"Jangan tampil ke depan publik. Jangan meng-update apapun di SNS, dan jangan mendatangi Tokyo, kecuali jika kuminta. Kakashi yang akan mengantarmu ke Konoha. Kau mengerti, Bocah?"
Ucapan Jiraiya itu mutlak. Kalau sudah begini maka statusnya sekarang hiatus. Tak ada tawaran iklan. Tak ada pemotretan. Tak ada wawancara. Pernyataan disebar, dan Naruto meradang.
Ia akan menghabiskan enam bulan di sebuah kota kecil tanpa studio latihan dan lagu baru.
Well, harusnya tak sulit buat seorang Naruto yang sudah enam belas tahun tinggal terpisah dari orangtuanya.
.
.
.
Disclaimer: Naruto and its characters belong to the one and only Masashi Kishimoto.
Warning: AU, OOC, perhaps similar to Korean dramas you watched.
Formal-informal style. Pardon for typos. Just tell me if there are.
Genre: Romance (I'm afraid if I put it into comedy it won't be that funny)
.
.
.
Cute Guy Next Door?
Chapter 2: No Such Thing
.
.
.
Jaman SMA, ia idola satu sekolah. Pubertas mengarahkannya menuju 'jalan yang benar', mengubahnya dari seorang bocah pendek berpenampilan berantakan sewaktu SMP menjadi seorang pemuda tampan dan trendi yang bahkan berhasil menarik perhatian cewek paling cantik di SMA-nya dulu. Waktu SMP, dia benci rambut pirangnya karena ia tampak seperti bule nyasar. Tapi sejak SMA, saat dia sudah lebih bisa merawat diri, Naruto berhasil menemukan gayanya sendiri dengan rambut pirangnya itu. Sewaktu debut menjadi penyanyi 8 tahun yang lalu, pemuda 26 tahun itu mengecatnya menjadi hitam, dan tidak pernah mengubah warnanya menjadi pirang kembali. Jaman sekolah, bersama sahabatnya, si stoic Sasuke Uchiha, duo berkebalikan sifat itu begitu populer hingga ke distrik sebelah. Sepulang sekolah kedua pemuda ini akan selalu ada di lapangan bola bersama anak-anak cowok, mengejar si bundar yang bergulir ke sana kemari dibarengi teriakan gila-gilaan cewek-cewek yang menonton.
Sekarang, setelah berkecimpung di industri hiburan selama 8 tahun, ia telah menjadi idola satu negeri. Naruto tidak pernah bermaksud menjadi penyanyi. Ia hanya ingin jadi pemain bola. Tapi kemudian kakeknya, yang jarang sekali salah dalam menilai orang, menyuruhnya untuk jadi anak magang di agensi miliknya. Naruto awalnya tidak mau, tapi kakeknya terus membujuknya, diiming-imingi liburan ke Amerika, tempat ayah dan ibunya berada. Akhirnya ia menyerah dengan kemauan kakeknya, dan entah bagaimana, ia menemukan passion-nya dalam dunia tarik suara. Sementara sahabatnya, Sasuke, meneruskan kuliahnya di luar negeri.
Dan saat ini, Naruto terjebak di Konoha, kota kelahirannya sebelum ia dan orang tuanya pindah ke Amerika dan meninggalkannya bersama Kakashi untuk dibesarkan di Tokyo 7 tahun kemudian.
.
.
.
Bel rumah barunya berbunyi berkali-kali. Naruto yang baru bisa tidur jam 4 pagi menggerutu jengkel, ia meraih jam di atas nakas di sebelah tempat tidurnya dan melihat arah jarum jam menunjuk. Masih pukul 7 pagi. Ia mengumpat pelan dan bangkit dengan berisik dari selimutnya. Dengan mata setengah terpejam dan rambut yang sangat berantakan, ia berjalan terseok-seok menuju pintu depan.
