Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rating: T

genre: romence

Warning : Semi Canon, OOC, Absurd, typo, etc.

Naruto tak pernah berpikir, mengira atau bahkan mengharapkan dirinya akan menjadi seorang pegawai toko bunga. Kenyataannya kini ia telah resmi menjadi pegawai di Yamanaka Flower. Dengan apron yang terpakai sebagai bukti yang paling jelas. "Huft, ini menyebalkan"Ya, itulah kata yang ia keluarkan saat pertama kali mengenakan seragam kerjanya.

Hal menyebalkan lainnya bagi Naruto adalah Amukan dari bosnya yang mengiringi kedatangannya pagi ini. Yamanaka Ino memarahinya karena ia telat. Naruto memang bangun kesiangan di hari pertamanya kerja. Tapi semua itu ada alasannya. Tadi malam, ia harus tidur larut malam yang disebabkan oleh dirinya harus pergi ke dokter karena pusing yang begitu menyiksa berkat terkena lemparan vas bunga dari Ino kemarin.

"Kau mau bekerja atau berkunjung? Kau tak punya jam di rumah,ya. Liat jam berapa nih!?"Marah Ino pada pegawai barunya. Rasanya 7 hari bekerja disini akan terasa seperti satu tahun bagi Naruto. Karena omongan menyesakan hati yang akan terus ia dengar selama bekerja dengan Ino.

"Cowo kok kerja di toko bunga"

"Naruto kesurupan apa sih? Sampe mau kerja disana"

"mungkin kepalanya kepentok ujung meja"

Begitulah seterusnya ucapan-ucapan para warga desa yang menyaksikan Naruto tengah menyirami bunga di depan toko Yamanaka. Dengan iklas dan tabah, Naruto tetap menjalankan perintah dari Ino. Ia tetap berdiri tegak dengan senyum khasnya yang terus merekah. Baginya ini bukanlah sesuatu yang memalukan, karena dia sedang bertanggung jawab dengan-hmm, kesalahannya.

Bagi maniknya semua adalah hal baru. Peralatan seperti sekop pun ia tak tau. Wajar saja yang sering ia pegang adalah kunai dan suriken. Tak hanya itu, dia pun tak tau alasan yang menyebabkan kotoran hewan harus di masukan ke dalam tanah.

"Jadi, aku harus menaruh kotoran ini ke seluruh tanaman?"Ucapnya sembari menggaruk belakang kepala karena bingung. Namun ia tetap melakukan hal itu. Karena dirinya takut malah kena semprot dari bosnya. Dengan perlahan ia mengorek tanah pada pot hitam besar. Disaat sedetik saja pupuk itu hampir menyentuh tanah, ide hebat tiba-tiba muncul di dalam benaknya.

"Dari pada aku kasih kotoran ini, lebih baik aku berikan parfum saja pada seluruh tanamannya. Pasti akan membuat seluruh tanaman disini semakin harum"Dirinya merasa bahwa kotoran tak mungkin memberikan bau wangi pada tanaman. Maka dia memutuskan untuk melakukan hal itu. Dan kebetulan sebuah toko parfum baru saja dibuka di sebrang Yamanaka Flower.

Kala sedang melakukan ide luar biasanya. Dari dalam toko suara langkah kaki terdengar. Dengan balutan pakaian ungu yang berpotongan di atas perut dan juga celana yang selaras warnanya. Yamanaka Ino keluar dari tokonya sambil mengangkat beberapa pot."Naruto, kau sudah mela-"

Ino menyeka omongannya setelah mendapati kelakuan bodoh dari pegawainya."Apa yang kau lakukan! Kau ingin kena vas bunga lagi yah?!"

"Eh, emang aku salah?"Tanya Naruto. Memang ia tidak menuruti perkataan Ino. Tapi ia rasa dirinya telah melakukan Inovasi yang akan mengubah dunia dalam perawatan tanaman.

"YA,SALAH"Bentak Ino pada Naruto.

"Tap-"

Belum Naruto menyelesaikan ucapannya ia sudah harus di paksa untuk menghindar dari lemparan maut pot-pot Ino.

SALAH LAGI...

