Disclaimer:saya tidak punya Digimon,tapi ingin punya.

Jepang 16-06-08

Pagi hari begitu cerah. Hangat, itulah suhu pagi hari ini. Suhu ini sangat nyaman sampai membuatku kembali mengantuk. Suhu ini juga membuatku menguap 3 kali. Aku pun terbangun dan merenggangkan tanganku.

"Haah hari yang sangat ce..." kata-kataku terhenti setelah pandanganku tertuju pada jam weker yang menunjukkan pukul 8:40 pagi. "GYAAAAAAAAA!"kali tak ada kesalahan , karena akulah yang mengatur alarmnya semalam. Akhirnya aku pun mengulang kejadian kemarin. Oh ya kakakku mendapat dua hadiah dari kepala sekolah karena ia MVP pada pertandingan kemarin. Yang pertama libur sekolah hanya 1 hari. Dan yang ke dua adalah tanaman bunga milik kepala sekolah. Saat di rumah tadi aku pun mengeluh pada kakaku karena tidak di bangunkan. Katanya ia sudah mencoba membangunkanku dari jam 7:30. Aku pun berlari dan terus berlari berharap untuk tidak telat. Sesampai di kelas , akhirnya aku telat juga.

"Hikari-chan kau harusnya tidak boleh telat di hari keduamu lo" kata Momoka-sensei sambil memegang buku sejarah di tangan kanannya. Oh ya sepertinya di antara semua murid perempuan disini hanya aku yang memakai sebutan -chan.

"Maaf!" kataku sambil membungkuk.

"Ya sudah karena kau baru masuk kemarin aku maafkan , tapi lain kali tidak ya."katanya.

"Terima kasih banyak Momoka-sensei." aku langsung pergi menuju bangkuku. Di tengah-tengah perjalanku menuju temapat dudukku ada yang berbicara.

"Huh sok manis." kata anak perempuan yang kemarin menyandungku. Aku sungguh penasaran oleh perempuan ini. Apa yang ia mau dariku?. Aku melanjutkan jalanku ke tempat dudukku , aku melihat tas Takeru tapi aku tak melihat ia ada di atap. Saat aku duduk aku melihat Miyako panik seakan mencari sesuatu.

"Ada apa Miyako?" tanyaku

"Tasku tidak ada." katanya panik.

"Eh? Bagaimana bisa?"

"Entahlah mungkin karena mereka melihatku berbicara pada Takeru pagi ini." katanya sambil melihat ke arah perempuan yang tadi mengancamku.

"Hanya bicara saja langsung di jahili seperti ini? mereka memang aneh."pikirku dalam hati. Lalu aku pun mendengar suara pintu belakang di geser oleh sesorang.(kelasnya mempunyai dua pintu, yang satu di depan dekat papan tulis dan di belakang.) Ternyata yang baru masuk adalah Takeru. Ia membawa sebuah tas berwarna hitam dengan gantungan kunci ...Ultraman?

"Miyako ini tasmu" Ucap Takeru sambil memberikan tasnya pada Miyako.

"Ah terima kasih." kata Miyako sangat lega. Entah mengapa tidak ada yang melihat pada Takeru yang baru masuk, padahal jam pelajaran di mulai dari tadi. Lalu ia pun duduk disebelahku.

"Jadi kau mau bersikap pahlawan ya?"sindirku

"Ah tidak"

"Jarang sekali kau ikut pelajaran." kata Miyako.

"Aku ingin mencari suasana lain.". Lalu aku pun melihat ke arah papan tulis dan melihat Momoka-sensei sedang bergaya seperti pitcher dan melemparkan kapur padaku. Aku pun reflek memukul kapur itu dengan bukuku. Kapur itu pun berbalik mengenai dahi Momoka-sensei dan ia pun terjatuh. Kelas pun terdiam. Momoka-sensei mengangkat tangannya dan mengancungkan jempolnya padaku. Setelah itu pintu kelas depan pun dibuka oleh seseorang. Ternyata Kepala sekolah masuk bersama anak perempuan.

