"Oh... Begitu... Satu pertanyaan lagi, kenapa Ren menunjukkan sifat aslinya itu di depan mata ku? Dan lagipula Ren yang selama ini menjadi bahan pembicaraan tiap fans-nya, Ren tidak pernah kasar" Kai melontarkan pertanyaan lagi, dan membuat Leon menghela nafas panjang. Sepertinya Leon mulai capek menjelaskan hal yang terlalu rumit untuk dijelaskan.
"Yang merubah Ren itu adalah semacam virus yang menyerang otak secara langsung, dan membuat seseorang kehilangan akal sehatnya. Ia akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan hal yang diinginkannya. Bahkan orang kalem sekalipun dapat berubah menjadi orang yang ambisius. Virus itu diciptakan oleh bos, dan bos telah menanamkan bibit virus itu pada setiap otak manusia, tentunya termasuk kau. Bos tidak pernah memaksa orang untuk menggunakannya. Itu hanya tergantung dengan orangnya, apabila keambisiusan akan keinginan yang ingin diwujudkannya itu semakin meluap-luap, maka virus itu akan bekerja. Nama virus itu... Vyxanestalxes" Leon menjelaskan sebagian mengenai virus yang dinamakan Vyxanestalxes itu.
"Vyxanes...talxes?"
.
.
.
Todokanai Kimochi (perasaan yang tak tersampaikan)
.
Chapter 2
.
Made by RenReykyuura
.
Disclaimer : Ren and Kai belong to each other
.
Genre : Romance/Friendship, Supernatural
.
Pair : RenKai
.
Rate : T (Kyuu selalu buat yang T desu~)
.
WARNING : OOC, OC, Misstypo, pace cerita yang terlalu lambat atau mungkin terlalu cepat, Bloody scenes, ini non-canon Cuma gedung foo fighter numpang lewat, ngenes, alur maju mundur, dll.
.
DON'T LIKE? LEAVE THIS PAGE!
.
Enjoy~
Leon mengangguk mengiyakan perkataan Kai tadi sambil menutup matanya.
"Tapi… Kenapa Ren harus memiliki kekuatan yang semacam itu?" rasa penasaran terus menggulung Kai akan kekuatan aneh yang namanya sulit dieja itu. Matanya masih menyiratkan bahwa Kai masih sulit mempercayai penjelasan Leon walaupun padahal ia yakin yang dikatakan si Blonde itu benar. Semuanya terlalu diluar pikiran manusia, tapi efeknya masuk akal.
"Aku tidak terlalu tahu secara mendetail. Tapi, bos mengatakan bahwa Vyxanestalxes pada tubuh Ren mengganas karena dendam Ren yang penuh kebencian. Dendamnya sendirilah yang membawa Ren kepada nasibnya yang seperti sekarang ini" Leon membuka matanya, lalu menceritakan semua hal yang diketahuinya masalah Vyxanestalxes Ren.
::Flashback On::
"Ren, Ibu harus pergi dinas selama dua minggu, dan Ibu perginya jauh, ke Sapporo di Utara Jepang. Kau tinggal dengan Ayahmu berdua saja, ya? Tidak apa, kan?" sesosok keibuan pamit kepada Ren kecil dengan nada yang tidak rela meninggalkan anak sematawayangnya yang masih berumuh delapan tahun ini berdua hanya dengan Suaminya yang sebenarnya penyayang, tapi ia terlalu sibuk bekerja pada proyek perusahaannya. Terlebih ia sering pulang larut malam dikarenakan bisnis-bisnisnya. Bahkan terkadang ia pergi ke perusahaannya pada hari libur dimana itu merupakan kesempatan emas buat Ren yang kurang mendapat perhatian dari Ayahnya, hanya karena untuk sebuah meeting dengan klien-kliennya yang 'sangat penting' bagi seorang direktur perusahaan sukses.
