.
Apa yang terjadi sebelum kecelakaan terjadi?
.
C A R D I O I D
.
"Harusnya kau sendiri yang pergi mengambilnya!"
"dia sendiri yang memaksa."
"harusnya kau bersikap tegas, Sasuke teme!"
"Sudah, sudah, sudah!"Ino melerai Sasuke dan Temari yang memiliki potensi berkelahi—adu hal yang sebutulnya sepele.
"Kenapa kita tidak menyebrang duluan saja?" kata Sakura."Aku sudah sangat bosan menunggu."
Di bawah langit sore, mereka menunggu di sebrang jalan dekat lampu sedang menunggu kedatangan Karin mengambil ponsel Sasuke yang tertinggal di berdiam diri seolah tidak ada topik yang tepat untuk dibicarakan.
Suasana ini lebih tepat di sebut dan Temari maupun Sakura sendiri menyadari apa yang menjadi penyebab rasa canggung ini. Sasuke satu-satunya pokok tahu bagaimana Karin menyukai anak laki-laki tahu meski Karin tidak pernah bercerita apa-apa, dan mereka juga tahu Sasuke merupakan macam laki-laki bodoh yang tidak menyadari lingkungan sekitar dan dirinya sendiri.
Seperti yang Nampak oleh mata, Sakura adalah satu-satunya perempuan yang akrab dengan Sakura bukan tipe orang yang mudah berteman dengan siapa saja. Dia akan berteman dengan orang yang ingin ia jadikan sebagai teman, terutama perempuan. Dia tidak peduli jika orang-orang akan menilainya jahat. Dia hanya akan menjadi dirinya sendiri meski orang lain membenci itu.
Temari yang benci terhadap laki-laki yang suka memperlakukan perempuan semena-mena, tentu saja memperhatikan bagaimana tingkah Sasuke kepada Sakura maupun ini sangat tahu bagaimana kisah cinta segi tiga diantara mereka terasa tragis jika dilihat dari sudut pandang yang memang tidak mempermasalahkan berteman dengan siapa saja, tidak akan keberatan jika salah seorang teman laki-lakinya ingin berteman lebih dekat dengannya dari pada dengan laki-laki lain. Temari adalah orang pertama yang menyadari perasaan Karin terhadap Sasuke. Sayangnya, Sasukesama sekali tidak menyadari dan malah mendekati Sakura. Temari pun tahu dari awal bahwa Sasuke merupakan macam laki-laki yang sukar menyadari perasaanya tidak menyadari bahwa dia menaruh sebuah perasaan hangat kepada yang di sadari oleh Karin pula.
Temari takut pada satu hal yang sangat berkemungkinan terjadi, yaitu Sakura mulai menyambut perasaan hal yang tidak mugkin rasa lembut itu tumbuh dalam hati Sakura selalu menyangkal pernyataan Temari soal perasaan Sasuke terhadap adalah perasaan yang mudah lembut menyenangkan yang sangat Temari keadaan menjadi kacau karena rasa kasih persahabatan diantara mereka semua kacau karena lika-liku cinta ini.
Tidak hanya Temari, Ino hampir memiliki sifat yang sama dengan Temari. Dia lebih berat memihak kepada Karin tanpa alasan pasti yang ia ketahui. Ino tahu, suatu saat Sakurapasti memiliki perasaan yang sama dengan Sasuke. Kapan itu terjadi, dia tak juga tahu, jika hal itu terjadi, maka penderitaan juga terjadi pada diri sangat percaya pada kawannya itu, kawannya tidak akan mengikat hubunan spesial dengan Sasuke seberapapun dia ingin melakukannya. Bahkan, sebetulnya ada aturan tak tertulis mengenai ketidakbolehan Sakura menyatakan cinta kepada Sasuke.
Jika cinta mulai tumbuh dalam diri Sakura, Ino tahu, itu lah puncak dari tahu, itu lah waktunya bagi persahabatan mereka semua kacau, dan yang paling melakukan perang batin adalah Sakura dan Karin. Bagi Ino, Karin lah yang paling menderita.
