Maaf bangeeet...! updatenya kelamaan. Gara – gara jadi panitia Kompetisi MIPA di sekolah, aku jadi sibuk selama 2 bulan !
Maaf untuk chapter sebelumnya agak berantakan karena itu adalah post ku yang pertama..
Karena tidak ada keterangan apa – apa di chapter 1 jadi disini aja aku masukin keterangannya ya..
Chapter 1 : Haruka POV. Setting waktunya 2 tahun setelah ending dari Vampire Knight, dimana (Spoiler warning!!) Zero sudah memutuskan hubungannya dengan Yuuki.
Chapter 2 : Zero POV. Aku ingin menampakkan "isi" dari wajah Zero yang datar jadi biar "kelihatan" aku pakai Zero POV. Ga pa pa kan??
Well, alrighty then..! selamat membaca dan jangan lupa Review ya..
Sincerely,
Farore Rayzes
Sial! Vampire brengsek! Menjijikan, kenapa aku bisa kalah oleh vampire seperti itu?
Menyedihkan sekali. Ingin rasanya merobek daging dan kulit vampire itu dan membakarnya sampai tak bersisa. Menjijikan, menjijikan, menjijikan! Aku benci diriku yang lemah, yang bahkan sampai terluka dan dirawat oleh seorang gadis yang tak dikenal.
Harga diri? Bukan, bukan itu masalahnya. Uh, aku tak tahan lagi dengan diriku ini. Aku ingin mecabik-cabik dan mengeluarkan jantungku, menghancurkannya. Tapi, kalau aku benar-benar melakukannya maka itu berarti aku kalah. Dan kalah oleh vampire? Huh! Benar-benar rendah.
Aku memandang keluar jendela, menatap langit biru yang begitu besar. Membuatku muak karena aku merasa seperti manusia hina yang sangat lemah dan tak berguna.
Manusia? Heh, kata itu terlalu bagus untukku. Aku menurunkan pandanganku. Terlihat sepasang kakak beradik yang membawa setumpuk cucian di tangannya. Mereka terlihat gembira sekali. Di mataku, sang adik hanya terlihat mengganggu, berlari kesana kemari. Tapi, tapi kenapa gadis itu justru tertawa dengan riangnya?
Kenapa tertawanya bisa begitu lepas? Kenapa terlihat begitu cerah? Apa yang membuatnya begitu senang? Melihatnya mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang dulu sangat kusayangi, sangat kujaga. Dulu. Sekarang mengingatnya saja aku tidak mau. Kumohon, pergilah dari pikiranku.
Cih! Tidak ada gunanya tetap disini, aku harus segera pergi.
Huh? Mana senjataku? Aku mencarinya disekeliling tubuhku, tidak ada. Di atas meja, nihil. Apakah di dalam jasku? Tapi jasku saja tidak ada. Dimana? Tidak mungkin tertinggal di tempat kemarin kan? Atau berada di tangan gadis itu?
Aku mencoba beranjak dari kasur. Perlahan, aku menginjakkan kedua kakiku ke tanah. Saat berdiri, tak dapat kupungkiri rasa sakit di perutku. Dasar lemah. Aku berjalan pelan keluar kamar. Di balik pintu kamar sebuah ruang makan yang hangat terlihat.
Sesaat, aku seperti melihat pemandangan rumah yang kurindukan. Ayah memasang perapian, Ibu menyiapkan makan malam, Ichirou duduk disampingku, mendekapkan tangannya pada tangan kiriku. Suasana yang hangat, tapi mampu membuat hatiku terbakar api kebencian. Benci karena aku tidak bisa menyelamatkan siapapun. Tidak ibu, ayah, ataupun Ichirou yang sangat rapuh.
Aku pergi dari ruangan ini, dan menuju keluar. Sedetik lebih lama di ruangan itu mampu membuat hatiku tercabik-cabik. Aku menghampiri gadis yang sedang menjemur pakaian. Aku berdiri di belakangnya.
"Hei, apa kau yang membawanya?" tanyaku tiba-tiba. Ia terlihat sedikit kaget. Gadis itu memalingkan wajahnya padaku. Kilauan matanya yang hijau menyiratkan kebingungan. Ia menghentikan aktifitasnya dan menghampiriku.
"Jangan bergerak dulu. Lukamu sama sekali belum sembuh." Gadis ini meletakkan cuciannya dan memperhatikan lukaku.
