Chapter 2 sudah Update, Gak lama kan? Hehe..
Oke, selamat membaca!
Tachi Edogawa : Makasih, ini udah di update. Silahkan baca
Yamanaka Chika : Arigatou reviewnya. Maaf, tapi sayangnya author-nya gak suka NejiTen tuh :) *senyum a'la Sebastian Michaelis*
Minami22 : Nih udah update ya, imouto! Log In dong :( arigatou
Airi Princess'Darkness AngeL : Iya nih ada SasuNaru, kheke.. Arigatou
Sukie 'Suu' Foxie : Hehe, tapi Itachi dah insaf kok. Terus nanti juga pasti ada alesannya kenapa Sasu tiba-tiba begitu. Jadi, baca terus ya! arigatou!
kyu's neli-chan : Soal siapa yang jahat sih silahkan reader menilai sendiri nantinya, arigatou XD
el Cierto : Arigatou el-san! ini udah di update :D. My Imouto suka fic-fic ItaIno el-san lho!
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pairing:
Itachi – Ino,
Slight:
ShikaTema, SasuNaru, NejiGaa (harus ada! *taboked*)
Summary:
Chap. 2! Dia membuatku patah hati, tapi kini semua luka itu hilang tak berbekas karena kehadiran Itachi. Jujur aku menyayanginya, namun aku takut ia akan sama dengan adiknya. B'day fic for Minami22, 22 Mei 2011, RnR please.
Can you feel this?
A
Naruto Fanfic
By
Hime Uguisu
Birthday Fic For
Minami22
22 Mei 2011
Ino's POV
Aku sudah selesai membasuh wajahku. Kumatikan kran air yang tadi kupakai lalu aku segera melangkah keluar dari toilet siswi ini. Di depanku pintu masuk toilet siswi, sudah berdiri Itachi. Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke tembok dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Gaya sok kerennya persis sekali dengan Sasuke.. eh? Kenapa aku jadi teringat Sasuke lagi sih?
"Sudah selesai, kan?" tanya Itachi. Aku mengangguk singkat. Lalu kami pun berjalan menjauhi toilet. Mata aquamarineku bergerak-gerak untuk mengawasi sepanjang koridor yang kami lewati ini. Takutnya bertemu lagi dengan Sasuke.
"Hei, jadi kan ke café-nya?" aku bertanya pada Itachi saat kami sudah tiba di tempat parkiran sekolah ini. Itachi mengangguk singkat. Aku hanya tersenyum simpul. Ia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kunci mobil. Ditekannya tombol otomatis untuk membuka kunci mobilnya. Ia pun membukakan pintu mobil untukku. Dengan santai aku masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia pun berjalan memutar untuk membuka pintu untuknya sendiri. Setelah ia sudah duduk di kursi pengemudi, barulah ia menghidupkan mesin mobilnya dan kami melaju meninggalkan area sekolah.
"Ngomong-ngomong, kita ke café yang dekat saja, ya?" tanyanya. Aku berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Ya, di mana saja boleh. Aku haus sekali nih. Kau yang traktir kan, Itachi-senpai?" jawabku sekaligus bertanya lagi untuk meyakinkan. Ia hanya tersenyum tipis. "Iya," jawabnya singkat. Sejenak aku sedikit kaget saat melihatnya tersenyum.
.
.
.
Lalu tak sampai 20 menit kami sudah tiba di café itu. Aku membuka pintuku sendiri. Setelah memastikan aku sudah keluar mobil, barulah Itachi turun dari mobilnya dan mengunci pintu mobil sedan hitamnya itu.
Kami pun berjalan memasuki pintu masuk café itu. Itachi senpai mengajakku untuk duduk di tempat duduk yang terletak di dekat jendela. Aku menurut dan kami pun duduk di meja untuk dua orang itu. Itachi memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami.
