"Reiji Richter"
Aku melangkah pergi meninggalkan pasangan mata yang tengah membulat, melihatku yang mendinginkan uluran tangan Cordelia layaknya kacang goreng(?)
"Hey, jangan keterlaluan dengan perempuan dong. Masak tangannya dilalapin angin." Raito memecah keheningan kami.
Yui menghampiriku, melewati ucapan Raito yang tak bernyawa itu. Tatapan matanya ia tajamkan, menusuk sepasang irisku yang setahun ini terpaku padanya.
"Kau harus berkenalan dengan sepupuku dengan baik, kalau kau menolak ucapanku akan kubunuh kau!" Bisik Yui di telingaku yang jujur saja, membuatku sedikit merinding.
Ditariknya tanganku menuju ke arah Cordelia. Space langsung saat ia menggenggam tanganku, hangat.
"Cordelia, maaf ya. Temanku yang satu ini memang sedikit pemalu.""pemalu!?"
Sebegitu berusahanya dia membuat kesanku terlihat baik di depan Cordelia? Perempuan yang kusukai ini memang sedikit aneh.
"Tak apa. Senang bertemu denganmu, Reiji-san." Tutur Cordelia sambil membungkuk hormat.
"Ngomong-ngomong, sebulan lagi saudara kembarku akan datang. Kemungkinan personel band kita akan bertambah. Dia pintar main gitar bass lho." Kami semua terdiam mendengar penuturan Raito.
Kedatangan sepupu Yui saja membuatku kaget, dan nantinya akan ada Raito KW. Artinya pula, akan bertambah raja gombal baru dalam band. Mau jadi apa Diabolik nanti?
"Apa dia sama tampannya denganmu, Raito-kun?" Kanato mulai menyambung.
"Sayangnya, kami tidak identik." Raito menunduk lesu.
Kanato menghampirinya, dan mereka pun memulai drama anak lagi( hal yang sudah biasa). Aku yang mulai jenuh pergi dari kelas, pulang.
Udara dingin merasuk ke tubuhku. Rupanya aka turun hujan. Langit mendung menjadi alarm peringatan bahwa aku harus segera sampai di rumah. Tapi, kuhiraukan itu. Liquid air hujan mulai menetes, meresap masuk membasahi balutan kain yang membungkus tubuhku.
"Besok, ulang tahun kedatangannya"
Bangun pagi mungkin jadi kebiasaanku, tapi membuat bekal spesial di pagi hari menjadi pengalaman pertama bagiku. Hari ini, tepat satu tahun Yui bersekolah di sekolah yang sama denganku. Selama itulah, dia memberi debaran di jantungku. Ini adalah kesempatanku untuk merayakan hari genapnya satu tahun ia berada di sini, sekaligus kesempatan untuk menyatakan perasaanku padanya.
Heeh, bajuku basah. Entah baju apa yang akan kupakai sekolah kali ini, seragam cadanganku juga kotor gara-gara minuman soda Kanato waktu itu. Mungkin, baju kasual akan cocok kupakai.
"Reiji! Keluarlah, sopirmu sudah datang!"
"Siapa yang kau bilang sopir, Kanato?"
" Tentu saja kau, Subaru-kun. Kau kan yang menyetir, Raito juga tahu hal itu."
"Jangan kau bawa namaku, Kanato-kun. Kalo Subaru-kun memukulku dengan stik drumnya lagi, gitar kesayanganmu itu akan kuhancurkan."
"Re..i...ji?"
"Eh, kenapa kau memanggil Reiji-kun seperti itu Subaru-kun?"
"Kanato. Lihat itu!"
Tiga pasang mata kini menatapku, mata mereka seolah bertanya "Apa yang terjadi padamu, Reiji?". Ya, aku paham maksud mereka.
"Aku kehujanan kemaren." Ungkapku terhadap mereka yang tak mau berhenti menatapku.
" Kekuatan hujan, amazing! Cowok cool, Reiji, kini menjadi manis karena hujan!" Kanato kini mulai baper melihat penampilanku kali ini.
Tampang seperti biasa, gaya rambut dan sepatu yang masih sama seperti kemarin. Mungkin baju berwarna "pink" yang tengah kupakai kali ini menjadi sebab terperangahnya mereka. Memang konyol, tapi warna ini adalah warna kesukaan Yui. Hari ini akan menjadi hariku bersamanya.
" Reiji, apa kau sakit?" Tanya Subaru yang membuatku tersadar dari lamunanku. Kutatap matanya, kuangkat sebelah alisku seolah bertanya "Apa maksudmu?"
"Pipimu merah."Lanjutnya, sembari beralih menatap ke arah jalanan di depannya.
"Ahh, Subaru-kun perhatian sekali dengan Reiji-kun." Sela Kanato yang serasa mengejekku.
"Hey, Subaru-kun! Pipinya itu memerah karena malu duduk di sampingmu. Ahahaha...Reiji-kun blushing!" Raito menyela.
Lagi-lagi mereka berbicara seperti burung yang berkicau, tidak bisa berhenti. Kuhiraukan mereka. Sekolah sudah dekat, dan aku akan segera memisahkan diri dari mereka.
"Tapi..apa tidak apa-apa jika kau ke sekolah tanpa memakai seragam? Kalau kau dihukum gimana?" Tanya Raito, yang menurutku tak beralasan.
"Tidak akan! Keluarga Richter adalah sponsor terbesar di sekolah kita, mana mungkin mereka berani menghukum Reiji." Sambung Kanato yang serasa tengah mengobrol dengan teddy bearnya.
"Kalian ngebahas apaan sih, tidak penting! Kita sudah sampai di sekolah, jadi turunlah dari mobilku!" Bentak Subaru dari dalam mobil, yang refleks membuatku turun dan pergi tanpa menunggui mereka.
"Dan Kanato, tinggalkan bonekamu itu di mobil! Memalukan!"
Kelas yang ricuh akan mereka yang tengah membicarakanku, membuatku semakin muak. Hal itu membuatku semakin betah untuk membuang muka mengahadap jendela.
Terlihat dari kaca transparan di depanku, sebuah mobil yang familiar memasuki gerbang sekolah. Itu Yui! Sekuntum mawar putih telah kusiapkan di dalam tasku, berdampingan dengan sekotak bento yang kubuat tadi pagi. Mungkin ini saatnya aku menyatakannya..
"Yui, aku mencintaimu"
-TO BE CONTINUED-