"Apa kau membawanya?" tanyaku sekali lagi. Ia hanya mendongak dan menelengkan kepalanya sedikit ke kanan. Kebingungan.
"Bawa apa?" balasnya sambil mengernyitkan alisnya.
"Senjataku." Jawabku singkat. Ia tersenyum, senyuman yang mirip dengan 'orang itu'.
"Maksudmu ini?" Ia mengeluarkan Bloody Rose-ku dari dalam apron yang dikenakannya. Seenaknya saja gadis ini, mengambil senjata orang tanpa izin dari pemiliknya. Aku menjulurkan tanganku untuk mengambilnya, tapi dengan cepat ia menariknya lagi.
"Hmm.. aku tidak akan memberikannya padamu sebelum lukamu sembuh total." Katanya sambil mundur 3 langkah dan menyembunyikan Bloody Rose di balik punggungnya.
"Jangan macam-macam. Cepat kembalikan." Balasku. Aku berjalan mendekatinya, tapi semakin aku mendekat ia semakin mundur.
"Macam-macam? Kau yang jangan macam-macam." Katanya sambil mengarahkan Bloody Rose ke arahku. Tangannya sedikit gemetar, dan aku yakin ia berusaha menutupinya.
"Kau bahkan tak bisa menggunakannya." Balasku dingin. Ia tak akan mampu melakukannya.
"Aku tahu kok! Sekarang kembali ke dalam kamar!" kata-katanya yang tegas membuatku kaget. Ia menggunakan senjata untuk mengancamku supaya istirahat? Gadis yang lucu. Aku menghampirinya, dan ia tidak bergerak dari tempatnya.
"Kau harus tahu, kalau kau berani mengarahkan pistol ke seseorang maka kau harus berani menarik pelatuknya." Kataku. Aku menggapai kedua tangannya yang sedang memegang Bloody Rose. Tanganku berjalan ke jemari-jemarinya yang kecil dan panjang. Memanipulasi jemarinya untuk menarik pelatuk. Lalu kutarik tangannya yang masih menggenggam Bloody Rose ke depan dadaku, mengarahkannya tepat dijantungku.
Wajahnya yang kaget membuatku takjub. Entah apa yang penyebab aku merasakan hal ini.
"Ah...!" ia menarik tangannya dengan cepat dari depan dadaku.
"Lihat kan?" kataku menyudutkannya. Ia hanya menunduk dan diam. Kesunyian menyelimuti kami, tak ada suara apapun, yang kudengar hanya suara angin dan kepakan sayap burung. Selama 15 detik kami diam, lalu ia memasukkan Bloody Rose-ku kembali kedalam apronnya.
"Aku akan mengembalikannya nanti kalau kau sembuh." Katanya sambil berbalik dan melanjutkan menjemur pakaian.
"Jangan bercanda. Aku mesti—"
"Bersabarlah" ia menyela kalimatku. Sikapnya yang tenang itu membuatku kesal. Seenaknya saja gadis ini menyuruhku ini itu. Memangnya siapa dia? Bukankah ia takut padaku? Lalu kenapa membiarkanku tetap disini?
Urgh! Banyak hal yang tidak kumengerti. Tidak ingin kupikirkan, kepalaku sakit. Menyebalkan, aku bahkan tidak punya tenaga untuk kembali ke dalam rumah. Akhirnya aku melangkahkan kakiku yang berat ke kursi taman di dekat tempatku berdiri. Aku membanting tubuhku yang tak kuasa menahan berat tubuhku lagi. Kusandarkan punggungku, dan mendongak keatas.
Langit masih biru tanpa awan. Silau. Mataku sakit.
Kupejamkan mata, dan mempertajam pendengaranku. Sayup-sayup kudengar suara aliran air sungai, desahan dedaunan yang tertiup angin, suara ranting pohon yang bergesekan, Kicauan burung dan kepakan sayapnya di angkasa. Dan suara kain yang dibentangkan oleh gadis itu. Suasana yang nyaman...
Musim semi yang hangat. Belaian angin timur membuatku mengantuk. Sudah lama sekali aku tidak merasakan saat-saat seperti ini. Sejak 'hari itu' semua sudah tidak bisa lagi seperti dulu. Sekolah sudah berakhir, Cross-san tetap menjadi kepala sekolah yang bodoh dan norak, sistem Day dan Night Class tetap berjalan, dan Yuuki...