"Kau mau pesan apa Yamanaka-san?" tanya Itachi sambil membolak-balik daftar menu yang tersedia di atas meja.
"Aku mau pesan cheese cake dan milk shake strawberry saja. Dan, panggil aku Ino," jawabku. Pelayan tadi pun segera mencatat pesananku. "Ditambah satu Italian red soda," sambung Itachi. Pelayan itu pun mencatat.
"Ada lagi?" tanya pelayan itu. Itachi menggeleng, dan pelayan itu pun berjalan menjauhi kami. Kami pun berbincang-bincang ringan sampai pesanan kami akhirnya datang.
"Jadi, Yama..-", "Ino!" ucapan Itachi langsung kupotong. Itachi berdehem pelan lalu kembali serius. "Jadi.. Ino, apa ada yang mau kau ceritakan?" tanyanya sambil mengaduk gelas yang berisi Italian red soda-nya. Aku terlihat berfikir sejenak lalu akhirnya mengangguk.
"Ya, sekalian curhat boleh, kan?" tanyaku. Itachi pun mengangguk. Aku menyeruput milk shake strawberry ku. "Kira-kira apa Itachi senpai tahu apa penyebab Sasuke jadi begitu?" aku bertanya lagi. Itachi sempat terdiam sebentar. "Let me see.." ucapnya lalu terlihat berfikir, mencoba mengingat-ingat kelakuan Sasuke sebelum ini. Aku menunggu jawabannya dengan sabar sambil sesekali memakan cheese cake-ku.
"Sepertinya sikap Sasuke baik-baik saja dari tadi pagi. Aneh sekali, ya.." jawab Itachi. Aku menghela nafas panjang. Kusandarkan tubuhku ke kursi café ini. Rasanya kepalaku jadi sakit sekali.
"Ada apa ya dengan Sasuke? Kenapa tiba-tiba dia jadi sama Naruto sih? Masa dia jadi homo-nya cepet banget," kataku dengan nada kesal. Itachi hanya diam mendengarnya. "Orang homo tuh nyebelin banget, ya kan, Itachi senpai?" tanyaku tanpa sengaja. Aku menatap ke arah Itachi, sedangkan orang yang ditatap malah buang muka. Butuh beberapa detik sampai otakku dapat mencerna apa yang terjadi. Aku segera menutup mulutku dengan kedua tanganku.
"Maksudku tidak semua.." lanjutku pelan seperti berbisik. Itachi kembali menatapku dan tersenyum miris.
"Tidak apa-apa kok Ino. Aku tidak tersinggung. Lagipula aku ingin berubah," ucapnya dengan nada lesu. Aku jadi merasa bersalah. Ia menundukkan kepalanya.
"Ingin berubah?" tanyaku dengan hati-hati, takut kalau menyinggung perasaannya lagi. Kulihat Itachi mengangguk pelan.
"Aku ingin jadi normal dan itu susah sekali," jawab Itachi. Ia ikut menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi café. Aku tersenyum padanya, "apanya yang susah? Mungkin aku bisa membantu?" tanyaku lagi. Lumayan juga kalau aku membantunya, bisa mengisi waktu luang sekaligus menambah amal. Itachi menatap lurus ke mataku.
"Sejujurnya aku bingung… apa yang bisa membuatku tertarik pada…perempuan?" katanya pelan yang lebih terdengar seperti bertanya. Aku berusaha menahan tawaku begitu mendengar pernyataannya itu. Melihatku menutup mulut seperti ingin tertawa, Itachi menatapku dengan pandangan kesal.
"Apanya yang lucu?" tanyanya tajam. Aku pun tertawa kecil, "haha, aku tidak percaya akan mengatakan ini tapi.. mungkin kau harus mulai menonton video porno yang modelnya perempuan! Hahaha.." dan aku sudah tidak bisa menahan tawaku. Rasanya geli sekali aku menyuruh seorang laki-laki untuk menonton hal yang seperti itu, biasanya kan mereka tanpa disuruh juga sudah dilakukan. Itachi membuang muka lagi. Terlihat sedikit semburat merah di pipinya. Manis sekali.. eh?
