High School Love Story
.
.
.
.
.
"Kapan aku bisa kembali? Aku ragu jika aku bisa kembali." Kata Hinata.
"Hey! Disini!" teriak Hinata sambil melambaikan tangannya kelangit. Seakan akan ada malaikat yang akan mencarinya. Melihat Hinata,Naruto juga ikut-ikutan.
"Aku juga disini!" teriak Naruto. Merekapun saling berpandangan sambil tersenyum.
"Siapa yang kau ajak bicara?" tanya Naruto mengingat kembali saat Hinata berbicara sendiri waktu dirumah sakit.
"Hmm.." Hinata hanya tersenyum menjawab pertanyaan Naruto.
"Dasar gadis gila." Kata Naruto sambil melanjutkan kembali perjalanannya. Namun Hinata tidak tersinggung sama sekali.
CHAPTER 2
Paginya,Hinata duduk sendirian di kedai sambil belajar memakai sumpit dengan mengambil beberapa kacang dimeja dan memasukannya kedalam mangkuk. karena hari ini hari Minggu,jadi mereka agak siang memasaknya.
"Jadi berapa lama aku harus hidup sebagai manusia?" tanya Hinata kepada sosok pria yang duduk dihadapannya.
"Sampai aku menemukan jawabannya." Kata pria itu.
"Jika kau tidak menemukan solusinya,apakah aku akan mati setelah itu?"
"Ya,jika aku tidak bisa menemukannya."
"Aku akan mati? Senpai harus menemukan solusinya." Seru Hinata terkejut,bahwa ia akan mati seperti manusia.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya pria itu memandang Hinata yang sedang menyumpit kacang.
"Ini adalah hal yang harus aku ketahui. Tahu bagaimana cara memakai sumpit adalah dasar menjadi manusia. Aku harus tahu supaya aku bisa makan. Apa yang manusia makan itu enak. Aku harap senpai bisa makan denganku.." kata-kata Hinata terputus karena sosok pria itu. Pria itu menunjuk kearah kacang-kacang yang masih dimeja,dengan kekuatan pria itu,kacang-kacang itu melayang-layang diudara,setelah itu ia menurunkan jari telunjuknya dan membuat kacang-kacang itu jatuh tepat di dalam mangkuk.
"Kau itu bukan manusia. Jangan lupa. Sampai jumpa." Kata pria itu lalu berdiri sambil membawa bukunya.
"Senpai!" kata Hinata membuat pria itu kembali menatap Hinata.
"Gomenne."
"Untuk apa? Menjadi manusia?"
"Entahlah. Untuk semuanya." Kata Hinata pelan.
KRIIETT
Pintu terbuka menampilkan Naruto yang baru turun dari lantai dua. Sebelum Pria itu yang berpapasan dengan Naruto,Hinaa berteriak.
"Tidak! Menghindar!" teriak Hinata. Mereka berdua berhenti. Sementara Naruto menengok kenanan-kekiri bingung.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto lalu duduk dihadapan Hinata bekas pria itu duduki.
"Apa kau bicara dengan seseorang?" tanya Naruto lagi.
"A-aku disini se-sendirian." Kata Hinata bohong
"Apa kau benar-benar seperti ini karena kejadian kemarin? Apa kau sakit?" tanya Naruto lalu meletakkan tangannya didahi Hinata.
"Apa itu sakit? Seperti apa itu?" tanya Hinata penasaran.
"Haa? Nenek,aku pikir dia tidak akan menemukan jiwanya lagi!" seru Naruto saat melihat neneknya duduk disalah satu kursi disana.
"Jangan membawa nasib malang! Hinata,kesini dan lihat aku." Ajak nenek menyuruh Hinata membantunya menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.
"Pertama-tama taruh ini.." nenek menjelaskan apa yang dia lakukan nanti.
KRINGG… KRINGGG… KRINGG…
"Kedai Ramen Ichiraku!"
"….."
"Ya,perumahan 640,unit 98." Kata Naruto sambil menuliskan alamat di kertas yang tersedia.
"…"
"Satu porsi? Oke,saya akan kesana!" Kata Naruto lalu menutup teleponnya dan menyiapkan pesanannya.
Dikamar seseorang,ada pria yang sibuk belajar dimeja belajarnya. Pria itu memiliki rambut raven yang mencuat seperti pantat ayam.
Tokk,tokk,tok..
"Ayo makan,nak!" seru seorang wanita yang muncul dari luar. Wanita itu memiliki rambut merah yang berwarna merah dan wajahnya sangat cantik. Yang sepertinya adalah ibu dari pemuda itu. Sementara saat mendengar suara wanita itu,pemuda itu langsung memasang headsetnya dikedua telinganya. Langsung saja wanita itu menghampirinya dan menulis sesuatu di sebuah buku yang kosong.
[Ayo makan!]
Begitulah tulisannya. Lalu saat pemuda itu melihat tingkah wanita itu,ia langsung merobek kertasnya,meremas kertas itu seperti bola dan membuangnya ketempat sampah.
"Kenapa kita tidak makan terpisah?" kata pemuda itu dengan dingin dan datar.
"Aku juga tidak mau makan denganmu." Gumam wanita itu sambil menatap pemuda itu.
"Ayo makan! Supnya sudah dingin!" ajak seorang pria dari luar dan ternyata pria itu adalah polisi yang tadi membantu Naruto. Sepertinya mereka adalah keluarga kecilnya.
"K-kita akan kesana!" kata wanita itu saat melihat pria itu yang ternyata adalah suaminya.
TING TONG.. TING TONG.. TING TONG.. TING TONG..
"Kita tidak mengundang siapapun. Aku akan kesana." Kata satu-satunya wanita yang ada diruangan itu berjalan keluar. Suaminyapun ikut keluar juga meninggalkan pemuda itu sendirian.
SRETT
"Kita tidak memesan." Kata wanita itu saat melihat Naruto yang tetap memakai helm sambil membawa bungkusan makanan.
"Bukannya ini unit 98?" tanya Naruto.
"Ya,tapi kami tidak memesan." Kata wanita itu lalu menutup pintunya,namun sebelum pintu itu tertutup,Naruto menahannya dengan kakinya.
"Tahan sebentar! Ini benar disini. Anda yakin tidak memesan?"
