[Remake] On My Way
Summary: Ten adalah seorang omega. Ia membenci alpha karena mereka dapat dengan mudah mendapatkan segalanya. Sementara ia, yang seorang omega, harus bekerja dua kali lipat agar diakui kemampuannya oleh orang lain. Dan ketika ia bertemu dengan soulmate-nya yang adalah seorang alpha, Ten merutuki hidupnya.
Omegaverse. Alpha/Beta/Omega Dynamics. Omega!Ten. Alpha!Kun. Soulmate!AU. KunTen. Qian Kun. Ten Chittaphon Leechaiyapornkul. WayV. NCT. OOC.
Cerita ini adalah hasil remake dari fiksi milik penulis Haraguroi Yukirin, di ffn, dengan judul yang sama.
Karakter hanya milik Tuhan, Keluarga, Orang Tua, SMEnt, dan dirinya sendiri.
Mohon maaf apabila ada kejadian atau nama yang serupa, bukan merupakan unsur kesengajaan.
.
.
.
"Aku suka berlama-lama menatap matamu yang teduh karena di sana kesombongan diri dan keangkuhanku selalu runtuh." ― mocoati via kumpulan puisi.
.
.
.
Ten adalah seorang psikiater yang profesional. Ia seratus persen dapat diandalkan dan hampir semua orang mengakui hal itu. Pasien yang berhasil ia sembuhkan sudah tak lagi dapat dihitung dengan jari. Maka dari itu, bukan suatu yang aneh jika ia selalu diberi tugas untuk menangani pasien dengan gangguan jiwa berat. Olehnya, ia tak pernah lepas dari berbagai macam buku untuk mencari tahu bagaimana cara yang tepat untuk membantu pasiennya.
"Kau memaksakan dirimu lagi," sesosok pria dengan tinggi di atas rata-rata orang Korea masuk begitu saja ke ruangan Ten, mengabaikan pemuda asal Thailand yang memandangnya dengan kesal.
"Berkutat dengan buku setebal itu sementara kau sudah pintar," sambung pria itu, "Kau ini maunya apa?"
"Aku kira kau sudah diajarkan sopan santun, Johnny?" cibir Ten, "Ketuk pintu sebelum kau masuk ke ruangan orang lain."
Yang baru saja dipanggil Johnny itu mengendikkan bahunya, "Aku rasa aku tidak perlu melakukan itu denganmu."
Baiklah.
Namanya Seo Youngho, tapi ia lebih sering dipanggil Johnny. Ia merupakan teman baik Ten semenjak kuliah di Universitas California, San Francisco.
Awal mula pertemuan mereka adalah ketika hari pertama tahun ajaran baru, di mana Ten, yang baru saja pindah dari Thailand, mengalami kesulitan untuk memesan makanan. Kebetulan sekali Johnny lewat dan kemudian membantu Ten untuk memesan makanannya. Meskipun awalnya mereka tak banyak bicara kepada satu sama lain karena terhalang oleh bahasa, akhirnya mereka dapat dengan cepat menyesuaikan diri karena keduanya berasal dari departemen yang sama dan juga merupakan anggota dari Asosiasi Mahasiswa Internasional, yang mau tak mau membuat keduanya menjadi lebih dari sekedar sering berjumpa satu sama lain.
Beberapa tahun kemudian, mereka lulus dengan nilai yang hampir sama baiknya, hingga kini bekerja di tempat yang sama. Mungkin itulah yang menyebabkan Johnny menjadi tidak segan pada Ten.
Di antara sekian banyak persamaan yang telah disebutkan, ada beberapa hal yang membedakan mereka berdua.
Pertama, Ten menjabat sebagai salah satu kepala bagian di NCMH, sementara Johnny bisa disebut sebagai tangan kanan Ten.
Kedua, sekaligus hal yang paling sering membuat mereka berdebat, Johnny adalah alpha sementara Ten sialnya adalah seorang omega.
"Mau apa kau ke sini?" Ten menghembuskan nafas lelah, "Tidak mungkin kau ke sini hanya untuk menggodaku 'kan?"
Johnny tergelak, "Astaga Ten! Kau memang omega tapi bukan berarti aku harus membuatmu tertarik padaku. Kau terlalu garang!"
Ten melirik tajam ke arah Johnny.
