Di sebuah prefektur modern di Jepang terlihat lalu lalang kehidupan khas negara maju, ya. Jepang memang termasuk ke dalam negara maju yang di segani di dunia, salah satu negara yang terlibat menjadi salah satu tokoh utama perang dunia kedua. Beberapa dari antara orang yang berlalu lalang di jalanan ada yang mengenakan seragam khas sekolah-sekolah elit di Jepang, sebuah sekolah yang terletak di prefektur Konoha yang berbatasan langsug dengan prefektur Ame. Sebuah prefektur yang memiliki tingkat keamanan tinggi, bagaimana tidak? Hanya mereka yang tergolong dalam golong jetsetlah yang dapat masuk ke prefektur ini, Konoha merupakan sebuah prefektur yang menyembunyikan banyak informasi tentang Jepang. Baik kekuatan Jepang, maupun kelemahan Jepang.

Dari antara sekian ribu orang yang berjalan kaki di pusat Konoha, ada seorang remaja bersurai blonde yang tengah berjalan. Wajahnya terlihat tidak bersemangat, matanya setengah terbuka tidak terlalu peduli terhadap apa yang ada di depannya. Padahal dia memiliki mata yang begitu indah, blue sky. Warna mata yang secerah langit Konoha hari itu, tapi hati ini langit yang ada di matanya tidak menampakkan sinarnya sama sekali. Terlihat jelas dari pakaian yang dia kenakan, sebuah kemeja berwarna hitam dengan setelan celana putih panjang. Caranya berpakaian tidak rapih sama sekali, lebih terkesan bahwa dia adalah berandalan ketimbang seorang pelajar.

Kalau di lihat-lihat, pria ini mengenaka sebuah lambang di sebelah kiri kemejanya. Lambang Konoha High School! Sebuah sekolah yang terkenal akan keunggulan peserta didiknya, serta tingkat kesulitan yang tinggi untuk dapat maauk di sekolah ini. Tigkat kedisiplinannya juga tinggi, tapi kenapa orang ini dengan santainya berjalan menuju sekolahnya dengan pakaian yang berantakkan begini? Ah, mungkin saja dia berasal dari keluarga terpandang sehingga pihak swkolah tidak mempermasalahkannya. Mungkin?

Langkahnya terhenti kala melihat seorang pria yang mengenakan seragam yang senada dengannya, pakaiannya jauh lebih rapih ktimbang yang di kenakan oleh pria blonde ini.

"Teme!" Astaga?! Panggilan macam apa itu? Pagi hari dia menyapa dengan sebutan yang kurang bagus. Benar-benar orang ini.

"Hn, ada apa Dobe?" Dan orang yang di panggil Teme tadi meladeni, dengan menjawab 'Dobe'? Biarkanlah mereka saling berbincang.

"Mana Sakura?" Tanya pria blonde ini sambil berjalan mendekati pria berambut raven ini. Cahaya kehidupan mulai terlihat di pupil matanya.

"Sasuke, Naruto!" Panggil suara gadi dari kejauhan. Gadis berambut mirip gulali, ah mungkin dia gadis yang bernama Sakura tadi?

"Sakura?/Hn." Jawab pria yang bernama Sasuke dan Naruto.

Pria berambut raven ya g di ketahui bernama Sasuke ini merupakan kekasih dari gadis musim semi ini, dia adalah anak dari kepala polisi Konoha sedangkan pria berambut blonde ini bernama Naruto. Dia adalah anak dari Minato Namikaze, gubernur dari prefektur Konoha. Dan anak dari perancang busana go internasional, Kushina Uzumaki.

"Ayo berangkat, 20 menit lagi bel masuk!" Ujar Sakura berjalan mendahului Sasuke dan Naruto.

Sakura sendiri adalah anak dari seoran pengusaha resto seafood yang terkenal di Konoha, bahkan dengar-dengar resto keluarga ini merupakan resto termahal di Jepang. Juga berkualitas bintang tujuh * saking hebatnya buka lagi lima tapi tujuh!*

Kini ketiganya berjalan beriringan menuju sekolah mereka, tanpa mereka sadari sejarah buruk yang pernah tercatat di masalalu turut mengiringi perjalanan mereka. Apa mungkin mereka generasi dari tiga keturunan bintang? Keturunan bintang merupakan keturunan dari anak cucu Rikudou Sennin raja dari masa lampau.