"Aki yakin tidak…" sebelum wanita itu melanjutkan perkataannya ia teringat anaknya yang ada didalam
"Kau yang memesannya,kan?" tanya pria yang lebih tua kepada anaknya itu diruang makan.
"Aku lapar." Jawab anak itu tanpa merasa bersalah.
"Huhh,Sasuke yang memesan." Teriak pria itu dari dalam,wanita itu dan Narutopun bisa mendengarnya.
"Tunggu sebentar." Kata wanita itu lalu berjalan kekamarnya untuk mengambil uang.
"Aku lupa kalau kau yang memesannya!" seru wanita itu lalu memberi uang kepada Naruto.
"Kau tidak seharusnya datang terlambat!" gumam wanita itu.
"Gomenasai." Kata Naruto sambil membungkuk. Lalu wanita itu menyerahkan selembar uang seratus ribu.
"Ahh,gomenasai, aku hanya punya uang dua puluh ribu untuk kembaliannya." Kata Naruto.
"Huhh.." desah wanita itu lalu memasukan kembali uangnya.
"Kau menerima kartu kredit?" tanya wanita itu mengambil kartunya.
"Kalau kartu kredit,kau harus memberitahu kami sebelumnya jadi kami akan membawanya."
"Jadi apa yang ingin kau lakukan?" tanya wanita itu pasrah.
"Gomenasai. Ini kesalahanku tidak membawa kembalian lebih. Kalau begitu selamat menikmati dan pembayarannya lain kali saja." Kata Naruto sambil menyerahkan bungkusan itu kepada wanita itu.
"Ini,ambil kembaliannya." Kata suami dari wanita itu.
"Arigato gazaimashita." Kata Naruto mengambil uang itu.
"Dan mulai sekarang,paling tidak layanan pesan-antar minimum lima puluh ribu, bahan bakar sekarang mahal." Kata Naruto.
"Baiklah,kurasa kita akan memesan ditempat yang lain." Kata wanita itu.
"Anda bisa melakukannya,tapi tempat kami memiliki makanan terbaik. Nenekku pandai memasak. Kita akan memberikan layanan gratis jika anda memesan lebih dari serratus ribu." kata Naruto mempromosikan tokonya.
Lalu wanita itu pergi sambil membawa bungkusannya.
"Ayo makan,nak!" seru wanita itu.
"Selamat menikmati dan pesan kami lagi ya!" seru Naruto kepada pria itu.
"Arigato. Berhati-hatilah." Seru pria itu sebelum Naruto keluar. Lalu ia membungkuk sebelum keluar.
Naruto langsung menuju kemotornya dengan wajah masam. Lalu ia duduk dimotornya.
"Ayo makan,nak!" kata Naruto menirukan perkataan wanita itu.
"Aku harap kau mengalami gangguan pencernaan!" seru Naruto kesal.
KRINGG.. KRIINGG.. KRINGG..
Ponsel Naruto bordering,langsung saja ia angkat telponnya.
"Halo?"
"…"
"Oke,aku akan kesana sekarang." Jawab Naruto lalu dengan buru-buru ia menyimpan kembali ponselnya dan pergi meninggalkan rumah itu.
"Aku seharusnya mendaftar dikelas memasak mulai minggu depan. Dia tampak kehilangan nafsu makan akhir-akhir ini." Kata wanita itu sambil mengelus-elus rambut anaknya seperti kucing.
"Aku lebih suka makanan istana kalau kau akan belajar memasak." Kata anak itu.
"Sasuke,tidakkah kau penasaran apa seseorang akan hidup atau mati besoknya?" tanya Fugaku.
"Aku lebih penasaran berita tentang ibu." Kata Sasuke datar lalu pergi kekamarnya.
"Anak ini! Aku tidak tahu dari mana dia seperti itu!" seru Fugaku kaget melihat tingkah laku anaknya.
"Kau jangan terlalu keras kepadanya. Dia hanya belum menganggapku saja." Kata wanita itu.
Dikamarnya Sasuke.
Sasuke sedang memainkan drum pad miliknya. Ia tidak semangat memainkannya.
SRETT
Pintu kamarnya terbuka dan masuklah wanita yang menjadi ibu tirinya itu sambil membawa nampan yang berisi makanannya tadi yang belum habis dan ia menaruhnya di meja belajarnya.
"Aktingmu akan memenangkan banyak penghargaan." Sindir Sasuke.
"Aktingmu juga cukup mengesankan untuk menerima penghargaan kecil." Jawab wanita itu.
"Munafik." Kata Sasuke.
"Kadar tertentu kemunafikan sangat dibutuhkan untuk menjadi bagiannya. Ini akan cepat membosankan kalau aku menunjukan semuanya kepadamu." Kata wanita itu.
"Perusak rumah tangga mengajarkan kelas etika di SMA. Bukankah kau pikir ini menggelikan?"
DUMM
Sasuke sampai memukul drum padnya karena kesal.
"Orang itu juga ibu tirimu. Aku tidak merusak rumah tangga siapapun. Aku kesini untuk menyelamatkan kehancuran keluarga kalian."
"Tidak,ayahku tak akan meninggalkan ibuku jika itu bukan karenamu."
"Aku pikir kau terlalu meremehkan kemampuanku. Aku menghargai perhatianmu. Tapi kau hrus meninggalkan urusan orang dewasa kepada orang dewasa dan fokus saja dengan belajarmu. Minggu ini akan sibuk." Kata wamita itu,lalu pergi keluar.
Ibunya Sara datang lagi kekedainya Naruto. Ia duduk dengan tegak lalu memberikan selembar kertas diatas meja.
"Lima puluh juta? Mobil macam apa seharga lima puluh juta untuk memperbaikinya?" tanya nenek kaget saat melihat angka yang tertera.
"Benar kau yang melakukannya?" tanya nenek sambil menatap Hinata. Hinatapun hanya menunduk tidak berani menatap nenek.
"Huhh,kurasa dia bisa menghabiskan waktu dipenjara dengan nenekmu!" kata wanita itu dengan sinis.
SRETT
Naruto datang dan menyambar kertas yang dipegang nenek secepat kilat. Ia membaca lalu menatap Hinata garang. Sementara Hinata hanya mengalihkan pandangannya dari Naruto,takut.
"Kau melakukan ini supaya aku pindah sekolah?" tanya Naruto kepada wanita itu.
