Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, Ooc, terlalu pendek, dan kecacatan lainya.
Note: Jika kalian lihat penampakan Typos yang bergentayangan. Mohon membaca do'a dan terus berjalan lurus.
Happy Reading Minna
.
.
.
Rambutnya basah dibanjiri keringat. Angin sedikit membantu mengurangi keringatnya. Surai merah itu dibelai lembut angin musim semi, membuatnya bergerak sesuai irama kakinya berlari. Wajahnya serius sekali. Dia bahkan masih tetap tampan walau dengan nafas tersengal-sengal seperti itu. Didalam barisan itu Deidara masih dapat menemukanya. Ya, Sasori sahabat kecilnya kini telah tumbuh menjadi pemuda yang mempesona.
Setiap latihan Sasori selalu tampak semangat dan ceria memainkannya. Senyum itu selalu terukir walau ia kelelahan sekalipun. Sasori tak pernah mengeluh. Tak peduli saat hujan salju menglanda waktu itu, ia tetap berangkat latihan. Sungguh bodoh, tentu saja kegiatan semua klub diliburkan. Ya ... bagaimanapun juga Deidara senang melihat Sasori yang begitu antusias.
Sasori tak pernah malas mengikuti semua kegiatan klub, walau pada akhirnya ia hanya duduk manis di bangku cadangan. Agak pahit memang menelan kenyataan itu. Seperti kau berusaha untuk mewujudkan mimpimu namun tak ada hasil sama sekali. Bukanlah itu sama sama saja kita melakukan hal yang sia-sia? Tapi terkadang orang menolak kenyataan pahit itu, dan tetap berusaha dengan segala cara.
Uhhh… entahlah Deidara fikir nasibnya juga tak jauh beda dengan Sasori. Hanya firasatnya saja atau itu apa, ia merasa dari dulu rasanya ada yang aneh antara dirinya dengan Sasori. Seperti ada benang merah diantara mereka. Tapi ini aneh bukan? atau memang ini hanya firasat yang terlalu berlebihan dan menganggap ini nyata. Ini konyol! Bagaimana bisa Deidara berfikir begitu? Mana mungkin ia dan Sasori dapat bersatu. benar 'kan?
Sampai kapan pun juga Deidara hanya berperan sebagai sahabat kecil Sasori, hanya itu dan tidaklah lebih, atau mungkin selamanya memanglah begitu. Sasori tak pernah menganggap serius perhatian yang Deidara curahkan terhadapnya selama ini. Menurutnya, memang lebih baik seperti ini. Dari itu mengakui perasaanya dan suasana diantara mereka menjadi lain. Itu adalah hal buruk yang tak pernah Deidara harapkan terjadi.
Tapi, Deidara tetap senang dan bahagia. Walau hanya memandang Sasori dari kejauhan dan terus memendam perasaanya. Ia tetap senang, sungguh. Biarkan saja seperti ini, asalkan Deidara selalu bersama Sasori, melangkah bersamanya dan hadir sebagai sahabat kecilnya. Walau hanya itu Deidara tetap bahagia.
Baiklah kepalanya mulai sedikit pening. Mungkin karena ia terlalu berlebihan menanggapi hal sepele seperti itu. Deidara memijat pelan kepalanya berharap rasa pening itu segera hilang. Kembali menghadap ke arah jendela dimana ia dapat melihat Sasori latihan. Namun yang ia lihat tak sesuai harapanya.
Alisnya berkerut tak suka. Disuguhi pemandangan yang membuat hatinya sakit. Dibatasi kaca bening kedua matanya melihat kejadian itu dengan jelas. Sasori dan gadis berambut merah muda itu. Mereka uhhh ... Deidara sendiri tak kuat untuk menceritakanya. Intinya mereka berdua gadis merah muda yang entah namanya siapa itu menyeka keringat Sasori, dan parahnya Sasori diam saja tanpa menolak sedikitpun. Mereka begitu ramah dan kompatibel itu yang membuat hati Deidara seperti tersobek-sobek. Pokoknya Deidara tidak suka! Titik!
BRAKK!
Grebrakan meja menendai kemarahanya yang sudah membara. Ia sudah tak dapat lagi mengontrol emosinya. Meluap-luap dan membuat dadanya sesak. Entah apa penyebabnya ia semarah ini. Deidara tak mengerti. Ia marah, ia kesal, ia cemburu. Cemburu? Benarkah? Ia cemburu pada gadis bersurang merah muda itu?