"Momoka-sensei kalau kau terus tidur di situ dan mempermalukan aku di depan murid baru , gajimu benar-benar akan kupotong lo ." katanya sambil menghela nafas.

Ia pun berdiri dan memberi hormat prajurit pada kepala sekolah. "Siap pak! Tidak akan lagi pak!" katanya lalu mengambil bukunya dan menaruhnya di meja.

"Ehem! Hari ini kelas ini kembali mendapat murid baru , silahkan perkenalkan dirimu." kata Kepala sekolah mempersilahkannya dan keluar dari kelas ini.

"Namaku..." tak ada lanjutan darinya. Ia pun menghela nafas. Apa itu terlalu berat untuknya?. Mukanya datar , rambutnya bob, matanya sayu. Ia seperti mengeluarkan aura negatif yang terlalu besar. "Namaku... Chika...Hasagusa." katanya yang setelah itu menghela nafasnya kembali.

"Emmmm jadi tempat dudukmu...ah di depan nak Miyako ya. Itu yang anak perempuan berambut merah muda." kata Momoka-sensei sambil menunjuk ke Miyako. Ia pun berjalan menuju ke bangkunya , ia sempat melihatku. Ia seperti terkejut melihatku dan berkata.

"Aku tertarik padamu... jadikan aku bawahanmu." katanya dengan wajah yang datar dan memegang kedua tanganku. "Eh! ta..tapi." kataku kaget. Akhirnya ia melepaskan tanganku dan duduk di bangkunya. Aku terdiam sebentar lalu bertanya-tanya pada Takeru.

"Kenapa ia ingin aku jadi majikannya?" tanyaku berbisik.

"Emm aku tak tahu. Aku pikir anak ini cukup aneh." jawabnya sambil berbisik. Lalu pelajaran pun dimulai kembali. Aku pun mengikuti pelajaran dengan baik. Momoka-sensei menurutku adalah guru yang baik. Ia hangat dan humoris, aku pun tahu mengapa murid-murid menyukainya. Lalu saat di akhir pelajaran ia memberikan beberapa pertanyaan.

"Baik Daisuke! Jawab pertanyaanku." katanya. " Hewan apa yang kecil , hitam ,dan berkeringat ?" tanyannya. Kenapa jadi teka-teki? Bukankah harusnya pelajaran yang barusan disampaikan?.

"Emm..anu...emmm...Aku tak tahu." katanya dengan suara yang makin lama makin kecil.

"Kau tak tahu ya? HAHAHAHAHAHA!" ia tertawa dengan suara yang sangat keras. Sepertinya ia puas sekali mengerjai Daisuke. "Aduh perutku sakit." katanya masih sambil tertawa. "Jawabanya... hmmfh..hihihi...jawabanya...hahahaha..." ia ingin memberikan jawabanya tapi ia terus tertawa sambil memegang perutnya hingga tidak memberikan jawabanya. Aku melihat Miyako menghela nafas dan Takeru yang tertidur. "Jawabannya SEMUT PUSH-UP! HAHAHA" kelas pun terdiam. Aku melihat anak lelaki ada yang terus menganga melihat Momoka-sensei. Tapi ada juga yang tertawa. Jujur saja aku tak mengerti selera Humor Momoka-sensei.

"Haaah...baik berikutnya siapa ya?" katanya sambil melihat sekeliling kelas. Momoka-sensei terus melihat sampai ia mendapat mangsanya. Akhirnya mangsa yang dicarinya ketemu dan itu adalah Hasagusa-san

"Ya! Baiklah Hasagusa jawab pertanyaanku..." omonganya semakin lama mengecil. Sepertinya Hayagusa-san terus memplototi Momoka-sensei dengan pandangan datarnya yang mengeluarkan aura negatif. Momoka-sensei pun berjalan mundur. Ia seperti di serang oleh seorang penguntit. Akhirnya bel pun berbunyi , Momoka-sensei terlihat seperti menghela nafas. Ia mengeluarkan banyak keringat , aku tak tahu ia begitu ketakutan oleh Hasagusa-san. Lalu aku melihat Takeru terbangun dan bergegas pergi.

