Je Manque Toujours de Temps
chapter 2
DISCLAIMER MILIK MASASHI KISHIMOTO
STORY IMMIRU
DON'T LIKE DON'T READ
DILARANG COPAS KERAS, MAU SHARE IZIN KE IMMIRU
Selamat membaca
"Ku harap kau disana bisa menemukan krim untuk wajahmu Itachi" ujar Sasori yang berdiri didepan Itachi sambil memasukan kedua tangan di saku celana.
"Hei, aku ini bukan keriput kau tak tahu ini mode MODE!". teriak Itachi tak terima.
"Terserah kaulah."
Saat kedua sahabat semati itu sibuk betengkar, Sakura memandang Sasuke yang sibuk dengan handphonenya. Entah siapa yang ia hubungi saat ini yang jelas dari awal keberangkatan sampai tiba di bandara Sasuke selalu sibuk dengan handphonenya.
Sakura menghela nafasnya.
"Mikoto aku pasti merindukanmu". ucap Mebuki sambil memeluk Mikoto.
"Aku juga pasti merindukanmu, kau tau aku akan dikelilingi lelaki super sibuk dan datar disana, ya mungkin kecuali dengan Itachi-kun". ucap Mikoto sambil terkekeh.
"Semoga kau disana baik-baik Miko. Nanti kita whatsapp dan video call."
"Iya Mebuki ...,". Mikoto menghampiri Sakura. "Sakura-chan, Bibi pasti merindukanmu"
Sakura yang dipeluk Mikoto tak bisa lagi menahan air mata yang sudah ia tahan sedari tadi akhirnya pecah.
"Sakura juga akan merindukanmu Bi,"
"Semoga Sakura-chan tidak melupakan kami ne,"
"Tak akan bi, Sakura begitu menyayangi kalian. Kalian adalah keluarga keduaku setelah keluargaku." ucap sakura sambil tersenyum lirih.
"Sasuke-kun!" panggil Mikoto.
Sasuke yang merasa namanya dipanggil mengalihkan wajahnya dari layar ponselnya.
"Hn,"
"Tak ingin berbicara dengan Sakura-chan?"
"Hn"
Sasuke berjalan mendekat kearah Mikoto, Mebuki dan Sakura.
Sasuke mengetuk dahi Sakura. "Aku akan menemuimu lagi nanti. Sampai jumpa"
Sakura sedikit merona dengan tindakan Sasuke.
"I-iya Sasuke-kun". Ketika sakura ingin memeluk Sasuke, Sasuke pergi menarik kopernya menuju pemeriksaan tiket.
Sakura tersenyum lirih.
'semoga semua baik-baik saja Sasuke-kun.' ucap sakura dalam hati.
di pesawat
"Sasuke?"
Sasuke menoleh. "Hn?"
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Itachi.
Sasuke yang mendengarkan musik lewat headsetnya hanya menoleh kearah Itachi.
"Hn?"
"Kau dan Sakura-chan?"
Sasuke mengalihkan pandangannya ke depan. "Ah ... kurasa begitu. Ini yang terbaik." Sasuke menoleh kearah jendela pesawat.
'Ya, semua akan baik-baik saja setelah ini' ucap Sasuke dalam hati.
Sakura
.
.
.
.
.
.
.
Sunagakure
Sakora pov
"Nii-chan?"
Aku mengedarkan pandangan ke segala sudut rumahku hanya untuk mencari bayi merah itu.
"Tsk, kemana bayi merah,"
Braaakk
"SASORI-NIIIIIII". Aku berteriak sekencang yang ku bisa saat aku membuka pintu kamar kakakku.
kosong
"Kemana Oni-chan?"
Aku sudah mengelilingi seisi rumahku yang besar ini selama 1 jam. Berulangkali menelpon kakakku tapi tak di angkat. Cih kemana bayi merah itu.
"Ah, Shomi baa-chan apa kau melihat Sasori-nii?"
"Maaf nona, kurasa tadi Tuan muda pergi bersama Kazashi-sama"
"Ah ,,, baiklah trima kasih. Jika nanti Kaa-san mencariku tolong katakan aku pergi ke rumah Ino"
"Baik nona"
Aku langsung pergi menuju ke rumah Ino. Ada yang perlu aku tanyakan pada Ino.
Ya, aku harus bertanya tentang Sasuke pada Ino dan Naruto.
di rumah Ino.
"Apaaaa!"
"Cih, jidat apa kau bisa tidak berteriak didepan wajahku" ucap Ino sambil merias dirinya.
"Tapi ,,, kenapa Naruto juga pindah?. Bahkan dia tak memberitahuku sebelumnya!".
"Naruto disuruh Minato ji-san pulang ke bilang sudah saatnya Naruto belajar bisnis. Kau kan tahu Naruto boleh di Suna sampai dia kelas 1 SMA"
"Tapi Naruto ,,, awas kau Naruto" ucapku seraya menahan marah.