Bagi Naruto wanita itu aneh. Sungguh dirinya tak dapat mengerti mahluk seperti apa wanita itu. Menurutnya Wanita seperti sebuah kode bom yang tak dapat di pecahkan. Sekali saja kita berurusan dengannya maka bom akan meledak. Dan sampai saat ini belum ada cara pemecahannya. Dari pengalamannya, Dia rasa apapun yang dia lakukan akan berakhir sebagai kesalahan. Dan itu akan membuatnya babak belur karena serangan dari Ino.

...

Setelah kejadian diluar yang tentu saja membuat Ino mengalami kerugian yang sangat besar. Naruto akhirnya ditempatkan oleh Ino di belakang meja kasir. Dia pun dapat satu tugas untuk menyirami tanaman di dalam.

"Jangan lakukan kesalahan lagi atau kepalamu akan aku jitak sampai pecah"

Mendengar perkataan yang begitu menyeramkan dari Ino, Naruto langsung bergegas untuk menyelesaikan tugasnya. Dirinya memutuskan untuk menyiram dari tanaman yang digantung di samping meja kasir.

Sambil menyenandungkan siulan, dia menjalankan tugasnya. Naruto terlihat asik melakukannya meski dirinya pun tak tau tanaman apa yang tengah dia siram, yang ia tau tanaman ini terlihat sangat terjaga dan sangat indah.

Naruto berusaha semaksimal mungkin untuk berhati-hati. Namun gadis yang tengah berjibaku dengan beberapa tanaman di halaman toko membuatnya terganggu. Apa lagi kala dara cantik itu berulang kali membenahi kuciran rambut pirangnya. Itu cukup membuat Naruto menelan ludah. Dan dapat membuatnya lupa akan yang ada di sekitarnya, termasuk para pembeli yang sudah emosi karena tak segera di layani oleh Naruto.

Saat Ino melirik ke dalam tokonya, hanya untuk memastikan kinerja Naruto. Pemuda bermanik biru lembut itu langsung menoleh ke arah lain dan mengontrol muka maupun jantungnya yang berdebar tak karuan sejak tadi. Dirinya tak mau ketahuan tengah memperhatikan bosnya sendiri.

Akan tetapi

"Naruto!?"Teriak Ino dari luar yang tiba-tiba malah masuk dan berjalan ke arah Naruto. Pemuda bersurai pirang itu mengadu giginya."Sial, aku ketahuan kayaknya"

Sembari menghirup nafas panjang, Naruto segera menggerakan badannya ke arah Ino sambil melontarkan senyuman ramah kepada bosnya. Naruto berusaha tetap tenang walau jidatnya sudah bercucuran keringat. "A-aku tak memperhatikanmu dari dalam kok, su-sumpah deh."

"Hah, kamu ngomong apa sih?! Cepet urusin pelangganya"Kata Ino yang langsung rusuh meladeni para pembeli.

Dengan datangnya Ino, tentu segera menghilangkan antrean pengunjung yang cukup panjang menumpuk. Ino berungkali meminta maaf kepada setiap pembeli yang mengeluhkan kinerja dari pegawai barunya yaitu Uzumaki Naruto. Memang tak semuanya mengomel ada pula yang diam namum memberikan tatapan super judes kepada mereka Berdua. Dan ada juga yang santai tapi minta potongan harga karena pelayanan yang buruk. Naruto benar-benar membuat kericuhan lebih parah hari ini.

"Kau bisa kerja ga?"Kata seorang ibu-ibu yang sudah agak tua kepada Naruto

"Maafkan kami atas kelambatannya, bu"Jelas Ino sambil merangkai bunga yang telah dipilih oleh pembelinya

"Enak ajah minta maaf, aku mau potongan harga"balasnya ketus pada Ino.

"Baik, kami akan memberi potongan 50%"

"GA, AKU MAU 85%"

"Apa 85%. Kau bukan sedang meminta potongan,bu. Kau lebih bisa dibilang sedang merampok kami. Atau jangan-jangan kau memang suka memperas orang, ya?" Saut Naruto yang tak terima permintaan potongan dari ibu tua tersebut.

DUAK

Baru saja setengah detik yang lalu Ino menghadiahkan Naruto sikutan keras ke perutnya.

"Jadi kau tak mau memberikan potongan 85%?"

Ino menggelengkan kepalanya lalu menjawab"Tidak, kami akan memberikan potongan kepadamu"Gadis dari klan yamanaka itu segera membereskan belanjaan ibu-ibu itu dan langsung memberikannya.

