myown

"Kenapa anak itu bahkan tidak menjawab telponenya?" Yeoja itu menatap layar smarphonenya. "Apakah ia akan baik-baik saja?" Yeoja itu kembali menekan beberapa angka dan menunggu beberapa saat namun tetap tidak ada jawaban. "Dia benar-benar membuatku khawatir saat ini." Yeoja itu menatap salah satu berkas yang dipegangnya.

****

Kyu membuka matanya perlahan, menjerap-jerapkannya sebentar. Kepalanya masih berdenyut cukup parah. Dia mencoba bangkit dari tidurnya, namun semua terasa seakan bumi ini berputar 180 derajat. "Bumi berputar-putar." Ucapnya, lalu kembali lagi merebahkan dirinya, masih dengan bumi yang berputar-putar. "Dimana ku letakkan obat penghilang rasa sakit itu,tuhan?" Tanyanya. "Apakah semua akan seperti ini?" Lelehan bening itu membasahi pipinya perlahan. "Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kalian berdua meninggalkanku?" Kyu kembali hanya dapat diam menahan rasa sakit yang terus menyerangnya tanpa ampun.

"Aku ingin bersama dengannya." Kyu menarik dengan kuat helaian rambutnya, berharap hal itu dapat menghilangkan rasa nyeri di kepalanya. Suhu tubuhnya masih tetap sama seperti kemarin, panah hingga mungkin kau dapat memasak telur mata sapi hanya dengan menaruhnya ditubuh kyu.

.

Changmin membuka matanya perlahan,tubuhnya penuh dengan peluh saat ini sepertinya ia demam, jantungnya terus berdebar dengan kerasnya. "Apa yang terjadi?" Tanyanya pelan pada dirinya. "Bukannya kemarin aku baik-baik saja. Kenapa sekarang aku merasa tidak tenang?" Jantungnya berdetak sangat kuat saat ia memikirkan kyu. "Kau dimana?" Tanya changmin, tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia bahkan ingat kebiasaan dirinya dengan kyu saat mereka kecil.

"Jangan bergerak! Kau sedang sakit."

Percuma walau apapun yang terjadi anak itu akan tidak dapat diam sedikitpun. "Aku bosan, aku ingin bermain."

"Aniyo, appa dan eomma akan marah jika kyu bermain."Jawab anak berusia 10 tahun itu dengan sabar.

Kyu mendengus tidak suka, "Paling tidak berikan aku PSPku, aku bosan minnieya~."

Anak yang dipanggil dengan sebutan minnie itu turun dari atas tempat tidurnya, lalu berjalan pelan kearah lemari mainan dan mengambil psp berwarna hitam mengkilap. "Ini! Tapi jangan bermain terlalu lelah. Eomma akan marah." Ucapnya lalu kembali mendudukkan dirinya diatas tempat tidur itu, menyenderkan tubuh kecilnya pada kepala tempat tidur, dan kembali membaca buku yang belum ia selesaikan.

Kyu menatap changmin perlahan, lalu mendekat kearah changmin, dan dengan santai ia menumpuhkan seluruh berat tubuhnya pada tubuh changmin. Ia bersandar dengan nyaman disamping changmin yang sedang membaca. Jari-jari tangannya langsung menekan tombol-tombol diatas pspnya, "Tubuh minnie memang selalu memberika kenyamanan, setiap sakit minnie selalu menjadi obat yang paling manjur." Kata kyu masih dengan fokus ke pspnya.

Changmin hanya tersenyum sekilas, "Bagaimana jika aku tidak ada dan kau sakit parah? Tidak akan ada obat yang akan menyelamatkanmu,pabo."

"Mungkin aku akan mati."

"Sssstttt... jangan bicara seperti itu."

Changmin masih ingat itu terakhir kalinya ia bersama dengan kyu, karena hari esoknya ibunya membawanya pergi, dan ia tidak pernah lagi melihat kyu sejak 7 tahun yang lalu.
"Apa kau baik-baik saja?"

****

Mata hari terlah terbenam dengan sempurna hari ini, namun flat kecil itu tidak menampakkan hal yang berbeda dengan hari kemarin. Televisi kecil itu masih menyala. Pintu depan yang hanya tertutup tanpa terkunci sedikitpun, tapi apa yang akan terjadi, toh tidak ada barang berharga yang dapat diambil dari dalam flat kecil seharga 35ribu won perbulan itu.
Pemiliknya yang baru sekitar satu tahun menempatinya juga masih terbujur kaku sama seperti kemarin hanya saja pagi ini suhu tubuhnya telah sedikit menurun, ia bahkan baru saja meminum obat penghilang rasa sakitnya yang didapatnya dari dokter kim yang selalu ada kapan saja untuknya. Tidak perduli sesulit apapun keadaanya.