Entahlah, aku tidak mau tahu. Aku tidak mau peduli.
Ngantuk.
"Heeeeiiii....." Hem? Ada suara.
"Sudah siang." Siapa?
"Bangun doong..." Suara yang hangat. Suara yang kurindukan.
"Zero..." Lagi. Ibu? Yuuki? Siapa?
"BAANGUUN!"
Hah?! Aduh, aku mimpi ya? Mengerikan.
"Siapa yang mengerikan?!" seorang gadis berteriak di depanku. Aku mengangkat kepalaku. Aduh, leherku sakit. Sepasang mata hijau indah dan berkilauan menatapku.
"Kau tadi bilang aku mengerikan ya?!" Gadis itu berteriak lagi di depanku. Aku mengigau rupanya.
"Aku tadi hanya bermimpi." Jawabku menenangkan emosinya. Sekarang ia jadi lebih tenang. Tapi raut mukanya berubah menjadi penasaran.
"Mimpi? Mimpi apa?" tanyanya ingin tahu. Sambil mencondongkan tubuhnya.
"Entahlah, aku lupa." Jawabku seadanya. Dan memalingkan wajahku dari pandangannya. Entah kenapa aku merasa silau saat menatap matanya.
"Begitu," ia menarik kembali tubuhnya ke posisi semula.
"Makan siang sudah siap, ayo makan." Katanya tersenyum sambil berbalik dan berjalan ke dalam rumah. Makan siang? Hem... Aku terlalu lama tidur ya.. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Kenapa aku mengikutinya? Kenapa aku nurut saja pada kata-katanya? Kenapa aku tidak kuasa menolak? Sebelum semua pertanyaan itu terjawab, kakiku sudah masuk ke dalam rumah.
Di salah satu kursi sudah duduk seorang anak laki-laki. Ia terlihat seperti miniatur dari gadis ini. Mirip. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang berbeda.
"Duduklah." Kata gadis itu sambil menuangkan minuman ke dalam gelas di depanku. Aku menuruti kata-katanya dan duduk. Aku mengamati anak kecil itu. entah kenapa ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang berbeda. Tapi apa?
Anak kecil itu sadar sudah kuperhatikan, dan ia tersenyum padaku. Ia mengambil roti diatas piring dan menjulurkannya padaku.
"Silahkan!" katanya dengan senyuman lebar. "....!!!"
BRAK!
Aku yang tiba-tiba berdiri, membuat kursi yang kududuki jatuh, dan gelas didepanku tumpah.
Tidak mungkin! Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya? Kenapa? Kenapa?! Seorang vampire sedekat ini didepanku, dan kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya!
Aku yang masih diam tak bergerak itu, membuat sekitarku kaget. Anak laki-laki itu gemetaran, dan gadis disampingku ketakutan. Aku bergerak mengambil pisau buah didekatku, bermaksud merobek tenggorokan sang vampire kecil. Tapi sebuah tangan hangat yang lembut menangkap pergelangan tanganku. Aku menoleh pada sang pemilik tangan, gadis itu hanya diam dan menunduk.
"Akito, kau makan duluan ya. Kakak akan memperbaiki perban kak Zero." Tiba-tiba ia tersenyum pada vampire itu. Kenapa?! Lalu ia menarik tanganku, menuntunku ke dalam kamar.
Aku yang masih diliputi amarah, mengikuti kemauannya masuk ke dalam kamar. Kali ini ia harus menjelaskan semuanya! Ia menyuruhku duduk di kursi dengan aba-aba dari jari telunjuknya. Lalu ia menutup dan mengunci pintu. Di balik sela pintu yang akan tertutup, aku melihat wajah vampire kecil itu kebingungan. Wajah manisnya dihiasi oleh mata berwarna hijau yang sekejap berkedip warna darah.
"Jelaskan padaku..." kataku langsung tanpa basa-basi. Ia diam dan masih tetap memegang gagang pintu.
"Kau manusia kan?" tanyaku padanya. Ia berbalik dan menghampiriku. Namun bibirnya yang merah tetap diam tak bernada.
"Jelaskan padaku kenapa kau memelihara makhluk itu!" sebelum aku sempat berkedip, ia menutup mulutku dengan tangannya yang lembut. Sekarang ia berdiri didepanku, kedua tangannya yang mungil menutup mulutku.