"Ya. Tampaknya kau lebih pintar daripada aku. Tapi kurasa aku sudah bialang kepadamu sebelumnya. Bahwa kau akan dipaksa keluar kalau kau bertemu dengan Sara lagi. Tapi kau memanggilnya keluar kemarin malam kan?" tanya wanita itu.
"Gadis itu yang memanggilnya duluan!" seru Hinata mengatakan fakta.
"Diam!" seru Naruto.
"Lihat tingkah kalian!" seru wanita itu kesal.
"Aku tidak akan pindah."
"Baiklah,jangan pergi kalau begitu. Kau akan menerima keadilan dan aku akan menerima uang lima puluh juta! Dan kau akan menerima pengusiran!"
"Ini akan lebih cepat dan mudah kalau kau memindahkan Sara kesekolah lain."
"Itu tidak benar. Tak ada jaminan kalau Sara akan mempertahankan peringkatnya disekolah yang lain. Jadi kau harus pergi. Lalu aku tak harus menerima uang lima puluh juta."
BRAKK
"Jangan pindahkan Naruto! Aku akan membayarnya. Tapi kalau kau muncul lagi didepan Naruto-ku ini akan menjadi pemakamanmu!" ancam nenek.
"H-hari p-pemakamanku? Lihatlah bagaimana kau bilang!"
"Apa?" lalu nenek kembali kedapur sambil membawa spatula ditangannya.
"Pengusiran? Apa kau ingin aku mengusir hidupmu?" ancam nenek tak lupa ia todongkan spatulanya.
"A-ahh ya ampun. Sungguh rendahan!" seru wanita itu menghilangkan rasa takutnya.
"Benar. Kau wanita yang sangat jahat!" seru Hinata juga sambil menodongkan centong nasi.
"H-hey! Ini semua karena mu!"
"Keluarlah!" kata Naruto dingin lalu menyeret Hinata keluar.
"Kau yang melakukannya? Kau benar-benar melakukannya?" tanya Naruto kesal.
"Aku ingin balas dendam kepada wanita jahat itu!"
"Kau bahkan memperburuk masalah ini! Kau punya ide.."
"Aku ingin membantumu!"
"Siapa yang membantu siapa? Kau bahkan tak tahu nama dan rumahmu!"
"Itu.."
"Aku tak mengenalmu lagi."
"Tapi aku hanya mengenalmu!"
"Aku tak akan mengenalmu lagi. Pergilah." Usir Naruto.
"Kau tak akan pergi? Lalu enyalah!" kata Naruto lalu pergi meninggalkan Hinata.
"Naruto-kun!" serasa namanya dipanggil,Narutopun berhenti tanpa menoleh.
"Kau satu-satunya manusia didunia yang aku kenal. Biarkan aku denganmu!"
"Kenapa harus aku? Tak ada yang baik-baik saja sejak aku bertemu denganmu. Jangan ikuti aku." Kata Naruto lalu berlari menjauhi Hinata. Hinatapun hanya menatap sedih kepergian Naruto.
Lalu ia pergi,berjalan tanpa tujuan. Tanpa Hinata sadari,sosok pria yang ia panggil 'Senpai' mengikutinya dibelakang sambil menatap Hinata.
JRENGG… JRENGG.. JRENGG…
Buku pria itu bersinar. Langsung saja ia buka dan melihat siapa yang akan mati. Lalu ia menghilang meninggalkan Hinata sendirian.
Naruto yang sudah pulang,langsung menuju kekamarnya. Tanpa sengaja matanya melihat kemeja didekat sofa. Ia melihat baju yang Hinata pakai saat pertamakali mereka bertemu. Langsung saja ia ambil dan membuangnya ketempat sampah. Lalu Naruto pergi kekamarnya dan mencoba menyusun mainan robotnya dikamar. Tapi ia tidak fokus dan terus kepikiran Hinata. Akhirnya ia mengambil jaket serta kunci motornya untuk mencari Hinata.
Hinata terus berjalan, sampai matanya memandang sebuah papan besar didepan took buku dan memajang buku tua. Hinatapun tersenyum dan berlari masuk kedalam. setelah sampai didalam,ia mencari-cari buku tua di rak yang terseusun rapi. Hinata membuka-buka buku tua dan..
BRUKK
Hinata menjatuhkannya dan mencari buku yang lain. Tentu saja itu mengundang perhatian banyak orang disana. Dann kebetulan juga,Sasuke ada didekat Hinata tapi ia tidak peduli dan lanjut membaca bukunya. Hinata terus menerus mencari buku yang ia cari. Namun buku yang ia cari tidak ketemu. Akhirnya ia keluar da berjalan-jalan lagi.
Sampai malam,ia mencari buku tua,bahkan sampai di tempat sampah. Ia mengobrak-abrik kantung sampay yang sudah diikat dan mengeluarkan semua isinya,ia tidak peduli dengan bau yang tidak sedap menempel ditubuhnya.
"Aku butuh catatan hitam sebagai petunjuk supaya aku kembali!"
"Senpai sudah bilang untuk jangan percaya kepada manusia. Aku seharusnya mendengarkannya" Hinata berkata sendiri serutuki bodohnya dia yang harus percaya pada manusia.
Lalu matanya terpaku melihat boneka kecil yang sudah robek dan kumal tergeletak disalah satu troli yang sudah rusak.
"Kau ada dikondisi yang sama denganku!"Kata Hinata dengan sedih lalu memeluk boneka itu.
TES.. TES.. TES..
Air menetes dari langit,tanda kalau sebentar lagi akan hujan.
ZRRASHHH
Hujan semakin deras,langsung saja Hinata berlari mencari tempat teduh dan berakhir didepan sebuah took swalayan. Hinata menatap orang-orang yang berjalan terlindungi oleh benda yang bernama payung. Hinata berbalik dan melihat Sasuke yang kebetulan sedang duduk di dekat jendela sambil memakan ramen didalam.
GLEKK
Hinata menelan ludahnya,ia ingin sekali makan karena tadi siang ia belum sempat makan tadi. Sasuke yang melihat ada orang yang menatapnya langsung saja sasuke balas tatap orang itu,Hinatapun balas menatapnya dengan tatapan memelas. Sasuke tidak peduli,ia lanjut memakan ramennya yang tinggal sedikit. Sasuke menatap kembali Hinata yang masih melihatnya makan,lalu ia memutuskan untuk pergi kedalam.