.

"Apa kau sehat?" Tanya salah satu staff pada changmin.

Changmin memperhatikan staff itu sekilas, lalu tersenyum hangat. "Aku baik."

Staff itu melipat kedua tangannya didada. "Kalau begitu berkosentrasilah, kau ingin mengulang berapa kali hanya untuk sebuah adegan yang sangat gampang,hah?" Bentak staff itu lalu pergi meninggalkan changmin.

"Maafkan aku." Ucap berbisik changmin setengah hati.

Ia mungkin terlihat baik-baik saja. Hanya saja hatinya tidak tenang, jantungnya selalu berdetak lebh cepat tanpa bisa dikontrol, dan ia merasa ada sesuatu yang salah tapi ia tidak tahu apa yang salah. Kau tidak akan bisa memperbaiki sesuatu hal yang kau sendiri tidak tahu apa yang salah dengan hal itu.

"Berkosentrasilah kali ini. Kau tahu semuanya sudah cukup lelah." Seru managernya dengan senyum cassanovanya. "Atau kau ingin menunda syuting ini? Aku akan mengurusnya untukmu."

Changmin manatap kearah lantai. "Tidak perlu sampai seperti itu,hyung. Aku hanya kurang baik hari ini. Sepertinya terjadi sesuatu dengan kyu."

"Bukannya kau sendiri yang bilang jika kyu telah meninggal kecelakaan dengan appanya,minnie. Bahkan semua surat kabar di Amerika menyiarkan atas hal itu, dan kau sendiri yang menyebarkan abunya kelaut." Jawab sang manager. "Tidak mungkin kyu hidup tiba-tiba, setelah satu tahun kematiannya."

Changmin berdiri dari duduknya, mengambil jaket kulitnya yang berwarna hitam kelam, ia berjalan pelan keluar dari lokasi syutingnya. Ia membuka pintu mobilnya, lalu menginjak pedal gas dengan sangat kuat. Ia bahkan tidak perduli jika rumah produksi itu menuntutnya, ia bisa membayar semuanya. Ia memiliki segalanya di dunia ini. Semua yang didambakan setiap orang, ketenaran, kekayaan, dan wajah yang tampan. Tapi kadang kau tidak memiliki apa yang sangat kau inginkan dan itu merupakan sesuatu yang tidak penting bagi oranglain. "Kau belum matikan. Kau baik-baik saja. Kataka padaku." Ucap changmin ntah pada siapa. Ia masih terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas 100km/jam. "Kenapa kau pergi? Apa karena aku yang meninggalkanmu? Apa karena setelah 7 tahun, aku baru bisa mencarimu kau marah padaku?" Air matanya mengalir terus hingga terasa sangat perih. "KAU MEMBENCIKU!" Jeritnya.
Mobil itu terus bergerak dengan sangat kencang hingga mobil itu tidak dapat menghindar dari sebuah mobil lainnya dan kecelakaan itupun tidak dapat terelakkan lagi.

.

Kyu menatap assisten pribadi eomma tirinya dengan pandangan jijik, kalau saja bukan karena dokter kim yang menyuruhnya dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang terus drop ia tidak akan seperti ini.

"Apa yang kalian inginkan?"

"Tuan muda."

"Jangan sebut aku dengan panggilan tuan muda. Aku ingin muntah mendengarnya. Sudah tidak perlu banyak basa-basi denganku."

"Nyonya besar meminta kami membawa tuan muda kembali ke Amerika."

"Pak lee, katakan pada wanita itu aku membencinya sepenuh hati. Bukannya dia seharusnnya pergi dari hidupku. Ia bahkan sudah memiliki semuanya, ia merekasayasa kematian ku. Dia yang membunuh appa, ntah apa yang ia katakan hingga appa mengalami serangan jantung, dan saat aku kecelakaan dan ketika aku sadar yang aku ketahui hanya ia sendiri yang mengatakan jika cho kyuhyun telah mati." Kyu memalingkan pandangannya. "Ya, anggap saja jika aku benar-benar mati. Jadi tidak perlu memintaku untuk kembali ke rumah itu."

"Tapi tuan muda."

Kyu merebahkan tubuhnya, lalu menyelimuti tubuhnya yang trus naik suhu tubuhnya, jika tidak 37 maka 38 derajat celcius, demam terus menyerangnya tanpa henti. "Aku harus istirahat, jika dia ingin berbicara dengan ku. Ia seharusnya yang datang kesini, bukan aku yang harus datang padanya. Katakan hal itu padanya, dan satu lagi aku sudah dewasa dia tidak bisa mengaturku lagi." Kyu memejamkan kedua matanya, mungkin tidur akan membuatnya lebih baik lagi.

