Boboiboy © Monsta Studio, Malaysia
OC (Hao, Elizabeth, Grandma Foglia, etc)
May contain: OOC, AU, genderben.
Don't like, don't read. Don't leave negative/bad/spam comments. You've been warned.
.
.
.
Back to School
.
.
.
Kastil akademi Night Gaze menjulang tinggi bagai memecah langit. Kemegahannya diikuti riuh ramai kota yang mengelilingi dengan kesibukan para penduduk di malam hari.
Para halfter dan manusia saling bercengkerama hangat meski angin malam yang menusuk tulang berhembus tak berhenti menari.
Wangi aroma kopi dan rempah serta roti dari oven menjadi kembang malam. Suara cicit kelelawar yang bergantung di papan toko seakan menyapa orang-orang yang memasuki kafe atau kedai. Dentingan para peri menawarkan bunga hias dari gerobak para penyihir bunga. Kucing-kucing penyihir saling bertukar kabar di atap rumah.
Nuansa yang selalu disukai Boboiboy. Padahal bagi Fang, keadaan kota dan pasar yang ramai itu hal yang biasa. Tapi sang pangeran paham betul akan pujaan hatinya yang selalu mengagumi kehangatan dunia kesayangannya itu.
"Ayo, Boboiboy. Nanti kita telat."
Di depan gerbang akademi sudah ada tiga sahabat yang melambaikan tangan mereka. Yaya si penyihir Timur Tengah, Ying si vampir Cina, dan Gopal si golem bertubuh tambun.
"Hai, Fang! Boboiboy!" Ying bersemangat melompat mendekati gadis sahabat barunya itu. Dalam perjalanan menuju akademi ada tawa dan candaan menghias obrolan mereka. Bahkan Ochobot juga turut saling melempar candaan.
Mereka telah terikat tali persahabatan yang erat. Ying begitu bersemangat dan senang sekali bercerita dan memberi banyak informasi pada Boboiboy. Gadis vampir tersebut adalah yang paling muda di antara teman-temannya. Tentu saja ia merasa sangat senang mengajari banyak hal pada Boboiboy yang masih sangat hijau di dunia halfter. Ying merasa dirinya amat sangat dibutuhkan Boboiboy dengan segala ilmunya.
Yaya juga sangat menyayangi dan bagai seorang ibu untuk gadis maid di kastil keluarga Lang itu. Terutama lagi Gopal— yang amat sangat memuja masakan Boboiboy.
Rasa cemburu mengiringi Fang melihat keakraban Boboiboy dengan ketiga temannya. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Justru Boboiboy terlihat senang sekali memiliki teman-teman yang seumuran dengannya.
Fang hanya mengendikkan bahu dan menghela napas.
Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan calon pengantin.
Begitu sampai di kastil bagian dalam akademi, mereka berpisah.
"Baiklah, aku akan ke kelasku. Selamat belajar semua!"
"Dah, Boboiboy! Salam untuk Nenek Foglia, yah!"
Boboiboy berjalan cepat menuju halaman belakang akademi— di mana pepohonan pinus tumbuh rindang hingga berupa hutan lebat yang gelap di bawah hiasan lampu-lampu bintang di atas langit sana..
Namun sinar kecil yang muncul dari balik pepohonan berdenting menyambut gadis kesayangan mereka. Para peri hutan pinus selalu menunggu kedatangan Boboiboy. Mereka selalu menjadi penerang dalam perjalanan menuju tengah hutan— di mana kelas mungil Boboiboy berada.
Sinar hangat yang berwarna keemasan membuat sebuah rumah kaca kecil di tengah hutan pinus bagian belakang kastil akademi bagai lilin di tengah gelapnya malam yang dingin.
Langkah sang gadis kecil semakin cepat tak sabar. Sosok tua dengan jubah hijau dan tubuh bungkuk bagai batang kayu dengan usia berabad-abad selalu menyambut murid satu-satunya itu.
"Selamat malam, guru!"
