"Tenanglah, mom. Semua akan baik-baik saja... Ya, ya. Aku mengerti..."
Seorang pemuda Inggris berbicara di telefonnya, logat British-nya terdengar sangat kental. Ia menelfon sang ibunda tercinta, sembari merapikan tasnya, mengisi ransel hitam itu dengan beberapa barang-barang yang ia rasa cukup penting untuk dibawa.
Setelah menutup resleting tasnya, ia pun menutup ponselnya setelah menyudahi percakapannya dengan 'sampai jumpa'. Memastikan semua telah terbawa, ia pun mengangkat dan menggendong ranselnya. Sudah saatnya.
"Semua siap, Sea? Cepatlah, aku masih banyak urusan lain habis ini," ujar seorang gadis manis seusianya. Sang gadis berambut kecoklatan yang dikuncir satu dengan kunciran beronamen bunga khas negaranya itu terlihat sedikit kesal, kedua tangan ia letakkan di pinggang rampingnya.
Sealand tersenyum pada gadis itu. "Yep. Maaf membuatmu menunggu, Wy," ujarnya pada Wy, sang gadis yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, menunggu Sealand menyelesaikan semua urusannya sebelum mereka berdua pergi.
Wy menghela nafas. "Ayolah, sudah baik aku mau meminjamkan mobilku," ujarnya, matanya mengamati tiap gerak sahabatnya yang kini berjalan mendekati sang gadis. Sambil berjalan keluar dari asrama mereka, Wy bertanya, "Ngomong-ngomong, katakan sekali lagi kemana tujuan kita?"
Sealand tersenyum.
"Ke rumah ayahku, tentu saja."
.
Daddy? ~Epilogue~
Disclaimer: Hetalia © Hidekaz-sensei. Daddy? © Shaanon.
.
Peter Jones, atau yang lebih dikenal sebagai Sealand, kini telah tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan. Dengan tubuh yang tegap, rambut pirang kecoklatan, serta iris biru laut—semuanya merupakan warisan dari sang ayah.
Ayah yang akan ia temui kali ini.
"Kau yakin ini rumahnya?"
Wy berkata, matanya memandang ke arah sebuah rumah tua bercat putih di hadapannya. Sebuah rumah yang berbahan dasar kayu, dengan halaman depan yang cukup luas. Rumah minimalis yang Sealand yakini sebagai rumah tempat ayahnya tinggal selama berada di Amerika.
"Er... Kurasa," Sealand menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ada sedikit keraguan di kalimatnya. Namun ia melanjutkan, "Yah, tidak ada salahnya bertanya."
"Baiklah, selamat bertanya, 'tuan Jones'." Ujar sang gadis dengan nada main-main di kalimatnya. Sealand hanya dapat tertawa garing dan keluar dari mobil Wy, dan melangkah menuju pagar rumah yang ia tuju. Sebelum membuka pagar besi itu, Sealand berbalik dan mengucapkan terima kasih pada sang gadis.
"Kapanpun. Aku selalu ada untuk membantumu, Sea," ujar Wy dari dalam mobil sebelum ia menaikkan kacanya, dan ia pun menginjak gas untuk pergi meninggalkan Sealand sendiri. Di depan rumah asing tadi.
Kepingan biru laut Sealand menatap mobil merah Wy yang makin lama makin menghilang dari jarak pandangnya. Mungkin ia harus membalas kebaikan sahabatnya yang satu itu, namun itu bisa menunggu. Prioritas utamanya sekarang adalah;
Bertemu dengan seorang mantan tentara Angkatan Udara Amerika bernama Alfred F. Jones. Alias, ayahnya.
Ia menarik nafas dalam-dalam, dan melangkahkan kakinya mantap mendekati pagar besi yang sedikit berkarat itu. Inilah saat yang sangat ia tunggu. Setelah bertahun-tahun berprestasi dan akhirnya ia berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika—bahkan ibunya kaget saat ia mendengar berita itu,—ia pun memulai penyelidikan tentang asal muasal sang ayah di negara Adidaya ini.