"Ya, tidak apa, Bu. Hati-hati,ya" Ren mengucapkan salam perpisahan kepada Ibunya di sebuah bandara dengan gaya yang sok dikuat-kuatkan padahal sebenarnya ia tahu ia akan merasa sangat, sangat, dan sangat kesepian apabila Ibunya meninggalkannya. Itu berarti ia akan sendirian. Tinggal bersama Ayahnya itu sama saja dengan tinggal sendirian bagi Ren.
"Ya, jaga dirimu baik-baik, ya, Nak" wanita bersurai hitam itu melambaikan tangan dan masuk ke tempat pemeriksaan barang metal.
Ren pun berjalan keluar dari area bandara sambil menatap kosong ke depan. Kenapa hanya dirinya yang mengantarkan Ibunya ke Bandara? Mengapa Ayahnya tidak ikut saja? Toh perjalanan dari rumah ke Bandara Tokyo hanya memakan waktu limabelas menit.
Ren berjalan sekitar selama dua menit dan tiba di luar area bandara. 'Kau sudah biasa akan hal ini, Ren.' Ucapnya kepada dirinya sendiri. 'Kau bukan anak taman kanak kanak yang cengeng. Kau kuat, Ren, dan kau harus kuat'. Ren menaiki sebuah bus yang arah tujuannya melalui halte yang tidak jauh dari rumah Ren.
Saat di dalam bus, seorang anak lelaki yang lebih pendek dari Ren dan sepertinya setahun atau dua tahun lebih muda. Anak itu berambut biru hampir sebahu dengan antenna di kepalanya, menatap Ren yang berdiri di sebelah kanannya, tapi dihalangi dua bapak-bapak yang berdiri di antara mereka.
DEG!
'Apa itu tadi?' batin Ren bertanya-tanya. Ia merasa seperti ada orang yang membututinya atau menatapnya. Ia menoleh ke kiri, ia melihat seorang anak berambut biru yang sedang menatap mata Ren. Ren tersentak saat kepalanya pusing setelah melihat mata anak tadi. 'Apa ini…'
Anak bermata biru itu tersenyum dengan salah satu ujung bibirnya terangkat, menyiratkan "aku berhasil". Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, semakin tersenyum puas seperti sudah memenangkan sesuatu. Apa maksudnya? Tak satupun yang tahu.
Rasa sakit di kepala Ren tiba-tiba sirna, dan pandangannya yang buyar mulai fokus. 'tadi itu apa ya?' gumam Ren sambil merundukkan kepala dengan tangan kanannya memegang dagunya sendiri seperti berfikir keras, sementara tangannya yang satu lagi berpegangan pada pegangan tangan bagi penumpang yang tidak kebagian kursi. 'Biar saja lah, mungkin hanya perasaanku saja'.
Setelah sekitar limabelas menit, bus yang ia tumpangi menepi di sebuah halte untuk menurunkan penumpang yang akan turun di sana, Ren salah satunya. Tapi ada sesuatu yang janggal. Anak yang menatap Ren tadi sudah tidak ada. Padahal ia tidak turun di halte sebelumnya dan halte ini. Kemana dia?
Ren turun dari bus dan berjalan ke arah timur sejauh sepuluh meter lalu memasuki rumahnya yang berada di sebelah kanan jalan. Ia mendorong pagar dan membuka pintu rumah dengan kuncinya. Seperti biasa, tidak ada orang di rumah. Ren berjalan menuju kamarnya, ternyata ada sesuatu yang tertempel di sana. Kertas? Ren membaca kalimat byang tertulis di kertas itu.
"Ren, Ayah ada tugas mendadak ke luar kota. Aku akan kembali enambelas hari lagi. Jaga dirimu baik-baik. Salam, Ayah"
Begitulah kira-kira isi pesan tersebut. Ren hanya bias menghela nafas panjang. Kini ia benar-benar sendirian. 'Oh Tuhan… Kenapa aku selalu begini?' gumam Ren meratapi nasibnya. Tapi Ren bukanlah anak manja yang akan berlama-lama berkutat dalam satu masalah. Karena walau dipikirkan pun takkan ada gunanya.