Sasuke hanya laki-laki sederhana yang sangat mencintai seakan dipersembahkan untuk alat music dia lupa belajar memahami perasaan. Dia hanya memahami perasaan yang ia mainkan ketika bermain gitar. Ia tak menyadari bahwa sejak setelah putus dari kekasihnya yang terdahulu, ia juga memulai menaruh rasa yang sama dalam diri Sakura tanpa mempedulikan Karin yang pada waktu itu memberikan rambu-rambu merah muda. Pikirannya telah lurus dan dia tak memandang-mandang lagi ada siapa dalam hatinya.
Dari kejauhan, terlihat Karin berlari menyebrangi lapang nafas lega setengah kesal terdengar dari Sasuke melangkah maju dengan wajah dan Temari diam. Mereka berdua menemukan sebuah respon baru yang memungkinkan sebuah kenyataan penderitaan.
"Karin, cepaat!"Sasuke itu, Karin masih berdiri di trotoar siap sumringah dengan ponsel berwarna orange di tangan melambai makin tidak bisa ingin cepat-cepat tiba di sebrang sana. Kakinya melangkah sebelum kepala menengok ke kanan, mengabaikan truk yang hendak melintas pada kecepatan dari sini, waktu berputar seakan sangat lamban.
Sasuke segera memanggil nama Karin dengan teriakan yang berbeda ketika menyadari keberadaan truk. Membuat gadis riang tersebut mengerut Sasuke beralih dari Karin ke truk pengangkut barang. Mau tak mau, Karin menoleh ke arah yang sama dengan arah yang Sasuke lihat. Sekali lagi, waktu berputar terasa sangat detik seolah satu lamban ini sangat terlihat jelas di mata Sasuke. Bagaimana plat nomor polisi truk tersebut merobek paha Karin sampai bagian depan truk mendorong Karin hingga terlempar sejauh tujuh meter.
Hal yang paling mengejutkan adalah ketika Karin memindahkan ponsel Sasuke ke tangan melihatnya dengan jelas bagaimana Karin lebih melindungi ponsel Sasuke ketimbang keselamatan dirinya sendiri. karena Karin tahu, setelah dirinya terhempas sejauh tujuh meter, truk pada kecepatan tinggi tidak bisa dihentikan dengan mudah. Truknya tetap melaju melangkahi tangan kanan yang adalah tangan emas bagi Karin. Lebih dari itu, tangan kanannya adalah masa depan. Satu fakta yang Sasuke ketahui.
Pada waktu sebelum kaki Karin menginjak zebra cross, lampu penyebrangan jalan berwarna hijau . setelahKarin mulai menginjak zebra cross, lampu berubah menjadi merah dan Karin sama sekali tak memperhatikan lampu tersebut. Matanya tertuju pada menyadari ketika waktu berjalan pada kecepatan normal, Sasuke tidak langsung berlari menyelamatkan tertegun kaget. Sementara jeritan histeris belum juga berhenti dari sejak sebelum truk menabrak Karin.
Sasuke dan yang lainnya terlalu kaget untuk bertindak cepat menolong masih berdiam diri saja. Memanggil-manggil namaKarin dengan nada putus asa. Mengamati dengan mata takut apa yang dilakukan Karin. Tangan kiri Karin—yang menggenggam ponsel— melambai-lambai ke langit. Entah epilepsy atau apa, tetapi mereka tetap masih menonton.
Sasuke sebagai orang pertama yang tersadar dari rasa shock, segera melompati pagar pembatas menuju Karin.
"d-daijobou?"
Hari itu, mereka tidak pulang ke rumah pulang menuju rumah sakit dengan wajah khawatir di bawah langit senja.
.
.
"Harapan yang tak terlihat lagi, selama ada kau…tidak apa-apa…"
.
.
"Nandemonai…aku senang ada kamu di sini " Karin tetap tersenyum seperti biasa. Sementara aku tersenyum miris sebagai jawaban. Sebarapa banyak pun dia berkata tidak apa, hatiku tidak bisa berbohong. Bagaimana pun juga, mimpinya telah sirna karena aku.
