'Aku sering meminta agar kita dipertemukan dan mungkin, senja tengah berusaha untuk mengabulkannya.'

Uchiha Sasuke menghela nafas pelan. Semenjak ia menjadi sosok secret admirer dari seorang pemuda blonde-model mimpi basahnya-tersebut, membuatnya menjadi sedikit tidak waras. Uchiha bungsu itu yakin jika ia tidak sedang jatuh cinta-atau belum-namun, itu tak menutup kemungkinan mengingat betapa cantiknya pemuda tersebut.

Sasuke merasa sedikit melankolis sekarang. Akhir-akhir ini, ia pulang lebih larut dari biasanya karena menunggu sang blonde. Tidak, mereka tidak berpacaran. Jangankan berpacaran, Sasukepun tak tau nama pemuda itu. Sebenarnya, untuk seseorang jenis Sasuke yang merupakan orang kaya dan seorang ketua osis, sangat mudah untuknya untuk mengetahui data diri si pirang. Namun, sekali lagi, ia hanya ingin bersikap gentle layaknya penggemar lain yang si pirang. Ia ingin mengetahui sesuatu tentang si pirang tanpa menggunakan jabatannya.

Langkah kaki pemuda beriris onyx tersebut terdengar disepanjang lorong. Maklum saja, hari telah senja dan matahari sebentar lagi akan terbenam. Tak kan ada siswa yang betah tinggal disekolah ketika mereka bisa menghabiskan waktu mereka untuk bersantai dirumah. Tapi, tidak untuk Sasuke. Kewajibannya menjadi kapten basket membuatnya harus memastikan bila perlengkapan grupnya benar-benar aman dan rapi. Selain itu, tugasnya sebagai ketua osispun ikut ambil alih mengapa pemuda Uchiha itu masih berada disekolah. Memiliki jabatan itu merepotkan. Dan Sasuke menyadari itu dengan baik.

Lagipula, Sasuke lebih senang menghabiskan sebagian besar waktunya disekolah dibandingkan di mansionnya yang megah. Bukannya sombong, namun itulah kenyataannya. Adik dari Uchiha Itachi ini sedikit malas jika diingatkan dengan keadaan rumahnya. Seperti orang kaya biasanya, orang tuanyapun sibuk bekerja dan lebih sering pergi keluar negeri mengurus bisnis yang membuat Sasuke kehilangan figur Tou-san dan Kaa-san sejak dini. Untunglah, ia masih memiliki Nii-san yang menyayanginya walaupun tingkah sang Nii-san sangat membuat Sasuke malu.

Membelokkan kakinya, penglihatan Sasuke kini dimanjakan oleh warna orange dan merah yang mendominasi langit yang semula biru seperti warna iris si pirang. Pemuda Uchiha itu tersenyum tipis. Bahkan sangat tipis ketika ia membisikan sesuatu pada senja. Sesuatu yang sama setiap harinya-

-Semoga kami bertemu lagi.

.

.

.

AKAMI

Disc: Mbah Massashi yang Terhormat.

Rated: T

Pair: Sasunaru

Warning: Shounen-ai, BL. Ooc chara. EYD berantakaan, typo bertebaran, humor garing dan tema kacangan. Cute Naru.

Don't read if u dislike a boy love, k?

.

.

.

"Aduh…pelan-pelan dong Kyuu!" jerit Naruto. Sesekali, ia tampak meringis ketika Kyuubi mengoboti lukanya dengan antiseptik.

"Salahmu sendiri, kenapa pulang mengendap-ngendap seperti itu ha!" bentak Kyuubi namun jemari lentiknya masih mengobati luka sang adik yang disebabkan oleh ulahnya yang 'sedikit' kalap tadi.

"Siapa yang mengendap-ngendap." Naruto mengerucutkan bibirnya. "Kyuu-nii saja yang lagi parno. Iya kan?"

"Kamulah! Parno?" Kyuubi tertawa bengis. "Seorang Kyuubi parno? Haha. Hell no!"

"Terus ngapain Kyuu-nii mukul Naru pake sapu?"

"Kan sudah aku bilang kalau itu salahmu! Lagipula, darimana saja kamu baru pulang jam segini?"