Ren semakin bosan saja. Tidak ada game baru yang akan dimainkan, tidak ada film baru untuk ditonton. 'Huh… Lebih baik aku tidur', gumam Ren. Ia tidur bergelung ke samping dan menyelimuti badannya dengan selimut tebal.
.
.
.
Ren membuka matanya menyambut sinar matahari yang menerpanya. Sudah lima belas hari Ren kecil tinggal sendirian. Ren melirik hanphone-nya, kosong, tidak ada telfon, tidak ada e-mail. Aneh, padahal sudah lewat dua minggu, tapi kenapa Ibu belum pulang?
TOK TOK TOK
Ren kecil tersentak mendengar ketukan itu. 'Ibu! Ibu pulang! Ibu sudah pulang!' batin Ren senang bukan main karena mengira itu Ibunya, padahal ia tidak tahu siapa yang mengetuk pintu. Ren Kecil membukakan pintu.
"Hai Ren, sudah lama tidak bertemu ya?" sapa orang itu sambil merunduk kea rah Ren. Senyuman Ren memudar. Orang itu bukan Ibunya, itu tante nya! "Ren? Apa kau lupa denganku?" orang yang merupakan 'tante' dari Ren itu menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Ren, mengetes apakah keponakananya itu melamun.
"E-Eh, mana mungkin aku lupa, tante. Masuklah" Ren tergagap dan membukakan pintu lebih lebar lagi untuk akses jalan Tantenya itu. Ia mempersilahkan Tante untuk duduk dan segera membuatkan minuman.
"Ren, tidak usah buatkan minuman, kerongkongan Tante sedang sakit, jadi Cuma bisa minum air putih" ucap Tante saat Ren berjalan ke dapur. Ren mengangguk mengerti dan memberikan Tante segelas air putih.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Dan kemana ibu dan ayahmu?" Tanya Tante sambil menyalakan televisi setelah meneguk air putih. Tante ini tidak tahu bahwa Ayah dan Ibunya pergi ke luar kota karena ada urusan dinas.
"Mereka sedang pergi dinas, ayah pulang seminggu lagi. Ibu sih seharusnya kemasrin sudah pulang, tapi Ibu belum pulang dan tidak ada kabar darinya" jawab Ren sambil membukakan toples berisi kue dan menyodorkannya ke Tantenya itu.
"Lho? Jadi kau sendirian? Selama dua minggu ini? Tega sekali Ayahmu. Kenapa tidak pergi ke rumah tante saja?" Tante menunjukkan mimik wajah cemas karena keponakan kesayangannya ini terlalu 'mandiri' dan tidak pernah menceritakan kesedihannya kepada orang lain, ia selalu menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Aku sudah terbiasa, Tante. Jadi, ya, biasa-biasa saja" Mendengar jawaban seperti itu, Tante hanya diam saja. Tante merubah channel televisi LCD itu dan menonton Breaking News.
"Lalu, bagaimana dengan—" kata-kata Tante terputus saat seorang wartawan Breaking News itu melaporkan kejadian yang direkamnya.
"Ditemukan mayat seorang wanita di tepi sungai kota Sapporo dengan keadaan mengenaskan. Wanita ini ditemukan oleh warga setempat dalam keadaan tangan dan kaki terpisah dari tubuhnya, Yang lebih mengenaskannnya lagi, kepalanya diputar seratus delapanpuluh derajat sehingga wajahnya mencium tanah dan tulang lehernya patah dan mencuat keluar dalam keadaan membusuk. Diduga ia telah meninggal selama dua hari. Korban hanya memiliki satu kartu identitas di dalam dompetnya. Dari kartu identitas tersebut kami mengetahui bahwa nama korban adalah Suzugamori Saaya. Kini mayat tersebut dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk diotopsi"
'Tidak mungkin...' batinnya. Air matanya jatuh begitu saja, padahal Ren sudah bersusah payah untuk membendungnya. 'Tidak...' air matanya mengucur deras tidak bisa berhenti saat mendengar nama korban tersebut adalah 'Suzugamori Saaya' yang tak lain dan tak bukan merupakan Ibu Ren. Pantas saja dia tak kunjung pulang. 'Tidak...' Ren menggosok-gosok matanya dengan lengan bajunya yang semakin basah. 'Ibu...'