Dibantu oleh Wy yang merupakan anak dari seorang Kolonel Angkatan Udara Amerika, ia pun berhasil mendapatkan informasi bahwa sang ayah telah pensiun menjadi seorang tentara. Sebuah kecelakaan pesawat yang tragis, mereka bilang. Namun Sealand masih bersyukur sang ayah masih bernafas setelah kecelakaan tersebut.
Jemarinya menyentuh besi yang membatasi dunia luar dengan rumah kecil itu, membukanya dan melangkahkan tungkai kakinya masuk kedalam areal halaman rumah putih tersebut. Kini, ia berada tepat di depan pintu kayu rumah sang ayah. Diketuknya pintu kayu itu. Dua kali, tiga kali. Hatinya berdegup cepat di tiap ketukannya.
Klek.
Pintu terbuka.
"Siapa?"
Seseorang berambut dark blond menyambut kedatangan Sealand, dan membuat kepingan biru laut itu terbuka lebar, terkejut.
Yang membuka pintu bukanlah seorang pria berambut dark blond. Melainkan seorang wanita. Wanita yang tidak dikenalnya.
"E-er... Hai, nona," ujar Sealand terbata-bata. Ia merasa gugup berbicara pada sang wanita yang berusia kisaran tiga puluh tahunan itu. Tatapan matanya yang mengintimidasi ituloh, yang membuatnya mengeluarkan keringat dingin. Apa ia salah rumah?
Tapi—seperti yang ia katakan,—tidak ada salahnya bertanya.
"Aku... Jones. Peter Jones. Apa disini ada seseorang bernama Alfred?"
"Ada perlu apa kau, dengan Mr. Alf—tunggu, Jones? Kau siapanya Mr. Alfred?" Pertanyaan Sealand dibalas dengan pertanyaan lain dari sang wanita. Namun, Sealand merasa lega karena ia tidak salah alamat, dan lagi sepertinya Alfred yang mereka bicarakan adalah Alfred yang sama. Tapi, ada satu pertanyaan lagi yang muncul di benak Sealand. Siapakah wanita ini?
Sealand menjawab, "Um... Aku anaknya." Ada sedikit aura terkejut di wajah wanita itu, namun raut wajahnya kembali stabil dengan cepat, dan ia mempersilahkan Sealand masuk ke dalam rumah minimalis itu.
Dengan sedikit ragu, Sealand pun masuk. Kepingan biru lautnya memandangi sekitar. Rumah tersebut dipenuhi perabotan kayu, dengan berbagai macam pajangan yang menghiasi tiap sudut rumah. Sangat vintage, menurutnya.
Sang wanita mempersilahkan Sealand duduk di ruang tamu, dan datang dengan membawa secangkir teh di atas nampan. Setelah ia meletakkan cangkir tersebut di atas meja di tengah ruangan, ia pun menempati sofa di hadapan Sealand.
"Maafkan atas kelancanganku, Mr. Jones. Silahkan diminum tehnya," ujar wanita itu, mempersilahkan sang tamu menikmati minuman buatannya. Sealand menerima tawaran itu dengan senang hati, meneguknya dan merasakan rasa mint di kerongkongannya. Sangat nostalgic, menurutnya. Mengingat sang ibu sering membuatkannya teh mint dulu.
Sealand mengamati sang wanita dewasa di depannya. Wanita itu terlihat cantik, dengan rambut panjang sepinggang yang dihiasi dengan bandana violet. Tubuhnya dibalut dengan pakaian ungu muda dan sehelai apron putih. Ia terlihat sangat anggun. Ada sebuah rasa takut di dada Sealand. Apakah wanita ini adalah istri baru ayahnya?
Untuk membuktikan kalau pemikiran negatifnya berkemungkinan salah, Sealand pun bertanya, "Um... Kalau boleh bertanya, nona siapa, ya?"