Aarrggghhhh…! Bodoh, bodoh, bodoh. Deidara memang bodoh. Sampai saai ini pun ia masih tidak mengerti perasaanya terhadap Sasori. Bagaimana bis-
"Ekhmm!"
Suara itu mengalihkan lamunanya. Pandanganya kini beralihpada sumber suara. Temari tengah menatapnya tajam dan menunggu reaksinya. Diam sejenak, mencoba berfikir dan beradaptasi dengan situasi di sekelilingnya. Ahhh ... sial, ia baru ingat sekarang Deidara sedang ada rapat bersama klub Drama lainya. Namun ia malah memikirkan Sasori si 'setan merah' itu.
"Bisakah kau duduk tenang saat aku berbicara?" Ucap Temari.
Semua anggota melihat kearahnya. Uhhh.. rasanya malu sekali diperlakukan seperti ini.
"Gomen, aku tak akan mengulangi lagi, un." Ia membungkuk dalam, lalu kembali duduk.
Temari menggelengkan kepalanya. Menghembuskan nafas pelan dan kembali melanjutkan pembicaraan yang tadi tertunda."Seperti yang kita bicarakan tadi. Pementasan 14 Februari nanti kita akan mengangkat kisah Romeo and Juliet." Temari sang ketua klub menerangkan di depan.
Kembali anggota yang lain berfokus pada apa yang diucapkan sang ketua klub. Semua terlihat serius mendengarkan ocehan dari Temari. Tak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara.
"Baiklah jika kalian sudah mengerti selanjutnya kita akan tentukan para pemeranya." Matanya menatap kami satu persatu. Menakutkan seakan kau akan dilahapnya detik itu juga.
Deidara menyikapinya biasa saja. Tak seperti anggota lain yang berdebar-debar menantikan jawaban dari sang ketua klub. Lagipula pastinya Deidara akan mendapatkan peran sebagai perempuan lagi. Ia mulai terbiasa dengan semua itu. Ya… walaupun dalam hati kecilnya berharap amat besar untuk mendapatkan peran sebagai laki-laki. Entah itu apa saja yang penting peran laki-laki.
Kembali ia teringat kata Sasori sore itu ...
"Saat kau mendapatkan peran laki-laki, aku akan datang menontonya."
Seandainya hari itu benar-benar datang alangkah… Deidara mengusap pipinya yang memerah. Lagipula, paling Sasori tidak ingat perkataanya sendiri waktu itu. Sialnya Deidara selalu saja percaya semua perkataan 'setan merah' itu.
"Kita putuskan Juliet diperankan oleh Karin. Karin apa kau bersedia?"
"Arigatou Senpai," ucap karin sembari membungkuk."Aku akan berusaha sekuat tenaga," sambungnya lagi.
"Dan yang terakhir, kita putuskan pemeran utama laki-laki, Deidara apa kau bersedia?"
Deidara bengong. Tak percaya apa yang telah ia dengar. Sedikit lama sampai ia mencerna sempurna maksud dari kata Temari.
"Eh, aku? Apa tidak salah?" ia menunjuk dirinya sendiri
"Habis anggota laki-lakinya sedikit. Sedangkan Hidan yang selalu ku andalkan sedang cidera dan dipastikan tidak akan ikut pementasan. Yahh… mau bagaimana lagi?"
Mata Deidara berbinar. Apakah ini mimpi? Tidak ini nyata. Deidara meyakinkan diri setelah mencubit pipinya. Tapi mengapa ini seperti mimpi? Rasanya ia terbang bagaikan kapas. Akhirnya setelah penantia seribu tahun ia mendapatkan peran ini juga. Deidara mulai terharu atas persitiwa tak terduga ini. Ia mengangguk sekuat tenaga sebagai jawaban atas pertanyaan temari terhadapnya.
"Tapi sayang sekali. Kalau saja kau memerankan Juliet pasti akan cocok dengan wajahmu yang cantik." Katanya gadis berambut pirang bernama Temari itu seraya tertawa kencang.
Mulai lagi deh. Deidara sweatdrop.
"Baiklah rapat hari ini selesai. Selamat menikmati peran kalian masing-masing. Dan mohon bantuanya,"Ucapnya nyaring.
Temari mulai keluar kelas, disusul oleh anggota yang lainya juga pergi. Tinggal Deidara sendiri menatap papan tulis dihadapanya.