"Selamat malam, sayangku. Ohohoh— lihatlah pipimu yang kemerahan. Di luar pasti dingin. Lihat— para peri telah menyalakan api dalam tungku agar kau merasa hangat di sini."
Dentingan bangga membuat Boboiboy tersenyum lebar, "Terima kasih banyak, teman-teman! Aku bawa kue-kue jahe yang baru kupanggang tadi."
Nenek Foglia duduk sambil menikmati hidangan malamnya sebelum memulai kelas.
Rutinitas yang amat disukai Sang Nenek yang paling dihormati oleh seluruh halfter dan manusia yang mengenalnya. Sebagai seorang tua yang nyaris selalu sendirian dan hanya ditemani peri dan tumbuhan, ia begitu senang dengan keberadaan Boboiboy di sisinya. Gadis yang selalu mengajaknya berbincang dan bercerita riang.
Uap dari cangkir teh mint adalah kesukaan Night, si kucing hitam. Ia selalu membiarkan wajah dan kumisnya mendapat uap teh yang Boboiboy sediakan untuk gurunya.
Sudah cukup lama Nenek Foglia menjadi mentor bagi Boboiboy. Wanita tua itu senantiasa dipenuhi kejutan, namun ia sama sekali tak heran akan kemampuan Boboiboy dalam belajar.
Nyaris setengah dari buku tebal milik sang guru telah Boboiboy pahami. Keinginannya dalam memahami lingkungan di dunia barunya begitu besar.
Pelajaran yang telah dimulai beberapa jam lalu disimak Boboiboy penuh perhatian.
"—Ada beberapa tanaman yang merupakan tanaman obat langka, karena hanya tumbuh di daratan para goblin berada. Mereka bermanfaat untuk menghilangkan pengaruh sihir pada seseorang."
Lembaran buku raksasa di meja mengeluarkan sinar yang perlahan-lahan membentuk sulur-sulur bercahaya dan merambat, membentuk menjadi sebuah bunga penuh duri.
"Bunga ini tak perlu diramu. Duri-durinya akan menghilangkan pengaruh sihir saat digoreskan pada makhluk yang terpengaruh sihir tersebut."
Boboiboy tak melepaskan pandangannya dari tiap lembaran buku yang dibuka oleh Nenek Foglia. Tiap wujud tanaman yang bercahaya muncul dari lembaran-lembaran magis.
"Kau tahu, anakku? Terkadang aku merasa bahwa takdir yang membawamu kemari memang memiliki rencana tersendiri."
Ochobot memiringkan kepalanya. "Takdir Boboiboy?"
Senyuman lebar diikuti anggukan dari sang guru. Sementara Boboiboy dan Ochobot hanya bisa saling memandang tanpa paham apa yang dimaksudkan Nenek Foglia.
Sebelum dentang bel tanda jam istirahat terdengar dari akademi, Nenek Foglia menutup buku dan meminta Boboiboy duduk di sampingnya.
"Kau sudah cukup lama tinggal di sini. Apa kau senang?"
"Aku sangat menyukai tempat ini, guru! Dengan segala keajaibannya, aku benar-benar menyayangi tempat ini."
Senyuman di wajah tua menandakan penuh lega dan gembira mendengar jawaban tersebut.
"Di dunia ini— kau pasti telah memahami arti dari 'keinginan' dan 'kebutuhan'. Aku senang sekali 'keinginan'mu dalam memahami dunia ini menjadi sebuah kekuatan yang murni penuh kasih sayang, serta menjadi petunjuk bagi menemukan segala 'kebutuhan'mu."
Nenek Foglia mengayunkan tangan rentanya. Membuat sebuah buku saku dari tas Boboiboy melayang-layang mendekati mereka.
"Buku dari Kakek Libros ini menjadi salah satu contoh 'kebutuhan'mu untuk memahami dunia ini. Apa kau sudah membacanya?"
Boboiboy mengangguk cepat. Bahkan Ochobot ikut terbang dan mendarat di sandaran bangku dekat sang gadis pelayan. "Isinya luar biasa sekali, Nek! Aku ingin sekali bertemu langsung dengan makhluk-makhluk yang ada di dalam buku itu!" seru Ochobot girang.