"Huhhh.." Hinata mendesah pelan melihat kepergian Sasuke. Lalu Hinata berjongkok didepan took itu sambil menatap genangan air didepannya.
"Inilah perasaan dikhianati. Aku bahkan menyelamatkan hidupnya. Dan seperti ini dia membalasnya?"
"Dasar!" teriak Hinata sambil berdiri dan kebetulan Sasuke hendak keluar sambil memegang payung birunya dan menatap Hinata dengan aneh.
"Bukan kau. Ini manusia jahat yang lain." Kata Hinata. Lalu ia melihat payung yang dibawa Sasuke,langsung saja ia bergerak berdiri didepan Sasuke sambil menatap payung diatasnya. Sasuke yang melihatnyapun bingung,lalu ia menggeser payungnya kekanan,Hinata juga ikut kekanan,Ia menggeser kekiri,Hinata juga ikut kekiri. Sasuke geser kekanan lagi,Hinata juga ikut kekanan,lalu ia menarik Hinata menjauhi payungnya.
"Kau sama buruknya dengan Uzumaki Naruto!" teriak Hinata lalu menatap langit yang belum selesai menurunkan airnya. Tiba-tiba Sasuke kembali sambil menyerahkan payungnya kepada Hinata.
"Kau memberikannya untukku?" tanya Hinata sambil menerima payungnya.
"Benarkah? Arigato!" seru Hinata menatap kepergian sasuke melewati hujan.
"Aku akan menarik kata-kata ku yang menyamakanmu dengan Naruto!" seru Hinata senang.
Hinata bermain-main dengan payungnya dan mengulurkan tangannya membiarkan air hujan menyentuh kulitnya yang putih itu. Setelah puas,ia kembali melanjutkan perjalanannya.
"Tak ada catatan hitam dan taka da tempat untuk pergi. Akankah aku mati setelah hidup seperti ini? Huuftt,bagaimana aku bisa kembali keduniaku?" kata Hinata dan berhenti dipinggir jalan.
Lalau Hinata merasakan silau dimatanya,langsung saja ia melihat apa itu dan rupanya cahaya mobil yang lewat.
"Aku ingin kembali. Aku harus kembali." Kata Hinata yakin. Lalu ia melihat ada sebuah truk yang akan melewatinya,Hinata meyakinkan dirinya melepaskan payungnya dan berjalan ketengah jalan sambil memegang erat bonekanya. Hinata menutup matanya saat truk itu mendekatinya.
TINN..TINNN…. TINN.. TINNNNNNN…
SREETTT
Hinata membuka matanya saat tubuhnya tidak merasakan sakit. Lalu ia menengok kesamping menemukan orang yang sedang memeluknya. Naruto.
"Hei,kau sudah gila? Apa kau ingin mati atau apa?!" teriak Naruto.
"Kau merusaknya."
"Apa?"
"Kau merusak semuanya! Kau bilang padaku untuk pergi dan berhenti mengikutimu. Kau bilang,kau tidak peduli lagi!" teriak Hinata.
"Ayo kita pergi!" kata Naruto lalu berjalan. Merasakan Hinata tidak mengikutinya,ia menoleh menatap Hinata.
"Ada apa?"
"Kau menyuruhku untuk berhenti mengikutimu." Kata Hinata. Lalu Naruto berjalan kebelakang Hinata dan menjadi Naruto yang akan mengikuti Hinata. Seketika Hinata tersenyum senang. Lalu ia kembali mengambil payung dan bonekanya dan menyusul Naruto.
"Tunggu aku!"
CHAPTER 2
[TAKDIR? KEBETULAN YANG MISTERIUS]
"Aku sedikit merasa bersalah karena merasa begitu bahagia. Kau tahu,suamiku adalah orang yang baik." Sasuke sudah pulang dengan selamat dan menemukan ibu tirinya sedang menelpon seseorang diruang tamu. Langsung saja Sasuke menuju kedapur mengambil minum.
"Anakku?" mendengar itu Sasuke dan ibu tirinya saling berpandangan.
"Dia orang yang selalu bilang sekolah itu mudah. Ya,ia mendapat nilai yang bagus. Dia baik dirumah. Tentu saja." Mendengar itu Sasuke berjalan melihat ibu tirinya. Lalu mengangkat gelasnya dan..
PRANGGG
Sasuke dengan sengaja melepaskan gelasnya dan menjadi pecah berantakan. Mendengar ada suara barang pecah langsung saja ibu itu menatap Sasuke.
"Ahh,airnya mendidih. Sampai nanti ya." Ibu itu memutuskan sambungan dan mendekati Sasuke.
"Bersihkan." Saat Sasuke hendak pergi,ibu itu menahan tangannya.
"Bersihkan agar tidak ada yang terluka."
"Bukankah seharusnya 'Apa kau baik-baik saja?' respon yang norma?" tanya Sasuke.
"Ya,aku tidak normal. Kau sudah tau itu."
"Huhh,aku tidak ingat 'caranya bersikap baik padamu'. Ohh,aku kira ini yang terbaik."
SRETT
BRUKK
Sasuke mendorong tubuh ibu tirinya itu kasar sampai ibu itu terjatuh. Sasuke tidak peduli dan langsung menuju kekamarnya.
"Aaauuu.." rintih ibu itu karena tangannya terkena serpihan dari gelas yang dijatuhkan Sasuke.
Naruto dan Hinata juga sudah sampai dirumah. Hinata sudah mandi duluan dan sedang menunggu Naruto untuk makan malam bersama.
KRINGG.. KRINNGG.. KRIINGGG…
Ponsel Naruto berbunyi,langsung saja Hinata melihat siapa yang menelpon Naruto.
[ Kiba ]
Naruto dengan santai menikmati butiran air yang jatuh dari showernya. Membiarkan air mengalir diwajahnya.
SREKK
"Hei!" teriak Naruto saat Hinata langsung membuka pintu kamar mandi tanpa diketuk dulu sambil menyerahkan ponselnya.
"Kau ini sedang apa? Keluar! Keluar! Hahhh!" teriak Naruto saat Hinata tidak bergerak sama sekali.
Lalu Naruto langsung mengambil ponselnya dan mengusir Hinata keluar.
Naruto keluar dengan pakaian yang lengkap tentu saja. Ia sedang mengintrogasi Hinata diruang tamu.