"Kau mau kemana?" tanyaku sambil merapihkan buku-bukuku.

"Ke atap , Kau mau ikut?" katanya mengajakku sambil sedikit menguap.

"Ah mungkin boleh juga." aku pun memasukkan bukuku ke dalam tas dan ikut Takeru pergi ke atap. Tapi sebelum itu tanganku ditarik oleh sesuatu. Ternyata tanganku di tarik oleh Hasagusa-san.

"Ketua...kau mau kemana?..boleh aku ikut?" pintanya.

"Ya...kurasa boleh." jawabku. "Sejak kapan aku jadi seperti ketua Yakuza?" pikirku.

Aku , Takeru dan Hasagusa-san pergi menuju ke atap. Sesampainya disana Hasagusa-san langsung pergi ke pojokan untuk menyendiri.

"Kenapa dia? Tanya Takeru padaku.

"Entahlah...oh ya bagaimana kalau kau hibur di supaya moodnya berubah? Maksudku supaya ia tak terlihat mengularkan aura negatif.." saranku.

"Eeeeh! Tapi aku harus bagaimana?"

"Yaaaa kau kasih dia lelucon yang lucu , rayuan...aku yakin kau pasti bisa." kataku sambil meninju pelan lengannya.

"Tapi aku tak pernah merayu sebelumnya." katanya sambil memegang tangan yang barusan kutinju pelan.

"Aku tahu kau bercanda tapi ini bukan saatnya Takeru." kataku sambil mendorongnya dari belakang.

"A...aku serius!" katanya berusaha memberitahuku. Akhirnya aku mendorongnya sampai di depan Hasagusa-san. Aku pun berlari kebelakang untuk melihatnya dari jauh. Aku melihat Takeru berbicara dengannya. Ia berusaha sekuat tenaga tapi aku tak melihat satu 1mm lekukan senyum pada muka Hayagusa-san. Ia malah terus memberikan tekanan pada Takeru. Akhirnya Takeru kambali dengan keadaan yang lemah , lesu , dan letih. Mukanya terlihat pucat.

"Ba..bagaimana?" tanyaku padanya.

"Aku ingin mati saja..." katanya yang setelah itu terkapar secara perlahan. Setelah itu aku mendengar pintu terbuka. Aku melihat Daisuke bersama Ken sedang membawa makanan.

"Oh Hikari-chan! kenapa kau dan Takeru ada disini? Dan mengapa Takeru terkapar begitu?" tanyanya sambil memakan roti yang ia bawa.

"Sebenarnya ..." aku pun menjelaskan masalahnya pada mereka berdua.

"Oh kalau hanya itu serahkan saja padaku!" katanya bangga sambil memukul dadanya sendiri dengan telapak tangan. Ia pun mendekat pada Hayagusa-san. Ia berusaha sebisa mungkin membuat Hayagusa-san tersenyum. Akhirnya ia pun terkapar juga dan meniban badan Takeru.

"Kalau begitu aku akan mencobanya." kata Ken beranjak menuju ke arah Hasagusa-san. Aku pun menarik tangan Ken dan mengatakan tidak usah. Ia pun akhirnya menurut padaku. Belpun berbunyi , aku dan Ken membantu Takeru dan Daisuke berjalan menuju kelas. Saat sampai di kelas entah mengapa aku merasakan hawa yang tidak enak. Aku seperti sedang di awasi oleh pun mendudukkan Takeru duduk di bangkunya. Ia terlalu lemas hingga sering membuat kepalanya terbentur meja sendiri. Aku duduk dan tertawa melihatnya . Lalu Guru pun masuk. Guru yang kali ini adalah Guru olahraga. Aku bisa tahu karena ia memakai baju dan celana training , Serta peluit yang tergantung di lehernya.