Kenapa? Aku tidak mengerti. Mereka saudara. Mereka seperti saudara kembar yang berbeda umur. Mata hijau mereka sama-sama berkilau. Kulit mereka sama-sama putih bagai mutiara. Rambut mereka yang hitam sama-sama terlihat seperti malam tanpa bulan. Mereka akrab seperti satu orang yang menjadi dua.
Tapi kenapa? Kenapa anak itu seorang vampire? Dan kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?! Apakah aku sudah menjadi makhluk yang lemah? Apa aku sebegitu lemahnya yang bahkan tidak menyadari ada makhluk menjijikan itu didekatku?! Dan anak kecil pula! Menyedihkan, menjijikan, rendah, hina, aku benci diriku!
Aku harus menuntut jawaban dari gadis ini. Harus!
"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Akhirnya gadis itu berbicara. Aku diam dan mendengarkan.
"Kau.... Vampire Hunter?" tanyanya padaku. Lalu melepaskan kedua tangan mungilnya dari mulutku.
"Benar, dan sudah menjadi tugasku melenyapkan makhluk itu." jawabku tegas. Wajahnya seketika berubah pucat. Kenapa gadis ini melindungi vampire itu?! Tangannya yang gemetaran tak mampu ia sembunyikan.
"Hei..." ia berkata pelan. Suaranya begitu pelan sampai-sampai hampir kalah oleh kicaun burung diluar sana. Aku memasang telingaku dengan seksama. Berharap tidak melewatkan sepatah katapun dari gadis ini.
"Apa kau mau menerima bayaran?" tanyanya. Kata-katanya membuatku bingung dan kaget. Bayaran? Apa maksudnya?
"Kau mau menyuapku untuk tidak membunuh makhluk itu?" balasku. Huh! Jangan harap aku mau melakukannya.
"Bukan." Jawabnya masih dengan suara pelan. Ia lalu mengangkat wajahnya. Memandangku dengan matanya yang sayu. Sorotan mata yang indah, berkilat oleh cahaya matahari siang yang menyengat.
"Lalu? Apa maumu? Jelaskan dengan jelas," kataku dengan nada kesal. Gadis ini terlalu bertele-tele. Ingin aku mendorongnya kedinding, mengambil senjataku dan menodongkannya ke leher sang gadis untuk memaksanya bicara.
"Aku ingin menyewamu." Jawabnya datar. Kali ini suaranya sudah lebih tegar dibanding tadi. Tapi, menyewaku? Ia mau menyewa seorang vampire hunter? Untuk apa?
"Aku butuh penjelasan lebih dulu." Aku tidak bisa menerima tawaran orang tak dikenal tanpa penjelasan secara terperinci.
"Apa bayaran ini cukup?" Ia tidak menjawab pertanyaanku. Lalu ia melepaskan kalung yang melingkar di lehernya. Sebuah kalung dengan 4 batu permata. Kalung perak berbentuk bulat dengan ruby, emerald dan safir menjadi titik sudut dari sebuah bentuk segitiga di dalamnya. Dan ditengah-tengah segitiga ada sebuah kristal bening berbentuk segi lima kecil. Keempat batu itu saling dihubungkan dengan garis hitam. Bentuk kalung mungil itu menyerupai sebuah diagram sihir.
Bayaran yang terlalu mahal untuk membunuh seorang anak kecil.
"Huh! Kau menjual nyawa adikmu?" tanyaku padanya. Tapi ia tetap tenang tak bergeming.
"Aku..." ia mencoba mengatakan sesuatu. Suaranya kembali pelan seperti tadi.
"Aku ingin kau menyelamatkan adikku dari jiwa seorang vampire" Katanya dengan suara yang pilu.
"Apa?" aku tidak mengerti. Banyak sekali hal yang tidak kumengerti.
"Kumohon." Ia berkata lagi. Kali ini matanya berair. Kolam yang selama ini ia bendung tumpah.
"Kumohon bebaskan adikku dari jiwanya!"
Yup! Inilah akhir dari chapter 2. Bagaimana pendapat kalian tentang Zero POV? Apakah OOC? Setelah ini di review ya. Aku masih amatir dalam hal ini jadi aku butuh bantuan kalian. Thanks banget sama Matsuri Hino yang udah membuat Vampire Knight dan mengenalkanku pada Zero.
Sincerely,
Farore Rayzes
