Sudah 12 tahun berlalu sejak kejadian itu.

Kini, West. Sang adik yang sebenarnya bernama Ludwig sudah berumur 17 tahun.

Sedangkan sang bruder albino, Gilbert. Dengan iris mata merah itu sudah berumur 21 tahun.

Ludwig remaja memandang tak percaya bruder-nya yang sedang tertidur di sofa ruang tamu masih dengan menggunakan seragam lengkap.

Ludwig menggeleng kecil, ia mengerti benar bahwa brudernya itu sedang lelah.

Sangat lelah bila harus lebih spesifik.

Ia melepaskan jaket hitam besarnya dari tubuhnya yang besar dan menyelimuti brudernya itu

Hingga tiba tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya.

"Veeeeee~ Luddie~ Luddie~! Apakah kau di rumah, veeee~?" Terdengar teriakan dari luar pintunya.

Ludwig mendesah pelan saat mendengar teriakan itu, tapi tak bisa disangkal, ada sedikit senyuman terukir di wajahnya.

"Iya iya, sebentar!" Balasnya cepat.

Ia segera beranjak untuk membukakan pintu rumahnya.

"Ve! Luddie! Luddie! Lihat~! Aku membawakan pasta buatanku yang enak ini loh~!" Seorang pemuda berambut pirang dengan satu helai rambutnya yang mencuat aneh tersenyum pada Ludwig sambil menyodorkan sepiring pasta tepat di depan hidungnya.

Ludwig hanya mengerjap cepat, sebelum akhirnya mendapatkan lagi kesadarannya.

"O- Oh Feli.. Tolong singkirkan piring itu dari wajahku" Balas Ludwig pelan.

Feli, Feliciano Vargas. Pemuda berambut pirang dengan tampang imut imut itu hanya terdiam bingung.

"Ve? Luddie tidak suka pasta buatanku ve?" Tanyanya pelan sambil mengeluarkan puppy eyes miliknya.

Ludwig, yang kalah telak dengan serangan puppy eyes milik Feli segera mengalihkan pandangannya.

"Eh- Bukan begitu. Ah, sudalah.. Kau mau masuk tidak Feli?" Tanyanya dan kali ini sudah berani memandang Feli

Tak sadar bahwa ada sedikit warna merah di wajah stoicnya.

"Veeeeee~~! Mau veee~!" Jawab Feli bersemangat. Dan tanpa aba aba, ia segera memasukki rumah kecil milik Ludwig.

Ludwig menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengikut Feli memasukki rumahnya.

"Ve, Luddie.. Gilbert terlihat lelah sekali.." Feli memperhatikan Gilbert yang masih tertidur di sofa.

Ludwig menggangguk pelan, ia lalu mengambil kursi dan duduk di sebelah Feli Ikut memperhatikan Gilbert yang tertidur.

"Iya, dia memang lelah. Kau tahu- akhir akhir ini pergerakan partai militer yang diikutinya sedang sibuk melakukan berbagai kampanye.. Untuk menghancurkan paham Marxisme atau entah apalah namanya." Jelas Ludwig.

Feli tak menjawab, ia masih memandangi Gilbert dengan polosnya.

"Ve~ Gilbert imut sekali kalau tertidur ve~ Sama seperti Luddie.."

Ludwig langsung menepuk dahinya pelan, seharusnya ia sadar bahwa Feli tidak akan mengerti apa yang baru saja dikatakannya.

Hening sejenak, Ludwig berusaha menyerap balasan Feli dan rona merah langsung menghiasi pipi Ludwig.

"A- Apa katamu? Kau tidak pernah melihatku tidur Feli." Sergahnya cepat.

Feli tertawa kecil, ia lalu mendekatkan dirinya ke arah Ludwig. Em-tidak, lebih tepatnya mendekatkan wajahnya ke wajah Ludwig.

"Ve~ aku melihatmu tidur Luddie.. Dan Luddie benar benar imut kalau sedang tidur. Aku suka ve~." Balasnya pelan sambil mencium cepat pipi Ludwig.

Dan yap- hasilnya sudah bisa ditebak.

Wajah stoic nya yang pucat itu kini berganti warna merah.

"Fe- Feli!" Desahnya pelan.

Sedangkan Feli hanya terkikik kecil melihat tem- ahcoret- kekasihnya yang kaku itu memerah wajahnya.

"Oh, ayolah West, Feli.. Carilah kamar. Jangan bermesraan disini. Dasar tidak awesome."

Sebuah suara yang sangat familiar tiba tiba ikut meramaikan percakapan mereka.

Ludwig segera menoleh ke asal suara itu, dan iris biru kelamnya bertemu dengan iris merah milik bruder-nya.

"Ve~! Hai Gilbert~! Ve~!." Sapa Feli bersemangat.

Gilbert hanya mengangguk pelan sambil memegang kepalanya.

"Hai Feli." Balas Gilbert datar.

"Kau tidak apa apa bruder?" Tanya Ludwig khawatir sambil memperhatikan Gilbert.

"Yayaya, tak apa. Hanya sedikit pusing.. Pusing yang tidak awesome. Apa apaan, masa diriku yang awesomeini terkena pusing." Balas Gilbert panjang masih sambil memegangi kepalanya.

"Ve~! Gilbert butuh obat ve?" Tanya Feli khawatir. Sama khawatirnya seperti Ludwig.

Karena, yah- bagaimanapun juga. Gilbert adalah kakak tema- coretlagi- kakak kekasihnya.

"Tidak Feli, aku yang awesome ini tidak butuh obat-"

"Oh ayolah bruder. Kau tidak akan awesome kalau kau sampai sakit." Potong Ludwig cepat.

Hening sebentar.

Akhirnya Gilbert mengangguk pelan.

"Baiklah, tolong Feli.. Obatnya ada di sebelah rak bir di basement."

Feli mengangguk pelan dan meninggalkan Ludwig dan Gilbert sendiri.

Ludwig masih memandang bruder nya itu dengan khawatir.

"Ada apa bruder? Tidak biasanya kau seperti ini." Tanyanya lagi.

Gilbert tak menjawab, ia kembali membaringkan dirinya di sofa dan menyadari ada jaket besar Ludwig di sebelahnya.

"Jaketmu hangat West, terimakasih."

Ludwig hanya ber 'mm' kecil sambil mengangguk.

"Kau belum menjawab pertanyaanku bruder, ada apa? Kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan membantumu sebisaku." Tawar Ludwig lagi.

Gilbert menghela nafas panjang, ia lalu memandang ke langit langit yang sudah mulai kusam.

Hening sebentar- kini ia kembali duduk dan memandang Ludwig tepat di matanya.

"Yah, bolehkah aku memintamu melakukan sesuatu West? Cukup sekali ini saja, dan percaya padaku yang awesome ini. Ini akan sangatawesome."

Ludwig memandang Gilbert bingung.

"Apa itu bruder?." Tanyanya.

Gilbert menghela nafas panjang, mengangkat kepalanya sebentar dan lalu kembali memandang Ludwig

"Bergabunglah dengan partaiku yang awesome ini West, Nazi. Kau akan menjadi sama awesome-nya sepertiku nanti!".


iya, saya tahu ini payah ;_;

gomen minna..

tapi tolong RnR?