Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki
Pair : Aomine x Kagami
WARNING! Konten mengandung unsur yaoi, shonen ai
.
.
.
Malam ini ayah Kagami tak pulang. Sama seperti hari-hari biasanya, pria itu lebih memilih untuk menyibukkan dirinya mencari uang ketimbang menghabiskan waktu bersama anaknya. Well Kagami sudah terbiasa dengan hal seperti ini, dari kecil ayahnya memang menuntutnya untuk bersikap mandiri. Walau begitu… rasa kesepian selalu muncul jika ia sendirian di rumah yang sepi ini.
Kagami menggelengkan kepalanya, membuang semua pikiran yang dapat melukai hatinya. Selesai menghabiskan makan malamnya, Kagami membawa semua piring kotor kedalam bak cuci dan mencucinya, baru setelah itu ia pergi menonton tv. Matanya tak bisa fokus pada acara yang saat ini sedang disiarkan, pikirannya terus menyita perhatiannya tanpa henti.
Karna tak nyaman Kagami mematikan tv dan membaringkan tubuhnya diatas sofa. Ia memejamkan matanya, berusaha memaksakan dirinya tertidur walaupun ia belum mengantuk. Setidaknya dengan tidur ia bisa melupakan semuanya.
Dering ponsel yang berada didalam kantong celana mengejutkan Kagami. Ia berharap jika sang ayah lah yang menghubunginya namun, ia malah mendapati nama Aomine terpampang jelas dilayar. Karna malas menjawab orang tak penting Kagami lebih memlih untuk membiarkan panggilan tersebut dan kembali memejamkan matanya. Saat dering ponselnya berhenti Kagami menghela napas lega, akhirnya ia bisa kembali istirahat tanpa ada yang mengganggu.
Selang satu jam Kagami masih belum bisa tertidur. Matanya saat ini terbuka lebar memandangi langit-langit apartemennya. Apa jika tidak tidur dikasur ia tak bisa terlelap? Kalau begitu lebih baik ia pindah ke kamar. Saat Kagami baru melangkahkan kakinya tiba-tiba saja suara bel rumahnya berbunyi nyaring.
Awalnya Kagami hendak mengabaikan bel tersebut, ia beranggapan jika yang menekan bel tersebut hanyalah tetangganya yang suka mabuk dan salah memencet bel rumah. Namun saat pencetan bel berubah menjadi gedoran kencang, dengan tergesa-gesa Kagami segera berjalan menghampiri pintu.
"Siapa?" tanya Kagami sedikit emosi. Siapa yang tidak emosi jika pintu rumahnya digedor seperti sedang ada kebakaran? Dia bisa di marahi para tetangga tau.
Tak ada jawaban dari balik pintu. Lima menit sudah berlalu namun orang yang ada didepan pintu masih juga tak bersuara. Saat Kagami memutuskan untuk mengabaikan orang yang berada dibalik pintu sepenuhnya, tiba-tiba saja telinganya mendengar sebuah suara.
"Aku."
Langkah Kagami terhenti. Ia mengenal suara itu, suara baritone milik orang yang sangat suka membuat emosinya memuncak tiap kali mereka bertemu, suara milik pria yang memiliki ego setinggi langit dan tak tau malu itu, suara… milik pria yang selalu membuat perasaan Kagami campur aduk tiap kali bertemu…
Akhirnya Kagami berjalan mendekati pintu dan membukanya. Seperti yang sudah ia duga, manik rubynya melihat wajah Aomine yang penuh emosi.
"Kenapa kau tak menjawab panggilanku?"
Kagami diam saat mendengar pertanyaan itu, ia hanya menunduk, merasa jika kedua kakinya yang memakai sandal rumah lebih menarik ketimbang wajah Aomine.
"Apa kau baik-baik saja?"
Oh, hati Kagami terasa dicubit saat mendengar pertanyaan itu. Kenapa pria dihadapannya selalu peka tiap kali ada sesuatu yang mengganggu hatinya?