"nee, Sasuke, mau makan siang di atas gedung? Ada onigiri buatan Okaasan. Ehee"
Aku tersenyum singkat seraya menepuk pundaknya. "mungkin lain kali, hari ini aku ada rapat club," tak kuasa aku berkata demikian. Namun harus ku katakan demi tanggungjawabku sendiri sebagai pengurus club music. Lain kali, kau tidak akan ku kecewakan, Karin. Meski mungkin terkadang aku lupa terhadap janji ini. Jadi tolong, jangan kau tunjukan wajah kecewamu, jangan pernah…. Di hadapanku…
Aku segera berpisah kali aku berbalik khawatir meski sudah sangat jauh dari aku masih bisa melihatnya, aku terus berbalik. Aku cemas dan seperti yang ku katakan tadi, meski dia berkata tidak apa, sebetulnya ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.
Hari ini dia ramah, tidak seperti aku bertengkar pun pertengkarannya hanya sebatas perang ku rasakan aura kesal Karin dari hari pertama dia masuk sekolah. Tentu saja, memangnya kau tidak akan kesal/marah pada orang yang telah merebut mimpimu? Sekalipun orang itu adalah orang yang kau cintai. Argght! Secara logis, kecelakaan Karin bukan karena entah kenapa aku selalu merasa ini karena aku mengetahui perasaan spesial Karin kepadaku?Kenapa jadi aku yang merasa tersudutkan?
Mungkin aku salah, berpura-pura tak menyadari perasaan Karin… di sisi lain, aku juga bisa saja benar-benar tak mempedulikan Karin. Tetapi orang yang ku sayangi tak akan menyukai itu. Aku akan kena imbasnya juga.
"…SASUKE!" Aku terkesiap kaget, tersadar dari telah membawaku berjalan jauh dari kelas dan tiba tidak pada tujuan tanpa ku sadari.
"ada apa?" tanyaku tanpa basa-basi.
"aku yang harusnya bertanya ada apa. Kau lihat Karin tidak?"
Sesaat aku awal, aku malas sekali mengenal tipikal perempuan feminim dibanding Sakura dan tingkahnya berubah kasar kepadaku sejauh yang ku selalu menceramahiku setiap kali aku berbuat sesuatu yang menurutnya salah. Malah tak jarang ia menasehatiku lebih dari yang biasa ibuku sendiri lakukan.
"dia di kelas." Jawabku dingin sembari meleos pergi.
"tumben gk bareng Sakura." Celetuknya Judes. Erght! Perempuan ini membuatku bicaranya yang membuatku berusaha keras menahan diri agar tidak melakukan kekerasan. Menghiraukannya adalah salah satu cara yang tepat. Terakhir kali aku bertengkar dengan Temari, aku menamparnya.
Ku keluarkan ponsel dari saku. Memijit beberapa tombol sampai namaSakura muncul. Entah sejak kapan, begitu sadar aku sering sekali mengirimi Sakura pesan aku menanyainya hal yang tidak penting.
.
.
~ketahuilah, kau tidak akan mengerti jika kau tak pernah alami hal ini~
.
"Jangan khawatirkan aku, selama ada kau, aku tidak apa. Semuanya baik-baik tidak peduli tanganku tak berfungsi menjadi menyenangkan bila kau di ."
Tapi tentu Sasuke tidak bisa percaya begitu beralalu dan sebanyak apapun Karin berkata tidak apa-apa, tidak bisa membuat Sasuke bernafas juga, dia lah penyebab hilangnya impian Karin.
"Kenapa… kenapa kau bisa berkata begitu dengan tenang?Bukankah di hari pertama bersekolah kau marah padaku?"
"aku tidak bisa marah lebih dari satu hari. Cukup. Kau mengerti kan?" Karin bangkit dari kursi. Mengambil tas lalu segera berlalu pergi. Namun, genggaman tangan Sasuke di tangan Karin menghentikan saling mata mereka sama-sama yakin dengan keyakinan yang dipercayai masing-masing. Karena tak ada satu orang pun di kelas, mereka putuskan untuk saling terbuka satu sama lain lewat persetujuan yang tak di katakan, lewat tatapan mata.