"Jangan pernah salah pilih pegawai, kau lihat sendirikan akibatnya. Jangan-jangan kau memilih dia jadi pegawaimu karena kalian berpacaran"Tuduh wanita tua itu sambil meninggalkan toko.

"Tidak-tidak, kami tak berpacaran. Mana mungkin aku mau dengan gadis galak seperti dia"ucap Naruto yang memasang senyum malu-malu di wajahnya.

"Jadi aku galak?"

Naruto sedikit terpental dengan pertanyaan Ino. Apa lagi nadanya tak sekeras saat pertama kali dia memarahi Naruto."Enggak" Jawab Naruto singkat. Naruto merasa jawaban itu sudah cukup. Dia pun tak mau berpanjang lebar karena takut salah berbicara.

"Jangan bohong, kau tadi bilang"Kata Ino sambil menginjak kaki Naruto.

Naruto menggaduh tak karuan. Dia sempat berjongkok dan memperhatikan kuku kakinya yang sedikit berdarah karena serangan brutal dari bosnya sendiri. Namun kini dia sudah berdiri walau sedikit pincang karena ngilu yang tak tertahankan

"Makanya jangan ngomong yang aneh-aneh"

Ino menghirup nafas panjang, ini adalah pertanda bahwa omelan Ino yang bagaikan musik rap akan segera terdengar"Sebenernya kau niat kerja disini ga sih, tadi di luar kau membuat tanaman-tanamanku layu, lalu tadi semua pelanggan marah karenamu. Dan mana yang telah kau siram disini? aku bahkan merasa seluruh bunga di dalam masih kering.

Naruto menunujuk tanaman di sebelah meja kasir. Ino terpaku ditempat. Dirinya hanya bisa berkedip. Sebelum dia menepuk jidatnya"Kau lahir di goa, ya? Apa kau tak bisa membedakan yang mana tanaman asli dan tanaman plastik?"

"Ohh, memang ini tanaman plastik,ya? Pantas saja keliatan bagus sekali" kata Naruto sambil meraba dedaunan tanaman yang ia siram. Dia baru sadar kalau itu memang bukan tanaman yang di ciptakan Tuhan.

"Jadi, dari tadi kau hanya minyiram tanaman itu"

"iya"Jawab enteng Naruto

Ino yang mendengarnya langsung melemparkan beberapa pukulan ke dada Naruto. Pemuda bersurai pirang itu hanya bisa diam tanpa berbuat apapun. Dia tau bahwa ini kesalahannya, tak masalah Ino melakukan semacam itu padanya. Saat Naruto sudah siap untuk menerima siksaan sejahat apapun dari gadis itu. Malah lamat-lamat pukulan Ino melelamah dan tergantikan dengan isakan tangis. Bahkan kepala Ino pun kini malah tersandar pada dada bidang Naruto.

"To-tolong pergi, tinggalkan aku."Kata Ino dengan sesak. Memang belankangan ini Putri yamanaka Mina tersebut tengah cengeng-cengengnya. Hatinya sedang sangat sensitif. Agaknya luka itu masih belum bisa sembuh sepenuhnya.

"Tapi aku belum menyelesaikan masa kerjaku"

"Pergi! Kau ku pecat. Janjimu adalah dusta seperti shik-"ino tak berhasil menyelesaikan kata-katanya karena suara dari luar toko mendahuluinya.

"Kupikir ada apa sampai tokomu terdengar sangat heboh dari luar. Ternyata ada Naruto disini"Itulah suara yang terdengar oleh alat pendangaran Ino. Bagi Ino suara ini tak asing. Ya, saat Ino mengarahkan netranya ke arah luar toko. Dia mendapati seorang pria berambut nanas dengan wajah malas menggandeng gadis dari Sunagakure.

"Sepertinya kami mengganggu kalian, ya?"Ino bergeming, tak bersuara sampai dirinya sadar apa maksud dari teman setimnya. Ino segera menjauhkan tubuhnya dari Naruto. Ia tak tau sejak kapan dirinya berada disana dan dari kapan tangan Naruto mengusap surainya. Itu menjijikan.

"Dasar aneh"Komentar Shikamaru lirih pada kedua insan didepannya. Pasanganya, Temari hanya menundukan kepala tanpa mengeluarkan apapun dari bibirnya.

