Haiii! Huahh senangnya akhirnya bisa balik ke fanfiction, yaaaay! Oke, teman2 maaf banget atas update yang lama banget, bahkan nyaris seperti selamanya ini. Yang penting sekarang saya udah come back yaaa! Jujur aja, waktu kembali harus nulis ini, saya lupa gimana rangkaian alur cerita yang udah saya buat sebelumnya. Tapi tenang, saya nulis alur yang baru kali ini. Semoga nggak boring ya, hehe. Btw saya akan langsung post dua chapter sekaligus. Read and review, okay? Saya butuh pendapat kalian di sini. :) Happy reading~~
BAB II
Kurapika Kuruta
Kebingunganku segera hilang, lenyap tak bersisa, dan langsung terjawab saat melihat seraut wajah gadis di hadapanku. Rupanya aku tidak salah. Dia memang Neon Nostrade. Delapan tahun tidak banyak mengubah dirinya. Ia masih mempertahankan rambut birunya yang panjang dan dikuncir. Wajah manisnya dulu telah memunculkan gurat kedewasaan sebagaimana mestinya. Dan membuatnya tampak sangat….cantik. Aku tidak bisa menemukan kata lain saat melihat kembali wajahnya.
Hah? Apa yang baru saja kupikirkan? Detik berikutnya aku menyentakkan diriku dan sudah menguasai diriku kembali. Dia di sini karena dititipkan oleh Tuan Nostrade. Tidak boleh. Aku tidak boleh punya pikiran macam-macam. Terngiang kembali kata-kata Tuan Nostrade di benakku, ketika ia menelepon beberapa hari yang lalu. Meminta kesediaanku untuk melatih sekaligus menjaganya dengan syarat yang telah disepakati. Aku memejamkan mataku.
"Aku memberikanmu kesempatan lagi, Kurapika. Tidak boleh ada kesalahan seperti waktu itu. Tidak boleh." Lalu Tuan Nostrade langsung menutup sambungan telepon tanpa repot-repot menunggu jawabanku.
"Ehm.." Aku mendengar suara gadis di hadapanku. Ketika aku membuka mataku kembali, wajah Neon sudah tidak terkejut lagi. Tatapan matanya padaku mengandung….kebencian? Yah, aku memang pantas dibenci. "Kau yang bernama Kurapika, bukan? Papaku menyuruhku mencarimu begitu sampai di sini."
Aku membelalakkan mata. Kenapa? Kenapa dia harus bersikap seperti tidak pernah ingat padaku? Ataukah…dia memang sudah tidak ingat lagi padaku?
"Bisa kau segera menunjukkan padaku di mana tempat tidurku? Aku ingin merapikan semua ini secepatnya dan mendapatkan waktu istirahatku yang baik." Ia menunjuk pada dua buah koper yang dibawanya tadi.
Tidak boleh ada kesalahan. Kalimat itu mulai merantaiku setiap kali aku memikirkan Neon. Ini bukan pertanda baik. Atau mungkin lebih baik memang seperti ini? Aku berdeham sejenak. "Ya. Ikuti aku lewat sini."
Aku berjalan mendahuluinya berjalan hingga ujung lorong dan memencet tombol lift. Tidak butuh waktu yang lama bagi kami untuk segera sampai di lantai dua, tempat kamar pada peserta Pelatihan Calon Hunter berada. Lantai dua juga terdiri atas lorong-lorong dengan kamar. Kami terus menelusuri lorong tanpa bersuara. Hanya suara tapak langkah dan bunyi gesekan roda koper Neon di atas lantai yang menggema.
Sesungguhnya selama perjalanan menuju kamar yang terasa amat panjang itu, aku memikirkan banyak hal. Apakah Neon benar-benar lupa padaku? Atau apakah dia masih membenciku? Apa yang ada dalam pikirannya saat ini? Aku ingin sekali melihat ke dalam manik matanya. Membaca semua yang terpancar dari sana. Tapi posisiku yang berjalan di depannya tidak bisa membuatku menatapnya tanpa ia sadari.