"kau tidak bisa terus menerus menyembunyikan sesuatu dariku. Aku pikir kau ini tipe perempuan yang sedikit tomboy?Jadi, kau pasti berani mengatakannya."
Karin duduk nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri. "bukan kah kita sudah membahas hal ini beberapa kali? Tidak ada yang aku sembunyikan darimu."
"bohong! Apakah kau baik-baik saja dengan kondisi seperti ini? Berpura-pura tersenyum padaku padahal sebenarnya kau ingin menendang mukaku kan? Jangan kau pikir aku tidak menyadari hilangnya impianmu karena aku! Aku tak tenang dengan hanya meminta maaf padamu. Ku mohon, mengerti lah Karin…"
"Tidak apa-apa begini juga."Kata Karin sambil mengusap tangan sedikit parau dengan sorot mata pendek tersebut cukup mengartikan bahwa Karin mengakui impiannya yang hilang adalah karena Sasuke. Oh, Sasuke hampir tak tega harus mendengar kalimat selanjutnya dari Karin.
"salah satu impianku memang hilang." Karin menundukkan kepala tidak meledak dalam meski tak ingin menangis, matanya selalu berkaca-kaca tiap kali ingat soal mimpi yang tak bisa dicapai.
"yang hilang hanya salah satu dari sekian banyak impian. Masih ada pun kau tidak menjamin apa-apa."Katanya melanjutkan dengan nada sedikit menyadari, atmosfer di sekitarnya telah berubah." Ya, kau tidak menjamin apa-apa. Tapi tanpa alasan yang kau punya, aku tahu kau bisa memastikan sesuatu kepadaku, hanya satu, yaitu padaku, kau hanya tinggal berada di sisiku dan tersenyum, aku sudah sangat berkata-kata maaf lagi, jangan memohon lagi, aku tidak marah, aku tidak apa-apa, aku tidak berbohong."
Sasuke Karin terdengar justru keyakinan itu membuat hati Sasuke bergetar terlalu kuat dibandingkan tak mengerti kenapa Karin masih menginginkan benar-benar Sasuke pahami saat ini adalah rasa takut mengecewakan Karin. Takut bila air mata Karin yang keluar hari ini akan keluar lagi di suatu hari nanti karena sebuah alasan sama. Sasuke meragukan dirinya mungkin tak akan sanggup membuat Karin tersenyum seperti yang Karin katakan meski Sasuke berada di sisi Karin.
Perlahan-lahan, cardioid mulai begerak dalam diri yang berbeda dari yang dimiliki ini bergerak bilamana rasa bersalah menusuknya.
"benci aku!" kata Sasuke tegas. Ini cukup sedikit melegakan perasaan merasa pantas jika dibenci. Namun, Karin menggelengkan kepala menolak untuk membenci.
"maaf, aku tidak bisa… arigatou gonzaimasu!"
Sasuke tersentak sadar seberapa kuatnya Karin. Seberapa perempuan ini memiliki perasaan yang luar membungkuk dalam-dalam lalu menunjukan pada Sasuke bahwa dirinya memang baik-baik saja dengan wajah riang. Lebih dari itu,sekarangSasuke paham bagaimana cinta bisa membuatmu terlihat menyedihkan. Meskipun perasaan yang orang-orang sebut cinta bisa membuatmu kuat, itu tidak berarti kau akan terus kuat bersamanya. Cinta bisa membuatmu lupa terhadap mati, cinta juga yang membuatmu ingin adalah perasaan yang Sasuke anggap bagian dari mungkin ternyata tak selamanya saja cinta itu bagian dari perasaan yang menyedihkan.
Sasuke tak meragukan lagi, Karin benar-benar memiliki perasaan menyedihkan itu untuk dirinya.
.
Ruang kelas ada seorangpun di anak berada di ruang gym.Hanya kami berdua yang tak ikut jam pelajaran olahraga. Aku tak bisa berlari membebaskan diri dari ada rantai-rantai tak terlihat yang melilit tubuhku.