"Namaku Natalya Arlovskaya. Saya adalah seorang perawat yang ditugaskan untuk merawat Mr. Alfred," Sealand tidak dapat menahan helaan nafasnya keluar saat mendengar fakta itu. Ia akan sangat kecewa kalau ternyata Belarus adalah 'ibu tirinya'.
"Mr. Jones, eh? Jadi kau anaknya Mr. Alfred? Tidak mengherankan sih, melihat betapa miripnya kalian berdua," ujar Belarus, sebuah senyuman terbentuk di bibirnya. Pipi Sealand sedikit merona. Tidak banyak orang yang mengatakan kalau dirinya dan ayahnya terlihat mirip, dan Sealand menyukai fakta bahwa ia terlihat serupa dengan sang ayah.
Oh ya. Sealand hampir lupa tujuan awalnya kemari. "Ms. Natalya, dimana ayahku?"
Senyuman di wajah Belarus menghilang. Ia berdiri dari posisinya, dan mulai berjalan keluar dari ruang tamu. "Ikuti aku, Mr. Jones," Sealand pun bangkit dari posisinya, dan menyusul sang wanita yang sudah berjalan di depannya.
xxxxx
"Mr. Alfred, aku masuk."
Bersamaan dengan terbukanya pintu kayu yang menjadi satu-satunya akses ke dalam sebuah ruangan tidak jauh dari ruang tamu, Sealand dapat mencium aroma kopi menyapa indra penciumannya. Ruangan itu tidak terlalu besar, di tengah ruangannya dapat terlihat sebuah kasur yang muat untuk satu orang.
Dan orang di atas kasur itu, tak lain dan tak bukan, adalah seorang Alfred F. Jones.
Sealand tidak dapat mempercayai mata kepalanya sendiri. Melihat daddy-nya yang hanya ia lihat selama dua tahun hidupnya, kini dalam tahun kesembilan belas selama hidupnya, ia akhirnya berhasil bertemu dengan sang ayah yang selama ini hanya ia lihat melalui foto-foto lama.
"Ia sedang tertidur. Kesehatannya makin hari makin memburuk, ia jarang makan dan menurut dokter jantungnya sudah sangat lemah," jelas Belarus pelan, dan ia pun membiarkan Sealand memasuki kamar sang tuan rumah. "Aku akan meninggalkan kalian berdua. Bangunkan saja Mr. Alfred kalau perlu."
Sealand mengangguk. Setelah ia melangkah masuk ke dalam kamar berukuran kecil itu, Belarus pun menutup pintunya, meninggalkan ayah dan anak itu bersama.
Sang pemuda mengamati sekelilingnya. Sebuah meja belajar, lemari baju, dan jaket bomber bertuliskan angka 50 di belakangnya tergantung di dinding kayu. Sealand mengambil kursi dan memposisikan kursi itu di samping kasur sang ayah, sebelum akhirnya menduduki kursi tersebut. Tas ranselnya ia lepas dan ia letakkan di lantai.
Kepingan biru lautnya memindai figur sang ayah, dari kepala hingga kakinya—yang tertutup selimut. Ayahnya terlihat sedikit berbeda dari foto, beberapa keriput kini nampak di wajahnya yang dulu halus, dan helaian rambutnya sudah ada yang mulai memutih. Sealand dapat melihat bekas luka yang cukup panjang tertera di tangan kanannya. Luka yang mungkin didapatnya saat kecelakaan waktu lampau.
Oh, mungkin karena luka ini ia kini berhenti menulis surat untuk keluarganya. Sealand yakin itu, melihat lukanya terlihat cukup parah.
Sealand tersenyum tipis. Wajah sang ayah terlihat begitu damai. Kedua mata tertutup, mulut sedikit terbuka. Ia bersyukur dada bidang itu masih terlihat naik turun, seirama dengan pernafasannya, walau terlihat begitu pelan dan lemah.