Kejujuran dua sahabat tersebut menghangatkan hati sang tetua. Buku saku tersebut kembali melayang dan masuk ke tas Boboiboy.
Kini giliran buku besar milik Nenek Foglia yang ia pinjamkan pada Boboiboy melayang dan mendekat. Lembaran-lembaran terbuka dan bersinar redup dengan gemerlap kecil bagai debu pagi hari beterbangan dari dalamnya.
"Buku yang telah kususun dan kutulis ini, penuh dengan harapanku bahwa suatu saat akan ada seseorang yang bisa membaca dan memahami segala isinya."
Buku besar tersebut menutup dan melayang hingga ke hadapan Boboiboy yang kemudian memeluknya erat.
"Aku sangat bahagia dan lega bahwa kini ada yang bisa kutitipi buku ini."
Senyum kecil di wajah sang guru seakan menjadi sebuah pesan bagi Boboiboy.
"Aku akan menjaganya dengan baik, guru."
Sama halnya dengan Boboiboy yang tengah belajar— di kelas, Fang dan teman-temannya mendengarkan seorang guru tengah memberi penjelasan pada para siswa.
"—Ikatan batin adalah ikatan yang sangat kuat. Ikatan ini bisa menjalin hubungan kita pada keluarga maupun teman. Sering jika kita memiliki visual yang luar biasa detail mengenai seseorang kita akan memiliki memori sebagai sumber kekuatan kita."
Di benak Fang sudah terlukis jelas wajah manis nan ramah gadis pujaannya. Melihat sang pemuda werewolf tersenyum-senyum sendiri, Gopal hanya menghela napas sembari menggeleng kepala.
"—Namun terkadang ada pecahan ingatan yang kita lupakan. Misalnya keberadaan seseorang yang dahulu begitu lekat dan penting di samping kita. Dengan seiring berlalunya waktu, mereka bisa terlupakan. Padahal bisa saja mereka adalah titik cahaya yang membangkitkan kekuatan dalam diri kita. Rasa magis dalam diri kita."
Dentang bel tanda jam istirahat terdengar. Sebelum kelas riuh membubarkan diri, sang guru menyempatkan memberi tugas untuk mereka.
"Nah— Minggu depan, bawalah foto atau tulisan yang berupa kenangan kalian pada seseorang yang nyaris kalian lupakan. Mungkin teman kalian yang sudah lama pindah atau kakek dan nenek, atau orang-orang yang telah meninggal yang kalian sayangi. Kita akan lihat seberapa besar kenangan dan memori kalian pada mereka mempengaruhi kuasa magis dalam diri kalian."
Derap langkah para siswa bergemuruh memenuhi lorong dengan obrolan dan tawa.
Fang langsung bergegas menembus lautan para siswa yang hendak menuju taman atau kantin saat istirahat tiba.
Hanya satu tempat yang ada di benak Fang yang ingin ia kunjungi saat jam istirahat tiba.
Baru sampai di mulut hutan pinus belakang akademi, Fang sudah disambut beberapa peri yang tahu bahwa pemuda itu pasti akan datang untuk mengunjungi Boboiboy.
Pintu rumah kaca mungil terbuka lebar dengan sosok mungil yang berdiri menyambut Fang.
"Boboiboy!"
Napas putih keluar dari mulut Fang yang terengah-engah setelah berlari sedari kelasnya. Boboiboy tergelak manis sambil membalas pelukan Fang yang tiba-tiba.
"Masuklah, Fang. Kita minum teh panas bersama Nenek Foglia. Kau pasti kedinginan."
Undangan manis yang tak akan pernah ditolak sang pemuda werewolf. Bahkan sang Nenek Foglia memberi senyuman ramah dan mempersilahkan Fang duduk di sofa bersama kekasihnya.
"Kurasa kau ketinggalan sesuatu, Tuan Muda Fang Lang."
Sindiran halus sang Nenek sama sekali tak digubris Fang. Ia hanya mendengus dan membuang muka.