"Apa-apaan sih kau! Dasar aneh!" katanya. Aku kembali meminum milk shakeku. "Habisnya, err.. maksudku wajahmu kan tidak buruk, anak perempuan juga banyak yang mengidolakanmu, pokoknya kau tinggal tunjuk ingin dengan siapa! Hehe," kataku. Ia kembali menekuk wajahnya.
"Dasar.. memangnya aku ini sedang mencari barang, apa? Tinggal tunjuk kau bilang? Ada-ada saja," Itachi menghabiskan minumannya. Aku pun segera menghabiskan minuman dan makananku. Lalu setelah membayar di kasir, kami pun kembali masuk ke dalam mobil.
.
.
.
Aku turun dari mobil Itachi saat kami telah sampai di depanku rumahku.
"Yakin tidak mau mampir?" tanyaku. Aku berdiri di samping pintu yang terletak tepat di sebelah Itachi. Ia menurunkan kaca mobilnya dan menatapku. "Tidak, aku langsung pulang saja," jawabnya. Aku mengangguk mengerti lalu berjalan menjauh dari mobilnya. Saat ia mulai menghidupkan kembali mobilnya, aku melambaikan tanganku sambil berseru "hati-hati di jalan, ya!" dan dia pun membawa mobilnya melaju meninggalkan rumahku. Aku tersenyum simpul lalu berjalan membuka pagar rumahku, lalu membuka pintu rumahku. Aku duduk di teras depan rumah sambil membuka sepatuku, lalu menenteng sepatuku untuk diletakan di dalam rak yang terletak di dekat pintu rumah.
"Tadaima!" seruku saat berjalan memasuki rumah. Tidak ada jawaban. Tentu saja, tidak ada siapa-siapa di sini. Baiklah, kali ini aku akan bercerita tentang bagaimana keadaan keluargaku. Namaku Yamanaka Ino, aku putri tunggal dari Yamanaka Inoichi. Ayahku membuka toko bunga di sebuah kawasan pertokoan yang letaknya tak jauh dari rumah kamu. Ia berangkat dari pagi dan baru pulang saat sore menjelang malam. Sekarang baru pukul 5 sore, dan ia pulang sekitar pukul 7 malam. Keluargaku hanyalah keluarga yang sederhana. Tidak kelebihan dan juga tidak kekurangan. Ibuku sudah meninggal sejak usiaku 5 tahun.
Berbeda sekali dengan keluarga Sasuke. Uchiha adalah keluarga kelas atas yang perusahaannya memiliki banyak cabang di mana-mana. Rumah mereka saja besar sekali, sudah seperti istana saja! Aku sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Aku pun berjalan memasuki kamarku dan merebahkan diriku di atas kasurku.
"Tadi Sasuke mengatakan hal yang seakan ia menuduhku menginginkan kekayaan keluarganya, apa maksudnya ya?" aku bertanya pada diriku sendiri. Mataku menatap ke arah langit-langit kamarku. Mencoba mencerna kembali kalimat yang Sasuke ucapkan padaku. Lelah, akupun memejamkan mataku.
"Jadi.. putus denganku, kau langsung menggandeng kakakku begitu? Apa keluarga Uchiha segitu hebatnya sampai kau ingin mendapatkan marga dan harta kami yang berlimpah?"
Aku membuka mataku dengan cepat begitu kalimat itu terngiang kembali di telingaku. Masih jelas diingatanku bagaimana ekspresi wajah Sasuke saat itu. Lalu Naruto? Dapat kulihat pemuda blonde itu terlihat tidak nyaman saat melihatku. Bola mata sapphire-nya terus bergerak menghindar untuk menatapku. Ekspresi wajahnya terlihat sangat merasa.. bersalah? Hei ada apa di sini? Apa Sasuke itu hanya berpura-pura begitu dan esoknya ia akan memberi kejutan padaku sambil berteriak "Kejutan! Kemarin itu hanya sandiwara kok!"? jadi mungkin Naruto dipaksa olehnya untuk bekerja sama dengannya untuk mengerjaiku? Ah, rasanya tidak mungkin.. besokkan bukan hari ulang tahunku.