"Aku tidak melihat apa-apa! Aku tidak melihat pemandangan yang bagus." Kata Hinata.
"Pemandangan yang bagus?"
"Kau tidak pernah bilang padaku bahwa aku tidak boleh melihat itu. Ini tidak adil."
"Tidak adil?"
"Aku juga akan melihatnya saat kau mandi! Apa sekarang itu adil! Dasar mesum!" kata Naruto. Bukannya takut,Hinata malah melototi badan Naruto dengan serius. Naruto yang tahu pandangan Hinata,langsung saja menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lihat? Berpalinglah!"
"Kau juga punya itu! Aku yakin aku pernah melihat itu. Perut coklat aku melihatnya di tv! Biarkan aku melihatnya sekali lagi!" seru Hinata senang.
"Kau benar-benar…"
BRUKK
Naruto melayangkan handuknya ke Hinata namun sayang tidak tepat sasaran.
"Aduh! Apa yang kau lakukan!" seru nenek saat dilempari handuk oleh Naruto.
"Nenek! Dia menghampiriku saat mandi. Lalu dia melihatku. Ini sangat menyebalkan. Kita membutuhkan CCTV dikamar mandi sekarang." Kata Naruto bercerita kepada neneknya.
"Ya ampun,cucuku sedang marah rupanya!" seru nenek.
"Adalah kesalahan untuk membawanya kembali. Kita usir saja besok."
"Itu masalah kecil! Aku tidak akan melihatnya! Mulai sekarang aku tidak akan melihatnya lagi. Hanya saja jangan mengusirku keluar." Kata Hinata sedih.
KRUUYUUKK
"Ya ampun! Aku bisa membuat suara seperti itu?" tanya Hinata sambil memegang perutnya.
"Kau benar-benar aneh!" timpal Naruto.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya nenek.
"Kapan ya aku makan yang enak? Kenapa aku selalu lapar? Siapa sih yang membuat aturan makan tiga kali sehari?" seru Hinata lalu pergi keruang makan.
"Hah? Aku harus hidup dengan si cabul gila itu? Ini berbahaya!" seru Naruto sambil mencak-mencak tidak jelas.
Akhirnya Naruto makan bersama Hinata. Berdua. Karena nenek sudah makan duluan tadi. Naruto menatap Hinata yang sedang berusaha mengambil kacang di mangkuk dengan sumpitnya. Hinata begitu serius berkonsentrasi.
"Yahh! Asik! Aku sudah lebih baik kan?" seru Hinata berhasil mengambil kacangnya. Langsung saja ia makan dengan nasinya.
"Ini benar-benar enak. Aku harap senpai juga bisa makan ini." Kata Hinata.
"Senpai? Siapa dia? Apa kau ingat seseorang?" tanya Naruto.
"Tidak. Aku merasa bersalah kalau makannya sendirian."
"Siapa dia? Beritahu aku jika kau ingat seseorang. Aku akan menemukannya." Desak Naruto.
"Kau tidak bisa melihatnya. Dia bukan manusia."
"Ehh? Apa kau melihat hantu?" tanya Naruto sambil menengok kebelakangnya. Tanpa Naruto tahu,Hinata menutup wajahnya dengan rambut panjangnya. Sehingga Hinata mirip dengan sadako. Tapi sadako cantik.
"Hihihihi!" saat Naruto berbalik,ia kaget karena Hinata mirip sadako.
"Huuaa!"
"Kau takut ya.."
"Huhh,aku seharusnya tidak mencoba bercakap-cakap denganmu." Kata Naruto kesal lalu melanjutkan makannya.
"Ini enak." Seru Hinata sambil memakan nasinya.
Setelah selesai,Hinata dan Naruto mencuci piring masing-masing dan setelah itu kembali kekamar. Naruto yang sudah sampai dikamarnya langsung menuju kelemarinya,menatap seragam sekolahnya itu. Lalu ia ambil dan membuangnya ditempat sampah. Sebelumnya,ia ambil dulu baju Hinata yang sempat ia buang.
"Ahh,enaknya. Kau punya tangan yang bagus." Suara nenek terdengar sampai luar. Nauto yang penasaran mengintip sebentar karena pintunya tidak sepenuhnya tertutup.
"Ya,itu bagus."
"Tidak sakit? Apa benar-benar enak?" saat Naruto sudah bisa melihat,ternyata Hinata sedang memijit pundak nenek.
"Nenek,bisakah kau melakukannya untukku juga?" pinta Hinata.
"Apa kau benar-benar perlu meminta seorang wanita tua untuk memijatmu?" tanya nenek,lalu ia membalikan badan,memijit pundak kecil Hinata.
"Aakkhh.. Aaakkhh.." rintih Hinata kesakitan.
"Ini enakan?" tanya nenek sambil memijit Hinata.
"Ini tidak enak." Kata Hinata. Melihat itu,Naruto tersenyum lalu pergi kekamarnya.
"Ohayou!" sapa Hinata saat Naruto sudah turun. Dan yang lebih mencengangkan lagi,Hinata memakai seragam Naruto yang sudah ia buang semalam.
"Hei lepaskan itu! Kenapa kau mengambil barang yang sudah kubuang?!"
"Aku yang menemukannya,jadi ini milikku." Kata Hinata lalu bersembunyi dibelakang nenek yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Apa yang kalian lakukan pagi-pagi begini?" kata nenek menengahi mereka.
"Aku membuangnya ditempat sampah,bukannya untuk kau pungut. Berikan!"
"E-ehh. Kau memutuskan untuk pindah? Kau tidak harus pergi jika itu sulit." Kata nenek.
"Aku tidak ingin menghabiskan uangmu,nek. Kau bekerja sangat keras untuk mendapatkan uang itu."
"Ayo sini!"
"Tapi ini lebih baik daripada pakaian nenek." Kata Hinata.
"Itu pakaian laki-laki. Kau bahkan tidak bisa memakai dasi. Aku akan memperbaikinya. Ayo kesini!" kata Naruto saat melihat Hinata mengikat dasinya asal-asalan.
"Benarkah?" seru Hinata senang,lalu menghampiri Naruto.
Naruto mulai melepas ikatannya,sementara Hinata terus menatap Naruto. Saat pandangan mereka bertemu,langsung saja Naruto merangkul leher Hinata dan memaksa Hinata lagi.