"Kenapa kau kemari?" hanya itu yang terlontar dari mulut Kagami.
Aomine menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia juga bingung harus menjelaskannya seperti apa.
"Kalau kau tak memiliki urusan yang penting lebih baik kau pulang saja."
Saat Kagami hendak menutup pintu tiba-tiba saja Aomine menahannya. Pria itu terlihat sangat canggung dan ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Selamat malam." Kagami kembali mencoba menutup pintunya namun Aomine kembali menahannya.
"Karna aku ingin mertemu denganmu?" jawab jujur pria berkulit tan itu.
Kagami menggigit bibirnya, ia mengangkat wajahnya dan menatap Aomine. Kenapa tiap kali hatinya terasa buruk pria ini selalu muncul diahadapannya? Apa ia tak memiliki kerjaan selain mengganggu dirinya?
"Aku ingin melihat kau marah." lanjut Aomine.
Seketika mood Kagami jatuh drastic. "Lebih baik kau pulang, aku sedang tak ingin bertengkar." usir Kagami namun, bukan namanya Aomine jika menuruti perkataan Kagami.
Aomine membuka pintu rumah Kagami dan memaksakan diri untuk masuk, mengabaikan Kagami yang sudah menatapnya dengan tajam dan penuh emosi. Akhirnya, pria berambut merah gelap itu hanya bisa menghela napas lelah lalu menutup pintu rumahnya.
"Oh, kenapa dirumahmu tidak ada orang?" tanya Aomine sambil melihat-lihat ke seisi rumah.
"Ayahku itu orang sibuk, tidak seperti kau."
"Kau menganggap aku pengangguran?" tanya Aomine tak terima.
"Kalau kau orang sibuk kau takkan berada disini." jawab Kagami pedas.
Aomine mendekati Kagami dan menarik bahunya kasar. Ya, dia memang sengaja mengajak Kagami berkelahi. Namun reaksi yang Kagami berikan malah membuat emosi Aomine menghilang, tergantikan dengan perasaan khawatir. Pria berambut merah itu hanya diam dan menatap kosong manik navy blue Aomine. Kagami segera menepis kasar tangan Aomine yang berada dibahunya dan kembali berjalan menuju kamarnya.
"Kalau kau sudah bosan kau boleh pulang." ucap Kagami sebelum menghilang dibalik pintu kamarnya.
Aomine memandang kamar yang tertutup itu. Dengan kesal ia melepas lalu melempar jaketnya keatas lantai.
"Shit!"
Kagami menghela napas saat ia sudah berada didalam kamarnya. Dengan malas ia berjalan kearah kasur dan mulai membaringkan tubuhnya diatas sana. Rasa nyaman mulai melingkupi tubuhnya, kantuk mulai datang menghampiri dan membuat Kagami sedikit terlelap, hingga tiba-tiba saja saura pintu kamarnya yang dibanting terbuka membuat Kagami kembali membuka matanya untuk melihat siapa pelakunya.
"Ahomine! Kau tau aku berusaha untuk tidur bukan?!" bentak Kagami sambil mengusap matanya yang terasa gatal
"Kau… berani-beraninya kau tertidur saat aku disini." Aomine berjalan menghampiri Kagami.
Pria berkulit tan itu berhenti tepat disamping kasur Kagami, ia menatap Kagami sesaat sebelum ikut naik keatas kasur dan mencari posisi nyaman untuk tidur. Emosi Kagami saat melihat perilaku Aomine yang semena-mena.
"Hei, kalau kau mau tidur lebih baik kau pulang!" bentak Kagami namun dihiraukan oleh Aomine.
Aomine sudah memejamkan matanya dan mulai tertidur sedangkan Kagami, ia masih menatap Aomine penuh emosi.
"Terserah." ucap Kagami kesal.