"Aku ada tugas Kyuu-nii."

"Tugas apa?" Kyuubi memincingkan matanya. "Kudengar dari Kiba, sensei-sensei kalian sedang baik dan tak ada yang memberi tugas untuk minggu ini." Lanjut Kyuubi datar.

GLEK!

Pemuda bersurai pirang itu menelan salivanya kasar. Demi apapun di dunia ini, tak ada yang lebih mengerikan dibanding dengan kemarahan Kyuubi yang menganut sifat brother complex parah. Bahkan tidak dengan Sadako yang muncul dari televisi. Kyuubi lebih seram. Titik. "Aaa—anu, Kiba bilang begitu?"

Kyuubi semakin memincingkan matanya ketika melihat gelagat sang adik. Adiknya ini mudah ditebak dan tak pandai berbohong. Lagipula, adiknya memang tak pandai dalam segala hal a.k.a bodoh. Ia akan tertawa jika senang, menangis jika sedih dan berteriak jika kesal. Selain itu, ia juga akan mendadak gagap seperti adik Neji si iklan shampoo jika sedang menyembunyikan sesuatu. "Jawab dengan jujur, Naru." Kyuubi berkata datar. "Dan jangan sekali-kali mencoba membohongiku." Lanjutnya tak lupa dengan tatapan mengintimidasi.

Entah mengapa, kini Naruto berkeringat hebat. Bola matanya melirik kesana-kemari mencoba menghindari kontak mata dengan sang kakak. Pemuda berkumis kucing itupun merasakan hawa yang lebih berat sebelumnya. Naruto memang bodoh. Tapi, ia tak cukup bodoh untuk memberi tahu Kyuubi apa yang tengah dilakukannya selama ini. Bisa habis Sasuke dikerjai oleh Kyuubi.

Terlihat berlebihan memang apa yang dipikirkan oleh Namikaze Naruto. Namun, kenyataannya memang seperti itu. Seperti dulu, ada seorang pemuda bernama Utakata mencoba mendekatinya dan Narutopun sedikit menyukai pemuda berkulit putih tersebut. Iapun bercerita pada Kyuubi dan esoknya, ia mendengar jika Utakata telah pindah sekolah dan tak ingin menemuinya. Walaupun dalam kasus kali ini berbeda karna Sasuke tak tau siapa itu Naruto.

Memikirkan Sasuke yang tak mengetahuinya membuat pemuda berkulit tan itu murung. Matanya yang sedari tadi melirik kesana-kemari kini menunduk sedih. Tak dipungkiri, menjadi secret admirer benar-benar berat untuk pemuda manis ini. Apalagi yang ia suka adalah Uchiha Sasuke. The most wanted man. Selain itu, pastilah Sasuke memiliki kriteria atau bahkan seorang kekasih saat ini mengingat betapa mempesonanya pemuda tersebut.

Namun, Naruto tak menyerah. Ia sudah cukup senang hanya dengan melihat Sasuke dari jauh. Setidaknya, ia merasa ia memiliki pemuda raven itu kala senja tiba. Ya, selama senja masih ada dan lembayung mendominasi langit, ia akan selalu mencintai pemuda raven itu. Ya benar! Bukankah itu terdengar hebat?

Narutopun tersenyum senang akan pemikiran polosnya. Sangat naif memang. Tapi tak apa, bukankah cinta memerlukan pemikiran yang naif? Narutopun semakin melebarkan senyumannya.

Melihat sang adik yang tengah cengar-cengir tak jelas membuat Kyuubi heran plus jengah. Bukankah tadi mereka sedang berdiskusi dan terlibat omongan yang cukup berat? Kyuubipun mencoba berdehem untuk mengambil perhatian sang adik.

"Naru." Panggil Kyuubi dengan suara yang diberat-beratkan. "kamu belum menjawab pertanyaanku, ingat?"

"eh?" Narutopun memiringkan kepalanya. "Pertanyaan apa Kyuu-ni? Hoahem. Naru ngantuk dan laper. Naru makan dulu ~" lanjut Naruto dengan wajah polos watadosnya dan bangkit meninggalkan Kyuubi yang tengah berasap.