Tante yang juga mendengar berita itu membelalakkan matanya tak percaya. Ia terdiam saat melihat Ren menangis sejadi-jadinya. Ia berusaha menenangkan Ren yang tak bersuara. Yang terdengar hanyalah isakan-isakan pedih. Ia benar-benar sendirian sekarang. Takkan ada lagi orang yang menganggap Ren sebagai 'manusia' di keluarganya.
"Ren... Tabahkan hatimu,ya... Tante akan selalu ada di sampingmu. Anggap saja Tante ini sebagai Ibu" bujuk Tante sambil mengelus-elus kepala Ren dan membawa Ren kecil itu ke dalam dekapannya. Ren tetap terisak-isak tanpa melontarkan sepatah katapun. Wanita yang disebut 'tante' itu pun tersenyum setan dibalik kepala Ren yang didekapnya itu.
.
.
.
Delapan tahun kemudian, Tantenya yang masih berstatus single itu menikah dengan Ayah Ren. Kalau saja Ren boleh jujur, ia sebenarnya tidak menyetujui perkawinan Ayahnya ini. seenaknya saja ia mengawini adik dari Ibu Ren, bahkan mereka tak pernah memberitahu Ren tentang hal ini. memang Ren tidak membenci tantenya, tapi tetap saja dia tidak menginginkan hal seperti ini. tapi Ren tidak ingin mempermasalahkannya. Ia letih berdebat dengan ayah yang egois itu.
.
.
.
Ren yang telah berumur enambelas tahun berjalan sambil bergumam menatap kosong tanpa arti di gang dalam gedung Foo ighter, tempat dimana 'Tante', atau lebih tepatnya yang akan menjadi 'Ibu' dan ayahnya menikah. Samar-samar, ia mendengar suara anggota keluarga besar Ayahnya, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu tentang perkawinan Ayah Ren.
"Oh Tuhan, bodoh sekali anakku... Kenapa dia menikahi orang yang telah membunuh istrinya sendiri?"
DEG!
"Kenapa kau tidak menghentikannya? Kenapa kau membiarkan putramu menikahi wanita mata duitan seperti dia!?" sahut suara lain.
"Sudah ku coba, tapi dia tidak mau mendengarku! Wanita sialan itu membutakannya!" bentak suara yang pertama didengar Ren tadi. "Wanita itu dengan seenaknya saja mengawini anakku setelah diam-diam membunuh almarhum Saaya! Aku melihat kejadian itu, tapi... aku... tidak berani melaporkan kejadian itu. Karena aku ketahuan memergoki wanita bangsat itu membunuh Saaya dan ia mengancamku kalau aku memberitahukan kejadian itu pada orang lain, terutama pada polisi, ia akan membunuhku dan anggota keluarga kita yang lainnya juga!"
DEG! DEG! DEG!
Jantung Ren berdetak sangat cepat saat mendengar percakapan itu. 'Ibu... Ibu... D-dibunuh oleh... Tante? Jadi saat Tante datang ke rumahku waktu itu... dengan gaya yang sok perhatian itu... Kebohongan belaka yang telah disiasatinya?' Ren berhenti berjalan, ia tidak percaya kenyataan itu.
'Akan ku bunuh wanita brengsek sialan itu' mata Ren tiba-tiba menjadi gelap. Senyumnya sadis. Mengerikan.
.
.
.
Pesta pernikahan sudah selesai. Ayah dan wanita bangsat yang dipanggil 'Tante' itu pulang, ke rumah Ren. Di dalam mobil, Ren duduk di belakang sendirian sementara Ibu Tiri dan Ayahnya duduk di bangku depan. Ren menatap tajam ke arah Ibu Tirinya itu dan tersenyum memikirkan bagaimana bentuknya setelah dibunuh nanti.
Setibanya di rumah, Ibu Tiri dan Ayah Ren duduk santai di ruang keluarga. Senyum bengis Ren semakin melebar. Ia pergi ke dapur dan mengambil pisau dapur yang berukuran sangat besar.