.
.
.
Sekarang sudah sekitar pukul 7 malam. Aku masih menunggu ayahku pulang untuk makan malam bersama. Apa aku belum bilang ya, sekarang itu sedang musim semi lho! Bunga-bunga sangat indah. Oke, tidak terlalu penting sih. Aku duduk sambil bertopang dagu di meja makan. Masakan sudah siap di atas meja makan berkapasitas untuk 4 orang ini. Tak lama kemudian aku mendengar suara pagar terbuka dan setelah itu ada suara motor yang mendekat. Aku pun segera berlari ke arah pintu rumah untuk membukkakan pintu. Tepat saat pintu cokelat itu kubuka, sosok ayahku sudah berdiri di depan pintu.
"Tadaima!" seru ayah sambil membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Ia pun mengambil sandal rumah dan memakainya.
"Okaeri, tou-san!" balasku. Saat ayah sudah masuk ke dalam rumah, aku kembali menutup pintu dan berjalan mengikutinya menuju ruang makan. Ia duduk di hadapanku. Aku pun segera mengambil nasi untukku. Setelah aku selesai mengambil nasi, kini aku juga mengambilkan dan meletakkannya di piring ayah. Hari ini aku membuat katsu. Hanya menu sederhana, tidak apa-apa kan?
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya ayah setelah ia menghabiskan makanannya. Ia pun mengambil gelas berisi air dan meminumnya, lalu kembali meletakkan gelas itu di samping piringnya. Aku pun segera menghabiskan makananku dan meminum minumanku.
"Ya, seperti biasa saja kok," jawabku sambil tersenyum. Ayah mengangguk-angguk mengerti.
"Souka. Lalu bagaimana dengan si Sasuke, Sasuke itu, hmm?" pertanyaan ayah kali ini membuatku terdiam sejenak. Aku pun bangkit dari kursiku. Aku menundukkan kepalaku sedikit, menatap ke arah lantai putih di bawahku.
"Biasa saja kok. Aku sudah selesai makan," kataku sebelum pergi meninggalkan ayah dan kembali masuk ke dalam kamar tidurku. Dapat kulihat ayahku menatapku dengan tatapan bingung.
"Kenapa nama itu harus disebut lagi sih?" umpatku saat aku sudah merebahkan tubuhku di atas kasurku.
.
.
.
Esok pagi sudah datang. Hari ini sudah semakin mendekati musim panas. Aku tidak sabar menunggu saat libur musim panas nanti. Segera kurapihkan pakaian seragam sekolahku. Aku memakai jas berwarna biru dengan kemeja berwarna putih dengan motif garis-garis hanya pada bagian kerahnya. Rokku berwarna biru gelap yang pendeknya sekitar 15 cm di atas lutut. Kuambil tas ransel berwarna lavenderku dan aku pun siap berangkat ke sekolah. Saat sampai di meja makan aku mengambil sepotong roti yang sudah disiapkan ayah untukku. Dan kami berdua pun segera berangkat meninggalkan rumah.
Karena jarak dari rumahku ke sekolah lumayan jauh, aku pun selalu pergi ke sekolah diantar oleh ayah. Baru sepulang sekolahnya aku memilih naik bus. Ayah mengantarku menggunakan motor. Dan dalam waktu 20 menit aku sudah sampai di depanku gerbang Konoha High School.
"Ayah tinggal ya,"
"Iya, hati-hati di jalan, ya!" setelah mengucapkan itu ayahku pun kembali menyalakan mesin motornya dan pergi menjauh dari lingkungan sekolahku. Aku berjalan memasuki KHS ini.