"NAMIKZE NARUTO, CEPAT KEMBALI DAN KITA SELESAIKAN PEMBICARAAN KITA!" teriak Kyuubi yang tak didengar oleh bungsu Namikaze karna kini tengah asik makan.

Poor Kyuubi.

Namikaze Naruto berjalan sepanjang lorong sekolah dengan hawa gelap dan menunduk. Ia meringis, mengapa harinya semakin lama semakin gelap. Sudah dibangunkan pagi-pagi karna diantar-paksa-oleh Kyuubi dan nanti pulang sekolah dijemput pula.

Pemuda bersurai pirang itu tampak mengerucutkan bibir kissablenya. Jika begini, bagaimana caranya dia bisa memperhatikan pemuda bersurai raven yang sedang latihan basket?! Ah, inilah yang tak ia suka dari Kyuu-nii!

Dengan gemas, Naruto mengusak surai pirangnya. Ia tengah memutar otak dobe-nya untuk mencari cara agar sang kakak tak perlu menjemputnya nanti. Terlaru larut dalam pemikirannya yang buntu, Naruto tak menyadari jika ia telah melewatkan kelasnya dan berjalan menuju lapangan basket yang masih tampak lenggang. Maklum, ini masih pukul 06.30 pagi dan pelajaran akan dimulai satu jam lagi.

Bungsu Namikaze itu tak peduli jika terdapat seseorang yang tengah bermain basket di lapangan itu. Ia hanya terus berjalan dengan wajah frustasinya sembari terus berfikir. Secara tiba-tiba, Naruto menghentikan langkahnya lalu menjerit senang seolah baru saja mendapatkan ide yang briliant.

"AHA!" bola lampu imajiner muncul di atas surai pirang Naruto.

DUG!

"AWWW!" Naruto menjerit. Iapun mengusak kepala pirangnya yang baru saja kena lemparan bola basket. Menengadahkan kepalanya, pemuda pirang itu bersiap untuk menyumpah jerapah seseorang yang mengacaukan moodnya yang baru saja memba-

"Dobe." Ujar seseorang itu datar ketika melihat pemuda pirang yang ia lempar bola basket menjerit layaknya seorang gadis. Memang sih rasanya pasti sakit, tapi salah sendiri siapa suruh menghalangi kegiatannya.

-ik. Naruto mengerjapkan kedua netranya. Iapun mengucek-ngucek lalu menoleh kearah pemuda yang tengah menatapnya bengis. Ia tak salah liat kan? Dia Sss—sasuke kan? Eh?

"Menyingkir bodoh." Sasuke berjalan mendekati Naruto dan sukses membuat pemuda pirang itu membatu sejenak. "Kau menghalangi latihanku." Lanjutnya sambil mengambil bola basket yang kini berada dibalik tubuh Naruto.

Naruto masih diam. Otaknya tiba-tiba kelu. Ia sedang mengalami heart attack sekarang. Oh tuhan, itu benar Sasuke kan? Sasuke kini berada didekatnya. Dibalik tubuhnya. Ya tuhan! Mimpi apa dia semalam?! Narutopun mulai menggelengkan kepalanya lalu menoleh kearah Sasuke-memastikan.

"Apa yang kau lia-

"KYAAAA!"

BRUK!

Naruto pingsan dengan tidak elitenya. Ck ck.

.

.

.

Sasuke duduk dengan tenang di kursi samping tempat tidur UKS sekolahnya. Jam baru menunjukkan pukul tujuh dan beberapa anak baru berdatangan sedangkan ia sudah harus direpotkan oleh pemuda pirang yang tiba-tiba pingsan di lapangannya.

Ada sebersit rasa bersalah ketika melihat wajah damai snag pirang. Apa mungkin ia melempar bola dengan sangat keras sehingga menciderai otak dari pemuda ini, pikirnya. Namun, itu hanya sesaat. Seperti Uchiha lainnya, Sasuke tak mau mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf. Hell. Uchiha itu memaafkan bukan meminta maaf tak peduli siapa yang berbuat salah.