"Lepaskan!" seru Naruto.
"Tidak akan!" seru Hinata tak kalah keras.
"Lepaskan!" seru Naruto.
"Tidak akan!" seru Hinata lebih keras lagi.
"Bisakah kalian berhenti? Ini. Belikan Hinata pakaian saat kau beli seragam barumu." Kata nenek lalu menyerahkan beberapa lembar uang serratus ribuan.
SRETT
"Kau benar-benar baik nek." Seru Hinata sambil mengambil uangnya sebelum Naruto.
"Buang itu. Atau aku tidak akan membelikanmu pakaian baru." Ancam Naruto.
"Mengapa kau ingin membuang semuanya? Akan jadi limbah kalau dibuang." Kata Hinata polos.
"Lalu pakai saja terus. Sekarang sudah banyak gadis yang memakai baju musim panas. Mereka tampak seperti malaikat." Kata Naruto.
"Malaikat? Benarkah?"
Siangnya,Naruto dan Hinata pergi ke pusat pembelanjaan di Konoha. Naruto sibuk mencari baju yang cocok untuk Hinata sementara Hinata hanya diam sambil melihat-lihat orang yang berlalu-lalang.
"Bagaimana yang ini?" tanya Naruto sambil memperlihatkan kemeja kuning.
"Terlihat seperti nanas." Kata Hinata sambil menggelengkan kepalanya. Lalu Naruto mencari lagi baju yang berbeda.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Naruto sambil menyodorkan kemeja kotak-kotak berwarna biru kehijauan.
"Seperti semangka." Tolak Hinata lagi.
"Ini jeruk dan ini terong. Lakukan apapun yang kau mau! Kau sendiri tidak bisa berpakaian." Naruto kesal sambil menyodorkan baju berwarna orange dan ungu.
Semua baju yang dipilihkan Naruto,Hinata tolak semua. Naruto sudah lelah dengan Hinata,akhirnya mereka pergi ketoko seragam untuk beli seragam baru buat Naruto.
Hinata sedang menunggu Naruto yang sedang mencoba seragam barunya.
CKLEKK
Pintu ruang ganti terbuka,keluarlah Naruto dengan seragam putih,bagian kerah dan dibawah bagian lengan bermotif kotak-kotak berwarna coklat,dan celana panjang berwarna hitam.
"Wahh,ini cocok untuk mu.." seru Hinata sambil memandang Naruto.
"Ahh,lepaskan~" gumam Naruto pelan saat Hinata mulai rewel lagi.
"Pacarmu sangat lucu." Kata pegawai yang melayani Naruto sambil menatap keakraban Naruto dan Hinata.
"Dia bukan pacarku. Lepaskan aku." Titah Naruto.
"Belikan aku yang itu." Seru Hinata sambil menunjuk seragam yang sama dengan Naruto,untuk cewek tentunya.
"Cobalah,ini model baru. Ini pasti terlihat bagus." Kata pegawai disana.
"Tidak,terima kasih. Aku akan beli yang lain." Kata Naruto sambil menurunkan tangan Hinata agar tidak menunjuk seragam itu lagi.
"Tidak! Aku ingin yang itu! Aku akan terus memegangmu sampai kau membelikannya untukku." Seru Hinata sambil memegang erat lengan tan Naruto.
"Cobalah dulu." Kata pegawai itu sambil menyerahkan satu set seragam yang masih dibingkus rapi. Langsung saja Hinata mengambilnya dan masuk keruang ganti.
BLAMM
"Hinata! Aku akan membelikanmu yang lain!" seru Naruto pelan tepat didepan pintu.
Akhirnya Naruto menunggu Hinata keluar dari ruang ganti. Sudah lima belas menit tapi Hinata belum keluar. Sampai-sampai took sudah sepi dan pegawai tadi sudah pergi ketempatnya. Naruto mondar-mandir menunggu Hinata dengan sabar.
CKLEKK
Wahhh…
Hinata sangat cantik saat memakai seragam yang pas ditubuh mungilnya itu. Sampai-sampai Naruto terpaku melihatnya,rona merah diwajah ayunya sangat menggemaskan,ingin rasanya ia membelai pipinya yang mulus itu. Seragam putih bagian kerah dan bawah bagian lengan bermotif kotak-kotak berwara coklat,serta ada tali coklat dibawah kerah sebagai pitanya dan rok lima centi diatas lutut kotak-kotak berwarna coklat juga.
"Aku ingin yang ini." Kata Hinata manja sambil memegang tangan Naruto lagi.
"Kau sudah mencobanya. Ayo kita pergi untuk beli yang lain."kata Naruto sambil mencoba melepaskan pegangan Hinata.
"Tapi aku ingin ini!" seru Hinata lagi.
"Kau bahkan tidak pergi kesekolah. Kenapa mau beli seragam?" tanya Naruto.
"Coba pikirkan! Kau tidak perlu pergi kesekolahkan untuk memakainya. Nanti aku juga akan sekolah." Seru Hinata.
"Hahh…" Naruto mendesah pasrah. Percuma ia berdebat dengan Hinata. Pasti Hinata yang menang.
Akhirnya Naruto membeli seragam mereka berdua. Naruto mengganti bajunya yang tadi ia pakai,sementara Hinata terus memakainya.
Disebuah restoran,Keluarga Uchiha sedang berkumpul disalah satu meja dekat jendela. Orangtua duduk berdampingan dan Sasuke duduk didepan sang ibu.
"Ayah rasa besok tidak sempat meluangkan waktu. Jadi mari kita rayakan sekarang." Ucap Fugaku kepada sang anak. Karena sebentar lagi,Sasuke akan ulang tahun. Dimeja sudah tersedia makanan lezat serta kue tart coklat berukuran sedang.
"Selamat ulang tahun,Uchiha Sasuke." Seru Fugaku.
"Aku juga tidak punya waktu besok. Aku punya rencana dengan ibu." Kata Sasuke datar sambil melirik wanita dihadapannya itu.
"Aku sebenarnya ingin memberimu hadiah,tapi aku putuskan tidak memberikanmu hadiah,takutnya kau tidak suka. Tidak apa-apa kan?" tanya sang ibu.