"Yak! Hari ini kita ke lapangan basket." katanya memberitahu yang setelah itu pergi tanpa menjelaskan apa-apa lagi.

"Takeru hari ini basket lo" kataku berusaha memberi tahu.

"Iyaaaa..."Badan lemas, ia hanya terduduk di bangku. Akhirnya ia di tarik oleh Ken untuk mengganti baju dengan pakaian olahraga. Pakaian Olahraga anak lelaki adalah baju putih dan celana training panjang berwarna biru muda dan bergaris putih. Sedangkan kalau perempuan baju putih dengan celana training panjang warna merah bergaris putih. Karena aku belum punya bajunya akhirnya aku hanya menemani Miyako menganti pakaian dengan baju olahraga di tempat ganti baju. Lalu aku dan Miyako bergegas pergi ke bawah. Saat sudah sampai di lapangan basket indoor, kami disuruh bermain basket bergantian cowok-cewek.

Cowok bermain 35 menit sedangkan cewek main 30 menit. Pertandingan pertama adalah grup Daisuke dan Ken melawan grupnya Takeru. Entah kenapa Takeru sudah btidak terlihat lemas lagi. Mungkin efeknya sudah hilang. Akhirnya permainan pun dimulai. Dari awal Takeru sudah mendapat bola. Ia pun melewati tiga pemain yang mengahadangnya. Lalu ia meleawati Ken dengan spin dan akhirnya ia mau mengambil three point. Sebelum ia melempar bola Daisuke sudah mengangkat tangannya untuk memblok shoot Takeru. Tapi Takeru tidak melompat dan mengambil Shoot , ia menunggu sampai Daisuke turun dari lompatannya baru ia melakukan Shoot. Akhirnya tim Takeru pun mendapat 3 point. Para cewek pun berteriak melihat aksi Takeru.

Setelah itu Daisuke mengoper bola pada Ken. Dan Ken pun melakukan hal yang sama dengan apa yang Takeru lakukan. Ia juga memasukkan three point. Dan tentu para cewek pun berteriak dengan aksi Ken. Pertandingan pun memanas. Mereka terus bergiliran mendapatkan angka. Akhirnya pertandingan pun berakhir dengan kemenangan tim Ken dengan skor 34-30. Sebenarnya bukannya Takeru yang bermain payah , timnya sangat pemula dalam bermain Basket. Setiap Takeru mengoper bola , rekannya tidak ada yang serius pun keluar dari lapangan untuk beristirahat. Di saat aku mau menyapa Takeru aku dari belakang di dorong hingga jatuh . Ternyata itu adalah fans Takeru yang mau menawarakan handuk. Saat aku mau berdiri ada yang mengulurkan tangannya padaku dan membantuku berdiri. Ternyata itu adalah Ken.

"Ah terima kasih" kataku.

"Sama-sama" katanya sambil menutup mata dan tersenyum padaku. Aku melihat Takeru , Sepertinya ia tak puas dengan hasil itu. Ia terlihat sangat strees. Akhirnya ia keluar dari lapangan basket indoor.

Aku pun mengikutinya ke atap. Aku punya dugaan besar bahwa ia sedang ada di atap. Saat di atap aku melihat ia sedang duduk bersandar di pagar kawat dan memandangi foto seseorang. Mungkin itu adalah seseorang yang penting. Lalu aku pun menyapanya.

"Takeru." sapaku

"Hikari , ada apa?" tanyanya.

"Ah tidak aku melihat kau sedang memandangi foto , sebenarnya itu foto siapa?" kataku duduk di sebelahnya.

"Oh ini , aku pernah bilang bahwa aku mempunyai alasan khusus bermain basketkan?"

"Ehmm." jawabku menganguk.