Pemuda berwajah malas itu berjalan masuk kedalam seraya menggeret pasangannya. "Jadi bagaimana persiapan pernikahanmu, Shikamaru"

Pemuda yang di panggil shikamaru itu memiringkan kepalanya. Dirinya cukup heran dengan perhatian dari Naruto. Rasanya karena bersama Ino, membuat kepekaan Naruto sedikit terbentuk."Ya, sedikit lagi. Terimakasih sudah bertanya."

Pemuda berkuncir itu berdehem, lalu kembali berujar "Sebenarnya, aku kesini ingin memesan dekorasi bunga hias untuk pernikahan kami, kau bisa kan Ino?"Tanya pemuda pintar itu pada Ino. Memang terkesan kurang ajar memesan di toko mantannya. Tapi mau gimana lagi, Yamanaka Flower adalah tempat terbaik untuk membeli bunga.

"Ya"Jawab singkat Ino dengan lesu. Tak seperti biasanya Ino begitu. Biasanya dia pasti menjawab dengan semangat apa bila mendapatkan pesanan akbar. Dan Naruto merasakan perbedaan tersebut

"Apa kau sakit Ino"Tanya Naruto dengan mengerahkan tangannya menuju dahi Ino. Naruto menatap lekat manik gadis cantik itu. Dirinya juga ingin memeriksa mata Ino yang memerah dan berair."Matamu merah, kau ga papa?"

"Gapapa, aku cuman pengen ke kamar mandi"

Naruto mulai bingung dengan Ino. Tunggu tak hanya dia, tapi Shikamaru juga. Tentu saja, siapa yang tak bingung kala seorang berbicara "Gapapa" tapi netranya terlihat basah sebab air kesedihan.

"Apa kau tak curiga jika Ino menggunakan obat-obatan terlarang. Matanya tadi merah dan emosinya gampang berubah dengan cepat. Itu ciri dari pengguna, bukan?"Tanya Naruto pada sahabatnya yang sebentar lagi akan menikah.

"Eh, Kebodohanmu udah sampai stadium empat ya. Aku memang bukan pria yang mengerti perasaan wanita. Tapi aku tak seidiot itu"Ejek Shikamaru.

Shikamaru menjetikan jemarinya. Ada hipotesis yang terlintas dipikirannya tentang kenapa Ino jadi begitu"Kau tak mengotori Ino dengan kemesumanmu kan"Naruto menyipitkan matanya. Naruto memang sedikit mesum karena terlalu lama bersama Jiraya. Tapi itu bukan berarti dirinya mau di tuduh semacam itu.

"Jaga bicaramu, sialan"Naruto menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh Shikamaru. Rasanya, itu tidak menggetarkan hati Pemuda dari klan Nara tersebut. Shikamaru bahkan masih sempat untuk menguap lebar. Ekpresi itu benar-benar membuat emosi Naruto memuncak. Mata ramah yang biasa ia berikan kepada setiap orang kini berubah menjadi kelam. Sebuah lengkungan bibirnya sekarang telah tiada.

Bag

Bogem mentah baru saja dilepaskan Naruto kewajah pemuda pintar tersebut. Shikamaru tak menyadari bahwa Naruto akan melakukannya. Sehingga dia tak dapat mengelak dan berakhir di atas ubin. Pukulan tadi cukup telak bahkan mata shikamaru sedikit mebiru. Namun itu terasa bukan masalah yang besar bagi shikamaru. Dirinya terlihat biasa saja, seperti tanpa sakit. Hal berbeda ditunjukan oleh beberapa pengunjung di Yamanaka Flower yang melihat kejadian itu. Mereka memegangi pipinya, seakan mereka yang habis terkena pukulan itu. Temari pun meringis pilu tadi sebelum membantu Shikamaru kembali bangkit

Seketika, suasana diselimuti oleh keheningan. Beberapa perbincangan para gadis muda di dalam toko yang tengah menggosip tak ada lagi. Bahkan kipas angin yang tergantung tepat di atas mereka tak mau mengusik dengan suara gaduhnya. Semuanya terfokus dengan apa yang terjadi di depan meja kasir.

"Lalu kenapa kau disini? Kau ingin modusin Ino kan?"

"emm..."

Naruto terbengong, memikirkan alasan paling tepat untuk menjawab pertanyaan temannya yang sangat cerdas. Tak mudah untuk beradu argumen dengan pemuda di depannya. Salah satu kata saja, maka dirinya bisa terjerumus kedalam jurang rasa malu. Shikamaru jago untuk memutarkan kata-kata dan membuat lawannya kehilangan rasa percaya diri.