Pemuda itu membuka pintu rumahnya bertepatan dengan si penekan bel yang tadinya sudah setengah berbalik karena ia menyangka kalau si pemilik rumah masih belum bangun dan memutuskan untuk datang lagi siang nanti. Naruto melihat gadis itu buru-buru berbalik dan memperbaiki lilitan syal krem yang dililit hingga menutupi setengah wajahnya. Naruto yang lupa memerhatikan penampilannya di cermin dan langsung saja menuju pintu depan karena ia terlalu mengantuk merutuki dirinya sendiri yang begitu cuek dan sekarang seorang gadis berdiri di depannya. Ada banyak kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, misalnya, gadis itu akan mengenalinya sebagai seorang Uzumaki Naruto dan membuat kehebohan di SNS, atau lebih buruk lagi, ia seorang stalker-fan yang entah dengan cara apa berhasil menemukan rumah persembunyiannya dan sekarang mengantarkan hadiah lain yang tak kalah 'mengerikan' dengan hadiah-hadiah dari fans sejenis sebelumnya, atau gadis itu akan menambil foto dirinya dalam tampangnya yang mengerikan saat ini dan menyebarkannya di media sosial. Image pria keren yang sudah dibangunnya selama 8 tahun akan hancur seketika!
Tapi dilihat dari penampilan gadis di depannya, sepertinya kemungkinan yang terakhir disebutkan bisa dicoret.
Ia buru-buru menyisir rambutnya dengan jemari tangan. Sebelum Naruto sempat bertanya, gadis itu lebih dahulu berbicara setelah menurunkan lilitan syalnya.
"Oh, halo. Kau lama banget sih, aku baru saja mau pergi tanpa memberikan ini," ia menyerahkan kotak makan sebesar buku catatan yang dibungkus kain berwarna merah pada Naruto.
Naruto setengah mendengus. "Kukira dengan pindah ke sini hidupku bakalan damai untuk sementara waktu," katanya jengkel. Dan lagi, apa gadis ini baru saja bicara santai dengannya?
"Hah? Kau mengatakan sesuatu?" Gadis itu kebingungan.
"Kau mau memberikan ini buatku 'kan, Pink? Hadiah apalagi ini?" Naruto menggoncangkan kotak makan tadi.
"Hei, hei! Itu makanan! Jangan digoncang-goncang seperti itu!" Gadis itu berseru marah kemudian merebut kembali kotak makan tersebut. "Kalau kau ga mau ya sudah, jangan mengacaukan isinya!" Gadis itu mendengus kesal. "Dan aku punya nama! Jangan panggil aku Pink, aku benci banget dipanggil seperti itu," katanya lagi.
Naruto setengah melongo. Bagus, keadaan macam apa ini?
Dengan tampang kesal kemudian gadis itu memperkenalkan diri, "Males banget harus kenalan dengan orang sepertimu," ia menggerutu dan menarik napas pelan, "Aku Haruno Sakura, kami tinggal di sana," katanya sambil menunjuk rumah di belakangnya dengan jempol yang melewati bahunya, "dan tadi itu bingkisan dari ibuku sebagai ucapan selamat datang karena kau tetangga baru kami."
"Tapi karena kelihatannya kau terlalu angkuh buat menerimanya, lebih baik ini kumakan sendiri di kampus nanti," lanjutnya kesal kemudian berbalik tanpa menunggu balasan dari Naruto.
Naruto terpana sepersekian detik, kemudian buru-buru memanggilnya. "Hei! Tunggu!"
Sakura menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya malas. "Apa?"
"Kau tidak mengenaliku?" Naruto bertanya seolah-olah semua orang mengenalnya. Atau setidaknya di Tokyo tidak ada yang tidak mengenalnya.
"Apa sih? Memangnya kau siapa? Anggota boyband yang kabur?" Sakura jengkel.
"Kau benar-benar tidak kenal denganku?" Pemuda itu terpana. Seterpencil apa tempat ini?
"Please, bicara yang jelas. Aku buru-buru mau ke kampus, dosen kuliah jam pertamaku killer, memangnya kau mau gantiin?"
Sial. Percuma saja dia khawatir soal stalker-fan atau image apalah. Persetan, di kota kecil begini, mana ada yang mengenalnya. Jiraiya benar-benar mengambil pilihan yang bijak.
"Baiklah, baiklah! Sini, kemarikan kotak makan itu, aku akan menerimanya!" Naruto mengulurkan tangannya, meminta kembali kotak makan merah tadi.
Sakura menyerahkan kotak makan itu dengan pandangan setengah menyelidik. Bodo amat dengan tetangga barunya ini, memberitahukan namanya saja tidak, bagaimana bisa gadis itu mengenalnya?
"Dan ingat baik-baik namaku," kata Naruto, sebelah alisnya terangkat, memandang Sakura dengan pandangan meremehkan, "Naruto. Uzumaki Naruto."
.
.
.