"Alasanku karena aku tak mau mengecewakan orang ini." jawabnya sambil menunjukkan foto seorang kakek padaku. "Saat aku kecil ia lah yang memperkenalkan aku pada basket , mengajarkanku , memberitahuku , melatihku. Aku sangat suka padanya. Aku pun berjanji padanya suatu saat aku akan menjadi pemain profesional. Aku takkan kalah dalam pertandingan basket" katanya. "Tapi hanya kalah dalam permaina biasa tadi saja , dadaku sangat sesak. Aku sudah melanggar janjiku ingin minta maaf tapi ia sudah tidak ada!" katanya sambil menunduk ke bawah. Aku pun mengelus-elus kepalnya.

"Anak baik."kataku "Kata kakekku orang yang bisa meminta maaf adalah orang yang hangat hatinya. Katanya itu adalah kunci menjadi sukses , aku juga sebenarnya tidak mengerti tapi kau tidak boleh menyerah , kau harus percaya bahwa kau bisa . Kau hanya boleh berpikir aku bisa , maka kau akan bisa melakukannya. Itulah yang dikatakan kakekku."

"Hikari..." sesaat ia melihat padaku. "Terima kasih." katanya sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumnya.

Sore hari saat pulang sekolah:

BRAAAK! Itu adalah suara pukulan yang berasal dari mejaku. Sebenarnya bukan aku yang memukul meja. Tapi ketua dari segala preman yang ada di kelasku. Aku tak tahu siapa dia. Yang pasti ciri-cirinya ia berambut panjang , matanya tajam , dan ada plester di pipinya.

"Emm maaf apa salahku?" tanyaku dengan sedikit takut.

"Apa salahmu?APA SALAHMU? KAU TAK TAHU SIAPA AKU?" tanyanya sambil marah-marah.

"Kenapa ia malah menanya balik? bukannya aku yang menanya?" pikirku.

"Dia adalah raja dari para preman sekolah ini! Ia adalah sang raja Hasakura Sabiko-san!" celetus temannya.

"Boodoh jangan bicara keras-keras begitu aku malu!" katanya Tersipu-sipu. "Eh tunggu samapai mana kita tadi?" katanya baru sadar dari kesipuannya dan memukul mejaku kembali.

"Emm apa salahku?" tanyaku lagi.

"Apa salahmu? HAHAHAHA!" ia ketawa dengan suara yang sangat keras. Sebenarnya kapan aku tahu aku salah apa? Apa sebenarnya orang ini tak tahu aku salah apa?. "Bawa dia!" katanya menyuruh kedua temannya. Aku pun di bawa kebelakang sekolah. Disana aku di ikat di pohon besar dan mereka sudah menyiapkan telur busuk yang sepertinya di gunakan untuk melempariku.

"Rasakan ini!" ia dan kedua temannya pun melempar telur busuk itu. Aku hanya dapat diam dan menerima lemparan telur. Aku pun memejamkan mataku. Entah mengapa aku hanya merasakan telur-telur itu di kaki. Aku pun membuka mataku secara perlahan. Aku melihat seorang anak perempuan berdiri di depanku melindungiku. Ia pun berbalik dan ternyata itu adalah Hasagusa-san. Aku sangat kaget. Aku melihat darahnya mengucur dari dahinya. Mengapa? Kenapa dia menolongku?. Aku benar-benar ingin menangis saat ini. Ia menuju ke arahku dan melepas ikatanya. Ia pun terjataku saja ang hanya menerima lemparan telur itu di kaki begitu sakit. Bagaiman dengan Hasagusa-san yang menerimaPreman itu pun mendekat dan hanya tersenyum picik.

"APA YANG KAU MAU DARIKU?" teriakku dengan rasa marah dan sedih yang tercampur aduk. "APA KAU BELUM PUAS MEMBUAT KEPALA ORANG BERDARAH?" Teriaku lagi. preman itu terlihat tertekan.

"Be...Berisiiik!" ia mau menamparku. Aku pun hanya dapat memjamkan mataku yang takut olehnya.

"Cut!"