Tapi, kenapa Naruto pergi sekarang. Ada yang perlu aku tanyakan padanya mengenai Sasuke-kun.
Kenapa sulit sekali menebak dirimu Sasuke-kun. Kami-sama ini begitu sulit.
Sakura end prov
Drrtt Drrtt
Sakura sedang memainkan piano saat ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk.
Sakura membuka e-mail di ponselnya. "Ah , Sasuke-kun! Apa dia mengabariku kalau dia sudah tiba"
from : Sasuke-kun
Sakura, jangan pernah menemuiku sebelum aku menemuimu. dan jangan pernah mencoba mencari tahu tentangku kepada siapapun termasuk kepada keluargaku.
jika nanti aku tak menemuimu, berarti aku telah melupakanmu.
Aku pergi.
Liquid bening menetes melewati pipi putih Sakura.
'Sasuke-kun, apa ini ?' ucap sakura dalam hati.
Sakura menggenggam ponselnya didepan dadanya. Dadanya terasa sakit saat ia membaca pesan Sasuke.
Air mata itu tak kunjung berhenti, malah semakin deras. Sekarang dadanya kembali terasa begitu sakit.
Bruuuuk.
"SAKURAAA!"
Sasori berlari menuju tempat Sakura, setelah melihat adik kesayangannya jatuh pingsan didepan matanya.
Sasori menggendong bridal style tubuh lemas Sakura. "Sakura buka matamu, Sakura"
"Netsu !" teriak Sasori.
Terlihat Netsu berlari menghampiri Sasori yang sedang menggendong Sakura.
"Iya Tuan muda ,,, Nona! apa yang terjadi Tuan muda?" . seru Netsu langsung setelah melihat Sakura lemas di gendongan Sasori.
"Netsu, kita bawa Sakura kerumah sakit!"
Suna Hospital Internasional
Sasori segera turun dan menggendong sakura menuju UGD.
"Sasori!" panggil salah satu dokter di UGD.
"Dei, tolong Sakura kumohon"
"Ada apa dengan Sakura-chan" berlari menuju Sakura yang telah terbaring di ranjang intensif.
Dei segera memeriksa keadaan Sakura.
"Aku tak tahu, saat aku masuk di jatuh pingsan Dei"
"kita harus memeriksanya secara menyeluruh, detak jantung tidak normal" ujar Deidara.
"panggilkan Dokter Tsunade bilang bahwa Sakura di UGD keadaannya kritis" suruh Deidara pada salah satu perawat di sebelahnya.
"Baik dok"
Perawat itu segera pergi menuju ruangan Tsunade.
Braak
"Dimana Sakura?" Teriak seorang wanita berjas dokter dan berkepang dua.
"Tsunade-sensei!"
"Nenek !"
Seru Sasori dan Deidara bersamaan.
"Sasori apa yang terjadi?" tanya Tsunade sambil memeriksa Sakura.
"Aku tak tau, Sakura pingsan dirumah"
"Dei, siapkan pemeriksaan lebih lanjut. Sasori tunggulah di luar" perintah Tsunade.
"Ha'i"
Sasori segera keluar dari unit intensif UGD. Sasori duduk dan mencengkram rambutnya frustasi.
'Sakura' ucap Sasori dalam hati
"Tuan muda?"
"Netsu," ucap Sasori lirih. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Apa kau sudah memberi tahu Tou-san?" tanya Sasori sambil melirik ruang UGD.
"Sudah Tuan muda, Kizashi-sama dan Mebuki-sama akan segera sampai. Bagaimana keadaan Nona Sakura?" tanya Netsu, tangan kanan keluarga Haruno.
"Aku tak tahu, Nenek Tsunade didalam bersamanya."
"Semoga nona Sakura baik-baik saja"
'Semoga' ucap Sasori dalam hati
beberapa saat kemudian.
"Sasori!" panggil Mebuki.
"Kaa-san" Sasori berdiri menghampiri Ibunya yang sudah menangis dituntun Kizashi, ayahnya.
"Dimana Sakura"
"Sakura di dalam, dia sedang diperiksa Nenek"
"Sasori, Apa yang terjadi?" tanya Kizashi.
"Tou-san ak-," belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Tsunade keluar.
"Kaa-san, dimana Sakura? Apa dia baik-baik saja?"
"Bagaimana keadaannya Nek?" Tanya Mebuki dan Sasori.
Tsunade menghela nafas.
"Kalian ikutlah aku" ujar Tsunade sambil berlalu pergi.
Kizashi, Mebuki dan Sasori yang merasa disuruh mengikuti Tsunade mulai melangkahkan kaki mereka mengikuti Tsunade.