"Dia pacarku, apa masalahmu?"Semua orang di ruangan itu tersentak. Mata semua orang membulat. Termasuk Naruto, pemuda cerewet itu merasa bibirnya beku dan kaku setelah mendengar perkataan dari Yamanaka Ino yang baru saja kembali dari kamar mandi.

"kau berpacaran dengannya? Dengan Si bodoh ini"

"Ya, memang kenapa? Dan jangan asal bicara kau"Kata Ino yang tengah berjalan kearah keributan.

"Dia bodoh"

"Tapi dia tak akan mengkhianatiku"

Shikamaru tersenyum miris lalu kembali berbicara"Kau terlalu naif, jangan terlalu cepat menilai orang. Bagaimana kau tau kalau dia tak akan mengkhianatimu, hah?"

"Karena dia bukan kau"

Kalimat terakhir Ino tepat menusuk jiwa Temannya(?). Perkataan itu sukses membungkam Shikamaru. Sehingga membuat pemuda Nara itu sedikit malu. Untuk kali pertama Ino berhasil mengalahkan Shikamaru.

Tanpa pamit maupun salam Shikamaru menarik tangan temari agak kasar tuk pergi meninggalkan Toko. Wajah Pemuda malas itu berubah masam kala pergi tadi. Dia tak rela semakin dipermalukan di depan calon istrinya. Apa lagi Ino lah yang melakukannya. Walaupun keduanya pernah berbagi kebahagian. Tapi sekarang, yang ia dengar dari wanita itu adalah sebuah hinaan yang membuatnya kesal.

Shikamaru berhenti sejenak di depan pintu lalu menoleh. "Jaga bekasku dengan baik, Naruto"ucap pemuda itu sebagai penutup percakapan.

Semuanya lebih tersentak kali ini. Tak ada yang habis pikir kenapa pemuda yang selalu muncul dengan idenya yang luar biasa, bisa melemparkan ucapan yang tak layak kepada Naruto. Lelaki bermahkota emas itu semakin geram. Sumpah, gembor yang ada di atas meja sudah hampir terlempar jika Shikamaru tak keburu hilang.

Tampak bagaimana Naruto menatap kepergian sahabatnya itu dengan penuh amarah. Kepalan tangan kuat juga sudah siap ia lepaskan kepada Shikamaru. Nafasnya pun naik turun tak karuan, menahan ledakan emosi. Sayang, saat ini nafsu telah mengendalikannya. Pikirannya buyar karena terbakar kesal. Langkah tegak dengan cepat bergerak untuk mengejar pria brengsek tadi. Akan tetapi sebuah tangan menahannya.

"Jangan"Kata sang pemilik tangan yang menahan.

"Maaf, Ino. Kau bukan bosku lagi sekarang. Aku tak berkewajiban mengikuti perintahmu"itu benar, Naruto sudah dipecat. Tak ada lagi yang harus dituruti dari perkataan Ino. Naruto sudah tak bisa ditahan lagi. Untuk pertama kali bagi gadis yang ada di belakang Naruto itu bisa menyaksikan pemuda bodoh tersebut marah hebat, Bukan marah karena musuh atau ada yang membahas kegagalannya menyelamatkan Sasuke, ini lebih parah dari biasanya. Ino tau itu, kala menggenggam pergelangan Naruto.

"Tap-Tapi, kumohon berhenti. Aku mohon"Sebuah tangis mengiringi ucapan Ino. Naruto membalikan badannya. Mendapati seorang gadis yang pipinya sudah diari isak. Sebelah tangan yang di gunakan Ino untuk menahan Naruto terasa semakin erat. Entah, apa ini adalah perwakilan kesedihannya atau hanya ingin menahan Naruto untuk pergi.

Kini Ino menunduk tak mau menatap paras Naruto secara langsung. Tak ada yang boleh tau, jika matanya rinai. Tak ada yang boleh tau, wajahnya muram. Baginya kesedihan tak pantas di bagikan kedunia luar walau kadang sebuah kesedihan sering tak bisa di tahan.

Jujur, matanya panas, hatinya berdebar tak karuan. Dirinya sudah tak bisa menjaga diamnya. Lulut putihnya pun kini terasa akan roboh. "Kau tak pantas di berlakukan seperti itu, Ino"Ucap Naruto. Jelas, itu tak memperbaiki perasaan Ino sama sekali.