"Faaaaang! Kenapa kau tinggalkan kami begitu sajaaaa!"
Yaya, Ying, dan Gopal protes sambil berlari-lari menuju kelas mungil di tengah hutan pinus. Boboiboy kini yakin, Fang sengaja meninggalkan teman-temannya.
"Fang, kau tak boleh begitu."
"Uuuh— Aku hanya ingin berduaan saja denganmu!"
Kekeh tawa Nenek Foglia mengiringi omelan para teman-teman Fang yang akhirnya diundang masuk oleh Boboiboy ke dalam rumah kaca mungil yang hangat tersebut. Para peri turut menertawakan ulah kekanakan Tuan Muda yang benar-benar manja pada Boboiboy.
Bahkan teman-teman sekelas Fang yang lain turut penasaran. Mereka mengintip-ngintip dari balik pepohonan pinus, mengikuti teman-teman mereka yang berlari mendahului berusaha mengejar Fang tadi. Peri-peri sahabat Boboiboy menyadari keberadaan mereka.
Boboiboy mendengar dentingan memanggil untuk memberi tahu bahwa teman-teman yang lain juga ingin bergabung.
Nenek Foglia mengangguk saat Boboiboy meminta ijin agar teman-teman sekelas Fang yang lain diijinkan masuk.
"Ajaklah mereka, sayang. Udara di luar sangat dingin."
Boboiboy bergegas menghampiri Deep Amar, Amy, Suzy, Nana, Siti, Iwan, dan Stanley di luar sana. "Ayo, masuklah! Kalian tak perlu sungkan."
Fang semakin protes pada Nenek Foglia. "Kenapa jadi mengajak banyak sekali orang, sih—!?"
"Heheheheh— Kau lupa bahwa kekasihmu itu juga ingin sekali berteman, Tuan Muda Fang."
Fang mendengus kesal tak bisa mengelak. Ia berusaha memahami bahwa Boboiboy juga senang memiliki teman-teman yang bisa diajak ngobrol. Hanya saja itu menjadi gangguan bagi Fang yang selalu hanya ingin berdua saja dengan tunangannya.
Nenek Foglia terkekeh kembali sambil mengangkat sedikit tongkatnya. Ketukan di lantai kayu tiba-tiba membuat segala perabotan berdenting dan berderit. Ruangan yang tadinya begitu mungil tiba-tiba melebar sedikit demi sedikit. "Nah, kurasa ini sudah cukup."
Yaya, Ying, dan Gopal terkagum-kagum. "Wa— waaaaw!"
"Keren sekali!"
Obrolan ceria disertai cemilan dan minuman hangat selalu menjadi saat-saat yang begitu dinikmati Boboiboy. Banyak hal yang ia dapat pelajari dari teman-temannya.
"— Banyak sekali yang masih takut untuk mendekat ke pegunungan yang dikelilingi Lost Forest."
Obrolan yang terdengar begitu serius tersebut membuat Nenek Foglia menaruh cangkir di pangkuannya. Wajah-wajah serius para halfter muda mengundang rasa penasaran sang tetua.
"Oh, kalian sedang membicarakan Lost Forest?"
Para remaja tersebut memandangi sosok yang paling tua di ruang itu.
"Iya, Boboiboy sangat penasaran dengan keberadaan Lost Forest. Kami memberitahunya agar tak mendekat ke sana karena berbahaya." tutur Yaya.
Nenek Foglia mengangguk kecil. "Kau benar, penyihir cilik. Tempat penuh misteri dan kekuatan hitam itu sungguh berbahaya bagi mereka yang tak memiliki kesiapan lahir batin. Hanya mereka yang terpilih yang bisa menelusuri tempat tersebut. Mereka yang hatinya diberi cahaya untuk menyinari tempat-tempat yang gelap."
Gopal menggaruk kepalanya. "Apa maksudnya? Apa artinya kita harus bawa obor atau senter ke sana?"
Ying memutar matanya sebal, "Aish— Bukan, Gopaaal! Artinya hanya orang-orang tertentu yang kuat untuk menghadapi kekuatan gelap para goblin jahat di sana. Benar' kan, Nenek Foglia?"