JLEP
Ibu tirinya tersungkur ke depan memgangi perutnya. Darah… banyak darah yang mengalir dari perutnya. Ayah terkejut dan menoleh horror ke belakang dan terkejut melihat seseorang yang memegang pisau, anaknya sendiri. Ren tersenyum melihat rintihan Ibu tirinya. Dendamnya telah terbalaskan.
"REN!? Apa yang kau lakukan terhadap Ibumu!?" Ayah marah sejadi-jadinya. Ia tak menyangka bahwa anaknya akan membunuh istri barunya ini.
"Ugh…" rintih pembunuh Ibu kandung Ren sambil memegangi perutnya yang bersimbah darah.
"Memangnya kenapa? Toh aku hanya membalaskan dendamku kepada wanita ini karena telah membunuh Ibu KANDUNG ku" ujar Ren menatap pisaunya yang kini telah ternodai darah si wanita busuk itu.
"Da-darimana kau mengetahuinya?" ekspresi Ayah sangat terkejut sambil mendongak ke atas menatap putranya.
"Lho? Jadi kau sendiri telah mengetahuinya? Jadi kau bersekongkol dengan wanita busuk ini untuk membunuh Ibu? Dan kau menyembunyikannya dariku, kemudian pulang ke rumah dengan tampang tak berdosa mu itu?!" sebenarnya Ren terkejut Ayahnya mengetahui hal itu, tapi ia sudah menduganya. Ren pun menggoreskan pisaunya dengan sedikit tekanan di leher Ibu Tiri berhati busuk itu.
Wajah Ayah semakin pucat, melambangkan bahwa perkataan Ren memang benar. "K-ku-kubilang, darimana kau tahu hal itu!?"
"Dari mana dan dari siapa itu bukan urusanmu. Jadi? Benar kan? Kenapa kau membunuh Ibuku… JAWAB!" nada Ren meninggi. Ia mulai emosi kalau teringat kejadian na'as yang menimpa ibunya yang tersayang.
"Kau tidak pantas bicara seperti itu pada orangtuamu!" hardik Ayah yang nadanya tak kalah tinggi dan keras.
"KUBILANG JAWAB!" perintah Ren mendekatkan pisau ke leher ayahnya dengan deathglare yang mencekam hati ayahnya. Rasa sayangnya sirna.
"MEMANGNYA KENAPA! Toh 'Ibu kandung' yang kau bangga-banggakan dan kau bela-bela itu hanya wanita sampah! Dia bukan ibu kandungmu! Dia memungutmu dari panti asuhan! Ia terlalu iba pada anak kumuh sepertimu! Dia selalu membela-belamu di depanku! Aku membeci hal itu! Dan aku juga membencimu!" jawab Ayah menghardik-hardik. Jawabannya membuat Ren tersentak. Ia baru mengetahuinya. Ia baru tahu bahwa dia bukanlah anak kandung yang lahir dari rahim 'ibu kandung' nya. Ternyata ia memang tak memiliki tempat di dunia ini.
"MATILAH KAU AYAH KEPARAT!" hawa amarah Ren memuncak dan telah sampai batasnya. Tanpa ragu-ragu ia langsung menusuk batok tengkorak Ayahnya yang sangat keras. Darah pun bersemprotan keluar mengenai wajah dan baju Ren.
"UAAAAAAAARRRGHHH! SI-SIALAN KAU ANAK DURHAKA!" Ayah memekik kesakitan memegangi kepala belakangnya. Kepalanya memancarkan darah dalam jumlah yang sangat banyak. "AAARRGGHH AAAAA!" Ayah berteriak-teriak di samping istrinya yang perutnya telah ditusuk.
"Akan kubuat kalian merasakan apa yang telah Ibu rasakan!" Ren memelintir kepala Ayahnya sembilan puluh derajat. Seratus derajat. Seratus lima puluh derajat. Dan seratus delapanpuluh derajat sampai tulang lehernya mencuat seperti almarhum ibunya.