Tarik nafas. Buang nafas.
Bibir kecilnya pun mulai terbuka.
"Hai, Daddy," sapanya pada sang ayah, pelan. Sealand tidak mau membangunkan sang ayah. Biarlah ia beristirahat sejenak. Biarlah ia terbawa arus mimpi indahnya. Biarlah Sealand berbicara pada keheningan yang ada.
"Dad, apa kabar? Masih ingat aku?" Lanjutnya, bertanya tanpa mengharapkan balasan dari yang ditanya. Sang Jones Junior masih menatap tubuh sang ayah—yang nampak tidak terganggu sama sekali akan kalimatnya.
Ia pun melanjutkan kalimatnya. "Ini aku, Peter. Ayah ingat nama itu, kan? Nama yang ayah dan ibu berikan padaku dulu. Aku bangga loh, memiliki nama itu," ujarnya, sebuah senyuman lagi-lagi terbentuk di bibir tipisnya.
"Dad, Peter sekarang sudah besar. Sudah 19 tahun, lebih tepatnya. Nggak kerasa, yah, kita tidak bertemu selama tujuh belas tahun. Dulu, pas ayah pergi, aku masih polos, tidak mengetahui apa-apa dan hanya dapat memandang ayah pergi, selalu berharap ayah pulang di malam hari seperti biasa. Tapi sekarang, aku sudah dewasa. Aku sudah mengerti soal keadaan ayah. Aku juga sudah pintar, loh. Bahkan bisa dapat beasiswa untuk belajar di sini, di tanah kelahiran yang kau cintai," ujarnya panjang lebar pada ruang hampa. Ia menambahkan, "apakah ayah bangga padaku?"
Dan pertanyaannya dibalas dengan keheningan. Hanya detik jam yang menyapanya.
Tarik nafas. Buang nafas.
"Ayah... Apa ayah ingat ibu?" Sealand tidak menyadari jemari panjang sang ayah berkedut sekilas saat ia mengucapkan kalimat itu.
"Dad, mommy masih setia menunggu ayah, loh. Beberapa kali aku mendengarnya menangis di kamarnya. Sendirian, di tengah malam, sambil memeluk figura foto ayah. Aku merasa prihatin padanya—" ada jeda di akhir kalimatnya. Tangan Sealand mengepal, sebelum akhirnya ia melanjutkan. "Ayah masih menyayangi ibu, 'kan?"
Lagi-lagi pertanyaan tanpa jawaban.
Kepalan tangannya makin keras, kini ia mencengkram celananya. "Aku... sangat berharap dapat membawa ibu ke sini. Tapi apa daya, kesehatan ibu makin memburuk, begitu juga keuangan kami sedikit demi sedikit mulai memburuk sejak ayah pergi. Aku sangat bersyukur dapat kemari, yah. Aku sangat berharap ayah bisa pulang denganku, kembali ke Inggris."
—namun nyatanya ia tidak akan bisa. Jantung America terlalu lemah untuk dapat bepergian jarak jauh. Apalagi dengan trauma yang dialaminya saat ia menjadi tentara, akan sangat beresiko bagi America untuk kembali pulang ke pelukan sang istri.
Yang lebih muda masih menatap sang ayah, berharap ayahnya membuka kedua matanya, dan kembali menjadi sehat seperti dahulu. Seorang Hero yang selalu Sealand idolakan. Bukannya seorang mantan tentara yang teronggok lemah di atas kasur.
"Daddy... Apa kau bisa mendengarku?" Kepalan tangan yang dari tadi menggenggam erat celananya, perlahan membuka dan menggapai tangan sang ayah yang terluka. Dirasakannya suhu tubuh sang negara Adidaya. Dingin, namun Sealand masih dapat merasakan secercah kehangatan di telapak tangan besar itu.
