berdua sama-sama tahu apa yang kita inginkan. Tapi kita tidak pernah sekalipun mau untuk mengambil sebuah tindakan. Kita sebenarnya saling takut! Saling mencadangkan satu sama lain agar kelak bisa dijadikan kambing hitam jika keadaan nanti berubah! Kesiapan kita menghadapi kenyataan sama-sama nol besar!"

Semua kata-kata Hangeng sangat menyakitkan. Tapi Kibum merasakan kebenarannya.

"Kau benar.", Kibum menunduk. "Aku akan mengambil sebuah keputusan."

.

.

Namja itu masih hadir di pojok yang sama, dengan cuaca hati yang sedang buruk-buruknya. Sinar mata berkecamuk dan rahang yang mengeras. Namun, di dalam kegundahan sekalipun, semua tetap indah.

Kim Heechul masih di sana. Melihat semua. Hanyut dalam keterkesimaan.

Perlahan ia menyentuhkan tangannya ke kaca, 'Wahai kau yang sedang dimabuk cinta. Berikanlah padaku setetes dari apa yang kau reguk. Agar aku bisa merasakan apa yang tengah kau rasakan tanpa harus ikut terpuruk.'

.

Merasa ada yang tengah mengamati, lamat-lamat Hangeng mulai mendongakkan kepalanya dan mulai mencari.

Tepat di luar jendela, matanya berhenti. Dalam bingkai kayu berlapis kaca jendela, keduanya saling menatap. Tatapan yang mengisap ruang di antara mereka. Tatapan dalam dimensi waktu yang bergerak penuh makna.

'Bintang Jatuh..'

Sejernih kristal Hangeng mendengar hatinya berbisik.

'Hai, pemabuk asmara.'

Heechul menyapa.

.

.

.

~To Be Continue~