Pada akhirnya aku berhenti di depan sebuah pintu. Aku merogoh sebuah kunci di dalam tas dan menyerahkannya pada gadis berambut biru itu. "Ini kunci kamarmu. Setiap kamar diisi oleh dua orang peserta. Berhubung hanya ada satu kunci untuk tiap kamar, sebaiknya kau dan teman sekamarmu nanti membuat kesepakatan saja tentang siapa yang akan memegang kunci."
Dia menatapku sejenak, masih dengan ekspresinya yang sangat jutek, lalu menatap kunci yang kuulurkan. Ia mengambil kunci dari telapak tanganku dengan sedikit kasar. Kata "Terima kasih," diucapkan dengan nada dingin. Ia segera mendahuluiku menuju pintu dan membukanya.
"Silakan kau beristirahat, karena peserta yang lain belum tiba. Pukul 7 malam nanti, makan malam akan tersedia dan setelahnya akan ada briefing di aula utama. Semua peserta harap datang tepat waktu." Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkan kalimat panjang itu dengan agak perlahan. Mungkin aku…masih penasaran dengannya? Atau aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi?
Ucapanku barusan hanya direspon dengan anggukan pelan. Ia bahkan tidak menatap wajahku lagi. Kenapa? Seluruh tasnya sudah berada di dalam kamar dan ia siap untuk menutup pintunya. Tidak. Aku masih ingin bicara dengannya.
"Tunggu!" Aku terkejut mendengar suaraku sendiri. Ck. Apa yang kulakukan sekarang? Aku mulai bertindak tanpa berpikir? Ini tidak normal.
Sekarang Neon menatap mataku dengan sorot tanya, tapi masih belum menghilangkan jejak kebencian di matanya. Mungkin…aku memang harus menanyakan ini padanya.
"Aku…Kurapika." Sial. Suaraku jadi terdengar bergetar.
"Ya," sahut gadis itu dingin. "Tadi aku sudah bertanya di bawah dan kau juga sudah menjawab kalau namamu memang Kurapika."
Sekarang giliran aku yang bingung harus berkata apa. Bagaimana harus memulainya? "Aku…Kurapika," ulangku ragu. "Kau Neon, kan? Neon Nostrade. Kau ingat? Dulu kita teman berma—"
"Teman?!" potong gadis itu sengit. "Jangan kira karena kita sudah pernah bertemu sebelumnya, lantas aku harus berlagak pernah mengenalmu. Dan kurasa sebaiknya memang terus begitu."
Napasku sesak tiba-tiba. Sebuah pisau tak kasat mata seperti menghujam ke arah dada.
Tanpa memedulikan ekspresi wajahku yang sudah pasti sangat terkejut Neon berkata dengan nada bicara yang masih sedingin es. "Kalau sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku permisi dulu. Aku mau tidur."
Tanpa menunggu jawabanku, Neon segera menutup pintu di depan wajahku. Aku tersenyum pahit. Mungkin kesalahanku waktu itu sudah tak termaafkan. Mungkin memang sebaiknya seperti ini.
Selama beberapa saat aku masih terpaku di hadapan pintu kayu yang baru saja ditutup dengan kasar itu. Dalam keadaan mematung aku masih bisa mendengarkan suara-suara di dalam kamar. Hmph, sifat buruk gadis itu belum berubah. Nampaknya dia sekarang sibuk membanting-banting kasar koper yang ia bawa untuk melampiaskan kekesalan.
Sebenci itukah dia padaku sekarang? Aku mendesah berat.
'Tidak boleh ada kesalahan lagi, Kurapika.'
Aku mengangguk patuh. "Aku mengerti."