"Netsu, tunggulah disini. Awasi ruangan ini!". perintah Sasori.
"Baik, tuan muda". ucap Netsu sambil membungkukan badannya.
Ruangan Tsunade.
"Kaa-san, apa yang terjadi. Sakura baik-baik saja bukan?" tanya menuntut Mebuki.
"Mebuki," Tsunade mengusap wajahnya kasar.
"Sakura, ... menderita kelainan jantung" ucap Tsunade sambil menekuk wajahnya ke bawah.
Ucapan Tsunade sukses membuat ketiga orang dihadapan Tsunade melebarkan matanya, Shock.
"A-apa m-maksud Kaa-san?"
"Nek, jangan bercanda. Sakura selama ini selalu sehat. Dia bahkan jarang sakit." seru Sasori.
Tsunade menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Sasori, sakit yang diderita Sakura tidak bisa dideteksi dari dini. Gejalanya akan muncul saat dia sudah dewasa," jelas Tsunade sambil melirik anaknya, Mebuki.
"Cih, apa-apaan itu. Mana ada hal seperti itu. Nenek pasti salah diagnosa atau alat-alat rumah sakit yang salah!" protes Sasori.
"Sasori ... ini tidak mudah untuk dijelaskan sayang. Nenek tau ini mengejutkan, bahkan nenek yang selalu disampingnya setiap hari tidak tau sayang" ucap Tsunade.
"Kaa-san, apa ini bisa membahayakan Sakura" tanya Kizashi.
Tsunade berdiri. "Belum ,,, ,"
"A-appa maksud kaa-san belum?" seru Mebuki.
"Sakura didiagnosa mengalami kardiomiopati hipertrofik ,,, dan penyakit ini diturunkan secara genetik" terang Tsunade.
"J-jadi ... ," suara Mebuki terdengar tersendat.
"Ya, penyakit ini diturunkan Nenekku, Senju Mito"
Kizashi dan Mebuki melebarkan matanya. Kenyataan bahwa Nenek buyut Mebuki yang juga menderita penyakit ini membuat Mebuki terisak semakin keras.
'Kami-sama ,,, ini kah takdir-Mu?' ucap Sasori dalam hati.
Sreeekk
Ketiga orang diruangan itu melihat pelaku yang menggeser kursi dengan kasar.
Sasori berdiri. "Aku keluar!" seru Sasori sambil keluar pergi. Sasori tidak bisa mendengar lagi kenyataan bahwa adik satu-satunya dan kesayangannya mengidap penyakit itu.
Sasori mengabaikan panggilan Netsu. Dia terus berlari menuju ruangan Sakura.
Gleeck. Ruangan Sakura terbuka sedikit dan Sasori mencoba menstabilkan emosinya. Dia mengangkat kepalanya dan mengintip dari celah pintu. Disana, di ranjang itu Sakura terbaring lemas dengan jarum infus yang tertancap di nadinya. Sasori tau Sakura sangat membenci hal-hal berbau rumah sakit. Meskipun, ini rumah sakit keluarganya.
EKG terus merekam denyut jantung Sakura. Air mata Sasori menetes. Dia bahkan lupa kapan air matanya berhasil keluar, dimana saat di ruangan neneknya tadi dia berusaha menahan liquid bening yang menggenang di garis matanya.
Sasori mengusap halus pipi Sakura yang sebelumnya terlihat bersemu merah muda kini terlihat sangat pucat. Air mata Sasori masih menetes dan ia semakin terisak sedih.
Sasori pov.
Lihat Kami-sama, lihatlah adikku Sakura. Dia begitu tidak berdaya diatas ranjang ini. Lihatlah jarum jarum yang menembus kulitnya. Lihatlah wajahnya yang selalu bercahaya, yang selalu terpancar kebahagiaan kini tertutup pucatnya.
Kami-sama, Kau adalah TUHAN kami. Aku selama ini tak pernah meminta apapun. Hanya satu, satu permohonanku. Kembalikan Sakuraku, kembalikan sehatnya, tawanya. Aku tidak bisa melihatnya seperti ini.
"Sakura, ini Oni-chan sayang. Bangunlah sayang hiks lihatlah kau berhasil membuat Oni-chan menangis. Lihatlah Sakura, buka matamu," ucapku. Aku tak memperdulikan Netsu yang terus mengusap punggungku dan menenangkan tangisanku.
"Sakura, bukankah hari ini kita akan bersenang hiks senang. Lihat ,,, aku sudah membelikan tiket Suna Land Park untuk kita berdua sayang. K-kumohon buka matamu sayang". Tangisanku semakin keras. Aku tak memperdulikan wajahku saat ini, bahkan air hidungku keluar bersatu dengan air mataku. Dadaku terasa sakit menahan semuanya.