Tak tau kah dia, ucapannya malah semakin membuat Ino semakin terpukul. Dirinya bahkan kini sudah terduduk ditanah. Berusaha menyeka tangisnya sendiri dengan posesif. Namun tak berhasil, luka yang ada di hatinya kembali terasa perih.

Naruto sadar bahwa pegangan Ino tak lagi menghalanginya. Tetapi ia tak tau kenapa dia belum beranjak. Rasanya kakinya itu terikat dengan sebuah batu yang sangat besar. Kemana kah emosinya tadi? Dia bertanya ada apa hari ini, sebenarnya apa yang menyebabkan dia sampai harus terlibat dalam keributan antara Ino dan Shikamaru.

Disaat tangis ino makin kentara dipendengarannya. Naruto memilih untuk memutar tubuhnya lalu memeluk gadis itu yang masih terduduk ditanah. Naruto hanya ingin memberikan kehangatan pada Ino. Tak peduli dengan tatapan masyarakat yang akan segera menghakimi Naruto karena dianggap 'mengambil kesempatan dalam kesempitan'. Tak peduli dirinya akan kembali di hajar Ino. Tak peduli jika bahkan Ino tak membalasnya.

"Keluarkan saja, aku akan disini bersamamu"Ucapan Naruto mengalun lembut, langsung mengayun pada indra pendangaran gadis yang tengah di dekapnya.

Sebuah dekap dan ucap membuat Ino semakin kacau. Tangisnya makin tak tertahankan. Bahkan sepertinya dia lupa bahwa sudah jadi tontonan publik. Ia terjerumus pada luka yang serius. Sudah tak dapat di jelaskan lagi bagaimana basahnya apron milik Naruto karena air matanya. Sekeras apapun ia mencoba untuk menyalurkan segala perasaanya pada remasan di jaket Naruto, itu tidak berarti apa-apa. Dirinya kembali terluka oleh pria yang sama.

...

"Kau tak apa?"Temari melirik ke arah Shikamaru yang tengah mengusap luka lebamnya bekas pukulan Naruto.

Pemuda yang ditanya itu menghela nafas berat lalu mengangguk. Anggap saja itu adalah ungkapan kekecewaan Shikamaru. Apa Temari secuek itu hingga dia baru membuka suara? Memang berkebalikan sekali dengan Yamanaka Ino. Jika ia terluka pasti Ino bakal langsung mengobatinya sambil mengomel panjang hingga kupingnya panas. Shikamaru mengacak rambutnya, kala dia sadar dirinya mengingat kembali cerita dengan Ino.

"Tak kusangka Ino akan mau dengan Naruto, konyol sekali."Shikamaru terkekeh sambil terus berjalan tanpa menyadari Temari yang malah diam dibelakangnya."Naruto yang bodoh itu memang cocok dengan gadis yang bodoh juga. Ya, mereka mungkin akan jadi pasangan teraneh di Konoha"

Temari mengangkat sebelah alisnya. Dirinya kembali bungkam, tak bersuara lagi. Temari pun kembali memilih menatap tanah lagi. Dia tau bahwa mereka hanya 'mantan'. Cerita lama mereka yang jadi sejarah merupakan serpihan yang melengkapi Shikamaru. Mau atau tidak, dia harus terima. Namun cerita mereka terlalu sempurna untuk dia rusak. Semuanya terlalu indah bagi Shikamaru dan Ino. Lantas apa alasannya Shikamaru malah memilih dirinya? Gadis Suna tersebut menggantungkan pertanyaan itu di hatinya. Sampai tersentak atas ucapan Shikamaru.

"Apa kau Cemburu?"

"karena?"

"karena aku mendatangi mantanku."

"Bukan aku tapi kau, Shikamaru"

Bersambung...

A/n

Hoaah gimana nih chapter ke duaku. Emang terasa makin absurd sih. Tapi makasih loh yang udah baca, review, Fave dan follow. Aku terharu:')

Balasan review : Lanjut seru, ini udah kok. Ceritanya good, bakal dilanjut ya?Hehe, terimakasih. Ya, aku bakal lanjutin ceritanya tapi gatau bakal sampe chapter ke berapa. Diem diem Naruto ngarep ya jadi pacar Ino wkwkwkwk, Mari kita liat kedepannya HOHO. Sadest... Wkwk btw Naruto narsis bener, Yup, Naruto emang agak gitu.