Kagami hendak beranjak dari atas kasur dan pindah kekamar ayahnya yang kosong namun, Aomine malah menarik tangannya dan membuatnya kembali terbaring diatas kasur.
"Lepas!" titah Kagami, dan seperti biasa, Aomine mengabaikannya.
Kagami berusaha melepas cengkraman tangan Aomine namun ia gagal. Semakin kencang ia meronta semakin kencang juga genggaman tangan Aomine, hingga akhirnya Aomine menarik Kagami mendekat dan memeluknya erat.
"Kau bilang kau mau tidur, sekarang lebih baik kau diam dan tidur." ucap Aomine sebelum kembali memejamkan matanya.
Kagami masih terus meronta hingga tenaganya habis dan ia hanya bisa diam didalam pelukan Aomine. Ia benci ini, disaat perasaannya sedang buruk pria ini selalu melakukan hal yang membuatnya merasa nyaman. Jika terus seperti ini Kagami akan merasa dirinya lemah. Ia tak bisa seperti itu, ayahnya mendidiknya untuk menjadi anak yang mandiri, bukan menjadi anak yang lemah hanya karna sebuah pelukan seperti ini.
"Kenapa kau menangis?" tanya Aomine sambil memandang wajah Kagami.
Menangis? Siapa yang menangis? Kenapa ia berkata— oh… Kagami merasakan air mengalir dari kelopak matanya saat tangannya menyentuh pipinya.
Aomine mendekatkan wajah Kagami pada dadanya dan memeluknya erat. "Menangislah."
Seperti sebuah mantra, kalimat yang diucapkan Aomine benar-benar ampuh. Air mata Kagami mengalir semakin deras, begitu pula dengan isak tangisnya yang semakin kencang.
Tanpa banyak bicara Aomine terus mengelus puggung Kagami. Ia tak tau apa yang terjadi dengan Kagami namun, menurutnya jika kau kesal lebih baik dikeluarkan, begitupula jika kau merasa sedih. Biarlah bajunya basah, setidaknya orang yang ia cintai bisa merasa nyaman saat berada didalam pelukannya. Pengorbanan kecil tidak ada artinya jika bisa melihat senyuman kembali muncul diwajahnya.
"Kenapa kau seperti ini?" ucap Kagami disela-sela isak tangisnya. "Aku tak terbiasa dengan Aomine yang baik dan lembut seperti ini, aku lebih terbiasa dengan Aomine yang penuh emosi dan memiliki ego yang tinggi."
Aomine terkekeh saat mendengarnya. "Aku tak bisa melakukannya sekarang."
"Kenapa?" tanya Kagami sambil menatap bingung Aomine. Tangisnya perlahan berhenti, digantikan dengan rasa penasaran.
Aomine tersenyum, "Aku tak bisa memancing emosi orang yang aku sayangi jika ia sedang sedih."
Jawaban itu sukses membuat Kagami melongo. "Apa kau sedang sakit?" tanya Kagami sambil mengecek suhu tubuh Aomine.
Aomine menggertakan giginya, menahan rasa malu. "Sial, kau malah memutuskan flownya!"
Kagami terkekeh saat melihat wajah malu Aomine. "Terimakasih." ucap Kagami sambil balas memeluk tubuh Aomine lalu terlelap.
Aomine mengangkat kedua alisnya saat mendengar kalimat yang Kagami ucapkan. Entah mengapa hatinya terasa sesak dan berdebar tak karuan. Pria dihadapannya itu selalu sukses membuat sifat yang selalu Aomine sembunyikan keluar. Jika saja saat ini Kagami tidak memejamkan matanya mungkin saja saat ini ia sudah menyatakan perasaannya. Yah, mungkin hal itu untuk lain waktu saja.
"Selamat malam." ucapnya lalu mengecup puncak kepala Kagami sebelum ikut memejamkan matanya dan tertidur.
.
.
.
Next~