"Eh?" aku melihat ke arah kananku dan melihat Takeru sedang berjongkok dan merekam kejadian itu dengan handycam.

"Ta...Takeru." kata Preman itu tegang.

"Jadi begini kelakuanmu Hasakura-san." katanya sambil menutup handycamnya dan mengambil memory card dari dalam handycam itu. "Bagaimana ya jika memory ini sampai ke tangan guru-guruuuu?" tanyanya dengan senyum yang mengancam.

"Uuukh." kata anak itu semakin tegang. "Jadi..apa mau mu?" Tanyanya.

"Minta maaf pada Hikari dan Hasagusa-san." jawabnya sambil melihat ke arahku. Ia jadi terlihat serius.

"Tidak! Aku tidak akan minta maaf! Silahkan saja kasih memory itu ke para guru." bentaknya.

"Apa boleh buat." katanya menghela nafas. Akhirnya ia membawa mereka bicara agak jauh dariku. Aku bisa melihat muka Hasakura-san dan kedua temannya seperti di kejar oleh setan. Mukanya terlihat pucat , makin lama biru. Semakin lama lagi ia mengeluarkan banyak keringat. Ke dua temannya sudah terlihat menangis mendengarkan Takeru bicara. Aku tak bisa dengar apa yang mereka obrolkan . Dan aku tak tahu apa yang Takeru lakukan pada mereka bertiga. Akhirnya mereka bertiga kembali mendekatiku.

"Ma...maaf" setelah mengatakan itu mereka langsung lari meninggalkanku.

"A..apa yang kau lakukan pada mereka?" tanyaku.

"Ah tidak kok bukan masalah besar." katanya mengelengkan kepala.

"Hikari-sama..." kata Hasagusa memangil namaku.

"Hasagusa-san! Kau sudah sadar!" kataku senang.

"Maaf aku tak bisa melindungi mu." katanya menyesal.

"Ah tidak , kau adalah ksatriaku Hayagusa-san aku sangat berterima kasih." kataku sambil memberinya senyum.

Aku melihat wajahnya memerah terharu. Ia menutup matanya dengan pergelangan tangannya. "Bisakah kalian meningalkanku sebentar?"pintanya. Aku pun ingin meranjakkan kakiku berdiri. Tapi entah mengapa kakiku begitu berat untukku gerakkan. Lalu Takeru mengangkat dan menggendongku.

"Ta..Takeru apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan wajah yang memerah karena malu.

"Kau tak bisa berdirikan? Tenang saja kau akanku antar pulang." jawabnya.

"Aku belum mengambil tasku!"

"Ini tas mu bukan?" katanya sambil menunjukkan tasnya yang ada di tangannya.

"Sejak kapan?" tanyaku kaget.

"Eh dari tadi aku membawa tasmu kok."

Akhirnya aku pun diantar Takeru pulang. Aku terus di gendongnya sampai di depan pintu apartemenku.

"Apa kau sudah bisa berdiri?" katanya sambil menuruniku.

"Ah terima kasih ya" kataku dengan wajah yang sedikit memerah. Sesaat itu kami berdua terdiam. Tapi Takeru pun akhirnya memulai percakapan.

"Hikari..." Ia mengatakan dengan mukanya terlihat serius.

"A..ada apa?"

"Kau berat ya." katanya dengan senyum yang lebar. Aku langsung meninju perutnya dan membuatnya terkapar. Dan menutup pintu apartemenku dengan kencang. Tapi sebenarnya aku senang ia sudah mengantarku pulang. Mungkin besok akan lebih baik dari ini.

A/n Fuuh akhirnya selesai. Aku sudah mencoba untuk lebih baik. Aku sedikit bingung tentang handycam itu , karena aku belum pernah punya handycam. Aku tak tahu keluargaku tidak membeli handycam. Apa karena tidak mampu atau malas. Tapi..berkat bantuan review kalian aku akan menjadi lebih baik untuk menulis. Makanya tolong di review ya!. TERIMA KASIH.