Naruto melepas kaosnya dan melemparkannya sembarang ke atas tempat tidur. Masih jam 7, terlalu pagi untuk mandi di cuaca yang dingin ini, tapi dia tidak bisa tidur lagi. Pemuda pirang itu memutuskan untuk berjalan-jalan keluar, mengamati kota kelahirannya dulu.
Saat pancaran air dingin menerpa wajahnya, ia teringat sesuatu.
"Dan jangan lupa, namamu di sini Namikaze Naruto, jangan keceplosan menyebut Uzumaki Naruto, oke?"
Sial. Dia baru saja memberitahukan nama artisnya pada si Pink tadi. Ia baru teringat ucapan Kakashi semalam, kalau ia harus menggunakan nama aslinya di sini, Namikaze Naruto. Bukan nama panggungnya, Uzumaki Naruto. Naruto memukul tembok di hadapannya.
Hebat, seemosi apa dia tadi?
.
.
.
"Huh, Uzumaki Naruto? Aku sepertinya pernah dengar nama itu…" Gadis berambut merah muda itu terus mengulang-ngulang nama tersebut di pikirannya. "Ah, masa bodo! Nyebelin!"
Sakura baru saja tiba di parkiran gedung bisnis saat ponselnya berdenting, tanda pesan masuk. Sakura membukanya. Dari Ino.
Asuma Sensei tidak masuk! Jam pertama dan kedua kosong, temui aku di kafe depan kampus sekarang chu~
Luar biasa, Sakura tidak tahu harus senang atau kesal karena dia sudah berlari dari gerbang depan agar tidak terlambat masuk kelas dosennya yang terkenal galak ini. Dilihatnya jam di ponselnya, 7.20, gadis pirang ini, pagi-pagi sudah minum kopi. Tapi dipikirnya lagi, tak apalah, ia juga butuh asupan kafein hangat di pagi yang dingin ini, meskipun itu berarti perutnya akan berontak jauh sebelum jam makan siang.
Sakura kemudian menuju kafe di depan kampusnya. Ia memesan segelas take out Americano. Dilihatnya Ino duduk di pojokan dekat jendela.
Sembari menunggu, ia menatap ke luar kafe. Tampak restoran ramen di persimpangan.
"Duh, malah kepikiran!" Ia mengomel pelan kemudian meraih ponselnya dan mengetikkan sebaris nama.
"Hmm, mari kita lihat—tunggu, namanya pakai kanji atau apa?"
Setelah mencoba beberapa kali dengan karakter yang berbeda, kali ini muncul banyak hal yang menarik. Paling atas adalah profil penyanyi pria bernama Uzumaki Naruto, diikuti dengan skandalnya di bagian bawah pencarian. Ia menerima kopinya dan bergegas menuju spot favorit mereka.
Gadis itu mengecek ponselnya lagi. "Ng? Rambutnya hitam, tidak kelihatan seperti si tetangga baru…"
Tapi artikel skandalnya lebih menarik perhatian Sakura. Ia kemudian membuka beberapa laman sekaligus. Kemudian kata-kata seperti 'astaga' dan 'ya ampun' beruntutan keluar dari mulutnya.
"Pria ini… ya ampun, dia gila atau gimana?!" Gadis itu bicara sendiri.
"Hoi, kau dari tadi ngeliatin apa sih?" Ino mengintip ke layar ponsel Sakura. "Ya ampun, kau baca gosip juga ya?" tanya Ino.
"Apa sih? Nggak kok, aku tadi lagi mencari seseorang, tapi malah hasil soal penyanyi ini yang muncul," Sakura membela diri.
"'Penyanyi ini' katamu? Halooo, Sakura, masa kau ga kenal dia? Cewek-cewek sekampus gila padanya tau!" kata Ino tak percaya.
"Hah?"
"Semester kemarin dia ngisi acara di kampus kita, aku bahkan mengambil foto-fotonya dengan kameraku!"
"Semester kemarin? Dia yang bikin cewek-cewek kampus kita pingsan berjamaah? Gegara desak-desakan itu?" tanya Sakura lagi.
"Duh," Ino tertawa sambil mengiyakan ucapan Sakura. "Kenapa? Orang yang kau cari bernama sama?"
"Ada yang baru pindah ke rumah nomor 10. Cowok, masih muda—tenang dulu, jangan agresif begitu!" kata Sakura buru-buru menahan Ino, "Dan kebetulan namanya Uzumaki Naruto," katanya mengakhiri.