"Whoa- tenang-tenang," Johnny mengangkat kedua tangannya persis seperti pencuri yang tertangkap basah, "Maafkan aku, seonsaengnim."
"Johnny, berhenti main-main! Aku lelah menghadapi candaanmu."
Pria bermarga Seo itu tersenyum jahil sembari menopangkan kaki kanannya pada kaki kirinya, "Aku hanya ingin menyampaikan kabar buruk," ujarnya dengan nada menggoda, "Senior kesayanganmu resmi dipindahtugaskan besok."
Bola mata Ten membulat, mulutnya terbuka penuh keterkejutan, "Joonmyeon hyeong?!" pekiknya tidak percaya.
Johnny mengangguk.
"Kenapa ia tidak memberitahukannya padaku?"
"Oh ya?" Johnny memberi tatapan penuh ejekan pada Ten. "Aku rasa dia memberitahumu, tapi kau terlalu sibuk dengan dokumen atau buku-buku itu. Coba sekarang cek ponselmu."
Dengan segera Ten membuka laci meja dan memeriksa pesan yang masuk, mengabaikan Johnny yang terus berceloteh tentang bodohnya pria yang lebih muda.
Ternyata, ada dua pesan masuk dan satu panggilan tidak terjawab, semuanya berasal dari kontak dengan nama Joonmyeon hyeong.
.
.
KakaoTalk
Joonmyeon hyeong
Ten, aku resmi dipindahkan ke Shanghai besok.
Aku serahkan rumah sakit padamu.
Oh ya, semoga kau dan Kepala Bagian dapat bekerja sama dengan baik.
Satu lagi, kau harus sabar menghadapinya.
.
.
"Maksudnya apa?" gumam Ten heran.
Ia melirik ke arah Johnny, memperlihatkan ponselnya pada pemuda di depannya, "Joonmyeon hyeong bilang aku harus sabar menghadapi penggantinya. Aku tidak mengerti maksudnya."
"Oh, aku ingat!" Johnny memekik pelan, "Pengganti Kim Joonmyeon itu adiknya sendiri. Mungkin Joonmyeon hyeong ingin kau berhubungan baik dengan adiknya atau apa pun itu, entahlah."
Ten menaruh ponselnya begitu saja di atas meja kerja. Matanya menatap heran ke arah Johnny, "Aku tidak tahu jika Joonmyeon hyeong punya adik?"
Yang ditanya hanya bisa mengendikkan bahunya, "Aku dengar mereka hanya sepupu. Bukan saudara kandung."
"Tapi pasti adik Joonmyeonhyeong sebaik dirinya bukan?"
"Pfft- hahaha," tawa Johnny langsung pecah saat itu juga. Setelah sekian lama, teman baiknya ini masih saja naif, "Aku harap begitu.".
.
.
National Center for Mental Health, Seoul. 17 Mei 2019, 07:00 AM KST.
.
.
Ten melangkahkan kakinya dengan malas menuju ruang rapat. Pagi ini seluruh pekerja di rumah sakit melakukan pertemuan pagi sembari menyambut seorang Kepala Bagian Rumah Sakit yang baru, pengganti Kim Joonmyeon.
"Selamat pagi, seonsaengnim!"
Ten hampir terjungkal karena seseorang tiba-tiba berseru tepat di telinganya. Tapi kemudian ia tersenyum lega ketika melihat seorang perawat berdiri di sampingnya sembari menjulurkan lidah dengan jahil.
"Kau sedang sedih karena Dokter Kim pindah tugas ya?" tanya wanita dengan papan nama bertuliskan Park Sooyoung itu.
"Selamat pagi juga, Sooyoung-ie! Tidurku lelap tadi malam, terima kasih sudah bertanya," ujar Ten sarkas.
"Ish Ten seonsaengnim ini! Panggil aku Joy saja," cibir sang wanita, "Dan oh kau belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan yang mana?"
"Itu, tadi. Kau sedih karena Kim seonsaengnim pindah ke Shanghai ya?"
Ten mengerutkan alisnya, "Huh? Tidak juga."
Bohong.
Sedikitnya ucapan Joy benar, Ten masih memikirkan tentang kepindahan senior kesayangannya itu.
"Kenapa kau bisa bilang begitu, Joy?"
Joy tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi, "Feromonmu."