"Yo! Ino!" sapa seseorang sambil menepuk punggungku dari belakang. Aku sedikit tersentak kaget, namun saat kulihat ke belakang ternyata orang itu adalah Shion (Shion yang ada di Naruto Shippuden: The Movie, lho!). Aku tersenyum. "Ohayou," sapaku. Ia tersenyum padaku.
"Ohayou juga. Ayo ke kelas," ajaknya. Aku mengangguk dan kami pun berjalan ke kelas bersama-sama. Kemarin Shion tidak masuk sekolah karena izin, jadi ia tidak tahu apa yang terjadi kemarin antara aku dan Sasuke. Entahlah, aku malas membahasnya.
.
.
.
Aku meletakan tasku di atas mejaku. Shion menarik bangku di sebelahku dan menggantungkan tasnya di samping mejanya. Aku duduk bertopang dagu sambil menatap pemandangan di luar lewat kaca jendela yang tepat di sebelah kiriku. Beberapa menit kemudian terdengar suara rusuh dari anak perempuan. Shion menatapku dengan pandangan 'ada-apa?', tapi aku hanya membalasnya dengan angkat bahu. Kami menengok ke arah pintu kelas dan detik itu juga aku terdiam seketika. Banyak pasang mata yang memperhatikan dua orang yang sedang melangkah memasuki ruang kelasku.
"Psst.. mereka bergandengan tangan tuh!"
"Tumben sekali! Biasanya kan mereka bertengkar!"
"Eh, eh, dilihat Ino tuh!"
"Yamanaka-san sampai tertegun begitu melihatnya. Ada apa sih?"
Suara-suara dari beberapa murid yang melihat Sasuke dan Naruto terdengar jelas di telingaku. Sasuke terus menggandeng tangan Naruto seperti tidak mau melepaskannya. Naruto terlihat tidak nyaman dengan pandangan teman-teman sekelas yang lain. Sedangkan si pemuda onyx terlihat santai saja. Aku segera membuang muka dari mereka berdua dan kembali menatap jendela. Shion menatap ke arahku dan Sasuke secara bergantian. Terlihat jelas raut kebingungan di wajah cantiknya. Hufft..
Terdengar suara seseorang yang menarik kursi lalu mendudukinya. Dan detik berikutnya aku baru sadar. Dengan segera ku alihkan lagi pandanganku. Kini aku menatap ke bangku di depanku. Aku lupa, si Uchiha itu kan duduk di depanku! Dan Naruto.. dia duduk di sebelah Sasuke, berarti dia duduk di depan Shion.
"Nee, teme, tadi semua anak melihatku sampai seperti itu!" bisik Naruto pelan pada Sasuke, namun karena jarak mereka yang dekat denganku, jadi aku bisa mendengar sedikit. Sasuke hanya menjawab dengan "hn" andalannya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Shion menepuk-nepuk pundak Naruto dari belakang. Dengan ragu, Naruto menengok ke arah Shion. Namun pemuda Namikaze itu seakan menghindar agar tidak bertemu pandang denganku.
"Naruto, tumben kau akrab dengan Sasuke. Ada apa? Sudah damai nih?" tanya Shion sambil tersenyum kecil. Naruto hanya membalas dengan senyuman yang sedikit dipaksakkan. Lalu Shion pun menengok ke arahku.
"Ino, kok wajahmu tidak senang sih? Lihat, akhirnya dua sahabatmu ini bisa damai! Haha," tawa Shion. Terlihat ia senang-senang saja. Aku hanya menengok ke arahnya dan menatap lurus mata violet di depanku.
"Apa kau bilang tadi? 'dua sahabat' katamu?" tanyaku sambil menatapnya dengan tatapan datar. Shion menggaruk pipinya dengan telunjuknya.