Sang nenek tersenyum lebar dan kembali mengangguk. "Benar sekali, vampir cilik."
Boboiboy teringat akan kisah para goblin yang dikurung di atas gunung yang dikelilingi Lost Forest dari kisah yang dilantunkan Nyonya Elizabeth dan Ratu Rozetta.
"Apa— para goblin di pegunungan sana begitu berbahaya? Berbeda dengan Adudu—?" tanya Boboiboy
Nenek Foglia mengangguk kembali tanpa senyuman di wajah. "Semua makhluk memiliki 'keinginan' masing-masing. Namun jika kita tak bisa mengontrol apa yang ada di dalam diri kita, itulah yang akan membunuh kita sendiri. Keserakahan tanpa batas yang terus menerus membuat kita haus akan nafsu. Kita akan menginginkan sesuatu tanpa peduli apakah kita membutuhkannya atau tidak."
Helaan napas menjadi jeda.
"Anak-anak— Berjanjilah bahwa kalian akan berhati-hati dengan Lost Forest dan gunung yang menjulang penuh kegelapan itu."
Semua remaja yang duduk mengelilingi Nenek Foglia mengangguk— Meski Gopal harus disikut Yaya terlebih dahulu karena keasyikan makan.
Jam pelajaran dimulai kembali beberapa jam sebelum bel pulang sekolah berdentang. Saatnya para penghuni malam kembali ke hunian mereka masing-masing,
Sunyinya malam mengantar Fang berlari menembus hutan dengan Boboiboy yang beristirahat nyaman di punggung sang serigala.
Di depan kastil, Elizabeth telah menunggu. Ia membantu gadis yang mengantuk kelelahan dengan sahabat burung hantu di pelukannya turun dari punggung Fang. Ochobot turut menguap lebar. Elizabeth tersenyum sembari mengiringi Boboiboy yang telah terkantuk-kantuk berjalan menuju kamar. Gaun tidur telah disiapkan sang Nyonya.
Fang sempat mendapat jeweran di pipi karena ingin membantu ibunya menggantikan gaun tidur Boboiboy.
Selimut tebal nan hangat melindungi tubuh kedua sahabat dari dinginnya udara malam. Ditemani cahaya lembut rembulan yang mengintip dari balik tirai jendela— menyinari mawar putih yang mekar indah di atas meja. Mengawasi sang gadis dalam diam.
.
.
.
TBC
Halo, semuanya!
Oke— Kalian jelas pasti udah lupa sama cerita ini. AKU JUGA! HAHAHAHAHA! xD
Bahkan aku butuh membaca ulang dari awal untuk ngelanjut fanfic ini xD Kalau kalian udah nggak tertarik dan nggak bisa lagi ngikutin fanfic ini, gapapa banget loh xD
Tbh kenapa aku sempat hiatus lama banget— It's because...
Pertama, jam kerja sekarang udah nyaris nggak memungkinkan bersantai-santai bikin fanfic. Yes, aku udah nggak sekolah bahkan udah lulus kuliah lama banget. Udah kerja. Jam kerja nyaris berangkat pagi, pulang malam. So, mohon pengertiannya.
Kedua, aku sempet bete karena masih aja ada yang komen— protes mengenai pairing dan genderben. Oke, untuk yang satu ini aku akan langsung hapus aja komen tersebut kalau ada lagi. Looks like aku harus belajar untuk cuek.
Kali ini aku lagi berusaha mau melanjutkan Third Gate. Seenggaknya ini udah Gate terakhir. Sayang kalau nggak dilanjut.
Apalagi di Komik Galaxy, ortu Fang dan Kaizo sudah keluar. So nggak ada salahnya melanjutkan ini dulu~
.
Selamat membaca kembali fanfic yang telah lama terlupakan ini.
Dan aku bahkan nggak tahu kapan bisa update lagi.
Doakan saja 2-3 minggu ke depan, karena aku harus keluar kota 2 mingguan ini...