Sepasang mata lavender berjalan mengiringi di belakang mereka, seakan menjadi perisai pelindung bagi ketiganya.

"Dia belum bangkit? Kenapa begini, padahal waktunya sudah hampir tiba?" Ujar sang gadis, mata lavendernya terus menatap ketiganya. Tetap menjaga jarak agar tidak terlalu jauh, tapi tidak juga terlalu dekat.

"Dia akan bangkit tidak lama lagi." Sahut pria dengan mata yang sama di sebelahnya.

Keduanya mengikuti Naruto, Sakura, dan Sasuke hingga sampai di sekolah. Mata mereka sama, lavender muda. Malahan nyaris putih tak berwarna. Mungkin bisa di sebut berwarna abu-abu?

Gadis di sebelahnya tersipu kala menatap Naruto yang tengah tertawa lepas di depannya, serasa bahagia bersama diri Naruto.

"Dia akan tetap menjadi milikmu." Ujar pria yang di ketahui bernama Hyuuga Neji ini. Matanya kini menatap Sasuke tidak suka.

"Eh, be-benarkah? Tapi, bukankah itu tidak akan terjadi sampai tugas yang di berikan selesai?" Tanya sang gadis yang bernama Hyuuga Hinata ini.

"Kau mau buktinya?" Nanti kau lihat saja nanti!" Ujar Neji dan berjalan mendahului Hinata.

'Memang, tapi jika tugas ini gagal. Maka aku harus menunggu lebih lama lagi, dan itu artinya akan ada lebih banyak kebencian lagi di dalam dunia. Tidak, tidak! Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak boleh egois, aku tidak boleh mendahulukan kepentinganku. Ada yang lebih penting dari itu, keluargaku. Dan kedamaian dunia.

Tapi, sampai kapan aku harus menunggu? Selama apa? Keturunan yang maksud oleh ramalan saat itu sekarang sudah terlahir, tapi apa ramalan itu akan selesai begitu saja tanpa hambatan? Semoga saja.' Hinata hanya dapat melamun ria di kala di sudah tidak lagi terlibat pembicaraan dengan Neji.

Sejarah kelam yang dulu pernah tercatat, mungkin akan di perbaiki di masa kini. Di perbaikki oleh mereka yang memiliki peran penting dalam sebuah kedudukkan di masa lalu, entah mereka adalah reinkarnasi dari Si Sulung maupun keturunannya, renkarnasi dari Anak Kedua maupun keturunannya, atau reinkarnasi dari Si Bungsu maupun keturunannya. Siapapun mereka, merekalah yang akan datang kembali untuk meluruskan apa yang salah di masa lalu. Masa yang di ramalkan mungkin sudah hampir tiba, dan siapapun mereka baika manusia, maupun hewan, maupun tumbuhan harus bersedia masuk dalam ruang ligkup masa lalu yang rumit. Yang bahkan 100 generasi tidak dapat menyelesaikannya.

Mungkin kita baru tau bahwa perang terbesar yang pernah ada adalah perang dunia kedua yang di prakarsai olwh blok sekutu dan Jepang, tapi kali ini akan terlahir yang lebih dari pada itu. Jika memang masa lalu harus kembali terulang kembali maka mereka yang tidak termasuk kedalamnya mau tidak mau, akan menjadi korban sebagai bayarannya.

To
Be
Continued

Hah, Suna udah nyelesain chapter pertama, di sini mungkin para Readers ydah mulai ngebayangin siapa yang di maksud Si Sulung, Anak Kedua, maupun Si Bungsu yang Suna tulis di prolog sebelumnya.

Jika ada penulisan yang kurang tepat mengenai PD 2, Suna mohon maaf. Suna udah lupa tentang detailnya bagaimana.

Di akhir kata, Suna kembali mengingatkan para Readers untuk tidak lupa meninggalkan jejak berupa Review di kolom Review yang sudah tersedia.