"Salah deh, maksudku pacarmu dan sahabatmu! Hehe," kata Shion. Aku semakin menatapnya dengan tatapan datar. Sedangkan Naruto segera mengalihkan pandangannya dari Shion dan langsung menatap ke papan tulis di depan kelas. Sasuke sama sekali tidak menengok ataupun merespon.
"Pacar, eh? Aku tidak pernah punya pacar ataupun sahabat laki-laki, kau tau!" aku mengatakannya dengan sedikit membentak. Shion menatapku dengan wajah terkejut. Ia pun menatap kami bertiga dengan bergantian.
"Anou, apa yang terjadi pada kalian saat aku tidak ada?" tanya gadis di sebelahku. Aku hanya angkat bahu lalu kembali menatap jendela.
"Nanimonai," jawab kami bertiga secara bersamaan. Apa-apaan ini? kenapa kami bisa kompak begitu?
Teng Tong..
Bel sekolah penanda pelajaran akan dimulai telah berbunyi. Aku mengambil beberapa buku dari dalam tasku lalu meletakannya di atas meja. Aku sedikit melirik ke arah kanan karena merasa terus diperhatikan. Ya benar, Shion terus menatapku.
"Apa yang terjadi Ino?" tanyanya pelan. Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak ada apa-apa. Nanti saja aku ceritakannya. Dan, maaf soal yang tadi ya!" kataku. Shion mengangguk.
"Tidak papa kok," jawabnya singkat.
.
.
.
Normal Pov
Seorang pemuda berambut hitam bermata hitam kelam pula, sedang menatap bosan ke arah papan tulis kelasnya. Sesekali tangannya menggores beberapa gambar dengan pensilnya di atas halaman belakang buku tulisnya. Ia merasa sangat bosan hari itu.
"Kau kenapa, Itachi-kun?" tanya seorang pemuda berambut blonde yang menutupi sebagian wajahnya. Pemuda yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit khawatir," jawab Itachi. Deidara terdiam sejenak. Dalam hati ia bertanya 'apakah ia khawatir padaku?'. Itachi menghela nafas panjang.
"Anak itu kan sekelas dengan Sasuke dan Naruto. Apa mereka akan baik-baik saja, ya?" tanya Itachi pada dirinya sendiri. Deidara yang duduk di sebelahnya memejamkan sejenak matanya. 'anak itu?' tanyanya dalam hati. Ia pun kembali memasang seulas senyum tipis di depan Itachi.
"Kalau boleh aku tahu, siapa nama anak yang kau maksud itu? Apa dia teman Sasuke dan Naruto?" tanya Deidara. Itachi kembali mencoret-coret belakang bukunya.
"Anak itu, Yamanaka Ino.." jawab Itachi pelan. Deidara terdiam seketika.
"Apa? Ino? Kenapa?" tanya Deidara pada Itachi. Itachi hanya mengangguk. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada kursinya. Lalu ia pun melepaskan pensil yang sedang ia pegang lalu meletakannya begitu saja di atas meja.
"Entahlah, kurasa anak itu menarik,"
'Apa maksudmu?' tanya Deidara dalam hati. Mata sapphirenya menatap Itachi dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Pemuda di hadapannya bahkan sempat tersenyum sedikit saat menyebut nama 'Yamanaka Ino'. Deidara mengepalkan tangannya.
"Oh, begitu ya," jawab Deidara pelan seperti berbisik. Ia tertunduk kesal. Membuat helai rambut blondenya semakin menutupi wajahnya sehingga tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya yang di paksakkan tersimpan sebuah kekesalan yang tak tersampaikan.
.
.
.
To Be Continue
Gimana chap kali ini? udah lebih panjang dari yang kemarin, kan? Apa masih ada typo? Sekarang saya sudah berusaha agar mengurangi typo dengan memeriksa dulu ceritanya sebelum di publish!
Ditunggu REVIEW kritik membangun dari kalian, ya!