Seketika itu juga Ten menekuk wajahny. Terkutuklah penciuman dan aroma tubuh mereka. Joy memang hanya seorang beta, namun penciumannya bisa dibilang cukup tajam meskipun tidak setajam alpha.
"Soo-" Joy melirik tajam, "Baiklah, Joy. Kau tahu 'kan aku paling tidak suka dengan, ugh-"
"Maaf, seonsaengnim," ucap Joy sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Gadis itu sama sekali tidak berniat menyinggung Ten. Karena ia dan hampir seluruh pekerja rumah sakit mengetahui betapa kesalnya Ten ketika membahas tentang gender kedua mereka.
Ten mendengus sebal. Terkadang ia merasa sangat iri dengan Joy atau wanita beta lainnya. Jika wanita saja beta, kenapa ia yang laki-laki harus menanggung beban sebagai omega? Yang mana harga dirinya akan selalu dipandang rendah oleh dua status di atasnya, alpha dan beta.
Memiliki orangtua seorang alpha tidak membuat takdir memihak kepadanya. Ayahnya seorang alpha dan ibunya adalah omega, apa salah jika ia berharap menjadi seorang alpha seperti sang Ayah? Atau setidaknya, seorang beta?
"Apa yang baru saja aku pikirkan," Ten menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pikiran yang tak pernah berhenti mengganggunya itu.
Kemudian ia, yang diikuti oleh Joy, memasuki ruang rapat sembari tersenyum menyapa pekerja rumah sakit dan Kepala Rumah Sakit sudah datang terlebih dulu.
Ten menarik salah satu kursi kosong dan mempersilakan Joy untuk duduk di sana, lalu ia mengambil tempat di kursi kosong di sebelahnya. Meskipun ia adalah omega, tetapi Ten masih bersikap lembut dan hormat kepada wanita di sekitarnya, membuat orang-orang yang melihat tidak berani merendahkan.
"Aww, kau sangat perhatian," ucap Joy dramatis, "Terima kasih, ya!"
Ten tersenyum seraya menganggukkan kepalnya, "Bukan masalah. Bagaimana pun juga aku laki-laki, Joy."
Setelahnya, Joy dan Ten saling melempar senyum lalu mereka larut dalam obrolan perihal rumah sakit bersama staf yang lain.
"Kau melihat Joohyun noona tidak?"
"Kau tahu? Kemarin ada pasien yang kabur."
"Belakangan ini tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan mental semakin tinggi, aku senang."
Ketika ia larut dalam pembicaraan dengan Joy, entah mengapa Ten merasa sesak secara tiba-tiba. Ia menghentikan obrolannya dengan gadis itu, senyuman di bibirnya menghilang begitu saja. Tak sengaja, matanya melihat ke arah tangan kanannya yang berada di atas meja, tepat pada pergelanggan tangan. Ia terbelalak ketika tanda waktu di pergelangan tangannya menghitung mundur.
00:00:30
Selama ini, Ten tak begitu memerhatikan tanda itu. Karena jujur, ia tak berharap untuk bertemu dengan seseorang yang seringkali disebut dengan soulmate.
00:00:15
Tubuhnya memanas, ia mencium bau yang sangat asing, campuran antara lemon dengan peppermint dan juga sandalwood, yang di sisi lain membuatnya nyaman.
00:00:05
"Apa-" Ten mendekatkan pergelangan tangannya ke hadapan wajah agar ia bisa melihat dengan lebih jelas.
00:00:03
Nafasnya memburu, tubuhnya terasa dingin. Tenggorokannya tercekat.
00:00:00
"Maafkan kelancangan saya karena datang terlambat."
Saat itu juga Ten merasa tubuhnya melemas, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasaya. Sedangkan di ambang pintu, berdiri pria tampan dengan balutan kemeja putih serta jas dan celana berwarna hitam, berambut pirang dengan kulit seputih susu.
Nafas Ten seolah berhenti ketika sepasang netra menatapnya dengan tajam, tak lupa senyum penuh misteri yang tersungging di bibir pria itu, "Saya Kun, Qian Kun, mohon bantuannya."
Gotcha!
Ten menggeleng penuh ketidakpercayaan saat seakan semua ucapan pria itu ditujukan ke arahnya.
Dan saat ia melirik waktu di pergelangnan tangannya, penghitung waktu itu telah berhenti, menandakan ia sudah bertemu dengan takdirnya, soulmate-nya.
.
.
.
TBC