****

Tahu yang namanya kau seperti lahir kembali? Tanpa ada dosa dan tidak mengetahui apapun? Sama seperti kedua anak kembar yang memiliki sebuah benang merah.

"Selamat pagi, choi kyuhyun." Ucap seorang yeoja dengan senyum lebarnya, dan tidak lupa sebuah stestokop yang tergantung dileharnya.

Kyuhyun menatap yeoja itu sekilas, lalu menutup lagi kedua matanya perlahan. "Aku ingin tidur. Jangan ganggu aku noona."

"Apa katamu? Sejak kapan aku menganggumu? Kau tahu, aku harus bersusah payah mengangkatmu kesini." Yeoja itu menarik pelan kursi yang ada disamping tempat tidur kyuhyun dan duduk diatasnya. "Kenapa kau tidak mengatakan jika kau sakit? Kau bahkan tidak membalas pesanku. Apa kau tahu aku menghawatirkan dirimu,pabo."

"Noona, bising sekali. Aku butuh istirahat." Kyu membuka matanya dan menatap noonanya. "Aku baik-baik saja. Lihat, aaku bahkan tetap hidup selama setahun ini,noona. Jangan terlalu banyak melebih-lebihkan."

"Apanya yang baik-baik,saja? Kau bahkan terkapar dirumah, kau bisa mati dengan cepat kyu jika terus seperti itu, dan lagi kenapa tidak berusaha mengingat masa lalumu lagi? Kau seharusnya berusaha mengingatnya kyu. Kau pasien ku satu-satunya yang hilang ingatan dan tidak mau mengingat masa lalumu."

"Tidak ada yang perlu diingat,noona. Jika hal itu penting ia akan aku ingat sendiri noona. Jangan terlalu melebih-lebihkan." Kyu menatap noona yang selalu ada kapan saja untuknya itu sejak ia mengalami kecelakaan yang merengut appanya. Appanya shock saat mengetahui anak semata wayangnya meninggal dalam kecelakaan. Faktanya, kyu hanya hilang ingat dia tidak meninggal. "Dan lagi aku tidak akan mati dengan semudah itu. Aku akan terus hidup."

"Ya, terserah padamu. Bocah tengik." Ucap yeoja itu lalu pergi meninggalkan kyuhyun.

Kyu menatap langit-langit kamar tempatnya dirawat. "Padahal baru kemarin aku terkapar di flat kecilku, saat ini aku sudah berada dirumah sakit ternama di korea. Hidup itu aneh." Kyu menghembuskan napasnya panjang. "Apa yang aku lupakan? Seperti tidak ada yang aku lupakan. Aku choi kyuhyun, lahir 18 februari 1988. Aku anak tunggal sepertinya, eommaku sudah meninggal saat aku berusia 10 tahun, dan appa meninggal satu setengah tahun yang lalu karena serangan jantung. Jae noona adalah dokter pribadi ku, dan tiffany adalah eomma tiriku yang saat aku sadar dari kecelakaan itu, aku bisa langsung membencinya." Ia mencoba mengingat hal yang mungkin dilupakannya, mungkin hal yang penting. Tapi tidak ada yang diingatnya, yang ada hanya rasa sakit yang berdenyut parah di kepalanya. "Sial...!" Umpatnya. "Aku tidak mau mencoba mengingat masa lalu lagi." Kyu mengambil kalung kecilnya berbentuk kunci yang selalu dipakainya dari ia kecil.

Semua wartawan itu menunggu dengan sabar didepan rumah sakit ternama di seoul, mereka telah menunggu selama kurang lebih 4 jam, tapi tetap tidak ada keterangan yang mereka daapatkan sedikitpu. Hanya sebuah video dari sebuah toko yang merekam kejadian yang menimpa artis yang sedang naik daun itu.
Dari video itu dapat disimpulkan, jika kecelakaan itu merupakan ketidak sengajaan, dan kedua mobil tersebut hancur parah. Beruntung artis itu selamat, sementara pengendara yang lainnya harus meregang nyawa ditempat kejadian.
Dan disini lah sekaarang artis yang beruntung tersebut. Terbaring seperti mayat tidak bergerak sedikitpun, mungkin ia terlihat baik-baik saja tapi kita tidak akan tahu apa yang telah terjadi dengannya karena ia belum sadarkan diri. Tidak ada luka parah ditubuhnya, hanya ada beberapa memar saja, dan beberapa luka kecil di wajah tampannya. Hal itu mungkin terjadi karena perlindungan dari mobilnya yang sangat baik.
Dia bahkan terlihat seperti malaikat yang sedang tidur saat ini. Terlihat sangat damai.