Meski air mata ini tak berhenti mengalir, tapi sungguh aku tidak apa. Jika mimpi ku harus hilang karena kau, semua itu tidak berarti apa-apa, karena kau, orang yang paling aku inginkan berada di sisiku.
"benci aku jika kau ingin. Itu pun tidak apa-apa bagiku."
Aku mulai menahan diri agar tidak menangis karena ingat aku tidak bisa menulis lagi atau karena perkataan Sasuke. Separuh hatiku memang sedih, tetapi separuh lain berkata sebaliknya. Aku senang, berkat kecelakaan ini aku dan Sasuke bisa dekat dan sedikit menyirnakan jarak antara Sasuke-Sakura. Sampai aku berpikir, mungkin ini waktunya Sasuke mulai belajar menyambut perasaanku. Di lain pihak, ada hal yang aku takutkan dan paling tidak ku inginkan. Aku tidak mau jika Sasuke menyayangiku hanya karena perasaan iba atau rasa bersalah pasca bukan perasaan murni yang ku inginkan.
"nee, Sasuke…arigatou gonzaimasu!" kataku lancar meski sedikit diselingi cekugan. Sambil membungkuk, buru-buru ku hapus air sekali tak bermaksud menyembunyikannya dari tahu, Sasuke pasti sudah tahu aku menangis.
Sebelum Sasuke mengizinkanku membencinya, aku telah membencinya semenjak aku ku tolak untuk membenci Sasuke, perasaan ini tak bisa banyak kalimat yang ku katakan bahwa aku menyukai Sasuke, jauh di dalam lubuk hatiku masih tersimpan rasa pada laki-laki ini karena sangat lamban menyadari dari itu, Sasuke telah memusnahkan harapan menggapai impianku.
"kau… bodoh ya? Untuk apa berterimakasih?"
"untuk…emm…karena telah mengkhawatirkanku selama " aku tersenyum simpul. Menunjukan wajah dengan raut riang dan mendapati ekspresi kaget dari kagetnya membuatku ikut-ikutan kaget seperi sebuah reaksi yang digunakan jika kau menemukan sesuatu yang berbeda dari pada itu karena aku tersenyum?Apakah Sasuke menemukan kecantikan di balik senyumanku?Ahahahahappah sih aku ini?Namun, aku yakin betul raut raut terkesima.
"sepulang sekolah aku tidak ada kegiatan club. Mau pulang bersamaku?"
Agaknya aku dikagetkan pertama kalinya Sasuke mengajakku pulang , Sasuke mengajakku pulang sama-sama jika Sakura dan yang lainnya juga ikut pulang bersama.
"Sakuradan yang lainnya juga ikut?" tanyaku memastikan.
"emm, jika mereka mau."
Ya,aku tahu jawaban macam apa itu. Jawaban yang secara tidak langsung mengatakan : "sebenarnya aku ingin hanya kita berdua saja." Apa-apaan ini?Apakah Sasuke hanya sedang mempermainkanku saja? Jika iya, maka permainan ini sama sekali tidak lucu.
"hei, Sasuke,"
"hn?"
Tolong tegas pada dirimu orang yang benar-benar kau sayangi? Katakan padaku!
Sesaat aku ragu untuk sekali ku katakan satu kalimat pendek ini, tapi nampaknya aku tak ku katakan, mungkin ini malah menyakitiku secara halus. Dari awal aku tahu, Sasuke tidak akan dengan mudah beralih dari Harda kepadaku. Aku tahu, Sasukeakan tetap menyimpan perasaanya kepada Harda baik secara sadar maupun tidak.
"ada apa?"
Lebih baik, aku tak pernah takut Sasuke malah menjauh saja dan kesakitan itu hidup secara bahwa salah satu tanganku tak bisa digunakan lagi adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri.
'if you have no longer feeling… please, don't be so kind to me!'
.
.
To Be Continued...
.
.
Do you feel some boredom cause my fict?