"Tentu saja. Yang kita butuhkan hanyalah pergi bersama." Kata Fugaku. Tapi Sasuke cuek dan memiilih melihat pemandangan diluar. Fugaku yang melihat anaknya mengaihkan pandangannya ingin sekali menegurnya,tapi ditahan oleh wanita yang berada disampingnya itu.
"Tidak apa-apa." Kata wanita itu pelan.
Fugaku dan istrinya makan makanan yang tersedia,Sasuke masih menatap jendela yang berada disampingnya. Lalu Naruto dan Hinata berjalan lurus,sementara Hinata berhenti didepan kaca. Tepatnya dihadapan Sasuke. Hinata sibuk membenarkan pakaiannya tanpa melihat Sasuke yang berada didepannya. Sasuke yang melihat itu,hanya memandang Hinata aneh. Sang ibu yang melihat gelagat aneh anaknya langsung melihat apa yang Sasuke lihat.
"Eekkhmm.." sang ibu bergumam pelan sambil mengalihkan pandangannya.
"Dia sekolah disekolahanmu. Apa dia temanmu?" tanya Fugaku saat mengenal seragam yang dipakai Hinata.
Lalu saat Sasuke lihat lagi,Hinata sudah diseret oleh Naruto untuk pergi.
"Haruskah aku memilih tempat yang lain? Aku tidak kepikiran ini akan membuatmu tidak nyaman dengan semua siswa disekitar sini." Kata Fugaku saat melihat istrinya.
"Aku akan lebih tidak nyaman. Jika mereka tahu aku makan malam dengan seorang guru." Perkataan Sasuke jleb banget dihati ibu tirinya itu.
"Aku akan membeli hadiahku sendiri. Urus saja pembayarannya. Aku akan pergi duluan. Kami tidak ingin anak-anak melihat kami bersama." Lanjut Sasuke lalu pergi keluar dari restoran.
"Bayarlah lalu pergi." Kata istrinya itu menyusul Sasuke.
"Baiklah."
"Sasuke! Tunggu aku!" seru ibunya.
"Siapa yang peduli jika anak-anak melihat kita? Tidak ada yang perlu disembunyikan."
"Tentu saja ada yang kita sembunyikan."
SRETTT
BRUKK
"Tas ku!" seru ibunya Sasuke jatuh terduduk saat merasakan tasnya diambil oleh seseorang yang tadi menabraknya.
"Ada apa?" tanya Fugaku saat melihat istrinya jatuh.
"Sayang! Tas ku! Tas ku!"
"Sasuke! Jaga ibu! Tunggu disini!" seru Fugaku saat tahu kalau istrinya sedang dirampok,langsung saja ia lari mengejar pencuri itu.
"Minggir!" seru pencuri itu sambil berlari dengan cepat sampai ada beberapa orang yang terjatuh akibat dorongan pencuri itu. Naruto juga tersenggol bahu pencuri itu. Namun bisa ia tahan.
"Hati-hati dia jambret!" seru Fugaku yang sudah hampir sampai.
"Jambret? Tangkap dia!" seru Hinata sambil berlari kearah jambret itu.
"Hei! Kenapa kau mengikutinya itu berbahaya!" seru Naruto,lalu pergi mengejar Hinata.
"Aaakhhh! Akkhhh!" seorang laki-laki merintih kesakitan sambil memegang punggungnya. Sepertinya ia terkena serangan dari pencuri itu. Langsung saja Fugaku membantu laki-laki itu. Tanpa diduga,Sasuke juga berlari mengejar si jambret itu.
Pencuri itu berbelok disalah satu gang,namun jalan itu pencuri itu ingin keluar,Naruto sudah menghadang duluan.
"Ahh,sial! Aku terjebak!" gumam pencuri itu. Lalu ia menaruh tas yang ia curi dimeja dekat sana. Naruto mencoba memukulnya namun dengan sigap pencuri itu menghindar. Lalu Naruto membungkukkan badannya dan mendorong pencuri itu menghantam dinding. Lalu pencuri itu mendorong Naruto sampai mundur beberapa langkah. Pencuri itu mengambil potongan kayu yang tergeletak disana.
"Tunggu! Sanailah dulu! Ada sesuatu yang harus aku lakukan." Cegah Naruto.
Hinata yang sudah sampai disana hanya diam beberapa langkah dibelakang Naruto. Hinata yang melihat pencuri itu memegang kayu,ia menunjuk kayu itu menggunakan kekuatannya.
SRREKK
Tiba-tiba kayu yang dipegang pencuri itu melayang kebelakang. Naruto menggunakan kesempatan itu untuk memukul pencuri itu. Hinata yang telah menggunakan kekuatannya langsung lemas sambil menyenderkan kepalanya didinding itu. Tapi dengan cepat pencuri itu merangkul leher Naruto dari belakang (dengan kencang tentu saja).
"Lepaskan!" teriak Naruto. Lalu ia berjalan kedinding dan membuat pencuri itu tertimpa tubuh Naruto. Langsung saja Naruto menahannya supaya tidak bergerak.
"Akhirnya aku menemukanmu!" teriak Fugaku yang sudah muncul dan memborgol kedua tangan dibelakang punggung pencuri itu. Sasuke muncul belakangan disamping Hinata.
SYUUTT
Hinata oleng kesamping dan langsung saja Sasuke menangkapnya.
"Hei?!"
"P-pa-payung." Gumam Hinata pelan.
"Tidak buruk. Kau yang menangkapnya?" tanya Fugaku.
"Ya."
"Bagus."
"Bangun!" seru Fugaku. Naruto juga ikut berdiri lalu membalikan badannya. Naruto terkejut melihat Hinata yang tengah dipegang sasuke.
"Hinata! Hinata! Bangun!" teriak Naruto sambil memegang wajah Hinata.
"A-aku b-b-benar-b-benar l-le-lah." Gumam Hinata.
Setelah pencuri itu dibawa oleh salah satu bawahannya Fugaku,Fugaku dan Sasuke kembali dimana istrinya ditinggal.
"Sayang! Sayang!"
"Kau tidak apa?"
"Ya. Kau ketakutan?"
"Ini." Kata Sasuke sambil menyerahkan tas kepada ibunya. Langsung saja ibunya itu membuka tasnya dengan tergesa-gesa.
"Apakah ada yang hilang?"
"Huhh,tidak."
"Terimakasih sudah menagkapnya,Sasuke." Ucap ibunya tulus.
"Itu sangat berani,Nak. Kau meniru dariku."kata Fugaku senang.