"Tuan muda, tenanglah. Jika nona melihat Tuan muda menangis seperti ini, dia akan sedih." ucap Netsu seraya tangannya masih mengelus punggungku. Netsu mencoba mengendalikan emosiku. Dia tahu, arti Sakura untukku.
"Netsu, kenapa Kami-sama begitu kejam pada Sakura. Kenapa harus Sakura. Kenapa ... ," isakanku bahkan tak bisa berhenti.
"lihatlah Netsu, dia bahkan tak bangun saat aku mengelus rambutnya. K-kau tahu dia akan selalu terbangun saat seseorang mengelus rambutnya" ucapku sambil tangan kiriku mengelus rambut Sakura dan tangan kananku masih menggenggam erat tangan Sakura.
"Tuan, hidup ini tidak pernah berjalan sesuai dengan rencana manusia. Kita bisa berencana dan merencanakan. Tapi tuan tahu, takdir Kami-sama jauh lebih kuat dari rencana manusia seperti kita. Dia penguasa segalanya. Dia tahu bagaimana baiknya seorang manusia hidup diduniaNYA. Jadi tuan, inilah takdir nona Sakura" ujar Netsu
Aku mendongakkan kepalaku kearah Netsu. Dia tersenyum sambil mengelus kaki Sakura. Nona kecilnya yang selalu manja dengannya. Yang selalu jahil padanya dan menjadi ayah kedua bagi Sakura dan bagiku.
"Kau benar, Ayah," ucapku.
Kulihat Netsu sedikit menegang saat aku memanggilnya Ayah. Kemudian dia tersenyum sambil mengelus pundakku.
"Sekarang waktunya Tuan muda makan siang. Tuan muda harus selalu sehat untuk menemani Nona" ajak Netsu.
"Ah ,,,,"
Aku mengelus lembut surai indah adikku.
"Sakura, nii-chan keluar sebentar. Jika nanti nii-chan kembali kesini, Sakura harus sudah bangun." ucapku sambil mengecup sayang dahi lebar adikku.
"Mari tuan"
Aku melangkahkan kakiku keluar, saat aku akan melangkah keluar pintu aku menoleh ke arah Sakura. Aku tersenyum pedih, tidak ini tidak akan berakhir ... aku langsung mengalihkan pandanganku dan berlalu menuju ruang makan keluarga Haruno di Rumah sakit ini.
Sasori end pov
diruangan Tsunade.
"Jantung Sakura akan semakin melemah kinerjanya jika kita tidak bertindak. Untuk saat ini kita akan mengupayakan agar jantung Sakura bisa bertahan selama itu. Saat jantung Sakura sudah tidak bisa berfungsi, kita harus melakukan Myektomy septal. Tapi ,,,,"ucapan Tsunade berhenti membuat pasangan suami istri didepannya was-was.
"Tapi apa Kaa-san?" Mebuki ingin tahu alasan dari kata tapi Kaa-sannya.
"Darah Sakura sangat jarang ditemui. Sakura memiliki darah sama persis dengan darah Nenek. AB resus (-). Di jepang juga sangat jarang golongan darah yang sama seperti Sakura" tutur Tsunade sambil membolak balikan dokumen Sakura.
"Kami-sama ... " Mebuki memeluk suaminya.
"Tapi kita bisa memperlambat kerusakan jantung sakura dengan dilakukan modifikasi gaya hidup, obat-obatan dan tindakan,"
"Setiap 3 tahun sekali Sakura harus melakukan Myektomy septal tindakan bedah, yaitu menipiskan bagian otot sekat jantung. dan untuk Tahun ketiga kita akan melakukan penanaman Implantable Cardioverter-Defibrillator (ICD) di tubuh sakura. Kita akan meminta supply darah Sakura dari Amerika". Ucap Tsunade panjang lebar.
Mebuki mencoba tegar dengan keadaan anak bungsunya.
"Kaa-san lakukan apapun untuk kebaikan Sakura. Kaa-san tau yang terbaik untuk Sakura" ucap Kizashi.
"Kaa-san tau, Kaa-san ingin yang terbaik untuk Sakura. Tapi, Sakura selama hidupnya akan terus bergantung pada obat-obatan dan tidakan bedah untuk menipiskan penabalan otot jantungnya. Meskipun itu tindakan yang terbaik, hal ini akan sangat melukai Sakura" ujar Tsunade sambil memandang pigura kecil didepannya.
"Kita akan memberikan Sakura pengertian tentang keadaanya sedikit demi sedikit" ucap Kizashi lirih. Kizashi hanya bisa menahan kesedihan akan nasib putri kesayangannya.
'Sakura, apa yang bisa kami lakukan sayang. Bagaimana reaksimu nanti saat mengetahui tentang penyakitmu?' ucap Kizashi dalam hati
Tbc