"Kurapika!" Sebuah suara anak lelaki bernada ceria memanggil namaku. Tanpa melihat pun aku tahu. Itu suara Gon Freecs. Ia melambai-lambaikan tangannya dari jauh sambil berjalan bersama Killua dan Leorio. Mereka adalah teman-teman terbaikku yang kukenal semasa ujian hunter. Kami mendaftar dan lulus bersama-sama.
Aku tersenyum menyambut kedatangan mereka. Percayalah, berada bersama Gon akan membuat hari-harimu terasa lebih ringan dan bahagia. Ia membawa energi yang sangat positif.
"Halo, Gon. Apa kabar?" Aku tersenyum sopan padanya, lalu melirik kedua orang di belakangnya. Killua berjalan sambil menjejalkan kedua tangannya ke saku celana—ciri khasnya sejak dulu. Dan Leorio membuat isyarat dengan telunjuk dan jari tengah yang didekatkan ke pelipis.
"Yo, Kurapika," sapanya.
"Halo, Killua. Leorio." Ucapanku hanya mendapatkan respon sebuah anggukan singkat dari Killua. "Kuharap tidak sulit untuk menemukan tempat ini. Kalian akan kuantarkan ke kamar panitia untuk meletakkan semua barang bawaan. Lalu kita akan berkumpul dan mengadakan briefing panitia terlebih dahulu, tapi kita masih akan menunggu Pokkle dan Hanzo sudah tiba."
"Okeeeee!" seru Gon.
"Semoga acaranya tidak membosankan." Belum apa-apa Killua sudah menggerutu. Ciri khasnya yang lain.
"Kuharap acara ini juga tidak membosankan, melainkan bisa bermanfaat bagi para calon Hunter selanjutnya. Para peserta adalah mereka yang sudah melalui tahap seleksi wawancara olehku dan tim penguji lainnya. Mereka orang yang memiliki mental yang sesuai untuk menjadi seorang hunter. Tapi yang berpartisipasi untuk mengadakan pelatihan ini adalah kita semua," jelasku.
"Omong-omong, kudengar kau yang mengajukan pelatihan ini kepada Asosiasi Hunter. Dalam rangka apa kau membuat kegiatan semacam ini. Seperti bukan dirimu, Kurapika." Leorio, seperti biasa, selalu tajam dalam menggali informasi.
"Benarkah?" Killua pun nampaknya ikut terkejut.
Aku berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan itu. Karena alasan sebenarnya diadakan pelatihan ini adalah karena Tuan Nostrade memintanya. Dia meminta tolong temannya yang memiliki koneksi dengan hunter senior di Asosiasi Hunter. Dia yang memintaku melatih Neon untuk menjadi seorang hunter. Sejujurnya aku kasihan sekali pada Neon yang memiliki ayah yang senantiasa memikirkan cara untuk mendapatkan uang sebanyaknya dengan instan tanpa harus merepotkan dirinya sendiri.
"Karena aku ingin memastikan orang-orang yang menjadi calon hunter selanjutnya adalah orang-orang yang memiliki mental yang benar sebagai seorang hunter," dustaku. "Dan bukannya orang yang menggunakan lisensi hunter hanya untuk mendapatkan izin membunuh atau untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mudah."
Ironis sekali. Karena alasan sebenarnya aku mengadakan semua ini justru karena aku membantu seorang pria yang sedang memanfaatkan putrinya demi uang.
"Apa katamu?!" Leorio mendadak naik darah akibat kalimat terakhirku yang cukup menyindirnya. Aku bersikap tidak peduli. Aku juga sedang kesal karena sikap Neon sebelumnya padaku.
"Eh, sudah-sudah." Gon, seperti biasa dengan aura positifnya, mendamaikan pihak-pihak yang berseteru. "Sebaiknya kita ke kamar saja sekarang. Kurapika, bisakah kau antar kami ke sana?"
Aku menghela napas lagi. "Baiklah, ayo ikuti aku lewat sini."