Naruto dan Hinata pulang kerumah. Karena Hinata merasa lelah,jadinya Naruto menggendong Hinata dipunggungnya sambil membawa belanjaannya.
"Kau bisa tertidur dimana saja. Kau punya bakat menakut-nakuti orang. Kenapa kau ingin terlibat kalau kau akan dalam bahaya? Orang yang ku tahu lari dari ketidakadilan dan menyakiti orang lain untuk meindungi diri. Tapi kau berbeda dari kebanyakan orang yang ku tahu. Aku pasti menjadi jenis terburuk dari manusia yang kau tahu. Aku selalu memberitahumu untuk tersesat dan membuang barang-barangmu." Kata Naruto sambil mengeratkan gendongannya.
"Jadi jangan tinggalkan aku. Aku tidak punya tempat untuk pergi selain dirimu."
"Turun." Kata Naruto sambil melepaskan gendongannya.
"Aku masih pusing. Dunia berputar. Kakiku lelah." Rengek Hinata. Lalu Naruto kembali menggendong Hinata.
"Ohh ya,kenapa nenek tidak punya anak? Apakah nenek belum menikah?" tanya Hinata polos.
"Apa kau bodoh? Ayahku adalah anaknya."
"Oowhh.. "
"Kau jangan sampai meludah dipundakku." Kata Naruto.
"Oke." Lalu Hinata menundukan kepalanya ke pundaknya Naruto.
"Masukan lidahmu!" seru Naruto saat merasakan Hinata mendekati pundaknya. Langsung saja Hinata memasukan kembali lidahnya dan memeluk erat pundak Naruto.
'Sungguh beruntung bahwa itu kau,yang bertemu denganku pertama kali setelah aku menjadi manusia.' Hinata membatin mensyukuri keadaannya sekarang.
Pagi ini,Hinata menjemur pakaian lamanya dan boneka yang ia temui di atap rumahnya. Atau lebih tepatnya rumahnya Naruto. Ia tiduran dibawahnya,karena dibawah jemuran itu ada seperti bangku kayu yang lebar. Sesekali ia menghentak-hentakan kakinya yang masih napak di lantai.
"Apa yang kau lakukan disini kalau kau tidak perlu mengisi energy lagi?" sebuah suara mengagetkan Hinata. Langsung saja ia mencari suara itu dan menemukan senpainya yang duduk disebelahnya.
"Senpai! Apa yang membuatmu begitu lama? Aku sudah menantikanmu!" seru Hinata.
"Tidak ada yang terjadikan?"
"Ini agak aneh. Kekuatanku kembali. Tapi aku tidak bisa menggunakannya sesuka hati."
"Apa yang terjadi setelah kau menggunakan kekuatanmu?"
"Aku merasa lelah dan mengantuk. Aku baru bisa bangun setelah beristirahat sebentar."
"Jangan gunakan kekuatanmu lagi untuk urusan manusia."
"Uhm!" Hinata mengangguk menyetujui perkataan 'Senpai' nya itu. Lalu 'Senpainya' menyerahkan sebuah amplop yang dari tadi ia pegang kepada Hinata.
"Kau akan membutuhkan dokumen-dokumen ini untuk hidup sebagai manusia. Kau memiliki nomor jaminan social. Kau harus baik-baik saja sementara waktu."
"Arigato. Tapi kenapa ada banyak?" tanya Hinata saat melihat isinya.
"Bagaimana dengan dia?"
"Kau tidak tahu. Dia selalu merendahkanku dan dia selalu jahat. Dia mengomel dan mengolok-olokku." Kata Hinata.
"H-hal ini terjadi saat m-menyelamatkannya. Aku pikir mencari t-tahu tentang dia a-akan memberikanku j-jawaban. Hehe." Hinata gugup saat diberi pandangan oleh 'Senpai'nya itu.
"Beritahu aku jika menemukan sesuatu."
"Apa kau akan pergi?" tanya Hinata saat melihat 'Senpai'nya berdiri.
"Aku tidak punya waktu untuk bertemu dengan manusia."
CLINGG
"Apa dia menyebutku manusia?" tanya Hinata sedih.
Diruang tamu,nenek sedang duduk disofa sambil membuka bungkusan obat ditangannya. Langsung saja ia telan dibantu dengan air putih.
TAP.. ..
Saat Hinata mendekati nenek. Nenek itu kaget dan langsung merapikan obat-obatannya. Lalu kembali menyetrika pakaian yang sempat tertunda. Hinata lalu duduk didepan meja setrikaan yang lesehan.
"Apa harus kau menyetrika pakaian?" tanya Hinata.
"Aku ingin Naruto bersekolah dengan baik seperti layaknya pakaian lurus." Kata nenek. Lalu Hinata pergi berlari kekamarnya mengambil baju seragam yang kemarin ia beli bersama Naruto kehadapan nenek.
"Setrika punyaku juga."
"Mengapa kau membeli ini? Apa kau ingin bersekolah?" tanya nenek kaget saat melihat baju yang Hinata bawa.
"Sama seperti Naruto-kun."
"Kalau kau bersungguh-sungguh. Aku yakin disitu ada jalan." Kata nenek bijak.
"Tapi,apa kau menyukai Naruto?" tanya nenek serius.
"Tidak. Itu karena~"
'Ya ampun! Dia tidak akan percaya padaku.' Hinata sadar sebelum ia mengatakan yang sebenarnya.
"Ya!" seru Hinata.
"Benarkah?" seru nenek senang.
"Ahh! Kau pria yang beruntung." Seru nenek saat melihat Naruto menghampiri mereka berdua.
"Nenek! Aku tidaklah semudah itu! Apa itu pengakuan? "
"Weekk!" Hinata menjulurkan lidahnya didepan Naruto.
Sasuke bermain drum pad dikamarnya dengan wajah murung. Ia kembali mengingat gadis yang ia bantu tadi siang. Ia masih ingat saat gadis itu menyebutnya 'Payung'. Ia kembali mengingat kalau gadis itu yang ia kasih payungnya saat hujan deras didepan toko.
Ahhh,akhirnya jadi juga chapter 2.. haha.. makasih yang udah review..
aku udah selesai ujian nih.. dan nilainya cukup memuaskan.. semoga aku beruntung di SMA nanti.. hehe..
see you,bye..