Pemeran utama laki-laki Namikaze Deidara.
Yes! Yes! Yes!
Mungkin jika orang lain melihatnya saat ini mengira Deidara sudah gila. Tapi sungguh, ia senang sekali ditawari sebagai Romeo. Ia sampai tak dapat berkata apa-apa ketika menjawab pertanyaan dari Temari.
Wow! Ini ajaib. Sungguh, tak sedikitpun terbesit difikiranya ia akan mendapatkan peran sebagai laki-laki. Karena kau tau'kan? Semenjak pertama kali ia mengikuti klub drama ini ia hanya diberi peran sebagai anak gadis yang manis. Itu masa-masa muram, tolong jangan ingatkan padanya lagi. Lebih baik Deidara menikmati peranya yang baru.
"Kau sakit?"
"Sa-sasori sejak kapan?"
"Lihat, akhirnya kau mendapatkanya juga," katanya sembari menunjuk ke papan tulis. Dimana ada nama Deidara dan peran yang akan dimainkanya di sana. Tak mengubris sama sekali pertanyaan yang Deidara lontarkan.
"Memangnya kenapa, un?"katanya dengan nada mengintrogasi.
"Tidak, tidak apa. Hanya sekedar tau." Ucapnya santai.
Deidara berdecak sebal. Kiranya Sasori akan memberinya ucapan selamat atau apalah itu yang membuatnya semakin optimis mendalami peranya yang fantastis ini.
"Aku boleh menontonmu tidak?" ucapnya secara tiba-tiba, tentu saja membuat Deidara bergejolak kaget. Apalagi kalimat yang Sasori katakan.
"Eh?" Sasori ternyata masih ingat ucapanya yang dulu. Entahlah, ekspresi apa yang harus ia tunjukan. Senang atau terkejut, mungkin keduanya. kembang api rasanya tengah meledak-ledak di dadanya. Rasanya tak karuan jantungnya pun ikut berhura-hura saat ini. Bagaimana ini? Ia harus bersikap apa?
Deidara mengambil nafas dan mnghembuskanya perlahan, menatap wajah sasori dan mulai membuka suara. "Tidak perlu, lebih baik pergunakan waktu berhargamu itu untuk latihan. Biar bisa jadi Atlit yang kau impikan itu."
Deidara kau bodoh! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Jelas-jelas hatimu berkata lain. Sayangnya Deidara tak dapat menarik kembali ucapanya.
"Tenang saja. Lagi pula aku selalu jadi pemain cadangan." Ia tersenyum pahit.
"Sasori."
Seseorang menghentikan obrolan mereka berdua. Nagato tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Nafasnya menggebu-gebu nampaknya ia telah berlari cukup jauh. Nampaknya ada hal yang penting sekali. Nagato mencoba menormalkan nafasnya terlebih dahulu lalu mulai membuka suara.
"Kau dipanggil pelatih." Ucapnya
"Baik, aku akan menemuinya nanti. Terimakasih Nagato."
"Ya, ku harap kau cepat."
Sasori mengangguk sebagai balasan ucapan Nagato. Setelah itu, Nagato permisi untuk pergi kembali melanjutkan latihanya. Meninggalkan kami berdua disini. Lalu Sasori mamandang wajah pria berambut pirang itu.
"Aku pergi dulu."
"Ya," berat sekali rasanya mengucapkan kata itu.
Deidara tak ingin mengakhiri waktu berduanya dengan Sasori. Deidara selalu ingin melihat wajah Sasori dari dekat, dan keberadaan Sasori di sisinya selalu membuat hatinya terasa nyaman. Ia menghela nafas berat. Pandangan matanya tak putus-putus mengekori langkah Sasori.
Deidara meruntuki sikapnya tadi. Tak seharusnya ia berujar seperti itu pada Sasori. Setiap kali ia berbicara dengan Sasori selalu saja begini akhirnya. Lidahnya terasa kelu dan kaku. Huhhh… mengeluh pun percuma Deidara tak dapat lagi merubah perkataanya. kalau saja ada sedikit keberanian, ia pasti akan mengatakan hal yang ingin sekali ia ucapkan pada Sasori saat ia mendapatkan peran laki-laki.
"Datang ya, melihat pementasanku."
.
.
.
-TBC-
.
.
.
A/N: akhirnya kei update juga. Semoga minna-san suka yah.
Salam kei.