Ino mengibaskan tangannya, "Ga mungkin sih kalau itu Naruto yang ini, buat apa dia pindah ke kota kecil begini kalau hidupnya bisa enak di Tokyo?"
"Yah, aku ngga bilang kalau dia Naruto si penyanyi itu, 'kan? Kebetulan aja namanya sama, lagipula orangnya ga mirip dengan foto-foto di internet," kata Sakura.
"Ya udah, tapi kau harus ngenalin aku ke dia! Siapa tau orangnya tipeku banget," seru Ino. Sakura memutar bola matanya. "Nggak mungkin kau suka, Ino, dia kasar."
"Aku suka dikasarin, kok!" kata Ino genit. "Gadis ini!" Sakura hendak menjitak kepala Ino, tapi gadis itu berhasil menghindarinya.
"Ah, iya! Apa kau masih ingat," gadis itu berhenti sebentar, menyesap peppermint latte-nya, "dengan teman SMA kita, Sai? Yang putih pucat itu, yang tiap jam istirahat siang pergi ke ruang melukis?"
"Yang aneh tapi disukai cewek-cewek satu sekolah itu?"
"Duh, dia nggak aneh! Itu cool namanya. Cowok ganteng pendiem tapi se-passionate itu sama hobinya yang ga biasa tuh seksi, tau!" Ino protes.
"Lalu? Kenapa emangnya?" tanya Sakura.
"Aku melihatnya kemarin. Di minimarket di simpang jalan. Seingatku, dia kan kuliah di Amerika, jadi kemarin aku menyapanya."
"Dia sekarang ganteng banget, kau tau? Aku juga dapat e-mailnya." Ino mulai excited. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa menghentikan ocehannya.
.
.
.
.
Naruto mengambil topi hitamnya dan memakai maskernya yang juga hitam, kemudian meraih parka biru tuanya dari atas sofa. Barang-barangnya belum dibongkar, dan ia terlalu malas menyusun pakaiannya di lemari. Ia ingin keliling untuk mencari udara segar, dan tentunya, inspirasi.
Jangan pergi jauh-jauh dari rumahmu, dan jangan sampai identitasmu terbongkar!
Naruto mengernyit membaca pesan dari Kakashi tersebut. Bagaimana bisa Kakashi tahu kalau dirinya mau keluar?
"Ga mungkin dia serius soal mata-mata itu, kan?" pikirnya. Ia kemudian menyimpan ponsel di sakunya dan pergi keluar.
.
.
.
.
Naruto menyusuri jalan-jalan kecil hingga jalan raya, melihat-lihat toko-toko kelontong dan toko pakaian, mencicipi jajanan masa kecilnya dulu, melewati perkantoran serta sekolah dasar yang para siswanya sedang berkebun, mengamati mural-mural di dinding-dinding perumahan, menyeberangi taman di tengah kota, hingga ia tiba di depan kampus satu-satunya di kota ini. Kota ini, tentu saja, sudah banyak berubah. Semakin ramai dan maju, meskipun masih tetap kecil. Ia melirik jam tangannya. Sudah pukul sebelas. Empat jam di luar rumah tidak buruk juga.
Ia langkahkan kakinya ke dalam gerbang dan menuju gedung fakultas seni. Naruto memperbaiki posisi topinya. Kampus. Tempat lain yang bisa jadi sumber inspirasi. Atau sekedar cuci mata. Daun muda, apa salahnya?
TBC
Duh maaf nih baru update. So mager, dan so sibuk sama tugas kuliah. Ini aja nulisnya buru-buru:( doakan punya banyak ide lagi hahaha.
Balesan review2 sebelumnya:
Naruto niat nyamar ga sih? haha gimana ya? kelakuan aja kaya gitu :))
Shion beneran hamil? hmm gimana ya? maunya beneran hamil apa ngga? :))
The Heirs? itu drama konfliknya berat parah, otak saya ga sanggup x)
EXO NEXT DOOR? hmm ide awalnya sih dari sana ya, tapi ga bakalan mirip kok :)
Berapa chapter? nggak lebih dari 10 kok... sepertinya sih, hahaha
Btw ga ada yang kepikiran sama angka-angka di atas? Saya bikin ficnya udah lama banget jadinya sampe lupa sendiri itu maksudnya gimana hahaha... next chapter kita do the math ya :))
Kira-kira Naruto ketemu Sakura ga di kampus? Mari liat di chapter selanjutnya~ hahaha btw r&r ya :)