"Daddy..." Sekali lagi, Sealand memanggil sang ayah. Menggenggam lebih erat tangan yang lebih besar, berusaha mentransfer kehangatan tubuhnya. Matanya terasa panas saat ia merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit sang ayah. Sentuhan yang sangat ia idamkan.
Tetapi, bukan ini yang ia inginkan.
Ia memang ingin bertemu dengan ayahnya. Ia sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Tapi ia tidak mau bertemu dengan cara yang seperti ini. Ia ingin bertemu sang ayah di tempat yang lebih layak, bukan di atas kasur putih ini. Ia memang ingin merasakan sentuhan dari sang ayah, namun ia ingin sang ayah yang menyentuhnya, bukannya ia yang menggenggam erat tangan sang ayah seperti ini.
Ini terlalu menyedihkan.
Apa yang harus ia katakan pada ibunya nanti?
Ibunya yang selalu menunggu kedatangan kedua anggota keluarga tercintanya?
Mengapa ia tidak bisa membahagiakan ibunya kali ini?
Pertanyaan-pertanyaan muncul bagai hujan, membanjiri benaknya.
Tepat di saat Sealand dilanda kecemasan yang amat sangat itu, tangan yang lebih kecil itu dapat merasakan tangan yang lebih besar menggenggamnya balik.
"Da-daddy!" Sealand tidak dapat menahan teriakannya untuk keluar saat ia merasakan jemari panjang itu mengatup sendiri. Air mata mulai keluar dari persembunyiannya. Ia harap-harap cemas, saat ia melihat kelopak mata sang ayah perlahan-lahan mulai terbuka.
"P... Peter..."
Lemah. Sangat lemah. Suara yang di keluarkan sang ayah begitu lirih dan mengirimkan beribu jarum ke hati sang anak. Bukanlah suara yang penuh dengan kebahagiaan seperti yang selalu dibayangkan Sealand selama ini, melainkan suara penuh kesakitan dan kesendirian yang menyeruak dari bibir sang negara Adidaya.
Mata Sealand makin memanas. "Ayah! Jangan memaksakan, yah. Diamlah, akan kupanggilkan nona Nata—"
"—Tidak perlu. Biarlah... seperti ini. Untuk sementara."
Sang Jones junior menuruti kemauan sang ayah. Ibu jari America membelai pelan punggung tangan yang lebih kecil, meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Tapi Sealand tidak meyakini itu. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Peter... Maafkan ayah, yah."
Sealand dapat melihat mata sang ayah, yang bagai replika sempurna dari matanya, hanya saja lebih redup. Mata yang telah kehilangan gairah untuk hidup, mata yang telah sepenuhnya menyerah dalam menjalani hidup. America melanjutkan kalimatnya.
"Maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir. Maafkan aku karena tidak pernah kembali pulang. Maafkan aku karena telah membuatmu kemari, Peter," Rentetan permintaan maaf keluar dari mulut itu, begitu pelan dan penuh penyesalan. "Maafkan aku, England. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menderita. Aku—"
America tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia terbatuk-batuk dan membutuhkan Sealand untuk membuatnya kembali tenang.
"Sudah cukup, dad. Sudah cukup. Kau tidak salah..." ujar Sealand, air mata mulai menuruni pipinya. Kalimatnya bergetar, begitu juga tangan dan tubuhnya.
"Sea..."
"Ya, daddy?"
"Aku... Bangga padamu. Aku menyayangimu. Aku rindu padamu. Jangan khawatir, Sea. Aku akan selalu mengingatmu, seperti kau mengingatku," Tangannya terlepas dari genggaman Sealand, dan kini tangan itu mengusap air mata anaknya pelan, menghilangkan jejak air di pipinya. "Jangan menangis. Laki-laki tidak boleh menangis."
Sealand mengangguk. Berusaha mengusap matanya yang sembab dengan punggung tangannya.