"UAAAAAAAAAAAAAGGGHHH!" lelaki yang disebut 'Ayah' itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata yang terbelalak menahan sakit di kepala dan lehernya.
"Enyahlah kau dari dunia ini, Pak Tua keparat" ujar Ren sambil menatap mayat ayahnya, lalu beralih ke wanita yang membunuh Ibuny, sedang merekik-rekik.
"Hei, bangunlah! Bangunlah! Ugh..." ia menggoyang-goyangkan badan suaminya dengan tenaga yang masih tersisa dalam tubuhnya. Ia mendongak melihat Ren dengan gemetar. Tubuhnya menggigil ketakutan. Inikah Ren yang selama ini dia kenal?
Selanjutnya giliranmu, Bitch!" Ren mengayunkan pisaunya ke leher wanita itu, tapi terhenti oleh sebuah suara. Suara yang sangat familiar baginya. KAI!?
"Ren! Kerjain tugas yu—" Kata-katanya terputus melihat Ren. "Ren?" ujarnya tak percaya.
"Apa?" tanya Ren dengan tampang tak berdosa. Ia mencengkeram baju wanita itu dan mengangkatnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam pisau dapur yang sudah penuh darah. Ia mengayunkan tangannya ke kepala wanita yang diangkatnya.
"Tu-tunggu! Jangan—" terlambat. Kepalanya sudah terpisah dari badannya. Darah menyembur mengotori loteng. Rumah itu sudah berlumurkan darah. Ren melepaskan mayat itu, lalu mengalihkan pandangannya ke Kai.
::Flashback Off::
"Eh-?" Kai terkejut mendengar kejadian itu. Ia kehabisan kata-kata. Ia terpaku.
Leon berjalan ke arah tirai merah yang berjarak sekitar tiga meter di belakangnya. Ia membuka tirai itu. Di dalamnya terdapat benda-benda aneh seperti laboratorium kimia, hanya saja benda-benda ilmiah di sini terlalu besar. Banyak tabung-tabung setinggi dua meter dengan diameter setengah meter berisi semacam cairan dan ada banyak kabel yang menghubungkannya. Yang lebih mengejutkan lagi, Ren berada di dalam salah satu tabung yang berisi cairan penuh dengan posisi tegak tapi melayang di tengah tabung, tidak memijakkan kakinya di dasar tabung. Ada sebuah benda bening yang mengatup hidung dan mulutnya yang berujung dengan tabung oksigen.
"REN!? Kenapa dia ada di sana?" Kai terkejut melihat apa yang terlihat di depannya.
"Ini cara pemasukan energi Vyxanestalxes ke dalam tubuh Suzugamori Ren. Energinya berasal dari darah yang telah diolah sedemikian rupa agar bisa dimasukkan ke dalam tubuhnya" Leon menjelaskannya hanya secara garis besar.
"Lalu? Apa Ren memasuki tabung itu dengan sengaja? Bagaimana maksudnya ini?" Kai yang tidak mengetahui akan hal-hal seperti ini terus bertanya dan bertanya.
"Bukan. Ini dunia Ren, dunia alam bawah sadarnya. Jadi ini hanya gambaran Ren, sementara proses ini dilakukan, Ren juga menerima kekuatan ini selama tidurnya" walaupun dengan penjelasan itu, Kai belum sepenuhnya mengerti. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk menanyakannya lagi. Kai yang mati penasaran pun melangkah masuk ke dalam tirai itu, tapi tiba-tiba semuanya buram, pandangannya buyar.
"Kau hanya boleh tahu sampai di sini, Kai Toshiki" ujar Leon kemudian menghilang.
"Eh?" Kai tiba-tiba berada di kamarnya kembali. "Apa itu tadi? Vyxanestalxes? Apaan itu? Ren? Masa lalunya?" Kai masih bingung dengan memori di kepalanya. "Pasti itu hanya mimpi" Kai melanjutkan tidurnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Bingung? Gomen deh xDDD no edit! Jadi maaf kalau banyak typo xD bagian akhirnya buru-buru ya? xD