Lagipula, ia merasa tidak melempar bola dengan sangat keras kok. Buktinya, tadi pemuda itu masih mampu menjerit seperti layaknya gadis. Eh atau mungkin si pirang ini gadis ya? Tapi masa sih, orang ini memakai celana sperti ia dan pemuda lainnya gunakan bukan rok seperti para gadis gunakan. Iya sih, badannya cukup mungil dan jika diperhatikan, wajahnya cukup manis dan menyerupai seorang gadi-

Eh! Apa yang baru saja ia pikirkan. Sasukepun menggelengkan kepala berniat mengusir pikiran absurd na membuatnya terlihat ooc dari otak cerdasnya. Ia mendengus lalu bersandar pada kursi kemudian iapun memejamkan matanya. Ia sedikit lelah karna tadi pagi, ia terpaksa harus meninggalkan rumah sepagi mungkin jika tidak ingin terlibat pembicaraan tentang 'menjadi Uchiha sebenarnya' dengan sang Tou-san atau mendapat pertanyaan 'Apa kau sudah punya pacar' dari sang Kaa-san yang kemarin malam baru tiba dirumah.

Tidak, bukannya Sasuke tak senang jika kedua orang tuanya dirumah dan mengobrol dengannya. Tapi ia juga kesal jika disetiap obrolan mereka pasti berakhir dengan 'Kau harus seperti kakamu, membanggakan.' Atau 'Jangan main terus, ikuti Itachi yang bisa mengelola perusahaan ketika dia diusiamu.'

Sasuke tak iri. Sedikitpun tidak. Ia malah senang dan bangga bisa memiliki kakak seperti Itachi. Tapi, ia juga muak dan kesal. Mengapa orang tuanya tak pernah bangga dengan apa yang ia lakukan atau sekali saja melihatnya. Itachi dan ia berbeda. Mereka terlalu berbeda jika dibandingkan.

Pemuda raven itu menghela nafas. Ia hanya lelah ok? Ia tidak mengeluh. Uchiha tak mengeluh. Bungsu Uchiha itupun benar-benar memejamkan matanya tanpa menyadari jika si surai pirang telah bangun dan memperhatikannya sedari tadi.

.

.

"Hei." Naruto mencoba membangunkan Sasuke dengan menguncang bahu pemuda raven tersebut. "Sasuke, hei. Bagun."

"Enggg." Erang Sasuke. Mendengar erangan Sasuke tak ayal membuat Naruto tersenyum manis. Iapun mencoba menguncangkan bahu Sasuke kembali. "Bagunlah Sasuke."

Sasuke mengucek kedua matanya yang membuat Naruto terpekik tertahan. Iapun menoleh kearah Naruto yang tengah tersenyum lebar kearahnya. "Oh. Kau sudah sadar?" tanya Sasuke.

"Huum." Naruto menganggukan kepala lucu.

"Ini jam berapa?"

"Istirahat, mungkin?"

"Hah?! Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?"

"Eh?" Naruto mengerjapkan matanya. "Tadi kau terlihat nyenyak. Aku tak tega membangunkanmu." Lanjut Naruto.

"Dobe." Sasukepun bangkit lalu berjalan melewati Naruto yang tengah menatapnya dengan pandangan yang tidak terdenifisikan.

Pemuda raven tersebut hendak membuka pintu UKS sebelum teriakan Naruto membuatnya harus menutup kupingnya erat.

"TEMEEEE!"

Blam!

Lalu, pintu UKSpun tertutup rapat menyisakan Sasuke yang kini tengah membatu. Kenapa ia menangis?

Tobecountinued

A/n: heyhoooo, obs balik lagi hueheheee. Obs bingung cara gimana publishnya hehe^^?

kira-kira ada yang nungguin ini story gak yaaa?obs seneng banget pas liat story ini ada yang respon dan jujur itu bikin obs semangat buat lanjutnya. Arigatou yang udh review^^ maaf ya kalo ada yang salah kata atau typos atau storynya kacangan banget. Maaf juga, gabisa tulis balesan reviewnya disini hehe tapi obs janji bakal bales chapter depan._.v jadi, tetep review ne^^ arigatouuuuuu~

Khetjup~

Obs29