"Itu baru anakku," walau kalimatnya terdengar begitu lirih, namun wajahnya terlihat begitu kontras. America tersenyum. Senyuman yang Sealand selalu lihat dalam foto-foto lama yang disimpan ibunya. Senyuman yang seharusnya memberikan kebahagiaan, namun kini terlihat begitu menyedihkan, melihat kondisinya yang makin memburuk di tiap detiknya.
"Hei, Sea. Aku memiliki satu permintaan untukmu."
"Aku akan menyanggupinya sebisa mungkin."
America tersenyum, "Sayangilah ibumu, Sea. Jangan buat ia menangis, seperti apa yang telah kuperbuat. Jagalah, sayangilah ia sampai akhir hayatnya." Sealand kaget mendengar permintaan sang ayah. Ia mengangguk, menyetujui permintaan sang ayah.
"—Satu lagi. Sampaikanlah padanya; aku selalu mencintaimu, Iggy."
Sealand membelalakkan matanya.
"Tidak, dad! Aku ingin kau yang menyampaikan itu sendiri!" bantah Sealand, dan dibalas dengan permintaan maaf dari sang ayah.
"Maaf. Sepertinya sudah saatnya, Sea."
America tersenyum sekali lagi, dan ia mengatupkan kedua kelopak matanya, menyembunyikan kepingan biru laut itu dari jarak pandang Sealand. Untuk yang terakhir kalinya, mulut itu terbuka kembali. "Aaah... betapa bahagianya aku dapat melihatmu di saat terakhir hidupku. Coba saja Iggy juga ada di sini..."
"J-jangan berkata seperti itu, dad!" Sealand hampir berteriak. Ia tidak mau ayahnya menyerah seperti ini. Tapi apa daya, takdir tidak dapat diubah, bahkan oleh seorang Alfred F. Jones sekalipun.
Tidak ada jawaban dari America. Ia hanya terdiam, wajahnya begitu damai dalam tidurnya, dengan senyuman yang menghias bibir itu.
Kali ini Sealand benar-benar berteriak. "Daddy! Bangun! Please, dad. Masih banyak yang ingin kulakukan bersama denganmu. Masih banyak yang belum kuceritakan padamu. Aku tidak mau pertemuan kita berlangsung sesingkat ini, yah. Kumohon, bukalah kembali matamu."
Tidak ada respon.
"Bagaimana dengan ibu, dad? Kau bilang kau mencintainya, tapi mengapa kau meninggalkannya dan kembali membuatnya menangis? Ayolah, dad..."
"Daddy? Hei, dad, bangunlah. Kumohon, yah..."
Tidak ada gerakan dari sang ayah walau Sealand berkali-kali menggoyangkan badannya. Berkali-kali. Dan merasakan suhu tubuh sang ayah menurun drastis di sentuhannya. Air mata telah bersarang di ujung matanya, menunggu izin untuk keluar.
Namun, hembusan nafas terakhir telah ia keluarkan. Dan, dengan usaha apapun, Sealand tidak akan bisa mengambilnya kembali.
"Daddy..."
Lagi-lagi ayahnya pergi—
—pergi dan tidak akan kembali.
Dan Sealand tidak akan bisa lagi mengejarnya.
.
.
.
Daddy... Bolehkah aku menangis sekarang?
.
.
.
Seorang pemuda pirang duduk di halaman rumahnya. Sesekali ia menghirup teh mint yang baru ia seduh.
Ia sedang menunggu.
.
Menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.
.
Ia tersenyum pada matahari,
"Sea, cepatlah bawa ayahmu pulang."
—gumamnya pelan, tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
End
A/N: Hai. Walau saya bilang ini one-shot, dorongan dari beberapa review yang minta ini dilanjutkan akhirnya membuat saya kembali nulis lanjutannya—dan keterusan sampe sepanjang ini, character death pula. I'm gomen.
Pesan moral (ea): Sayangilah kedua orangtuamu selagi mereka masih hidup. Beneran, kalian bakal nyesel loh, kalau sudah terlambat.
Review akan sangat dihargai.
